Freedom (Fraction) (c) ArcSa Reiyu
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
.
Aku dan Hidupku (Kise's Side)
Bagian 1
.
.
Namaku Kise Ryouta. Tahun ini, aku dua puluh tahun. Aku yatim piatu, sekarang aku tinggal di jepang. Di sebuah mansion mewah yang berubah jadi neraka dunia empat tahun terakhir hidupku.
Neraka dunia yang kupertahankan sebagai tempat tinggal.
Karena aku, sudah tidak punya tempat pulang.
.
.
"Aku pergi sampai besok. Jangan makan apapun yang kularang. Kalau sampai aku mendengar sesuatu yang tidak sesuai keinginanku aku akan menghukummu."
Aku mengangguk pelan lalu tersenyum tipis. Sosok kepala merah di depanku itu menatap dingin. Setelahnya dia berdiri tanpa berkata apa-apa dan pergi keluar dari pintu tempat kami berbagi kamar –atau tepatnya, tempat aku dipaksa bermalam selama aku tinggal di mansion ini.
Dia itu Akashi Seijuuro, putra tunggal pemilik mansion, satu-satunya penerus keluarga Akashi. Satu-satunya orang yang pernah memahamiku. Satu-satunya orang yang pernah mengenal siapa sesungguhnya Kise Ryouta. Dan satu-satunya orang yang tahu cara mengendalikanku.
Yang punya niat membunuhku perlahan dari dalam, yang punya niat merubahku jadi boneka poselen mahal untuk dipajang di etalase.
.
.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi –aku... tidak pernah paham sejak kapan hubunganku dengan keluarag Akashi berubah jadi seperti ini.
Mungkin aku terlalu terbuai waktu.
Jangan pernah melupakan rasa terimakasih pada orang yang sudah menolongmu –nyawamu. Nyawamu adalah milik mereka, begitu pula milik mereka adalah milikmu. Jadi Ryouta, hargailah dan jagalah tiap orang yang pernah menolongmu.
Aku selalu ingat setiap nasehat ibuku. Nasehat beliau selalu kujadikan panutan dan penyemangat.
Dan nasehat itu jugalah yang kadang menjadi batu sandungan yang membuat ku tidak pernah bisa keluar dari neraka ini.
Karena seperti kata Ibu, berarti nyawaku adalah milik Akashi Seijuuro. Karena kalau aku pergi, maka Akashi Seijuuro juga akan menghilang. Karena, begitu yang dikatakan Akashicchi
Dan aku akan berdosa pada paman.
Aku tidak mau yang seperti itu terjadi.
Karena bagaimanapun, Akashi Seijuuro adalah orang yang pernah menolongku. Dan Paman Akashi adalah sosok orangtua baruku.
Seberapa kelampun sisi yang mereka punya. Mereka tetap bagian dari hidupku. Yang membuat aku tetap hidup sampai saat ini. Dan aku harus menjaga nyawa yang pernah menolongku.
Aku jadi berharap...
Kenapa dulu mereka tidak membiarkan ku mati saja di jalanan paris sana?
.
.
.
Kise tahu dirinya bukan seorang masokis. Demi Tuhan, dia tahu dia normal sejak awal. Apalagi dalam artian hubungan seksual. Dia normal. Kise tidak akan mengatakan dirinya orang suci. Kise tidak naif. Umur enam belas tahun, dia sudah mengerti artinya bersetubuh dengan wanita dan merasakan kenikmatan dari kegiatan seperti itu. Bahkan dia pernah melakukannya dengan dua teman perempuan sekaligus di kolam renang.
Dan dari awal, Kise tahu dia normal. Bukan seorang masokis. Bukan seorang penikmat kekerasan. Bukan jenis orang yang akan tegang ketika tubuhnya disiksa.
Dulu, dia normal.
Akashi Seijuuro adalah orang ternama yang merubah orientasi seksualnya jadi seperti sekarang. Seorang LBGT dan masokis. Penyebab utama yang merubah alur cerita hidupnya 180 derajat. Sosok manusia yang menariknya ke sebuah dunia baru penuh memar dan darah... orang yang mengajarkannya menikmati rasa sakit dan siksaan.
Apa Kise pernah berpikir dirinya menyedihkan?
Ya, tentu.
Berkali-kali. Bahkan rasanya ingin mati.
Menyadari betapa hinanya dia. Kadang Kise bertanya-tanya dan membayangkan, bagaimana reaksi orangtuanya kalau mereka masih hidup? Atau bagaimana dengan reaksi dua kakaknya yang selalu iseng menjahilinya dulu?
Rasanya benar-benar menjijikan. Dirinya benar-benar rendahan mengingat semua yang pernah Akashi lakukan padanya.
Tapi apa daya ketika sedikit saja dia memaksa kabur dari rumah itu, moncong pistol akan berhadapan dengan pelipis si tuan muda.
Di depan matanya.
Dan kembali, kata-kata mendiang ibunya terniang dalam kepalanya yang kacau. Menekan hasratnya untuk kabur dan membuang rasa hina dalam dirinya untuk tetap bertahan.
"Kau akan jadi penyebab kematianku." Dengan kalimat itu. Akashi akan menghadangnya dengan menarik pelatuk.
Dan Kise bukan manusia bodoh yang tidak tahu mana orang serius dan pura-pura. Apalagi yang menyangkut Akashi Seijuuro. Kise tahu, tuan muda yang dikenalnya itu tidak pernah main-main dengan perkataan.
Dan Kise, menatap nanar, diam, lalu berlutut. Menyerah. Dan membalas, "Kenapa?" dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Dadanya sesak dipenuh pertanyaan. Seketika itu, tubuhnya tidak mau lagi mendengar suara otaknya untuk kabur. Menyelematkan diri walau berakahir menumbalkan Akashi Seijuuro.
Berikutnya, dia selalu merasakan pukulan keras di belakang tubuhnya dan menemui kegelapan. Lalu dalam kegelapan itu akan ada Akashi, bayangan yang bermain dalam kepalanya dan menghantui alam bawah sadarnya.
Seulas senyum hangat. Senyum tulus. Satu senyum yang pertama kali ia temukan tulus menyambut kedatangannya waktu itu. Bermain bagai lantun biola yang sering dimainkan mendiang ayahnya sebelum tidur. Indah, senyum yang membuat sebuah rasa dalam hidup kise yang sudah mati kembali.
Senyum yang hanya akan ditemuinya dalam mimpi belaka. Dibalik kelopak mata.
"Kau, milikku, Ryouta."
Senyum itu sudah tidak tersedia lagi untuknya. Sekarang rasa baru yang harus ditelannya adalah rasa pahit dan perih hantaman cambuk. Ini dunianya yang baru.
"Maaf... Akashicchi..."
Dunianya dengan Akashi Seijuuro yang baru.
.
Tuhan mengabulkan harapannya terdahulu, tapi Kise Ryouta akhirnya sadar. Sebuah harapan yang terkabul itu sekarang malah membuatnya merana.
"Aku ingin selalu bisa bersama Seicchi!"
Karena pun harapannya terkabul, kebodohan Kise adalah tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.
Dia berdoa tanpa pernah bepikir, makanya sekarang dia tidak punya hak untuk protes. Kalaupun ditanya apa keingiannanya dalam doa, dia hanya akan menjawab;
"Ah, aku hanya berharap yang terbaik untukku dan semua orang," mulutnya kelu untuk mencoba berdoa lagi.
Dia sudah tidak punya keberanian untuk meminta pada Tuhan.
.
Kepribadian Akashi sudah seperti cermin untuk Kise. Dia tahu seperti apa Akashi Seijuuro yang sekarang dan dulu. Apa yang akan terjadi ketika begini dan begitu.
Makanya, Kise juga sadar. Kalau Akashi yang sekarang adalah jenis orang yang tidak akan rela apa yang jadi miliknya diambil orang lain. Dari pada diambili orang lain, Akashi lebih senang merusak dan menghancurkan apa yang jadi miliknya berkeping-keping sampai tak tersisa supaya tidak ada orang lain yang mengambil apa yang sudah jadi miliknya.
Terutama kalau si tuan muda itu sudah bosan. Tanpa pikir dua kali, harfiahnya, dia akan langsung menghancurkan apapun itu yang diklaim sebagai milik supaya tidak bisa diambil orang lain.
Kise tahu suatu saat dirinya juga akan jadi semengenaskan begitu ketika akashi bosan nantinya.
Tapi setelah sekian lama, akhirnya Kise sadar akan sebuah hal baru. Nasibnya lebih naas daripada itu, karena Akashi, tidak pernah bosan dengan tubuhnya.
"Little sweet honey puppy is Mine, dan selamanya milikku."
.
.
.
Ceritanya TBC.
