Brother

LeoN / Neo

Hakyeon, Taekwoon, Hyuk

Kim Jisoo

VIXX

Yaoi & Typo

Romance & Hurt

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hei kau, Jung Taekwoon!"

Dengan reflex Taekwoon berhenti, dan terdiam. Hyuk yang melihat itu tersenyum sinis.

Hakyeon lantas berbalik,"Siapa Jung Taekwoon?" ucapnya dengan dahi yang berkerut.

Taekwoon yang masih terdiam hanya menutup kedua matanya saat mendengar langkah kaki orang yang mendekati mereka.

"Jung Taekwoon, berbaliklah" sindir Hyuk yang melihat Taekwoon hanya berdiri diam.

Hakyeon mengerutkan dahinya tak mengerti. "Sekretaris Han, siapa yang kau ajak bicara? Aku tidak bisa melihat apapun?"

Taekwoon lantas berbalik secara perlahan dan menatap dingin Hyuk. Mereka saling menatap tajam satu sama lain. Hingga salah satu dari mereka tersenyum sinis.

Chapter 3

"Sekretaris Han, kau mabuk?" goda Taekwoon dengan sengaja seraya memamerkan senyum kemenangan andalannya.

"Sekretaris Han kau mabuk?! Astaga, aku sudah bilang berhenti minum-minum! Aishh !" ucap Hakyeon sambil menutupi hidungnya.

Hyuk membuka mulutnya tak percaya. "Ti..tidak Sajangnim. Bicara apa kau ini huh?!" ucapnya mendelik marah pada Taekwoon yang masih menyengirkan bibirnya.

"Awas Hakyeon-ah" Taekwoon menarik Hakyeon mundur kebelakang. "Dia ingin memukulmu" ucapnya berbohong.

"Apa?!" Hyuk memekik tidak terima.

"Ahjumma ! Ahjumma !" teriak Hakyeon histeris. Dan tidak lama kemudian seorang bibi pelayan datang.

"Iya Tuan?"

"Bawa Sekretaris Han ke kamarnya! Ck, berikan juga dia susu!" ucap Hakyeon sambil menunjuk-nunjuk kedepan.

"Sajangnim, saya tidak mabuk. Dia berbohong!"

"Aigoo~, mana ada orang mabuk yang jujur. Cepat istirahatlah. Kita besok ada rapat." Hakyeon berbalik diikuti dengan Taekwoon yang kembali menuntunya menaiki tangga.

"Hei Jung Taekwoon! Kembali kemari !"

Taekwoon hanya mampu menahan tawanya dan menatap Hakyeon yang mengerucutkan bibirnya sebal.

'Hampir saja'.

.

.

"Jisoo-ya" Hakyeon dan Taekwoon telah berada di kamar Hakyeon, dengan Taekwoon yang sekarang tengah melepaskan baju kerja yang Hakyeon kenakan.

"Hm?"

"Tadi aku bertemu dengan seseorang"

Taekwoon hanya diam mendengarkan ucapan Hakyeon, dirinya masih sibuk melepas baju atas Hakyeon dan menggantinya dengan baju tidur.

"Namanya Jisoo"

Ketika hendak memasangkan kancing, tangan Taekwoon berhenti bergerak. Dia menatap Hakyeon yang terdiam menatap kedepan.

"Nama Jisoo banyak di Korea" ucap Taekwoon santai dan kembali memasangkan kancing Hakyeon.

"Hmm, iya. Kau benar"

"Istirahatlah" Taekwoon membantu Hakyeon tertidur di kasurnya dan memakaikanya selimut. "Selamat malam" ucapnya lantas pergi dari sana dan mematikan lampu sebelum menutup pintu kamar Hakyeon.

"Ck. Untuk apa dia mematikan lampunya. Yang kulihat saja hanya kegelapan" guman Hakyeon sambil terkikik geli dan mulai tertidur lelap.

.

.

.

.

.

.

Tok Tok Tok

Hyuk membuka pintu kamar Hakyeon dan masuk kedalamnya, namun dia berhenti ketika melihat Taekwoon berada disana sedang membantu Hakyeon mengenakan sepatunya. Hyuk menatap ketidaksukaan itu dengan menutup keras pintu kamar Hakyeon. Mungkin itu hal yang wajar, karena selama inilah Hyuk yang melayani Hakyeon, mulai dari dirinya yang membantu Hakyeon merapikan pakaian, mengenakan sepatu, naik dan turun tangga. Hingga menemaninya kemana saja. Namun hal itu telah tergantikan oleh Taekwoon. Hyuk merasa dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi.

"Apa dia masih mabuk?" Tanya Hakyeon pelan pada Taekwoon yang hanya tersenyum tipis.

Drrrt Drrrt Drrrt

Taekwoon melirik sekilas panggilan telepon ditanganya itu, dia segera mematikan ketika mengetahui bahwa nama Wonshik tertera disana. Namja berparas tampan dengan rambut yang terbelah dua itu, terdiam sejenak. Dia tampak memikirkan sesuatu.

"Ayo Jisoo" Hakyeon memberikan tanganya meminta untuk digandeng Taekwoon. Taekwoon tidak mendengar ucapan Hakyeon dan masih setia dengan sesuatu yang berputar-putar dikepalanya.

"Jisoo-ya?" panggil Hakyeon kembali.

"…"

Melihat tak ada respon dan membiarkan tangan Hakyeon menggantung diudara, membuat Hakyeon menghela nafas sebal.

Tuuk

"Akh!" Taekwoon menyentuh kepalanya yang terkena pukulan tongkat Hakyeon, dia menoleh pada Hakyeon yang tengah mengerucutkan bibirnya.

"Kenapa memukulku?"

"Ck, lupakan!" Hakyeon melengos dan berjalan meninggalkan Taekwoon yang hanya menghela nafas. Taekwoon menyusul Hakyeon dan meraih pundah Hakyeon untuk membantunya berjalan. Mereka berdua berjalan perlahan-lahan menuruni tangga. Diluar rumah, telah siap sebuah mobil untuk Hakyeon.

"Mari Sajangnim" ucap Hyuk membukakan pintu pada bagian belakang. Hakyeon hanya tersenyum dan langsung masuk dengan dibantu Hyuk. Hyuk segera berlari menuju tempat pengemudi. Diliriknya kesepion mobil, dia melihat Taekwoon yang hendak masuk kedalam mobil, dengan segera Hyuk menyalakan mesin dan melaju meninggalkan Taekwoon di sana.

"Sekretaris Han, Jisoo masih…"

"Ada yang perlu saya sampaikan, Sajangnim"

.

.

.

.

.

.

.

Sebuah Taxi berhenti di perusahaan besar dengan label Starlight Cha Company. Didalam Taxi itu, Taekwoon keluar dan mengambil dompetnya untuk membayarkan uang kepada supir taxi. Dia menatap keatas perusahaan, dan mulai melangkahkan kakinya, namun seorang namja berlari mendekatinya dengan nafas yang memburu dan raut muka yang terlihat cemas.

"Wonshik-ah, ada apa?"

"Hyung, mereka terus datang. Bagaimana ini?"

"Siapa?"

"Ya! Jung Taekwoon!" Segerombolan orang ikut bergabung mendekati Taekwoon. orang-orang itu berjalan dengan sombongnya. Salah satu pemimpin mereka yang berjalan paling depan memukul-mukulkan tongkat bisbol pada telapak tanganya.

"Ini sudah hari ketiga dari perjanjian itu. Kita kemari ingin menghabisimu Jung" ucap pemimpin gerombolan itu yang bertubuh setara dengan Taekwoon dengan rambut blondenya yang mencuat kedepan, dia menepuk-nepuk pipi Taekwoon.

"Sabar Jaehwan Hyungnim, kita akan membayarnya" Wonshik berusaha menenangkan namja itu.

"Aku akan segera membayarnya" ucap Taekwoon santai.

"Akan?! Akan itu kapan Huh?!" namja yang diketahui namanya Jaehwan itu tengah menarik kerah Taekwoon hingga sedikit terangkat.

"Tunggu, tunggu. Bagaimana jika kita berkerjasama?" ucap Wonshik yang langsung menahan tangan Jaehwan yang hendak memukul Taekwoon. "Kakak Taekwoon hyung adalah pemilik dari perusahaan ini, Direktur Cha kau kenal dia kan? Orang buta itu, yang selalu membawa tongkat? Dia sangat terkenal di daerah ini"

Jaehwan melepas tanganya dari kerah Taekwoon dan mulai mendengarkan ucapan Wonshik. " Jadi apa rencananya?"

"Kemari Hyung" Wonshik menarik Jaehwan sedikit menjauh darisana. Dia merangkul pundak Jaehwan dan membisikan sesuatu.

Taekwoon yang melihat gelagat Wonshik tau benar apa yang Wonshik rencanakan, pasti hal itu berhubungan dengan uang. Taekwoon sudah sangat hafal bagaimana sifat sahabat kecilnya ini. Dia memang pintar namun dia sangat rakus. Taekwoon berjalan pelan meninggalkan Wonshik yang tengah nyengir kepada Jaehwan, mereka bahkan sempat ber Highfive ria satu sama lain. Taekwoon tak peduli apa yang mereka bicarakan, dia hanya ingin segera bertemu dengan Hakyeon.

Taekwoon berhenti ketika melihat sebuah mobil yang tidak asing berhenti tepat di depannya. Diintipnya kaca dalam mobil itu dan terlihat Hakyeon yang membuka pintu mobilnya. Dengan sigap Taekwoon membantu Hakyeon untuk keluar.

"Darimana saja, kenapa baru sampai?" Tanya Taekwoon dan menggandeng Hakyeon untuk berjalan.

"Ada urusan dengan Sekretaris Han" Taekwoon hanya mengangguk mendengar jawaban Hakyeon.

"Hei, Cha Jisoo!"

Hakyeon dan Taekwoon berhenti ketika Wonshik dan Jaehwan mendekati mereka.

"Jisoo-ya, Jaehwan Hyungnim datang lagi, dia akan mengusirku dari rumah itu jika kau tidak membayar hutangmu" ucap Wonshik dengan suara memelasnya.

"Hei Jisoo, aku dengar kau sudah kaya. Cepat bayar hutangmu!" Jaehwan menarik kerah Taekwoon.

Hakyeon hanya mengerutkan dahinya mendengar percakapan mereka.

"Apa maksudmu?" Tanya Taekwoon yang tak mengerti dengan keadaan yang bahkan darimana Jaehwan tau jika dia menyamar sebagai Jisoo. Taekwoon lantas menatap Wonshik yang hanya memberikan kedipan mata untuknya.

"Eoh, jadi ini kakakmu yang buta itu. Bayarkan hutang adikmu, cepatlah~!" Jaehwan mendorong-dorong tubuh Hakyeon. Hakyeon menampik tangan Jaehwan dan membersihkan bahunya yang sempat tersentuh tangan Jaehwan.

"Apa kau tidak tau etika? Dasar preman"

"Apa?! Bicara apa kau tadi?!" Jaehwan tersulut emosi dan mendorong kuat tubuh Hakyeon. Dengan sekali dorong Hakyeon langsung terjatuh. Taekwoon yang melihat itu segera menarik kerah Jaehwan dan menatapnya murka.

"Hyung kau terlalu berlebihan" Wonshik terlihat cemas karena keadaan tidak sesuai dengan rencana mereka.

"Sajangnim" dari sisi belakang, Hyuk berlari dan membatu Hakyeon berdiri. Dirinya yang yang tadi tengah berada di tempat parkir untuk mengamankan mobil. Tersentak kaget begitu kembali melihat Hakyeon yang sudah jatuh terduduk

"Apa-apaan kau?!" ucap Hyuk seraya membangunkan Hakyeon.

"Jisoo-ya" Hakyeon menggapai tangannya untuk menemukan Jisoo. Taekwoon langsung melepas kerah Jaehwan dan menggengam tangan Hakyeon.

"Aku disini" ucap Taekwoon sambil membersihkan baju Hakyeon yang kotor karena terjatuh.

"Kau" Hakyeon menatap kedepan tepat kepada Jaehwan. "Berapa hutangnya padamu?"

Jaehwan langsung tersenyum dan menoleh pada Wonshik yang memberikan kode 10 jarinya pada Jaehwan.

"10..tidak. 20 juta won" ucap Jaehwan tegas.

"Sekretaris Han, berikan cek 20 juta pada mereka"

"Anda serius Sajangnim, itu tidak sedikit"

"Berikan saja" Hakyeon menarik tangan Taekwoon untuk pergi dari sana. "Ayo Jisoo-ya"

Dengan berat hati dan wajah yang ditekuk itu, Hyuk memberikan cek perusahaan kepada Jaehwan dan segera menyusul Hakyeon dan Taekwoon yang sudah terlebih dahulu pergi.

Jaehwan dan Wonshik menatap cek didepan mereka dengan senyum yang mengembang.

"Astaga~" mereka saling berpandangan.

"Astaga~ ini uang, astaga banyak sekali" ucap Jaehwan tak percaya. "Hwaaaaaa aku kaya!" Jaehwan memeluk Wonshik yang juga memeluknya. Mereka saling berpelukan sambil berputar-putar karena terlalu bahagia mendapat uang yang bahkan lebih banyak dari yang mereka harapkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hakyeon tampak focus membaca dokumen kerjanya. Dia bahkan membutuhkan waktu yang tidak sebentar hanya dengan membaca 1 laporan saja, sementara dokumen yang harus dia baca melebihi 1 tumpukan dan tumpukan tersebut lebih dari 5 buah dokumen. Namun hal itu sekarang menjadi mudah dengan adanya Taekwoon. Taekwoon membantu membacakan dan menjelaskan beberapa dokumen kepada Hakyeon agar pekerjaan Hakyeon lebih ringan. Jika bisa dibilang, pekerjaan Taekwoon disini sebagai assistant Hakyeon, bukankah begitu?

Tok Tok Tok

Hyuk masuk kedalam ruangan Hakyeon, disana Hakyeon langsung tersenyum dan menatap Taekwoon yang duduk disampingnya.

"Jisoo-ya, aku ada rapat diluar, kau bisa pulang sendirikan?"

"Hm, aku mengerti" Taekwoon membantu Hakyeon berdiri dan memakaikan jasnya.

"Mari Sajangnim" ucap Hyuk dan keluar terlebih dahulu mendahuli Hakyeon.

"Hakyeon-ah" Taekwoon mengamati Hakyeon, dan dengan kedua tanganya itu, dia menangkup wajah Hakyeon. Taekwoon bahkan sedikit membungkuk untuk menyamakan posisinya dengan pisisi Hakyeon.

"Ada.. sesuatu yang ingin aku katakan" Taekwoon mengusap lembut rambut Hakyeon.

Hakyeon meraih pelan wajah Taekwoon, melakukan hal yang sama dengan apa yang Taekwoon lakukan. "Kau hanya cukup diam dan melakukan peranmu. Bukankah seperti itu. Jisoo-ya" Hakyeon tersenyum lembut kepada Taekwoon. Taekwoon yang melihat sikap Hakyeon seperti itu entah kenapa perasaanya menjadi tidak enak. Jantungnya berdetak tak karuan, dibalik senyum itu, Taekwoon seperti melihat kebohongan dari ucapan Hakyeon. Ada sesuatu yang Hakyeon sembunyikan darinya. Taekwoon tau akan itu semua.

"Aku akan pergi sebentar, tunggu aku di rumah" Hakyeon melepaskan tangannya dari wajah Taekwoon dan hendak berjalan. Namun Taekwoon menarik tangan Hakyeon, menghentikan langkahnya.

"Hakyeon-ah, apa kau akan marah padaku?"

Hakyeon berjalan mendekat dan menatap keatas. "Aku menyukaimu. Jangan pernah pergi" senyum itu kembali terlihat diwajah manis Hakyeon.

Taekwoon terkejut dengan penuturan Hakyeon kepadanya. "Cha Hakyeon" ucapnya gentir.

Hakyeon hanya tersenyum dan berjalan pergi.

Tak tak tak

Suara tongkat Hakyeon berirama sesuai jantung Taekwoon yang berdetak tak beraturan. Suatu perasaan yang tumbuh setiap melihat namja itu tersenyum. Entah bagaimana dia bisa membohongi namja yang begitu baik dan polos seperti Hakyeon. Dia bahkan tidak tau sampai kapan dia akan berbohong seperti ini, dia bahkan tidak tau bagaimana semua ini akan berakhir.

.

.

.

.

.

.

.

Hyuk yang berada di tempat pengemudi dengan Hakyeon yang berada di bangku belakang dengan mobilnya tengah menuju ke suatu tempat untuk menghadiri rapat. namun sepertinya perjalanan mereka tidak semudah yang mereka harapkan, jalanan tampak macet entah karena apa. Hyuk bahkan hanya dapat melihat puluhan mobil berhenti berjalan.

"Ada apa Sekretaris Han?"

"Saya tidak tau Sajangnim, didepan begitu ramai"

"Apa ada….kecelakaan?" Tanya Hakyeon sedikit cemas.

"Bagaimana jika kita cari jalan pintas, sepertinya lewat sana bisa" ucap Hyuk seraya menunjuk sebuah jalan berbatu.

"Terserah Sekretaris Han saja"

Hyuk lantas melajukan mobilnya dan berbelok kesebuah jalan yang berbatu, sepertinya jalan tersebut menuju kesebuah desa. Karena dapat dilihat, ujung jalan ini menuju kesebuah jalan yang disampingnya terdapat sawah besar. Hyuk hanya terus melajukan mobilnya mengikuti jalan yang searah itu. Raut wajahnya terlihat bingung, dia hanya menoleh kekanan dan kekiri tanpa punya tujuan yang pasti. Bagaimana tidak, ini bahkan pertama kalinya dia melewati tempat ini. Kemungkinan besar untuk tersesat sangat jelas.

.

.

.

.

.

.

.

Taekwoon keluar dari ruangan Hakyeon setelah merapikan seluruh dokumen yang tadi dikerjakannya dan Hakyeon. Dia tampak mengecek ke ponselnya, dan mengetik sebuah pesan.

To: Hakyeonie

Text : Sudah sampai?

Taekwoon menekan tombol send dan memasukan ponselnya kembali kedalam saku. Dia sempat tersenyum tipis mengetahui dirinya yang konyol karena mengirim pesan yang tidak berguna seperti tadi. Dia bahkan tau jika Hakyeon pasti tidak akan melihat pesanya.

"Hyung!"

Taekwoon menoleh dan mengetahui Wonshik berlari kearahnya.

"Ini bagianmu" ucapnya seraya memberikan sejumlah uang kepada Taekwoon. Taekwoon menatap tidak suka kepada Wonshik yang tengah tersenyum bahagia itu.

"Ambilah. Kalau begini caranya kita bisa cepat kaya Hyung" Wonshik meletakan uang itu ditangan Taekwoon.

"Hentikan" Taekwoon menatap iba uang yang berada digenggaman tanganya. "Kita hentikan saja"

"Ya! Kita sudah sejauh ini, dia bahkan sudah percaya padamu"

Taekwoon meletakan uang itu kembali ketangan Wonshik. "Dia sudah tau" Taekwoon menatap ruangan Hakyeon yang tertutup. "Aku tidak ingin menyakitinya lebih dalam".

Tep

Taekwoon meletakan kedua tanganya diatas bahu Wonshik. "Jika kita harus mencuri maka mencurilah, tapi aku tidak ingin menipunya lagi. Aku harap kau mengerti" Taekwoon berbalik dan melangkah meninggalkan Wonshik.

"Kau menyukainya!" teriak Wonshik yang membuat seluruh pegawai disana menghentikan pekerjaanya. Dan menatap heran padanya yang tiba-tiba saja berteriak. "Kau menyukai orang buta seperti dia?!"

Taekwoon berhenti dan terdiam.

"Apa kau lupa rencana awal kita Hyung?!"

"Aku tidak ingin lagi, Wonshik-ah." Taekwoon berbalik dan menatap sendu Wonshik. "Kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan, kita akhiri sampai disini" Dengan itu Taekwoon benar-benar meninggalkan Wonshik yang tengah mengepalkan tanganya menahan marah. Wonshik menatap punggung Taekwoon yang semakin menjauh.

"Kita belum mendapatkanya, Hyung. Kita belum mendapatkan Semuanya"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari telah menunjukan petangnya. Namun sebuah mobil masih saja berputar-putar di sebuah desa tanpa tujuan. Seperti yang telah kita lihat tadi mobil itu milik Hakyeon yang seharusnya menuju suatu tempat untuk menghadiri rapat, dan malah terjebak disebuah desa yang terbilang cukup luas itu.

"Apa belum sampai Sekretaris Han?"

"Sepertinya..tidak…akan..sampai, Sajangnim" ucap Hyuk perlahan-lahan.

"Eoh? Kenapa, apa sudah terlambat? Memangnya jam berapa sekarang?"

"…" Hyuk hanya melirik takut Hakyeon melalui spion tengah. Dia menelan ludahnya perlahan sebelum mengeluarkan kata-katanya. "Pukul 8 malam, Sa..jang..nim"

"APA?! KAU SUDAH GILA HYUK?! LALU KEMANA SAJA KAU MEMBAWAKU SELAMA BERJAM-JAM?!" marah Hakyeon kepada Hyuk, bahkan kalimat Sekretaris yang biasa dia ucapkan kepada Hyuk hilang begitu saja. Hyuk bahkan menutup kedua matanya mendengar teriakan marah Hakyeon. Walaupun sebaik dan semanis apapun Hakyeon, ketika marah dia juga menakutkan.

"Kamarikan kepalamu!" ucap Hakyeon seraya menarik lengan jasnya. Hyuk menghentikan mobilnya di sebuah kedai makanan yang sedang tutup, atau mungkin sudah tidak digunakan lagi.

"Jangan lagi Sajangnim, aku sungguh minta maaf. Aku tidak tau area jalan ini" Hyuk mengusap-usapkan telapak tanganya memohon ampun.

"Kau pilih tangan atau tongkat?" tawar Hakyeon memeperlihatkan tongkat barunya. Benar, tongkat baru sangat kuat, apalagi untuk memukul seseorang pasti akan sangat sakit.

"Ba..baik baik, saya mengerti" Hyuk keluar dari mobilnya dan masuk kebangku belakang duduk mendekati Hakyeon.

Hakyeon lantas menoleh. Tangan kirinya diletakan dikepala Hyuk sedangkan tangan kananya diangkat keatas melakukan pemanasan sebelum melepaskan serangan.

"Pelan-pelan saj…(PLAAAK) AAAAAAAKHHH!" Hyuk langsung menangkupkan kedua tanganya pada kepalanya yang terkena pukulan keras Hakyeon. Suaranya bahkan terdengar sangat keras. Bagaimana tidak, Hyuk bahkan sampai mengeluarkan air matanya.

"Kau tega sekali, ini sangat sakit!"

"Eooh~?! Kau membentakku, siapa yang membuatku tidak bisa menghadiri rapat? Siapa yang akan rugi jika mereka membatalkan kerjasama dengan Starlight? Aissh, benar-benar"

"Akukan sudah minta maaf!" Hyuk mendelik kearah Hakyeon yang tiba-tiba saja mengangkat tanganya lagi. "Oke-oke. Maafkan saya Sajangnim" ucap Hyuk seraya menurunkan tangan Hakyeon dengan sedikit paksaan.

Keduanya terdiam beberapa saat. Hakyeon terdiam karena lelah berjam-jam hanya duduk dan berakhir dengan memarahi Hyuk. Sedangkan Hyuk terdiam karena memikirkan sesuatu.

"Sajangnim, kau tidak akan melakukan apa-apa padanya?"

"Siapa?"

"Jung Taekwoon"

Hakyeon terdiam dan hanya menunjukan senyum manisnya.

"Biarkan saja, aku merasa nyaman berada didekatnya."

"Tapi, dia hanya memanfaatkan anda saja, dan bagaimana jika Jisoo benar-benar kembali?"

"Aku tidak tau. Walapun dia bukan Jisoo namun aku ingin tetap dia ada bersamaku, Sekretaris Han. Jika akhirnya ucapanya sendiri yang menyakitiku, aku akan membuangnya saat itu juga"

Hyuk hanya terdiam sambil memijat kepalanya. Dia menatap Hakyeon yang tengah tersenyum lembut. Dia tau mungkin sejak awal Hakyeon sudah sadar bahwa Taekwoon bukanlah adiknya. Namun, dia tidak menyangka jika Hakyeon akan jatuh cinta dengan namja yang bahkan telah menipu dirinya sendiri.

"Sekretaris Han, kita pulang saja"

"…."

"Kenapa diam? Ayo jalan."

"Bensinya…..habis, Sajangnim"

PLAAAAK

"AAAAKH!"

"Kau benar-benar menyebalkan Han Sang Hyuk! Cepat cari bensin! Kemanapun, Terserah!"

Hyuk mencibir Hakyeon yang terus-terusan memarahinya itu, semua ini jelas bukan kesalahanya, tapi kenapa dia yang dipukul, kenapa tidak menyalahkan yang membuat kemacetan tadi. Atau mobil ini saja yang tiba-tiba haus bensin.

"Saya mengerti Sa-jang-nim" Hyuk segera keluar dari dalam mobil dan mematikan mesin mobil, membawa kunci itu bersamanya. "Jangan pergi kemana-kemana, tetap disini. Aku tidak akan lama" ucapnya dan berlari pergi meninggalkan Hakyeon yang berada didalam mobil sendirian, ditengah gelapnya malam. Bahkan hanya ada sebuah lampu yang menerangi dijalan itu. Jika saja Hakyeon tidak buta, mungkin dia lebih suka ikut dengan Hyuk, walapun harus berjalan jauh.

Pip pip pip

Hakyeon meraba-raba tempat sebelahnya, dia mengambil sebuah alat yang berbentuk box kecil namun ada dua ujung yang memiliki bentuk berbeda. Hakyeon segera menempelkan ujung yang satu pada ponselnya yang tadi telah dia ambil dari saku jasnya, dan satu ujung lagi yang diletakan ditelinga kananya, karena memang hanya tersedia satu helai.

"Dari Jisoo, Pesan : Rapatnya belum selesai? Pukul 08.23 pm"

Box itu berbunyi secara otomatis sesuai dengan pesan yang diterima Hakyeon. Hakyeon tersenyum dan mendekatkan box kecil tadi pada bibirnya.

"Bensinya habis jadi Sekretaris Han sedang membelinya. Tunggu sebentar, aku akan segera pulang" ucap Hakyeon. Dan ponsel Hakyeon menulis pesan secara otomatis lalu mengirimnya.

Setelah mengirim pesan itu Hakyeon memasukan alat itu beserta ponselnya kedalam tas yang berada disampingnya. Dia hanya terdiam tanpa mau melakukan apa-apa.

Tok Tok

Empat orang tengah berdiri diluar pintu mobil dengan satu orang mengetuk kaca pintu. Hakyeon tersenyum dan dengan santainya membuka pintu itu.

"Kau lama sekali Sekretaris Han" ucapnya yang telah membuka pintu mobilnya.

Keempat orang itu berbisik-bisik sambil tersenyum sinis.

"Maaf saya lama tuan" ucap salah satunya mencoba menipu Hakyeon. Namun Hakyeon terlalu pintar untuk mengenali suara seseorang, dengan cepat dia menarik pintunya kembali. Tetapi salah satunya yang berdiri paling dekat dengan pintu segera menahan pintu agar tidak tertutup.

"Bantu tarik" ucap namja yang memakai jaket biru tua itu dengan tangan yang masih menahan pintu. Ketiga temannya lantas membantunya untuk menarik pintu. Tidak perlu dijelaskan bagaimana akhir dari tarik-menarik ini. Karena sudah jelas Hakyeon kalah telah, tubuhnya bahkan ikut tertarik keluar mobil walaupun tidak benar-benar keluar.

"Tahan dia aku akan mengambil barang-barangnya"

Kedua namja yang terlihat berperawakan remaja itu menarik tubuh Hakyeon keluar mobil, dan menahanya agar tidak melawan. Sementara sisanya tengah mengobrak-abrik mobil untuk mencari barang berharga.

"Ya! Jangan ambil tas disana, itu penting!" ucap Hakyeon yang malah membuat namja itu mengambil tasnya.

"Eoh? Memang apa isinya hingga begitu berharga?" namja berjaket biru itu menunduk untuk melihat wajah Hakyeon. "Eoh, kau yeoja?" Tanyanya seraya menarik dagu Hakyeon.

"Eoh eoh, apakah dia buta?" ucap seorang namja lagi yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan beberapa barang.

"Benarkah? Kau buta nona?"

"Kau tidak lihat, dia itu namja bodoh!"

"Muka seperti ini kau bilang namja! Kau buta?!"

Duaaaak!

"Aaaakhhh!"

Hakyeon mendorong tongkatnya keras hingga mengenai area vital namja dengan jaket biru didepannya.

"Sialan kau!"

Greeeep

Bruuuk

"Aaakh, apa yang kau lakukan?!" Hakyeon mencoba memberontak saat dirinya merasa ditarik dan dihempaskan ke kursi mobil. Dia bahkan merasakan namja itu naik keatas kursi dan menindih tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan Jae?" Tanya temannya yang membawa banyak barang itu.

"Aku ingin memberinya pelajaran. Tunggu sebentar" namja berjaket biru yang dipanggil Jae tadi menarik kedua tangan Hakyeon diatas kepala Hakyeon. Hakyeon menendangkan kakinya kesegala arah dan menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas dari namja brengsek itu. Namun Hakyeon tidak terlalu kuat untuk melakukan perlawanan, jika kedua temanya itu malah membantu menahan kaki Hakyeon.

"Lepaskan! Apa yang kau lakukan!" Hakyeon mulai panic saat namja itu membuka jas Hakyeon beserta kemejanya secara bersamaan.

"Diamlah"

"Aaaakkh!"

Sraaaak

Buuug Buuug

Namja yang tengah menindih Hakyeon itu menoleh kebelakang mendengar suara pukulan, belum sempat dia melihat sang pemukul. Jae, telah ditarik paksa keluar dan dipukul tepat dipelipisnya.

Seseorang yang tiba-tiba datang dan memukul para berandalan itu, lantas menarik Hakyeon untuk bangun.

"Hakyeon-ah, kau tidak apa-apa?"

"Kau..si..siapa?" ucap Hakyeon yang masih terlihat ketakutan.

"Aku Jisoo, Kim Jisoo. Kita bertemu di taman bermain. Kau ingat?"

Hakyeon menganggukan kepalanya semangat dan tersenyum lebar.

"Ya! Jisoo-ya! Sialan kau!" ucap seorang namja yang mengenakan kemeja merah kota-kotak yang bangun dari jatuhnya karena pukulan Jisoo. Mereka yang terjatuh juga ikut bangun dan menarik lengan baju bahkan ada juga yang meregangkan ototnya.

"Kau cari mati?!" ucap Jae yang mendekat.

Jisoo segera menarik Hakyeon kebelakang tubuhnya. "Dia temanku, mau apa kalian?"

"Apa peduliku jika dia temanmu, pecundang!"

"Jisoo-ya" Hakyeon mencengkram baju belakang Jisoo. Merasakan kecemasan Hakyeon itu Jisoo terasa sangat marah. Dia bahkan mengepalkan kedua tanganya dan mendelik marah keempat namja yang berada didepannya.

"Hakyeon-ah, berikan tongkatmu" Jisoo melirik kesebelah jalan dan melihat seorang polisi dengan sepedanya yang tengah berpatroli. Dia menerima tongkat dari Hakyeon dan maju mendekati keempat namja itu.

"Maju kalian!"

"Huh, hajar dia!" ucap Jae, dan ketiga temannya menyerang bersamaan.

Jisoo dengan semangatnya menutup matannya dan memukul-mukulkan tongkatnya kesegala arah. Dia tidak peduli kena atau tidak. Hanya satu tujuanya. Mencari perhatian sang polisi.

"Aaaaaaaaaa~~ Tolooooooong! Saya dirampoook! Ahjussi polisiiiii! Toloooong!" Jisoo berteriak keras sambil memukul-mukulkan tongkatnya secara brutal.

Keempat namja yang melihat polisi dengan sepeda itu mendekati mereka, segera lari sebelum mereka benar-benar habis ditangan polisi itu.

Jisoo tersenyum menang melihat dia berhasil mengusir sekawanan pelajar yang memang sering mengganggu kenyamanan didesanya.

Polisi dengan sepeda itu sampai ditempat Jisoo dan Hakyeon.

"Mereka lari kesana, Ahjussi. Cepat-cepat kejar" ucapnya seraya mendorong-dorong sepeda polisi itu agar segera mengejar sekawan pemuda tadi.

Jisoo menghela nafasnya lega dan menghampiri Hakyeon yang tengah tertunduk.

"Hakyeon-ah kau kenapa? Ada yang sakit?"

"Prrrrrrrrrffth, hahahaha" Hakyeon tertawa terbahak-bahak dan membuat Jisoo melongo seketika.

"Astaga, aku kira kau akan menggunakan tinjumu. Apa itu tadi? Hahahahaha. Astaga hahaha"

"Ck, diamlah. Seharusnya kau berterimakasih padaku karena telah menyelamatkanmu" Jisoo melipat kedua tanganya dan bersandaran pada mobil tepat disebelah Hakyeon.

"Hahaha maaf maaf, tapi itu sangat Prrrrfth hahahaha astagaa~!" Hakyeon mengusap air matanya yang keluar karena terlalu bersemangat tertawa.

"Ini memalukan" guman Jisoo yang menutupi wajanya dengan kedua tanganya. "Diamlah Hakyeon!"

"Hahaha maaf aku benar-benar tidak bisa berhenti hahaha kau konyol sekali"

Braaaaak

Jisoo menghimpit tubuh Hakyeon diantara dirinya dan mobil. Jisoo bahkan tidak membiarkan tubuh Hakyeon memiliki jarak dengan tubuhnya. Dada mereka sampai bersentuhan saking rapatnya. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Hakyeon.

"Kenapa? Tidak ingin tertawa lagi?" ucap Jisoo dengan senyum miringnya ketika melihat Hakyeon terdiam sambil mengedipkan kedua matanya lucu.

"Mi..minggir Jisoo-ya" Hakyeon berusaha mendorong tubuh Jisoo menjauh. "Kau terlalu..dekat"

Jisoo terkekeh dan melonggarkan tubuhnya, namun kedua tanganya masih setia berada diantara kedua kepala Hakyeon.

"Biarkan aku bertanya" Jisoo menarik tanganya turun dan merapikan rambut depan Hakyeon yang menutupi matanya. "Kenapa kau disini sendiri? Dimana kekasihmu?"

"Kekasih?" Hakyeon mengerutkan keningnya bingung.

"Jadi, dia bukan kekasihmu?"

Hakyeon mendongakkan kepalanya keatas. "Dia? Siapa?"

Jisoo menelah ludahnya perlahan. Mungkin dia akan meruntuki Tuhan yang membuatnya menatap mata coklat itu untuk yang kedua kalinya. Kenapa situasi pertemuanya dengan Hakyeon selalu seperti ini. Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Atau istilah jodoh pasti akan datang dengan sendirinya?

"Jisoo-ya?"

"Ah? i..itu namja yang membawamu saat di taman bermain" ucap Jisoo yang masih memandang wajah Hakyeon secara detail.

"Eoh~ aku tidak sedang bersamanya, mobilku mogok, sekretarisku sedang mencari bensin"

"…." Saking terpesonanya Jisoo bahkan tidak mendengarkan ucapan Hakyeon dengan jarak yang begitu dekat. Dia masih menikmati wajah manis nan menggiurkan didepannya ini.

"Jisoo-ya berapa usiamu?"

"…" Jisoo menelah ludahnya untuk yang kedua kalinya, tanganya bergerak menyentuh lembut pipi kanan Hakyeon.

"Apa kau benar-benar anak kandung keluargamu?"

"…" Jisoo mendekatkan tubuhnya kembali pada tubuh Hakyeon, matanya benar-benar tidak bergerak untuk tidak menatap kedua mutiara Hakyeon itu.

"Apa kau tidak pernah bertemu denganku sebelumnya?"

"…" Jisoo mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Hakyeon yang tengah mendongak keatas.

"Jisoo-ya?"

Gleeek

Untuk yang ketiga kalinya Jisoo menelah air ludanya lagi. Dia bahkan tidak memperdulikan wajah Hakyeon yang tengah menahan sebal karena dari tadi dia tidak ditanggapi. Bukanya tidak peduli, Jisoo hanya tidak sadar dengan dirinya sendiri, yang bahkan sekarang wajahnya sudah sangat dekat dengan Hakyeon.

"KIM JISOO!"

"Astaga!" Jisoo menutup kedua telinganya mendapat teriakan keras dari Hakyeon yang berjarak hanya 2 centi saja dengan wajahnya. Dia yakin gendang telinganya pasti akan bermasalah setelah ini. "Sakit Hakyeon! Kenapa kau berteriak!"

"Ck"

Plaak

Hakyeon memukul lengan Jisoo sebal. "Dasar tuli!"

"Huh! Tadi kau Tanya apa?" Jisoo kembali keposisi awal, bersandaran pada mobil.

"Berapa umurmu?"

"21 tahun. Kau sendiri?" Jisoo melirik pada Hakyeon yang terdiam menatap kedepan.

"26 tahun"

"HAAAH?! Kau tua sekali?! Tidak mungkin" Jisoo menutupi mulutnya dengan tangan kanannya, dia bahkan melototi Hakyeon tidak percaya.

Hakyeon menoleh kesamping kirinya, tepat kepada Jisoo. Yang masih terus menatapnya tidak percaya "Memang! Jadi berhenti memanggilku Hakyeon! Hyung, panggil aku Hyung!"

"Haah?! Aku tidak mau. Aku kan bukan adikmu" Jisoo menatap kelangit malam dan tersenyum sangat tampan. "Aku bahkan tidak akan mau jika menjadi adikmu"

Hakyeon terdiam mendengar pernyataan Jisoo itu. Diam menundukan kepalanya. "Karena aku buta?"

Jisoo menoleh menatap Hakyeon yang tertunduk sedih. Dia tersenyum dan menarik lembut dagu Hakyeon untuk menatap padanya.

"Walaupun kau buta atau tuli sekalipun, itu bukan suatu masalah untukku" Jisoo menghadapkan tubuh Hakyeon pada dirinya.

Hakyeon menatap keatas pada Jisoo. Jisoo tersenyum melihat Hakyeon mengerutkan dahinya dengan bibir yang mengerut bingung.

"Aku tidak akan mau jadi adikmu, karena…"

.

.

.

"Aku menyukaimu, Cha Hakyeon"

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3 , yeeeeeah ^^.

Ayolah, berhenti mengatakan ini dramanya So Hye Kyo, aku bahkan tidak meniru sama sekali, huweeeee T_T, jadi nggak focus nuliskan, takut salah. Mungkin kesamaanya hanya pada Hakyeon buta dan Taekwoon yang pura-pura jadi saudaranyakan? Ayolah, berhenti mengatakan ini dramaaaa T_T, ini benar-benar muncul dari otaku sendiri. Hedeeeeh.

Chapter 3 Up T_T, disini bagian terakhir banyak moment Jisoo dan Hakyeon karena emang sengaja mau ceritain mereka dulu. Konflik batin yang mewek-mewek sengaja belum aku ciptakan, karena belum pas. hehehe

Aduh bener-bener nggak nyaman aku nulis FF ini T_T, mananya sih yang sama sebenarnya. Entar deh aku coba download dramanya, aku aja penasaran juga. Sehati mungkin sama penulis dramanya hahahah XD Kok bisa sama sih, sumpah deh aku nggak nyontoh. Ampunlah percaya, aku bahkan belum nonton 1 eps pun dramanya T_T

Udah deh, next balas review aja yaa ^^

[Hakyeon Jung] T_T iya dong eon, aku kan sehati sejiwa dan setubuh sama penulis dramanya /lirik reader sebelah/ XD. Hehe kalau buat yang nyesek-nyesek pasti ada didrama ini, tapi feel bikin suasana gitu nggak terlalu ahli, jadi ditunggu hingga saatnya tiba yaa eon. /berharap dapat pencerahan lagi/ ^^ Terimakasih eonni selalu ngikutin FF ini ^^ aku usaha bikin yang bagus hehehe

[Zoldyk] Ini lanjutanya, terimakasih udah selalu ngikutin yaa Zoldyk ^^

[Glowly06] perasaan Jisoo uda di jawab tuh di FF ini. Terimakasih reviewnya Glowly06 ^^

[Kim Eun Seob] Heheh Taekwoonkan selalu nyosor eon ^^ uda nggak tertarik mungkin dia sama uangnya Hakyeon ^^. Makasih uda ngikutin FF ini ya eonni ^^

[Key Love VIXX] Hehe terimakasih eon ^^ , yaah, salah paham nggak ya, udah terlanjur suka tuh si Jisoo… Aku juga paling suka karakter Jisoo disini, emang sengaja aku buat sesuai karakter favorit. Walaupun aku sukanya tokoh Taekwoon ^^ haha, nggak jadi tamat eon Taekwoonya. Dia selamat tuh ^^ makasih ya eonni~~, review yang selalu paling banyak dan komplit hehehe ^^

[Hakyeonchoco] hahaha iya dia mah menggoda seperti coklat ^^ eooh? Sungguh? Hwaah sama-sama, aku selalu balas review di chapter selanjutnya. Terimakasih kembali, seneng kalau kamu suka ceritanya. Eooo~~ Starlight baru ? Hmmm, selamat datang di dunia VIXXeu hahaha /apa ini/ semoga masih suka dan tetap dukung VIXX untuk comeback mereka zelos yaa ^^ Aku jadi SL uda 4th, jadi aku pastiin kamu nggak akan kecewa dan bosen sama mereka. /promosi nih/. Koment panjang? No problem Choco. Makasih ya udah selalu ngikutin FF ini ^^

[GaemGyu92] Eeemmb soal denger atau tidaknya mungkin jadi rahasia Hakyeon sendiri deh hehe , makasih review dan uda ngikutin FF ini ^^

[PriscilaIka] iya, banyak yang bikin Jisoo bergabung dalam FF LeoN. Karena Jisoo uda jadi Bromance sama Hakyeon gara-gara Cheer Up. Dan aku suka banget waktu Jisoo bilang mau nyimpen Hakyeon didompetnya XD makasih ya Reviewnya jangan bosen-bosen mantengin FF ini ^^

.

.

Okeeh ^^ untuk reader lainya terimakasih yang uda Follow, Favorite dan Review.. ^^

See you next chapter ^^

Eoh iya, jangan lupas Re Vi Ew nya yaa ^^

N-nyeoooong~