Brother
LeoN
Hakyeon, Taekwoon, Jisoo
Wonshik, Jaehwan
Hongbin, Sojin
M
Yaoi
Romance & Hurt
.
.
.
.
.
.
Asan Medical Center, 01.25 pm
.
.
"Dokter Jung, ini rekap hasil pemeriksaan Tuan Cha Hakyeon 2 tahun lalu" Perawat dengan name tag Min itu memberikan dokumen kepada Yoo Jin yang tengah mengotak - atik komputer.
"Letakkan saja disitu"
Perawat itu meletakan dimeja Yoo Jin dan membungkuk permisi untuk pergi. Meninggalkan Yoo Jin yang masih serius mengerjakan tugasnya.
Tok Tok Tok
Yoo Jin menatap pintu yang diketuk seseorang dari balik sana. Dia menatap jam di mejanya. "Masuk"
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
Yoo Jin menghentikan pekerjaannya dan berjalan mendekati pintu yang terus saja diketuk oleh seseorang. Tangan itu membuka pintu, namun yang didapati Yoo Jin hanya kekosongan. Tidak ada siapa - siapa diluar. Dia hanya mengedikan bahu dan kembali menutup pintu, berjalan kembali kemejanya.
CLIIK
Yoo Jin terperanjat saat mendengar suara pintu yang dikunci. Dia menoleh kembali kebelakang dan mendapati seorang pria dengan jaket hitam dan topi hitamnya berdiri didepannya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu berjalan perlahan mendekati Yoo Jin, dengan tangannya yang kemudian dia masukan ke saku dalam jas seperti sedang mengambil sesuatu.
"Tuan, jika tidak ada urusan silahkan keluar."
Pria itu mengambil pisau dan menodongkannya kehadapan Yoo Jin. Yoo Jin mundur perlahan kebelakang. Dengan raut wajah panik dia berusaha mencari cara untuk melarikan diri sebelum pria asing itu semakin mendekat padanya.
"Tuan, jangan macam - macam. Letakan pisau itu" pinta Yoo Jin dengan hati - hati. Namun pria yang diajak bicara itu hanya terus melangkah semakin mendekatinya. Yoo Jin yang semakin ketakutan tidak berfikir panjang dan langsung lari kearah pria itu, namun dia berlari sedikit kekiri agar bisa keluar melewati pintu. Namun sayang pria itu menarik lengan Yoo Jin dan langsung menghempaskannya dilantai, membuat Yoo Jin merintih kesakitan. Yoo Jin berusaha bangkit namun pria itu menindihnya dan mencekik leher Yoo Jin. Kedua tangan Yoo Jin sontak memukul tubuh pria diatasnya. Kakinya juga meronta agar pria itu melepaskan dirinya..
"Aahhh uhuukk" Yoo Jin semakin kehilangan nafasnya, lehernya dicekik erat namja itu bahkan dirinya tidak sanggup untuk berbicara.
"Aaakhh!" Pekik Yoo Jin saat benda tajam itu menikam dadanya.
"Aaaakhh! uhuuk"
Pria diatas Yoo Jin terus menikam Dokter berusia 24 tahun itu berkali - kali hingga jas putih Yoo Jin berubah menjadi merah, darah Yoo Jin keluar begitu banyak bahkan mengenai wajah sang pelaku. Namun Yoo Jin masih berusaha meronta walaupun hanya dengan tenaga yang minim. Tikaman terakhir pria itu berikan pada leher jenjang Yoo jin, membuat Yoo Jin hanya melotot tajam dan mata itu melunak saat penglihatannya menjadi kabur, dia tidak dapat merasakan apa - apa, hanya kegelapan yang didapatinya.
Pelaku itu turun dari tubuh Yoo Jin yang sudah tak lagi bernyawa. Tanpa mengatakan apa - apa, pria itu mengeluarkan sapu tangannya dan membersihan percikan darah diwajahnya, lantas beranjak pergi dari sana setelah menyadari Bahwa Yoo Jin tidak lagi bernyawa, meninggalkan ruangan itu sebelum ada seseorang yang masuk.
.
.
.
Tak Tak Tak
Hakyeon berjalan perlahan menggunakan tongkatnya, dan berhenti disebuah ruangan bertuliskan marga Jung itu. Tangannya terangkat mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban dari dalam, dia coba mengetuknya kembali seraya memanggil Dokter Jung. Masih sunyi tidak ada jawaban sama sekali.
Hakyeon membuka pintu itu dan menutupnya kembali. Berjalan perlahan, hingga menemukan Jung Yoo Jin Dokter pribadinya.
"Yoo Jin-ah" panggil Hakyeon pelan.
"Kenapa sepi sekali, Yoo Jin-ah, kau disini"
Tak Tak Tak
Tak Tak
Brruuukkk
Hakyeon terjatuh akibat tersandung sesuatu yang menghalangi jalannya. Tangan Hakyeon meraba sekitar lantai mencari tongkatnya, namun yang dia temukan adalah benda lainnya, benda yang tengah dia sentuh dan dia raba keseluruhan. Tangannya merasakan basah pada benda itu, ketika dia meraba semakin atas, matanya terbelalak kaget saat dia sadar dihadapannya ini ternyata manusia. Dia raba wajah itu untuk mengenali siapa orang itu.
Hakyeon terjatuh kebelakang, mengetahui siapa orang didepannya, tangan mungilnya gemetaran hingga menjalar keseluruh tubuhnya. Bibirnya ikut bergetar dengan mata yang menyorotkan ketakutan.
Kleekk
Hakyeon menoleh kebelakang pada seorang perawat yang melotot kearahnya dan sontak saja dokumen yang dipegang Perawat itu terjatuh.
"KHYAAAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Hyuk buru - buru keluar dari mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah. Menaiki tangga dengan cepat dan masuk begitu saja kesebuah kamar milik Tuannya.
"Hyung!" Hyuk berlari mendekati Taekwoon yang tengah duduk menggenggam tangan Hakyeon yang sedang tertidur.
"Sssttt" Taekwoon berdiri meletakan tangan mungil itu di perut Hakyeon dan menyuruh Hyuk ikut keluar bersamanya.
Mereka berjalan masuk kedalam ruangan lain disamping kamar Hakyeon, dan duduk saling berhadapan.
"Dokter Jung, benarkah dia sudah meninggal?"
Taekwoon hanya menganggukan kepalannya perlahan. "Seharusnya aku tidak membiarkanya kesana sendiri. Dia menyentuh jasad itu"
"Bagaimana Hyung, Polisi mengatakan apa ?"
"Mereka akan menginterogasi Hakyeon besok, sejak kejadian itu Hakyeon menjadi syok, sampai sekarang dia baru tertidur setelah meminum obat. Polisi masih meminta keterangan para saksi, dan akan memeriksa cctv disana"
Hyuk terlihat sedikit lega mendengar keterangan Taekwoon. "CCTV itu akan melihatkan pembunuhnya kan, Sajangnim pasti akan bebas"
"Kau tidak merasa aneh ?"
Hyuk menatap Taekwoon yang terlihat serius.
"Kenapa Dokter Jung meninggal ? apa motif pelaku membunuhnya ? dan kenapa ini terjadi disaat Hakyeon ingin melakukan operasi ? Ini semua pasti ada kaitannya"
"Jisoo,, apa anak itu sudah tau?"
"Aku baru saja menghubunginya, tapi dia belum kembali kesini"
"Hyung,, apa menurutmu semua ini rencana mereka?"
"Aku berfikir seperti itu, tapi kita tidak punya bukti. Kita hanya bisa menunggu hasil kepolisian" Taekwoon menyerahkan sebuah dokumen berwarna bening itu kepada Hyuk.
"Apa ini Hyung ?" Hyuk membuka - buka dokumen itu dan membacanya. "Ini bukannya"
"Kita membutuhkan pengacara"
Hyuk menatap Taekwoon intens dan langsung menganggukan kepalanya mengerti.
"Kita harus mendapatkan bukti, sebelum mereka memutar balikan faktanya"
"Aku mengerti Hyung"
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAAAAKK
Jisoo membuka paksa pintu ruangan Sojin, dimana Sojin tengah berbincang hangat bersama sang adik .
"Jisoo-ya?" Panggil pelan Hongbin yang kaget melihat raut marah Jisoo menatap nyalang pada kakaknya.
"Apa yang kau lakukan Park SoJin!" Jisoo meremas baju Sojin dan menodongkan kepalan tangannya hendak memukul wanita yang jauh lebih tua darinya.
"Jisoo-ya, tenanglah ada apa?" Hongbin berusaha menurunkan kepalan tangan Jisoo. Namun, Jisoo masih bertahan dengan mata penuh amarahnya.
"Ada apa ?!" Bentak Sojin dan langsung menampik tangan Jisoo yang meremas bajunya.
"Kau bilang tidak akan menyentuhnya, kita sudah berjanji itu!"
Sojin hanya mampu terdiam.
"Ada apa ini Nuna ?"
"Kenapa kau menjebaknya!"
"Aku tidak menjebaknya!" Sojin menatap tak terima Jisoo, dan berjalan duduk kembali. "Nasibnya saja yang sial, kenapa dia bisa ada disana"
"Kau tau itu! Kalian tau dia akan kesana! Kalian membahasnya kemarin!"
Hongbin hanya menatap bingung kedua orang yang saling berteriak, bersitegang membahas sesuatu yang tidak dia tau.
"Jisoo-ya, apa yang terjadi sebenarnya?"
"Tanya itu pada Nuna-mu! Kenapa dia membunuh orang dan menjadikan Hakyeon sebagai pembunuhnya!"
Hongbin menatap sang kakak tidak percaya, mulut itu terbuka lebar dengan perasaan kecewa yang menyelimutinya. "Nuna, kau membunuh orang?" Hongbin berjalan perlahan mendekati Sojin yang terlihat cemas.
"Kau, tidak mungkin kan ? Nuna ku bukan pembunuh" Hongbin berlutut disamping Sojin, menggenggam tangan Sojin. "Nuna~~"
"Dia akan melakukan operasi, aku tidak bisa membiarkannya"
Hongbin semakin terkejut mendapat jawaban dari mulut kakaknya sendiri.
"Rencana kita harus berjalan lancar Hongbin-ah. Kita sudah menantikan ini selama bertahun - tahun"
"Tidak" Hongbin menggelengkan kepalannya, "Tidak mungkin" Tangis Hongbin pecah didepan sang kakak. "Kenapa hiks .. kenapa Nuna hiks"
Sojin menoleh dan menangkup wajah Hongbin, "Aku melakukan ini untukmu" Tangan itu mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi Hongbin. "Aku melakukan untuk orang tua kita, Ini untukmu Hongbin-ah"
Hongbin menggelengkan kepalanya takut. "Tidak...tidak seperti ini" Dia berdiri mundur menjauhi sang kakak. "Nuna-ku tidak seperti ini" Dia mnghapus tangisnya, "Kau bukan Nuna-ku" Hongbin lantas berlari keluar ruangan membiarkan Sojin yang terus memanggil namanya.
Sojin berusaha mencegah Hongbin, namun adiknya itu sudah hilang dibalik pintu, dia hanya mampu terdiam dengan dadanya yang terasa nyeri mendengar ucapan dari mulut adik kesayangannya itu.
"Kita lihat, apa yang bisa kau lakukan" Jisoo beranjak dari ruangan Sojin, dan meninggalkan Sojin sendirian dengan perasaan kacaunya.
.
.
.
.
.
.
.
Dua orang anak berpelukan melihat kedua orang tua mereka berkelahi didalam mobil. Mereka yang hanya duduk dibelakang tidak bisa melakukan apa - apa setiap perdebatan terjadi antara Ayah dan Ibunya. Sang kakak hanya mendekap adiknya yang menangis ketakutan.
"Hak asuh anak akan jadi milikku"
"Hahh ?! Aku ini Eomma-nya, aku yang melahirkan mereka.!"
"Kau melahirkan, hanya melahirkan, tak pernah mendidik mereka!"
"Siapa yang tak pernah mendidik, hah ! Ayah macam apa yang sering meninggalkan keluarganya!"
"Eom..eomma~" Sang anak tertua berusaha mengalihkan pembicaraan mereka karena sang adik yang semakin menangis histeris.
TIINNN TIIINN
"Eommaaaa!"
.
.
.
"Ani..Aniya, Eomma" Hakyeon mengigau dalam tidurnya, dia terus bergerak tidak tenang, merasakan kembali kejadian masa lalu yang kini dia ingat lagi.
"Hakyeon-ah, Ireona" Taekwoon yang tadinya sedang tertidur disamping Hakyeon, menjadi terbangun dan berusaha membangunkan kekasihnya itu yang mulai menangis dalam tidurnya.
"Kajimaa..hiks Appa hiks andwe an..andwe .. andwe eomma hiks"
"Hakyeon-ah, tidak apa - apa itu hanya mimpi. Cha Hakyeon, bangunlah" Taekwoon mengusap keringat diwajah Hakyeon yang semakin banyak.
"Uhhhukk uhhuk hiks" Hakyeon terbatuk dengan kerutan saraf dikepalanya yang mulai terlihat jelas.
"Hakyeon-ah, bangunlah. Ini aku Taekwoon," Taekwoon meletakan kepala Hakyeon didadanya dan dipeluknya erat, Hakyeon mulai merasakan sakit lagi, traumanya yang sudah hilang kembali lagi. Taekwoon tidak tau harus melakukan apa.
"SangHyuk!" Teriak Taekwoon, "Han SangHyuk!"
"Uhhukk Uhhukk eomma.. eom..eomma hiks"
"Tidak Hakyeon-ah, jangan seperti ini lagi" Taekwoon memeluk Hakyeon erat. "Kumohon bangunlah, bangunlah love" Taekwoon menoleh kearah pintu yang masih belum mendatangkan seseorang yang dia maksud. "HAN SANGHYUK!"
BRAAKK
Hyuk membuka kasar pintu kamar Hakyeon, dia melihat Taekwoon yang memeluk Hakyeon begitu erat. Tanpa berfikir panjang dia menghampiri kedua orang diatas kasur itu.
"Bangun Hakyeon, Bangun love, kumohon"
"Ada apa Hyung?"
Taekwoon menatap Hyuk dengan kerutan didahinya, matanya menyorotkan kecemasan. "Sudah setengah jam dia seperti ini. Kita harus memanggil Dokter"
Hyuk tampak kebingungan, tangannya yang bergetar merogoh saku celanannya dan mengambil ponsel miliknya. "Siapa, siapa yang harus aku hubungi" Hyuk hanya menatap ponsel itu, tangannya semakin gemetaran. "Kenapa Sajangnim seperti ini lagi?"
"Cepat! Hubungi siapa saja!"
"Ba..baik" Hyuk menekan kesebuah kontak di ponselnya. Dia begitu kebingungan, jika seperti ini, biasanya dia menelepon Dokter Jung, tapi Dokter Jung baru saja meninggal, tidak mungkin dia menelepon seseorang yang sudah meninggal.
"Hiks an..andwae,, Ji..Jisoo-ya uhhukk uukhh Jisoo-ya hiks kajima hiks"
"Hakyeon-ah, bangunlah. Kau hanya bermimpi. Ya Tuhan~~" Taekwoon menoleh ke Hyuk yang belum juga mendapatkan seseorang yang ingin dia hubungin. "JISOO!" Taekwoon kembali berteriak dan kali ini memanggil nama orang lain. "CHA JISOO! Astaga kemana bocah itu disaat seperti ini"
"Aakhh Ani..ani...hiks uhhukk"
"Cepat Han ! ya Tuhan, kau ini lama sekali!"
"Aku sedang berusaha Hyung!"
"Jisoo-ya!, Bocaaahh! Cha Jisoo!" Taekwoon berteriak lagi, berusaha memanggil seseorang yang dia maksudkan. Tiba - tiba beberapa pelayan masuk kedalam kamar Hakyeon.
"Tuan ada apa teriak - teriak?"
"Siapkan Mobil, kita harus membawa Hakyeon ke rumah sakit"
"Ada apa ini ?" Jisoo, sosok yang dari tadi dipanggil Taekoon akhirnya muncul juga, walaupun penampilannya sangat tidak etnis, dengan rambut yang berantakan dan piyama yang lusuh dia kenakan. "Ada apa dengan Hyung-ku?" Jisoo berlari mendekati Taekwoon yang masih mendekap erat kekasihnya.
"Kemana saja kau bocah!" Taekwoon langsung berteriak saat Jisoo ikut naik ke atas kasur dan menggenggam tangan Hakyeon.
"Kau pikir aku kemana! sudah jelas aku tidur. Mana aku dengar, kamarku dibawah!" bentak Jisoo kembali yang masih cemas menatap Hakyeon yang terus saja terbatuk kesakitan.
"Yeoboseyo, Dokter Lee, bisakah anda kemari..Aahh kami, baik, kami akan kesana. Terimkasih" Hyuk menutup telponnya dan bernafas lega. "Rumah sakit daerah Seoul masih ada yang buka. Kita kesana Hyung"
Taekwoon menganggukan kepalanya. Dan mulai membopong Hakyeon.
"Apa yang terjadi dengan Hyung-ku?" Jisoo ikut turun dari kasur dan menyamai jalan Taekwoon yang terburu - buru.
"Traumanya kembali, sarafnya bisa putus jika dia tidak keluar dari ingatannya" Taekwoon memasukan tubuh Hakyeon perlahan kedalam mobil. "Kau masuklah, pegangi dia" Ucapnya pada Jisoo untuk segera masuk kedalam mobil di bangku belakang bersama Hakyeon. "Hyuk-ah, kau tetap disini. Biar aku dan Jisoo yang mengurus Hakyeon" Taekwoon masuk kedalam bangku pengemudi. Dan mulai menghidupkan mesin mobil, sementara Jisoo, menjaga Hakyeon yang tertidur masih dengan traumanya, dipaha sang adik.
Hyuk menganggukan kepalanya tanda mengerti, semua orang dari pelayan hingga para bodyguard berdiri di luar mengantar Tuan mereka yang sekarang sudah pergi meninggalkan rumah menuju Rumah Sakit.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei," Taekwoon membangunkan Jisoo yang tengah terduduk bersandar di kasur rawat Hakyeon. Jisoo meregangkan ototnya dan menatap lelah Taekwoon. "Aku harus ke Kantor, kau jaga Hakyeon"
"Hmmm" Jisoo kembali tertidur meletakan kepalanya di kasur.
"Ck, bocah" Taekwoon keluar dari ruang rawat Hakyeon, setelah merapikan jasnya dan mengambil Tas. Dia melangkah keluar meninggalkan kamar bertuliskan 201 itu. Tengah dalam perjalanan turun dari lantai atas, Hakyeon berpapasan dengan seseorang yang baginya tidaklah asing.
Taekwoon berhenti dan menoleh pada orang tersebut. "Park Hongbin" Orang yang dipanggilnya berhenti dan menoleh kebelakang pada Taekwoon yang kini berjalan kearahnya. "Ada urusan apa kesini ?"
Mata Hongbin menatap kelain tempat, raut wajahnya terlihat gugup. "Aku..ingin bertemu Cha Sajangnim"
"Atau Jisoo?"
Hongbin menatap Taekwoon terkejut.
"Jisoo, bersengkongkol dengan kalian bukan? Pembunuhan itu, kalian yang merencanakannya bukan? Dan kalian berencana menjebak Hakyeon" ucap Taekwoon seraya menatap Hongbin nyalang.
"Aku tidak tau apa - apa tentang itu. Itu, begini, ada yang ingin aku beritahukan, tapi..bisa kita bicara ditempat lain?"
Taekwoon terdiam, dan langsung mengajak Hongbin menuju cafetarian di Rumah Sakit itu. Mereka hanya memesan dua cangkir kopi dan duduk saling berhadapan.
"Pembunuhan itu, aku sungguh tidak tau mereka akan melakukannya" Hongbin memulai percakapan. "Aku, juga tidak percaya Nuna-ku tega membunuh orang demi balas dendamnya" Dia mengaduk - aduk cangkirnya. "Jisoo, dia sangat menyukai Hyung nya. Dan Jisoo tidak mungkin terlibat dalam hal ini"
Taekwoon melipat kedua lengannya didadanya. "Langsung ke topik, apa maksudmu mengajaku bicara ?"
"Aku tidak ingin Nuna-ku melebihi batas, dan dia menjadi orang lain. Aku, ingin menghentikannya seperti dua tahun lalu," Hongbin menatap kedua mata Taekwoon dengan mata nanarnya. "Aku mohon bantuanmu Tuan Jung, dulu kau membantu Nuna-ku, kali ini bantulah aku. Jadi, tolong bantu aku, agar Nuna-ku menghentikan ini semua"
Taekwoon terdiam memikirkan sesuatu. "Berikan bukti pembunuhan itu. Jika mereka terungkap bersalah, Nuna-mu tidak akan bisa apa - apa. Balas dendamnya tidak akan berjalan lagi"
"Tapi...Nuna-ku akan dipenjara"
Taekwoon meletakan kedua tangannya diatas meja dan menatap Hongbin tajam. "Kau ingin Nuna-mu terus menjadi penjahat atau di penjara hanya dengan satu kejahatan ?"
Hongbin tertunduk, memikirkan perkataan Taekwoon. Kedua tangannya bergerak gusar. Dia tidak ingin kakaknya dipenjara, tapi dia juga tidak ingin kakaknya terus hidup dalam dendamnya"
"Pikirkan dulu, hubungi aku jika kau sudah membuat keputusan." Taekwoon memberikan kartu namanya, dan pergi beranjak dari sana.
.
.
.
.
"Taekwoon, sudah pergi tadi pagi" Jisoo menarik kursi dan duduk di samping kasur Hakyeon. Disana Hakyeon tengah duduk bersandar pada bantalnya. "Eoh, Hyung mau aku kupaskan apel ?" tawar sang adik seraya mengambil sebuah Apel dinakas samping tempat tidur.
"Hmm" Hakyeon mengangguk dengan senyum semangatnya.
"Hyung, apa kau selalu memimpikan itu ?" Jisoo mengupas kulit apel dengan perlahan.
"Akhir - akhir ini tidak terjadi. Tapi entah kenapa ingatan itu kembali lagi."
"Mulut" Jisoo menyuapkan apel yang sudah dipotongnya kecil - kecil pada sang kakak.
Hakyeon lantas membuka mulutnya dan Jisoo memasukan apel itu kedalam mulut Hakyeon. "Hmmm, manis"
Melihat Hakyeon yang merasa senang dengan apelnya, Jisoo pun ikut memakan potongan apel di tangannya.
"Jisoo-ya, Yoo Jin,, bagaimana ?"
Jisoo kembali menyuapkan apel kepada Hakyeon yang sudah siaga membuka mulut. "Dia meninggal. Minggu depan adalah upacara pemakaman, mereka sedang melakukan otopsi"
"Bagaimana ada orang yang tega membunuhnya"
Jisoo menatap sang kakak yang memandang kedepan. Wajah yang terlihat begitu suci, mata yang selalu melihat kegelapan. Tidak adil jika Hakyeon selalu merasakan kepedihan.
"Jisoo-ya"
"Hmm"
Tangan Hakyeon meraba berusaha menemukan Jisoo, dia lantas memberikan tangannya kepada Hakyeon. "Aku, tidak bisa menjalankan Perusahaan ini. Aku sudah mengubah pewaris utama adalah dirimu"
"A..apa ?"
"Aku sudah mengurusnya 5 tahun yang lalu. Hyung, tidak bisa selamanya menggenggam Starlight. Hanya kau satu - satunya harapan Hyung"
Kening Jisoo bertautan, dia menatap tidak percaya terhadap ucapan sang kakak. "Kenapa..? Aku, kenapa aku ? Aku tidak bisa"
"Jisoo-ya, dengarkan Hyung." Tangan Hakyeon menggenggam erat tangan Jisoo dengan tatapan matanya yang mengarah pada Jisoo. "Sekarang aku sudah menemukanmu, mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan semuanya...Hyung.."
KREEEEKK
Hakyeon terdiam mendengar suara pintu yang terbuka lebar, disana Jisoo melihat tiga orang polisi mendekati mereka, dan membungkuk hormat.
"Annyeonghaseo, Tuan Cha. Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan Jung Yoo Jin. Silahkan ikut kami" ucap salah satu polisi tersebut seraya menunjukan selembar surat perintah penangkapan.
Hakyeon dan Jisoo tersentak mendengar ucapan polisi tersebut, "Tunggu, bagaimana bisa Hyung-ku yang membunuh. Kalian bilang sedang memeriksa CCTV!"
"Benar, tapi sangat disayangkan rekaman pada kejadiaan saat itu tidak ada. Kami sedang berusaha menemukannya, namun sementara ini kami harus menetapkan Tuan Cha menjadi tersangka tunggal"
Jisoo menggenggam tangan Hakyeon erat. "Biarkan, kami kesana sendiri. Kami akan kesana nanti, Hyung-ku sedang sakit."
"Tidak apa - apa Jisoo-ya" Hakyeon menyentuh pundak Jisoo dan melepas infus ditangannya. "Aku akan bersiap - siap dulu, tolong tunggu di luar" ucapnya menatap kedepan pada sang polisi. Para polisi tersebut lantas membungkuk dan keluar ruangan.
"Hyung, kau bukan pelakunya. Aku tau itu. Jangan serahkan dirimu begitu saja."
"Maka dari itu, jika aku tidak datang kesana, itu artinya aku seorang pembunuh. Aku harus kesana dan membuktikan bahwa bukan aku pelakunya" Hakyeon turun perlahan dari atas kasur, Jisoo membantu kakaknya tersebut dan mengambilkan baju ganti. "Jisoo-ya"
Jisoo menatap kedua mata Hakyeon yang menatap keatas padanya. "Tetaplah disisi Hyung"
GREEPP
Jisoo lantas memeluk Hakyeon erat, kedua matanya tertutup dengan kerutan didahinya. "Maafkan aku Hyung, seharusnya tidak seperti ini, seharusnya aku bisa menjagamu lebih baik"
Hakyeon membalas pelukan sang adik kesayangannya, memeluk seraya mengelus rambut dan punggung Jisoo sayang. "Tidak apa - apa Jisoo-ya, semuanya akan berakhir"
Hakyeon dan Jisoo melepas pelukan mereka dan menatap satu sama lain. "Ayo pergi" ucap Jisoo seraya menggenggam tangan Hakyeon. Dapat dirasakannya tangan sang kakak bergetar ketakutan. Dia yakin Hakyeon hanya berusaha terlihat tegar dan kuat didepannya. Hakyeon, tidak pernah terlihat rapuh didepannya selama ini. Tidak pernah sekalipun.
Jisoo membimbing kakaknya berjalan keluar ruangan, karena Hakyeon tidak membawa tongkatnya, Jisoo harus selalu menggenggam erat tangan Hakyeon. Jisoo melihat para polisi yang tengah duduk itu langsung berdiri mendekati mereka. Salah seorangnya mengeluarkan borgol.
"Tolong, kami tidak akan kabur. Jangan pasangkan itu ditangan Hyung-ku" ucap Jisoo mencegah sang polisi. Dan mereka lantas berjalan menggiring Jisoo dan Hakyeon hingga keluar rumah sakit dan masuk ke dalam mobil polisi.
Mereka pergi dengan sirene yang begitu riuh, menuju ketempat dimana tak seorangpun ingin datang kesana. Tempat yang menjadi hotel para penjahat.
.
.
.
.
.
.
Hakyeon duduk disebuah ruangan dimana disana hanya tersedia meja panjang dan dua buah kursi yang saling berhadapan. Dia duduk menghadap kesebuah kaca besar. Bukan Hakyeon yang melihat kaca itu, tapi mereka yang dibalik kaca itu melihat segala gerak - gerik Hakyeon. Di ruangan pemeriksaan itu, ada tiga orang detektif, mereka duduk dan mengamati Hakyeon.
"Dia hanya diam sedari tadi Hyung" ucap salah seorangnya kepada seorang namja yang terus menatap Hakyeon intens.
"Tentu saja, dia tuna netra kan. Aku masih tidak yakin jika dia pembunuhannya. Minhyuk-ah tetap cari dimana rekaman itu berada, pasti ada yang sudah mengambilnya"
"Baik" Seseorang yang dipanggil Minhyuk itu berdiri tegak dengan hormatnya ketika mendapat perintah dari orang yang sekarang tengah membaca dokumen ditangannya. Minhyuk lantas pergi menjalankan tugasnya.
"Aku akan masuk kesana, kau tetap jaga disini" Namja itu berdiri dan keluar ruangan tersebut dan langsung masuk kedalam ruangan dimana Hakyeon berada.
Hakyeon langsung gugup ketika ada orang yang duduk dimejanya dan menaruh beberapa barang. "Anyeonghaseo, Cha Hakyeon. Saya Detektif Seo Inguk, Kepala Tim Kasus Pembunuhan" orang yang memperkenalkan dirinya bernama Inguk mengulurkan tangannya pada Hakyeon. Namun, Hakyeon tersenyum dan menundukan kepalanya. Inguk yang mendapat penolakan itu hanya menggaruk kepalanya menatap Hakyeon yang hanya memandang kedepan. Tentu saja Hakyeon tidak tau jika Inguk mengulurkan tangannya.
"Disini, aku tidak akan mengasihanimu hanya karena kau tidak bisa melihat. Segala peraturan harus tetap dijalankan. Kau hanya perlu menjawab beberapa pertanyaanku. Jika Alibi mu itu masuk akal, kau bisa keluar, namun belum sepenuhnya bebas, karena kita harus mendapatkan bukti terlebih dahulu. Kau mengerti?"
"Saya mengerti"
"Hmm, baik" Inguk mulai membuka dokumennya dan mengambil bolpint disaku jasnya. "Salah seorang Perawat melihat kau berada disana, bersama jasad Nona Yoo Jin, benar?"
"Iya"
"Apa yang kau lakukan disana ?"
"Hari itu jadwal pemeriksaanku, aku dan Dokter Jung sudah membuat janji"
"Kapan terakhir kali kau bertemu Dokter Jung ?"
"Sehari sebelumnya, aku datang kesana untuk mengurus persiapan operasi mataku"
"Dengan siapa?"
"Jung Taekwoon, kekasihku"
"Hmmm" Inguk menyandarkan punggungnya pada kursi dan melipat tangannya.
"Hei, Hakyeon-ssi. Sebenarnya aku tidak percaya bahwa kau ini pelakunya. Coba lihat ini" Inguk memperlihatkan Rekaman CCTV di laptopnya. "Disini hanya ada rekaman saat kau sudah menemukan jasad Jung Yoo Jin, dan aku sudah memperlihatkan pada Dokter Psikolog, dan dia mengatakan kalau kau ketakutan karena syok. Saat itulah aku percaya kalau kau bukan pelakunya, terlebih lagi, kau tidak bisa melihat, tidak mungkin kau bisa menikam berkali - kali orang yang penglihatannya jauh lebih bagus." Inguk yang menatap laptop itu, mengarahkan matanya pada Hakyeon yang menatap kedepan. "Kau tidak melihat...Astagaa, maaf." Inguk menarik kembali laptopnya dan kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku lupa kau memang tidak bisa melihat, kenapa aku perlihatkan ini padamu. Bodoh"
Hakyeon terkikik perlahan mendengar tingkah aneh sang Detektif. "Saya lega Anda percaya bukan saya pembunuhnya" ucapnya dengan senyum manis khas Cha Hakyeon.
Inguk yang melihat itu hanya tersenyum dan menghembuskan nafasnya lega. "Oke. Kita akan lanjutkan pertanyaan dengan santai saja. Anggap saja aku temanmu, Hakyeon-ssi. Oh ya, kau ingin minum apa ?"
"Apa saja"
"Ya. Bawakan 2 kopi kemari, berikan juga pada Adiknya yang menunggu diluar" Ucapnya pada seseorang yang berada di ruang sebelah.
"Baik Hyung"
"Hmm jadi Hakyeon-ssi" Inguk kembali menyandarkan punggungnya masih dengan bolpin dan dokumennya. "Sebelum kau masuk kesana, apa kau melihat orang lain keluar dari ruangan itu"
"Maaf?"
Inguk kembali menghela nafasnya lelah. "Maksudku apa kau mendengar orang lain keluar dari sana ?"
"Aku tidak yakin. Karena saat itu aku konsentrasi menghitung langkah"
"Untuk apa ?"
"Menemukan ruangan Jung Yoo Jin. Aku selalu melakukan hal seperti itu"
"Seberapa dekat hubunganmu dengan korban ?"
"Kami dekat hanya sebagai pasien dan dokter selama ini. Dia dokter pribadiku"
"Kekasihmu itu, dimana dia saat kejadian?"
"Ke kamar mandi, saat itu ada seorang Ahjussi yang tidak sengaja menumpahkan sup di jas Taekwoon"
"Ahjussi?"
"Iya, mungkin dia terburu - buru, jadi menabrak Taekwoon"
"Aah,, tidak mungkin. Rumah sakit itu kan besar. Dimana kejadiannya?"
"Kejadian apa ?"
"Ahjussi itu"
"Setelah lift, hmm sekitar 10 langkah"
Inguk terdiam tampak berfikir sejenak. Dia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang"
"Ne Hyung ?"
"Minta rekaman CCTV Asan Medical Centre, semua CCTV, hingga tempat parkir!"
"Ne Hyung"
"Ada apa ?"
Inguk menutup teleponnya dan meletakannya diatas meja. "Ahjussi itu harus ditemukan, kemungkinan besar dia terlibat. Kejadian itu sebelum belokan menuju ruangan korban, berati saat itu sang pelaku sedang keluar. Sepertinya kau memang dijebak, itu spekulasi ku"
"Dijebak?"
"Hmm itu baru perkiraan, kita akan tau jika sudah melihat CCTV nya. Sebelum itu, apa kau punya musuh atau orang yang berusaha menyakitimu?"
Hakyeon menggelengkan kepalannya pelan.
"Ingat - ingat dulu, mungkin mereka dendam padamu atau iri padamu"
Hakyeon terdiam, dia mencoba memikirkan pertanyaan Inguk. Dia tidak pernah merasa punya musuh atau pun disakiti seseorang. Walaupun..
"Aah"
"Ada apa ?"
"Aku rasa ada, tapi aku tidak yakin jika mereka akan melakukan pembunuhan itu"
"Ada masalah apa ? dendam atau"
Hakyeon menggelengkan kepalannya perlahan. "Dulu, keluarga kami pernah mengalami kecelakaan, kedua orang tua mereka meninggal begitu juga orang tuaku. Sampai sekarang, mereka merintis perusahaan sendiri karena Perusahaan mereka mengalami bangkrut sejak kecelakaan itu. Dan dulu adiknya pernah menjadi korban kebakaran salah satu pabrik batu bara Starlight."
Inguk mencatat setiap kalimat yang dilontarkan Hakyeon.
"Mereka juga sering merusak segala rencana bisnis Starlight."
"Siapa mereka?"
"Keluarga Park, Pemilik GirlsDay Group. Tapi, Aku tidak yakin mereka melakukan itu, jadi jangan masukan mereka kedaftar interogasi"
"Kenapa?, kemungkinan mereka pelaku, bisa saja"
"Jangan.. Jangan lakukan itu."
"Cha Hakyeon, kau ingin bebas bukan, kita hanya menginterogasi mereka"
Hakyeon menggelengkan kepalannya perlahan. "Aku tidak ingin mereka terlibat. Masalah selama ini sudah cukup merusak hubungan kita"
"Hubungan ? Apa maksudnya"
"Mereka...termasuk keluargaku"
"Keluarga?"
Hakyeon menganggukan kepalannya pelan. "Keluarga dari suami pertama Eomma ku"
Tbc
.
.
.
.
Yippiiiiiii Chap 9 UP!
Ada penambahan tokoh baru nih he he he,, lagi kangen sama Inguk soalnya. Makasih yang uda mereview di chapter lalu.. ^^
[Kim Eun Seob] Aigooo eonni bertahan di posisi pertama, review pertama XD .. Aigooo itu dokternya meninggal Hakyeonnya nggak jadi di operasi eon, Di tunggu chapter selanjutnya yh eonni XD
[Hakyeon Jung] Njiirr si Eonni, review apa pidato eon.. buanyak amat lah kaya dosa nya Wonshik cs tuh wkwkwkw. Masih bertahan diposisi pertama nih eonni sebagai review terbuaaaaanyak XD .. Sabar eon sabar istigfar, ngucap eon .. Astagfirullah Astagfirullah XD Ya ampuunn Si eonni malah kaya yang di rukiah kan.. Ini tenang eon, udah aku tambahin satu tokoh lagi yang berpihak sama Hakyeon.. wkwkw Kangen sama Inguk jadi aku Keluarin ciaaaaaa, udah itu Inguk udah jadi detektif, eonni gk usah ikut ikutan ntar tambah runyem wkwkwkwk , sana gih eonni mojok aja sama si Hyuk, kekasih barunya wkwk #Peluukkmuaach
[aiiuukirei] Hahaha ya deh chingu itu pintunya di kasih tulisan "dilarang masuk sedang ritual" XD biar Hyuk nggak ngasal nerobos aja. Lumayan juga sih Si Hyuk, lihat gratisan, dua orang lagi wkwkw ya bener dong, itu rencana Sojin cs , namanya dendam uda kesumat yah.. mau gimanapun caranya harus bisa ngebales..
[GaemGyu92] ADUH ADUH ADUH SI EONNI PAKE CAPSLOCK SEGALA. NAH KAN AKU IKUTAN JUGA... di chapter lalu banyak yah yang emosi wkwkw,, sabar , ayo eonno tarik nafas tahan, buang, tarik nafas tahan, buang.. XD Si eonni itu mereview kayanya pake emosi tuh, Sabaarr eonni sabaarrmalah wkwk Nih buat eonni #NgasihWonshikCS, silahkan mau diapain aja boleh XD
[HMYgrey] Dduuhhh setelah baca yang ini masih penasaran nggak atau malah tambah penasarannya wkwkw.. Iya dong jelas, pasti Hakyeon yang kena, soalnya dia yang ada di TKP :( Di tunggu yah chapter selanjutnya, terimakasih, selamat beraktifitas juga HMYgrey ^^
[ ] yupp Hakyeon tersangkanya,, sedang dalam proses pembebasan kalau ada bukti hohoho XD klw enggk yh di penjara .. Makasih yh di tunggu chapter selanjutnya.
Terimakasih sudah membaca jangan lupa Review nya. Di tunggu next chapter.
N-nnyeooooong~~
