Brother

LeoN

Hakyeon, Taekwoon, Jisoo

Hyuk, Wonshik, Jaehwan

Sojin, Inguk

Yaoi

M

Romance and Hurt

.

.

.

.

.

.

Taekwoon mengambil salah satu motor besar milik salah seorang pengacau didalam. Dengan segera dia nyalakan motor itu untuk mengejar Jaehwan. Tertinggal jauh dibelakang, Taekwoon menaikan kecepatan motornya sehingga bisa menyamai laju mobil didepannya itu. Tangannya memukul kaca mobil meminta pengemudi dengan penutup wajah untuk menghentikan mobilnya. Namun pengemudi itu malah semakin menaikan kecepatan. Tidak ada jalan lain, Taekwoon terpaksa mendahului mobil itu dan berhenti tepat didepan mobil tersebut. Mobil itu berhenti dan nyaris menabrak Taekwoon.

Taekwoon turun dari motornya, mengetuk serta membuka paksa pintu mobil. Pengemudi itu keluar dari mobil menatap tajam Taekwoon. Taekwoon tidak memperdulikan orang asing tersebut, yang utama adalah membawa Jaehwan ke sidang hari ini.

"Kau, keluar" pintanya tegas pada Jaehwan.

"Tetap didalam Hyung" Orang asing itu melarang Jaehwan yang hendak keluar dari mobilnya. "Aku sudah susah payah membawanya keluar, kau ingin mengambilnya?!" tanyanya sengit.

"Kita sudah susah payah menangkapnya, kau ingin membawanya kabur!" Taekwoon terpancing amarah, dia meremas kerah jaket yang dipakai orang itu. "Keluar sekarang!" Taekwoon menatap sengit Jaehwan yang masih duduk manis didalam mobil.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh sehelai rambutnya sedikitpun, Taekwoon Hyung!" Orang yang mengenakan penutup wajah itu juga mencengkram kerah Taekwoon. Mereka saling menatap tajam.

"Kim Wonshik!" Bentak Taekwoon.

"Biarkan kita pergi" Wonshik membuka penutup wajahnya, dan membuangnya begitu saja. "Kita tidak perlu berkelahi"

Taekwoon melepas cengkraman di kerah Wonshik. Dia menatap nyalang sahabatnya itu. Taekwoon berpindah kedalam mobil dan menarik Jaehwan.

"Keluar!" Bentaknya dan berusaha menarik lengan Jaehwan agar keluar dari mobil.

Wonshik yang melihat itu tampak marah dan langsung menarik Taekwoon keluar serta memukul pelipis sahabatnya itu. Taekwoon terdorong kebelakang dengan lebam di pelipisnya.

"Sudah kubilang! Jangan sentuh dia!"

"Kau ingin berurusan dengan penjahat!"

"Siapa yang penjahat?! Dia?" Wonshik menoleh kearah Jaehwan yang menatapnya khawatir. "Jika dia penjahat maka aku juga penjahat, jika aku penjahat, kau juga seorang penjahat!" Wonshik menutup pintu mobil berjaga - jaga agar Taekwoon tidak kembali menarik Jaehwan. "Kau..Itu juga penjahat Hyung! Kau itu pendosa! Kita tidak ada bedanya"

Jendela kaca mobil bergerak turun, Wonshik menoleh kearah Jaehwan. "Sudahlah, Wonshik-ah ayo pergi"

"Kim Wonshik!"

Wonshik kembali menoleh pada Taekwoon.

"Jika kau pergi, kau bukan dongsaengku lagi!"

Wonshik tersenyum sinis pada Taekwoon. "Sejak kapan aku jadi dongsaengmu, hah?! Sahabat?! Bahkan kau tidak pernah becus jadi sahabat!" Wonshik membuka pintu mobilnya, hendak masuk kedalam. Namun Taekwoon menariknya dan memukul wajah Wonshik keras hingga Wonshik jatuh tengsungkur.

"Aku memperingatkanmu Brengsek!"

Wonshik bangkit dan membalas pukulan Taekwoon, tangan Wonshik melayang kuat mengenai perut Taekwoon, dua kali Wonshik melayangkan pukulannya. Sebelum Taekwoon berhasil menahan pukulan Wonshik dan langsung menendang perut sahabatnya itu. Wonshik yang kembali jatuh tidak diberi kesempatan Taekwoon untuk berdiri, Taekwoon kembali memukuli wajah Wonshik bertubi - tubi hingga darah segar mengalir diwajah tampan itu.

DOOORRRRR

Taekwoon menghentikan pukulannya saat suara letusan senjata api terdengar ditelingannya.

"Menyingkir darinya!"

Taekwoon menoleh kebelakang, dimana Jaehwan tengah menodongkan senjata api padanya. Jaehwan berjalan perlahan mendekati kedua orang itu.

"Menyingkir!"

Taekwoon egan untuk bergerak. Dia kembali memukul Wonshik.

DOOORRR

Suara letusan kembali terdengar, Jaehwan menembak keatas sebagai peringatan untuk Taekwoon. "Aku benar - benar akan menembak kepalamu, Jung Taekwoon!"

Taekwoon bergerak perlahan dengan kedua tangannya yang terangkat keatas. Jaehwan yang melihat itu segera membantu Wonshik bangun tidak lupa dengan senjata yang masih menodong kearah Taekwoon.

Taekwoon hanya menatap Wonshik yang dipapah Jaehwan masuk kedalam mobil, dan meninggalkan Taekwoon yang terdiam tanpa bisa melakukan apapun.

DRRRRTTT DRRRRTTT

Taekwoon mendengus sebal, tangannya merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan dari Jisoo.

"Wae?"

Terdengar suara Jisoo yang terisak dengan getaran panik, "Hak..Hakyeon Hyung"

"Ada apa bocah, ucapkan dengan jelas!"

"Kecelakaan hiks hiks Hakyeon Hyung kecelakaan"

.

.

.

.

.

.

.

.

Seorang Dokter wanita dan seorang Dokter laki - laki keluar dari dalam ruangan UGD itu. Mereka berempat, Taekwoon, Jisoo, Hyuk dan juga Sojin segera menghampiri kedua Dokter yang tampaknya terlihat sedih.

"Bagaimana Dokter ?" Tanya Taekwoon khawatir. Kekhawatirannya semakin kuat ketika Dokter itu membuka maskernya dengan lemas.

"Dua korban dalam keadaan kritis"

"Dua ?" Tanya Taekwoon mengoreksi.

"Apa maksudnya ? Dimana Hyung-ku?" Jisoo mulai terdengar ketakutan.

"Kami turut berduka, dua korban lainnya meninggal"

Tangis Jisoo semakin histeris, walaupun dia tidak tau siapa kedua orang yang meninggal itu namun perasaannya seperti terbanting dan pecah saat mendengar ada seseorang yang meninggal. Dia takut salah satunya adalah kakaknya.

Sojin mencoba menahan tangisnya, dia menutup mulutnya dengan isakan yang mulai terdengar.

"Si..siapa? Siapa dokter?" tanya Taekwoon mencoba tenang.

"Kami tidak tau mereka salah satu keluarga kalian atau tidak. Kami akan membiarkan kalian berdua untuk masuk kedalam, dan melihat jasad kedua orang itu"

"Aku yang akan masuk" Taekwoon menoleh kepada Hyuk yang masih menangis. "Kalian disini saja. Aku yakin tidak ada Hakyeon disana"

Hyuk hanya menganggukan kepalanya dan mendekap Jisoo yang menangis.

Taekwoon masuk kedalam bersama Sojin. Didalam hanya terdapat dua orang yang sudah tertutup kain. Yang satu diletakan disisi kanan, dan satunya disisi kiri.

Sojin dan Taekwoon saling menatap satu sama lain. Dan akhirnya Taekwoon memilih mendekati orang yang terbaring disisi kiri sedangkan Sojin mengecek disisi kanan.

Taekwoon berjalan perlahan mendekati orang yang terbaring kaku dengan kain yang menutupi tubuhnya. Jantungnya berdetak 5x lebih cepat, bibir itu bergetar, tubuhnya serasa lemas saat membayangkan jika itu adalah Hakyeonnya. Dia menghembuskan nafasnya perlahan menenangkan dirinya sebelum tangan yang gemetaran itu membuka kain yang menutupi wajah jasad dihadapannya.

Kedua mata Taekwoon terpejam erat, tangannya membuka kain itu perlahan. Kain itu terbuka dan memperlihatkan seorang namja yang menutup kedua matanya dengan tubuh kaku nan pucat. Taekwoon kembali menghembuskan nafasnya perlahan, kedua matanya terbuka.

Taekwoon menutup mulutnya terkejut, saat dia melihat siapa orang yang dihadapanya. Mata itu menatap tidak percaya orang dihadapannya yang sudah tidak lagi bernyawa.

"Dia seorang polisi" ucap Sojin yang sudah melihat jenazah disisi kanan. "Itu,, siapa ?" Sojin ingin mendekat menuju jenazah yang berada dengan Taekwoon. Namun Taekwoon langsung menutup kembali kain dan berbalik.

"Sebaiknya kita ke luar" Ucap Taekwoon perlahan.

"Dia bukan Cha Hakyeon?" Sojin tersenyum remeh, dia melirik jenasah yang berada dibelakang Taekwoon. "Sayang sekali"

Kening Taekwoon berkerut marah. "Disaat seperti ini kau masih mengatakan hal seperti itu" Taekwoon mendekati Sojin dan menatap nyalang gadis itu. "Kau, sungguh tidak punya hati" ucapnya penuh penekanan.

Sojin hanya tersenyum remeh. "Siapa dia? Polisi juga?" Tanya Sojin seraya menatap orang yang terbaring tertutup kain.

Taekwoon terdiam dengan wajah sayunya, dia memalingkan pandangannya dari Sojin.

Sojin yang menyadari perubahan ekspresi Taekwoon tampak curiga dan kembali khawatir. "Dia..siapa?" Jatungnya kembali berdetak seperti saat pertama kali mengetahui ada dua orang yang meninggal.

"Keluar saja" Taekwoon menarik pelan tangan Sojin. Gadis itu langsung menarik kasar tangannya. Mata nya memerah, bibirnya bergetar hebat. "Dia...katakan" Air mata itu turun perlahan saat ketakutannya kembali menghantui pikirannya. "Orang itu...siapa?!" Sojin hendak mendekat namun Taekwoon menghalangi Sojin dan menahan bahu itu. "Tidak" Tangis Sojin menjadi histeris saat Taekwoon menahan tubuhnya. "Tidak!" Sojin masih berusaha meraih tubuh yang sudah kaku disana. "Hong...Hongbin-ah! Tidaaakk!"

Taekwoon mendekap tubuh Sojin yang mulai berontak ingin lepas. Taekwoon hanya tidak ingin Sojin melihat jasad adiknya disaat seperti ini. Dia berusaha mendekap tubuh Sojin yang sekarang tengah menangis histeris.

"Tidaaakk Hongbin-ah, Lepas! Hongbin-ah Tidaaakkk!"

"Minggir!" Sojin mendorong tubuh Taekwoon menjauh. Taekwoon terpaksa melepas Sojin dan membiarkan Wanita itu mendekati Adiknya.

Sojin meraba tubuh Hongbin dengan tangisnya yang semakin terisak. Dibukannya kain itu perlahan. Tubuhnya terjatuh lemas saat melihat sang Adik terbaring kaku dihadapannya. Tangisnya kembali histeris, dia memukuli dadanya yang terasa sesak, nafasnya terasa berat. Sojin ingin sekali berteriak namun suaranya seperti hilang begitu saja. "Hiks Aaahhh Hongbin-ah hiks hiks aaahhaahaha Hiks , Hongbin-ku" Sojin terus menangis memukuli dadanya. "Kenapa hiks hiks kenapa harus seperti ini! Hiks Hongbin-ah hiks Hongbin-ah hiks hiks Dongsaeng-ku hiks aaahh Hongbin-ah!"

Taekwoon menatap sedih Sojin yang terlihat begitu berduka. Tak bisa melakukan apa - apa disana, Taekwoon terpaksa meninggalkan Sojin yang masih menangis meratapi kepergian sang Adik. Meninggalkan sendirian sepasang saudara disana yang sudah berbeda alam.

Taekwoon keluar darisana dan menutup kembali pintu UGD. Jisoo dan Hyuk yang melihat Taekwoon keluar langsung menghampiri Taekwoon.

Taekwoon memeluk tubuh Jisoo yang masih menangis didepannya. Mendapat perlakuan seperti itu malah membuat Jisoo semakin menangis, dia mencengkram bahu Taekwoon erat. Tangisnya semakin histeris saat dirasa tangan Taekwoon mengusap rambutnya perlahan.

"Hyung Tidakkk hiks Hyuunggg"

"Hakyeon, selamat" ucap Taekwoon perlahan.

Hyuk yang tadinya menundukan kepalanya karena menangis kini kepala itu terangkat dan menatap terkejut Taekwoon. Begitu pula Jisoo yang langsung melepas pelukanya. Jisoo mengusap air matanya dan menatap bingung Taekwoon.

"Hakyeon tidak ada disana" Taekwoon tersenyum lebar dan mengetak pelan kepala Jisoo. "Hapus ingusmu, bocah" Dia tertawa melihat Jisoo yang tampak bodoh itu.

"Ya! Hiks hiks tidak lucu!" Jisoo kembali terduduk seraya menghapus air matanya.

"Jadi mereka siapa ?" Hyuk bertanya pada Taekwoon yang ikut duduk disamping Jisoo.

"Seorang polisi"

"Detektif Seo?"

Taekwoon menggelengkan kepalanya. "Hongbin" Taekwoon menolehkan kepalanya pada Jisoo yang tampak terkejut. "Hongbin, dia didalam"

Jisoo kembali meneteskan air matanya, bibirnya kembali bergetar. "Tidak mungkin"

"Aku memelukmu karena ingin mengatakan itu, tapi kau malah berteriak itu Hyung-mu"

Jisoo menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Tidak usah ditanya kenapa dia melakukan itu. Taekwoon telah mengatakan bahwa Hongbin, sahabatnya meninggal. Tidak jauh beda, rasanya sama sakitnya ketika dia melihat Hakyeon mengalami kecelakaan.

Mereka tetap duduk disana, didepan ruang UGD tanpa ingin beranjak, begitu pun Sojin yang masih berada didalam dengan tangis histerisnya yang terdengar hingga tempat mereka menunggu.

Beberapa saat mereka hanya duduk terdiam, hingga seorang Dokter menghampiri mereka.

"Bagaimana ?" Tanya sang Dokter dengan name tag Jung Eunji itu. Dokter dengan rambut panjangnya yang terikat menatap serius ketiga pemuda dihadapannya.

Ketiga orang itu berdiri, "Tidak ada Dokter" Jawab Taekwoon.

Sang Dokter mengangguk dan menyuruh mereka mengikutinya. Taekwoon, Jisoo dan Hyuk mengikuti dari belakang, mereka berjalan menaiki lift menuju ke lantai atas kesebuah ruangan dimana Dokter itu berhenti.

"Masuklah," Dokter Jung membuka pintu dan masuk mendekati ranjang seorang pasien. "Dia keluarga kalian ?"

Taekwoon menggelengkan kepalanya perlahan. "Dia Detektif Seo Inguk. Bagaimana keadaannya?" Taekwoon menatap iba Inguk yang terbaring koma dengan bantuan pernafasan yang menutupi hidungnya.

"Kami baru saja mengoperasi ginjalnya, lengannya patah, dan ada luka dalam didadanya. Kemungkinan komanya akan lama, kita hanya perlu berdoa karena jika ginjalnya yang pecah terbuka lagi, kita harus mengangkatnya atau jika perlu kita butuh pendonor."

Hyuk menggigit bibir bawahnya, "Aku akan menghubungi pihak keluarganya, kondisinya tampak serius" ucap Hyuk dan mendapat anggukan sang Dokter.

"Ini masih belum apa - apa"

"Maksud Dokter?" Tanya Jisoo saat Dokter Jung keluar ruangan. Mereka pun mengikuti Dokter Jung hingga berdiri didepan sebuah ruangan yang terkunci menggunakan kode.

"Ini pasien lain yang selamat. Sudah pasti dia keluarga kalian" Dokter Jung membuka pintu. Disana mereka tidak langsung melihat sang pasien namun disana mereka melihat sebuah kaca besar yang menghalangi mereka dengan seseorang yang tengah berbaring dengan segala peralatan yang tertempel di kepala hingga seluruh tubuhnya yang terbuka tanpa pakaian dan hanya sebuah kain yang menutupi area pinggang hingga kakinya.

"Hyung!" Jisoo langsung berlari mendekati kaca, kedua tangannya menempel dikaca, berharap dia dapat menggapai Hakyeon yang tertidur disana.

"Ada apa dengannya Dokter ?" Tanya Taekwoon khawatir.

"Saat ini, tidak ada yang boleh mengunjunginya secara langsung. Dia harus steril, segala kotoran, bakteri, hingga nafas seseorang dapat membuatnya kejang. Saat pertama kali dia dibawa kemari.."

"Ada apa? Apa yang terjadi Dokter ?" Hyuk bertanya saat Dokter itu enggan melanjutkan ucapannya. Sang Dokter menatap iba Hakyeon dimana disana terdapat plastic transparan yang mengelilingi ranjang Hakyeon.

"Seharusnya saat itu dia sudah meninggal" ucap Dokter itu hati - hati.

Taekwoon bahkan Jisoo terkejut mendengar kebenaran mengenai kondisi Hakyeon.

"Namun, saat mengoperasi Tuan Seo, dia tiba - tiba kejang. Kami segera memberinya tabung pernafasan. Dan jantungnya kembali berdetak. Setelah aku memeriksanya lagi, dia kembali kejang, bahkan sangat menyakitkan. Aku masih memperkirakan, syaraf otaknya mungkin rusak, jadi syaraf tubuhnya yang lain ikut berdampak."

"Rusak ? Seperti apa? Rusak bagaimana Dokter?" Taekwoon terlihat mulai cemas, Jisoo dan Hyuk bahkan menangis mendengar kondisi Hakyeon.

"Dia buta kan ?"

Taekwoon menganggukan kepalanya.

"Saat aku memeriksanya, syaraf penglihatanya tidak putus, namun aku tidak tau kenapa bisa seperti ini. Tapi kemungkinan, dia akan bisa melihat lagi karena kecelakaan itu"

"A..apa ?"

"Bagaimana bisa? Hyung-ku bisa melihat?"

Sang Dokter menganggukan kepalanya yakin. Kedua tangannya masuk kedalam saku jas putih yang dia kenakan. "Aku melihat matanya, dia merespon cahaya yang aku pancarkan saat itu. Matanya merespon. Apa dulu dia pernah kecelakaan atau terbentur sesuatu yang menyebabkan dia buta?"

"Dulu, dia terlibat kecelakaan. Kata Dokter yang menangani Sajangnim, syarafnya terganggu, dia harus melakukan operasi syaraf atau pencangkokan, karena jika syarafnya sampai putus dia.." Hyuk mencoba menjelaskan.

Namun, Dokter Jung memberi tanda cukup dengan tangannya. "Sepertinya diagnosa mereka salah",

"Salah ? Tidak mungkin, dia bahkan..."

"Memang ada syaraf yang nyaris putus, namun itu bukan syaraf mata. Syaraf matanya hanya terjepit, sehingga kedua matanya tidak bisa berkerja. Syaraf yang mereka diagnosia itu adalah syaraf kerja, sulit untuk dijelaskan. Intinya, karena kecelakaan itu, syaraf matanya terbuka, dan syaraf kerjanya telah terputus."

"Syarafnya sudah putus? Lalu...Apa yang akan terjadi Dokter?" Tanya Jisoo khawatir.

"Kalian bisa melihatnya sekarang. Syarafnya tidak bekerja dengan seharusnya, mereka menolak segala hal yang bukan dari tubuhnya. Udara, benda, pakaian, makanan, apapun itu, semuanya membahayakan hidupnya. Kami masih berusaha menyelamatkannya, jika dia sembuh kemungkinan besar dia bisa lumpuh atau jika tidak mungkin.. "

"Mungkin kenapa! jangan mengatakan setengah - setengah !" Taekwoon tidak bisa mengendalikan emosinya, berita kecelakaan sudah cukup membuatnya mengumpat Sahabatnya berkaki - kali. Jika keadaan Hakyeon sudah seperti ini mungkin dia tidak bisa memaafkan para penjahat itu.

"Kemungkinan, dia akan hilang akal"

BRAAAKKK

Taekwoon mendorong tubuh Sang Dokter, dia mencengkram kerah baju Dokter Jung. "Katakan.. Katakan lebih jelas!"

"Hyung" Hyuk berusaha menenangkan Taekwoon.

"Pikirannya akan kosong, karena syarafnya tidak bekerja dengan baik, dia tidak akan mengenali kalian, dirinya sendiri, semua makanan, hewan, huruf, kalimat, pikirannya benar - benar kosong, mungkin dia juga tidak akan ingat bagaimana caranya berbicara, berjalan, dan mengenali bahasa, suara, bahkan..."

BRAAAKK

"BRENGSEK!" Taekwoon melepas kerah Dokter Jung, dia memukul kaca didepannya dengan penuh amarah.

"Dokter, ini seperti amnesia, begitu ?" tanya Hyuk penuh harap.

Dokter Jung menggelengkan kepalannya, "Ini hilang akal, bukan hilang ingatan, ini sangat serius"

"Aku bersumpah" Kepalan tangan Taekwoon terbuka, kedua matanya menatap sakit Hakyeon yang tertidur didepannya, matanya menyorotkan kebencian, dengan air mata yang kini mengalir. "Jika tidak bisa membawanya kepenjara. Aku bersumpah! Akan ku bawa mereka ke Akhirat. Aku bersumpah! Akan kubunuh mereka semua!" Taekwoon berbalik dan menatap Jisoo yang juga tengah menangis sesenggukan, tangis yang terlihat begitu menyedihkan. "Kim Wonshik, akan ku bunuh dia"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kim Wonshik, terburu - buru mengemasi semua pakaian Jaehwan dan memasukannya ke dalam koper, Jaehwan berusaha meminta penjelasan kenapa Wonshik mengemas semua barang miliknya. Namun, Wonshik masih sibuk hingga dia pikir semua persiapan sudah lengkap.

"Kau harus pergi" Wonshik menutup koper dan terduduk lelah di atas kasur. Setelah berhasil membawa pergi Jaehwan dari Kantor Polisi beberapa jam lalu, kini mereka berada di rumah Jaehwan.

"Pergi ? Kemana ? Untuk apa ?" Jaehwan berdiri tepat didepan Wonshik.

Wonshik hanya menggelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat cemas. "Kita harus sembunyi, disini tidak aman lagi"

Jaehwan menatap curiga Wonshik, dia tau lelaki didepannya ini menyembunyikan sesuatu. Jaehwan berjongkok seraya menggenggam tangan Wonshik yang gemetaran. "Ada apa ? Kau melakukan sesuatu ?"

Saliva Wonshik tertelan begitu berat, matanya bergerak gusar. Kepala itu menggeleng ketakutan. "Aku...hanya...aku tidak tau, jika akan seperti itu"

"Apa maksudmu, ceritakan saja"

"Mobil...polisi itu, aku .." Wonshik menatap Jaehwan cemas, bibirnya gemetar. "Aku tidak ingin mereka menangkapmu karena aku" Air mata Wonshik mengalir, kedua tangannya menggenggam pundak Jaehwan. "Kumohon...kumohon pergilah hiks hiks", Wonshik meletakan kepalanya di pundak Jaehwan. "Aku berusaha menyelamatkanmu hiks hiks tapi lihat hiks aku malah memperburuk keadaan"

Jaehwan memeluk tubuh Wonshik yang tengah menangis. "Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang telah kau lakukan, kita hadapi bersama"

Wonshik menatap Jaehwan seraya menggelengkan kepalanya. "Tidakk..kau harus pergi. Mereka akan menemukanku. Mereka akan menangkapmu juga" Wonshik kembali menggeleng, "Aku tidak ingin mereka menangkapmu" Wonshik mengambil tas Jaehwan dan memberikan padanya, tangannya bergetar cemas.

PLAAAAKK

"Lantas! Kau menyuruhku kabur sendiri?!" Jaehwan menatap Wonshik nyalang setelah memukul wajah temannya itu. "Jika kau ditangkap, bagaimana aku bisa hidup tanpamu?!" Jaehwan mencengkeram kerah Wonshik, menatap Wonshik dengan tangisannya. "Aku juga tidak mau hiks, aku tidak mau kau meninggalkan ku Kim Wonshik hiks"

Kedua nya saling menatap dan menangis, tangan Wonshik menangkup wajah Jaehwan dan mengusap air mata yang mengalir turun.

"Aku...menyukaimu Hyung"

"Hiks iya" Jaehwan menganggukan kepalanya. "Hiks Aku...aku tau"

"Aku tidak ingin kehilanganmu"

Jaehwan kembali mengangguk. "Aku tau hiks" Tangan Jaehwan juga mengusap air mata yang membasahi wajah Wonshik. "Aku juga...Aku menyukaimu"

Wonshik tersenyum lega mendengar ucapan Jaehwan, wajahnya mendekat pada wajah Jaehwan, bibir mereka saling menempel, saling berpagutan, menyesap, dan mengecup rasa manis untuk pertama kalinya. Pertama kali mereka berciuman, setelah sekian lama memendam rasa masing - masing.

Tangan Wonshik memeluk pinggang Jaehwan dan membawa tubuh itu terjatuh bersama tubuhnya diatas kasur. Lidah mereka mulai bermain bersamaan dengan tangan Wonshik yang mulai masuk kedalam baju Jaehwan. Mengusap, mengelus lembut perut Jaehwan memberikan sensasi nikmat.

"Won...shik" Jaehwan menyudahi cumbuan mereka. "Ponselmu berdering"

"Tunggu sebentar" Wonshik menyingkir dari tubuh Jaehwan setelah memberikan kecupan singkat dibibir ranum lelaki yang sekarang mungkin sudah berstatus kekasih tersebut.

Wonshik melangkahkan kakinya menuju nakas mengambil ponselnya. Namun sayang, baru saja ingin dia terima telepon dari Sojin, panggilan itu sudah terputus.

DRRRTTTT

Wonshik membuka sebuah pesan yang baru saja masuk.

"Hyung"

"Ada apa ?"

"Kita ke rumah Sojin"

"Sekarang ? Ada apa ?"

Wonshik mengambil jaketnya dan mengandeng tangan Jaehwan. Dia mengedikan bahu dan mendaratkan kecupan di bibir Jaehwan kembali. "Entahlah Sayang~"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Segerombol polisi masuk kedalam Rumah Sakit, disana mereka langsung menuju lift dan naik ke lantai atas. Mereka berjalan dengan tempo cepat, menuju kesebuah ruangan dimana di depan ruangan itu ada Jisoo dan Taekwoon yang tengah duduk berjaga. Taekwoon dan Jisoo berdiri menyambut polisi - polisi itu. Dia menganggukan kepalanya, "Ada keperluan apa ?"

Seorang polisi maju mendekat dengan memperlihatkan selembar kertas kepada Taekwoon.

Taekwoon mengambil kertas itu dan membacanya. "Apa - apaan ini ?!"

"Ada apa ?" Jisoo mengambil kertas ditangan Taekwoon dan membacanya. Jisoo meremas surat itu, dia menatap nyalang beberapa polisi dihadapannya "Kalian gila ?! Kami sudah mengonfirmasi kan?! Dia baru saja mengalami kecelakaan, dan kalian masih ingin menangkapnya?!"

"Keluarga pihak korban ingin segera melakukan sidang. Kami hanya menjalankan tugas"

"Kalian buta!" Taekwoon menarik kerah seragam salah satu polisi didepannya. "Polisi macam apa kalian?! menangkap orang sakit?! Didekati seseorang.." Taekwoon menunjukan jarinya kearah pintu dimana Hakyeon sedang terbaring. "Dia, untuk didekati seseorang saja itu bisa membunuhnya"

Polisi itu terdiam semua, melihat betapa menyedihkannya Hakyeon yang dapat bertahan hidup dengan alat medis. "Baik, kami mengerti"

Taekwoon melepas cengkramannya secara perlahan.

"Kami akan kembali setelah Tuan Cha sadar. Permisi" Polisi itu menundukan kepalanya, dan beranjak pergi darisana.

"Tunggu" Ucap Taekwoon menghentikan langkah para polisi, "Bagaimana jika saya tahu pelaku sebenarnya?"

"Maksud anda ?"

"Saya tahu siapa pelaku pembunuhan Dokter Jung, tapi, saya membutuhkan bantuan kalian"

Polisi - polisi itu saling menatap satu sama lain, terutama Jisoo yang langsung terkejut menatap Taekwoon.

"Apa yang kau lakukan ?" bisik Jisoo pada Taekwoon.

"Anda yakin tau siapa pelakunya?"

Taekwoon menganggukan kepalanya, dia menoleh pada Jisoo dan tersenyum.

"Apa yang bisa kami bantu?"

Taekwoon kembali menatap para polisi dengan smirk andalannya. "Memancing keluar para penjahat, dan menangkap basah mereka"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wonshik keluar dari mobilnya dan tergesa berlari membukakan pintu mobil untuk Jaehwan keluar. Jaehwan hanya tersenyum malu menatap Wonshik yang tengah memberikan kedipan sayangnya.

"Mari Tuan Putri" Tangan Wonshik terulur, Jaehwan langsung meraih tangan kekasihnya itu dan mereka berjalan bersama masuk kedalam rumah Sojin. Sampai didepan pintu, Wonshik membuka pintu tersebut dan masuk begitu saja kedalam seperti sudah hal biasa.

Kedua pasang mata mereka menatap terkejut seluruh bagian rumah, ruangan yang berserakan, benda - benda yang pecah, rusak dan berhamburan.

"Sojin-ah!" Wonshik berteriak memanggil pemilik rumah. "Park Sojin! Kau disini"

PRYAAAAAARRRR

"AAAAAKKHH ! BRENGSEKKK AAAAAAAKKH"

Mereka tersentak mendengar suara Sojin yang berteriak dari dalam kamar, dengan segera Wonshik dan Jaehwan berlari kesana. Mereka berdiri didepan kamar yang pintunya telah terbuka, disana Sojin terlihat begitu kacau, kamarnya sangat berantakan, kaca - kaca bahkan pecah begitu pula vas dan perabotan lain yang berjatuhan.

"Park Sojin! Apa yang kau lakukan?!" Wonshik masuk kedalam kamar.

Mendengar suara Wonshik, Sojin langsung berbalik dan melotot tajam, air matanya kembali jatuh begitu deras. Tangannya langsung mengambil pecahan kaca yang ada di atas meja dan berlari kearah Wonshik, menubruk namja itu begitu saja.

"BRENGSEK KAU! KEMBALIKAN HONGBIN! AAAAAKHHHH KEMBALIKAN HONGBINKU!"

Wonshik yang tertindih tubuh Sojin berusaha menahan tangan wanita yang hendak menyerangnya. "Apaan kau! Kau sudah gila?!"

"KAUUU PEMBUNUHHHH,, KAU MEMBUNUHH HONGBIN, KENAPA HONGBIIINNN! KAU! KAU HARUS MATI!"

Jaehwan menangkap tubuh Sojin dan berusaha menarik tubuh itu dari tubuh kekasihnya. "Ya! Kita bicarakan baik - baik, tidak seperti ini"

"KALIAN LEBIH BAIK MATI!" Sojin menarik diri dari tubuh Wonshik dan memutar lengannya dengan kuat hingga pecahan kaca yang berada ditangannya menggores indah wajah mulus Jaehwan.

Jaehwan berteriak sakit dan terjatuh. Tangannya menyentuh wajahnya yang sobek dengan darah yang telah mengalir. Dia menatap tak percaya Sojin yang masih melotot dengan air mata diwajahnya.

"Kalian...kalian...lebih baik mati"

Wonshik berdiri dan memutar tubuh Sojin agar menghadapnya, tangannya terangkat dan langsung menampar keras pipi Sojin hingga wajah itu terpaling. "Brengsek kau" umpat Wonshik dan segera berlari pada Jaehwan.

"Kau tidak apa - apa ?" Wonshik membuka tangan Jaehwan yang menahan darah di wajahnya.

"Aku tidak apa - apa"

Sojin merosot jatuh terduduk dilantai, kepalanya tertunduk menangis, menangis terisak begitu memilukan. Wonshik dan Jaehwan hanya terdiam melihat tangis Sojin yang semakin lama semakin menyakitkan.

"Aaaaakkhhhh hiks Hongbin-ah! hiks Hongbinku aaaaaahhh Hongbin-ah hiks" Sojin memukul - mukul dadanya, memanggil nama adik satu - satunya, keluarga terakhir yang dia miliki. "Kenapaaaa! hiks kenapaa! hikss kenapa harus Hongbinku aaahhhh hiks Hongbinku hiks hiks"

Jaehwan melepas dekapan tangan Wonshik di bahunya, dia beranjak perlahan mendekati Sojin yang tampak begitu menyedihkan disana. Tangannya terulur perlahan menyentuh bahu Sojin. "Apa yang terjadi?"

Sojin menoleh pada Jaehwan, wajahnya sangat kacau, matanya sudah begitu sembab dan merah karena terlalu banyak menangis. Kedua tangan Sojin menggenggam tangan Jaehwan, menatap pria didepannya seperti tengah memohon. "Hongbin hiks, Hongbinku hiks dia meninggal"

Jaehwan terkejut mendengar ucapan dari bibir pucat Sojin.

"Ini semua karena dia!" Sojin menunjuk murka pada Wonshik. "Kenapa Hongbin hiks kenapa Hongbin harus jadi korban hiks, aaaaahhh Hongbinku hiks Hongbinku hiks aaaaaaahh kenapa kau hiks brengsek kau Wonshik!"

Wonshik terdiam dan tertunduk. "Aku...tidak tau jika Hongbin juga ada disana"

"KAU SENGAJA KAN!" Sojin berbalik dan hendak menyerang Wonshik, namun tubuhnya di tahan Jaehwan.

"Tenanglah, aku turut sedih mengenai ini" Jaehwan mendekap tubuh Sojin berharap emosinya akan kembali stabil. "Wonshik tidak tau jika Hongbin ada disana, dia hanya ingin Hakyeon. Jadi.." Jaehwan memberi jarak agar dapat menatap wajah Sojin. "Bukan Wonshik yang harus kau salahkan. Ini semua karena Hakyeon" Tangannya menghapus air mata yang mengalir diwajah Sojin. "Siapa yang memulai semua ini? Hakyeon kan, dia yang harus mendapatkan semua deritamu"

"Aku minta maaf" Wonshik mendekati Sojin dan menatapnya penuh penyesalan. "Aku sungguh tidak tau, maafkan aku"

Jaehwan tersenyum lega mendengar ucapan penyesalan Wonshik, begitu pula Sojin yang kini memberikan tatapan sendu bukan lagi tatapan yang ingin membunuh pada Wonshik.

Tangan Jaehwan menepuk pelan pundak Sojin. "Kita akan membalaskan dendam Hongbin, kita akan membalasnya"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jisoo menutup pintu mobilnya setelah mengambil beberapa barang yang dia masukan kedalam kardu dan membawanya masuk kesebuah Rumah Sakit besar dimana Kakaknya tengah dirawat disana.

Disisi lain, Jisoo tidak menyadari sebuah mobil berhenti pula ditempat sama, dua orang yang berada didalam mobil terus memantau pergerakan Jisoo.

"Aku akan masuk" Wonshik memakai topi dan kaca matanya guna penyamaran. Jaehwan yang duduk disampingnya memberikan jaket pada Wonshik. "Hati - hati, jangan sampai ketahuan"

"Hmmm" Wonshik mengangguk dan keluar dari mobil bergegas mengikuti kemana Jisoo pergi.

Wonshik berjalan dengan wajah yang berusaha dia sembuyikan, dia berjalan dijarak yang sedikit jauh dibelakang Jisoo. Tepat Jisoo berhenti diseuah lift, Wonshik juga berhenti dilift sebelah Jisoo. Segera setelah pintu lift terbuka, Jisoo segera masuk kedalam. Wonshik menatap lift yang dinaiki Jisoo kini menunjukan lantai 7, bergegas dirinya masuk kelift dan menuju lantai yang sama.

Lift pun naik dan terbuka, Wonshik menolehkan kepalanya kesana kemari mencari keberadaan Jisoo. Matanya menangkap punggung belakang Jisoo dan langsung mengikutinya kembali. Jisoo terus berjalan santai, sesekali dia menyapa beberapa pasien yang dilewatinya, terus berjalan hingga dia berhenti saat seorang Dokter laki - laki keluar dari sebuah kamar pasien. Wonshik yang melihat Jisoo berhenti juga ikut berhenti dan bersembunyi dari balik sudut dinding.

"Hyungku, bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Jisoo dengan raut kecemasaan.

"Dia masih belum sadar, namun dia sudah selamat dari masa kritisnya. Operasi tulangnya pun ternyata berhasil, ginjalnya juga tidak menunjukan masalah"

Jisoo terlihat menghembuskan nafasnya lega.

"Saya permisi" ucap Dokter itu yang dijawab dengan anggukan dari Jisoo, setelah melihat Dokter pergi, Jisoo langsung masuk kedalam kamar tersebut.

Wonshik masih terdiam disana, dia hanya menatap kamar itu yang bertuliskan VIP07. Dengan segera Wonshik berbalik meninggalkan kamar tersebut, berbalik kembali keluar Rumah Sakit menuju Jaehwan.

.

.

.

"Bagaimana?" tanya Jaehwan saat Wonshik kembali masuk kedalam mobil.

"Dia masih belum sadar, tapi sepertinya dia akan segera siuman"

"Lalu bagaimana?"

Wonshik menghidupkan mesin mobil. "Kita harus menunggunya" Wonshik menolehkan wajahnya menatap Jaehwan. "Kita bunuh saat dia sudah sadar. Dan semua ini akan segera berakhir"

Jaehwan tersenyum mendengar ucapan Wonshik, dan mereka segera pergi darisana meninggalkan Rumah Sakit.

Tbc

.

.

.

.

Yuppp,, akhirnya bisa lanjut Brother hehe,, mungkin besuk chap terakhir kalau nggak yah chapter depannya. Ini gara - gara tugas, jadi baru sempet lanjut. Langsung review aja yh ^^

[ahra] Ini sudah Up ^^

[Hakyeon Jung] Iyaaaaa terserah Eonni lah, mau si Hyuk mau si Hakyeon atau Jisoo kalau mau, dia tuh masih jomblo belum dapet pasangan, embat sekalian aja :v wkwkw,, Inguk tuh LeoN shipper, ya uda jelas kepo lah, kepo sama maljumnya mereka XD .. T.T duh maaf nih yang hilang si Hongbin, Hongbin harus out dari FF brother XD, habisnya biar ceritanya jadi, alurnya kek gitu,, nanti deh, Hongbin aku bungkusin buat Kayeon yah ^^ , Biar nggak galau lagi :v

[HMYgrey] Eehh tau aja kalau aku terinspirasi dari itu,, aku suka baget sama jokerxharley,, kan Ravi sama Ken kayanya tuh masuk ke karakternya mereka, manis manis x-tream gimana gtu ^^ Iya berdoa aja chap depan uda klimax hehe kalau cukup ya aku klimaxin, kalau nggak cukup yah aku bikin 2 chap

[aiiuukirei] Lah, kalau yang meninggal si Hakyeon, FF nya uda keut dong, pemeran utama meninggal cerita uda berakhir dong XD ,, yahh sayang banget Hongbin hang meninggal, maaf yh T.T Ini semua karena Wonshik, jangan salahkan saya, salahkan Wonshik XD

[TJungN] Taekwoon terlaku peka, perasaannya selalu tau saat Hakyeon terlibat bahaya XD , tapi sayang banget nggak bisa nyelametin, si Hongbin juga yang meninggal T.T tolong jangan galau, doain saja ini FF cepet keut, takut kepanjangan ntar malah jadi sinetron XD

[GaemGyu92] Hmmmm eonni silahkan marah ke Wonshik yah, dia yang nyebabkin kecelakaan itu, aku enggak tau apa - apa, ^^ #ditimpukRavi

[Kim Eun Seob] Iyaa Hongbin harus keut sampai sini hehe,, ya harus sesuai alur juga si eonni biar ceritanya jadi hehe

[shintalang] Nah itu yang meninggal si Hongbin T.T harus jadi korban dari kejahatannya kakaknnya sendiri

[Dinda455] Adududuh jangan nagis Dinda,, Jangan salahin aku yah, salahin tuh si Wonshik, dia yang bikin Hongbin meninggal T.T ,, hehehe ini uda Up, makasih ya uda ikutin ceritanya

Ditunggu yah chapter selanjutnya, jangan lupa REVIEW dulu baru back.

N-nyeooooong~~