Brother
LeoN
Hakyeon, Taekwoon, Jisoo
Hyuk, Wonshik, Jaehwan
Hongbin, Sojin
Yaoi
M
Romance and Hurt
.
.
.
.
.
.
.
"Ada apa Sekretaris Han ?"
"Kami menemukanya Sajang-nim..."
"..."
.
.
.
"Cha Jisoo, telah ditemukan"
......
Sebuah mobil hitam mewah berhenti disebuah desa tepatnya didepan rumah yang sangat sederhana. Kita sudah tau rumah milik siapa ini, seseorang yang telah dicari bertahun tahun oleh Hakyeon, adik tersayangnya yang hilang saat kecelakaan terjadi.
"Kita sudah sampai Sajang-nim" Hyuk mematikan mesin mobil dan berniat hendak keluar.
"Sekretaris Han"
"Iya Sajang-nim" Hyuk menengok tepat dibelakang dimana Hakyeon tengah duduk dengan Taekwoon.
Hakyeon terdiam dengan dahi berkerut cemas. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan kegugupannya sendiri.
"Hakyeon" panggil Taekwoon pelan sambil menggenggam tangan Hakyeon yang tengah bergetar hebat.
Hakyeon masih terdiam, dia meneguk kasar liurnya dan bernafas berat. "Jisoo,, tidak ingin pulang kan ?"
"Mereka bilang seperti itu, makanya saya membawa anda untuk mengajaknya sendiri. Mungkin jika Hyung nya yang berbicara, Tuan Jisoo akan tergerak hatinya"
Hakyeon kembali meneguk air liurnya. "Apa...karena aku buta ?"
"Hakyeon" Taekwoon mengeratkan genggamannya pada tangan Hakyeon. "Kau tidak akan menyia - yiakan kesempatan ini bukan. Bertahun - tahun kau mencarinya, Jisoo, dia ada disana."
"Aku takut... dia tidak akan menerimaku"
"Hei" Taekwoon menangkup wajah Hakyeon, menghadapkan padanya agar dia dapat melihat kedua bola mata indah kekasihnya itu. "Hakyeon yang ku kenal tidak seperti ini. Dimana semangatmu saat mencari Dongsaengmu. Kau sudah menemukannya dan akan membiarkannya pergi untuk kedua kalinya ?" Taekwoon melihat kecemasan dimata Hakyeon sekarang, dia tau kekasihnya tidak begitu sanggup untuk bertemu dengan Jisoo. "Yeonie," tangan itu kembali menggenggam kedua tangan Hakyeon. "Jemputlah Dongsaengmu. Jadilah Hyung yang baik. hmmm"
Hakyeon tersenyum mendengar ucapan dari Taekwoon. Dia merasakan sesuatu yang dia butuhkan dari Taekwoon. Sesuatu yang tidak dimilikinya. "Woonie," Hakyeon membalas genggaman milik Taekwoon. "Temani aku"
Hakyeon turun dari mobilnya dibantu dengan Hyuk yang selalu sigap membimbing Hakyeon. Dengan sekali hentakan tongkat Hakyeon terbuka, dan dia berjalan menuju rumah yang berada didepannya bersama Taekwoon.
TOK TOK TOK
Taekwoon mengetuk pelan pintu rumah tersebut. Siang hari seperti ini, Taekwoon hanya mengumpamakan bahwa sang pemilik tengah tertidur jadi dia tidak ingin membuat kegaduhan.
Tidak berlangsung lama, seseorang keluar dari rumah itu dan mengamati Hakyeon dan Taekwoon dari atas kebawah.
"Jisoo ada didalam ?" tanya Hakyeon perlahan.
Wanita paruh baya itu tersenyum mendengar pertanyaan Hakyeon. "Kau, Hyung nya ?"
"Iya Ahjuma, saya Cha Hakyeon Hyung Cha Jisoo"
Nyonya Kim mengusap lembut wajah Hakyeon. "Pasti berat untukmu. Dia keras kepala, semoga kau bisa merayunya"
Hakyeon tersenyum mendengar ucapan Nyonya Kim.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu ?"
"Taman bermain" ucap Hakyeon dengan senyum semakin mengembang.
"Aahh iya, bagaimana kau bisa mengingatku.."
"Suara anda..." dia tidak melanjutkan ucapannya, senyum Hakyeon pudar ketika mengingat sesuatu, ingatan ketika dimana dia bertemu dengan Nyonya Kim, dan disitu dia juga bertemu dengan seseorang.
"Jisoo.." Tangan Hakyeon langsung menggenggam erat lengan Taekwoon. Taekwoon menoleh kepada Hakyeon yang tampak terkejut.
"Ada apa Hakyeon ?"
"Ooh iya mari silahkan masuk. Akan aku panggilkan Jisoo" Nyonya Kim masuk terlebih dahulu kedalam rumah meninggalkan Taekwoon yang masih menunggu jawaban dari Hakyeon.
"Woonie, aku pernah cerita denganmu soal Jisoo temanku, bukan ?"
"Iya, ada apa denganya ?"
Hakyeon menoleh kepada Taekwoon yang masih menatapnya penasaran. Dan tiba tiba saja senyum itu terhias begitu indah diwajah manisnya. "Jisoo itu, ternyata adalah Jisoo-ku, Jisoo ini" ucap Hakyeon girang.
Namun berbeda dengan Hakyeon, Taekwoon malah tampak khawatir mengenai ini. Dia memikirkan sesuatu yang akan membuat Hakyeon kecewa nantinya, sesuatu yang akan terjadi dengan Hakyeon dan Jisoo.
Hakyeon dan Taekwoon melangkah masuk kedalam rumah itu, disana Nyonya Kim menyuruh mereka untuk duduk. Taekwoon dapat melihat rumahnya tidak berbeda kecilnya dengan rumah milik Nyonya Kim tersebut, ketika masuk kedalam rumah, sudah terlihat sebuah meja sederhana dan didepannya terdapat sebuah televisi minimalis. Ada 2 pintu lain, mungkin itu adalah sebuah kamar, atau salah satunya adalah kamar mandi. Pikir Taekwoon seperti itu.
Nyonya Kim mendekati salah satu pintu yang paling dekat dengan mereka.
"Jisoo-ya ada tamu untukmu" panggil Nyonya Kim secara perlahan. Tidak ada sahutan dari dalam kamar. "Jisoo-ya, Hyungmu ada disini" Masih tidak ada sahutan dari balik pintu tersebut. Nyonya Kim berbalik dan menatap Taekwoon yang juga tengah menatapnya, selang detik kemudian dia tersenyum. "Dia butuh waktu"
Taekwoon melirik Hakyeon yang hanya menatap kedepan dengan pandangan kecewa. Rasa kecewa karena sang adik tidak ingin menemuinya.
"Hakyeon, sebaiknya kita pulang" Bisik Taekwoon dan menggenggam tangan Hakyeon untuk membantunya berdiri.
Namun, Hakyeon menarik tangannya kembali. "Aku akan menunggunya" Ucap Hakyeon tegas. Bagaimanapun Hakyeon sudah menunggu saat seperti ini bertahun - tahun. Dia tidak bisa membiarkan adiknya pergi darinya untuk yang kedua kali. Sebuah kecelakaan telah merenggut kedua orang tuanya dan membuatnya kehilangan adik tersayangnya. Kali ini, hanya karena sebuah penolakan Dia akan kehilangan adiknya lagi. Hakyeon tidak bisa menerima itu. "Bagaimanapun, dia adikku. Aku harus membawanya pulang"
Taekwoon hanya menatap Hakyeon yang masih menatap kedepan. Bahkan dalam pembicaraan seperti itu Hakyeon selalu menoleh kepada Taekwoon, tapi kali ini tidak. Kedua mata Hakyeon dan pikiran Hakyeon hanya terfokus kepada sang Adik.
"Aku akan menunggu diluar" ucap Taekwoon seraya mengusap lembut rambut Hakyeon. Dan dia berdiri serta membungkuk kepada Nyonya Kim untuk pamit. Meninggalkan Hakyeon yang masih setia duduk disana. Duduk menanti Jisoo.
Taekwoon membuka pintu rumah dan menutupnya kembali. Seperti layaknya manusia biasa dia berjalan menuju mobil yang terpakir tidak jauh dari sana. Dimobil itu Hyuk tengah berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada mobil hitam mewah tersebut. Taekwoon menghentikan langkahnya menatap Hyuk yang langsung berdiri tegap ketika melihat Taekwoon keluar dari dalam rumah.
"Sajang-nim ?" Tanya Hyuk langsung.
"Kita tunggu saja disini"
"Ada masalah apa ?"
Taekwoon melanjutkan langkahnya mendekati Hyuk dan menyandarkan tubuhnya seperti hal yang dilakukan Hyuk tadi. "Dia tidak ingin menemui Hakyeon"
"Astaga. Kenapa bisa seperti itu, bukankah Dia juga tengah mencari keluarga kadungnya ? Setelah tahu Keluarganya, kenapa dia menolak ?"
Taekwoon melirik Hyuk yang tengah mendumel sendiri. Dengan sekejap matanya beralih pada rumah tersebut. Mata itu terpejam. Terpejam memikirkan sesuatu.
"Perasaannya"
Sekertaris Han menoleh kepada Taekwoon yang masih menutup rapat matanya dengan tangan terlipat didadanya.
"Apa maksudnya itu ?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaehwan dan Wonshik duduk disebuah sofa panjang berhadapan dengan dua manusia pemilik rumah itu. Disana telah tersedia dua gelas yang berisi jus jeruk dan beberapa cemilan. Mereka berempat masih terdiam saling menatap satu sama lain.
"Ayo kita berkerjasama" ucap Wonshik memulai percakapan.
Hongbin dan Sojin saling melirik satu sama lain.
"Aku tidak ingin membuat pembicaraan ini tidak bermanfaat. Aku tau masalah dan rencana kalian untuk melawan Starlight Company. Tapi aku katakan saja, rencana kalian tidak berguna" Wonshik menatap kedua mata Sojin yang menatapnya sadis. "Kau pimpinan Girls Day Group kan ? berapa aset perusahaan yang kau miliki ? kau pikir mampu melawan Perusahaan sebesar itu ?"
"Apa yang kau inginkan ?" Sojin mulai berbicara.
Mendengar itu, membuat senyum Wonshik merekah indah. "Kita tidak butuh kekuatan. Kita butuh strategi, kita butuh taktik untuk menjatuhkan rajanya"
"Dia memiliki banyak bawahan, dan banyak perusahaan yang sudah dia kuasai, terlalu banyak sekutu" tutur Hongbin memberi penjelasan.
"Itu kenapa kita butuh strategi. Jika kita menyerang sang raja dengan menjatuhkan pion - pionnya terlebih dahulu, itu namanya bunuh diri. Dan kemungkinan kita menang hanya 0,5%"
"Kenapa kau begitu ingin menjatuhkan Hakyeon ? Apa kalian juga punya dendam ?"
"Kita tidak memiliki dendam apapun. Kita hanya ingin membantumu. Dengan syarat, setelah dendam mu berhasil terbalas, seluruh harta itu akan jatuh pada kami"
"Seluruhnya ?" Tanya Hongbin dengan raut tidak terima. "Aku ingin membuatnya bangkrut, jika kau yang mengambil alih, perusahaan itu sama saja berjaya"
"Tentu saja tidak dengan nama yang sama. Jika Perusahaan itu diambil alih oleh seseorang, tentu dia adalah orang yang akan menikahinya, dengan begitu nama pemilik akan berubah. Dan Perusahaan itu tentu bisa diubah. Sedangkan untuk balas dendammu, kita harus menjatuhkan hatinya, kita bunuh hatinya dengan seseorang yang sangat dia sayangi."
"Yang dia sayangi ?" tanya Sojin. Dia menatap wonshik yang tersenyum begitu angkuh.
"Jung Taekwoon, dia..." ucap Wonshik tegas. Namun, tiba - tiba ucapannya terpotong.
"Bukan" Jaehwan menyela ucapan Wonshik tersebut. Ketiga orang yang disana menatap bersamaan kearah Jaehwan yang sedari tadi hanya mendengarkan ucapan mereka. "Taekwoon adalah orang yang akan dinikahi Hakyeon dalam rencana ini. Tapi untuk orang yang sangat dia sayangi, bukan dia perannya"
"Apa maksudmu Hyung ?"
Jaehwan menoleh kepada Wonshik yang tengah mengerutkan dahinya. "Kau ingat, bagaimana kau membuat Taekwoon bisa masuk kedalam rumah itu ?"
Wonshik tampak berpikir. Beberapa detik kemudian mata itu membulat. "Dongsaengnya"
Jaehwan tersenyum. Dan langsung menatap kedua orang dihadapan mereka. "Dongsaengnya, adalah kunci kemenangan kita"
"Tapi, bagaimana kita menemukannya ?"
"Benar, Hakyeon sudah mencari selama bertahun - tahun. Tapi belum ada jejak sama sekali"
Jaehwan terdiam sejenak, dalam diamnya pikiran itu berkutat. "Wonshik"
Wonshik menoleh kepada Jaehwan, begitu pula Jaehwan. "Disinilah peranmu. Mencari informasi", pinta Jaehwan dengan senyum yang kembali tersemat.
Wonshik masih berpikir dengan ucapan Jaehwan yang terlihat ambigu baginya.
"Tentu saja" Hongbin berteriak tiba tiba. "Kau, mata - mata" ucapnya girang.
"Aku tidak mengerti?" Bingung Wonshik dengan tatapan tanpa dosanya.
"Kau berkerja disana, dan kau dekat dengan Taekwoon tentu saja semua informasi akan kau terima dengan mudah. Terutama mengenai Dongsaenya" Sojin menjelaskan.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Wonshik tersenyum dan mengangguk. "Aku mengerti. Jadi..."
"Selamat berkerjasama"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam. Dimana didalam rumah tersebut Hakyeon masih setia duduk menanti Jisoo untuk bertemu dengannya. Sedangkan Nyonya Kim sudah keluar rumah untuk berkerja dan kedua manusia yang masih setia pula menunggu Hakyeon di luar. Disisi lain, pintu yang masih tertutup rapat itu belum terbuka sedari tadi.
Hakyeon menghentakan tongkatnya dan berusaha untuk berdiri. Kakinya terasa amat pegal, 7 jam dia duduk seperti itu. Aliran darahnya seperti berhenti seketika. Walaupun terasa sakit Hakyeon tetap berusaha berdiri dan berjalan perlahan mendekati kamar itu. Dengan bantuan tongkatnya, dia berhasil sampai didepan pintu kamar Jisoo. Dirabanya pintu itu hingga tangan mungilnya menemukan gagang pintu yang menempel disana.
"Jisoo-ya" panggil Hakyeon. Masih dengan keadaan yang sama tidak ada jawaban dari orang yang berada didalam kamar.
Sedangkan disisi lain, Jisoo, seseorang yang sedari tadi dinanti oleh Hakyeon, tengah terduduk di atas kasur dan menatap pedih pintu didepannya.
"Jisoo-ya" dia mendengar suara merdu itu lagi. "Ini aku Jisoo-ya. Jika kau tidak ingin bertemu denganku tidak apa - apa" Jisoo berdiri perlahan, dan berjalan mendekati pintu itu. "Setidaknya, katakan sesuatu" Tangan Jisoo terulur seperti ingin menyentuh sosok yang tengah berdiri diluar sana. "Jisoo-ya, katakan sesuatu. Hyung, mengkhawatirkan mu" Alis Jisoo bertaut ketika mendengar salah satu kata yang diucapkan Hakyeon. Telinganya terasa panas, dan berdengung begitu keras. Jisoo tersenyum gentir. "Jisoo-ya, aku... sudah bertahun - tahun aku mencarimu" Jisoo terdiam mendengar tutur kata Hakyeon. "Saat itu, aku bahkan tidak melihatmu disana. Ketika aku bangun kau sudah hilang. Mereka tidak tau dimana kau berada." Jisoo menempelkan punggungnya pada pintu, dia membelakangi Hakyeon. masih dengan kegiatan yang sama, mendengarkan suara favoritenya yang terus mengoceh mengenai takdir yang selalu dia umpat. "Aku tidak pernah melupakamu sedetikpun, aku selalu berusaha mencarimu. Tapi, beberapa hari setelah kejadian itu. Kepalaku sangat sakit, kornea mataku terasa amat perih. Dan kemudian aku tidak sadarkan diri. Setelah itu, Pengacara Han, mengatakan bahwa aku tidak bangun selama seminggu lebih. Dan kau tau apa yang terjadi padaku ?" Jisoo terduduk dilantai sambil menyandarkan kepalanya pada pintu, dia menatap langit - langit kamarnya yang terasa begitu suram seperti perasaannya saat ini. "Aku... tidak bisa melihat. Dokter itu bilang kalau syaraf mataku putus, mereka ingin melakukan operasi, namun jaringan otak yang berhubung dengan syaraf mataku mengalami kerusakan, sampai sekarang terkadang aku masih merasakan sakit ketika aku mengingat kembali kenangan itu." Jisoo memejamkan matanya begitu erat, kedua tanganya terkepal. "Aku menangis, aku bahkan menyumpahi Tuhan karena membuatku seperti ini. Aku takut Jisoo-ya" Bibir Jisoo mengkerut, aliran air mulai keluar dari dalam matanya yang masih tertutup begitu rapat. "Aku takut tidak bisa melihatmu lagi,".
Kedua nya terdiam dengan posisi Hakyeon yang berdiri disisi luar dan Jisoo yang tengah menangis terduduk bersandar disisi dalam. Mereka hanya terhalang oleh sebuah pintu yang menjadi saksi diantara mereka. Takdir yang dianggap Jisoo sebuah kesialan.
"Aku menyesal bertemu denganmu saat itu" Jisoo mulai mengutarakan perasaanya. Dia masih enggan untuk membuka matanya. Karena jika hal itu dia lakukan, air matanya akan mengalir deras membasahi wajahnya. "Pertemuan pertama kita, merupakan hal terburuk yang aku sesali" Jisoo terdiam sejenak, menunggu ucapan apa yang akan keluar dari pihak sebelah. Namun, hanya keheningan yang dia temukan. "Saat kecelakaan itu terjadi, aku masih ingat bagaimana kau memeluk tubuh kecilku. Namun, saat mobil kita terlempar, kau tidak sadar kau kehilangan diriku. Dan membiarkanku terlempar jauh."
"Aku sudah berusaha Jisoo-ya"
"Saat polisi datang, semua hanya fokus pada kecelakaan itu. Mereka tidak menyadari keadaanku. Hingga aku sudah terbangun ditempat ini."
"Kenapa kau tidak pulang ?"
"Kau dulu berjanji, jika kita terpisah jauh. Kau akan datang menjemputku. Karena itu aku tetap menunggumu hingga sekarang. Aku bahkan sudah lupa siapa keluargaku, margaku, alamatku, dan hyungku"
"Aku selalu mencarimu, Jisoo-ya"
Kedua mata Jisoo terbuka perlahan, pandangannya tetap kelangit kamarnya, dia bahkan menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya kembali.
"Kau tau Hakyeon-ah, aku sudah tidak berniat menemukan keluarga kandungku lagi. Ada sebuah harapan yang mengubah tujuan baruku untuk membuat keluarga lain. Kau tau kenapa ?" Jisoo melirik kebelakang, tepatnya kepada Hakyeon yang berdiri diluar sana. Tidak ada jawaban darinya. Jisoo hanya tersenyum dan berdiri dari posisi duduknya. Dia berbalik dan menatap pintu itu sejenak. "Aku tidak peduli lagi dengan keluarga kandungku. Aku melupakan mereka karena pertemuan itu" Jisoo menggenggam gagang pintu, "Pertemuan pertama kita. Dimana dirimu membuatku menemukan masa depan yang baru" Tangan itu memutar knop pintu perlahan. "Aku sangat bersyukur bertemu denganmu, aku bahkan selalu berterimakasih dan berdoa kepada Tuhan, agar aku bisa selamanya bersamamu" Pintu itu terbuka perlahan, hingga Jisoo dapat melihat Hakyeon berdiri berhadapan tepat didepannya. "Tapi Tuhan terlalu bodoh untuk mengartikan doaku. Dia memberikanku takdir seperti ini diantara kita" Jisoo mendekati Hakyeon yang sekarang hanya berbatas sepatu.
Jantung Hakyeon berdegup kencang, merasakan jarak diantara mereka. Bahkan Hakyeon dapat merasakan nafas Jisoo menyapu kulit wajahnya.
"Aku..." air mata jisoo kembali mengalir deras, namun kedua matanya tetap terbuka menatap kedua mata Hakyeon yang memandang kedepan. "Seandainya hiks seandainya hiks kita tidak bertemu saat itu" Jisoo menutupi matanya dengan lengannya. Dia tidak bisa mengendalikan tangisanya. Takdir ini membuatnya kecewa, dia bahkan tidak tau harus berbuat apa, siapa yang patut untuk dipersalahkan, bagaimana dia harus menjalani kehidupannya nanti, mengapa hatinya begitu sakit mengakui kenyataan seperti ini. Jisoo selalu mengumpat, namun itu tidak mengubah takdirnya. "Hiks hiks aku pasti bahagia hiks saat ini hiks hiks tapi... karena pertemuan hiks itu hiks.."
Hakyeon mendongakan wajahnya keatas, dia mengulurkan kedua tanganya menggapai wajah Jisoo dibalik lengan kekar itu.
"Tidak apa - apa." Jisoo menatap Hakyeon yang tengah mengusap air matanya dengan senyum manis tersebut. "Kita bisa mulai dari awal. Pertemanan kita akan berubah menjadi persau..."
BRUUUUKK
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Hakyeon malah didorong kedua lengan Jisoo hingga membuat tubuhnya tersungkur dilantai. Tongkat Hakyeon bahkan terlempar tak jauh dari dirinya jatuh.
Jisoo menatap Hakyeon yang meringis kesakitan dengan pandangan kecewanya. "Kau tidak mengerti. Kau tidak paham perasaanku !"
Jisoo memutar tubuhnya hendak beranjak masuk kembali kedalam kamar.
"Apa yang tidak aku mengerti ?" Hakyeon membenarkan posisinya duduk dilantai, dengan wajah yang mendongak ke atas. "Katakan, apa yang tidak aku mengerti ? Aku akan coba memahaminya"
Jisoo berbalik dan menatap Hakyeon. Kedua matanya menyusuri kedua bola mata Hakyeon yang flat dan mati itu. Mata yang tidak memiliki pancaran dan arah penglihatanya. Namun, kedua mata itu mampu menyihir dirinya.
"Kau ingin tau perasaanku sekarang ?" Jisoo berjalan mendekati Hakyeon yang duduk didepannya itu. Hakyeon menjawab pertanyaan Jisoo dengan sekali anggukan.
Jisoo berlutut didepan Hakyeon untuk menyamakan posisinya. Dia menangkup wajah tan itu dengan kedua tangannya. Diamati wajah manis yang begitu membuatnya hilang akal. Kedua mata yang mampu mengecoh pikiranya, senyum yang tak pernah luput dari pandangannya, bibir meronanya yang selalu menggoda. Jisoo benar - benar telah jatuh cinta pada Kakaknya sendiri.
"Aku akan mengatakannya. Ketika kau telah memahamiku, datanglah kembali padaku. Janji ?" Ucap Jisoo sambil mengusap lembut pipi chubby Hakyeon.
Hakyeon yang tidak mengerti apapun maksud perkataan Jisoo hanya mengucap janjinya dengan senyuman polos itu.
"Hakyeon-ah, Saranghae"
CUUPPPP
Kedua mata Hakyeon membulat sempurna saat sebuah benda kenyal nan hangat menempel dibibirnya. Tidak, bahkan bibir itu melumat miliknya dengan perlahan. Tidak ada nafsu disana, Jisoo hanya ingin menyalurkan perasaannya kepada Hakyeon. Dan dia tau ini salah, namun baginya takdir ini juga salah. Semuanya tidak ada yang benar.
Hakyeon tidak membalas ataupun menolak ciuman itu. Dia terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Dia bahkan tidak tau harus melakukan apa ketika adiknya sendiri mencium dirinya.
CUUPP
Kecupan singkat kembali diberikan Jisoo sebagai penutup, tidak bisa dibayangkan, bahkan ini nyata. Dia hanya menatap Hakyeon yang masih memasang raut terkejut. Tangan itu kembali terulur mendekati bibir ranum Hakyeon.
"Maafkan aku" Ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah Hakyeon. "Jika kau sudah mengerti datanglah padaku kembali. Aku tidak akan mau menemuinmu jika kau tidak paham keinginanku"
Jisoo berdiri dan masuk kembali kekamarnya, menutup pintu kamarnya meninggalkan Hakyeon yang masih shock dengan kejadian yang tak pernah dia sangka akan terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hakyeon dan Taekwoon telah sampai dikamar mereka. Bukan, maksudnya kamar Hakyeon. Yah, walapun sekarang mereka tidur bersama disini, tapi kamar ini masih tetap milik Hakyeon.
Taekwoon yang membimbing Hakyeon sedari tadi mengamati wajah Hakyeon yang tampak kacau sejak keluar dari dalam rumah Jisoo. Ketika itu dia hanya mengatakan bahwa Jisoo telah menemuinya, dan tidak ada percakapan sama sekali setelahnya. Taekwoon tau telah terjadi sesuatu disana, bahkan tatapan kosong Hakyeon yang biasa menjadi sangat suram. Bola mata Hakyeon selalu bergerak gusar. Taekwoon tau, ada yang tidak beres. Taekwoon selalu mengerti Hakyeon.
Taekwoon mendudukan Hakyeon diatas kasur, dia berlutut menatap Hakyeon yang hanya memandang kedepan. Seperti dugaan Taekwoon, kedua mata Hakyeon terlihat begitu ketakutan.
"Yeonie" panggil Taekwoon selembut mungkin. Dia menggenggam tangan Hakyeon pelan, dapat dirasakan, tangan itu tersentak kaget. Hakyeon, dia sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang terjadi ?"
Hakyeon hanya menjawabnya dengan gelengan kecil. Dia bahkan tidak mau menundukan wajahnya menghadap Taekwoon.
"Aku tau kau berbohong" Taekwoon menangkup wajah Hakyeon dan membimbing untuk menghadap padanya. "Hei, aku tau kau sedang tidak baik. Aku tau ada yang terjadi disana" Taekwoon memberikan usapan kecil diwajah kekasihnya itu, untuk memberikan kenyamanan.
"Woonie" Hakyeon mulai menangis. Mata itu terpejam erat bersamaan dengan air mata yang mengalir deras. "Taekwoonie" Tangis Hakyeon semakin tersedu sedu, "Taekwoon hiks, hiks Woonie hiks"
Taekwoon lantas memeluk tubuh mungil Hakyeon yang semakin bergetar karena menangis. Dia mendekap tubuh itu memberikan ketenangan. Dia tidak bisa melihat Hakyeon menangis hingga merasakan sakit seperti ini, dia sudah menduga saat itu. Akhirnya Hakyeon akan kecewa. "Ssttt tidak apa - apa" Taekwoon mengusap rambut belakang Hakyeon, "Kau tidak sendirian, kita akan lewati ini bersama" Taekwoon mendekap erat tubuh Hakyeon. Dia memberikan waktu untuk Hakyeon menangis, mengeluarkan semua perasaanya hingga dia merasa lega.
Berselang beberapa menit, tangis Hakyeon mulai mereda. Mengetahui bahwa keadaan Hakyeon sudah tenang, Taekwoon melepaskan pelukanya, menatap Hakyeon yang masih sesenggukan. Tidak lupa dia memberikan dua kecupannya di masing - masing mata Hakyeon.
"Sudah puas ?" goda Taekwoon seraya menghapus jejak air mata Hakyeon.
Hakyeon tersenyum sangat manis, tangannya terulur meraih wajah tampan kesukaannya itu. Diusapnya Pipi Taekwoon perlahan. "Terimakasih, Woonie"
"Aaarrgg, aku benar benar ingin menerkammu sekarang"
Mendengar godaan Taekwoon membuat tangan Hakyeon langsung menjauh. Melihat reaksi Hakyeon malah menyebabkan perut Taekwoon tergelitik, tawa renyah pun dikeluarkan Taekwoon dan berhasil membuat Hakyeon memukulnya.
Melihat Hakyeonnya sudah jauh lebih baik, Taekwoon memberanikan diri untuk bertanya masalah tadi.
"Jadi, bisakah kau ceritakan apa yang terjadi diantara kalian ?"
"Sebelum ini kita hanya berteman" Kepala Hakyeon tertunduk. "Aku sudah menganggapnya sebagai teman baikku. Aku merasa nyaman dengan kehadiranya, aku merasa dia dan aku ditakdirkan bertemu. Ketika aku sadar Jisoo ku adalah dia aku sangat bahagia, karena ternyata Jisoo ku selama ini berada didekatku. Tapi dia bilang, dia menyesal bertemu denganku saat itu. Dia tidak merasa bahagia. Jisoo, dia bahkan menangis"
Taekwoon mengangkat dagu Hakyeon agar dia dapat melihat wajah kekasihnya itu. "Lalu, kenapa kau keluar dari sana ?"
"Dia bilang akan kembali, jika aku bisa memahami keinginannya"
"Apa keinginannya ?"
Hakyeon hanya menggelengkan kepalanya.
Taekwoon terdiam, dia tampak memikirkan sesuatu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia terlalu takut kalau tebakannya ternyata benar.
"Hakyeon-ah, dia..." Taekwoon terdiam untuk mengambil nafas sebelum mengatakan prasangkanya. "Apakah dia menyukaimu ? sebagai seorang namja ?"
Hakyeon terkejut mendengar, pertanyaan Taekwoon. "Woonie" Kedua tangan Hakyeon kembali terulur hendak menggapai wajah tampan didepannya.
"Dia, menciumu kan ?"
Uluran tangan Hakyeon berhenti saat pertanyaan Taekwoon membuatnya mati kutu. Jantung Hakyeon. terasa berhenti seketika. Hakyeon takut jika Taekwoon akan marah padanya. Bukan kemauannya ciuman itu terjadi, tapi kesalahannya juga karena dia hanya diam saja saat itu.
"Hakyeon-ah, kau paham apa yang dia inginkan ?" Taekwoon menatap tajam Hakyeon yang menggelengkan kepalannya perlahan.
"Maaf Woon-ah, ciuman itu dan..."
"Aku tidak mempermasalahkan itu, aku tau itu bukan salahmu. Ada hal lain yang aku khawatirkan" Taekwoon berdiri dan berpindah duduk di atas kasur disamping Hakyeon. "Hakyeon-ah, aku akan membawanya kembali padamu. kita aka kesana lagi besok" ucap Taekwoon seraya menggenggam tangan Hakyeon. Hakyeon menoleh kearah Taekwoon dengan alis yang bertautan.
"Aku masih belum mengerti keinginannya, aku belum bisa menemuinya"
"Aku tau keinginannya"
Taekwoon terdiam sesaat, dia memandangi wajah Hakyeon yang masih terlihat khawatir, takut dan bercampuran dengan perasaanya kini. Tapi Taekwoon tidak bisa membiarkan namja itu mendapatkan apa yang dia inginkan. Ini memang takdir mereka, dan Hakyeon hanya ingin membawa Jisoo pulang sebagai adiknya. Dia akan membawa Jisoo kembali kepada Hakyeon, sekeras kepala apapun Jisoo, Taekwoon akan menyadarkannya.
"Taekwoon~"
"Anak itu, ingin memilikimu Hakyeon-ah"
Tbc
.
.
.
.
.
.
.
Yeeeeahh chapter 6 up !
Terimakasih yang sudah membaca chapter lalu dan sudah review.
[hyunri89] Hehehe maaf yah terlalu lama update nya, ini chap 6 nya sudah up. Wah kalau untuk pasanganya tiap character rahasia dulu yah, di ikutin aja terus ceritanya hehe..makasih sudah mampir hehe jangan lupa reviewnya ^^
[emma] Nah untuk rencana jahat keempat kurawa itu wkwkw nyebutnya kurawa aku, lah orang jahat banget mereka kan hehe,, uda di kasih tau di chapter ini gk tegang lagi kn hehe..Ikutin terus aja yah ceritanya biar gk penasaran gimananya , terimakasih sudah mampir dan review ^^
[Hakyeonchoco] Hehe makasih reviewnya, seneng juga kalau ada yang suka baca cerita ini ^^ soal NC chapter lalu aku malah bingung juga, ngetik sambil mikir keras, orang tuna netra kalau lagi ngeNC kaya gmn, takutnya malah jadi aneh heheheya tapi lega bisa diterima ternyata.
[iyan yanyan] Ini sudah up. Makasih sudah mampir dan review ^^
[TJungN] hehe lagi belajar juga bikin cerita NC, yang bisa bikin seneng bacanya. Iya Wonshik annoying haha otaknya penuh dengan rencan jahat. Jaehwan sama Wonshik di couplein gk yah hehehe, ikutin terus yh , terimakasih uda mampir dan review ^^
[Hakyeon Jung] wkwkwk biasa nih selalu eonni yang balas review pualiiiiiiingg pannjaaaaang XD haha tendang aja tuh eon raken,, kurawa kurawa jahat mereka wkwk.. -_- oooh gitu yah sekarang eonni Jisoo di sia - sia in, Kurang apa coba brondong cakep kaya gitu wkwkw... awas yh eonni jangan lupa review hoho muaaaach *kabuuuuur
[HMYgrey] hahaha kalau bagi Hakyeon sih Taekwoon bukan kucing tapi hamster XD ini sudah up lagi, makasih sudah mampir dan review ^^
[maya han] hehehe terimakasih sudah mampir dan suka dengan ff ini, ^^ tunggu next chap yh
[zoldyk] thankyou chingu. ^^
[Kim Eun Seob] ini udah up eonni hehe,, Taekwoon emang selalu mesum kalau lihat Hakyeon. Selaku ikutin yah eonni gomawooo, muaacchh :* XD
[GaemGyu92] hahaha ya begitulah otak kotornya wonshik yg penting dapet banyak uang XD jisoo nya gk mau pulang, maunya digoyang hehehe.. makasih uda selalu ikutin ff aku, hehe tunggu next chapter nya yh eonni, kasih civok juga aahh muaaacch *kabuuuurr
Terimakasih yang sudah mampir di chapter 6 ini, jangan lupa review nya yah , ikutin terus dan tunggu chapter selanjutnya
N-nyeooooongg~~~
