Brother
LeoN
Hakyeon, Taekwoon, Jisoo
Hyuk, Wonshik, Jaehwan
M
Yaoi
Romance & Hurt
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Berapa umurmu?"
"21 tahun. Kau sendiri?" Jisoo melirik pada Hakyeon yang terdiam menatap kedepan.
"26 tahun"
"HAAAH?! Kau tua sekali?! Tidak mungkin" Jisoo menutupi mulutnya dengan tangan kanannya, dia bahkan melototi Hakyeon tidak percaya.
Hakyeon menoleh kesamping kirinya, tepat kepada Jisoo. Yang masih terus menatapnya tidak percaya "Memang! Jadi berhenti memanggilku Hakyeon! Hyung, panggil aku Hyung!"
"Haah?! Aku tidak mau. Aku kan bukan adikmu" Jisoo menatap kelangit malam dan tersenyum sangat tampan. "Aku bahkan tidak akan mau jika menjadi adikmu"
Hakyeon terdiam mendengar pernyataan Jisoo itu. Diam menundukan kepalanya. "Karena aku buta?"
Jisoo menoleh menatap Hakyeon yang tertunduk sedih. Dia tersenyum dan menarik lembut dagu Hakyeon untuk menatap padanya.
"Walaupun kau buta atau tuli sekalipun, itu bukan suatu masalah untukku" Jisoo menghadapkan tubuh Hakyeon pada dirinya.
Hakyeon menatap keatas pada Jisoo. Jisoo tersenyum melihat Hakyeon mengerutkan dahinya dengan bibir yang mengerut bingung.
"Aku tidak akan mau jadi adikmu, karena…"
"Aku menyukaimu, Cha Hakyeon"
......
Chapter 4
Hakyeon terdiam mendengar penuturan Jisoo. Kedua alis hitam itu berkerut dengan bibir yang digigitnya perlahan.
"Hakyeon-ah,, mungkin ini terdengan gila" Jisoo terdiam sejenak dan menghela nafasnya perlahan. "Ada yang salah dengan jantungku, tiap kali aku menatapmu, tiap kali aku dekat denganmu, jantungku serasa berpacu 2x lebih cepat." Jisoo meraih tangan kanan Hakyeon dan meletakan tangan mungil itu tepat pada dada kirinya. "Rasakan, dia berdetak sangat cepat. Ini yang aku rasakan. Aku suka padamu Hakyeon-ah. Aku.."
"Sajang-nim"
Jisoo menghentikan ucapannya dan melotot sebal pada seseorang dibelakang Hakyeon yang tampak seperti nyamuk pengganggu. Dia kembali menghela nafas, gagal sudah semuanya.
Hyuk, seseorang yang mendapat tatapan tajam dari Jisoo itu hanya menatap Jisoo tajam. Keningnya berkerut, seperti memikirkan sesuatu.
"Ooohh, Sekretaris Han. Kau sudah kembali?"
"Aah, iya. Saya akan mengisikan bensinya. Ngomong - ngomong anda siapa?" Tanya Hyuk sopan kepada Jisoo yang masih setia megandeng tangan Hakyeon.
"Eoh, dia Kim Jisoo, temanku"
"Apa kabar, aku Kim Jisoo" Jisoo mengulurkan tanganya menawarkan perkenalan, dan direspon cepat oleh Hyuk yang bahkan malah terlihat bahagia bertemu dengan Jisoo.
"Han Sang Hyuk. Kau tampak tidak asing bagiku. Dimana tempat tinggalmu ?"
"Aah, tidak jauh dari sini, setelah tangga itu, belok kiri, dan di rumah kedua adalah rumahku" ucap Jisoo seraya menunjukan arah rumahnya.
Hyuk hanya tersenyum sambil merogoh saku jasnya. "Ini kartu namaku, disitu alamat rumah Sajang-nim. Kapan - kapan mampirlah"
Jisoo meraih kartu itu dan menundukan kepalanya berterima kasih.
"Jisoo-ya, lanjutkan yang ingin kau katakan tadi"
"Aah, lupakan saja. Sudah larut, sebaiknya kalian pulang saja" Jisoo tersenyum dan membukakan pintu mobil. Hakyeon hanya membalas dengan senyuman, kemudian masuk kedalam mobil dibantu oleh Jisoo.
"Kami pergi dulu" Hyuk menuduk dengan sopan kepada Jisoo yang dibalas dengan perlakuan sama.
Jisoo hanya terus terdiam memperhatikan mobil hitam mewah itu pergi dan menghilang dari pandangannya.
.
.
"Sajang-nim, sudah berapa lama kalian berteman ?"
"Siapa ? Kim Jisoo ?"
Hyuk melirik spion tengah mobil yang memperlihatkan Hakyeon yang duduk dibelakang.
"Kita baru 2x bertemu. Ada apa ?"
"Tidak Sajang-nim" Hyuk tersenyum membalas pertanyaan Hakyeon. Dia kembali focus ke jalan seraya mengetikan sesuatu diponselnya. Dan senyum itu kembali terlukis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di dalam sebuah kamar, seorang namja tinggi nan rupawan terlihat gelisah dengan langkah kaki yang terus tak berhenti melakukan pergerakan bolak balik arah itu. Tentu, dia Jung Taekwoon seorang namja yang mengaku sebagai adik dari Cha Hakyeon kini tengah menunggu kedatangan kakak pura pura nya.
"Kemana mereka ?" Taekwoon berhenti dan duduk di atas kasur king size milik Hakyeon.
Cleeekk
Taekwoon menatap kedepan, tepatnya kearah pintu kamar yang terbuka. Dua orang namja masuk kedalam, dengan seorang namja yang telah membuat jantungnya tak menentu tiap kali bersamanya.
Hyuk menuntun Hakyeon masuk kedalam kamar.
"Darimana saja Kau!"
Hakyeon tersentak kaget mendengar teriakan Taekwoon.
"Keluarlah Sekretaris Han"
Hyuk hanya menghela nafas dan berjalan meninggalkan kamar itu.
Tak Tak Tak
"Kau disini Jisoo-ya" Hakyeon mendekat menuju arah kasurnya.
"Darimana saja ? Kau tau ini sudah pukul berapa ?"
"Maaf, tadi kami tersesat"
Taekwoon hanya menatap tajam Hakyeon yang mendekat kearahnya.
Tak Tak Tak
Hakyeon berhenti saat tongkatnya menyentuh kaki Taekwoon. Wajah itu mendongak keatas menatap kearah Taekwoon. Dan tersenyum sangat menawan.
"Aku minta maaf, membuatmu cemas Jisoo-ya"
Taekwoon menghela nafas dan membantu Hakyeon untuk duduk di kasurnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan" kemudian dia berlutut tepat dihadapan Hakyeon yang tengah duduk diatas kasur.
"Hmm?"
Tangan mungil tan Hakyeon itu digenggam lembut tangan kiri Taekwoon, dan tangan kanannya mengusap lembut pipi Hakyeon.
"Aku tau yang ku lakukan ini salah, aku tau, tidak seharusnya aku melakukan ini kepadamu. Aku tidak tau harus melakukan apa lagi" Tangan kekar itu terangkat untuk mengusap kearah helaian rambut halus milik Hakyeon.
"Ketika pertama bertemu denganmu, aku seperti melihat sebuah anugrah dari Tuhan. Bahkan untuk menyentuhmu saja aku tidak berani, apa lagi untuk menyakitimu lebih dalam." Taekwoon menatap lekat kedua mata Hakyeon, kedua bola mata itu hanya menatap lurus kedepan tanpa tau apa yang dia lihat.
"Hakyeon-ah. Maafkan aku" Tangan Taekwoon turun menggenggam kedua milik Hakyeon.
"Aku bukan adikmu, aku bukanlah Cha Jisoo"
"..."
"Maafkan aku Hakyeon, aku akan pergi dari sini, aku akan mengakhiri ini semua"
Kedua mata itu saling bertatapan satu sama lain, salah satu tangan milik mereka terangkat.
PLAAAAAKK!
Pukulan keras tangan mungil itu mengenai tepat wajah Taekwoon hingga terpaling kesamping. Bekas merah mulai terlihat dikulit putih Taekwoon. Sang korban hanya diam saja, bahkan untuk melihat wajah sedih Hakyeon sekarang dia tidak akan berani.
"Kau telah membohongiku!"
"..."
"Kau telah menipuku!"
"..."
"Kau telah menyakiti hatiku!"
BUUUKK
Sebuah bantal mendarat mulus dikepala Taekwoon. Taekwoon masih tertunduk menyesal.
"Kau, kau telah melakukan ini semua!"
"..."
"Dan kau akan pergi begitu saja!"
Kedua mata Taekwoon bergetar, begitu mengilukan mendengar makian dari mulut Hakyeon, bukan sakit karena makian itu namun hatinya sangat ngilu mendengar suara Hakyeon yang bergetar menangis. Taekwoon mendongakan wajahnya menatap Hakyeon.
Benar apa yang dipikirkan, kedua mata indah itu tengah menangis. Dia menyakitinya lagi.
"Aku minta maaf" benar, hanya kata itu yang dapat di ucapkan Taekwoon saat ini. Hanya sebuah kata penyesalan.
"Aku sudah bilang, kau hanya perlu diam dan menjalankan peranmu. Kenapa kalian selalu meninggalkanku"
"Aku.."
"Kau akan pergi Hiks setelah membuatku menyukaimu Hiks hiks, kau akan pergi ... hiks setelah mengambil ciuman pertamaku, kau akan pergi begitu saja !"
Kedua mata Taekwoon membola. Apakah dia salah dengar?
"Kau menyukaiku ?"
Hakyeon menutupi wajahnya dengan kedua tanganya. Tangisan itu terdengar terisak namun sangat pelan. Dia berusaha menutupinya.
"Jung Taekwoon bodoh" ucapnya pelan.
Taekwoon menggenggamkan tangannya pada tangan Hakyeon. Bibir itu tertarik membentuk senyuman lega.
"Terimakasih Hakyeon"
Tangan kanan Taekwoon mengelus lembut rambut hitam Hakyeon.
"Aku mohon, tetaplah disini"
Taekwoon menarik pelan tubuh Hakyeon dengan tubuhnya yang merapat pada Hakyeon. Dipeluknya erat tubuh orang yang dia sayangi itu, di dekapnya penuh kasih.
"Aku sungguh mencintaimu, Cha Hakyeon"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Euunggg" lenguhan pagi terdengar didalam sebuah kamar berisikan kasur king size itu. Di atasnya tertidur dua orang namja yang tengah asik berpelukan. Bahkan salah satunya tak menyadari jika pihak yang tengah mendekapnya itu terus mengamati gerak geriknya dalam tidur.
"Sudah bangun ?" Taekwoon memberikan ciuman singkat pada kening Hakyeon. Dirinya kembali menatap wajah malu itu yang telah membuka kedua mata indahnya.
"Pukul berapa ?" tanyanya seraya memeluk Taekwoon semakin erat.
"Sudah waktu kerja sayang, kau mau menempel seperti ini terus ?"
Hakyeon melepas pelukanya dan mendongakan wajahnya keatas.
"Apa aku tidak boleh memanggilmu, 'sayang' ?"
Hakyeon tersenyum manis dan kembali memeluk Taekwoon.
"Aku akan memberitahu semua orang tentang dirimu yang asli. Tidak baik jika kau terus menjadi Jisoo. Bagaimana jika yang asli datang"
Taekwoon tersenyum mendengar perkataan halus dari bibir manis Hakyeon. Dia senang, tidak lebih tepatnya bahagia. Karena dia pikir Hakyeon akan marah jika dia tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
"Hakyeon-ah"
Sraaaakkk
Taekwoon menidih tubuh Hakyeon, dengan posisi yang masih berpelukan. Di angkat wajah tampanya itu hingga dia dapat mengamati sosok malaikat di bawahnya.
"Taekwoo..Hmpppph"
Belum sempat Hakyeon menyelesaikan ucapanya, Taekwoon berhasil membungkam bibir manis Hakyeon itu.
"Hmmmppphh"
Taekwoon melumat bibir ranum Hakyeon secara perlahan. Hingga dia merasakan betapa manisnya bibir kekasihnya itu. Dihisapnya berkali kali hingga sang korban berusaha mendorong tubuh Taekwoon mencari udara. Tangan kekar itu melingkar di antara kepala dan pinggang Hakyeon, hingga membuat tubuh mereka benar benar menempel.
"Aaahh Hmmmpp"
Sekali nafas Taekwoon kembali melumat bibir Hakyeon, dan terus mencumbunya. Hakyeon bahkan sudah merasa terbiasa dengan kegiatan mereka ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang namja keluar dari sebuah rumah sederhana di area desa. Namja itu mengenakan pakaian kantor yang rapi, bahkan sepatunyapun telah disemirnya hingga mengkilap. Namun, berbeda dengan raut wajahnya. Dia sedang kesal terhadap seseorang. Seseorang yang tidak mengangkat panggilannya dari kemarin.
"Dia sudah tidak memperdulikanku lagi", ucap namja itu sambil memandangi layar ponselnya.
"Taekwoon hyung, hanya karena namja buta itu. Kau ingin mengakhiri ini" Senyum miring itu tergambar di wajah tampannya. "Tak akan ku biarkan uangku pergi begitu saja"
Greeepp
"Yo! Kim Wonshik" Seorang namja entah datang dari mana tiba tiba merangkul pundak Wonshik begitu saja. Namja itu dengan rambut blonde nya yang mencuat keatas, t-shirt hitam dengan jaket jean dan celama hitam robeknya itu tersenyum begitu menawan kepada Wonshik yang membalas sapaanya dengan satu tepukan pelan di dahi namja itu.
"Jaehwan Hyung-nim, dimana semua anak buahmu ?" tanya Wonshik seraya celingak celinguk ke segala arah.
Jaehwan menggaruk kepalanya dengan cengiran lucu. "Aku meliburkan mereka setelah memberi mereka uang itu. Mereka juga harus dapat jatah liburkan"
"Hah ! Kau memberikan semuanya pada mereka ?"
"Eiihh, tentu tidak. Aku hanya mengambil seperempatnya saja"
"Kau terlalu baik Hyung-nim" ucap Wonshik sambil merangkul pundak Jaehwan yang berjalan lebih dulu kedepan.
Mereka berjalan bersama dipagi hari seperti melupakan kisah masa lalu, dimana mereka yang selalu kejar dan saling pukul kini malah terlihat sangat dekat. Uang memang mengubah manusia. Termasuk hubungan itu.
"Kau mau Hyung-nim ?" Wonshik memperlihatkan sekotak rokok, setelah dia menggambil dan menggigit satu batang rokok dari dalam kotak itu.
"Aku tidak merokok"
"Hah ! Preman sepertimu tidak merokok ?"
Plaaakk
"Kau pikir semua preman merokok, lagian itu tidak baik buat kesehatanmu"
"Ya tidak perlu memukul kepalaku juga kali Hyung-nim"
Jaehwan hanya terkikik seraya mengusap - usap kepala Wonshik yang terkena pukulannya.
"Kita harus segera lakukan sesuatu" ucap Wonshik sambil menghisap rokok yang telah dia nyalakan.
"Sesuatu ?"
"Taekwoon, anak itu ingin mengakhiri ini semua"
"Maksudmu ?"
"Kita harus merebut harta Cha Hakyeon, kita harus melakukan sesuatu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jisoo berjalan santai dengan senyum tampannya di pagi hari, menyusuri kota Seoul. Seperti kegiatan biasanya, dia harus membantu ibunya di toko, tepatnya di taman bermain. Walapun jarak desanya dengan kota sangat jauh, terlebih lagi letak taman bermain berada di pusat kota. Namun, Jisoo tak pernah mengeluh meskipun berjalan sejauh apapun. Karena hanya ini yang bisa mereka lakukan untuk dapat makan setiap harinya.
"Eomma benar - benar menyebalkan, setidaknya dia membangunkan aku, kita kan bisa berangkat bersama"
Sebuah mobil berhenti dipinggir trotoar, tepat berada di depan Jisoo. Jisoo yang melihat mobil hitam itu tampak tersenyum senang dan segera berlari menghampiri mobil itu.
Seorang yeoja keluar dari dalam mobil pengemudi bersama seorang namja. Yeoja yang mengenakan dress merah itu menatap Jisoo kaget.
"Kim Jisoo"
"Nuna"
Jisoo berlari mendekati yeoja itu dan langsung melompat memeluknya.
"Hwaaaa kapan kau kembali dari Jepang ? Aku sangat merindukanmu Nuna"
"Maaf terlalu lama yah" ucap nya sambil membalas memeluk Jisoo erat.
"Kau jangan melupakanku" sindir namja yang sedari tadi mengamati kegiatan berpelukan mereka.
"Eoh, Hongbin-ah, lama tidak bertemu hehe. Eoh ya apa yang kalian lakukan disini. Seharusnya kalian datang dulu ke rumahku"
Sojin tersenyum menatap sebuah gedung Perusahaan yang berada di depannya.
"Starlight" ucapnya dingin.
Jisoo hanya menatap sedih kedua sahabat kecilnya ini. Sebuat tatapan benci yang mereka berikan setiap bertemu dengan hal yang berhubungan dengan Starlight Cha Company.
"Haruskah kalian melakukan ini, sudah 20 tahun. Tidakkah kalian ikhlaskan saja"
Sojin melirik Jisoo yang menatapnya memohon.
"Jisoo-ya, mata di bayar mata dan nyawa di bayar nyawa. Itu namanya keadilan"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hakyeon dan Taekwoon turun bersaman melalui tangga. Dengan sangat teliti Taekwoon membimbing Hakyeon melewati setiap pijakan anak tangga. Bahkan tangan kananya memeluk pinggang ramping Hakyeon, benar - benar menjaganya agar sang kekasih tidak terjatuh.
Dibawah sana tepatnya disamping sebuah lorong terdapat ruangan dapur yang telah tersaji berbagai makanan enak nan mewah. Para pelayanpun sudah berkumpul untuk menyambut tuan mereka di pagi hari.
"Selamat pagi Tuan Cha" ucap para pelayan itu secara bersamaan.
Hakyeon hanya membalasnya dengan senyuman manisnya. Kemudian dengan iringan tangan Taekwoon dia duduk di salah satu kursi di meja makan itu.
"Sebelumnya ada yang ingin aku sampaikan"
Semua pelayan, koki, bodyguard, serta Hyuk dan Taekwoon terdiam mendengarkan ucapan Hakyeon.
"Sebenarnya namja disampingku ini bukanlah Jisoo adikku"
Semua yang hadir disana terkejut serta berbisik satu sama lain. Mereka menatap Taekwoon dengan pandangan aneh. Namun, Taekwoon hanya acuh menanggapinya. Sedangkan Hyuk tampak senang dengan ucapan Hakyeon tersebut. Senyum itu bahkan terlihat lebih lebar, dari senyumnya yang biasa.
"Dia Jung Taekwoon. Dia berpura - pura menjadi Jisoo selama ini. Karena ..."
.
.
"Aku yang menyuruhnya"
Hyuk mendelik terkejut kearah Taekwoon yang meliriknya dengan senyum evilnya itu.
"2 : 0, Han" Bisik Taekwoon dengan nada sindiran khasnya. Hyuk hanya mampu mengepalkan kedua tangannya, kali ini dia gagal lagi untuk mengusir Taekwoon keluar dari rumah Cha Hakyeon.
"Mulai sekarang dia akan tinggal disini sebagai Jung Taekwoon, Asistant ku. Jadi kalian tidak lagi memanggilnya Jisoo. Karena tugasnya sudah berakhir"
"Sajang-nim, apa maksud anda dengan Asistant ?"
"Dia akan menjadi mataku mulai sekarang"
"Lalu anda akan melupakan saya ?"
"Melupakan bagaimana, kau kan sekretaris ku dan dia Asistant ku, tugas kalian berbeda"
Hyuk hanya terdiam mendengarkan ucapan Hakyeon. Bagaimanapun dia tidak akan bisa melawan ucapan Hakyeon.
Drrrtttttt Ddrrrrrrttt Dddrrrrrttt
Hyuk meraih ponsel yang bergetar didalam saku celananya, sejenak dahi itu berkerut bingung.
"Ada apa pagi - pagi begini ?" gemingnya pelan lantas menekan tombol menerima pada layar ponsel.
"Ada masalah apa ?"
"..."
"Apa ?!"
"..."
"Tahan mereka dulu sampai aku dan sajang-nim datang"
"..."
"Ada apa Sekretaris Han ?
Dengan raut kecemasan diwajahnya Hyuk menutup ponsel dan mendekati Hakyeon, dia membungkukan badanya agar dapat berbisik tepat ditelinga Tuan nya itu.
Sekejap raut wajah cemas itu menyalur pada Hakyeon. Kedua tangan itu mengepal. Dengan segera Hakyeon berdiri dari kursinya dan membuka tongkat kesayanganya.
"Ada masalah apa ?" tanya Taekwoon yang khawatir melihat perubahan raut wajah Hakyeon.
"Taekwoon-ah, kau disini dulu. Ada sesuatu yang harus aku urus"
"Aku akan ikut" Taekwoon meraih lengan Hakyeon menuntunya untuk keluar dari kursi. Namun, tangan Hakyeon melepaskan pegangan Taekwoon dengan halus.
"Ini masalah keluarga." kedua tangan tan mungil itu terangkat menggapai wajah tampan kekasihnya. "Kau tunggulah disini, aku akan segera kembali"
Taekwoon hanya terdiam mengamati kedua bola mata Hakyeon yang bergerak cemas. Dia tau, ada masalah yang sedang terjadi. Mata kosong itu seperti tengah ketakutan.
"Mari Sajangnim", Hyuk megandeng tangan Hakyeon dan menuntunya pergi dari sana. Meninggalkan Taekwoon yang menatap kepergian Hakyeon dengan rasa khawatir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil datang dari arah pintu masuk perusahaan ternama Starlight Cha Company, mobil itu melaju dengan kencang dan langsung berhenti begitu saja didepan pintu masuk perusahaan. Hyuk, bergegas keluar dan melemparkan kunci mobil kepada seorang petugas keamanan perusahaan, dirinya dengan cekatan membuka pintu Hakyeon dan menuntunnya masuk kedalam perusahaan. Chakyeon yang biasanya santai, sekarang dirinya terlihat cemas dan terburu - buru.
"Kita harus segera kesana, orang - orang itu pasti akan membuat masalah besar"
"Sekretaris Han kau duluan saja kesana, biar aku menyusul. Jika kau menungguku akan terlambat, kita harus segera mencegah mereka"
"Tidak bisa begitu Sajang-nim", ucap Hyuk seraya menekan tombol begitu lama pintu lift itu terbuka.
"Hakyeon-ie", sapa seseorang yang muncul dibalik lift tersebut. Dengan tampang cerianya namja itu lantas memeluk Hakyeon yang ikut tersenyum mengetahui siapa orang yang bertemu denganya.
"Kim Jisoo~~", ucap manja Hakyeon sambil memeluk tubuh tinggi Jisoo.
Jisoo melepaskan pelukanya dan menatap Hakyeon dengan tatapan genit. "Eoh, kau semakin hari semakin manis saja Yeon-ie" dengan gemas Jisoo mencubit pipi tembam tan milik Hakyeon. Mereka bahkan asik melontarkan canda tawa tanpa memperdulikan seseorang disamping Hakyeon yang sudah seperti obat nyamuk.
"Ehem! Maaf Sajang-nim sepertinya saya akan naik terlebih dahulu?" ucap Hyuk sambil memberikan tas kantor Hakyeon pada Jisoo. "Jisoo-ssi, saya titip Sajang-nim sebentar" Hyuk dengan tergesa masuk kedalam lift sambil mendorong Jisoo untuk keluar dari lift.
"Eeh,, Sekretaris Han" panggil Hakyeon panik.
"Saya akan urus yang di atas, anda pergi saja dengannya. Jisoo-ssi tolong jaga Tuan kami"
Mendengar permintaan itu semangat membara Jisoo langsung keluar, dirinya bahkan merangkul Hakyeon dengan erat dan mengangkat tanganya melakukan gerakan hormat.
"Laksanakan komandan", ucap Jisoo lantang dengan senyum lebarnya.
Hanya sebuah senyum bahagia yang dibalas hyuk dan pintu lift itupun langsung tertutup.
"Nah, Yeon-ie. Akan pergi kemana kita ?" Tangan Jisoo bertautan erat dengan tangan mungil Hakyeon.
"Aku mengawatirkan sesuatu. Sebaiknya aku menyusul Sekretaris Han, Jisoo-ya"
"Hakyeon-ah,"
Hakyeon mendongakan kepalanya kesamping kanan, menatap Jisoo yang tengah memandangnya sendu.
"Seburuk apapun kesalahanmu, aku akan tetap mempercayaimu. Jadi, dengarkan aku kali ini. Biarkan Sekretaris Han menyelesaikan masalah ini. Percayalah padanya"
"Jisoo-ya.."
Tangan kekar Jisoo terangkat menggapai wajah manis seseorang yang sangat dia sukai itu. "Jadi, mari kita pergi, hmm"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hakyeon dan Jisoo berjalan santai disebuah desa kecil tempat Jisoo tinggal. Disana banyak sekali anak anak kecil yang saling berlari dan bermain, banyak juga yang tengah berjalan jalan di desa. Semua warga desa tampak sangat bahagia menikmati hari mereka. Jisoo mengaitkan lenganya pada lengan Hakyeon. Dengan perlahan dia membimbing Hakyeon untuk turun kererumputan yang menuju pada sungai jernih yang terdapat dibawah desa.
"Jisoo-ya, mau membawaku kemana ?"
"Ketempat favoritku"
"Kemana semua orang, tiba tiba sepi, Jisoo-ya?"
"Mereka diatas." Jisoo berlutut hendak melepaskan sepatu Hakyeon.
"Ya ! Apa yang kau lakukan ?!" Hakyeon memukul - mukul tangan Jisoo dengan tongkat jalanya.
"Aduuh! Sakit Tuan Cha!" Jisoo mengusap tangannya yang terkena pukulan tongkat Hakyeon. Dengan sekali tarik Jisoo mengambil dan membuang tongkat itu begitu saja. Kemudian melepaskan sepatu Hakyeon kembali.
"Ya! Kau tidak tau kan harga tongkat itu?! Kau tidak akan bisa menggantinya jika rusak!"
"Ck, kau ini ternyata berisik ya" ucap Jisoo dan mengangkat tubuh Hakyeon ala bridal mask.
"Ya! Jisoo-ya!"
Jisoo tidak memperdulikan rontaan Hakyeon dan terus membawa Hakyeon masuk kedalam sungai itu, tidak terlalu tinggi, hanya sampai diatas mata kakinya. Secara perlahan Jisoo menurunkan tubuh Hakyeon.
"Rasakan airnya"
Hakyeon yang masih berpegangan erat pada kedua lengan Jisoo itu hanya terdiam menuruti perintah Jisoo. Arus sungai itu terasa memijit kakinya dengan sangat baik, rasa air yang begitu segar dan pergerakan ikan ikan kecil yang berenang didalamnya membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda.
Jisoo melepaskan tangan Hakyeon yang masih berpegang erat pada bajunya. Dan menggengggam tangan itu dengan sangat erat.
"Cha Hakyeon"
Hakyeon yang dipanggil hanya mendongakan kepalanya keatas menatap kearah sumber suara.
Ditangkup wajah mungil Hakyeon yang sangat manis itu, seperti biasanya Jisoo terus menatap kedua mata Hakyeon yang sangat dia sukai.
"Jangan pikirkan apapun yang dapat membebanimu, disini, tidak ada siapapun yang akan melihatmu. Tidak ada yang tau siapa dirimu dan siapa keluargamu." Jisoo mengusap helaian rambut hitam Hakyeon yang terangkat sepoian angin. "Kosongkan sejenak pikiranmu, aku tau ini berat untukmu. Tapi, semua pasti ada jalan keluarnya. Aku akan selalu datang membantumu, selalu berdiri disampingmu. Jadi.."
"Aku takut" Hakyeon meremas kedua lengan baju Jisoo . "Aku tidak tau apa - apa, hiks hiks. Orang tuaku bahkan hiks" Hakyeon meletakan kepalanya pada dada bidang Jisoo yang berdiri tegap didepanya. "Saat itu hiks mereka juga meninggal, hiks hiks aku, adikku, bahkan telah kehilanganya." Tangisan Hakyon terdengar semakin terisak, Jisoo bahkan merasakan dadanya basah karena air mata Hakyeon.
Hatinya begitu ngilu mendengar tiap isak tangis yang keluar dari bibir manisnya. Dia tidak bisa mendengar orang yang begitu dia sayangi menderita dan ketakutan seperti ini. Dengan lembut dan penuh kasih sayang Jisoo merapatkan tubuh Hakyeon pada dekapanya, dipeluknya erat hingga Hakyeon dapat menumpahkan semua kesedihan dan air matanya.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jisoo berjalan terdiam melalui tangga jalanan desa itu yang mengarah menuju rumahnya. Setelah dia lega melihat Hakyeon telah pulang sampai rumahnya dengan selamat, dan dirinyapun memutuskan untuk pulang. Dalam perjalananya pulang menuju kerumahnya, dia terus saja memikirkan keadan Hakyeon. Dirinya sangat tahu apa yang membuat Hakyeon gelisah dan dirinyapun tau siapa yang membuat Hakyeon terus mengalami mimpi buruk hingga sekarangpun masalah ini belum bisa terselesaikan.
"Haahhh~ Kenapa harus kau Hakyeon", Jisoo mengintip ponselnya yang terus saja bergetar di dalam genggaman tanganya.
"Ne, Eomma", ucap Jisoo setelah menekan tombol berwarna hijau itu dan mendekatkan ponsel tepat ditelinganya.
"Kau dimana ?"
"Dalam perjalanan menuju rumah, waeyo ?"
"Cepatlah pulang, ada kabar gembira. Eomma tunggu dirumah ne"
Tuuuuuutt
Jisoo hanya mengerutkan dahinya seraya menatap heran ke panggilan ponsel yang telah dimatikan ibunya itu.
Tanpa peduli Jisoo hanya memasukan ponselnya kembali kedalam saku celananya dan berjalan santai menuju rumah. Tidak berjarak jauh, setelah dia melewati belokan tangga itu dia sudah dapat melihat rumahnya setelah rumah tetangganya, namun Jisoo menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kecilnya.
"Mobil siapa ini?" Jisoo berjalan perlahan sambil terus mengamati mobil itu sedetailnya.
"Eomma, aku pulang" Jisoo membuka pintu rumahnya dan melepaskan sepatu lusuhnya. sebelum melangkah masuk kedalam.
"Kemarilah anakku"
Disana Jisoo melihat Ibunya sedang duduk berhadapan dengan seorang namja yang mengenakan kemeja putih yang tertutup jas hitam, Jisoo hanya memandangi mereka dari tempatnua erdiri. Banyaknya berkas berkas dan sebuah kardus yang berada disamping meja tempat ibu dan namja itu berbicara.
"Kenapa kau diam saja disitu, kemarilah"
Dengan patuhnya Jisoo pun berjalan mendekat dan ikut duduk disamping Ibunya.
"Anda siapa ?"
"Ahjussi ini menemukan mereka Jisoo-ya"
Jisoo menatap Ibunya dengan wajah penasarannya . "Mereka ?"
"Keluargamu, Ahjussi ini tau siapa keluarga kandungmu" Nyonya Kim menggenggam kedua tangan Jisoo erat, air mata nya pun jatuh dengan senyum bahagia itu. "Kau tidak perlu bersusah payah untuk menemukan mereka lagi Jisoo anakku"
Bibir merah Jisoo bergetar menahan tangisnya yang akan keluar, dia menatap kedua mata Ibunya dengan pancaran kebahagiaan. Dengan semangatnya Jisoo menoleh kepada Namja yang duduk didepannya.
"Di..dimana mereka ?"
Namja itu bukan menjawab malah memberikan berkas dan memunjukan sebuah foto kepada Jisoo.
"Sebelumnya aku datang kerumahmu dan meminta sesuatu dari milikmu yang bisa dijadikan DNA, dan Nyonya Kim memberikan helaian rambutmu pada kami. Kami pun memeriksakannya pada salah satu Rumah Sakit besar di Seoul, hasilnya 99% cocok dengan DNA tuan Kami. Ini hasil labnya"
Namja itu mendekatkan foto yang sudah lusuh itu pada Jisoo, Jisoo mengambil foto itu dan menatapnya lekat.
"Ini...keluargaku" Jisoo mengusap gambar itu dengan tangan yang bergetar, bahkan air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi.
Difoto itu memperlihatkan keempat orang yang tengah memandang memandang kedepan dengan senyum cerianya masing-masing. Dua orang yang merupakan suami istri itu duduk dengan tangan yang saling bertautan. Salah satu anak laki lakinya yang paling besar berdiri disamping Ayahnya sambil menggendong seorang anak laki laki yang lebih muda dan kecil darinya.
"Itu foto keluargamu. Mereka berdua adalah orangtuamu. Dan seorang namja yang tengah menggendongmu adalah kakakmu, dia yang sekarang menjadi Tuan Kami. Dia sudah bertahun - tahun mencari Anda"
"Aku memiliki seorang Kakak" Senyum bahagia Jisoo kembali mengembang.
"Margamu bukanlah Kim, melainkan Cha"
Jisoo langsung menatap tajam namja yang berada didepanya dengan dahi yang berkerut keras.
"Ch..cha ?" ucap Jisoo dengan dahi yang semakin berkerut itu.
"Benar. Anda adalah Cha Jisoo adik dari seorang pengusaha besar bernama Cha Hakyeon"
"Aigoo, anakku akan jadi kaya raya. Jisoo-ya, Eomma sangat bahagia mendengarnya"
"Tuan kami pasti sangat bahagia mendengar adik kesayanganya masih hidup".
"Tidak"
"Mari pulang Tuan muda"
"Tunggu, aku akan mengemasi barang - barang Jisoo" Nyonya Kim berlari terburu -buru masuk kedalam kamar Jisoo.
"Tidak ...mungkin"
Dengan air mata yang mengalir Jisoo meremas foto lusuh yang sekarang akan semakin terlihat lusuh. Dadanya terasa sakit seperti terbakar. Takdir apa yang mendatanginya kali ini, kenyataan pahit apa yang harus dia hadapi sekarang. Bukan kebahagiaan seperti ini yang dia inginkan, bukan takdir ini yang dia pilih.
"Ini barang - barangmu Jisoo-ya. Pulanglah, kembalilah kepada keluargamu"
"Tidak... Aku tidak mau"
"Apa yang kau katakan, kau sudah menemukan..."
"Aku tidak mau !"
Jisoo berdiri dan menatap memohon kepada namja yang memandang heran Jisoo. Jisoo bahkan mengepalkan kedua tangannya. Tangis itu pun pecah, kedua mata tajamnya bahkan tertutup sangat erat mengetahui takdir yang Tuhan berikan kepadanya. Tidak adil? mungkin itu yang dirasakan Jisoo saat ini.
"Tidak mungkin"
Tangan itu semakin erat meremas sebuah foto yang berada digenggamanya .
.
.
.
"Cha Hakyeon, dia bukan kakakku"
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
Akhirnya update juga kan hehehe.. Mian kalau ada yang nunggu kelamaan buat FF ini. Ada masalah yang ngebuat aku harus ngetik ulang. Hehe
[Hakyeonchoco] gih bikin akunnya chingu, hehehe iyaa itu kan masih rahasia jalan ceritanya kaya gimana. Terus ikutin yah chingu ditunggu reviewnya (=^^=)/``
[Jtwchy] Iyaakah hahaha ya udah bayangin aja pake Lensa biar lebih keren hehehe. Penasaran ikutin terus yah ceritanya hehe jangan review ="3
[Emma] Gomawo Emma-ssi, ikutin terus yah hehehe ditunggu reviewnya (^~^)
[PriscilaIka] Iyaa Jisoo adik kandungya Hakyeon tuh hehehe.. berharap Jisoo sama Hakyeon yah hehe bisa diatur hehe XP
[VIXX K] Hehehe iyaa bukan plagiat ko eonni, hehe eonni kangen tuh karya nya eonni ^^=
[Gaemgyu92] Iyaa Hakyeon memiliki hati yang sebaik berlian wkwk. Iya tu si Jisoo shock berat untung nggak sampe ingin bunuh diri wkwk
[08052016 closed] wkwk aku juga nggk mau jadi adenya Hakyeon. XD
[Hakyeon Jung] hehe enggak papa eonni santai aja hehehe :*
[Loony Jee] itu hongbin udah nongol hehehe makasih udah ngikutin yah jangan lupa review nya XD
[Endhaiueo] Incest ? blm ada pikiran kesitu hehe makasih udah ikutin.. Jangan lupa reviewnya ya
[Khasabat04] eooohh Andweee hehehe Jisoonya udah tau XD
[Zoldyk] Thanks chingu udah slalu ikutin ceritanya :*
See you next chapter readers. Jangan lupa review ne~~
N-nnyeeeeooooong~~~~~ ^^
