©Characters; Masashi Kishimoto
©Story; coldheatherher
Aku meminta ayah dan ibu untuk mengantarku ke rumah Sasuke. Aku sangat rindu dengan sahabatku. Dan aku ingin meminta maaf padanya. Setelah sampai di rumah Sasuke, ayah dan ibu membantuku untuk duduk di kursi rodaku. Ibu menekan bel rumah Sasuke. Tak perlu menunggu waktu lama, bibi Mikoto membukakan pintu.
"Ah! Kushina! Apa kabar? Sudah lama kita tidak ber-" ucapan bibi Mikoto terhenti saat dia melihatku. "NARUTO APA YANG TERJADI PADAMU?!" pekiknya histeris.
Aku terkekeh kecil. "Aku mengalami kecelakaan seminggu lalu." jawabku berusaha agar tidak ada seorang pun yang merasa iba padaku.
"Ya Tuhan! Kenapa ini terjadi padamu?"
"Entahlah, bibi. Mungkin Tuhan ingin memberikan keajaiban untukku."
"Keajaiban?" bibi Mikoto mengerutkan dahinya.
"Aku.." aku mulai mengumpulkan nyali untuk memberitahukan yang sesungguhnya. "Aku ingin bertemu dengan Sasuke." pintaku.
"Eh? Sasuke baru saja pergi." ucap Mikoto.
"Kemana?"
"Dia bilang dia ingin ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas kelompok."
"Dia bohong." tepisku langsung tanpa pikir panjang.
"Naruto!" pekik ayah sambil menyenggol bahuku. "Sopanlah pada bibi Mikoto!"
"Ayah, aku tahu Sasuke berbohong!" pekikku. "Teman Sasuke hanyalah aku! Dia tidak punya teman di sekolah! Dan jika dia bilang dia ke rumah temannya, sudah pasti dia berbohong!"
"L-Lalu kemana Sasuke pergi?" kulihat bibi Mikoto mulai panik.
"Sayang ada apa?" mendengar kepanikan bibi Mikoto, paman Fugaku pun menyusul kami.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi instingku mengatakan kalau Sasuke berada di pemakaman Sai."
Deg!
"N-Naruto sejak kapan kau mengenal Sai?" tanya bibi Mikoto.
"Aku akan menceritakannya nanti. Tapi, kumohon antarkan aku ke pemakaman Sai. Aku ingin bertemu dengan Sasuke."
Tubuh bibi Mikoto bergetar. Dia menangis. Aku mengerti. Siapa pun pasti akan menangis saat kehilangan anak manis seperti Sai. Bahkan diriku yang hanya beberapa hari mengenalnya pun merasa benar-benar kehilangan.
"Baiklah. Ayo kita pergi ke pemakaman Sai." paman Fugaku yang mengerti situasi, segera mengantarkan kami menuju pemakaman Sai.
Pemakaman. 29 April. Jam 4 sore.
Aku melihat sosok Sasuke dari kejauhan. Dia berdiri di depan batu nisan milik Sai. Sebuket bunga lili putih menghiasi nisan itu. Aku memutar kursi rodaku menuju tempat dimana Sasuke berdiri.
"Hati-hati, Naruto!" seru ibu.
Aku mengangguk mengiyakan.
Aku hampir mencapai tempat Sasuke. Kuhentikan putaran kursi rodaku saat aku mendengar rintihan Sasuke.
"Aku gagal menjagamu. Aku tidak pantas menjadi kakakmu."
Aku memilih diam, dan membiarkan Sasuke larut dalam penyesalannya.
"Aku gagal menjadi kakakmu. Maafkan aku, Sai. Aku benar-benar menyesal."
Aku melihat aliran air mata yang mengering. Entah sudah berapa lama kau berdiri dan menangis disini, Sasuke?
"Maafkan aku yang telat menjemputmu, Sai."
Gagal menjemput? Aku mengingat-ingat hari dimana Sasuke pulang lebih lama. Hari itu adalah hari dimana aku dihukum karena berkelahi dengan kakak kelas yang memalakku. Akibat perkelahian itu, aku dihukum mengerjakan tugas-tugas yang sangat banyak dan harus diselesaikan hari itu juga. Aku yang tidak tahu apa-apa tentang pelajaran meminta Sasuke untuk membantuku mengerjakan tugas-tugas itu. Saat itu aku melihat ekspresi Sasuke yang terburu-buru. Tapi aku menghiraukannya dan tetap memintanya untuk membantuku. Betapa egoisnya aku ini! Seharusnya aku membiarkannya pulang. Jika saja aku tidak menahan Sasuke, pasti Sai masih hidup sampai sekarang.
"Sasuke.." aku memanggil sahabatku.
Aku melihat keterkejutan dari balik punggung Sasuke. Ya, aku sadar. Sasuke tidak akan menyangka aku akan datang kemari. Sasuke membalikkan tubuhnya. Dia semakin terkejut begitu melihatku terduduk tak berdaya di atas kursi roda. "Naruto apa yang-?!"
"Lama tidak berjumpa, Sasuke." potongku sambil berbasa-basi. Aku tidak ingin membahas tentang kakiku, meski aku tahu aku harus mengatakannya pada akhirnya.
Sasuke terdiam. Dia menatapku dengan tatapan pilu. "Naruto.." ucapnya. Suaranya pecah. Seperti orang yang menahan tangis. Ah, apa-apaan ini? Sasuke pria yang kuat. Dia tidak mungkin menangis.
"Sasuke, aku ingin minta maaf padamu." ucapku. "Aku, maaf.. Semuanya salahku." lanjutku penuh penyesalan.
Sasuke tidak menjawabku. Dia hanya diam dan memandangku nanar. Sesekali dia terisak. Aku dapat merasakan betapa hancur dan sedihnya Sasuke saat itu.
"Sasuke, apa kau menerima permintaan maafku?" tanyaku langsung pada topik. Ya, kedengarannya memang aneh. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku hanya ingin kami berdua seperti dulu lagi.
"Naruto, sebenarnya apa yang terjadi?" nada suara Sasuke semakin berat. Dia menahan tangis. Aku sangat tahu itu.
"Banyak hal yang terjadi padaku setelah kita bertengkar, Sasuke." jawabku. "Aku menyesal. Aku menyesal dengan semua ucapanku. Maafkan aku. Kata-kataku saat itu memang jahat." sesalku.
Kami berdua berada dalam situasi canggung. Baik aku dan Sasuke memilih untuk diam. Kami mengerti perasaan masing-masing meski kami tidak mengeluarkannya.
"Sai." aku mulai membuka topik lain. Sasuke meresponiku saat aku menyebut nama sepupunya itu. "Dia anak yang baik." ucapku.
"Huh?"
Ya, Sasuke. Aku tahu kau bingung. Kau tidak menyangka jika aku pernah bertemu dengan adik sepupu tersayangmu, 'kan? Aku bahkan ditemani olehnya setiap hari.
"Sai selalu menemaniku di rumah sakit. Dia mengunjungiku saat tidak ada seorang pun yang datang. Dia benar-benar anak yang baik. Adik tersayangku meski pun kami tidak sedarah."
"Apa yang kau bicarakan? SAI SUDAH- KKH!"
Tangisan Sasuke pecah. Semua emosinya tumpah. Aku menonton sahabatku, membiarkannya mengeluarkan semua emosi yang ditahannya.
"BAJINGAN SIALAN! APA YANG MEREKA LAKUKAN PADA SAI?! KENAPA MEREKA TEGA MELAKUKANNYA PADA ANAK KECIL YANG TIDAK TAHU APA-APA?!"
Sasuke meraung. Dia menangis sekencang-kencangnya. Mendengar jeritan dan tangisannya, aku merasa sakit. Hatiku merasa sakit. Aku sangat menyayangi Sasuke, sama sayangnya dengan Sai. Aku menganggap mereka berdua sebagai saudaraku sendiri. Aku adalah anak tunggal. Dan aku selalu kesepian. Semenjak mereka hadir dalam hidupku, aku menjadi lebih bahagia. Dan aku tidak merasa sendirian lagi.
Tapi sekarang Sai telah tiada. Aku menyesal. Ya, sangat menyesal. Aku sudah bahagia saat dokter memperbolehkanku pulang. Saat itu aku berpikir aku bisa berjalan-jalan bersama Sai dan juga kakak sepupunya. Aku selalu menginginkan saudara laki-laki. Karena aku sangat menyukai sepak bola. Aku ingin bermain dengan saudaraku.
"Sasuke." aku menarik tangan Sasuke, menyadarkannya dari kesedihannya.
Sasuke menatapku. Dengan cepat dia menghapus air matanya.
"Jangan dihapus." aku menghentikan Sasuke. "Keluarkan semua emosimu. Aku akan mendengarkanmu." ucapku.
Sasuke menahan dirinya. Egonya masih ditunjukkannya.
"Naruto... Apa Sai benar-benar menemuimu?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Hm? Ya. Dia mengunjungiku. Dia anak yang baik."
"Apa yang kalian berdua bicarakan?"
"Banyak hal. Aku menceritakan tentang impianku untuk menjadi pemain sepak bola, keinginanku untuk mempunyai adik, kesedihanku karena kehilangan kakiku, dan banyak hal."
Sasuke mendengarkanku.
"Sai bilang dia mengalami usus buntu. Dia tidak suka belajar sama sepertiku. Sai juga pernah bilang kalau dia sangat menyayangi kakak sepupunya. Aku iri. Ya, jujur saja. Aku ingin Sai menjadi adikku. Tapi aku sadar aku tidak mempunyai hubungan darah dengannya. Aku sangat iri dengan kakak sepupu Sai. Dan setelah mengetahui siapa kakak sepupu Sai, aku tidak menyangka kalau selama ini aku iri padamu, Sasuke." aku tersenyum getir.
"Sai itu anak nakal." ucap Sasuke tiba-tiba.
Aku menatap Sasuke dengan tatapan heran. "Apa maksudmu, Sasuke?"
"Kau bilang Sai mengalami usus buntu?"
"Ya. Dia bilang begitu." jawabku. "Aku tidak tahu kalau Sai adalah korban penculikkan."
Sasuke terdiam. Dia menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. "Naruto."
"Ya?"
"Apa kau tahu kenapa Sai bilang dia mengalami usus buntu?"
Aku menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu. Memangnya apa yang terjadi padanya? Apa yang para penculik itu lakukan padanya?"
"Mereka..."
Aku menatap wajah pilu Sasuke. Dia mengingat-ingat kejadian tragis yang menimpa adik sepupunya itu.
"Mereka para penculik itu adalah para pelaku penjualan organ ilegal! DAN MEREKA PARA BAJINGAN ITU MENGAMBIL GINJAL SAI DAN MEMBIARKANNYA MATI KEHABISAN DARAH!"
Deg!
Sasuke meraung. Sementara aku tersentak kaget. Jadi selama ini Sai berbohong padaku saat dia mengatakan kalau dia mengalami usus buntu? Jadi sebenarnya Sai hanya tidak ingin aku mengetahui kebenaran jika dia sebenarnya sudah meninggal?! Oh, Sai! Apa sebegitu sayangnya dirimu dengan kakak sepupumu itu? Aku paham, Sai. Aku paham. Kau tidak ingin membohongiku. Tapi kau HARUS membohongiku. Kau takut aku tidak akan berbicara padamu, 'kan?
Aku menarik Sasuke ke dalam rangkulanku. Aku merangkulnya erat. Kami berdua menangis bersama-sama. Kami berdua kehilangan orang yang sama.
"Naruto, aku masih tidak bisa menerima ini. A-Aku tidak bisa menerima kematian Sai!" isak Sasuke dalam rangkulanku.
Aku mengangguk mengiyakan. "Aku juga. Aku seperti kehilangan adikku sendiri."
Cukup lama kami saling merangkul dan menenangkan satu sama lain. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Aku dan Sasuke bertatapan. Kami sedang serius. Setelah berpikir cukup lama, kami memutuskan sesuatu.
"Sasuke." ucapku. "Mulai hari ini aku akan belajar giat." aku sedang dalam mode serius. Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. "Enam tahun sejak hari ini, aku berjanji akan menjadi seorang polisi. Akan kutangkap semua penculik dan pelaku penjualan organ manusia dan akan kuantarkan mereka pada penghakiman."
Sasuke mengangguk, memegang ucapanku.
"Aku, Sasuke Uchiha." Sasuke mulai mengucapkan keputusannya. "Enam tahun sejak hari ini aku berjanji akan menjadi saudara Naruto untuk selama-lamanya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Naruto. Semua yang berani menyentuh Naruto, dan orang-orang yang kami sayang, akan kuantarkan mereka semua ke gerbang neraka."
Aku tersenyum puas mendengar janji Sasuke. GERBANG NERAKA, ya? Tempat yang pantas untuk orang-orang keji seperti itu. Aku mengulurkan tanganku pada Sasuke.
"Sasuke." ucapku.
"Di depan nisan Sai, aku berjanji aku tidak akan membuat kita bertengkar lagi. Aku akan menjaga persahabatan dan persaudaraan kita sampai selama-lamanya."
Sasuke mengangguk menyetujui, lalu dia meraih uluran tanganku. "Demi Sai yang kini berada di surga. Para pembunuh keji itu tidak akan kubiarkan damai di dunia ini."
Kami saling mengucapkan janji kami. Setelah itu, kami tertawa bersama dan hubungan persahabatan kami yang sempat retak kini kembali seperti biasa. Bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Semua berkat Sai.
'Sai..' ucapku dalam hati.
'Terima kasih sudah datang menemuiku. Aku tidak menyangka kau adalah adik sepupu Sasuke.'
'Terima kasih sudah mengunjungiku. Terima kasih sudah peduli padaku dan juga pada Sasuke.'
"Terima kasih...'
Tes.
Air mataku mulai menetes.
'Terima kasih karena kau mau menjadi adikku. Terima kasih karena kau selalu menemaniku saat yang lainnya tidak peduli denganku.'
'Terima kasih atas segalanya.'
'Dan...'
'Terima kasih, karena kau telah menutup lubang diantara persahabatanku dengan Sasuke.'
'Sekali lagi terima kasih, Sai.'
'Malaikat tanpa sayapku.'
'Kau akan selalu kukenang. Selama aku masih bernafas di dunia ini.'
'Aku harap kami bisa bertemu lagi.'
'Aku harap aku pergi ke tempat yang sama denganmu nanti.'
'Aku.. Benar-benar merindukanmu, Sai.'
'Aku sangat menyayangimu.'
'Selamat tinggal...'
'Shimura Sai.'
END
