Chapter 3
-Pukul 10:14-
"Huft, kupikir kau sangat kuat,ternyata biasa saja."
Shimon mendecak, "diam kau, jangan sok-sok merasa kau baru saja melawannya, kau bawa jimat saja tidak! Dari tadi, aku sajalah yang melawannya!"
"Gomeenn~" aku tersenyum minta maaf.
"Kau, kurang ajar kau Juuni Tensho! Dasar kau rendahan!" Erang si Kegare
"HAH?!" Shimon melotot, "kalau begitu rasakanlah pukulan orang rendahan ini!"
BUAK!
Shimon memukulnya tepat di pipi nya,
"Haha! Sayang sekali! Yang kalah sebenarnya disini adalah kalian!"
"Apa!!"
Aku dan Shimon reflek menoleh kebelakang, sebuah kegare yang besar muncul, dia sudah siap untuk menerkam kami, waktu kami untuk menyiapkan jurus sudah tidak sempat.
Disaat kami sedang dalam keadaan genting , seorang laki-laki dengan jubah yang menutup seluruh tubuhnya datang dan mengalahkan kegare tersebut dengan sekali serang, dengan pedang gandanya yang berkilau.
"Cih, bala bantuan ya?" Perlahan-lahan tubuh kegare tersebut menghilang seperti serpihan-serpihan kecil.
Aku dan Shimon yang melihat kejadian itu hanya terdiam,
Hening beberapa saat.
"Anu... kau siapa?" Tanya shimon memecah keheningan.
Orang tersebut hanya diam, malahan dia kabur meninggalkan kami berdua,
"Apa-apaan orang ituuuu!!!" omelku, dasar tidak sopan!
Shimon kembali mendecak, "sudahlah, ayo kita kembali ke kediaman Arima-sama, kita harus melaporkan perkelahian kita dengan basara tadi. Tapi sebelumnya aku akan menyegel titik naga itu."
"Yosh. Ayo kita pergi."
-Pukul 10:50-
"Shimon, setelah ini kau mau kemana?" tanyaku sedikit penasaran,
"Entahlah, aku tidak tahu, saat ini Arima-sama belum ada menyuruhku untuk kesuatu tempat, mungkin aku akan jalan-jalan saja,"
Aku tersenyum licik, "jangan-jangan kau mau mencari Mayura?"
Wajah Shimon kembali merah padam, "Tidak! Tidak akan!" jawab Shimon sewot, diapun segera berjalan cepat meninggalkanku.
Aku harus ngapain sekarang? batinku,
"Ah sudahlah, aku pulang saja, makan masakan Kinako. Aku harus istirahat untuk sekolah besok." Ternyata bala bantuan tadi hanya untuk hari itu saja, karena saat itu, onmoyouji tingkat tinggi yang lagi senggang hanya aku saja.
-Keesokan harinya-
Aku berjalan dengan gontai. Rasanya malas sekali sekolah, aku masih belum puas mengalahkan para kegare sialan itu! Aku merasa seperti zombi, berjalan-jalan sempoyongan seperti orang gila. Sangking ngantuknya aku sampai tidak sadar ada orang didepanku.
BRUKKK!!
"Aduh ma--, Arisu! kau sudah pulang!"
Laki-laki kecil didepanku itu langsung mendongak dan melihatku dengam mata berbinar,
"Rokuroo!! Ha! Kemarin kau mengataiku aku tidak akan berhasil dengan jurusku, kan?! Ha! Kau lihat jurusku ini!"
Tiba-tiba Arisu mengeluarkan sebuah jimat, jimat itu berwarna kuning, dengan tulisan kaligrafi berwarna merah,
"Uwaaa! Tunggu, jangan disekolah, waktu pulang saja ya dicobanya,"ujarku. Tampaknya jimat itu akan sedikit berbahaya.
Arisu melemas "Yaaahh, janji ya pas pulang!" Aku mengangguk.
Akhir-akhir ini, Arisu banyak latihan, dia berkembang dengan sangat pesat, yah walaupun aku masih lebih hebat dari dia. Tali semangatnya lah yang membuatku kagum. Walaupun sampai sekarang ia masih belum diakui oleh hentai pantsu otoko, dia tidak menyerah, melihatnya berkelakukan seperti itu, aku jadi ingin punya adik.
"Oh! Shimon, Mayura!" Kulihat dua pasang kekasih (segera. Mungkin) itu berjalan berdua,
"Yo Rokuro, hari ini kau diasuruh oleh Arima-sama untuk sekolah ha?"
Aku mengangguk, "ya, padahal aku malas, sih sekolah."
Pukulan mantap mendarat di kepalaku,
"Dasar pemalas, kau tidak boleh begitu, Rokuro-kun!"
"Aw! Mayura, pukulanmu boleh juga ya, padaha--"
DUMM!
Suara dentuman yang besar tiba-tiba terdengar dari dekat, kadar miasma tiba-tiba menyebar.
Kami berempat segera menuju sumber suara,
"Kyaa! Apa itu?!" Teriak salah seorang anak perempuan sambil menunjuk keatas,
"Itu! titik naga!!! Dan lagi itu ukuran yang besar!"
huehuehue, chapter 3. rencana sih pengen lebih panjang, tapi ini sudah memasuki anti klimaks, identitas laki laki berjubah itu, adalah *beep* yak! sekian! keep waiting buat chap selanjutnya, kritik dan saran sangat membantu, arigato~
