Brother
LeoN
Hakyeon, Taekwoon, Jisoo
Hyuk, Wonshik, Jaehwan
Hongbin, Sojin
Yaoi
M
Romance and Hurt
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku takut, aku tak ingin kehilanganmu lagi" ucap Jisoo parau. Namun tidak sesuai dengan pendengaran Hakyeon yang dia dengar Jisoo seperti menangis sedih, namun akan berbeda jika Hakyeon melihat wajah Jisoo yang kini tengah menunjukan senyum evilnya dan mata tajamnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Jisoo-ya" Hakyeon mendekap tubuh Jisoo erat, "Aku akan selalu disisimu"
.
.
.
.
.
Sebuah mobil berhenti disamping Hakyeon dan Jisoo yang tengah berpelukan itu. Seseorang keluar dari dalam mobil dan mendekati mereka yang nampaknya masih belum sadar kedatangan orang tersebut.
"Sajangnim"
Hakyeon menoleh kebelakang dan tampaknya dia sudah tau siapa namja yang sekarang berdiri dibelakangnnya. "Sekretaris Han," Hakyeon melepas pelukan Jisoo dan berdiri dengan dibantu Hyuk yang menatap heran Jisoo.
Jisoo berdiri dengan senyum biasanya, senyum ramahnya yang dulu selalu dia perlihatkan. "Apa kabar, Sekretaris Han. Kita bertemu lagi"
Hyuk membungkukkan badannya, "Senang bertemu dengan Anda Tuan Jisoo, saya tidak sadar jika Anda ternyata Dongsaeng Sajangnim"
Jisoo tertawa renyah mendengar ucapan Hyuk, "Tidak apa - apa"
"Mari pulang Sajangnim, Tuan Jisoo" Hyuk membimbing Hakyeon berjalan dan masuk kedalam mobil. Menempatkannya di kursi samping pengemudi.
"Eeh, kenapa disini?" Tanya Hakyeon yang sadar bahwa tempat duduknya berubah, karena dia selalu dibelakang, dan kali ini Hyuk menempatkannya disamping pengemudi.
"Dibelakang banyak barang milik Tuan Jisoo, Sajangnim" ucap Hyuk bohong seraya memakaikan sabuk pengaman pada Hakyeon.
Hyuk melirik kebelakang tepatnya pada Jisoo yang tengah berjalan kearahnya. Pikirannya teringat pada pesan Taekwoon sebelumnya.
'Apa yang membuatnya tidak bisa menangani anak ini? Ada masalah apa sebenarnya?' Ucap Hyuk dalam hati.
"Aku akan mengambil barangku dulu"
"Tidak perlu Tuan" Hyuk tersenyum pada Jisoo yang juga memasang senyum ramahnya. "Semua barang Tuan sudah tersedia dirumah, jika ada yang kurang kami bisa membelikannya" Hyuk membukakan pintu belakang mobil. "Silahkan Tuan" ucapnya seraya menundukan kepalanya.
Masih dengan senyumnya Jisoo masuk kedalam mobil, dan duduk terdiam. Namun bola matanya dengan sangat tajam mengikuti setiap pergerakan Hyuk hingga dia masuk kedalam mobil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sinar mentari masuk menyinari ruang kamar yang terlihat begitu luas. Didalam kamar itu terdapat sebuah kasur yang amat besar, dimana diatasnya tertidur sepasang kekasih yang tengah berpelukan. Dan tidak lupa, tanpa memakai pakaian. Salah satu namja yang tengah mendekap tubuh mungil kekasihnya itu bergerak meregangkan otot - ototnya. Pergerakan Taekwoon membuat Hakyeon itu terbangun dan melenguh menggemaskan.
"Morning, love" Ucap Taekwoon seraya mengecup kening Hakyeon dan kedua pipinya.
Hakyeon tersenyum dan memeluk semakin erat sang kekasih. "Morning Woonie" Hakyeon mengusapkan kepalanya didada Taekwoon.
"Kau tidak memberiku morning kiss?" sindir Taekwoon seraya menjauhkan tubuh Hakyeon.
Hal itu membuat Hakyeon cemberut seketika. Mata itu menatap agak keatas tepat kepada Taekwoon yang tersenyum sangat tampan.
"Kemari" Taekwoon menarik kembali tubuh Hakyeon, mendekapnya dengan sangat erat. Tidak lupa kedua tangannya mengusap lebut rambut Hakyeon.
Namun kedua tangan Hakyeon memberi celah untuk menangkup wajah Taekwoon. "Uuh, kau begitu tampan" ucap Hakyeon mengejek.
"Ck, kau akan benar-benar terpesona jika melihatku nanti"
Hakyeon tertawa geli. "Aku tidak sabar Tuan Jung" Tangannya mengusap lembut setiap inci Wajah Taekwoon. "Seseorang yang ingin aku lihat pertama kali adalah kau, Woonie. Sejelek apapun kamu, aku tidak peduli"
"Ya! Jadi selama ini kau berfikir aku ini jelek"
"Hahaha, Kau bahkan punya banyak keriput"
"Hah ?! Ya! Aku ini sangat tampan, kau pasti bertekuk lutut padaku jika melihatnya"
Hakyeon tertawa lepas mendengar Taekwoon yang terlihat sebal dengan candaannya. "Arasseo, Arasseo" Tangannya kembali mengusap wajah Taekwoon. "Taekwoon-ku adalah namja yang paling tampan."
CUUP
"Taekwoon-ku adalah namja yang paling aku cintai."
CUPP
"Taekwoon-ku adalah milikku"
CUUP
Hakyeon mengecup singkat bibir Taekwoon setiap mengucapkan kalimatnya. Hal tersebut membuat kekasihnya itu merona, mungkin dapat dikatakan ini pertama kali Jung Taekwoon merona karena seseorang. Dan Hakyeon patut bersyukur karena menjadi orang pertama yang melakukannya.
"Uhhh Kau .."
SRAAAK
Taekwoon menindih tubuh Hakyeon dan memeluknya erat. Hakyeon tertawa pelan merasakan sang kekasih tengah mengusapkan kepalanya pada leher Hakyeon.
"Ada apa ini ? Mengapa Kekasihku sekarang menjadi menggemaskan ?" Hakyeon mengusap lembut rambut Taekwoon, dan berhasil membuat Taekwoon merapatkan tubuhnya semakin erat.
"Saranghae, Yeonie"
"hmm Saranghae, Jung Taekwoon"
Taekwoon menarik tubuhnya memberikan jarak sedikit untuk dapat melihat wajah manis kekasihnya itu. Wajah yang sekarang tengah tersenyum dengan mata yang menatap kedepan. Dilihatnya lekat kedua mata kesukaannya itu.
"Yeonie"
CUPP
Taekwoon mencium bibir Hakyeon dengan lembut, mengecupnya lama sebelum bibirnya melumat perlahan milik Hakyeon. Tidak lupa dengan tangannya yang sekarang tengah mengelus perut mulus Hakyeon.
"Euuunghh" Hakyeon melenguh seksi saat tangan Taekwoon berpijak didada Hakyeon, mengelus lembut puting Hakyeon, dan diplintirnya gemas. Tidak lupa dengan lidahnya yang sedang menyapu bagian dalam mulut Hakyeon. Hakyeon hanya mampu memejamkan kedua matanya dan terus mendesah sexy.
"Ngghh Woonie, jangan nggh aahh Woonie berhentiihh bermaiiinhh" Hakyeon terus mendesah saat lidah Taekwoon menjilat kulit eksotisnya. Menjilat dan menghisapnya kuat memberi tanda kemerahan diseluruh lehernya.
"Pleasee~~"
Taekwoon mengangkat kepalanya hingga dapat menatap wajah Hakyeon yang memerah panas. Senyum evilnya langsung bertengger diwajah tampan seorang Jung Taekwoon.
"Ada apa Hakyeon?"
"Massuukk aahh Woon!" Ucap Hakyeon gemetar. Badan Hakyeon bergetar merancu meminta lebih. Taekwoon hanya terus menatapi tubuh toples Hakyeon yang terus bercucuran peluh itu.
"Memintalah dengan baik"
"Hmmmph" Kedua mata Hakyeon tertutup rapat. "Brengsek kau! aahh" Hakyeon memeluk tubuh Taekwoon erat, kedua kakinya mengampit pinggang Taekwoon. Dia menggesekan miliknya yang sudah menegang pada milik Taekwoon.
"Aahh" Taekwoon menutup matanya saat Hakyeon terus menggesekan bendanya hingga membuat seluruh badan Taekwoon berdesir merasakan sentuhan dari Hakyeon.
BRUUUKK
Tanpa ucapan apapun, Taekwoon langsung membanting tubuh Hakyeon kembali, dan melebarkan kedua kaki Hakyeon.
"Kau, akan dihukum karena membuat adikku bangun, Nyonya Jung"
Kedua tangan Hakyeon terangkat meraih wajah Taekwoon dan langsung menciumi bibir kekasihnya itu dengan beringas. Taekwoon masih sibuk bermain dengan bendanya yang dia gesekan pada lubang Hakyeon sebelum benar - benar siap untuk memasuki lubang merah Hakyeon yang sudah berkedut dibawah.
"Aahhh hmmmp, Masuuk Wooniehh"
JLEEBB
"Aaaakhh!" Hakyeon memekik antara sakit dan nikmat saat milik Taekwoon menerobos masuk lubangnya yang masih tertutup rapat. "Kau tidak melakukan pemanasan ?! Sakiit bodoh!"
"Hah ?! Siapa yang memohon untuk segera dimasukin?"
PLOP PLOP
"Eohh hmm aah eooh eoh ahh cepaathh Woonhh"
"See! Kau aah aahh terus memohonnh seperti inihh ?" Taekwoon menangkup wajah Hakyeon dengan sebelah tangannya dengan pinggulnya yang terus dia dorong, menubrukan juniornya pada lubang Hakyeon.
"Aahh aahh Woonnhh aahh"
"Aahh hmm buka hhm matamu Hakyeonnhh."
Hakyeon melakukan seperti yang diperintahkan Taekwoon. Kedua mata Hakyeon menatap keatas. Begitupun Taekwoon yang menatap intens kedua mata Hakyeon, dengan pinggulnya yang terus bergerak maju mundur, hingga juniornya masuk lebih dalam kelubang Hakyeon. Bahkan suara khas itu sudah menjadi hal biasa dan bahkan candu bagi telinga keduanya.
"Saranghae Hakyeon-ah, Kau milikku selamanya" Taekwoon mengecup bibir ranum Hakyeon dan menjeda sejenak pergerakannya. Dia ingin menikmati manisnya bibir sang kekasih. Mengecup setia inci bibir belahan jiwanya itu, menyesap kuat bibir kenyal Hakyeon yang membuatnya terus ketagihan.
"Hmmpphh" Hakyeon mengalungkan lengannya pada leher Taekwoon dan ikut bergerak menyesuaikan diri dengan kepala Taekwoon yang berpindah untuk menciumi bibir dan seluruh tubuhnya.
"Saranghae Woonieh" Hakyeon mengangkat kepalanya kebelakang dengan mata yang terpejam menikmati setiap kecupan dan hisapan bibir Taekwoon pada leher dan dadanya. "Bergeraakk Woonh aahh"
"Aku akan klimaks setelah ini" Taekwoon mengecup singkat kening Hakyeon sebelum memeluk erat tubuh lelah dibawahnya itu. Pinggul Taekwoon mulai bergerak dengan tempo cepat. Hingga ruangan itu penuh dengan gema dari kedua benda yang terus saja bertubrukan.
"Aahh aahh ah eohh Woonh Wooniiehh eohh Taekwoonieehh"
"Ahh ahh hmmm eohh Hakyeoonhh"
"AAAKHHH~" pekik keduanya bersamaan saat klimaks mendatangi mereka. Setelah mengeluarkan seluruh cairannya didalam lubang Hakyeon, Taekwoon ambruk begitu saja diatas tubuh Hakyeon. Hakyeon yang merasakan dada Taekwoon naik turun dengan nafas yang tak beraturan hanya tertawa renyah dan mengelus rambut Taekwoon yang berantakan itu.
"Kenapa kau malah terlihatan lebih kelelahan daripada aku Woonie?"
Taekwoon menyembunyikan kepalanya pada leher Hakyeon yang sudah basah keringat itu. "Ini bukan lelah, aku bergairah. Dasar!"
TOK TOK
Kleek
Pintu kamar terbuka saat kedua pasangan diatas kasur itu masih sibuk berpelukan tanpa penutup tubuh apapun. Bahkan seorang penonton yang tidak tahu jika didalam kamar itu masih ada kegiatan dewasa hanya mampu membulatkan kedua matanya dengan air ludah yang membuatnya tersedak.
Taekwoon dan Hakyeon langsung menoleh begitu saja kearah pintu dengan mata yang sama dibulatkannya. Dengan refleks, Taekwoon langsung menarik selimut dan menutupi tubuh mereka.
"Ma..ma..maaf sajang uhhuuk sajangnim. Maaf" Ucap Hyuk seperti orang kebingung, dirinya bahkan berusaha mengalihkan pandangannya namun matanya terus saja melirik kedepan, tepatnya kepada dua orang yang mati kutu diatas kasur, tertangkap basah telah berbuat mesum.
"Sa..sa..rapan su..su..sudah siap" Dan begitulah ucapan Hyuk berakhir dengan dirinya yang langsung berlari seraya menutup pintu kamar. Sedangkan kedua makhluk disana sama - sama terdiam dengan rasa malu yang sudah menyelimuti mereka.
"Sebaiknya kita segera mandi" Ucap Taekwoon yang segera turun dari atas tubuh Hakyeon.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keempat makhluk tampan duduk bersama dimeja makan menyantap sarapan mereka. Dari Hakyeon yang duduk dikursi kepala rumah tangga dengan setelan Jas hitamnya, kemeja putih dan dasi hitam garisnya, diikuti Taekwoon yang duduk disisi kanan Hakyeon dengan jas yang serupa namun berwarna abu - abu gelap dengan kemeja creamnya dan dasi hitam dongker, didepannya atau tepatnya disisi kiri Hakyeon milik Sekretaris Han yang sudah tampan dan rapi dengan setelan Jas coklat tua, kemeja putih dengan dasi coklat pekat bergaris, didepan Hakyeon sendiri duduk manis adik kesayangannya yang kini tidak memakai pakaian yang sama. Cha Jisoo hanya mengenakan celana jean dongkernya dengan kemeja kotak merahnya yang berlapis jaket baseball diluarnya.
Hakyeon menyeka sisa makanan dimulutnya dan meraba dimeja mencari tongkatnya sebelum dia hentakan hingga menjadi lurus sempurna. Hyuk yang melihat Hakyeon sudah selesai makan segera membantu Hakyeon untuk berdiri.
"Hyung sudah selesai ?" ucap sang adik yang juga ikutan berdiri.
"Hari ini ada banyak tugas Jisoo-ya"
"Biar aku antar Hyung"
"Tidak perlu tuan Jisoo, setiap hari Sajangnim selalu pergi dengan saya dan Taekwoon. Anda bisa tunggu beliau dirumah"
Jisoo berjalan mendekati mereka. "Ini hari pertama aku tinggal disini, tidak bisakah aku menggantikan kalian sehari saja" Jisoo menatap memohon kepada Hyuk, namun dilain tempat Taekwoon malah menatap muak pada wajah lugu Jisoo tersebut.
"Hyuuungg~~~" Kini Jisoo malah bergelayutan manja dilengan Hakyeon, Hakyeon yang menjadi korban hanya tertawa melihat sikap manja sang adik, mungkin sebenarnya ini adalah sikap yang menakutkan dari adiknya itu.
"Ya sudah, Hyung akan mengajakmu kekantor"
"Uuuhh asiiik" Jisoo langsung memeluk Hakyeon dan berjalan meninggalkan kedua orang disana yang masih memandang Jisoo menakutkan.
"Kenapa kau diam saja Hyung ?" Tanya Hyuk memasang wajah marahnya kepada Taekwoon yang masih asik melanjutkan makannya.
"Biarkan saja. Kebetulan ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu"
"Eoj, Ma..maaf Hyung, sungguh tadi aku benar - benar tidak tau jika kalian sedang melakukan itu"
"Uhhuukk" Taekwoon tersedak mendengar ucapan dari namja yang tengah memohon maaf itu. "Aku tidak membahas itu" ucapnya datar, berusaha menyembunyikan rona diwajahnya. "Dan lain kali, jangan buka pintu sebelum aku menyuruhmu buka!"
"Ba..baik. Jadi, apa yang ingin Hyung bicarakan?"
"Mengenai Jisoo"
Hyuk lantas ikut duduk seraya merogoh tas kantornya dan meletakan berkas didepan Taekwoon. "Waktu Hyung menyuruhku untuk menjemput mereka, aku penasaran kenapa Hyung seperti takut dengan Jisoo. Makanya aku mencari seluruh informasi mengenai Jisoo selama dia hidup sebagai Kim Jisoo"
"Aku bukannya takut, aku tidak bisa melawannya dia memegang kunci kelemahanku" Ucap Taekwoon lantas mengambil berkas didepannya dan membaca setiap informasi yang didapat Hyuk tersebut.
"Yang paling mengejutkan, ternyata kedua sahabat dekat Jisoo adalah Park bersaudara"
"Siapa mereka ?"
"Park Sojin dan Park Hongbin, Hyung tidak tau ? Pewaris GirlsDay Group. Orangtua mereka terlibat kecelakaan mobil dengan keluarga Sajangnim"
Taekwoon menatap terkejut Hyuk, matanya bergerak gusar ada perasaan terkejut dan takut yang tiba - tiba menyerangnya. "GirlsDay Group terlibat kecelakaan itu ?"
"Iya sama seperti Sajangnim. Mereka juga kehilangan kedua orangtuanya. Dan fillingku kalau Jisoo itu sedang berkomplot dengan mereka untuk menjatuhkan Sajangnim"
"GirlsDay Group, juga berkaitan dengan kecelakaan Pabrik Batu Bara kan ?"
"Eoh, bagaimana Hyung tau ? Iyaa saat itu Sajangnim ingin mengajak bernegoisasi dengan Hongbin Dongsaeng dari CEO GirlsDay yang sekarang. Tapi saat itu Sajangnim tiba-tiba jatuh sakit, jadi acara tersebut ditunda. Dan beberapa jam nya kami mendapat kabar kalau pabrik itu terbakar."
"Anak itu ?"
"Dia menjadi salah satu korban kebakaran. Karena kejadian itu sampai saat ini GirlsDay Group selalu berusaha untuk menjatuhkan Starlight. Dan pada saat itu juga kita harus membayar denda, dan tanggungan biaya pengobatan korban lainnya. Saat itu adalah saat Kita hampir mengalami bangkrut, krisis keuangan kita sangat tinggi"
"Hyuk.." Taekwoon meletakan kedua tangannya diatas meja, terdiam sejenak menatap Hyuk. "Itu bukan kesalahan Hakyeon"
"Kepolisian bilang itu karena konsleting"
"Tidak.. aku akan ceritakan sesuatu. Tapi setelah aku mengatakannya kau tidak boleh menghakimi ku terlebih lagi mengatakannya pada Hakyeon"
Hyuk mengerutkan keningnya, "Ada apa Hyung ? Kau seperti telah melakukan kesalahan ?"
"Dua tahun lalu, aku tentunya belum kenal kau dan juga Hakyeon. Saat itu, keluargaku mengalami masalah. Appa-ku sakit keras dan harus segera mendapatkan pengobatan dan operasi. Karena biaya yang terlalu mahal aku tidak tau harus melakukan apa. Dan entah kenapa aku berfikir Tuhan memberi jalan keluarnya, karena mempertemukanku dengan Yeoja itu"
"Yeoja ?"
"Dia mengatakan namanya Park Sojin, dia memberiku tugas dengan bayaran tinggi. Itu melebihi biaya Appa-ku"
Hyuk semakin mengerutkan keningnya, "Jangan bilang kalau Hyung..."
"Iya, aku yang membakar Pabrik itu, itu semua atas perintah Sojin"
"Astaga" Hyuk menutup mulutnya tidak percaya. "Kau yang meledakannya. Astaga"
"Aku putus asa, saat itu aku benar-benar butuh uang. Tapi, ternyata perkiraanku salah"
"Apa yang terjadi Hyung?"
"Saat Yeoja itu tau kalau Dongsaengnya salah satu korban kebakaran, dia tidak mau memberikan uang sepersen pun padaku, dia bilang itu semua kesalahanku, dan yang aku tau terakhir kalinya, kabarnya dia pergi ke Jepang untuk mengobati Dongsaengnya. Alhasil Appa-ku meninggal dua tahun lalu, aku sering menyesali perbuatan itu terlebih lagi, kini aku mengenal Hakyeon dan aku tak ingin kehilangannya "
"Aku..." Hyuk menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi. "Tidak tau harus berkata apa"
"Dengar" Taekwoon menatap tajam Hyuk yang terlihat bingung dengan semua cerita Taekwoon. "Ada hal yang lebih penting dari itu"
"Hyung..kau tau apa akibat perbuatanmu itu? Astagaa~ Aku benar-benar tidak percaya"
"Hyuk !"
Hyuk tercekat mendengar teriakan Taekwoon. Dia menatap Taekwoon dengan dahi yang masih berkerut.
"Aku tidak peduli tentang itu semua. Yang harus kita focuskan adalah Hakyeon dan Jisoo. Jisoo, anak itu menyukai Hakyeon"
Kerut Hyuk semakin terlihat sangat jelas.
"Dia sudah mencium Hakyeon. Dia ingin membuat Hakyeon menjadi miliknya. Bukan sebagai kakaknya, aku takut jika dia bertindak lebih jauh dari itu, dia bisa saja mencelakakan kita bahkan Hakyeon juga dalam bahaya"
Hyuk menangkup wajahnya, mengusap wajah itu kasar, matanya terlihat begitu tajam. "Astagaa~ ini membuatku pusing" sekali lagi dengan nafas berat Hyuk mengusap kasar wajahnya.
"Lalu apa rencana kita?"
Taekwoon tersenyum mendengar pertanyaan Hyuk bersamaan dengan nafas leganya.
"Kita harus mempercepat operasi mata Hakyeon"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Selamat Pagi Sajangnim" ucap staff gadis yang bekerja di depan ruangan Hakyeon sambil membungkukan badannya. Hakyeon tersenyum kepada pegawainya tersebut.
Jisoo membimbing Hakyeon kembali berjalan masuk kedalam ruangannya. "Hati-hati Hyung" Jisoo mendudukan Hakyeon perlahan dikursi kepemimpinannya.
"Hmmm Hyung, ada yang bisa aku bantu ?"
Hakyeon menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memikirkan sesuatu. "Sepertinya tidak ada. Kau bisa menunggu selama aku bekerja atau pulang saja kalau lelah"
"Aah, membosankan~ aku ingin melakukan sesuatu disini. Aku bisa membantumu bekerja"
Hakyeon terkekeh kecil sambil membuka - buka dokumennya. "Kau belum mengerti seperti ini Jisoo-ya"
"Aku bisa membacakannya untukmu"
"Aku bisa membacanya sendiri"
"Aku bisa menuliskanya untukmu"
"Aku bisa melakukannya"
"Aku bisa memijat bahumu"
"Aku tidak perlu Jisoo-ya"
"Aku bisa membelikanmu makanan"
"Aku tidak lapar Jisoo-ya"
"Aku bisa..."
"Ya! Cha Jisoo. Mengapa Dongsaengku menjadi sangat cerewet eoh"
Jisoo berjalan pelan mendekati sang kakak, dia berlutut disamping Hakyeon, meletakan kepalanya dipaha Hakyeon. "Aku ingin berguna untukmu"
Hakyeon tersenyum mendengar penuturan sang adik, tangannya terulur mengusap lembut rambut hitam Jisoo. "Aku yang harusnya berguna untukmu, Jisoo-ya"
Jisoo memeluk pinggang Hakyeon erat seraya menyamankan kepalanya dipaha Hakyeon. "Aku...ingin seperti ini terus. Aku tidak ingin siapapun merebutmu dariku"
Hakyeon menundukan kepalanya, tepatnya menatap Jisoo yang bersandar dipahanya. Tangan itu masih setia mengusap rambut Jisoo dengan sayangnya. Namun raut wajahnya terlihat biasa saja, bahkan dapat dibilang monoton. Hakyeon hanya terdiam dengan tangan yang terus membelai rambut sang adik.
TOK TOK
Hakyeon mengangkat kepalanya kedepan, disana Taekwoon tengah menutup pintu ruangan seraya melepaskan Jasnya. Dia berjalan mendekati Hakyeon, matanya memincing seketika saat melihat Jisoo yang nampaknya begitu nyaman tidur dipaha Hakyeon.
"Sudah puas Tuan Jisoo?" sindir Taekwoon melihat Jisoo yang bahkan tidak meliriknya sedikitpun. Kedua tangan Jisoo semakin erat memeluk pinggang Hakyeon. Taekwoon yang melihatnya terasa mendidih diseluruh tubuhnya, dia seperti ingin sekali melempar anak itu ditengah - tengah sekumpulan Hiu.
"Taekwoonie, lama sekali datangnya?"
Taekwoon tidak memperdulikan pertanyaan Hakyeon. Yang dia perdulikan adalah, kenapa orang didepannya ini masih asiknya tidur di paha kekasihnya.
"Ya! Jisoo. Belum puas kau tidur disitu!"
"Taekwoon~"
"Ya! Bocah !" Taekwoon menarik tangan Jisoo yang tengah memeluk Hakyeon.
"Woonie~ jangan seperti itu. Jisoo-ya bangun" Hakyeon melepaskan tangan Taekwoon yang terus menarik kasar tangan Jisoo. "Jisoo-ya bangun, pulanglah dan tidur dirumah ne" ucapnya masih mengelus rambut Jisoo.
"Hmmm, aku ingin disini" Jisoo hanya bergerak pelan dan semakin menyamankan dirinya.
Taekwoon menatap nyalang Jisoo, kepalanya sudah hampir mau meledak. Anak itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Bocah Tengik!"
SRAAAKK
Taekwoon menarik kuat tangan Jisoo dan langsung membuatnya tersungkur dilantai.
"Taekwoon!"
"Diam Hakyeon! Kau tidak boleh memanjakannya. Bocah ini tidak bisa diajak bicara"
Jisoo menatap tajam Taekwoon yang juga tengah menatapnya nyalang.
"Kenapa bocah, ingin berkelahi?!"
Jisoo berdiri dan langsung menarik kerah kemeja Taekwoon. "Kau cari masalah denganku ?!"
Senyum evil Taekwoon tergambar indah diwajah tampannya. Dia menarik kuat tangan Jisoo dari kerahnya. "Hanya bocahlah yang berani melawan dengan ancaman. Dasar bocah"
Mendengar itu alis Jisoo bertaut marah. Kedua tangannya terkepal, raut wajahnya terlihat begitu kesal. Dia berjalan perlahan dengan tatapan tajamnya mendekati Taekwoon.
"Kau. Akan aku singkirkan" Ucapnya dan berlalu begitu saja keluar dari ruangan Hakyeon. Taekwoon hanya terkekeh mendengar ancaman dari Jisoo dan dia kembali berjalan mendekati Hakyeon.
"Kau tidak boleh terlalu kasar denganya Taekwoon, dia masih kecil"
Taekwoon berjalan dibelakang Hakyeon, meletakan jasnya digantungan belakang dan kembali mendekati sang kekasih. "kau tidak boleh terlalu memanjakannya, aku cemburu"
CUPP
Ucap Taekwoon seraya mendaratkan kecupannya pada pipi tembam Hakyeon. Dan memutarkan kursi Hakyeon sehingga menghadap padanya. "Setelah ini kita akan pergi ke Dokter Jung"
"Untuk apa Woonie ?"
"Membicarakan rencana operasi matamu. Mereka bilang sudah dapat pendonornya" Taekwoon mengusak rambut Hakyeon gemas
"Oke" ucapnya dengan senyumnya yang merekah indah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taekwoon membimbing Hakyeon masuk kedalam sebuah gedung besar serba putih itu. Pada area masuk tadi tertera tulisan besar Asan Medical Center. Mereka tengah berada disebuah rumah sakit ternama di Korea Selatan. Disini banyak sekali pengunjung dan pasien yang berlalu lalang. Taekwoon dengan hati-hati membawa Hakyeon karena banyak pula anak kecil yang berlari kesana kemari.
"Permisi" Taekwoon menggenggam erat tangan Hakyeon saat dirinya membawa masuk kekasihnya itu kedalam lift.
Begitu banyak orang yang berada didalam lift, membuat Taekwoon dan Hakyeon tidak dapat bergerak sama sekali. Terutama Taekwoon yang kini tengah melotot tajam pada namja yang sedari tadi melihat Hakyeon. Dengan segera Taekwoon menarik tubuh Hakyeon merapat padanya dan mendekapnya dari samping, seraya menoleh pada namja yang kini tengah meneguk air liurnya kasar.
TIING
Pintu lift terbuka, dengan tangan yang masih menggenggam Hakyeon erat, membimbing kekasihnya itu berjalan menuju ruangan yang tidak jauh dari sana. Hanya berjarak 2 blok saja, Taekwoon sudah menemukan Ruangan yang bertuliskan marga Jung itu.
TOK TOK TOK
TOK TOK
Seorang yeoja dengan balutan jas putihnya, rambut dengan warna coklat panjang ikalnya yang tergerai, serta tanda pengenal didada kirinya yang bertuliskan Jung Yoo Jin itu membuka pintu ruangan dan tersenyum ramah ketika melihat Taekwoon dan Hakyeon.
"Tuan Cha, silahkan masuk" ucapnya seraya membuka lebar-lebar pintu. Yeoja itu tersenyum kepada Taekwoon dan mengulurkan tangannya. "Anda pasti Tuan Jung. Senang bertemu dengan Anda. Saya Jung Yoo Jin Dokter pribadi Tuan Cha"
Taekwoon membalas salaman dari Dokter Jung itu, dia kembali membimbing Hakyeon berjalan dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Yoo Jin.
"Eoh, ya. Kita sudah mendapatkan seorang pendonor. Dia bernama Cristina van leur, yeoja dari Belanda. Dia menawarkan diri untuk mendonorkan matanya dengan pertukaran uang" Ucap Yoojin seraya memperlihatkan berkasnya kepada Taekwoon.
"Apa Yeoja itu sudah melalui pemeriksaan?" tanya Taekwoon seraya membaca berkas itu. "Matanya blue sea, apakah matanya cocok dengan Hakyeon?"
"Kami sudah memintanya untuk melakukan pemeriksaan disana, dia mengirim hasil kesehatannya kemarin" Dokter Jung mencari sesuatu dilacinya dan memberikan amplop itu pada Taekwoon. "Saya sudah memeriksanya dan hasilnya sangat baik, tidak ada masalah pada matanya. Namun, itu tergantung juga tubuh Tuan Cha, apakah dia bisa menerima benda lain yang bukan miliknya. Untuk kecocokan, saya jamin 80%"
"Hmmm" Taekwoon tampak berpikir dengan masih sibuknya melihat - lihat berkas yang ada dihadapannya. Dia membaca satu persatu data dengan teliti sebelum mengambil keputusan.
"Ada apa Taekwoon ?"
Taekwoon menoleh kepada Hakyeon yang tampak bingung. Kemudian dia kembali menatap sang Dokter didepannya. "Apakah tidak ada cara menyembuhkan selain pencangkokan?"
"Sebelumnya saya sudah pernah mengatakan kepada Tuan Cha, ada dua cara penyembuhan. Operasi penyambungan saraf dan pencangkokan. Tapi Tuan Cha lebih ingin melakukan pencangkokan"
"Aku... takut, saraf ku tidak baik" Ucap Hakyeon menyambung.
"Bagaimana maksudnya ?"
"Operasi saraf ini sebenarnya simple dan berlangsung cepat, tapi masalahnya disini Tuan Cha memiliki masalah dengan traumanya. Itu mempengaruhi operasinya. Bisa terjadi kesalahan fatal kalau trauma Tuan Cha masih sangat besar."
"Hakyeon-ah, bukankah akhir - akhir ini kau jarang mengalaminya lagi?"
Hakyeon berfikir dengan bibir yang mengerucut menggemaskan. "Iya, akhir-akhir ini aku tidak pernah lagi trauma saat tidur"
"Bagaimana Dokter Jung, apakah bisa dengan cara itu ?"
"Jika benar seperti itu, sebaiknya memang melakukan operasi penyambungan saraf saja. Tapi kita tidak tau sudah hilang atau belum trauma Anda. Sebaiknya besok Anda datang lagi kemari, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sekalian kita tetapkan hari yang tepat untuk operasi Anda"
"Baiklah kalau seperti itu. Kita akan datang lagi besok" Taekwoon berdiri dengan Hakyeon. Mereka menundukan kepala kepada Dokter Jung yang juga melakukan hal yang sama. "Kami permisi"
"Hati-hati dijalan Tuan Cha" ucap Yoo Jin seraya membungkukan badannya, hingga Taekwoon dan Hakyeon benar-benar keluar dari ruangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jaehwan berlari tergesa-gesa saat melihat Wonshik melambaikan tangannya seraya bersandar disebuah mobil bewarna merah itu. Sampai ditempat Wonshik, Jaehwan sedikit mencari udara, nafasnya tersengal-sengal karena kecapean berlari setelah dirinya keluar dari Rumah Sakit ternama Korea itu.
"Bagaimana Hyung ?"
"Mereka akan melakukan operasi, tapi besok mereka datang kemari lagi untuk memeriksa Hakyeon terlebih dahulu" Ucap Jaehwan seraya masuk kedalam mobil dan mengambil sebotol air mineral untuk diminumnya.
Wonshik ikut masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin. "Kita harus segera memberitahu mereka" Wonshik melajukan mobilnya meninggalkan Rumah Sakit itu.
Mobil merah terang itu berkendara menuju kesebuah Perusahaan yang cukup terkenal, GirlsDay Group. Tidak berlangsung lama, mereka sudah sampai dan memakirkan mobilnya ditempat yang seharusnya. Wonshik keluar dari mobil begitu juga Jaehwan. Mereka hendak masuk kedalam Perusahaan namun saat itu mereka bertemu dengan seseorang yang tidak asing dimata Wonshik. Orang itu berjalan searah dengan mereka.
"Cha Jisoo" panggil Wonshik perlahan saat mereka sama - sama bertemu untuk menunggu lift.
Jisoo menoleh kepada Wonshik dan menatapnya datar.
"Ingin bertemu dengan sahabatmu ?"
"Siapa kau ?"
"Kau pasti sudah mendengar namaku dari teman - temanmu itu."
Jisoo tampak berfikir sejenak, dan senyum menyindir itu terlihat saat dirinya tau siapa sosok didepannya itu. "Eoh, si penghianat"
Woshik terkekeh, "Kasar sekali ucapanmu. Kau juga seorang penghianat bukan ?"
Jisoo menatap nyalang Wonshik, begitu juga Wonshik yang tersenyum remeh pada Jisoo. Tidak lupa dengan seorang lagi diantara mereka, yang melihat kedua orang itu ngeri. Ada aura tidak mengenakan diantara mereka. Seperti melihat pertemuan antara setan dan iblis.
"Eiihh, tidakkah ini terlalu kaku" Jaehwan merangkul kedua orang yang masih saling bertatapan itu. "Kita kan ada dipihak yang sama. Eehh, lift nya terbuka, ayo masuk" Jaehwan menggeret kedua orang itu untuk masuk ledalam lift menuju tempat Sojin. Didalam lift, suasana masih sama canggungnya, sepertinya bukan canggung namun suram. Kedua orang diantara Jaehwan itu tampak saling terdiam dengan kerut dikeningnya.
"Aku tidak pernah suka dengan keluarga Cha" tutur Wonshik. "Mereka semua membosankan"
"Ssstt Wonshik-ah"
"Kalau kau tidak suka, keluar saja. Sekalian bawa sahabatmu itu, Jung sialan yang selalu menempeli Hyung ku" Jisoo melipat lengannya didadanya, dengan mata yang masih melirik Wonshik.
Wonshik tersungut emosi. "Siapa yang sialan ! Hyung mu itu yang selalu menempel pada Taekwoon Hyung" Wonshik menghadap kearah Jisoo dan berusaha meraih kerah milik Jisoo namun tubuh Jaehwan berusaha menghalangi perkelahian yang mungkin saja akan terjadi.
"Eoh, atau mungkin kau yang dibuang olehnya. Kau tidak dibutuhkan lagi bukan" Jisoo terkekeh memamerkan senyum evilnya.
"Brengsek Kau !"
"Wonshik-ah!" Jaehwan menahan tubuh Wonshik yang berusaha menyerang Jisoo. Jisoo hanya tersenyum menyindir seraya keluar dari lift, meninggalkan Wonshik yang masih menahan emosinya itu.
"Kenapa kau ini Hyung! Aku bisa saja menghabisinya tadi, Si Brengsek itu!"
TAAKK
Jaehwan memukul kepala Wonshik dengan kepalan tangannya. "Kau ini yang kenapa! Dia itu Cha Jisoo, ingat rencana kita, jika kau menghabisinya dia bisa perpihak pada Hakyeon. Bodoh!" Bentaknya seraya keluar dari lift mengikuti Jisoo yang sudah pergi terlebih dahulu. Wonshik mencibir Jaehwan yang berlalu meninggalkannya dengan tampang kesalnya.
Ketiga orang itu sampai disebuah ruangan dan duduk di sofa, begitu pula seorang gadis yang ikut bergabung dengan ketiga orang itu seraya membawakan empat cangkir coffee untuk mereka.
"Dimana Hongbin ?" Tanya Jisoo yang mulai menyesap coffee nya.
"Dia demam"
"Anak itu mudah sekali sakit"
"Eoh, iya bagaimana hasilnya?" Tanya Sojin kepada Wonshik dan Jaehwan.
Kedua orang itu lantas meletakan cangkir yang tengah mereka pegang, dan kembali focus kepada rencananya.
Wonshik mulai memberitahukan info yang baru saja mereka dapat. "Kita mengikuti mereka ke Rumah Sakit Asan Medical Center. Seperti fillingku sebelumnya, mereka berencana mempercepat operasi Hakyeon"
"Operasi ?" Jisoo mengerutkan keningnya heran, mungkin dia bertanya - tanya bagaimana orang - orang ini tau masalah itu tapi dirinya sendiri sama sekali tidak tau mengenai hal tersebut. "Dia tidak mengatakan apapun padaku ?"
"Menurutku ini rencana Taekwoon, dia mengajak Hakyeon keluar jam makan siang tadi untuk bertemu Dokter yang bernama Yoo Jin itu. Sepertinya mereka berencana mempercepat operasi Hakyeon." Tutur Jaehwan.
"Kenapa mereka cepat - cepat melakukan operasinya?" Sojin mengusap dagunya dengan menyandarkan punggungnya pada sofa. "Jisoo-ya, apa mereka sudah tau rencanamu?"
Masih dengan kening yang berkerut, Jisoo menggelengkan kepalanya perlahan. "Sepertinya belum Nuna. Tapi aku curiga dengan Sekretaris itu, hanya dia yang tidak berani aku ancam. Aku tidak mengenal siapa dia dan sejauh mana hubunganya dengan Hakyeon"
"Hmmm.. Kita tidak bisa membiarkan operasi itu terjadi. Rencana kita bisa kacau"
"Kita tidak bisa membiarkan itu, artinya kita harus menggagalkannya" Saran Wonshik mulai memunculkan siasat jahatnya lagi.
Jisoo menatap tajam Wonshik. "Akan aku bunuh jika kau berani melukainya"
"Tenang saja Jisoo-ya. Kita sepakat sebelumnya tidak akan menyentuh Hyung-mu itu, kita hanya ingin membuat Perusahaan itu hancur" jelas Sojin sambil menyeruput coffenya.
"Bukan hancur, tapi mengambil alih, ingat itu" ralat Wonshik pada Sojin, yang hanya mengedikan bahunya.
"Jadi, apa rencana mu?" Tanya Sojin kembali focus pada Wonshik yang selalu memiliki ide brilian.
"Yang pasti kita harus mencegah operasi itu bagaimanapun juga. Mereka akan melakukan pemeriksaan pada Hakyeon besok siang, jadi kita akan menggagalkannya pada hari itu" ucap Wonshik seraya melipat kedua lenganya didadanya. "Aku butuh anak buahmu, Hyung" ucapnya kembali kepada Jaehwan. "Kita akan menggagalkan operasi itu besok"
"Aku serahkan masalah ini padamu Kim Wonshik"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sehari setelahnya. Pukul 02.25 pm
At Asan Medical Center
.
.
Taekwoon membukakan pintu mobil untuk membimbing Hakyeon keluar. Kekasihnya itu menghentakan tongkat yang selalu dia bawa. Dengan perlahan kedua kaki mungilnya berpijak diarea Rumah Sakit tersebut. Dengan sabar pula Jung Taekwoon membimbing Hakyeon berjalan menuju tempat Dokter Jung berada.
Hanya menaiki satu lift dan melewati beberapa blok Rumah Sakit, mereka sudah bisa sampai disana.
BRUUUKK
Seorang pria paruh baya tidak sengaja menabrak Taekwoon dan menumpahkan sup itu dijas Taekwoon. Taekwoon sedikit merintih saat kulit tangannya merasakan panas mendidih dari sup yang sudah mengotori kemejanya.
"Maaf, saya tidak sengaja" ucap Ahjussi tersebut seraya berusaha membersihkan sup di jas Taekwoon.
"Tidak apa - apa. Tidak perlu khawatir" ucap Taekwoon juga ikut membersihkan sup itu.
"Sebaiknya kau beraihkan dulu, itu bisa membekas" ucap Hakyeon memberi saran. "Ahjussi, lain kali hati - hati ya" Tuturnya kembali seraya menundukkan kepalanya.
Ahjussi itu hanya menjawab iya dan kembali meminta maaf sebelum dia pergi membiarkan Taekwoon yang masih sibuk membersihkan Jas nya.
"Yeonie, kau tunggu disini dulu. Aku tidak akan lama" Ucapnya seraya mendudukan Hakyeon ke kursi yang tidak jauh dari mereka. Namun Hakyeon tidak ingin duduk dan berdiri kembali.
"Lebih baik aku duluan saja. Lagi pula ruangannya sudah ada didepan kan. Aku bisa sendiri"
Taekwoon menghembuskan nafasnya lelah. "Ck, kenapa harus ada kejadian seperti ini"
"Tidak apa, sudah sana bersihkan dulu. Bau sup nya sudah menempel."
Taekwoon menganggukan kepalanya seraya mengecup pelan kening Hakyeon. "Hati - Hati"
"Hanya disana Taekwoon, kau berlebihan sekali. Lagian aku punya ini kan" Hakyeon mengangkat tongkatnya, menunjukan pada Hakyeon. "Ya sudah, aku duluan"
"Hmmm" Taekwoon melihat Hakyeon berjalan terlebih dahulu, baru itu dia berbalik mencari kamar mandi untuk membersihkan kototan sup di jas nya.
Tak Tak Tak
Hakyeon berjalan perlahan dengan menghentakan tongkatnya. Dia mengingat berapa langkah dirinya untuk sampai diruangan Yoo Jin. Saat sudah pasti dia sampai, Hakyeon menghadapkan tubuhnya pada sebuah pintu yang bertuliskan marga Jung tersebut. Di ketuknya pintu itu. Namun belum ada jawaban ataupun seseorang yang membukakan. Hakyeon mengetuk kembali pintu ruangan Dokter jung. Masih hening, tidak ada jawaban. Hakyeon meraba pintu untuk mencari Knop dan membukanya perlahan.
"Dokter Jung" Panggil Hakyeon seraya menutup kembali pintu itu. Hakyeon berjalan perlahan.
"Permisi, Dokter Jung kau disini?"
Tak Tak Tak
"Kenapa sepi sekali ?"
Tak Tak
"Yoo Jin-ah"
Tak Tak Bruuukkkkk
Hakyeon tersandung, dia meraba lantai mencari tongkatnya yang terlepas dari genggamannya. Namun saat tangan mungil itu meraba sekitar lantai, dia menyentuh sesuatu yang lebih besar dari tongkatnya, sesuatu yang empuk tapi basah. Hakyeon meraba benda itu dan tangannya sampai di ujung, dia raba dan jantungnya berdetak begitu cepat dengan mata yang membulat syok ketika dia tau apa yang dia pegang. Sebuah tangan. Hakyeon mulai meraba seluruhnya, dan dia semakin membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka, matanya bergerak gusar.
"Do..dokter Jung?" Hakyeon meraba tubuh Dokter Jung yang terkapar tak berdaya dihadapannya.
"Jung Yoo Jin, kau tidak apa - apa?" Hakyeon berusaha membangunkan gadis itu, namun hanya keheningan yang dia dapat. Tangan Hakyeon menyentuh tubuh Yoo Jin yang basah. Dia menarik tangannya dan mendekatkan tangannya itu pada hidungnya, mencari tau cairan apa yang ada pada tubuh Yoo Jin.
Hakyeon jatuh terduduk kebelakang, nafasnya tercekat, bibirnya bergetar hebat dengan seluruh badannya yang bergetar pula dengan peluh yang mulai bercucuran.
"Da..darah.. Yoo...Yoo Jin" ucapnya terbata hingga mata itu hampir menangis saking ketakutannya.
Hakyeon berusaha berdiri, namun dia kembali terjatuh. Kakinya terasa sangat lemah, dia tidak dapat berdiri bahkan menggerakan tangannya.
"Woon...Woonie" guman Hakyeon pelan. Tubuhnya semakin bergetar hebat, tangan yang berlumuran darah itu bahkan hanya terangkat dengan gemetar.
"Taekwoon...Taewoon.."
Kleeekk
"Permisi" Seorang perawat dengan berkas ditangannya, membuka ruangan itu dan melotot kearah jasad Yoo Jin dan Hakyeon yang tengah terduduk ketkutan.
Hakyeon menoleh kebelakang, pada orang yang tengah membuka pintu. Perawat itu menjatuhkan berkasnya ketika Hakyeon menatap dirinya.
"KHYAAAAAAAAA"
Tbc
.
.
.
.
.
Yeeeayh Chap 8 UP !
[Kim Eun Seob] ciee si eonni review pertama, Ini sudah Up eonni, semoga nggak semakin penasaran yah hehe #Hug
[aiiuukirei] Jisoo nya mau khilaf dulu hehe, apapun dilakukan biar bisa milikin Hakyeon. Iya, kalau Hyuk nggak sayang ntar nggak ada yang berpihak sama Hakyeon selain Woonie. Ini sudah Up chap 8 hehe ,
[HMYgrey] Itu ke lima orang, di rukiyah aja biar tobat hoho.. Ini sudah Update hehe.. makasih selalu ngikutin ^^
[TJungN] Hoho Taekwoon nggak merampok, dia membakar Pabrik tuh XD .. Nah, Jaehwan uda muncul di chapter ini, tapi ya begitu dimana ada Wonshik pasti ada Jaehwan :p si Wonshik yang brilian XD ,, Makasih yah TJungN selalu ngikutin dan review hehe ^^
[Hakyeon Jung] wkwkw si eonni ngamuk XD .. dulu siapa hayoo yang ngomong mau sama Jisoo,, sekarang malah nggak mau.. Iya eon, sini lempari Nam nya, biar Jisoo nggak cari gara - gara. Kalau Wonshik jangan di chained up, di rukiyah eon, otak nya udah kotor itu wkwkw. Nah kan, eonni carinya yang brondong mulu.. Kemarin Jisoo sekarang Hyuk, nanti kalau tak kasih Hyuk eonni tiba-tiba nggak mau,, eonni tak kasih Wonshik aja lah ya hoho. Suka ketawa bener eon, kalau baca review eonni yang panjang bin lebar, ini ngetik pake mikir apa ngetik pake emosi wkwkw
[GaemGyu92] yok cemplungin eon, hehe biar nggak ganggu Hakyeon lagi. Hyuk dan Taekwoin sedang berusaha, tapi sepertinya ada masalah lagi nih hehe :p
[ ] hehe permen ya nano nano XD
Terimakasih yang menyempatkan membaca, jangan lupa review nya yah hehehe. Sampai jumpa di chap 9
N-nyeeeoooong~~
