Disclaimer: Tite Kubo, Uki cuma pinjem karakter

Warning : Abal buat yang merasa, Typho(s), AU, OOC, OC, humor garing

Rate: M

...

Ichigo menyendokkan makanan ke mulutnya, lesu. Sepertinya sup kepiting itu terasa bagaikan air tawar di mulutnya. Sejak tadi ia diam saja, entah apa dia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh teman-temannya atau tidak. Matanya fokus tertuju pada hidangan bebek peking yang ada di tengah meja bundar restoran cina itu. Di sebelah kanan, Tatsuki tampak mengomelinya. Ia kesal karena Ichigo pulang lebih cepat dari pestanya kemarin. Sementara Keigo yang ada di sebelah kirinya, terus membicarakan pesta itu serta siapa saja yang datang setelah Ichigo pergi.

"Kenapa kemarin kau tidak bisa dihubungi?!"

"Pokoknya pestanya seru sekali! Kenapa kau pulang cepat sih? Banyak wanita yang datang tahu!"

"HEH! Dengar tidak?! Padahal aku menyiapkan pesta itu untukmu!"

"..." Ichigo tidak menjawab. Matanya kosong, tidak meyakinkan kalau pikirannya masih berada di ruang VVIP bersama teman-temannya. Sekilas saja bisa diketahui kalau pikiran Ichigo tengah berada di awang-awang dan tangannya itu otomatis memasukkan makanan ke mulutnya seperti telah diprogram sepenuhnya.

"AAARRGHH!" Tatsuki benar-benar kesal.

"Mizuiro katakan sesuatu padanya!" pinta Keigo pada sahabat karibnya. Yang ditanya menghentikan makannya.

"Apa kau masih lelah setelah konser?" tanya Mizuiro.

"..." Ichigo hanya menggeleng.

"Pestanya tidak menarik?"

"..." Ichigo kembali menggelengkan kepalanya.

"Kau bertemu perempuan cantik?"

"..." Ichigo tidak menggeleng, tapi langsung memandang si penanya yang berada di depannya tersebut.

"... Kau menginap di rumahnya?"

"..." Ichigo diam dan menatap lukisan burung merak yang ada di belakang Mizuiro. Ingatan akan sarapan dengan Chiaki dan Rukia mengambil alih kendali di kepalanya dengan cepat.


Keluar dari kamar mandi, Ichigo mendapati gadis kecilnya berada di depannya. Chiaki menarik tangan Ichigo menuju meja makan, Ichigo menurutinya seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Begitu sampai di meja makan, Chiaki mengambil tempat di samping ibunya. Rukia telah menyiapkan sarapan untuk tiga orang.

"..." Ichigo melihat wajah putrinya yang penuh harap dan menarik kursi. Di depannya tersaji hidangan sarapan sederhana ala keluarga di Jepang.

"Makanlah." Rukia memberinya semangkuk nasi hangat.

"..." Nasi itu terasa begitu nikmat. Ichigo melahap sarapannya dengan antusias. Lama sekali ia tidak pernah lagi merasakan masakan mantan istrinya. Ketika ingin mengambil telur dadar, Ichigo melihat bagaimana gadis kecilnya makan. Sumpitnya berhenti.

"Jamurnya juga dimakan," kata Rukia sambil meletakkan tumisan jamur di mangkuk nasi putrinya.

"Ehm."

"..." Bagi Ichigo, mereka terlihat seperti potongan drama televisi. Pemandangan seperti ini baru pertama kali ia lihat.

"Ini, habiskan sarapanmu." Rukia mengambilkan telur dadar yang tadinya hendak diambilnya.

"Ru-rukia..."

"Ichigo-"


"Ichigo?"

"..."

"Oi, Ichigo!"

"..."

"ICHIGO!"

"-Ah! Apa?"

"Kau ini!" geram Tatsuki.

"Bisa-bisanya kau melamun sambil makan," kata Keigo.

"Maaf."

"Dia sangat cantik ya?" tanya Mizuiro.

"A-apa?"

"Perempuan yang tadi malam." Mizuiro tampaknya ingin melanjutkan tanya-jawab ini.

"I-itu..."

"Cih," Tatsuki berdesis.

"Kalian melakukannya? Bercumbu? Seks?"

"TIDAK!" bantah Ichigo dengan cepat.

"Hoooo... Ini baru berita! Ichigo Kurosaki bertemu wanita cantik tapi tidak melakukan apa-apa! Kau tidak sedang sakit kan?" Keigo sangat antusias.

"Kau dapat nomornya atau e-mailnya?" tanya Mizuiro lagi.

"Tidak."

"Bohong! Mana mungkin kau tidak mendapatkannya!" komentar Keigo.

"Yah... Itu... Dia..."

"Ichigo, kau aneh sekali. Bertemu wanita cantik tapi tidak melakukan apa-apa dengannya. Bahkan alamat e-mailnya pun tidak dapat," komentar Mizuiro.

"Benar, biasanya kau akan menghabiskan waktu bersama, tidak perduli kalau dia istri orang. Apa yang kau rencanakan? Mengajaknya berlibur di tempat sepi?" tanya Keigo.

"Eh?"

'Berlibur berdua?'

...

An Indonesian Bleach Fanfiction by Uki The Great

Honey Bunny

...

Rukia berjalan cepat keluar dari taksi. Selain tas di pundaknya, ia juga membawa sebuah kantong berisi naskah yang telah selesai dikerjakan. Setelah menagih naskah kepada salah satu mangaka yang ia awasi inipun, Rukia masih ada janji bertemu dengan dua orang calon mangaka yang hendak memperlihatkan karya-karya mereka dan seorang pendatang baru yang ingin berdiskusi mengenai name cerita yang rencananya akan diserialisasikan bulan depan. Yah... Tidak ada yang tahu kalau mantan istri Ichigo Kurosaki ini adalah seorang editor.

Begitu Rukia memasuki apartemen sang sensei, tampak seorang editor dari majalah yang berbeda telah menunggu naskah sama sepertinya. Tsukishima Sensei terlihat sibuk merampungkan dua halaman naskah untuk majalah Rukia. Salah satu asisten menyerahkan naskah yang telah rampung pada editor. Si editor pamit pada awak studio dan Rukia.

Ruangan studio terlihat berantakan dengan potongan screentone yang tidak terpakai berceceran. Seorang asisten membuat kopian halaman naskah yang telah selesai, seorang lagi sedang merampungkan bagian akhir, ada yang sedang menyusun halaman-halaman naskah yang telah selesai, ada yang sibuk memberi garis efek, ada yang sibuk mengisi balon dialog. Tsukishima telah merampungkan halaman yang terakhir langsung turun tangan menyusun naskah dan menjejerkannya di atas meja di depan Rukia. Rukia langsung memeriksanya satu per satu.

"Hmm... Temponya sudah sesuai, Sensei."

"Tidak masalah karakter ini tidak sesuai name?"

"Tidak, karakter ini menarik kok, bisa dipakai. Kalau ada ide harusnya Sensei menghubungiku."

"Maaf, soalnya mendadak."

"Ya sudah."

"Name untuk tiga bab berikutnya sudah jadi. Aku akan menyerahkan naskah yang sudah jadi minggu depan."

"Sungguh? Tidak apa-apa jadwalnya jadi sangat padat? Ada apa? Apa Sensei mau pergi?"

"... Aku berencana libur sambil mencari data. Tidak masalah kan?"

"Menurutku tidak apa-apa jika namenya bagus. Biar aku yang bicara dengan kepala editor. Di mana namenya?"

...

"Kuchiki, coba kau lihat ini!" perintah kepala editor, Ukitake. Bagian Weekly Jumper Boy terlihat sibuk seperti biasa. Tumpukan paket naskah dari calon mangaka menggunung, menunggu untuk dinilai oleh para editor.

"Baik." Rukia segera memeriksa naskah yang dikirimkan oleh salah satu calon mangaka. Setiap detilnya tidak luput dari pandangannya. Gaya menggambarnya, penyusunan panel dan balon dialog, kerapihan dan yang paling penting, orisinalitas karya tersebut. Salah satu lembaran naskah menarik perhatiannya. Rukia lama memandangi gambar seorang pemabuk yang sedang diinterogasi oleh dua orang petugas patroli polisi. Entah mengapa ia jadi teringat mantan suaminya. Rukia langsung membayangkan kejadian saat Ichigo mabuk, tanpa sadar senyumnya mengembang di wajahnya. Tentu saja Rukia membayangkannya dalam penggambaran gag manga. Konyol.

"Kuchiki?"

"Ya?"

"Bagaimana menurutmu?"

"Saya rasa ini bagus. Apa mau langsung diterbitkan?" tanya Rukia.

"Tidak, kita masukkan untuk ajang kompetisi pendatang baru dulu. Aku mau kau yang menanganinya, kau bisa?"

"Akan saya lakukan."

"Bagus."

~PIIIP PIIIIIPPP~

"Maaf," kata Rukia dan segera menjawab panggilan di ponselnya. Di layar ponsel terpampang ID wali kelas Chiaki

PIP

"Halo?" katanya sambil menerima sekaleng kopi hangat dari rekannya. Rukia segera memberi isyarat 'terimakasih' pada rekannya tersebut.

"Kuchiki-san! Ma-maafkan saya!" sahut suara di seberang.

"Maaf, tapi ada apa?" Rukia mulai merasa firasat tidak baik, alisnya berkerut.

"Ma-maafkan saya! Chi-chiaki-chan..."

"Kenapa dengan anakku?"

"Chiaki-chan, dia di-diculik!"

"Apa?! Siapa penculiknya?!"

"Ti-tidak tahu! Ka-kami sudah melaporkannya pada polisi. Dia diculik oleh pria tinggi, berambut oranye, berjaket kulit dengan kacamata-"

'Si Bodoh itu...' Rukia menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

"Hinamori-san."

"Y-ya? Maaf, i-ini kesalahan saya!"

"Tolong batalkan laporannya. Ini hanya salah paham, dia bukan pria berbahaya kok. Yah... Saya jamin itu," Rukia menenangkan Hinamori dengan suara lembut, tapi urat-urat kekesalan nampak di pelipisnya.

"Sungguh? Ta-tapi-"

"Tolong ya."

PIIP.

Dengan segera ia memanggil ponsel 'orang itu'. Bercerai bukan berarti menghilangkan semua kontak dengan 'orang itu' apalagi mereka memiliki Chiaki. Rukia tahu 'orang itu' berhak untuk bertemu dengan Chiaki, mereka telah membuat kesepakatan sebelumnya, tapi tidak dengan cara menculiknya! Jika tidak ingat penyakit lambung yang diderita oleh Kugou, manajer 'orang itu', Rukia pasti akan memperkarakan masalah ini. Tidak. Rukia telah lebih dewasa dari sebelumnya, lebih dari 'orang itu', masalah ini bisa diselesaikan tanpa perlu melibatkan polisi. Pihak manajemen 'orang itu' juga tidak akan membiarkan masalah ini keluar. Jika nanti 'orang itu' tidak mau mengembalikan Chiaki padanya, Rukia bisa menekannya melalui pengacara 'orang itu'.

~RRRRRRRRRR~

PIP!

"Ya-"

"IIIIICCCHIIIIGOOOOOOO~!"

Sekejap semua perhatian di ruangan editorial tertuju pada Rukia. Cairan kopi mengalir dan jatuh ke lantai karena kalengnya telah rusak dicengkeram dengan sangat kuat.

...

Ichigo tidak berani mengangkat wajahnya di depan mantan istrinya. Sengaja Rukia memilih tempat duduk yang terlihat aman untuk membicarakan masalah ini di lantai dua. Seperti biasa, kafe favorit Ichigo dan Chiaki –yang terkenal akan es krimnya– ini ramai oleh pelanggan. Dua choco lava cake dan sebuah tiramisu telah dihidangkan di depan mereka. Chiaki hanya memandang dengan bingung pada ayah dan ibunya. Ia tidak mengerti kenapa ayahnya menunduk bersalah di depan ibunya. Dalam penglihatannya, mereka tampak seperti seekor beruang madu yang meringkuk ketakutan dan mengaku salah pada seekor kelinci.

"Maaf."

"Jangan diulangi lagi!"

"Baik."

"Telepon dulu kalau mau menjemput Chiaki pulang!"

"Baik."

"Awas kalau kau ulangi lagi! Aku bisa meminta pengadilan untuk memerintahkanmu untuk tidak mendekati Chiaki dalam jarak 500 meter!" ancam Rukia.

"Jangan! Aku janji tidak akan mengulanginya! Sungguh!" Ichigo benar-benar takut dan tidak berkutik.

"Janji?"

"Janji!"

"Bagus." Garis bibir Rukia sedikit terangkat. Betul kan? Masalah ini tidak perlu sampai melibatkan polisi.

Dengan seutas senyum di wajah ibunya, Chiaki yakin jika masalah antara kedua orang tuanya telah selesai. Sekarang saatnya menikmati choco lava yang sejak tadi menggodanya. Ichigo pun tak mau ketinggalan menikmati hidangan yang dipesannya, namun masih dengan takut-takut, sesekali melihat ke arah mantan istrinya. Rukia mengulum senyum melihat kelakuan mantan suaminya. Hampir tidak ada yang berubah padanya.

Rukia memperhatikan cara Ichigo melahap hidangannya. Benar, tidak ada yang berubah. Sepertinya mantan suaminya baik-baik saja selama ini, kecuali jika penyakit rindu anaknya kumat.

"Tidak suka tiramisunya?" tanya Ichigo yang melihat Rukia seperti enggan menghabiskan makanannya.

"Bukan, hanya sedang berpikir saja."

"Apa yang-"

"AAAHH!" Chiaki meratapi bajunya yang terkena cokelat saat ingin mengambil tisu. Sontak kedua orang tuanya menoleh padanya.

"GAWAT!"

"Jangan berteriak Ichigo!"

"Rukia, jaga Chiaki di sini! Jangan kemana-mana! Aku segera kembali!"

"Mau kemana? Kacamatamu ketinggalan, bodoh!"

...

Ichigo sedikit menyesal telah berlari keluar dari kafe dengan tergesa-gesa. Dari balik kaca jendela toko, puluhan orang telah berkerumun. Banyak pula yang ingin mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel. Satu jam lagi semua foto dirinya akan tersebar di internet. Sial!

Si kasir mencoba mencuri-curi pandang. Kenapa ada selebritas yang menurut berita berstatus lajang berbelanja baju anak-anak? Apa ini acara televisi dengan kamera tersembunyi? Apa dia akan masuk televisi? Apakah wajahnya akan disorot? Aduh bagaimana keadaan wajah dan rambutnya? Apakah terlihat bagus di kamera? Perlukah ia merapikan bedak dan memulas bibirnya dengan lip gloss? Sungguh ia ingin melambaikan tangannya, berharap ada orang yang mengenalnya menonton acara ini di rumah, tapi di mana kameranya? Tuhan, ia ingin mati karena terlalu tegang dan bersemangat. Ichigo dari The Bleached ada di hadapannya saat ini! Debaran jantungnya begitu kuat, seakan-akan ingin melompat keluar. Pria itu sungguh terlihat tampan dan mempesona. Tidak! Ia lebih mempesona dari yang terlihat di televisi! Lutut si kasir bergetar, menahan dirinya agar tidak jatuh.

"Se-semuanya 129.000 Yen. Tunai atau Anda ingin kredit?"

"Kredit." Ichigo membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu kreditnya.

'Oh Tuhan! Suaranya! Suaranya!' jerit si kasir dalam hati sambil memproses transaksi Ichigo.

"Tolong ta-tanda tangan di sini," katanya sambil menyerahkan struk.

"Hm."

'ARRRGHHHH! KENAPA AKU TIDAK BAWA KAOS ATAU POSTER SIH!'

"Te-terimakasih."

"Sama-sama." Ichigo segera melesat keluar toko sambil menghindari kerumunan orang-orang yang ingin melihatnya. Beberapa fans yang kebetulan ada di sana menjerit dan mengejarnya. Sementara itu, si kasir jatuh terduduk dan menahan laju darah yang keluar dari hidungnya. Pesona Ichigo sungguh dahsyat!

...

Nafas Ichigo memburu saat kembali ke kafe, tangannya penuh dengan kantong belanja. Dengan nafas yang tersengal-sengal ia berlari menuju meja tempat Rukia dan Chiaki berada. Lalu ia terdiam, kembali menyaksikan pemandangan yang biasanya ia lihat dalam drama televisi. Ia melihat Rukia dan Chiaki bercengkerama dan bersenda gurau sambil membersihkan noda cokelat di baju putri kesayangannya itu. Ichigo merasa ada yang hilang darinya selama ini.

Selama ini jika bersama Chiaki, Rukia tidak pernah hadir di tengah-tengah mereka berdua, sesuai kesepakatan mereka. Jika berkunjung ke apartemen mantan istrinya itu pun hanya untuk menjemput Chiaki jalan-jalan dan mengantarnya kembali. Yah, baru kali ini mereka pergi bertiga, selayaknya keluarga yang utuh.

"..."

"Ayah!"

"Dari mana saja?" tanya Rukia.

"I-ini..."

Rukia menggelengkan kepalanya saat menyadari banyaknya kantong belanja di tangan Ichigo. Si bodoh itu pasti kalap di toko.

"Kenapa begitu panik dengan noda cokelat? Lalu mau diapakan baju-baju itu? Tidak mungkin Chiaki-chan memakai semuanya sekaligus."

"Itu semua baju? Buatku?" tanya Chiaki. Rukia mengusap-usap kepala anaknya, sementara mantan suaminya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"I-iya..."

"Ya sudah, kuterima baju-baju ini. Kami pulang sekarang, tagihannya biar aku yang bayar."

"Ibu..."

"Chappy The Explorer sebentar lagi mulai, Chiaki-chan."

"Chappy!" sorak Chiaki.

'Glek! Rukia! Kau mendoktrinkan Chappy pada Chiaki?!' Ichigo bertanya secara kontak batin pada mantan istrinya.

'Chappy memang acara anak-anak, dasar bodoh! Tidak mungkin aku biarkan Chiaki melihat acara infotainment! Kau pikir skandalmu tidak masuk televisi apa?!' balas batin Rukia.

'Kenapa mesti Chappy?!' Lagi batin Ichigo bertanya.

'Karena jam tayangnya sama!'

'Uughhh...'

Ichigo kalah.

"Sebaiknya kami pergi duluan. Hati-hati menyetirnya."

"Hei-"

"Kau pasti bikin heboh kan? Rambutmu itu mencolok dan lagi tadi kau tidak memakai kacamatamu. Hubungan kita tidak boleh tersebar kan?"

"Tapi kan aku ingin mengantar-"

"Tidak usah. Ayo Chiaki, pamit dulu pada ayah."

Gadis kecil itu menarik tangan ayahnya. Ichigo berlutut, mensejajarkan matanya dengan putrinya lalu memberi ciuman di kedua pipinya. Ichigo tersenyum sambil mengacak-acak rambut putrinya. Gadis kecilnya mencuri kesempatan untuk memberi kecupan di pipi Ichigo sebelum berlari meraih tangan ibunya.

"Dah Ayah!" Chiaki melambaikan tangan pada Ichigo. Begitu memastikan Rukia dan putri mereka keluar dengan aman, Ichigo terduduk lemas di kursi. Salah satu pelayan yang lewat di depannya membiarkannya begitu saja. Salah satu pelayan yang lain datang dan memberitahu kalau Ichigo dan mobilnya bisa keluar lewat basement dengan aman. Inilah salah satu hal yang membuat Ichigo menyukai kafe ini, selain choco lavanya. Pelayan itu memandu Ichigo menuju tempat parkir di basement melalui pintu pegawai. Ichigo memberinya tips kemudian pelayan itu undur diri dari pandangannya.

"Fuuuhhh..."

~TRIIIINGGG TRRIIIINNGGGGG~

PIP!

"Ya?"

"Kenapa kemarin tidak datang, Ichigo?" suara wanita di seberang sana menuntut jawaban segera darinya.

"Neliel-"

.

.

Bersambung...

~Name: skema atau rancangan gambar untuk naskah manga

Yup. Ichi jadi punya sifat yg mirip dengan Isshin, emang turunan kali ya? #digorok. Sebenerx uki bingung mo ngasih rukia kerjaan apa. Yang uki butuhkan adalah kerjaan yg terlihat santai tapi nggak juga n memungkinkan rukia untuk ketemu banyak orang trutama yg berjenis kelamin laki2. Pilihanx banyak sih bukan cuma editor shonen manga aja, tapi karena satu dan lain hal uki pilih ini aja, klo ga melenceng dari rencana uki jelasin di chpter depan bareng ma kisah cerai ichiruki. Kalo ga ada perubahan rencana lho... yah pokoknya uki usahain fic bunny ini ga sepanjang try me! Tpi klo dipanjangin juga kayakx seru tapi... ga tau apa uki sanggup. Pokokx ceritax dipadet2in aja dulu! #plak Ditengah pengetikan, bingung anakx ichigo ini bagusnya namax tetep Chiaki apa diganti jadi Chika? Dua-duax artinya bagus, jdi bingung... bagusan yg mana ya? #plin-planmode:ON

Rate jadi M soalnya ntar muncul tuh si Grimmjow dkk... dengan kelakuan mereka sih ga yakin klo T jadi biar aman M aja. M lho, bukan MA *lari*

RnR!