Brother
LeoN / Neo
Hakyeon, Taekwoon, Wonshik, Hyuk,
Kim Jisoo
VIXX
Yaoi & Typo
Romance & Hurt
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
Sebuah mobil berhenti di depan sebuah gerbang yang sangat tinggi nan kokok. Gerbang tersebut terbuka secara otomatis saat pengemudi mobil menunjukan sebuah kartu identitas pada mesin box yang terdapat disisi kiri gerbang. Dengan segera mobil tersebut masuk kedalam. Tampak halaman yang sangat lebar dan taman yang sangat indah berada disetiap kanan dan kiri jalan yang mereka lewati. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah yang megah nan mewah. Seorang bodyguard membukakan pintu kepada penumpang belakang mobil yang terlihat kesulitan untuk keluar dari dalam mobil.
Hakyeon menghentakan tongkatnya saat dirinya berhasil berpijak ditanah. Dua orang lainnya yang berada di mobil ikut turun dan mendekati Hakyeon. Sekretaris Han, Han Sang Hyuk, melemparkan kunci mobil pada bodyguard tadi untuk mengandangkan mobilnya.
"Mari Sajangnim" ucap Hyuk yang meraih tangan Hakyeon. Namun Hakyeon menolak dan tersenyum kepada Hyuk.
"Kau istirahat saja, biar Jisoo yang mengantarku ke kamar"
Hyuk menatap tak percaya atas penolakan Hakyeon. Dia melirik sinis Taekwoon, yang mulai membimbing Hakyeon menuju kamarnya.
"Ck, aku harus mencari tahu identitasnya" ucap Hyuk dan langsung berlalu pergi masuk kedalam rumah menuju kamarnya.
Hakyeon dan Taekwoon berjalan menaiki sebuah tangga lebar yang sudah menyambut mereka di depan pintu masuk rumah. Dengan teliti Taekwoon membimbing Hakyeon perlahan untuk melangkahi anak tangga.
"Kamarmu di atas?" ucap Taekwoon seraya mengamati seluruh isi rumah yang membuatnya menelan air ludahnya sendiri. Rumah yang terbilang kelewat mewah ini benar-benar membuatnya takjub. Selain tangga yang mereka pijaki ini, disisi kanan dan kiri lantai satu ini terdapat lagi tangga menuju ke lantai dua. Taekwoon tak percaya bagaimana seorang tunanetra memiliki rumah mewah seperti ini sendirian.
"Kau lupa, kamar kita juga selalu diatas. Dulu sewaktu kecil kau sangat suka melihat langit malam, jadi Ayah memindahkanmu di lantai 1. Tapi karena aku terkadang takut untuk tidur sendiri. Kamar kita jadi sebelahan" cerita Hakyeon seraya terkikih geli mengingat masa kecil mereka. Taekwoon yang sebenarnya tidak tau apa-apa hanya diam mendengarkan cerita Hakyeon.
"Kamarku ada disisi kanan. Kau lihat gambar bintang dipintu? Itu kamarku" ucap Hakyeon seraya menunjuk kesebelah kanan. Taekwoon lantas menuntun Hakyeon menuju kamar itu, membawanya masuk dan mendudukanya pada kasur king size Hakyeon.
Taekwoon mengamati seisi ruang kamar Hakyeon. Warna cerah kuning yang dilukiskan pada kamar ini, seluruh perabotan yang terkesan elegan namun terlihat manis.
'orang yang ceria' tebak Taekwoon dalam hati.
"Jisoo-ya, kamarmu belum dibersihkan. Aku tidak tau jika akan bertemu denganmu hari ini. Kau ingin tidur di mana?" ucap Hakyeon seraya melepas jasnya.
"Hmm. Aku bisa tidur di sofa" Taekwoon mengambil jas Hakyeon dan diletakan disebuah gantungan baju di pinggir kasurnya.
"Atau kau mau tidur disini denganku?"
"Eh?"
"Kita dulu juga terbiasa tidur bersama, mandi juga sering bersama" ucapnya antusias.
"Ah, tidak. Aku akan tidur di sofa" Taekwoon mulai gelagapan saat Hakyeon berdiri dan meraih tangannya.
"Atau kau ingin kita mandi bersama sekarang? Eooh~ aku sangat merindukan itu?" Hakyeon menarik tangan Taekwoon, dan berjalan dengan tongkatnya menuju suatu tempat yang dimaksud.
"Ti..tidak usah" cemas Taekwoon yang terus-terusan ditarik Hakyeon.
Hakyeon yang tak peduli karena saking bahagianya bertemu dengan adik kesayanganya itu, memaksa Taekwoon untuk mandi bersamanya. Hingga mereka telah sampai di depan pintu kamar mandi. Taekwoon mulai terlihat sangat panic. Peluhnya mengalir saat Hakyeon membukakan jas Taekwoon.
BRUUUUKK
Dengan reflex Taekwoon mendorong tubuh Hakyeon hingga namja yang memiliki tubuh mungil itu tersungkur ke lantai. Taekwoon yang sadar atas perbuatanya segera menolong Hakyeon. Namun Hakyeon menolak dan berusaha bangkit sendiri.
"Biar ku bantu" ucap Taekwoon merasa bersalah seraya meraih bahu Hakyeon untuk membantunya berdiri
Namun Hakyeon kembali menolaknya dan berkata bahwa dia bisa melakukanya sendiri. Taekwoon melihat perubahan raut wajah Hakyeon. Dia telah membuat namja manis itu kecewa.
Hakyeon meraba-raba lantai, berusaha mencari tongkatnya yang ikut terjatuh. Taekwoon menatap iba Hakyeon. Dirinya tahu letak tongkat itu tepat berada disamping kiri Hakyeon. Namun namja itu malah mencari disisi kanan berulang kali.
Tep
"Ini" ucap Taekwoon seraya meletakan tongkat pada tangan Hakyeon.
Hakyeon langsung berdiri dan menunduk. "Maafkan aku" ucap Hakyeon sedih. "Aku tau, sulit untuk menerima seorang kakak yang tidak sempurna, bukan?" Hakyeon berjalan menjauhi Taekwoon, menuju kasurnya.
"Kau bisa istirahat. Keluarlah"
.
.
.
.
.
.
.
Ngiung Ngiung Ngiung Ngiung
Suara sirene mobil polisi memenuhi keramaian malam kota. Sebuah mobil derek tengah mengangkat mobil yang ringsek dari dalam bagian truk. Kedua kendaraan itu rusak parah, bagian pengemudi mobil sudah tidak terbentuk, dan benar-benar hancur. Mobil ambulanpun mulai berdatangan. Polisi juga memberikan tanda pembatas disekitar kejadian kecelakaan itu.
"Ada yang selamat!" teriak seorang polisi yang berusaha menyingkirkan bagian mobil yang menindih seorang anak kecil. Anak berusia 7 tahun itu tampak kesakitan saat polisi tadi melepaskan besi mobil dari tubuhnya. Dengan sigap polisi itu membopong anak tersebut ke mobil ambulan. Mata anak itu tampak mengeluarkan darah, kepalanyapun basah oleh darah dan sekitar area kakinya juga terluka. Namun dia berusaha menajamkan penglihatanya kesekeliling area kecelakaan itu.
"Dimana Jisoo? Eomma dan Appa, dimana mereka Ahjussi?" ucapnya mulai panic.
"Ssst, kau harus segera dirawat"
"Eomma!" Anak kecil itu berteriak histeris saat tubuh kaku ibunya berhasil dikeluarkan dari dalam mobil. Wajah yang sudah remuk itu dan baju yang basah oleh darah diletakan pelan-pelan di tandu dan di angkat oleh beberapa perawat kedalam mobil ambulan lain. Membuat anak kecil tersebut tak hentinya menangis dan ingin memhampiri Ibunya. Namun, sang polisi mendekap tubuhnya agar tetap berada didalam mobil ambulan.
"Andwe Eomma! hiks Itu Eomma ku Ahjussi hiks ! Jebal hiks. Eommaaa! Andwe! Eommaaa!"
.
.
.
.
.
"Eommaa hiks andwee, jebal andwee" Hakyeon berucap digusar ditengah tidurnya. Tangisnya tak terhenti bersamaan dengan panggilan untuk sang Ibu. Beberapa Pelayan pun berdatangan untuk membangunkan Hakyeon yang terus-terusan terisak menangis.
"Aduuh cepat, dimana Sekretaris Han?" ucap seorang pelayan yang duduk disamping Hakyeon seraya mengusap peluh Hakyeon yang mengalir.
Tap Tap Tap Tap
Dua orang pria berlarian masuk kedalam kamar Hakyeon dengan panic.
"Ada apa?" Tanya Hyuk yang mendekati kasur Hakyeon.
"Tuan mulai lagi. Dia tidak mau bangun" jawab pelayan itu dengan panic. "Bagaimana ini Sekretaris Han?"
Hyuk segera berlutut didepan kasur Hakyeon yang tidak terlalu tinggi itu. Dia menyuruh seluruh pelayan untuk keluar, dan memanggilkan Dokter. Dengan patuhnya mereka langsung keluar dari kamar itu. Namun seorang namja masih berdiam diri melihat kondisi Hakyeon.
"Eomma hiks hiks Eomma" Hakyeon masih berguman terisak dalam tidurnya. Tanganya bergerak kesegala arah seperti menggapai sesuatu. Hyuk berusaha menahan tubuh Hakyeon untuk tetap tenang.
"Sajangnim, Ireona" ucap Hyuk sambil berusaha menenangkan Hakyeon.
"Sekretaris Han!" teriak pelayan dari lantai bawah, dan membuat Hyuk mendecak sebal.
"Apa lagi?!" Hyuk bangkit dan berbalik. Dia menatap Taekwoon yang hanya berdiri mengamati Hakyeon. "Tolong jaga dia sebentar" ucapnya dingin dan langsung berlari pergi.
Taekwoon menatap punggung Hyuk yang menjauh dan kembali memandang Hakyeon. Taekwoon mendekati Hakyeon yang masih bergelut dengan imajinasinya. Dia duduk disamping kasur Hakyeon dan menggapai kedua tangan Hakyeon yang terangkat. Diamatinya wajah Hakyeon yang kacau, matanya terlihat sembab karena terus-terusan menangis. Bibir merah itu bergetar setiap dia berguman.
"Apa yang kau lihat?" Diusapnya wajah Hakyeon yang basah akan keringat. "Apakah begitu menakutkan?"
"Hiks Eomma, andwee hiks Jisoo-ya hiks Appa, kajima. Hiks"
"Pergilah, jangan pedulikan mereka." Taekwoon mengusap poni Hakyeon yang menutupi matanya. "Bangunlah Cha Hakyeon" ucapnya sendu.
Tap Tap Tap
Dokter dan Hyuk masuk kedalam kamar dan segera memeriksa Hakyeon. Dokter itu memberikan cairan dan disuntikan kepada Hakyeon. Tidak lama, Hakyeon langsung tenang dan tertidur lelap. Mereka yang mengamati Hakyeon dari luar kamar menghela nafas lega.
"Bagaimana Dokter?" ucap Hyuk khawatir.
"Ini hanya efek dari traumanya. Mungkin dia bermimpi tentang kejadian masalalu. Tidak apa-apa jangan khawatir" Dokter itu memasukan alat-alatnya kembali kedalam tas dan menunduk permisi kepada Hyuk.
Hyuk segera duduk disamping Hakyeon dan dielusnya wajah Hakyeon. "Kau membuatku khawatir Hyung"
Taekwoon mengerutkan kening ketika melihat sikap Hyuk pada Hakyeon yang berbeda dari kemarin. Dia begitu lembut dan sayang terhadap Hakyeon.
"Kau tak pergi?" sindir Taekwoon pada Hyuk. "Tak sopan kau melakukan itu pada atasanmu"
Hyuk lantas melirik Taekwoon dan tersenyum sinis. "Memang siapa kau?"
"Aku tidak perlu menjawab itu bukan?" Taekwoon membalas dengan senyuman yang sama.
"Eoh~" Hyuk berdiri dan mendekati Taekwoon. Ditatapnya Taekwoon tajam, kemudian mendengus kecil. "Bukankah margamu Jung?"
Taekwoon terkejut atas ucapan Hyuk. Dia bungkam dan menatap Hyuk gusar.
Hyuk yang melihat reaksi Taekwoon lantas terkikik geli dan semakin mendekatkan dirinya pada Taekwoon. "Kenapa panic begitu?" Dirapikanya baju Taekwoon berniat menyindir. "Tenang saja, aku akan memberitahunya disaat yang tepat" Ucapnya seraya tersenyum mengejek pada Taekwoon yang hanya menatapnya tajam.
"Tuan Jung"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taekwoon duduk diam di taman sekitar rumah. Dia masih memikirkan ucapan Hyuk tadi pagi. Bagaiman dia bisa tahu jika marganya adalah Jung? Sebuah ancaman besar jika Hyuk mengetahui identitas Taekwoon yang sebenarnya.
"Ck, semua ini gara-gara Wonshik" Taekwoon merogoh sakunya dan menekan tombol pemanggil.
"Ne Hyung?"
"Wonshik-ah, namja itu tahu tentangku"
"Eoh? Siapa? Jangan bilang Sekretaris Han?" ucap Wonshik disebelah sana dengan terkejut.
"Hmm"
"Aish! Aku lupa memperingatkanmu tentang dia. Dia orang yang sangat peka. Hati-hati denganya, dia bisa dengan mudah membongkar identitasmu?"
Disaat yang bersamaan tampak seseorang tengah berjalan perlahan mendekati Taekwoon dari belakang. Seseorang itu berhenti tidak jauh dari tempat Taekwoon duduk.
"Dia bahkan sudah tahu margaku Jung bukanlah Cha"
"Lalu bagaimana? Kau pergi saja Hyung daripada kita masuk penjara"
"Aku tidak bisa pergi begitu saja, itu akan membuatnya sedih"
"Ya! Jangan bilang kau mulai menyukai namja buta itu. Kau cari mati Hyung!" pekik Wonshik.
"Aku tau, tapi.."
"Jisoo-ya"
Taekwoon menoleh dan terkejut ketika melihat Hakyeon telah berdiri dibelakangnya. Segera dia matikan panggilanya dengan Wonshik dan berdiri menghadap Hakyeon.
"Hakyeon-ah" ucapnya sedikit gugup.
Hakyeon tersenyum dan berjalan mendekati Taekwoon. Dia berhenti ketika tongkatnya menyentuh kursi taman yang menghalanginya dengan Taekwoon.
"Ayo kita jalan-jalan"
.
.
.
.
.
.
Taekwoon mengamati Hakyeon yang duduk dalam diam. Mereka dalam perjalanan tengah menuju taman bermain. Taekwoon yang menyetir, namun matanya tidak focus kedepan. Dia terus mengamati Hakyeon yang tidak mengeluarkan perkataan apapun saat mereka pergi meninggalkan rumah.
'Apa dia mendengar ucapanku?'
"Sudah sampai" ucap Taekwoon saat mobilnya telah terpakir sempurna. Dia keluar dan segera menuju pintu Hakyeon untuk membukakan, namun Hakyeon membukanya sendiri dan hendak keluar.
"Biarku bantu" ucapnya seraya membimbing Hakyeon keluar dari dalam mobil.
Hakyeon hanya terdiam dan menghentakan tongkatnya .
"Kau ingin naik apa?" ucap Taekwoon.
"Jisoo-ya"
"Hm"
Hakyeon menghadap kepada Taekwoon dan tersenyum manis kearahnya. "Aku ingin ice cream kesukaanku"
Taekwoon mengangkat kedua alisnya terlihat bingung. Dia bahkan tidak tau tanggal lahir Hakyeon, apalagi ice cream favorit Hakyeon.
"Kau lupa ya?" Hakyeon tersenyum gentir, dan menghadap kedepan lagi. "Belikan aku rasa pisang"
"Hm, iya" Taekwoon mengangguk dan menggandeng tangan Hakyeon. Mereka berjalan menuju kedai ice cream yang letanya berada di depan Rumah hantu itu.
"Kau tunggu disini, jangan kemana-mana" Taekwoon meletakan tangan Hakyeon pada besi pembatas antar mainan dengan jalan tersebut. Dia meninggalkan Hakyeon untuk membeli ice cream. Hakyeon menurut untuk tetap diam menunggu kembalinya Taekwoon.
"Permisi tuan" ucap seorang petugas. "Tidak boleh bersandaran dipagar ini. Bisa anda pindah kesana" ucap petugas itu. Hakyeon hanya menuduk meminta maaf, dan berjalan berpindah tempat.
Tak Tak Tak
Tap Tap Tap Tap
Tak Tak Tak
Tap Tap Tap
Bruuuuuk
"Aakh!" Hakyeon jatuh ketika seorang namja menabraknya. Namja tadi juga terjatuh namun segera berdiri.
"Apa kau buta?!" ucapnya kesal karena membuatnya mengulur waktu.
"Maaf" Hakyeon menunduk dan meraba-raba tanah untuk mencari tongkatnya.
Namja yang didepanya itu terkejut dan segera berjongkok. "Aah, maaf. Aku tidak tau" ucapnya seraya membantu Hakyeon berdiri.
"Tongkatku?"
"Hei pencuri !" beberapa orang berlarian mendekat sambil menunjuk seorang pemuda yang tengah bersama Hakyeon itu.
"Aiiss!" Namja itu menoleh kebelakang dan hendak lari namun dia berhenti saat melihat Hakyeon yang berjongkok untuk mencari tongkatnya yang hilang.
"Aiissh!" Namja itu berbalik dan menggeret Hakyeon untuk berdiri. "Ayo" dia menarik Hakyeon dan membawanya berlari saat melihat sekumpulan orang yang tengah mengejarnya semakin mendekat.
"Ya! Mau kemana?! Tongkatku masih disana!" ucap Hakyeon yang memberontak saat namja tersebut terus membuatnya lari. Dia bahkan tidak bisa melihat, lari malah mebuatnya menjadi pusing.
"Diamlah. Aku bisa mati jika tertangkap"
Namja yang mengenakan kemeja hitam dan jaket biru itu membawa Hakyeon untuk bersembunyi di sebuah tenda peralatan sirkur. Dia menggeret Hakyeon untuk ikut masuk kedalam tirai yang terdapat di tenda itu.
"Ya! Lepaskan…Hmmmmp"
"Sssst Diamlah, kau berisik sekali" namja itu membekap mulut Hakyeon dengan tanganya dan menarik Hakyeon kepelukanya agar mereka tak terlihat ditirai yang ukurannya begitu sempit.
Hanyeon hanya diam dan pasrah saat dirinya bahkan tidak tau dimana sekarang dia berada.
Namja itu mengintip keluar dan melihat para segerombolan orang yang mengejarnya telah pergi jauh. Dia menghela nafas lega dan melepaskan bekapan tangannya dari mulut Hakyeon. Dalam keadaan yang masih berpelukan namja itu dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah Hakyeon. Mata itu menatap keatas, bukan untuk dirinya namun kearah yang lain. Walaupun begitu, namun dia bisa mengamati mata coklat yang begitu terpancar indah. Dengan kulitan nan hitam manis, bibir yang semerah cherry itu membuatnya sanggup terdiam dan membuka mulutnya. Bukankah namja itu tengah terpesona.
"Mereka telah pergi, pencuri!" sindir Hakyeon pada namja yang tengah menatapnya lapar. "Sampai kapan kau akan memelukku?"
"Ah, maaf" dia langsung melepas Hakyeon dari tubuhnya dan mereka keluar dari tenda itu.
"Aku akan mengantarmu kembali"
PLAAAK
"Aauuh" Namja itu memekik sakit saat seseorang memukul kepalanya dengan tidak berperi kemanusiaan. "Sakit dasar…. Eom eomma" ucapanya kalut saat dia berbalik dan melihat sang Ibu tengah menunjukan kepalan tangan padanya.
"Kau mencuri lagi?"
"Ti..tidak eomma. Tidak" namja itu berlari kecil dan bersembunyi dibalik punggung Hakyeon. "Maaf eomma, maaf" ucap namja itu ketakutan.
"Ya! Jisoo! Kemari kau, anak brengsek!" Ibu itu berusaha menggapai anak yang dipanggilnya Jisoo. Namun, Jisoo mencoba melindungi dirinya dengan bertameng badan Hakyeon.
"Tunggu!" ucap Hakyeon menghentikan Ibu itu. "Siapa Jisoo?" tanyanya pada sang Ibu yang menatapnya terkejut ketika mengetahui bahwa Hakyeon tidak bisa melihat. "Jisoo, ada dimana?" ucapnya antusias dan membuat kedua orang itu bingung melihat sikap Hakyeon yang begitu gembira mendengar nama Jisoo.
"Aku Jisoo"
Hakyeon langsung berbalik dan menggapai seseorang yang berada dibelakangnya. Jisoo yang melihat Hakyeon kesulitan untuk menyentuhnya segera mendekat pada Hakyeon.
"Kau Jisoo" Hakyeon menangkup wajah Jisoo yang lebih tinggi beberapa centi darinya. Bukanya terkejut dengan sikap Hakyeon, Jisoo malah tersenyum senang dan menyentuh tangan Hakyeon yang menangkup wajahnya.
"Iya aku Jisoo. Kim Jisoo"
Hakyeon langsung terdiam dan melepaskan tanganya. "Kim ya?"
"Hakyeon-ah" Taekwoon berlari dan mendekati Hakyeon yang langsung menghadap kearahnya. "Kau kemana saja?, aku mencarimu" ucap Taekwoon seraya memperhatikan dua orang yang berada didekat Hakyeon. "Ayo pulang" digenggamnya tangan Hakyeon dan mereka pergi begitu saja meninggalkan kedua orang yang terdiam disana.
"Hakyeon?" Jisoo masih mengamati kepergian Hakyeon hingga benar-benar jauh dari pandanganya.
"Eomma, apakah dia menyukaiku?" ucapnya seraya tersenyum konyol.
Plaaaak
"Anak tengil! Kau tidak lihat, dia bahkan sudah punya kekasih"
"Ck, berhenti memukul kepalaku!" Jisoo mengusap kepalanya dan berlalu meninggalkan Ibunya yang menatap Jisoo tak percaya.
"Aigoo~, bagaimana bisa aku bertemu anak sepertinya?!"
.
.
.
.
.
.
Taekwoon dan Hakyeon berjalan bergandengan melewati beberapa permainan yang ada di sana. Taekwoon mengamati Hakyeon yang tak membawa tongkatnya.
"Kau menghilangkanya?"
Hakyeon menolehkan kepalanya dan terkekeh pelan.
Taekwoon menghela nafasnya dan merangkul pundak Hakyeon yang bertubuh lebih pendek darinya. "Pulang atau main?" tanyanya to the point.
"Aku tidak tau mau naik apa? Aku kan tidak bisa melihat, percuma saja"
"Ya sudah" Taekwoon menarik Hakyeon agar berjalan lebih cepat menuju kesebuah wahana sangkar burung. "Kita naik ini saja"
"Naik apa?"
"Tempat yang tinggi, aku akan menggambarkan bagaimana keindahan itu"
Mereka pun naik disalah satu tempat, dan duduk berhadapan. Wahana itu berputar perlahan, dan tempat mereka tengah berada diatas.
"Dibelakangmu adalah kota Seoul, disamping kirimu seluruh wahana bermain, disamping kananmu sebuah danau yang sangat besar,"
"Jisoo-ya, berhentilah. Aku tetap tidak bisa melihatnya"
"Kau bisa menggambarnya sendiri"
"Aku tidak bisa"
"Lalu bagaimana kau tahu aku itu sangat tampan?" Taekwoon berjongkok dihadapan Hakyeon.
"Aku hanya menebaknya" jawab Hakyeon cuek.
Taekwoon tersenyum dan menggenggam kedua tangan Hakyeon. "Sentuhlah, dan lihat bagaimana wajahku yang sebenarnya" Taekwoon meletakan kedua tangan Hakyeon diwajahnya.
Hakyeon berusaha menarik tanganya, namun Taekwoon menahanya dan malah membimbing tangan Hakyeon untuk menyentuh bagian wajahnya.
"Seperti ini rambutku" tangan Taekwoon membawa tangan Hakyeon perlahan-lahan melukiskan bagaimana bentuk rambut Taekwoon. "Ini dahiku" Tangan keduanya turun perlahan. "Kedua mataku"
Hakyeon tersenyum saat menyentuh kedua mata Taekwoon. Taekwoon yang melihat itupun ikut tersenyum.
"Kau sangat manis Hakyeon" ucap Taekwoon seraya menurunkan tangan Hakyeon menuju hidungnya. Taekwoon kembali tersenyum saat melihat semburat merah muncul dikedua sisi wajah Hakyeon.
"Dan ini.."
Tep
"Bibirku" Taekwoon melepaskan tanganya saat tangan Hakyeon menyentuh kedua belah bibirnya. Mata Hakyeon berkejap beberapa kali saat ibu jarinya mengusap lembut bibir Taekwoon. Hakyeon langsung menarik tanganya, dan menoleh kesamping kanan.
Taekwoon yang melihat itu hanya tersenyum geli. "Sentuhlah kalau kau suka" Ucap Taekwoon kembali bersama tanganya yang menarik tangan Hakyeon untuk menyentuh bibirnya.
"Ji..Jisoo-ya" Hakyeon menelah air ludahnya, tanganya sedikit bergetar saat menyentuh bibir Taekwoon.
"Hakyeon-ah" Taekwoon menangkup wajah Hakyeon dan mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Hakyeon.
Whuuush
Hakyeon mengerjapkan matanya kembali saat deruh nafas Taekwoon menyentuh bibirnya. Dadanya naik turun tidak beraturan. Dia merasa bahwa seluruh tubuhnya tengah mendidih dan memerah. Hakyeon bahkan tak mengerti kenapa perasaanya menjadi kacau seperti ini.
"Kau pernah berciuman?"
"Ap..apa?"
"Jawab saja"
Hakyeon meneguk air ludahnya kembali. "Du..dulu. Aku pernah menciumu..saat..masih bayi" jawab Hakyeon gelagapan.
"Hanya itu?"
Hakyeon mengangguk yakin.
"Aku bahkan belum pernah" ucap Taekwoon tersenyum menatap kedua bola mata Hakyeon, dan beralih pada sebuah bibir yang tengah digigit oleh sang pemiliknya itu.
"Dan aku ingin melakukanya." Taekwoon mengusap lembut pipi Hakyeon. "Padamu"
Taekwoon mendekatkan wajahnya pada Hakyeon, dan menarik wajah Hakyeon untuk mendekat.
"Tu..tunggu.." Hakyeon menutup mulutnya dengan kedua tanganya.
"Kau telah menciumku, aku juga harus menciumu"
"Tap..tapi itu.."
Cuup
Taekwoon mencium tangan Hakyeon yang menutupi bibirnya. "Kita bersaudara atau tidak, aku tetap menyukaimu" bisik Taekwoon tepat ditangan Hakyeon yang membuat Hakyeon merinding seketika.
Taekwoon lantas menarik tangan Hakyeon untuk turun. Dipandanginya Hakyeon yang hanya terdiam dengan wajah yang memerah matang. "Kau benar-benar manis, Cha Hakyeon" Taekwoon menarik tengkuk Hakyeon perlahan, mendekatkan wajah mereka berdua untuk bertemu. Sempat Taekwoon berhenti untuk melihat wajah Hakyeon yang sangat dekat dengannya. Hakyeon tengah menutup kedua matanya, Taekwoon pun lantas tersenyum dan melakukan hal yang sama.
CUP
Bibir mereka bersentuhan, Taekwoon menempelkan bibirnya semakin dalam dengan bibir Hakyeon. Dikecupnya bibir itu hingga dirasa bibir Hakyeon tidak tegang lagi. Taekwoon menjilatnya untuk memberi sensasi nyaman pada Hakyeon. Kedua bibir Taekwoon terbuka dan tertutup untuk melahap seluruh bibir kenyal itu.
"Hmmp..emmm"
Kedua Tangan Hakyeon bergerak dan melingkar pada leher Taekwoon. Sementara tangan kiri Taekwoon memeluk pinggang Hakyeon untuk memperdalam ciuman mereka.
"Haah Hhmmmph" Taekwoon membuka mulutnya dan meraup bibir Hakyeon kembali. Digigit dan dihisap bibir Hakyeon hingga membuat bibir Hakyeon tertarik.
"Hmmpph aah hmmmpph" Guman keduanya meresapi bibir lawanya. Hakyeon bahkan terbawa nafsu dan ikut bermain untuk menghisap bibir Taekwoon. Digigitnya gemas bibir Taekwoon hingga bunyi kecupan itu menguasai mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sajangnim, anda darimana saja?" Tanya Hyuk yang langsung berlari ketika Hakyeon memasuki rumah.
"Dari taman bermain dengan Jisoo" ucap Hakyeon dengan senyum merekahnya.
Hyuk melirik Taekwoon dan berpindah pada tangan Hakyeon dan Taekwoon yang tengah bergandengan.
"Ayo Hakyeon-ah" ucap Taekwoon dan membantu Hakyeon berjalan menuju kamarnya.
Hyuk menghela nafas lelah, dan menoleh kebelakang. Kedua tangan Sekretaris itu tengah mengepal menahan marah.
"Hei kau, Jung Taekwoon!"
Dengan reflex Taekwoon berhenti, dan terdiam. Hyuk yang melihat itu tersenyum sinis.
Hakyeon lantas berbalik,"Siapa Jung Taekwoon?" ucapnya dengan dahi yang berkerut.
Taekwoon yang masih terdiam hanya menutup kedua matanya saat mendengar langkah kaki orang yang mendekati mereka.
"Jung Taekwoon, berbaliklah" sindir Hyuk yang melihat Taekwoon hanya berdiri diam.
Hakyeon mengerutkan dahinya tak mengerti. "Sekretaris Han, siapa yang kau ajak bicara? Aku tidak bisa melihat apapun?"
Taekwoon lantas berbalik secara perlahan dan menatap dingin Hyuk. Mereka saling menatap tajam satu sama lain. Hingga salah satu dari mereka tersenyum sinis.
"…"
TBC
.
.
.
.
.
.
Sebelum membahas yang lainnya, untuk FF ini banyak yang bilang kalau mirip dengan drama yaa?
Sebenarnya aku nggak tau drama apa, tapi waktu aku cari di Mbah Google, yang muncul dramanya Song Hye Kyo. Aku pernah tau, kalau nggak salah itu pernah tayang di channel TV Indonesia kan? Tapi aku nggak nonton, karena nggak suka sama pemeran cowoknya. Wahahah. Oke ini jahat banget TT
Ok Next, jadi sih ini bukan inspirasi karena nonton dramanya aja aku belum pernah. Hehe. Tapi kalau aku ambil dari sebuah drama biasanya aku sebutin kok. Kaya di FF sebuah rahasia, itu terinspirasi dari Hyde Jekly and Me. Karena aku sebel sama endingnya, dimana kepribadian favoritku si Robin malah dimusnahin. Nyesek banget kan. Apa lagi Tomorrow Boy, uda durasinya secuil episodenya juga secuil. Hadeeh.
Tuh kan malah curhat TT
Zelos ^^
Oke lanjut balas review aja ya kkkkk.
[Hakyeonchoco] btw suka banget sama namanya nih hehe. Ini eps 2 nya uda Up. Makasih uda menunggu ^^
[Hakyeon Jung] haha banyak juga yang nggak suka sama Wonshik di sini padalah dia enggak jahat Cuma nakal sih tepatnya. Iya kah ? apa ceritanya mirip banget sama dramanya Song Hye Kyo, eon? TT eeh eonni bener kan? XD
[Glowly06] Iya disini Hyuk tinggal dirumah Hakyeon ^^ makasih uda mampir dan review
[Key Love VIXX] aah perasaan Eonni aja heheh.. iya, seperti harapan Eonni, di chapter ini Jisoo nya muncul, dan uda tergambar bagaimana kehidupan dia. Hehe Terimakasih Eonni pujiannya ^^
[Khasabat04] kebetulan banget kalau bisa sama. Mungkin sehati dengan penulis naskahnya XD makasih uda mampir dan review ya ^^
[GaemGyu92] hehe namanya juga butuh uang mereka kan ^^ Kalau mereka jatuh cinta /lirik diatas/ tuh sepertinya udah. Jisoo, juga sudah di jawab di FF ini ya. Makasih uda mampir dan review ^^
[Zoldyk] huwaaa Thank you. Heheh ^^ Thank's for you review /apalah ikutan pake B. Inggris/ Makasih uda mampir dan review yaa ^^
Untuk yang lainnya makasih uda mampir dan review ^^ /copypaste/ kkkkk
Jangan lupa untuk review yaa.. Ingat, re vi ew ^^
See you next chapter ^^
N-nyeooong~~
