Part 2
"Baiklah! Aku mengerti Arima-sama! Akan ku laksanakan!" jawabku mantap.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu, kalau kau masih merasa kurang enak badan, beritahu Shimon-kun. Sebenarnya aku tidak berhak untuk menyuruhmu untuk nelakukan misi berbahaya, tugasku adalah untuk memastikan agar sousei no onmyouji tetap hidup dan tidak terluka. Maafkan aku Rokuro-kun." Tidak disangka, Arima-sama membungkuk kepadaku.
"K-Kau tidak perlu membungkuk seperti itu. Berdirilah, itu memalukan. Lagipula, aku tidak mau berdiam diri saja. Kekuatanku bisa tumpul kalau aku hanya diam saja." Dia tersenyum, tiba-tiba dia berteriak,
"Oh! Hai Shimon-kun!"
Seorang cowok dengan rambut spiky berwarna ungu tersebut, memasuki ruangan dengan membawa tas besar berisi pedang kesayangannya.
Dengan nada sombongnya, dia mendekatiku . "Lagakmu sudah besar ya, mentang-mentang sudah mengalahkan Ijika Yuto, kau kira kau sudah hebat."
"Haaa!? Kau mau mengajakku berantem?!!" jawabku tak kalah sewot.
"Merepotkan, ayo kita langsung saja ke tempat perkiraan titik naga selanjutnya."
"Ha? Sekarang? Yoshhh! Dimana lokasinya?"
Shimon tersenyum, "Pelabuhan Oimi, tempat kau pertama kali menginjakkan kaki di pulau Tsuchimikado."
"Oke!"
"Itterashaii..."
"Hentikan nada itu, Arima-sama"
-Pukul10:12-
Ditengah perjalanan, kami melewati kediaman Ritsu, Amawaka. Terlintas dibenakku soal Mayura,
"Ne.. Shimon."
"Hmm.. Kenapa?"
Aku tersenyum licik, "Bagaimana kemajuanmu dengan Mayura?"
Dalam sekejap, wajah Shimon berubah merah, semerah kepiting rebus, ia segera menutupi mulutnya dengan syalnya,
"K-k-k-ke-kem-kemajuan, maksudmu?"
"Ya, ampun kau ini mudah sekali ditebak. Siapapun yang melihat kalian berdua, sudah pasti tahu apa yang terjadi, dia bahkan memanggilmu dengan nama depan, kalian selalu latihan berdua, kau bahkan pernah terjebak dipulau kecil untuk latihan bersama Mayura, hanya berdua. Kau ini lucu sekali ya, Shimon, ternyata kau seorang tsun--Awww! Sakit tahu!" Pukulan keras mendarat di kepalaku.
"Mulutmu itu menjengkelkan! Aku ini tidak tsundere kau mengerti!"
Semakin Shimon membantahnya, semakin aku ingin menggodanya,
"Hehe, tapi kau suka kannn dengan Mayura?"
Shimon tampak berpikir sejenak, wajahnya berubah serius,
"Menurutmu, ketika kau melihat seseorang, dan seseorang tersebut terlihat berkilau, apakah itu namanya suka?"
"Apa kau tidak ingin kehilangan orang tersebut?"
Shimon mengangguk
"Ya ampun, kau ini salah satu Juuni Tensho, kau kuat soal pertarungan, tapi, masalah begini kau sangat lemah! Ya iyalah itu namanya suka!"
Wajah Shimon segera merah padam,
"A-a-ak-aku tidak suka dengan Mayura. titik!"
"Heheheh dasar tsundere! Lagipula, memangnya tadi kau sedang membicarakan Mayura ya?? Dia terlihat berkilau dimatamu! Woo-Woo"
"Damare! Aku tidak tsundere! Siaalll! Ah! Kita sudah sampai!"
Aku segera berhenti menggoda Shimon, titik naga itu berada tepat diatas sebuah kapal, tampaknya akan susah untuk menyegelnya, ukuran titik naga tersebut terbilang besar,
"Lubangnya cukup besar, tapi..." ujar Shimon, tampaknya ia melihat hal-hal yang janggal,
Aku pun segera menyadari hal janggal tersebut, "tidak ada kegare sama sekali!"
"Baguslah, ayo kita segera segel titik naganya,"
Aku mengangguk, segera aku menggapai ikat pinggang khusus jimat yang kupunya, kubuka, dan...
"AAAARRGGHH! Aku lupa bawa jimatku!"
Shimon hanya menggeleng melihatku,
"Kau ini memang cerboh!"
"Apa boleh buat, Kinako tadi marah-marah, sih aku jadi buru-buru!"
"Tak kusangka, ternyata sousei itu ceroboh~"
Aku dan Shimon segera menoleh keasal suara, tanpa disangka seorang Basara muncul,
"Tampaknya ini akan menjadi jamuan yang lezat," ujar si Basara
"Siapa kau!?" Teriakku,
"Aku? Namaku Moro, Yoroshiku,"
Hiyaaaaah! Part 2 akhirnya selesai, akhirnya sudah mulai masuk inti ceritaa, tapi part ini malahan nyengol-nyenggol Shimayu. Kirim komentar dan tanggapannya, ya~
