Brother
LeoN
Hakyeon, Taekwoon, Jisoo
Hyuk, Wonshik, Jaehwan
Hongbin, Sojin
Yaoi
M
Romance and Hurt
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Margamu bukanlah Kim, melainkan Cha"
Jisoo langsung menatap tajam namja yang berada didepanya dengan dahi yang berkerut keras.
"Ch..cha ?" ucap Jisoo dengan dahi yang semakin berkerut itu.
"Benar. Anda adalah Cha Jisoo adik dari seorang pengusaha besar bernama Cha Hakyeon"
"Aigoo, anakku akan jadi kaya raya. Jisoo-ya, Eomma sangat bahagia mendengarnya"
"Tuan kami pasti sangat bahagia mendengar adik kesayanganya masih hidup".
"Tidak"
"Mari pulang Tuan muda"
"Tunggu, aku akan mengemasi barang - barang Jisoo" Nyonya Kim berlari terburu -buru masuk kedalam kamar Jisoo.
"Tidak...mungkin"
Dengan air mata yang mengalir Jisoo meremas foto lusuh yang sekarang akan semakin terlihat lusuh. Dadanya terasa sakit seperti terbakar. Takdir apa yang mendatanginya kali ini, kenyataan pahit apa yang harus dia hadapi sekarang. Bukan kebahagiaan seperti ini yang dia inginkan, bukan takdir ini yang dia pilih.
"Ini barang - barangmu Jisoo-ya. Pulanglah, kembalilah kepada keluargamu"
"Tidak... Aku tidak mau"
"Apa yang kau katakan, kau sudah menemukan..."
"Aku tidak mau !"
Jisoo berdiri dan menatap memohon kepada namja yang memandang heran Jisoo. Jisoo bahkan mengepalkan kedua tangannya. Tangis itu pun pecah, kedua mata tajamnya bahkan tertutup sangat erat mengetahui takdir yang Tuhan berikan kepadanya. Tidak adil? mungkin itu yang dirasakan Jisoo saat ini.
"Tidak mungkin"
Tangan itu semakin erat meremas sebuah foto yang berada digenggamanya .
.
.
.
"Cha Hakyeon, dia bukan kakakku"
...
Chapter 5
Sebuah mobil berhenti di sebuah rumah yang sangat mewah itu, sang pemilik rumah menuruni mobil dengan dibantu beberapa bodyguard yang selalu berdiri untuk berjaga di depan pintu masuk. Dari arah dalam rumah, seorang namja berlari keluar dan memeluk Hakyeon yang baru saja menapakan kakinya ditanah. Namja itu, Taekwoon, memeluk Hakyeon begitu erat selayaknya seseorang yang begitu takut kehilangan kekasihnya.
"Taekwoon-ie" panggil Hakyeon pelan. Taekwoon hanya diam saja seraya mengeratkan pelukanya pada tubuh mungil Hakyeon yang bahkan jauh lebih pendek dari dirinya.
Taekwoon melepaskan pelukanya secara perlahan, dan menatap kedua mata Hakyeon yang menatap keatas mengarah pada wajah Taekwoon, mata itu begitu indah hingga Taekwoon tak bisa memalingkan pandanganya dari mata Hakyeon. Dan, bibir ranum itu. Lihat bagaimana Hakyeon tersenyum, bibir yang merah merona, sangat kenyal dan manis. Taekwoon bahkan tak sadar bibirnya telah melumat kedua belah bibir kenyal Hakyeon.
"Emmmmbbb"
Taekwoon tak peduli beberapa pasang mata menatap aneh kepada mereka, masa bodoh dengan mereka. Dia hanya ingin mengeluarkan semua kerinduanya pada kekasih hatinya ini.
"Euunggg Woon aah" Hakyeon melepaskan serangan bibir Taekwoon dari miliknya, Hakyeon terlihat seperti sedang menatap tajam Taekwoon dengan dahi yang berkerut marah. Taekwoon menatap kesekeliling, tepatnya kepada semua pekerja rumah yang bahkan pura - pura tidak melihat apa - apa.
"Apa yang kau lakukan" bisik Hakyeon sambil mencubit lengan Taekwoon yang masih mengalung indah dipinggang rampingnya.
Taekwoon melirik beberapa orang yang masih mengamati mereka berdua. Bibir itu berdecak sebal, dirinya sadar bahwa orang - orang itu mengganggu romance nya bersama sang Kekasih.
"Hwaaaaa! Taek..Taekwoon!" Hakyeon memeluk leher Taekwoon erat saat tubuhnya dibopong mesra. Dengan wajah merahnya Hakyeon hanya bisa menyembunyikan kepalanya dileher Taekwoon.
"Lepas Taekwoon-ie, aku malu"
Taekwoon acuh saja mendengar perintah Hakyeon dan dengan santainya dia membawa Hakyeon pergi dari sana tanpa membiarkan Hakyeon turun dari gendonganya. Dengan perlahan dan pasti Taekwoon melangkah naik menuju kamar Hakyeon.
KLEKK
Taekwoon menutup pintu kamar secara perlahan, sebelum melanjutkan langkahnya mata tajam itu melirik Hakyeon yang masih memeluk leher Taekwoon.
"Kau, darimana saja ?" ucap Taekwoon mulai terdengar dingin dan ketus.
Hakyeon mengangkat kepalanya. Dalam posisi ini Taekwoon dapat melihat dengan sangat jelas bagaimana pahatan indah Tuhan yang ada didepannya ini. Begitu manis, polos dan...
"Sexy"
"Kau bilang apa ?"
Taekwoon tersenyum jahil melihat mata Hakyeon yang bergerak gusar. Dia mendekatkan bibirnya sangat dekat dengan bibir Hakyeon hingga nafas mereka bertabrakan dan menggumpal menjadi satu.
"Kau menggiurkan, Cha Hakyeon"
Hakyeon meneguk air liurnya dengan kasar, entah apa yang membuatnya sangat gugup seperti ini. Bahkan dia merasakan, sesuatu yang terasa kenyal dan basah bermain - main dileher jenjangnya.
"Woon.." Tangan Hakyeon berpegangan erat pada kedua bahu bidang Taekwoon.
Taekwoon dengan kegiatannya yang terus mencium, menghisap bahkan memberikan kiss mark pada leher Hakyeon itu, mulai melanjutkan langkahnya membawa Hakyeon menuju kasur king size di depannya.
"Euuungghh" Hakyeon mengangkat kepalanya keatas dengan mata terpejamnya itu. Dia merasakan miliknya sudah mengeras di bawah. Taekwoon bahkan sangat pintar membuat Hakyeon horny.
Dengan perlahan Taekwoon membaringkan Hakyeon diatas kasurnya. Dia mulai naik keatas kasur sambil melepas kancing kemejanya satu persatu.
"Woonie,"
"Aku diatasmu" Taekwoon menggapai tangan Hakyeon yang berusaha meraih dirinya. Hakyeon tersenyum tenang mengetahui Taekwoon masih berada didekatnya, dia menarik lengan Taekwoon agar semakin dekat denganya dan dirinya dapat memeluk tubuh kekar itu
"Aku mencintaimu" ucap Hakyeon pelan tepat ditelinga Taekwoon. Kedua mata Taekwoon menatap lembut mata indah milik Hakyeon, senyum itu merekah bersamaan dengan lengan panjangnya yang memeluk erat tubuh mungil Hakyeon, memeluknya dengan sangat erat, memeluknya dengan harapan selalu bersama namja yang sangat dia cintai ini.
"Kau milikku, Hakyeon"
Kepala Taekwoon bergerak menuju belah bibir Hakyeon, perlahan dia mendekatin bibir itu tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Hakyeon, dengan lengan yang masih erat mendekap tubuh sang kekasih. Meski dia tau, Hakyeon tidak bisa melihatnya, tidak bisa melihat bagaimana ekspresi bahagianya ketika melihat Hakyeon, bagaimana ekspresi nakalnya ketika bersama Hakyeon. Dan bagaimana matanya tidak pernah berhenti melihat Hakyeon. Namun Taekwoon tau Hakyeonnya ini mampu melihat perasaan, cinta dan ketulusanya.
kedua bibir itu saling bertautan meresapi nikmatnya kehangatan bibir keduanya. Mereka menutup matanya dengan kecupan yang semakin lama semakin liar. Hingga hisapan demi hisapan membuat bibir Hakyeon menjadi biru kemerahan. Namun itu tidak membuat mereka menyudahi cumbuan malam ini. Dengan tangan yang sibuk membuka balutan pakaian satu demi satu yang mereka kenakan, tanpa perlawanan, Hakyeon mempersilahkan kekasihnya itu untuk membuka area dimana adik kebangaanya selalu bersembunyi. Dan sekarang Taekwoon akan membangunkan kebanggaan Hakyeon tersebut.
"Taek..taekwoonie"
"Hmmm"
"Bukan..kah ini...ti..tidak adil"
Taekwoon menghentikan tangannya yang hendak melepas kain terakhir milik Hakyeon.
"Kau...kau melihat aku, ta..pi aku tidak bisa.."
Taekwoon tersenyum geli melihat wajah merah Hakyeon. Dia mengerti kenapa Hakyeon mengatakan itu.
"Kemari" Taekwoon menarik perlahan kedua tangan Hakyeon, meletakan tangan itu pada wajah rupawanya.
"Sentuhlah, lihatlah semuanya. Aku akan memulai ketika kau sudah puas dengan tubuhku"
"Eehh" Wajah Hakyeon semakin memerah malu.
"Men...menyentuh semua?"
"Iya,, sayang. Sentuh semuanya~~"
Hakyeon hanya terdiam dengan air liurnya yang sudah tergenang berat ditenggorokanya. Entah setan apa yang merasukinya, belum sempat dia meraba Taekwoon, tapi pikirannya sudah berimajinasi semaunya sendiri, yang dia pikirkan adalah sesuatu yang sangat besar bergelantung disana. Sungguh kotor otaknya.
"Ak..aku"
"Perlahan" Taekwoon menuntun tangan milik Hakyeon untuk menjamah dirinya. Dia menggerakan tangan itu mengenali bagaimana wajah tampan Taekwoon.
"Masih ingat ?"
Hakyeon tersenyum menatap kedepan. Membayangkan saat pertama kali dia menyentuh wajah tampan ini, menyentuh kedua mata tajam Taekwoon, hidung mancung itu dan bibir yang terus menyebut namanya, bibir yang membuatnya kecanduan.
"Kau sangat tampan Taekwoon"
"Apa yang kau bayangkan? aku tidak percaya yang ada di pikiranmu itu benar - benar wajahku"
Hakyeon tertawa renyah mendengar perkataan Taekwoon. Tentu dia tau apa yang dia bayangkan tidak selalu nyata. Karena dia tidak bisa melihat dan hanya menggambarkan apa yang dia sentuh. Ibarat hewan selalu menggunakan insting.
"Aku yakin..kau pasti lebih tampan dari ini" senyum manis Hakyeon terpatri sangat indah disana. Taekwoon hanya mampu mengabadikan senyum itu tanpa niat untuk merusaknya.
CUPPP
Bibir Taekwoon mendarat mulus begitu saja tepat pada bibir ranum Hakyeon.
"Itu hukuman jika kau menggodaku"
"menggoda pantatmu! emang dasarnya kau ini mesum, dasar Jung sialan"
"Tapi kau suka kan" sindir Taekwoon dengan senyum andalannya.
Dalam beberapa detik saja sebuah tangan yang tadinya mengusap lembut wajah tampan Taekwoon kini mencubitnya dengan sebal. Walaupun begitu, kedua bibir itu tidak berhenti untuk terus tersenyum.
Dalam senyum yang tetap tergambar indah di wajah Hakyeon, dia tetap melanjutkan sapuan tangan mungilnya pada ujung wajah Taekwoon, dan sekarang tangan itu beralih menyapu halus leher milik Taekwoon.
Hakyeoon hanya menatap kedepan dengan bibir yang digigit dan air liur yang terus saja ia telan secara paksa.
"Kau mau ?" tanya Taekwoon menggoda.
"Aku, tidak bisa"
SRAAAKK
Taekwoon membalikan tubuh Hakyeon, hingga posisi mereka bergantian. Dimana Hakyeon kini berada diatas Taekwoon.
"Aku tidak akan mendominasimu, aku ingin kau juga menikmatinya"
Hakyeon meneguk liurnya kesekian kalinya dengan tatapan entah apa itu, karena dia hanya menatap kedepan dengan bibir yang terus dia gigit.
"Kemari" Taekwoon menarik perlahan kepala Hakyeon mendekati lehernya yang terekspos secara nyata. Jika pun Hakyeon dapat melihat dia pasti sudah melahap leher itu tanpa disuruh, itupun seandainya dia bisa melihat, nyatanya untuk mengetahui dimana letak leher Taekwoon pun Hakyeon harus merabanya terlebih dahulu.
Hakyeon mengendus leher Taekwoon secara bertahap, menciumi aroma khas yang menguar dari tubuh Taekwoon. Sekarang dia akan kecanduan dengan aroma ini. Bagaimana tidak, kedua mata itu akhirnya terpejam dan bibirnya mulai mengecup leher itu dengan nikmatnya. Kecupan demi kecupan terus Hakyeon lakukan dari leher atas Taekwoon hingga leher bawahnya dan dilakukan berulang - ulang. Bahkan lidah nakal Hakyeon sudah mampu bermain diarea leher itu tanpa memperdulikan Taekwoon yang mulai menahan geli dan nikmat secara bersamaan. Hakyeon terus mencium, menghisap dengan kuat setiap inci leher Taekwoon, memberikan tandan merah.
"Aaaahhh~~! Cu..kupp Hak..yeon" Taekwoon berusaha mendorong bahu Hakyeon dari atas tubuhnya, walaupun dia memberi izin untuk mencumbu lehernya. Tapi Taekwoon tidak memberi izin Hakyeon untuk mendominasinya, dia yang harus membuat Hakyeon mendesah berulang kali, bukanya dia.
"Hakk..aaahhhh..hentikann~~!"
Hakyeon menggigit leher Taekwoon dan menciuminya hingga bibir itu menjelajah kembali keatas dan semakin keatas, bertemu dengan bibir Taekwoon yang terus saja mendesah nikmat. Sepertinya Hakyeon sudah semakin menguasai permainan, tanganya bahkan bermain - main dengan nipple Taekwoon yang semakin tegang, mempelintirnya dengan gemas dan menarik ulurnya seperti karet mainan.
"Aaahhhh~~!"
SRAAAKKK
BRUUK
Taekwoon membalikan tubuh Hakyeon secara kasar, kembali keposisi awal dimana Taekwoon diatas dan Hakyeon dibawah.
"Kau brengsek Hakyeon" Taekwoon menahan kedua tangan Hakyeon dengan sebelah tangannya diatas kepala Hakyeon.
Hakyeon menatap kedepan dengan mulut terbuka dan nafas terengah - engah.
"Woonie~~~" guman Hakyeon dengan suara desahannya.
Taekwoon yang melihat Hakyeon bergairah seperti itu membuat sel sel tubuhnya menjadi panas, dan kepalanyapun mulai terasa pening.
"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu" Taekwoon menatap seluruh tubuh Hakyeon dari atas hingga kearea perut yang dia duduki.
"Aku yang melakukannya" Tanpa menunggu jawaban dari Hakyeon, Taekwoon langsung menciumi leher jenjang Hakyeon, menghisapnya kuat dan menjilatnya hingga kearea dadanya. Sebelah tangan Taekwoon mulai merogoh bagian bawah Hakyeon yang tampa perlindungan itu. Bibirnya menghisap dan menggigit gemas nipple Hakyeon secara bergantian, membuat Hakyeon serasa mendapatkan service bertubi - tubi, suara desahan keluar terus - menerus dari bibir Hakyeon dan terdengar semakin erotis.
"Aaahhhh emmbh Woon-aahh nghh"
"Taekwoonghh ngggghh aaah"
"Aaaahhh!" Hakyeon memekik saat sesuatu yang aneh memasuki area bawahnya.
"Ap..apa yang kau lakukan ?"
Taekwoon menarik tangannya dari bagian bawah Hakyeon. Kedua jarinya dia masukan kedalam mulut hingga benar - benar basah oleh air liur.
"Tenang Hakyeon ini tidak akan sakit"
Taekwoon mulai memasukan kedua jarinya kedalam hole Hakyeon, dia mengangkat kedua kaki Hakyeon dan diletakan dipundaknya. Dengan perlahan kedua jari Taekwoon masuk kedalam hole kekasihnya itu, membuat tubuh Hakyeon tersentak kaget menerima adanya benda asing yang masuk kedalam tubuhnya.
"AAAKHH~~! Sakiitt" Hakyeon meronta merasakan nyeri dibagian bawahnya, ini pertama kalinya dia melakukanya. Dan rasanya sangat sakit dan aneh.
"Lep...askan Woon!"
"Rileks Hakyeon, kau akan merasakan nikmat setelah ini" Taekwoon menarik tanganya kembali, dan mengangkat kaki Hakyeon lebih tinggi, hingga kepalanya dapat mendekati hole milik Hakyeon.
SLUUUURRP
"Aaahhh.. Woon-ie...nggghhh yang kau enggghhh lakukan, aaahhh" Hakyeon menggeliat nikmat merasakan sesuatu yang basah nan lengket menyapu hole miliknya.
SLUUUURPP
SLUUUURRP SLUUUUURP
"Aaahhhhhh ennggghh Woonieh.. nggghh"
"Woonnnhh aaahhhh .."
Taekwoon mengangkat kepalanya dan mendekatkan pinggulnya dengan pinggul Hakyeon. Disana Hakyeon telah basah dengan peluh yang bercucuran, kedua matanyapun sudah mulai terlihat lelah dan bibirnya yang terus memasok udara kedalam paru - paru. Mungkin bagi kita itu akan terlihat menyedihkan tapi bagi Taekwoon, Hakyeon terlihat sangat sexy dan menggoda.
"Tahan sedikit, aku akan masuk."
Mata sendu seperti tengah menatap memohon kepada Taekwoon yang sedang melakukan sesuatu dengan sebuah benda dibalik tanganya. Dan seketika itu kedua mata Hakyeon membulat dengan uratan kepala yang tampak ingin keluar.
"AAAAAAAAAKKKHH!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sampai besok"
"Sampai jumpa, hati - hati dijalan"
"Hati - hati, selamat malam"
Para pegawai Starlight Cha Company tengah berhamburan keluar perusahaan dengan tas kerja dan baju yang tampak sudah tidak rapi lagi, bahkan wajah mereka pun terlihat sangat kacau dan berantakan. Mungkin hari ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka. Begitu juga Kim Wonshik. Salah seorang dari pegawai perusahaan ini, dengan tas yang dipanggul kebelakang, dia terus saja menghela nafas sambil meregangkan otot - otot lehernya.
Wonshik berjalan dengan lesu melewati gerbang perusahaan, yang hampir tertutup itu. Seharusnya memang sudah ditutup pada pukul 10 malam, namun karena ada suatu masalah maka seluruh pegawai harus lembur hingga tengah malam. Dan itu berlaku pula untuk Wonshik yang hanya menjabat sebagai pegawai biasa.
"Yo!"
Wonshik berhenti dan melirik malas kearah kanannya, memastikan siapa seseorang yang memanggilnya ditengah malam begini. Kedua mata Wonshik langsung cerah, begitu melihat siapa orang yang baru saja memanggilnya. Dengan cepat dia menghampiri namja yang tidak berada jauh darinya.
"Hyung-nim, apa yang kau lakukan disini"
"Habis dari minimarket. Eoohh, ada apa dengan wajahmu?" Namja yang dipanggil Hyung-nim ini, mengusap pelan dahi Wonshik hingga ke pipinya memastikan jika temannya ini tidak apa - apa.
"Hanya lelah." Wonshik menghela nafasnya berat seraya menempelkan lebih dalam wajahnya dengan telapak tangan Jaehwan yang terasa hangat tersebut. "Eohh.. kebetulan sekali" teriak Wonshik ketika matanya menemukan beberapa botol bir didalam kantong plastik yang dibawa Jaehwan.
"Kau mau ?" tanya Jaehwan kepada Wonshik yang hanya tersenyum dengan alis mata yang dia naik - naikan secara bertempo dan terlihat sangat menggemaskan.
"Baiklah, kita bisa mampir diwarung pinggiran. Aku juga lapar"
"Kajja kajja." dengan semangat Wonshik langsung menarik lengan Jaehwan dan berjalan pergi meninggalkan gedung perusahaan yang mulai sepi itu.
Tidak berjarak jauh, hanya 10 menit dari perusahaan tempat Wonshik bekerja mereka sudah menemukan sebuah warung yang tampak lumayan ramai pengunjung. Mereka masuk dan memilih tempat dibarisan belakang.
"Ahjumma dagingnya 2 porsi" teriak Jaehwan dari meja mereka.
"Hyung-nim, ramyunnya"
"Ramyun juga satu Ahjumma"
"Soju Hyung-nim"
"Soju juga Ahjumma"
"Eoh, Sup tu..."
PLAAAAKK!
"Kau pikir aku siapa kau suruh - suruh" Jaehwan memukul na'as kepala Wonshik dengan telapak tangannya.
"Kan sekalian Hyung~" ucap lemas Wonshik sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Eoh iya, tidak biasanya kau pulang larut"
"Larut ? Ini bahkan sudah tengah malam" Wonshik melepaskan jasnya dan meletakanya dikursi sampingnya yang masih kosong. Dengan kemeja putih yang kedua kancing atasnya terbuka itu, rambut yang berantakan, lengan kemeja yang di gulung hingga sikutnya membuat Wonshik tampak sangat keren dan tampan.
"Apa ada masalah ?"
"Iya, masalah besar. Dan hari ini sang bintang utama dengan sang kekasih tercintanya tidak hadir. Sekarang siapa yang harus menyelesaikannya ? Pegawai juga"
"Maksudmu Cha Hakyeon ?"
"Siapa lagi "
"Silahkan" Seorang Ahjumma menghampiri mereka dengan beberapa makanan dinampan yang dia bawa dan meletakan makanan tersebut diatas meja.
"Kamshahamnida Ahjumma" ucap Jaehwan yang mulai meletakan potongan daging, diatas panggangan. "Memang dia kemana ?"
"Siapa ? Cha Hakyeon. ?"
"Siapa lagi"
Wonshik sontak menatap sebal Jaehwan yang masih asyik memanggang daging itu.
"Entahlah, mungkin sedang kencan dengan Taekwoon Hyung"
"Kencan ? Mereka pacaran ? Bukahkah dia sedang menyamar sebagai adiknya ?"
"Hakyeon sudah tau jika Taekwoon Hyung bukan adiknya"
Jaehwan terdiam dan menatap Wonshik dengan pandangan "tolong jelaskan"
"Itu yang aku katakan tadi pagi Hyung-nim. Taekwoon Hyung bilang akan mengungkapkan siapa dirinya dan mengakhiri sandiwara ini. Kalau seandainya Taekwoon Hyung tidak menyukai namja itu, pasti uang masih mengalir pada kita ?"
"Aigoooo! Tamatlah" Jaehwan mambanting sumpitnya secara kasar dan menenggelamkan kepalanya pada lengan yang dia letakan diatas meja. "Bagaimana kalau dia tau kita sengaja memerasnya. Aku bisa habis dipenjara"
Wonshik menatap sendu Jaehwan yang tampak sangat panik itu, dia tahu ide pemerasan kemarin bukanlah milik Jaehwan namun miliknya. Jikapun dia tidak mengajak Jaehwan untuk memeras Hakyeon mungkin dia tidak akan takut seperti ini.
"Hyung-nim aku punya ide"
Jaehwan mengangkat kepalanya lemas, dan menatap Wonshik yang tengah mengotak atik layar ponselnya.
"Kita bisa memanfaatkan mereka" Wonshik memperlihatkan sebuah foto yang terdapat didalam ponselnya kepada Jaehwan.
Jaehwan hanya menatap tajam foto itu kemudian kembali menatap Wonshik yang tersenyum dengan smirk andalanya.
"Siapa mereka ?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Eunnghh aahhh aahhh... Wonnhh aaahh ahh"
"Aahhhh Hakyeoonn kau aaahhhh, sempiith eooh"
Ruangan seluas ini penuh dengan desahan nikmat kedua namja yang tengah bercinta melepaskan nafsu cinta kasih mereka. Dengan dorongan pinggul yang semakin cepat itu Taekwoon terus menggenggam tangan Hakyeon yang tengah menutup matanya dengan teriakan seksinya.
Pertama kali bagi mereka bersetubuh dengan seseorang terlebih lagi seorang namja. Siapapun yang mengetahui mereka melakukan perbuatan kotor ini pasti akan menganggap mereka menjijikan dan aneh. Namun bagi orang yang mengerti arti cinta yang sesungguhnya, seperti apapun wujud dan jatidiri mereka. Manusia tetap mempunyai hak untuk memilih siapa cintanya dan kewajiban kita hanya memberi mereka tempat tanpa mengolok - olok mereka.
"Oohh eoohh. Woon aaahh woonieehh ahhh"
Taekwoon terus saja menubrukan pinggulnya pada butt Hakyeon. Hingga menimbulkan suara gesekan kulit mereka, spray yang tadinya rapi kini sudah kacau kemana - mana. Hingga Hakyeon yang dalam posisi tungkerap itu terus meremas busa kasur hingga tanganya memerah. Namun mulut manisnya tidak berhenti untuk mengucapkan desahan dari nikmat bercintanya dengan Taekwoon.
Taekwoon menghentikan sesaat kegiatan dan berpindah posisi. Kini dirinya yang berada dibawah sedangkan Hakyeon berada diatas Taekwoon.
"hahh hahh. woonnh ahh"
"Aku lelahh aahh hahh. haahh. Kau bergerak..aahhlahh.. milikku semakin berkedut aahhh bergerakk ahhhh lah"
"Haahhh aaaahhhh ahh eooh." Hakyeon menggerakan tubuhnya keatas dan kebawah secara perlahan. Mencoba irama pelan agar dia terbiasa. Namun hal itu malah menbuat Taekwoon sakit. Dengan tidak sabar kedua tangan Taekwoon membantu Hakyeon untuk bergerak dengan cepat.
"Faster Yeon-ieehh aaahhh ahhh sepertiiihh ituuhh"
"Ahhh ahh ahh Woon aahh. akuu ahhh mauu aahhh ahh keluar woon, ahh"
"Ber..aaahhh samaahh Yeonie"
Gerakan Hakyeon menjadi semakin cepat, dan membuat kedua mata mereka tertutup sangat rapat dengan kepala yang menghadap keatas. Mereka sama - sama menikmati sensa nikmat yang benar - benar sangat menyenangkan. Hingga kedua nya merasakan pandangan mulai kabur dan sesuatu keluar begitu banyak dari milik mereka masing - masing.
"TAEKWOOONAAAAAHH~~"
"HAKYEONAAAAAAHHHHH~~"
Mereka berdua berteriak melepaskan nikmat bersamaan, dan disini kegiatan bercinta mereka berakhir. Dengan Hakyeon yang langsung ambruk ditubuh Taekwoon yang terlentang dihadapanya. Peluh sama - sama bercucuran dari tubuh mereka. Membuat mereka sama sama lengket dan sangat panas. Cairan yang mereka keluarkan pun menjadi satu dengan tubuh mereka. Milik Taekwoon yang dikelurkan didalam hole Hakyeon, dan milik Hakyeon yang ditumpahkan begitu saja diatas tubuh Taekwoon.
"Hahh hahhh..Tidurlah Yeonie hahh hahh" ucap Taekwoon sambil mengusap rambut Hakyeon yang basah akan keringat.
Hakyeon hanya menganggukan kepalanya, dan masih berusaha mengatur nafasnya yang terengah - engah. Hakyeon bergerak hendak turun dari tubuh Taekwoon dan berpindah disamping Taekwoon.
"Oouuuhh!" pekik Taekwoon saat dia merasa miliknya kembali berkedud. "Miliku, aahh belum keluar Hakyeon"
Hakyeon meneguk air liurnya secara paksa. "Maaf Woonie"
"OUUHHH! kenapahhh aahhh, kau, bergerak lagi"
"Aku hanya ingin menyingkir dari tubuhmu" ucap Hakyeon panik mendengar desahan kembali keluar dari mulut Taekwoon.
"Milikku terangsang Hakyeon... kau harus tanggung jawab"
"Tidak.. Woonie aku lelah.."
"Oouhhh Yeoonn ahhh berhenti bergerak"
BRUUKKK
"Taekwoon... apa yang..aahh ahh woon ahhh cukk..uuup ahh ahh",
"Ahhh ahh satu ronde lagi yeonieehh aahh"
Dan begitu, kegiatan mereka kembali berlanjut karena ulah Hakyeon sendiri. Mungkin hari esok Hakyeon tidak akan bisa berjalan dengan baik atau bahkan dia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.
.
.
.
.
Matahari telah menunjukan dirinya kembali untuk menerangi Bumi dimana manusia berpijak dan melakukan kehidupanya masing - masing. Begitu juga kedua insan Tuhan yang masih tidur berpelukan dengan selimut yang menutupi tubuh bugil mereka. Salah satu dari mereka mengangkat tanganya berusaha menutupi matanya dari sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela. Taekwoon, membuka sebelah matanya, membiaskan dirinya dengan cahaya pagi. Dia bergerak perlahan untuk merasakan bahwa nyawanya sudah benar - benar kembali sepenuhnya didirinya. Bibir itu tersenyum ketika menatap sesosok malaikat yang tertidur pulas disampingnya dengan wajah berantakan dan terlihat lelah tersebut.
"Kau pasti sangat lelah". Gumam Taekwoon seraya mengusap lembut wajah Hakyeon yang sangat dia sukai itu.
"Tentu saja bodoh".
Taekwoon menatap ngeri Hakyeon yang tiba - tiba membuka matanya. Namun dengan segera dia rengkuh tubuh itu dalam pelukanya.
"Maafkan aku.. Itu karena aku sangat mencintaimu"
"Itu karena kau sangat mesum Tuan Jung"
Taekwoon tersenyum mendengar jawaban sebal Hakyeon. Bagaimanapun dia sangat mencintai namja yang berada didalam pelukanya ini. Matanya melirik Hakyeon yang bergerak mencari kenyamanan didalam pelukan Taekwoon.
"Yeonie"
"Hmmm"
"Operasi itu, apa kau tidak ingin melakukannya ?"
Hakyeon hanya terdiam dalam pelukan Taekwoon.
"SangHyuk bilang, operasi itu sangat penting, dia bilang jika pun kau tidak ingin melakukannya, sebaiknya matamu diambil Yeonie"
"Aku ... akan melakukannya Woonie.. Jika Jisooku sudah ketemu"
"Kita tidak tau kapan dia kembali. Kau membahayakan nyawamu sendiri",
Hakyeon menggelengkan kepalanya perlahan, dan pelukanya kepada Taekwoon semakin erat. "Kau tidak mengerti Taekwoon"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah rumah yang tampak sederhana dengan beberapa tanaman yang menghiasi halaman rumah itu dengan berdiri kokoh berdekatan dengan rumah - rumah lain yang hampir sama bentuk dan arsitekturnya. Namun sedikit berbeda, rumah ini memiliki nama marga dipintu gerbangnya yang bertuliskan "Keluarga Park". Papan nama yang terukir dari kayu tersebut dengan kilauan warna coklat yang terlihat elegan, menggambarkan keluarga seperti apa yang tinggal didalam rumah ini.
Sebuah motor besar dengan dua orang yang berada diatasnya berhenti tepat didepan rumah tersebut. Sang pengemudi motor melepas helm dari kepalanya, kilauan pirang rambutnya bersinar saat sinaran matahari mengenai rambut halusnya itu. Jaehwan dan Wonshik telah berada disebuah rumah seseorang yang mereka bicarakan semalam. Wonshik turun dari motor dan menatap kedepan, tepatnya pada rumah yang ia tuju.
"Yakin ini rumah mereka ?"
"Hmm.. alamatnya sih benar, tidak mungkin salah"
"Tapi...sederhana sekali"
"Coba kita masuk" Wonshik berjalan terlebih dahulu dengan memberi isyarat tangan kepada Jaehwan untuk turun dari atas motor.
Jaehwan meletakan helm nya diatas motor dan menyusul Wonshik yang sudah berada didepan pintu gerbang rumah tersebut.
"Ya! kenapa masuk kerumah orang seenaknya. Disinikan ada bel"
Wonshik menarik Jaehwan yang membuka gerbang rumah itu sesuka jidatnya sendiri. Dia bahkan melihat bel menempel disamping gerbang namun Jaehwan malah mengacuhkanya.
"Salah siapa gerbang mereka tidak dikunci"
"Tapi kita tetap harus menjaga etika.."
"Sejak kapan kau mengutamakan etika jika awalnya semua ini adalah rencanamu," Sindir Jaehwan dengan senyum mengejeknya sambil menatap Wonshik yang hanya terdiam mendengar ucapan Jaehwan tadi.
Wonshik lantas mengikuti Jaehwan yang sudah berdiri didepan pintu rumah, dia menoleh kearah Jaehwan yang sedang berfikir.
"Ada apa Hyung-nim ?"
"Apa kau yakin mereka mau berkerjasama dengan kita ?"
Wonshik membalas Jaehwan dengan senyuman mengejek sama seperti yang Jaehwan lakukan kepadanya.
"Hyung-nim, orang licik pun masih punya etika. Lihat baik - baik bagaimana aku menangkap umpanku"
"Umpan ?"
TING TONG TING TONG
TING TONG TING TONG
Wonshik menekan bel pintu dengan perasaan percaya dirinya. Tidak berlangsung lama, pintu rumah tersebut terbuka dari dalam dan muncul seorang yeoja dengan rambut yang diikat keatas.
"Mencari siapa ?" tanya yeoja itu menatap curiga Wonshik dan Jaehwan yang berdiri didepannya.
"Kau Park Seojin ?"
Yeoja yang ditanya Wonshik hanya terdiam dengan dahi yang berkerut itu. Dan tiba - tiba saja seseorang dari dalam rumah ikut kedalam pembicaraan mereka bertiga.
"Ada apa Nuna ?" tanya namja itu.
"Aku Kim Wonshik dan ini Lee Jaehwan temanku. Kami ingin membicarakan tentang Starlight Cha Company"
"Dia yang menyuruh kalian datang ? Aku tidak akan berhenti sebelum membalaskan dendamku, katakan itu padanya"
"Kita memiliki tujuan yang sama"
Seojin dan Hongbin terdiam mendengar pernyataan mengejutkan dari Wonshik.
"Biarkan kami masuk dan kita bisa membicarakan ini"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TOK TOK
"Sajang-nim, anda sudah bangun"
Hyuk mengetuk pintu kamar Hakyeon secara perlahan, berharap sang majikan sudah bangun sehingga dia tidak menggagu tidurnya.
Tidak lama pintu kamar itu terbuka. Sosok yang sekarang sedang berdiri didepan Hyuk dengan bertelanjang dada dan rambut acak - acakan itu membuat Hyuk mengeryitkan dahinya.
"Apa yang kau lakukan disini !"
Dengan mulut yang menguap Taekwoon membuka pintu kamar itu semakin lebar. "Dia masih tidur".
Hyuk mengarahkan pandanganya pada kasur king size yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pandanganya. Dan benar saja, disana ada seseorang yang masih tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan"
"Kenapa kau selalu menatapku seperti itu ? Sampai kapan kau akan terus membenciku ?"
"Sampai kau keluar dari rumah ini" ucap Hyuk dingin dengan tatapan tajamnya kepada Taekwoon. "Minggir" Hyuk masuk begitu saja kedalam kamar mendekati kasur dimana Hakyeon sedang terlelap.
"Dia lelah, biarkan dia tidur" Taekwoon menarik lengan Hyuk, namun Hyuk menampik keras tangan Taekwoon.
"Berita ini sangat penting baginya" Hyuk melanjutkan langkahnya dan mendekati Hakyeon yang masih terlelap. "Sajang-nim" ucapnya perlahan sambil menyentuh tangan Hakyeon pelan. Hakyeon hanya bergerak dan terlelap lagi. "Sajang-nim"
"Nnggghh" Hakyeon membuka matanya secara perlahan dan menutupnya kembali, namun dia tidak tertidur. Dia tau siapa yang ada didepannya.
"Ada apa Sekretaris Han ?"
"Kami menemukanya Sajang-nim..."
"..."
.
.
.
"Cha Jisoo. telah ditemukan"
Tbc
.
.
.
.
.
Chapter 5 Up ^^
Maaf updatenya kelamaan, habis Ujian sama sibuk tugas hehehe
Mungkin akan jarang update karena lagi sibuk sama makalah, tapi akan aku usahain update kok, jadi nggak akan gantung ^^
Eeoh iya, selain ada sesi menanggapi review. Aku juga adakan sesi tanya jawab. Setiap update aku akan kasih satu pertanyaan untuk reader. Dan sebaliknya, saat review reader juga bisa bertanya, tapi pertanyaan yang berhubungan dengan kisah selanjutnya atau akhir cerita nggak akan aku jawab. ^^
Jadi pertanyaan yang aku berikan adalah "Karakter Siapa yang paling reader sukai di cerita ini ?, beserta alasan yah ^^"
Okee. Langsung ke-review aja ya :3
[emma] Hahaha kemarin tindih - tindihan, sekarang udah main tidur - tiduran tuh .. yang penting raken enggak PHO #lirikJisoo XD
[Guest] Yah, dia pasrah :"D kaya Hakyeon aja,, salalu pasrah sama Taekwoon
[Hanaakang] Incest ? :/ Biar aku rembuk dulu sama Taekwoon boleh enggak Taekwoon dibagi ^^ tapi seru juga kalau incest XD
[Hakyeon Jung] LeoN dibanyakin ? Siaapp lah eon, udah sampai kasur juga tuh momentnya XD wkwkw Ntar deh dilihat bagaiman takdirnya Jisoo hehehehe. Mungkin bisa tuh sama eonni XP
[TJungN] Aduuuhh nih udah aku kasih obat LeoN nya hehehe.. Waaahh perasaan Taekwoon terwakili sama chingu nih, sepertinya nggak rela yah Hakyeon dibagi XD
[Kim Eun Seob] Maaf updatenya lebih lama eon, Jisoo belum diceritain disini, masih diamanin dulu dia biar tenang wkwk...Nah tuh yang mau jahatin Hakyeon bergabung jadi satu grup XD
[GaemGyu92] Hongbin Sojin pastinya mau jahat tuh sama Hakyeon butuh perlindungan dia hehehe.. Kasian juga kalau dilihat nasibnya Jisoo disini, apes banget hohoho
[HMYGrey] Yaaaahhh TBC lagi hehehe, aduuuh sad atau happy yah hehe, ditunggu aja endingnya chingu ^^
Jangan lupa review dan terimakasih sudah mampir. Sampai ketemu dichapter selanjutnya.
N-nnyeeoooooongg~~~~
