A/N: IYA MAAAF ANE BARU UPDATE SETELAH DUA –HAMPIR TIGA– TAHUN BERLALU OTL BANYAK KENDALA YANG MENGHADANG MAAFKAN SAYA. Well, mungkin banyak yang udah lupa sama fic ini tapi saya nggak niat discontinued hehehe. Enjoy your reading for all :D!
Btw aku ganti penname loh xD hahaha oke ini random, tapi penname yang sekarang sangat AkaKise lmao, aku terlalu obsess sama dua mahluk ini xD. Oh iya, ini update dari Freedom yang main story, tapi karena mild, jadi di update di sini juga :D
.
.
Kuroko no Basuke and Characters © Fujimaki Tadatoshi
Rated: M
Warning: AU, typo, unbeta, mild smut, and other contents unsaid /peace bro/
.
.
Dua mata almond milik Kise mengarah lurus pada benda mati di sebrang sofa. Sebuah grand piano hitam yang berdiri agung memperindah ruang baca. Tepian atas yang dipoles bersih tiap hari, mengkilap begitu menawan. Terlihat bangga kalau benda itu bisa berekspresi.
Di hari biasa, si pirang itu yakin ia akan melihat piano di sana dengan mata gemerlap, bergairah. Dia selalu memuja bagaimana alat musik itu menjadi obat terbaiknya. Piano tempat ia berlari, yang paling nyata dan berguna. Tetapi, Kise menggelengkan kepalanya pelan, tubuhnya merosot ke permukaan duduk sofa. Helaan nafas terganggu mengikuti perubahan posisi tubuhnya. Si hitam berharga puluhan juta ribu yen di tengah ruangan itu tidak mengundang hasrat apapun dalam dirinya kali ini.
Seminggu lagi berlalu sejak terakhir kali Kise menyentuhkan jemarinya ke atas tuts piano di sana. Ruangan itu seakan mati tanpa sihir spesial dari jemari lentiknya. Si pirang itu jadi harus mengakui betapa ia membenci kesunyian yang secara kontinuan tercipta. Kesunyian yang sangat kompeten bertahan seiring dengan perkembangan kesehatannya. Stagnan tanpa ada penanjakan secara signifikan.
Anemia-nya masih berlanjut, mimisannya masih sering muncul, dan memarnya masih melekat di kulit. Tidak perlu ditambah denyutan pelan di sudut-sudut syaraf otaknya ketika harus masuk kelas, tetap ikut praktik dan terseret rayuan dosen untuk bantu-bantu. Asanya sudah terlalu lelah untuk beraksi begitu pantatnya mendarat di sofa.
Kise memandang kayu bercat putih yang jadi langit-langit di atas kepalanya dalam pilu. Ingatannya berlari acak, berhenti pada kejadian yang baru terjadi. Sebelum kembali ke rumah –kalau tempatnya tinggal sekarang itu bisa dibilang rumah –, dia sempat dicegat oleh salah satu anggota komite dari universitas. Mewakili komite, pria itu memintanya untuk ikut bergabung dalam penampilan orkestra yang diadakan dua bulan mendatang untuk festival tahunan. Matanya mengerjap sesekali ketika otaknya berkelana di tengah lantunan sepi di ruang besar itu. Permintaan dari anggota komite itu menggiuarkan, hatinya berdisir meneriakkan keinginan.
Sudah berapa lama sejak dia ikut terjun dalam orkestra?
Sudah berapa lama sejak terakhir kali dia melakukan resital tunggal?
Sudah berapa lama sejak cecapan terakhirnya ke dunia luar sebagai seorang pianis?
Kise mendesah pelan dan menutup dua manik madu sendunya di balik kelopak mata. Dia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, mencoba meringankan kekecewaan yang terlanjur menggelayuti. Kise rindu euforia yang menggelitik permukaan egonya ketika ia berdiri di atas panggung megah dan jadi perhatian semua orang. Kise rindu deru tepuk tangan dari para penonton yang memuja sihir di jemarinya. Kise rindu banyak hal.
"Kau pulang cepat." Satu kalimat pendek, tanpa intonasi, suara berat yang khas. Si pirang dipanggil keluar dari isi kepalanya.
Akashi berdiri tepat di samping sofa. Wajah regal yang dimiliki pria itu tenang, kaku dan tidak bisa dibaca –seperti biasa. Kepalanya menunduk kecil untuk mempertemukan heterokromik merah-kuning di matanya ke iris almond milik si pirang.
Panggilan tadi jelas menyadarkan si pirang dari buai sang lamunan. Kise menarik sebuah senyum, berlagak seperti bagaimana seorang boneka harus menyambut pemiliknya pulang –sebuah senyum manis tanpa peduli derita batin dalam dirinya. "Ah, Akashi-cchi, tadaima." Sapaan manis itu diucapkan.
Kise mendudukan diri, menghiraukan ringisan pelan yang harus ditelannya ketika ia berpindah duduk dari berbaring. Dua mata Akashi mengawasinya dalam bisu yang menusuk.
"Hari ini dosen yang mengajar di kelas terakhir absen. Dan... kau sudah mengatakan kalau kau tidak suka aku berkeliaran tidak tentu arah di kampus." Jelasnya tanpa diminta, ada cekat yang mencubit sudut hatinya ketika tatapan Akashi masih terarah lurus ke arahnya.
Sebelah tangan milik pria di depannya itu terangkat, menangkup sebelah pipinya. Menahan paru-paru Kise mengalirkan udara. Rasa takut yang selalu berbaring siaga di bawah kesadarannya membuat sengat listrik yang mengundang hawa dingin di kulitnya.
Terhitung dua minggu Akashi belum menyentuhnya, atau apapun yang biasa si pemilik surai merah lakukan padanya. Seringai merendahkan atau membunuh yang membuat perutnya mulas karena gelisah juga tidak diluncurkan. Pria itu paling banyak hanya melihatnya dalam diam, memerintahnya untuk ikut ke sana dan ke sini, atau mengasingkannya dalam kamar yang mereka bagi.
Kise mencoba menyalurkan nafasnya teratur. Tangan di pipinya bergeming. Ujung ibu jari si rambut merah mengusap ringan permukaan bibirnya, gesekan sederhana yang menggelitik aneh di indra perasa. Kise merasakan nafasnya memberat, jauh dari kata teratur.
"Aku meliburkan Satsuki untuk beberapa hari ke depan." Tangan dipipinya mundur kembali ke samping si pemilik, menghilangkan sensasi aneh itu. Kise mengerjap sekali, menatap lurus ke sosok si kepala merah yang berdiri angkuh di depan mata.
Runcing, dingin, dan menusuk, itu adalah deskripsi Kise pada sorot mata yang menatap padanya. Si pirang mengunci mulutnya rapat meski protes mengaungi jiwanya. Berita singkat itu membuatnya takut.
Dia tidak bisa tanpa Momoi. Ketika gadis itu adalah satu-satunya orang yang mengerti dirinya, dan menjaganya. Ketika gadis itu adalah satu-satunya yang memperlakukannya sebagai manusia. Dan, ketika Momoi Satsuki adalah satu-satunya orang yang membuatnya masih merasa. Kise merasakan darahnya dipompa cepat. Walaupun Momoi sendiri terkadang selalu memarahinya karena khawatir, Kise selalu menghargai bagaimana gadis itu berjuang demi dirinya. Walaupun Momoi adalah gadis naïf dan egois untuk berada di sampingnya –dan karena itu. Kise mengerat kepalan tangannya.
Sekarang, Akashi tiba-tiba mengeluarkan Momoi dari list orang yang bisa ditemuinya. Satu hal yang berarti bahwa dia harus bertingkah seakan nama Momoi Satsuki tidak pernah eksis dalam hidupnya, dimanapun itu. Tidak –dia tidak mau itu, ekspresinya mengeras.
"Tapi Akashi-cchi, apa salah-"
PLAK
Telapak tangan langsung menghempas keras ke pipi. Si pirang tertegun. Merah mewarnai pipi pualamnya, merah yang ia kenal dan lama tak dijumpa. Merah yang melekat dengan Akashi dan darah.
Ah –Kise hampir lupa bagaimana rasa sengat panas yang baru mampir di pipinya itu, bibirnya kembali terkunci rapat. Sepertinya, pria di depannya memutuskan untuk kembali mengingatkan Kise hubuangan yang terjalin di antara mereka setelah dua minggu berlalu.
Si pirang menatap ke sisi lain, dua matanya terpejam menahan kerenyit nyeri di pipi. Tamparan keras, akurat, dan cepat. Sengat listrik itu menyapa dan mempercepat laju jantungnya. Dia mengantisipasi, menunggu hal lain yang akan dilakukan Akashi. Detak di dadanya berirama tak tentu memenuhi telinga.
Tapi pria di depannya diam.
Menit berlalu dengan titian jarum yang membawa sengsara. Sampai dagunya diangkat secara paksa.
Kilat dingin memantul di manik dwi warna itu. Ketegasan dan kengerian yang diramu apik untuk dituangkan ke tiap jiwa orang yang berhadapan dengan mereka –terutama manik madu nanar dalam bola mata si pirang. "Buka matamu." Perintah yang lama tak ia dengar kini menggema di gendang telinganya. Dengan tarikan nafas tajam, Kise memberanikan untuk menaruh fokus pandangannya pada Akashi.
Dingin di mata itu menebas asanya.
"Jangan. Bertanya. Tentang. Kebijakanku." Tiap kata itu berbahaya, tenang, dan berbisa. Seperi peringatan ular derik sebelum menusuk bisa mereka dan membawa korbannya ke liang penyiksaan.
Kise memilih mengangguk. Kenyataannya, ia tidak pernah punya pilihan untuk menolak.
"Iya, Akashi-cchi. Maafkan aku..." Ia berujar lirih, nafasnya pendek terpotong. Detum di balik tulang rusuknya beradu seperti tabarakan besar ketika Akashi membubuhkan ciuman kecil ke atas bibirnya. Hanya kecupan sederhana, berlangsung dalam hitungan detik, dan lembut –satu diantara jenis kecupan yang jarang Akashi sematkan pada bibirnya.
"Tubuhmu sudah stabil?" Ketenangan menggantikan beku di nada suaranya. Si pirang bergeming, ia tahu itu pertanda buruk.
Setelah tamparan keras yang membuat kulitnya panas, ketenang yang di arahkan ke matanya adalah air es yang menyiksa karena dingin. Pertanyaan yang seakan peduli itu, menjadi orang baik jelas bukan tujuannya.
Kise menganggak sekali, bibir terkunci rapat. Matanya bergerak sembunyi-sembunyi untuk melihat pintu dibalik punggung Akashi. Dua kayu kotak itu tertutup rapat, kuncinya tidak ada –pintu itu dikunci. Nafasnya tertahan didetik berikutnya. Dibanding disiksa langsung sampai tubuhnya biru dan luka, Kise yakin apa yang akan dilakukan Akashi setelah ini akan menyiksanya ratusan kali lebih.
Satu hal yang sangat jarang terjadi dan dilakukan oleh Akashi. Satu hal yang sangat mampu membuatnya disiksa secara mental. Satu hal yang sangat ahli untuk mengobrak-abrik isi otaknya. Satu hal yang membuat Kise terus meratapi masa lalu yang sudah berubah tanpa punya kesempatan untuk bersembunyi. Satu hal yang Akashi tahu sangat mempan untuk menyiksanya.
Dua iris heterokromik itu hilang di balik kelopok mata, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menautkan bibirnya lembut ke milik Kise. Lidah pria itu menyapu permukaan bibir si pirang, meninggalkan sensasi familiar yang membuat nyeri di dadanya nyata.
Kise masih menggigit bagian dalam bibirnya, menolak memberikan akses lebih dalam pada ciuman yang disematkan pada bibir ranumnya. Satu sudut dirinya yang meringkuk dikegelapan seperti dicekik, nafasanya tersendat dan entah sejak kapan air matanya mengalir dari sudut mata.
"Happiness is to be pursued."
Kise tidak bisa melihat apapun selain buram, air matanya turun tanpa bisa dihentikan. Tanpa suara –dengan alasan yang mengganjal dibalik tenggorokannya, air matanya turun teratur. Kristal bening yang menghisi pipi pualamnya. Ketika tubuhnya dibaringkan di atas sofa, hatinya seperti dikoyak –lagi. Nafasnya tersenggal kaku seiring air mata yang jatuh.
Pemilik rambut merah di atasnya sama sekali tidak menggubris, dua tangan kekar menopang berat tubuhnya saat ia merangkak di atas si pirang yang hanya berbaring tanpa melawan. Mata merah Akashi larut dalam kekosongan, dan Kise larut dalam tangisan tanpa suaranya.
Ia merasa seperti di mantra, tubuhnya menolak untuk meracau seperti yang diinginkan otaknya. Manik madu si pirang beradu dengan merah-emas di mata pria di atasnya. Kise bisa merasakan bagaimana jiwanya bergetar terbelenggu rasa takut. Sentuhan lembut yang disandingkan pada tubunya, mengundang gemetar dan rindu yang dipadu amarah dan dendam dan kebencian dan sayang dan semua hal yang dipendamnya tak terucap.
Sentuhan lembut bibir yang menciumi jejak air mata dari pipinya, tangan yang pelan-pelan menelanjanginya, mata yang kehilangan binar keangkuhannya –menatap Kise dengan puluhan makna tersembunyi. Bentuk statis tanpa suara yang merusak keteguhan dalam diri si pirang. Kata-kata Akashi terniang mengulang di kepalanya.
"Aku berubah karena kau, dan kau, Ryouta, adalah masalahnya."
Kise merasa dadanya benar-benar sesak, penuh akan segala perasaan yang campur-aduk tidak terpahami. Bibir Akashi yang basah oleh air matanya menyentuh miliknya. Halus, lembut, dan lembap. Berbekas rasa bersalah bersenandung sesak ke dalam dadanya. Tangan Kise gemetar ketika Akashi menuntunnya untuk menlingkar di sekitar leher, meminta Kise untuk berpegangan padanya.
Si pirang bisa merasa tangannya membeku begitu helai rambut merah Akashi bergesek dengan kulitnya. Ia membuka bibirnya, tapi hanya isak kecil yang bergulir. Tidak ada protes atau makian atau deru kengerian ketika keseluruhan dirinya dibawa keambang batas ketidakpastian. Ia tahu, Akashi dengan sengaja mendorongnya untuk menikmati rasa bersalah dan dosa yang sama sekali tidak ia pahami.
Sebuah tarikan nafas tajam menjadi responnya saat Akashi memperdalam tautan bibir mereka. Gerakan yang terlalu lembut dan intim untuk dibilang sebuah ciuman panas pembuka seks kasar untuk kepuasan si emperor. Kecupan dari bibir Akashi lembut, menggelitik indranya, membuatnya mabuk –tercekik. Kise masih bisa merasakan air matanya turun –ia bisa merasakan asin itu di indra pengecapnya. Matanya benar-benar panas dan dadanya terlalu sesak untuk bisa membantu Kise bernafas dengan teratur.
Potongan ekspresi kosong Akashi yang terefleksi buram di matanya membuat otaknya tumpul dan hatinya kebas. Dua orbs berbeda yang selalu dibersamai pekatnya merah dan emas itu menatap ke dalam kolam coklatannya dengan kosong yang Kise tidak pernah tahu.
Kise ingin lari, ia ingin pergi, sejauh mungkin dari perangkap Akashi. Ia ingin berlari sejauh mungkin sampai ia bisa bernafas. Ia ingin menghilangkan perasaan menganggu yang memenuhi jiwanya saat ini. Perasaan terkekang, sengsara dan bersalah yang mendobrak bendung air matanya tanpa belas kasihan. Perlakuan lembut Akashi padanya sungguh adalah pedang mata dua yang menampar si pirang lebih keras dari telapak yang beberapa menit lalu tersarang di pipinya. Luka yang berbekas dari pecut yang sering bercumbu dengan kulitnya pun tidak sebanding dengan luka yang ditoreh Akashi sekarang.
Tubuhnya bereaksi lebih cepat saat Akashi mengulum pelan bagian bawah bibirnya, ritme lambat yang memabukkan. Nafasnya memendek, Kise meringis kecil, kulitnya terasa lebih sensitif dan tiap sentuhan Akashi membuatnya seperti terbang di atas deras hujan. Air mata masih turun perlahan dari dua kolam coklat miliknya, seakan isinya tidak pernah mengenal kata habis. Suaranya tertelan entah untuk keberapa kali ketika mata dua warna itu hampa bertemu dengan iris madunya. Sorot mati dan kehilangan, sorot yang menuangkan racun dalam dadanya. Kise sadar, orang yang mencumbu dirinya telah mati, jauh di dalam lubuk itu.
Dan pria itu mengakui bahwa Kise lah, yang membunuhnya.
"Sei-cchi…" setelah lama bibirnya terbuka tanpa menghasilkan suara, nama itu lamat-lamat terdengar. Pria di atasnya terdiam –seakan tertegun, tidak ada reaksi apapun. Lalu, tanpa kata dia mengusap wajahnya di perpotongn leher si pirang. Tajam gigi Akashi lalu menusuk kulit pucatnya, membuat Kise harus menahan nafas untuk tidak membisikan desahan yang ada diujung bibir.
Hisapan di kulitnya terdengar nyaring, si pirang tergagap. Ia mendesis, menglenguh nyeri dari koyakan yang menyisakan merah di atas kulitnya. Kise mengaitkan tanggannya ke rambut merah itu. Asap seakan memenuhi kepalanya, pilu dan tumpul mulai menjamah otak dan hatinya. Desahan lembut mulai mengisi ruangan. Desahan yang seakan menari bersama kecupan dan hisapan di leher jenjang sensitivenya. Lumatan posesif di daerah pembulu darahnya, dan usapan menengkan di kepalanya, Kise mabuk.
Kecupan dan gigitan Akashi turun ke bawah, mendarat di kulit yang menutupi tulang rusuknya. Di bagian tempat jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat tiap kali tubuh mereka bergesek. Sebelah tangan Akashi memelintir putingnya, mengusap puncaknya. Gerakan yang tegas namun perlahan. Kise menahan nafasanya ketika suatu kenikmatan yang tidak ingin diterimanya memaksa tiap sensor tubuhnya bereaksi. Suara desahan sengau, berat dan sedikit terpekik keluar dari bibirnya.
Kise merasakan darahnya mengalir lebih cepat, lengket dari saliva Akashi dikulitnya membuat adrenalin dan libidonya naik. Mulutnya terbuka melantukan desahan dan nafas yang tersengal di tiap sentuhan. Akashi menggesekan paha berbalut kain satinnya di selangkangan si pirang, menekan eraksi yang terbentuk di sana untuk memberikan lebih banyak rangsangan. Gesekan perlahan yang menggoda si pirang untuk mendesah lebih kencang. Gesekan yang membuatnya tersentak dan mulutnya yang sempat terkatup kembali terbuka tanpa suara yang bisa dipahami. "Akah-cchi, ngh-"
Peluh secara signifikan membasahi tubuhnya, membuat aktivitas mereka jadi lebih lengket, menandakan hawa panas yang ikut meningkat di sekitar.
Si pirang mencoba mencuri pandang pada sosok pria yang sedang mengulum putingnya. Ia bisa menderngar deru nafas pendek yang bukan miliknya, nafsu terefleksi nyata dalam desahan berat si pemilk mata heterokromik itu. Namun, pandangannya buram, air mata yang sudah mulai mengering membuat pengelihatannya berkabut dan Kise tidak bisa yakin pada ekspresi jenis apa yang ditampilkan oleh Akashi.
Ragu-ragu, tangannya mengusap pipi Akashi. Jantung dan paru-parunya seakan mogok bekerja secara bersamaan. Jejak basah terasa melekat menyapa permukaan jarinya di permukaan kulit pipi di sana. Kise merasa jantung seperti di genggam erat-erat sampai ingin pecah.
Air mata mengalir dari sudut matanya sekali lagi. Ia mengatup dua kelopak matanya erat. Nafasnya terenggut. Punggungnya melengkung seiring cubitan dan gesekan yang Akashi berikan pada puting kemerahannya.
Apa dosa yang sudah dilakukannya?
.
Kise duduk di pinggir jendela, menatap keluar pada langit gelap yang lekat dengan bintang. Jam yang berdiri kokoh di pojok ruangan menunjukan angka delapan. Si pirang itu menggumamkan alunan verse terkahir dari Twinkle-Twinkle Little Star dari partitur piano yang dibacanya. Jari telunjuknya digoyangkan ke kiri dan ke kanan mengikuti irama yang tercipta dari gumamannya.
"Hontou, aku masih bertanya-tanya, apa orangtuamu tidak salah ketika membuat surat kelahiran mu."
Akashi meletakkan biola yang sudah selasai ia mainkan di sampingnya kemudian mengarahkan bola matanya kepada si pirang yang hanya menunjukan cengiran kekakanakan yang khas.
"J'aime la vie, setiap orang punya sisi kekanakannya. Lagipula, 'Twinkle-Twinkle Little Star' itu lumayan susah dimainkan loh!"
Manik madu itu berpendar seperti bulan yang jadi latar di belakang jendela, Akashi mendengus kecil dan menggeleng kepalanya. Kise cemberut, berpindah duduk di samping Akashi lalu menepuk pucuk hidung si kepala merah dengan jari telunjuknya. Mengundang sebelah alis yang terangkat.
"Aku tahu Seicchi bersimpati padaku karena kita sama-sama kehilangan orang yang berharga, kan? Aku kehilangan ibuku... anata mo," Aksen Prancis yang merupakan bahasa asalnya masih kental dalam suara, tangan Kise lalu mengusap permukaan pipi si penerus nama Akashi lembut dan dia mencium pipi itu. Cara berterimakasih yang sering ia lakukan pada orang disekitarnya.
Kise tersenyum iseng ketika Akashi menepuk kepalanya dan mendengus kecil, terhibur dengan tingkah si pirang. Pemuda pirang itu tersenyum ringan lalu duduk di depan si piano, memanikan nada dari komposisi Twinkle-Twinkle Little Star yang baru digumamnya. Dari sudut matanya, Kise bisa melihat senyum kecil yang terpatri di bibir pria berhelai merah yang baru dikenalnya beberapa bulan, dan itu membuatnya tersenyum.
.
Erangan dan desahan keluar tidak teratur diantara bibir kemerahannya. Sentuhan yang mendorongnya masuk ke dunia serba putih, sangat intim dan sensual menyentuh tubuhnya. Kise bisa merasakan darah yang mengalir deras ke bagian bawah tubunya, membentuk eraksi yang kini digenggam dan dikocok dengan tempo lambat yang membuat kepalanya hanya berisi kenikmatan. Memaksanya melupakan apapun yang ada dipikirannya saat itu.
Kise melenguh, mendesah dan merintih, menciptakan segala suara yang terdengar cabul di telinganya.
Tubuhnya terbaring di atas sofa tanpa sehelai benangpun, begitupula dengan pria di atasnya. Bibir mereka kembali bepaut, cumbuan panas yang sebelumnya selalu ditolak Kise kini mulai ia tanggapi dengan tekanan yang sama. Otaknya lumpuh dan hatinya terlanjur sesak untuk merasakan rasa bersalah yang terus menghujam. Ia menyerah dan membiarkan tubuhnya beraksi sesuai sentuhan yang terus menggiringnya ke arah kegilaan.
Eraksi Akashi menggesek belahan pantatnya, mengalirkan nafsu dan hawa panas yang nyata. Si pirang menarik nafas cepat, menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher si emperor ketika kejantanan yang berdenyut panas itu mempenetrasi dirinya. Perih dan nyeri langsung menerjangnya ketika ereksi si pemilik surai merah langsung mengisi lubang anusnya. Akashi mengerang tertahansebagai balasan, rektum si pirang yang sudah dua minggu tidak pernah dijamah itu erat meremas kejantanannya.
Helaan nafas terengah terlepas dari bibir Kise, kukunya yang tidak terlalu panjang menekan ke punggung Akashi, meningglkan bekas kemerahan. Penetrasi di anusnya membuat Kise merasa penuh dan membuat bundelan dibagian bawah perutnya mengirimkan sensasi elektrik yang mendorong.
Kise memeluk erat tubuh Akashi ketika pria itu mulai menggerakan pinggulnya, perlahan tapi pasti menghantam titik kenikmatan si pirang yang menutup matanya erat dan merinitih tertahan. Jiwanya terbelah, kenikmatan yang tidak terbendung dan kesedihan yang tidak terpungkir.
Air mata bersarang di pelupuk mata, kolam keemasannya redup dengan rasa bersalah. Dan ia membiarkan kenikmatan itu menjalari seluruh tubunya, menamakan lebel pendosa pada dirinya. Melupakan fakta bahwa ia harusnya menghentikan Akashi, melupakan fakta bahwa Akashi punya seorang kekasih dan melupakan fakta bahwa dia tidak harusnya menikmati hukuman yang diberikan padanya.
Tetapi, normalkan untuk seseorang menjadi egois dan menikmati apa yang bisa dinikmatinya?
Pekatnya hitam adalah hal yang pertama menyapa matanya ketika terbuka. Akashi berbaring di atas tempat tidur empuk itu dalam sepi yang menikam. Ia melirik ke samping, bantal yang harusnya dihiasi oleh mahkota kuning keemasan kini kosong dan tertata rapi. Tangannya meraba permukaan seprai. Ujung jemarinya merasakan lekat hangat dari hawa tubuh yang baru meninggalkan tempat di sampingnya.
Akashi mendudukan diri, jemarinya bergerak mundur teratur dari kasur dan menyelip di antara helai rambutnya. Tempat di sampingnya masih hangat, Kise belum lama pergi. Dua iris beda warnanya menyala, amarah yang terpahat indah dalam dirinya seperti dipantik. Ia mengacak rambutnya kasar. Setelah sebuah helaan nafas panjang, dari sudut pandangnya, ia melirik laci di samping tempat tidur. Ada pistol semi-otomatis tergeletak di sana. Fokusnya lalu beralih ke ponsel hitam yang ada di atas nightstand. Satu hal yang pasti, Kise tidak berusaha kabur kali ini.
Ia bangkit berdiri dari tempat tidur, menuju kamar mandi untuk membasuh wajah, mendinginkan kepala dan membersihkan tubuh yang lengket. Gejolak yang sebentuk dengan amukan ombak di pantai menghempas isi kepalanya. Perasaan tidak tenang dan menganggu itu membuatnya tidak nyaman. Sesuatu seakan tersingkap dan ia terlalu kaget untuk mencari tahu. Pikirannya berkecamuk tak tentu.
Apa yang salah? Pertanyaan itu berseliweran. Dahinya mengkerut sembari langkahnya memijak lantai kamar mandi. Apakah ini karena dia sudah beberapa hari tidak memberi kabar secara rutin pada Kuroko –kekasih manisnya –dan firasatnya mengatakan kalau Kuroko jadi tidak merasa aman. Mungkin, dia sudah lama tidak mengahabiska waktu berdua dengan si manis itu. Tapi, mungkin karena ia mengingat wajah Momoi yang menatapnya marah dan kecewa waktu ia memerintahkan si gadis pink untuk berhenti bekerja padanya beberapa hari. Apa yang menganggunya mungkin karena wajah murung gadis itu dan Aomine yang berisik mencoba menyemangati Momoi. Atau tugas dari dosen yang ia lupa untuk catat, mungkin karena rapat komite kemarin.
Keran shower diputar ke kiri, menyalurkan air dingin yang langsung menterapi kepalanya. Berhubung komite, apakah hasil keputusan komite untuk festival universitas yang membuatnya kesal. Atau karena Aomine terus-terusan menggoda kagami dan berusaha membuat pacarnya itu cemburu dengan mengungkit si pirang dari fakultas musik. Tangan Akashi berhenti di keran yang sudah diputarnya, ia menarik nafas dalam-dalam pada kekacauan yang terjadi dalam kepalanya.
Pemuda itu mendesah berat, betapa naïf ketika otaknya bermain trik seperti itu. Tentu saja, sumber masalah di kepalanya adalah pada si pirang yang menghilang dari sisinya ketika ia bangun. Akashi mendecih kecil, ia membersihkan diri lalu berganti pakaian. Tentu saja, sumber kekacauan dalam kepalanya adalah Kise. Semua itu bersumber dari si pirang.
Dengan rambut basah yang belum dikeringkan, Akashi berjalan keluar dari kamar. Kakinya melangkah teratur di lorong sepi. Mencari sosok Kise yang ia tahu ada di ruang baca, mungkin bermain piano. Tapi mungkin juga tidak, sudah lebih dari seminggu tidak ada denting nyaring piano terdengar dari balik pintu kayu itu. Akashi berjalan menuruni tangga dan mulai mengeringkan rambutnya.
Banyak orang yang kagum ketika menatap mansion besar milik keluarga Akashi. Rumah yang dibaguan di atas tanah ratusan hektar itu memang megah. Arsitektur yang elegan dan memukau siapapun yang memandang. Namun untuknya, rumah besar itu sama saja rumah mayat, para pelayan di rumah itu tak lebih dari boneka hidup yang berjalan mengikuti semua perintah yang terucap dari bibirnya.
Akashi melirik ke arah jam besar yang ditemuinya. Jarum pendek menunjuk pukul sebelas dan jarum panjang menunjuk angka tiga. Ia berjalan ke arah ruang baca, hendak menegur si pirang yang malah kelur dari kamar tanpa izin. Sorotnya sudah menampilkan dingin dan tajam yang sangat khas.
Tetapi, gerak kakinya terhenti ketika lantunan nada yang lama tidak ia dengar mengalun dari ruang baca. Suara piano yang nyaring dan tegas, permainan lincah yang membawakan melodi 'Twinkle-twinkle Little Star'. Nada yang jenaka dan riang, itulah suasana yang dibawakan. Ia membuka pintu tanpa suara, mengintip dari sela-sela yang terbuka.
Piano di tengah ruangan tidak mengizinkan suara lain untuk meleveli atau menganggu si pianis yang duduk di atas kursi. Dua matanya terpejam, jemarinya bermain tanpa jeda, meramu melodi 'Twinkle-Twinkle Little Star' tanpa cacat, dan wajah manis itu tanpa ekspresi. Permainan yang sangar akurat, nada riang yang statis, ketukan yang sesuai dengan partitur, tanpa warana. Akashi merasakan dadarnya terpelintir. Sosok di depan piano itu bukan seperti Kise yang ia kenal permainan pianonya.
Wajah si pirang itu sendu. Satu piece itu selesai beberapa menit kemudian. Akashi masih pada posisinya di depan pintu, menyorot laga si pirang dengan pianonya dari jauh. Ia bisa mendengar suara tepukan tangan, dahinya mengernyit dalam. Matanya menerawang mencari asal suara itu –dan, ia mendapati sosok ayahnya duduk di atas sofa yang biasa jadi tempat singgahnya.
Kise menarik nafas lalu tertawa kecil, berterimakasih pada pujian yang diberikan ayahnya. Suara si pirang serak agak sengau. Akashi menarik pintu kayu itu kembali ke posisi semula. Suara si pirang mencolek ingatan lama yang sudah lama tak disentuhnya. Saat pertama kali Kise datang ke mansion.
Lantunan 'Twinkle-Twinkle Little Star' adalah lagu yang dimainkannya -saat pertamakali.
Akashi menyenderkan punggungnya ke pintu yang kembali tertutup sempurna. Kalut menumpang duduk di hatinya. Panas yang menempel di dadanya karena ayahnya ada di sana dan dingin yang menyiram jantungnya melihat permainan Kise yang berubah.
Samar-samar, ia menangkap komentar ayahnya pada permainan si pirang. Ayahnya juga menangkap perubahan itu, dan Kise mengungkapkan alasan sekenannya, dia belum sembuh. Akashi menyeringai ironis mendapati kebohongan yang disuarakan si pirang.
Tak lama kemudian, ia bisa mendengar Kise kembali menekan jemarinya di atas tuts. Kelopak matanya terkatup, membiarkan telinganya mendengar lebih seksama. Dentuman nyaring, ketukan yang sesuai dengan monotrome.
"Chopin, huh?" Akashi mengalungkan handuk dalam genggaman ke leher. "Prelude, Op.28, No.15," bisikan itu meninggalkan bibirnya. Salah satu karya ternama milik Chopin, komposisi yang juga dikenal dengan Raindrop. Sudah beberapa bulan sejak terakir kali si pirang melantunkan karya Chopin.
Piece ini dibuka dengan alunan lembut yang mendayu, membawanya ke sebuah rumah besar yang luas. Jendela-jendela lebar yang menampilkan halaman indah, kupu-kupu melayang melengkapi keanggunan bunga di luar jendela. Lalu, pelan-pelan, secara berangsur, kegelapan mengapai gamabaran itu. Matahari perlahan-lahan digantikan oleh gumpalan awan hitam. Perasaan familiar yang selalu dimilikinya ketika mendengar permainan piano si pirang muncul. Penjiwaan yang luar biasa. Kise menariknya ke dunia buatan yang penuh kompleksitas. Warna yang beradu-padu jadi satu.
Dentuman dari piano makin berat, nada yang keluar menggelap, perlahan dan keras. Menggelegar dan menusuk, hujan turun, membasahi bunga yang jadi tersapu dari imaji. Semuanya digantikan rintik hujan dan guntur membanting kilatnya ke bumi. Langit yang gelap dan suara statis dari hujan yang turun. Dingin yang membuat kulit kaku. Lalu, denting itu mengalun merangkai imaji lain, kesendirian. Sosok seseorang yang hanya memandang dalam diam. Warna mentari yang layu dan senyum kecil yang menawan.
Akashi mendesah perlahan, permainan piano seindah ini, benar-benar memukau. Suara piano itu berubah lagi. Hujan perlahan-lahan berhenti, sinar matahri mengintip, memberi sebuah harapan, tapi… kekecewaan yang tidak bisa debendung muncul. Bunga-bunga di luar taman sayu, menyisakan kerlingan matahari yang bersinar tidak berguna.
"Karya Handel?"
Kise mengangguk kecil. Duduk tegap di kursi menikmati potongan roti bakar mentega untuk sarapan. Akashi Masaomi berada di samping kirinya, menikmati menu sarapan yang sama. Mereka hanya berdua pagi itu, Akashi Seijuuro telah menghilang sejak pagi –bahkan sebelum Kise bangun. Lewat kepala pelayan di rumah, ia memberi tahu pada ayahnya kalau ada sesuatu yang harus diurus, hanya itu.
Keabsenan pria itu agaknya membuat Kise bernafas lebih lega. Ia tidak perlu menjalani ritual pagi hari yang melibatkan perih di hatinya dikuak berkali-kali. Pun, keabsenan Akashi dan Momoi secara bersamaan membuatnya meringis kecil saat mandi tadi pagi.
Jadilah pagi itu ia hanya berdua dengan si paman yang tingkat dinginnya tidak jauh berbeda dengan sang putra. Walaupun ia sejujurnya merasa lebih aman ketika bersama kepala keluarga Akashi ini.
Dari pembicaraanya dengan si paman, Kise mendapat persetujuan untuk mengikuti festival di universitas sebagai timbal balik menjamu teman-teman bisnis keluarga Akashi yang akan datang minggu depan. Akashi sebelumnya sudah menyetujui keikutsertaannya di festival.
"Iya paman, Water Music, karena teman paman akan datang juga, diplomat yang Paman bilang waktu itu. Saya rasa komposisi ini adalah yang paling cocok. Dari sejarahnya, lagu ini diciptakan untuk keluarga royal." Tambah si pirang, matanya hampir seperti berbinar.
Kecintaan si pirang pada musik bukanlah main-main. Bicara soal musik selalu membuat Kise lebih hidup dan bersemangat. Dulu ia sering berduet dengan kakanya yang pemain biola atau ayahnya yang pemain cello. Ibunya yang seorang penyanyi sopran kadang menemaninya bermain piano. Musik merupakan bagian dalam hidupnya.
Semenjak kecil dan sampai ia dewasa, teman paling setia yang Kise tahu adalah musik dan piano-nya.
Kepala keluarga Akashi itu tersenyum kecil. Puas dengan penjelasan pria muda yang sedang berdiskusi padanya. "Kalau itu memang sesuai menurutmu, aku akan senang mendengarnya nanti."
Setelah anggukan kepala dari kise, mereka kembali melanjutkan sarapan. Si pirang tersenyum hampir terlalu lebar pada rasa lega yang masih menyelimuti kalbu.
Meskipun rasa sesak karena perlakuan Akashi kemarin masih merasuki dirinya, beruntung setelah dia bermain piano semalam, perasaannya lebih tenang. Terimakashi pada Akashi Masaomi yang baru pulang dari perjalanan bisisnisnya malm itu. Kise mengehala nafas pelan lalu menyuap sup cream yang jadi pendamping roti pagi itu.
Kise menelan cairan kental itu perlahan, ia berharap harinya berjalan seperti pembuka paginya. Rasa lepas dan tanpa beban. Dia bahkan bisa mendiskusikan hal yang disukainya. Sudut matanya menilik si paman yang sedang menyuap sup yang sama. Ada kalanya ia merasa benar-benar tenang di dekat si kepala keluarga Akashi itu, karena bagaimanapun, satu-satunya orang yang bisa menundukan Akashi Seijuro adalah ayahnya seorang.
Kafetaria kampus kenamaan Tokyo itu tidak pernah mendengung kata sepi ketika masa kuliah. Semuanya berjalan seperti biasanya di sana. Tempat mahasiswa berkumpul bertukar cerita, menyuarkan berbagai macam kegiatan dan perasaan haru setelah bisa keluar dari kelas-kelas yang membuat otak mereka meleleh. Kelas-kelas dan tugas yang terus ditambah jadi topic paling hangat diselingi gunjingan mengenai dosen ini dan itu.
Momoi Satsuki memukul bahu teman kecilnya keras ketika pipinya dicubit. Gadis itu menekuk bibir kesal, ia mendengus sebal pada Aomine yang terus-terusan menganggunya sejak mereka sampai di kafetaria.
"Apaan sih Dai-chan!" Seru gadis itu dengan wajah cemberut.
Dia dan Aomine dan beberap orang lainya telah mengklaim spot dekat jendela. Sebut saja Kuroko, Takao, Midorima dan Murasakibara serta Himuro yang ada di sana. Masih ada dua anggota The Miracles –atau begitulah nama yang diberikan pada mereka– yang belum datang, Akashi dan Kagami.
"Wajahmu itu seperti orang yang baru diputus pacar, bodoh." Sungut Aomine dengan dengusan mengejek, ia ganti mencubit hidung si gadis pink yang langsung memukul pergelangan tangannya. "Pacar saja kau tidak punya." Tambah Aomine menghina. Sukses membuat objek perhatiannya mengeluarkan tatapan kesal. Si tan terkekeh pelan, ia sengaja menggoda gadis manis itu –sebenarnya. Dari pagi, gadis yang biasanya ceria itu berkali-kali menghela nafas tanpa alasan.
"Aomine-kun kau keterlaluan," Kuroko menyeruput milkshake vanilla kesukaannya dan mengelus pundak Momoi, menyemangati satu-satunya gadis di grup mereka. "Kau pacaran dengan Kagami-kun saja adalah sebuah keajaiban, kalau Kagami-kun sedikit lebih pintar dalam memilih pasangan, dia pasti tidak akan memilihmu." Wajah polos Kuroko disertakan ketika ia mengucap satu kalimat panjang itu.
Kata-kata yang sangat menusuk harga diri seorang Aomine. "Oi! Tetsu, enak saja. Kagami beruntung mendapatkanku tahu!" sungutnya tidak terima.
Ungkapan Kuroko yang blak-blakan mengundang tawa renyah dari bibir Momoi. Gadis itu memeluk Kuroko dengan senyuman lebar. "Terimakasih pembelaannya Tetsu-kun! Dai-chan itu memang tidak tahu diri kok," cibirnya sambil memeletkan lidah.
Aomine mendecih, Kuroko menunjukan senyum kecil. Takao terbahak dan mulutnya langsung disumpal roti oleh Midorima. Himuro tertawa seperti Momoi, dan Murasakibara memakan snack-nya seperti biasa.
Gadis manis itu melepaskan pelukannya pada Kuroko ketika Aomine mulai mengeluarkan argumennya lagi.
"Tetap saja, lebih baik dari bocah kecil satu ini yang belum pernah pacaran." Si tan meledek lalu menyentil kening Momoi. Kali ini gadis itu membuang muka kesal. Dia merutuk dan mendesah keras dalam hati.
"Karena Dai-chan seperti pereman! Semua pria yang mendekatiku ngeri duluan melihatmu!" sergahnya. Sebagian dirinya ditohok pada fakta lain bahwa ia bahkan tidak bisa menemui orang yang disukainya.
Akashi dua hari lalu tanpa alasan memberikannya skors untuk bertemu si pirang. Pria itu melarangnya berhubungan dengan Kise untuk beberapa hari atau mungkin minggu, atau bulan.
Rasa frustasi tidak bisa lepas dari kepala Momoi memikirkan bagaimana Kise akan jadi sangat sendirian dan tanpa perlindungan. Apakah Kise dirawat dengan benar? Apakah si pirang itu makin teratur? Apakah Akashi melukainya? Pikirannya kacau balau, hanya Akashi yang bersama Kise –tanpa dirinya. Tidak ada yang tahu apa isi otak psikopat satu itu dan entah apa yang akan Akashi lakukan pada Kise. Momoi menghela nafas berat.
Aomine menampilkan seringai menang. "Meh, mereka semua itu pengecut yang tidak pantas untuk-"
"Kau harus mengecilkan suaramu, Daiki. Ini bukan stadion." Suara dingin dan tenang yang khas milik Akashi yang kini muncul di sampingnya membuat Aomine diam. Semua mata di meja menatap ke arah Akashi yang tidak sendirian.
Momoi merasakan nafasnya terhenti dan sudut bibirnya berusaha keras untuk tidak membentuk senyuman.
Sosok pirang, jangkung dengan senyum manisnya yang khas berdiri di belakang Akashi. Buku partitur dan teori tentang musik tergenggam di tangan. Kacamata persegi bersandar di hidungnya yang mancung. Sungguh, Momoi ingin langsung melompat dan memikik pada pria itu.
Namun, semua itu ditahannya ketika sudut mata Akashi menikam mengawasi.
Setelah Aomine bungkam, Akashi langsung mengalihkan pandangannya. Tujuh manusia yang duduk mengitar di meja terdiam, menatap Akashi, lalu pada si pirang yang berdiri di belakang Akashi. Si pirang yang mereka kenal dari reputasi sebagai Kise Ryouta.
"Ini Takao Kazanuri." Suara datar dan dalam, membuat semua orang berkedip dan nama yang disebut menengok ke arah Akashi yang mengarakan tangannya ke nama yang disebut.
Mata coklat itu mengikuti arah tangan Akashi, melawati rambut biru pekat, dan tertugun pada wujud Momoi yang balas menatapnya. Kise ingin menyapa, tapi tepukan pelan Akashi di pundaknya dan kerlingan tajam si emperor pada Momoi membuat Kise berjengit kecil. Tepukan di pundak itu cukup untuk mengingatkan Kise bahwa ia harus bersandiwara, dia tidak pernah mengenal Momoi Satsuki.
Kise cepat-cepat memutus kontak mata dengan gadis itu. Matanya mendarat pada sosok yang disebut Takao. Ia lalu membungkuk, memperkenalkan diri pada sosok Takao.
"Perkenalkan, namaku Kise Ryouta. Akashi-san membawaku ke sini untuk menemuimu karena kau adalah penanggung jawab pemusik dan pemilihan lagu. Aku akan jadi pemain pia-" sebelum Kise selesai menyelesaikan ucapannya. Takao yang entah kapan sudah berdiri dan mengambil tangan si pirang dalam genggamannya. Ia manyalami si pirang itu kegirangan.
"Kau benar-benar Kise Ryouta? Tuhan– " pemilik surai hitam itu tersenyum lebar, dia melihat kekasihnya seperti anak kecil yang baru mendapat permen, "Shin-chan, aku sedang tidak bermimpi kan?" Tanya pemuda itu lalu melihat ke arah Kise lagi dan menarik nafas dalam-dalam. "Kise Ryouta, nama panggungmu dulu Apollo kan?"
Semua orang memandang aneh pada Takao. Pria itu terlalu girang menyalami Kise yang kelihatan kaget.
Mereka sudah sering mendengar nama Kise Ryouta. Para gossiper di kafetaria, pekikan-pekikan tersembunyi, lalu berita yang menyebar tentang si pirang yang menolaki tiap orang yang menembaknya. Reputasi, bakat dan visual pria pirang di dekat mereka membawa bizzare di seantero kampus.
Midorima hampir saja menarik Takao mundur karena tatapan Akashi yang berkata 'tangan-kurang-ajar' mengarah pada tangan Takao yang bertaut pada Kise. Momoi hampir berdiri untuk menegur Takao ketika ia menatap sorot tidak suka Akashi.
Tetapi, Kise bergerak lebih cepat, ia tertawa kecil dan mengangguk. Menutip gugup yang menyentuh jiwanya. Terutama, tatapan tajam yang bisa ia rasakan tanpa melihat ke sampingnya.
"Ah, ha'i." Si pirang itu membalas dengan cengiran kecil. Sukses membuat mereka yang tidak mengerti hanya makin bingun. "Aku tidak menyangka masih ada yang kenal dengan nama panggungku."
Ia menyalami Takao seperluya lalu menarik tangannya sopan, membungkuk kecil. "Maaf… sebenarnya, aku kurang nyaman dengan skinship." Senyum ramah terpatri di bibirnya, suaranya tenang seakan itu adalah hal yang memang dirasakannya. Alasan utamanya, ia tidak ingin ditatap lebih dingin oleh sosok yang berdiri di sampingnya dan dapat hukuman ketika dia pulang nanti.
Kise mencuri pandang pada sosok Momoi, ia ingin sekali menyapa gadis itu.
"Astaga, maaf –maaf. Aku benar-benar mengagumi permainanmu, sungguh." Takao menunjukan cengiran salah-tingkah. Merasa agak kecewa karena dia sangat suka menyentuh orang.
Jadi ia mengalihkan perhatian ke arah Midorima dan memukul bahu si hijau itu. "Shin-chan, masa kau belum pernah dengar tentang dia. Aku kira itu cuma bohong kalau kau adalah Kise Ryouta yang itu astaga." Dia kembali melihat Kise, matanya berbinar. "Aku sangat beruntung kalau kau main lagi berarti aku-"
Akashi jengah, "Kazanuri, tenanglah. Kau bahkan membuat Ryouta tidak bisa duduk." Ujarnya, mengarakan pandangan dingin yang langsung ditanggapi Takao dengan tangan terkatup di depan dada tanda minta maaf.
Si emperor duduk di samping kekasihnya. Mengerling pada Kise sambil menunjukan seringai tipis –merendahkan, yang berlangsung sekilas. Ia memberikan kecupan lemut pada kening Kuroko.
Seringai di bibir Akashi mengirim perih ke sebuah bagian dalam dadanya. Mengirim pisau tajam untuk harga dirinya. Kise tetap memamerkan sebuah senyum manis. Ia aktor di atas panggung. Sudut tajam yang tertangkap matanya hanyalah gangguan kecil dan peringatan yang biasa. Ia duduk di antara Akashi dan pria tan yang belum dikenalnya. Seringai di wajah tampan penerus keluarga Akashi itu adalah teguran akan posisinya.
Pun, Kise tidak perlu diingatkan. Ia tahu di mata pria itu eksistansinya tak lebih dari peliharan dan pajangan untuk kepuasan. Ia mengarahkan pandangannya pada Takao yang wajahnya seperti bersinar. Si pirang itu seperti melihat pantulan dirinya bertahun-tahun lalu.
"Waktu kau memainkan Autumn milik Vivaldi, aku bersumpah jadi fans mu sejak saat itu." Ujar si rambut hitam. Senyum makin lebar membentuk sabit di bibir. Kise mengangguk, mengucapkan terimakasih atas apresiasi pria di sebrangnya.
Akhirnya si tan yang bengong tidak mengerti memotong. "Kalian membicarakan apa sih?" sergahnya kesal. Menatap ke arah si pirang yang untuk sesaat terlihat bener-benar memukau. Ia tidak pernah menyangka bahwa Kise Ryouta akan seindah ini kalau dilihat dari dekat –tidak heran Kagami mengerutkan keningnya dalam ketika ia menggoda kekasihnya dengan nama Kise.
Momoi yang ada di samping Aomine menyikut pinggangnya. Memastikan mata Aomine tidak terlalu lama menatap sosok pucat Kise. Akan sangat menyebalkan kalau Akashi menyadari itu dan Kise yang kena imbasnya Gadis itu menggigir bagian dalam pipinya. Ia memperhatikan bibir Kise yang kelihatan pucat.
"Dai-chan sih aho. Pikiranmu kalau bukan komputer ya majalah mesum dan Kagami-kun." Momoi mendengus kecil. Balas dendam mengatai Aomine. Ia berusaha keras untuk tidak memangdang dua manik madu milik si pirang.
Si tan yang diledek mendecih kecil. "Memang kau tahu?" tanyanya.
"Tentu! Musk klasik itu bagus ya! Dari data yang kudapat, Kise Ryouta-kun adalah salah satu pianis muda jenius dari Prancis!"
Bukan momoi kalau tidak ahli berakting, Kise hanya mengangguk kecil dan memerkan senyum khasnya. Mereka berdua sudah terbiasa menutup perasaan dan keinginan di depan raja neraka. Mengelabuhi orang normal jauh lebih mudah.
"Ah!" Himuro yang sejak tadi mendengarkan memberik anggukan kecil. "Aku pernah dengar tentang itu." Ujarnya, memberi senyum ramah pada si pirang.
Murasakibara tidak menggubris. Ia mengunyah camilan di mulutnya, menatap Kise dengan tatapan ngantuk.
Lalu Kuroko yang duduk di samping Akashi mengangguk singkat pada penjelasan Momoi. Nama Kise Ryouta jadi lebih familiar untuknya, "Permainanmu sangat bagus, aku pernah mendengar sekali dari Akashi-kun." Dua mata polos milik Kuroko terarah pada Akashi. Yang disebut namanya melirik si pirang, tidak ada kata yang keluar.
Kise mengangguk, tersenyum, dan beramah-tamah pada semua orang di sana –termasuk Akashi. Mengucapkan terimakasih seakan ia terkejut kalau seorang Akashi bisa mengenalnya. Satu dari sedikit keluarga ternama yang punya kekuatan luar biasa di Jepang adalah penikmat permainan piano-nya, luar biasa, bukan?
Ada ringisan miris di batinnya. Keluarga Akashi adalah promotor keluarganya sejak dulu, dan promotornya secara personal sekarang. Tiap resital yang dihelat, tiap orchestra, nama Akashi akan jadi tamu undangan yang pasti terpampang.
Berakting adalah bagian dari kesahariannya, berlagak seekan ia baru kenal dengan Akashi adalah hal mudah –harusnya. Kise melirik jemari yang bertaut di atas meja. Si pemilik surai biru muda yang sewarna langit pagi itu mengaitkan tangannya pada tangan si pemilik iris dwi warna. Pikiran si pirang berkelana diantara kolase acak yang tiba-tiba muncul. Potongan warna biru langit dan burung yang terbang tinggi. Senyuman tipis dan elusan lembut di puncak kepalanya. Sesap asap bersalah menyelinap masuk di sela paru-paru dan katup jantung. Ada janggal yang membuatnya nyeri melihat dua tangan yang bertaut di sana.
Suara berisik di sekitarnya berubah samar. Manik madunya bisa melihat bibir yang terbuka dan tertutup membentuk ucapan. Namun, yang masuk ke telinganya hanya bunyi statis, seperti alat pendeteksi detak jantung yang mengumumkan kalau jantung si pasien tidak berdetak.
Kise berkedip sekali. Suara obrolan yang bersautan kembali terdengar begitu matanya berpindah ke Takao. Momoi tanpa kesal menghadapi sosok tan yang ada di sebelahnya. Ia tertawa sebentar lalu tersenyum, terlihat seperti cengiran karena terlalu lebar. "Jadi begini, Takao-san. Dari komite dikatakan bahwa kaulah yang menyusun untuk piece yang akan dimanikan kan? Kalau boleh, aku akan sangat berterimakasih seandainya kau mengizinkanku memilih lagu yang bisa kumainkan." Kise mengusap tengkuknya canggung ketika mata si rambut hitam terkunci ke arahnya. "Tentu saja aku akan mendiskusikannya dulu denganmu."
Takao yang ditanya seperti itu mengangguk ringan. "Ii yo! Tidak masalah! Aku akan senang kalau bisa membantumu." Senyum di bibirnya sepnatul dengan milik Kise.
Murasakabira yang sejak tadi makan kini berhenti. "Aku jadi ingat." Nada suaranya terdengar malas. Si pirang berkedip sekali, terkesan karena si surai ungu akhirnya bicara. "Kau pernah bemain di konser gala dengan lagu yang putri bebek itu kan?"
Ada gelitik geli yang menghidupi perutnya ketika kalimat itu terucap. Dan sepertinya, bukan hanya dia yang merasakan itu. Pria di samping si tukang makan juga tertawa.
"Putri angsa." Koreksi Himuro yang menawari Murasakibara segelas air minum.
Kise mengangguk, nostalgia terpatri di senyumnya. "Ah iya, waktu itu aku duet dengan kakakku."
Ingin ia memejam mata dan berharap sihir yang orang bilang ia miliki menjadi nyata. Dia ingin orang tuanya kembali, dia ingin kelengkapan yang dulu ia miliki hadir di sisinya. Ia merindukan dekapan ibunya, canda ayahnya, dan senyum menggoda kakaknya yang tidak pernah lelah membuatnya merengek kesal. Terutama, ia rindu kebebasan. Tidur pulas tanpa mimpi buruk, melakukan semua hal yang disukainya tanpa tahu konsekuensi, dan pergi kemanapun yang diinginkannya tanpa rasa takut.
Percakapan mereka bersembilan secara berangsur menjadi lebih kasual. Takao dengan ramah memperkenalkan setiap orang yang ada di sana. Akashi terlalu sibuk untuk membagi sedikit perhatiannya pada Kise atau untuk peduli memperkenalkan orang di sana padanya. Pria itu menyelipkan jemarinya di antara surai biru langit milik sang kekasih –dan ia, Kise melihat ke arah lain. Membuang senyum ke siapapun yang bertemu pandang dengan irisnya. Ada bunyi pukulan keras di bagian dada, seperti hantu yang mencoba menakutinya.
Bersyukur Momoi tersenyum padanya, senyum manis yang membuat Kise mearasa aman. Takao memperkenalkan gadis itu setalah Aomine –si tan yang seperti memelototinya. Si pemuda raksasa bernama Murasakibara dan pacarnya, Himuro, lalu ada kekasih Takao yang bernama Midorima. Terakhir, Kuroko dan Akashi. Satu nama yang belum muncul perwujudan-nya ikut disebut, Kagami. Singkatnya, ini adalah teman-teman Akashi yang pernah ia tahu sekilas ketika melihat isi ponsel si pemilk mata heterokromik.
Takao dan Momoi adalah dua orang yang membimbing percakapan di sana. Aomine cenderung malas menanggapi, Midorima sesekali menanggapi, Himuro terkadang membawa topic baru, Murasakibara terlalu khusyuk makan, Kuroko sesekali ikut dalam percakapan, dan Akashi lebih sering diam. Kise beberapa kali perpartisipasi memberi tambahan atau adu argumen. Desir kesenangan yang lama tidak ia rasa perlahan kembali. Terkadang ia bahkan menyeringai kecil ketika Momoi menepis semua perkataan Aomine atau ketika Midorim jadi merah karena digoda Takao.
Tetap saja, mata Akashi yang menerornya setiap waktu tidak membiarkan Kise terlalu bahagia. Si pirang itu tersenyum sendu ketika tidak ada melihatnya. Ia mengintip ke arah Akashi, dua tangan itu masih berpautan. Rasa kecewa mencekoki hati, ia menutup mata untuk sesaat dan melihat Aomine yang kebetulan memandangnya.
"Apa ada sesuatu yang salah di wajahku?" Kise menunjukan senyum ramah.
Aomine berdehem dan berupaya terlihat keren ketika ia menyodorkan ponsel hi-tech-nya ke arah Kise. "Boleh aku minta nomormu?"
Tubuh si pirang kaku. Sikap ramahnya jadi senjata makan tuan.
Bukan hanya Kise. Semua orang di sana diam. Kaget dan tidak percaya terpancar di bola mata. Reaksi pertama datang dari Akashi. Sebuah dengus kecil dan senyum sinis. "Akan ku pastikan, aku akan membantu Taiga untuk membunuhmu." Ujar pria itu dengan sebuah senyum mematikan.
Pundak dan tengkuknya dingin, Kise mengusap bagian itu ketika tatapan Akashi beralih padanya untuk sepersekian detik.
"Aku tidak berminat selingkuh dari Kagami tahu!" si tan mendengus tidak terima. Ponsel itu masih disodorkan pada Kise. Kali ini, Momoi menghantam kepala si tan dengan buku tebal.
"Dai-chan, kau ini memang bodohnya keterlaluan. Kau baru kenal Kise-kun sehari tapi sudah berani minta nomor ponsel! Dasar playboy mesum." Sungut gadis itu. Mengumpat keras, menampilkan wajah kesal. Dia bahkan tidak punya nomor Kise setelah kerja beberapa tahun di mansion Akashi.
"Enak saja! Aku cuma mau berteman dengan Kise ya!" Pria yang diumpati Momoi membantah keras.
Takao terkikik, "Aomine-kun, modusmu terlalu jelas."
"Kagami-kun akan marah besar." Ditanggapi oleh Kuroko yang menyeruput milkshake-nya.
Kise menghela nafas pelan, ini bukan yang pertama kali orang meminta nomor ponselnya. Tapi, ini pertama kali seseorang meminta nomornya dan Akashi ada di sampingnya. Senyum miris terangkat di bibir itu. "Aku juga tidak punya ponsel personal, lagi pula." Ujarnya menengahi adu mulut yang tidak penting itu.
Aomine akhirnya menyerah dan mendecih pelan,"Oh, baiklah." Ujarnya tak niat.
Pembicaraan berlanjut tentang kuliah, makanan dan berakhir tentang kehidupan pribadi. Lebih tepatnya, tentang hubungan percintaan. Takao yang mengumbar kemesraan dengan Midorima, Aomine yang bercerita tentang Kagami dan kegiatan malam mereka, Takao yang bercerita tentang Akashi dan Kuroko, Kuroko yang bercerita tentang Akashi dan kencan mereka, dan Aomine yang bercerita tentang Momoi yang terlihat seperti orang baru putus, dan Momoi yang bercerita tantang pasangan paling manis dan paling mesum di kelompok itu.
Denyut di kepalanya tajam, Kise sebisa mungkin tersenyum dan menanggapi apapun yang dikatakan oleh tiap orang di sana. Topik-topik itu membuat perutnya mulas. Dadanya nyeri dan nafasnya diburu secara kalbu. Suara bersahutan dari satu orang ke orang lain dengan tempo cepat membuatnya ingin tuli. Si pirang mengepal tangannya kuat untuk tetap mengendalikan diri. Merasakan perih dari kuku yang menusuk jarinya supaya ia tetap sadar. Ia perlu pergi dari tempat itu sesegera mungkin.
"Etto, permisi." Sesosok gadis berambut coklat mendekati Kise. Keringat menempel di keningnya. "Kise-kun, kita perlu latihan untuk kelas selanjutnya. Sensei juga mencarimu tadi." Lonceng penyelamat akhirnya berbunyi. Ia tidak pernah sebahagia itu untuk mendengar kalau salah satu dosen mencarinya. Kise tersenyum lega, ia berdiri lalu segara undur diri.
"Mohon kerjasamanya untuk festival nanti, Takao-san." Ujarnya, dia lalu membungkuk kecil pada orang-orang yang ada di sana. "Sampai ketemu lagi." Diucapkan sekenanya untuk sopan santun.
Momoi mengangguk, jadi yang pertama kali merespon dan mendadahi si pirang yang berbalik pergi menyusul gadis berkepang yang menjemputnya. Aksi yang ia sesali berikutnya karena Akashi menyeringai kecil ke arahnya. Rasa cemburu karena Kise disusul oleh gadis lain membuat Momoi lupa posisi. Gadis itu mengerang tertahan ketika sebuah pesan masuk menambah jumlah mailbox-nya. Nama Akashi terpampang sebagai pengirim, 'liburan' yang diberikan bertambah.
Untuk Kise, ia menghela nafas lepas. Duduk di antara orang-orang itu membuatnya asma mendadak. Terlebih tingkah laku Akashi yang membuat dadanya nyeri. Kekang yang terasa sangat nyata di tiap lirikan mata pria merah itu. Dan sebilah pedang panas yang ditusuk berkali-kali tiap kali ia harus melihat jemari Akashi dan Kuroko bertautan.
Malam itu Kise menghabiskan waktunya di depan piano. Memecahkan gelembung-gelembung panas yang menemani harinya. Salahnya memang, ia terlalu berharap di pagi hari, terlalu bahagia ketika bisa mengecap rasa bebas yang sesaat.
Ia menekan beberapa tuts secara teratur, matanya terpaku pada lembaran partitur. Menari akrab di atas balok putih kaku yang jadi tempat dansa. Ia menghala nafas pelan, menarik keluar segala nyeri yang menguap dengan denting piano. Tidak memikirkan apapun, Kise membiarkan dirinya hanyut. Air matanya turun, ia tidak peduli. Helaan nafas berkali-kali keluar, itu memang seharusnya. Tangannya pegal mengulang piece yang sama, bukan suatu masalah.
Si pirang mengatup matanya erat. Jantungnya berdetak dalam gerak cepat. Deru udara yang keluar masuk hidungnya pendek. Ia mengutuk pada potongan gambar berseliweran tidak tahu diri dalam kepalanya. Keadaan siang di kafetaria kampus. Perlakuan Akashi padanya di ruang baca itu. Kise tidak mau ingat semua itu. Ia menghantam jarinya keras pada balok-balok di piano.
.
"Papa! Aku bosan baca partitur yang ini!" Rambut pirangnya bergoyang seiring irama langkah yang berlari ke arah sang ayah, bibirnya menekuk kesal. Dia menunjukan bagian yang dimaksud pada sang ayah yang tersenyum ramah.
"Kenapa? Kan bagus. C'est romatique." Si ayah tertawa lalu mengacak rambut putranya yang baru berumur dua belas tahun. "Kau juga belum lancar tanpa partitur."
Pemuda kecil itu mendengus kecil. "Iya sih aku belum hafal. Tapi pa, it makes me sad to play it! Rasanya s'perti ada yang sedang menangis waktu aku memainkan yang ini." Si papa melihat judul partitur lalu tertawa kecil.
"Judulnya kan memang 'Love's Sorrow', Ryouta. Kalau kau sudah besar nanti, ini bisa jadi tempat pelarian yang bagus." Pria tua yang berdiri di depannya menyengir tanpa rasa bersalah.
.
Persetan untuk perasaan yang masih mengecap di kalbunya. Si pirang berhenti, menarik nafas dalam-dalam lalu kembali memainkan komposisi di atas partitur dari awal.
Dia marah pada rasa bersalah yang harus ditanggungnya. Dia marah karena Akashi yang terus menggali luka itu seenaknya. Dia marah karena matanya harus melihat dosa yang telah dia buat. Dia marah karena pada akhirnya semua kesalahan akan dilimpahkan padanya. Dia marah karena –Kise tersedak amarahnya. Otaknya tumpul untuk mengurutkan antrian alasan lain yang membuatnya marah.
Lantunan melodi dalam piano-nya dalam, berat, dan lebih lambat. Sorot matanya kaku. Kise tersenyum kecil, kesal. Ia benci dipermainkan, dan Akashi mempermainkannya dengan sangat baik.
"Kau benar-benar menikmatinya, Akashi-cchi." Bisikannya lembut, dingin, dan menusuk. Seperti air es di musim dingin, diambil langsung dari kolam beku.
Kise ingat Momoi pernah mengkonfrontasinya. Menanyakan tiga hal yang membuat ia tertawa miris.
Mengapa ia masih tinggal di mansion itu.
Atas dasar apa ia mau menurut pada perintah Akashi.
Apakah ia punya rasa pada pria itu.
Melodi yang melambangkan kesangsaraan cinta, piano-nya bernyanyi bersama emosi yang sedang dibuangnya. Kise tersenyum miris. Tidak ada yang mau tinggal di tengah penjara, apalagi yang membunuh. Kalau bisa pergi, Kise tentu saja akan pergi. Dia tidak punya pilihan.
"Kalau aku mengancam bunuh diri, apa aku akan dilepas ya?" ia berangan.
Tawa pelan yang berisi kegilaan menyelinap keluar. "Apa yang bisa kulakukan untuk membuat Akashicchi membuangku?" Pria itu bergumam.
"Apa Ki-chan menyukai Akashi-kun?"
"Ah, Momoicchi." Kise tersenyum sedih ketika memaikan bait terkahir di partitur. "Cinta itu ilusi semata." Ia mendesah parau. Akashi yang bilang mencintai Kuroko di depan teman-temannya, contoh yang paling Kise tahu. Si kepala merah itu malah punya mainan sepertinya.
"Lalu, kenapa Ki-chan masih bertahan di sini. "
Keberadaan Momoi yang jauh darinya malah membuat suara si gadis terus terniang di dalam kepala. Mungkin, ia sedang dipikirkan. Kise tertawa lagi. "Karena aku terlalu takut untuk mencoba lagi, tentu saja." Tangannya terasa lebih ringan.
"Aku dan Akashicchi, hanya serperti itu." Suaranya lembut. Bibirnya terangkat dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Tuan dan peliharaan, kata-kata itu ia telan dalam bisu. Kise menekan nada terakhir. Setelah delapan kali ia berhenti, tangannya kehilangan tenaga untuk menekan tuts piano setelah empat puluh menit tanpa berhenti.
Ia menatap jemarinya. Ia ingat Akashi pernah menyuruhnya bersandar di pahanya ketika mereka sedang menikmati musim semi. Lalu, ia juga ingat klaim Momoi padanya; kau sayang pada Akashi-kun. Kise menengok ke arah jendela yang tertutup rapat.
Sayang itu halusinasi
Cinta itu delusi
Pengorbanan itu cuma ucapan.
Yang nyata itu kebebasan.
Kakinya tegap melangkah menuju pinggiran jendela yang tidak pernah dibuka dua tahun belakangan. Jarinya yang kelu karena digunakan terlalu lama menyentuh permukan kaca yang dingin. "Momocchi itu tidak pandai bercanda." Kise menatap pantulan wajahnya yang tersenyum. Tawa kecil mengelabuhi amarah yang dijinakan kembali ke kotak.
Yang ia butuhkan hanyalah kebebasan. Itupun kalau bisa dicecap sedikit sebelum dijemput maut.
Riuh di kepalanya selalu menyiksa tiap kali ia harus menatap jendela. Pria itu menekan permukaan telapaknya pada benda bening di depan mata. Ia mulai tidak waras, di satu sisi. Di sisi lain, ia berubah jadi manekin hidup. Indah dan sangat cocok jadi pajangan. Dia dikutuk oleh dewa dan Tuhan dan segala jenis keagungan di luar nalar manusia.
Bayangan nyalak di mata Akashi yang melebar ke arahnya seperti masih baru. Senyum sinting yang terbentuk sempurna di wajah Akashi, dan pistol yang mengetuk cangkang kepala itu.
"Aku tidak pernah main-main, Ryouta. Eksistensimu di sini adalah nyawaku."
Hidupnya benar-benar menyedihkan. Si pirang itu menatap bulan yang berpendar sekarat di atas langit. Ia lalu berbalik badan, sosok angkuh pria yang baru saja dipikirkaannya masuk ke dalam ruangan dan melangkah dekat si piano indah di sana. Kise tersenyum.
"Tadaima, Akashi-cchi."
To Be Continued
