Chapter 4

"Itu lubang naga! Dan ukurannya sangat besar!"

Tak sampai satu detik, seorang basara muncul dengan cepat.

"Para manusia sialan! Perkenalkan, namaku adalah Kuranashi, basara terkuat diduna magano!"

Sontak seisi tempat terdiam, Kuranashi dia bilang, batinku.

Kedatangan Kuranashi mengundang keributan diantara mereka. Kalau begini terus, tidak bisa dibiarkan.

Aku segera mengambil tindakan,

"Shimon, buatlah Kekkai untuk murid-murid yang lain!"

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan coba melawannya,"

Shimon terkesiap, "Kau gila! Dia itu basara terkuat,"

Aku tersenyum, "Jujur aku sendiri belum tentu bisa mengalahlannya, tapi aku akan membeli waktu untuk juuni tensho. Mayura, beri tahu juuni tensho soal ini, aku dan Arisu akan mencoba menahannya, Shimon akan mempertahankan kekkai. Cepatlah bergerak."

"Baik!" jawab mereka serentak

Gadis tadi yang berteriak, tiba-tiba mencolekku,

"Anoo... Rokuro-kun, kau kan dari kelas 10, kelas terendah, memangnya kau bisa apa?"

"Bicara apa kau, aku ini sousei no onmyouji lho, selama ini aku tidak bisa bertarung, ya karena tangan kananku disegel oleh hent-- maksudko, Arima-sama."

Gadis itu terdiam. Setelah kutelaah, suaraku sangat besar, sampai-sampai seluruh ruangan melihatku dengan tatapan menjijikkan, disaat genting begini masih sempatnya mereka bersikap seperti itu. Ah! Sudahlah aku tak peduli lagi.

"Sensou Genpu : Homura!"

"Fufufu, Sousei no Onmyouji, kau mau bertarung dengan ku, ah aku lupa kau saat ini bukan sousei." Seru Kuranashi,

aku menghela napas, "ya mau bagaimana lagi, itulah takdir seorang onmyouji."

Sebuah dinding tipis berwana hijau mengelilingi kami bertiga : Aku, Arisu dan Kuranashi. Akan berbahaya untuk yang lain jika tidak dipasang kekkai.

"Rokuro, sisanya aku serahkan kepadamu!" seru Shimon

"Ya! Baiklah! Ayo mulai Arisu"

"Baik! Ini saat yang bagus untuk menunjukkan jurusku yang baru, lihatlah!"

Arisu kembali menguarkan jimatnya yang baru, sekaligus sebuah pisau kecil.

Dan dia berteriak, "Katana Kangatari!"

Iapun melemparkan jimatnya keudara, dan memasukkan pisau kecil itu kejimatnya.

Luar biasa, dari pisau yang hanya sepanjang 10 senti menjadi sepanjang 90 senti.

"Gimana keren kan?" Tanya Arisu percaya diri,

"Yaah... not bad lah. Oke aku jelaskan strategi kita, mari kita gunakan sistem switch!" jelasku, yang dijawab dengan anggukan mantap Arisu.

"Aku akan memulai serangannya, lalu kalau kau bisa menyerang dari jarak jauh, bantu aku, begitupun sebaliknya aku."

"Baik!"

Aku segera mengambil kuda-kuda untuk melompat,

"GOLD SMASH!"

"Sayang sekali serangan lemah ini tak akan membuatku luka sedikitpun," ujarnya smabil menahan seranganku dengan tangannya.

"Benarkah? Haha rasakan ini, Bakufu!" (bakufu:ledakan)

Jebakan yang kusiapkan tampaknya berjalan mulus, asap kabut memenuhi ruangan,

"Switch!" Teriakku sebagai aba-aba untuk Arisu,

"Baiklah! giliranku bersinar!"

Arisu segera mengeluarkan jimat lain, "Haraetamae, Kiometamae Katana Kangatari : Jiyuu no Katana!" (arti: bershikan, sucikan, Katana Kangatari : Katana yang bebas)

Aku terkesiap, "Wow!" Pedang yang dipakai nya berubah warna menjadi merah,

"Hehe, kaget? kenapa kuberi nama Jiyuu no Katana, karena katana ini bebas berubah bentuk sesuai dengan emosi diriku, dan sekarang aku sedang bersemangat, maka dia berubah menjadi warna merah, jurusnya pun akan berbeda-beda tiap emosi, Aku mulai ya, Haraetamae, Kiometamae, Jiyuu no Katana, Hangeki! Kyukyuniyoritsuyo!"

Setelah mantap ia mengucapkannya, muncul sinar merah di depan Arisu, membentuk pola arah mata angin, lalu dengan kecepatan cahaya, pedang Arisu membelah tubuh Kuranashi, tapi Kuranashi juga tidak lemah, ia segera menghindar, hanya saja lukanya tidak terlalu dalam, hanya sekitar 4 senti.

"Wow, kau anak Tsuchimikado ya? Wajar kau kuat, kau pasti telah melewati latihan sparta supaya kau layak menjadi kepala onmyouji selanjutnya."

"Salah! Aku latihan atas kehendakku sendiri, itu supaya aku bisa mengalahkanmmu!"

Asap-asap berwarna biru muncul, lecutan api terdengar, pedang Arisu berubah warna, menjadi biru, biru itu tandanya bahwa ia sedang marah.

"Haraetamae! Kiyometamae, Katana no Kangatari: Tasogare!"

Kali ini sebuah lecutan berwarna biru menyeruaki pedangnya, dan lecutan biru itu membentuk tombak biru yang sangat indah,

"Majulah! Tasogare!" Teriakknya, lalu tombak biru utu meluncur menuju Kuranashi, dan menusukunya dengan mudah!

"Wuoooh, kau bisa juga Arisu!"

Tapi tanpa disangka, Kuranashi yang tertusuk itu hanya bunshin nya saja.

Dari belakang Arisu dia muncul tiba-tiba dan hendak menyerang Arisu.

Segera aku berteriak, "Arisu! Switch!"

Waktu yang kupunya tidak cukup, aku berlari sekencang-kencangnya ketempat Arisu,

dissaat-saat yang genting, seorang laki-laki berjubah hitam kemarin muncul.

Dengan pedang gandanya yang khas dia melukai tangan Kuranashi, untuk menghambat gerakannya.

Wow dia sangat keren dan hebat! batinku.

Cowok itu segera mendarat didepanku, sampai-sampai jubahnya terbuka karena diterpa angin.

Demi Neptunus, yang muncul bukanlah seorang laki-laki, tapi malah seorang perempuan,

"Ti-Ti-Tidak mu-mungkin!"

"Apa maksudmu tidak mungkin?" jawab si jubah,

"B-BE-BENIO!"

HIYAAAAHHH! Akhirnyaaa, chap 4 selese, akhirnya ketemu juga dengan Benioo. Mohon maaf bila ada typo, atau ada kesalahan dalam menulis tulisan jepangnya, soalnya sebagian cuma denger-denger kata-katanya dari animenya, jadi nggak akurat T_T. Kritik dan saran sangat diterimaa, mohon komentarnya yaa, :).