Disclaimer: Uki The Gre-Khhekkkkkrrkk Kehhkk Kheeekhh *dicekek Kubo Tite*

Chappy Berlari (Chappy The Explorer Theme Song) © Uki The Great

Warning : Abal buat yang merasa, Typho(s), AU, OOC, OC, humor garing

"Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker paru-paru, impotensi dan gangguan pada kehamilan dan janin!"

Rate: M

...

Uryuu Ishida mengelap kacamatanya dengan santai. Yah, marah pun percuma pada Ichigo, klien sekaligus sahabat lamanya, saat ini. Ia telah meminta asistennya untuk mengosongkan jadwalnya selama satu jam ke depan. Ishida membiarkan tumpukan berkas kasus yang sedang ditanganinya untuk menunggu di samping laptop, menjauhkan kertas-kertas itu dari jangkauan tangan dan mata Ichigo. Pria yang berprofesi sebagai penasihat hukum tersebut menyediakan kertas-kertas bagus untuk dicoret-coret. Sambil menunggu kliennya berkutat dengan kertas dan pensil, Ishida mengecek lagi jadwalnya dan mendengarkan rekaman saksi melalui earphone. Masih ada waktu sampai waktu pertemuan dengan klien berikutnya dan keluarga korban. Sahabat lamanya ini memang suka seenaknya, Ichigo datang ke kantornya tanpa membuat janji terlebih dahulu.

Ichigo berusaha menuliskan notasi yang tepat dari nada-nada yang sedari tadi disenandungkannya di atas sebuah kertas kosong. Begitu mendobrak masuk ruang kerja Ishida, entah kenapa di kepalanya melintas sebuah reffrain. Meski belum memikirkan lirik yang tepat, tapi Ichigo tidak bisa menahan untuk menyimpan nada-nada tersebut di otaknya. Sayangnya, ia lupa membawa perekam suara sementara Ishida tidak mau meminjamkan miliknya, terpaksa ia meminta kertas pada pengacaranya. Kurang lebih sudah lima kertas yang terbuang percuma, diremas menjadi bola dan berserakan di atas permukaan karpet.

Di luar ruangan, beberapa orang staf meminta penjelasan pada Cirucci, asisten Ishida, mengenai perihal si rocker. Tentu saja Cirucci tidak akan membocorkan apa-apa. Dengan sinisnya ia menyindir dan melepaskan diri dari kerumunan rekan-rekannya dan menjawab panggilan telepon yang masuk ke mejanya. Tugasnya sebagai asisten masih banyak dan wanita itu tidak ingin lembur malam ini, ia juga punya kehidupan.

"Huuff..." Ishida selesai mendengarkan semua rekamannya, sementara Ichigo masih setia dengan notasi-notasi lagunya. Hampir tidak ada yang berubah dari Si Kepala Oranye sejak bertahun-tahun lamanya saat mereka masih sekolah dulu. Tidak ada yang berubah. Yang berbeda hanya pakaian yang membungkus tubuhnya. Jika dulu Ichigo akrab dengan kaus lusuh, jaket kulit dan jins belel serta sepatu yang dibeli di pasar loak, kini Ichigo berbalut jins keluaran terbaru, jaket kulit mahal serta kemeja merek terkenal. Jika Ichigo yang dulu ia kenal sebagai pengguna setia kereta listrik dan bus kota –tambahkan dengan motor pengantar ramen– sekarang lelaki itu berpergian dengan mobil pribadi yang terkadang lengkap dengan supirnya. Ah iya, sekarang Ichigo nyaris selalu berpergian dengan kacamata hitam dan topi. Ishida tersenyum mengingat hal itu.

"Hoi," panggilnya.

"Mm?"

"Aku sudah menghubungi Kuchiki," kata Ishida. 'Kuchiki' yang dimaksudnya adalah Rukia.

"Lalu?"

"Katanya 'Tidak bisa'. Dia tidak mengijinkanmu membawa anak kalian ke luar negeri."

"..." Ichigo mengangkat wajahnya. Pensil itu tergeletak dan menggelinding jatuh ke atas karpet. Raut wajahnya penuh dengan kekecewaan.

"Keputusan Kuchiki sudah final. Dia bahkan menantangmu ke pengadilan jika kau keberatan," tambahnya.

BRAAKK

"Apa-apaan itu?! Masa aku tidak boleh mengajak Chiaki liburan?! Aku ini ayahnya!" Ichigo menggebrak meja, tidak terima atas kabar yang dibawa pengacaranya. Ishida sudah hafal dengan temperamen Ichigo.

"Tenang dul-"

"Tenang apanya?! Aku tidak bisa tenang kalau tidak ada Chiaki! Kalau memang dia mau ke pengadilan, oke! Aku layani tantangannya!"

"Dengar-"

"Aku tidak mau dengar! Dia memang ibunya tapi aku juga berhak atas putriku!"

"Ku-"

"Pokoknya akan kuladeni habis-habisan di pengadilan!"

"Oi-"

"Wanita iblis! Dia pikir aku takut hah? Aku, Ichigo Kurosaki, tidak pernah takut dengannya! Kalau dia bukan wanita, sudah kuhajar dan kupatahkan batang tenggorokannya!"

"He-"

"Jangan hentikan aku, Ishida!"

"Kau-"

"Kalau kau juga menghentikanku, kubakar rambutmu!"

"Deng-"

"Persetan dengan-"

"DENGARKAN AKU DASAR OTAK UDANG!"

KRAKK

BRENGG

Ishida menghentikan ocehan Ichigo dengan sekaleng permen rasa buah. Kaleng yang masih agak penuh itu sempat mendarat di kepala sahabatnya dan kini sedikit penyok serta meringkuk di dekat rak buku. Ichigo sudah tahu dari dulu bahwa sebenarnya sahabatnya ini bukan orang yang tenang dan kalem seperti kelihatannya. Ishida bukan tipe yang ragu menggunakan kekerasan untuk menghentikannya. Sepertinya cara Ishida itu efektif, Ichigo terdiam dan kembali duduk.

"..."

"Dengarkan dulu sampai selesai!" perintah Ishida. Pengacara handal itu mengenakan lagi kacamatanya.

"Baik."

"..."

"..."

"Begini, kau tidak boleh membawanya ke luar negeri, tapi kau boleh mengajaknya jalan-jalan dan menjemputnya dari sekolah asal kau telepon dulu."

"Sungguh? Rukia bilang begitu?"

"Ya. Saranku, sebaiknya kalian rundingkan lagi, anakmu bukan lagi bayi. Bicaralah dengan Kuchiki bai-"

GABRRUGG

BRAKK

"KAU MEMANG TEMANKU ISHIDA! I LOVE YOU!" Ichigo menerjang sahabatnya hingga terjengkal dari kursinya. Ishida meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari dekapan Ichigo, Si Rocker malah sibuk mendaratkan kecupan secara membabibuta.

"Lepas! Hentikan, bodoh!"

"Permisi tad-" Suara Cirucci menghentikan Ichigo maupun Ishida. Dua sahabat kental itu masih dalam posisi yang dapat membuat orang lain salah penafsiran.

"Maaf, saya akan kembali lagi nanti." Cirucci balik kanan dan menutup kembali pintu ruangan Ishida.

BLAM

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"... Asistenmu-"

"Kurosaki."

"Ya?"

"MAU SAMPAI KAPAN KAU MEMELUKKU HAH?!"

...

An Indonesian Bleach Fanfiction by Uki The Great

Honey Bunny

...

"Bukannya tidak bagus, tapi tipe cerita ini sudah terlalu umum," kata Rukia, memberikan penjelasan pada calon mangaka. Pria muda yang duduk di depannya tampak mengeluarkan keringat dingin. Gugup. Yah, sama seperti calon-calon mangaka lain yang kini sedang ditemui oleh editor ataupun masih menunggu. Ruang tunggu yang bersekat-sekat di kantor penerbitan Shuei sepertinya memang memiliki atmosfer yang berat bagi para calon mangaka. Di ruang sebelah kirinya, si calon mangaka, yang kini ditemui oleh Rukia, dapat mendengar bahwa naskah calon mangaka saingannya diterima oleh redaksi dan editornya mengajaknya untuk membicarakan debut lebih lanjut di restoran keluarga tak jauh dari kantor. Sementara dari bilik sebelah kanan, dia bisa mendengar penolakan redaksi. Pria muda itu menelan ludah.

"..."

"Petualangan di dunia antah berantah, pedang, sihir, monster dan naga, ini sudah terlalu umum. Hampir tiap tahun tipe cerita ini selalu ada."

"Ta-tapi-"

"Kau mencoba masuk di majalah kami, jadi ceritamu harus memiliki perbedaan dan dapat menarik kami, para editor, untuk menyukai ceritamu. Kuakui gambarmu bagus, tidak banyak yang bisa menggambar serapi ini saat masih pemula tapi sayang karakter ini hanya bisa menarik minat pembaca perempuan."

"Tidak bagus ya?"

"Bagus, tapi tidak cocok untuk pemeran utama di majalah Jumper. Ingat, majalah kami adalah khusus shounen manga. Pembaca laki-laki tidak terlalu suka dengan karakter pria rupawan."

"O-ooh..."

"Lalu ada lagi, karakter ini seperti manusia super. Dia kuat, cerdas, tampan, baik hati, menjunjung tinggi keadilan, pandai melakukan sihir, jago berpedang, kemampuan penyembuhannya cepat, separuh naga, digemari wanita, lalu... Hahh, apa bisa kau merancangnya ulang?"

"Kenapa?"

"Karakter ini tidak memiliki sesuatu yang bisa menarik simpati pembaca. Terlalu sempurna. Ini bisa jadi bumerang untuk ceritamu, tolong buat karakter yang lebih manusiawi."

"Baik."

"Naskah ini akan kusimpan dulu, buat dan bawa lagi naskahmu yang baru. Kutunggu ceritamu. " Rukia memberi senyum bisnis padanya dan kartu namanya.

"Baik, terimakasih."

Si calon mangaka pamit dan Rukia kembali ke ruang redaksi. Di dalam lift, Rukia berpapasan dengan Yoshino dari majalah Margo. Kedua editor itu saling menyapa. Lift berhenti di lantai redaksi Margo.

"Kalau begitu, saya duluan."

"Ya."

Tak lama, lift pun berhenti di redaksi Jumper.

~PIIIP PIIIIIPPP~

'Si Bodoh Calling...' Terpampang di layar ponselnya. Rukia mengurungkan niatnya untuk segera masuk ruang redaksi dan mencari tempat yang lebih tenang. Rekan-rekannya mengetahui status Rukia sebagai janda dan memiliki seorang anak, tapi kenyataan bahwa Super Rock Star Ichigo Kurosaki adalah mantan suaminya? Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali atasannya. Yang diketahui oleh publik adalah sang bintang adalah seorang pria lajang yang belum menikah dan memiliki karisma tersendiri.

"Ada apa kau meneleponku?" Rukia bersandar di dinding kaca.

"Mm... Ru-"

"Cepat katakan keperluanmu!"

"Bisa kita bicara? Apa kau mau sekalian makan siang denganku? Aku menunggu di luar, kita makan di restoran yang-"

"Kalau mau bicara, sekarang saja. Aku sibuk."

"Rukia, apa boleh aku menjemput Chiaki dan mengajaknya menginap di rumahku? Malam ini saja, besok pagi kuantar pulang." Di seberang sana, Ichigo meminta dengan penuh harap.

"..."

"Halo? Halo? Kau masih di sana?"

"..."

"Rukia? Hoi!"

"...Boleh, tapi jangan beri dia udang, jangan belikan Chiaki cokelat dan es krim, jangan ada asap rokok di sekitar Chiaki dan jangan membiarkannya tidur terlalu malam!"

"Sungguh?Baik!"

"Awas kalau kau membelikannya!"

"Tenang aku pasti-"

"Aku tutup teleponnya."

Rukia memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat mobil mantan suaminya pergi dari depan kantornya. Ichigo benar-benar ada dan menunggu di luar kantornya, tadi.

.

.

~Chappy berlariii...Lalu berguling...Sorak-sorak gembiraaa... Ujung jalaaan terlihat jauuh... Chappy tak akan berhentiii... Yei! Yei! Yei! Chappy berlariii... Pelaaangiii di atas bukiiitt... Ambilkan satuuu untukkuu... Ikaaa... Iikaan terbang di awaann... Anak-anak kataaak berlooompaatan... Kura-kuraa dii aaatas perahuu... Mengapa kauu menangis? Gembira! Ayo bergembiraaa... Hujan permeen dari langiiit... Chappy berlarii... Chappy... Chappy.. Go! Go! Go!~

"PERMEEEEN DARI LANGIIIT... CHAPPY BERLARII... CHAPPY...CHAPPY GO! GO! GO! CHAPPY GO! GO! GO!"

Ichigo sedikit melirik putrinya. Sepertinya Chiaki menyukai musik sama sepertinya, lihat wajah riangnya itu. Tapi...

'KENAPA MESTI LAGU KELINCI SIALAN ITU SIH?'

"CHAPPY BERLARIIIIIII... LALU BERGULIIIING... SORAK-SORAK GEMBIRAAAA.." Chiaki memutar ulang lagu itu dan kembali bernyanyi.

"Chiaki-chan, kita putar lagu yang lain yuk! Kita putar lagu 'Balonku' saja bagaimana?" bujuk Sang Ayah yang sudah pusing mendengarkan lagu tema acara 'Chappy The Explorer'.

"NGGA!" tolak Chiaki dengan segera.

"Tapi-"

"CHAAAAPPYYY TAK AKAN BERHENTIIIIIIII... YEEEIII! YEEEIIII! YEEEIIIII! CHAAAAPPPPYYY BERLARIIIIII! PELANGIIIIII DI ATAS BUKIIIIIITTT..."

'Bersabar lah Ichigo! Kau masih harus menyetir dengan tenang. Sabar... Sabar...'

...

"Hah? Sama siapa? Pokoknya kau harus kemari! Darurat! Aku tidak bisa melerai Grim dan Ulqui! Arghh! Kau tanya dimana Shuuhei? Dia sudah sekarat! Cepat kemari! Hei jangan! Tidaak! Kode kuning Ichigo! Kode kuning! GYYYAAAAA!" teriakan pura-pura Renji terdengar seperti sungguhan. Jika drummer ini serius menekuni sekolah vokal dulu, mungkin saat ini ia sudah menjadi pengisi suara ternama.

"Wahahahahaha!" tawa Grimm.

"Akting suaraku bagus kan?" Renji membanggakan dirinya.

"Luar biasa!" Ulquiorra mengacunginya dua jempol.

"Pasti dia panik. Hahahahahaha..." komentar Shuuhei.

"Kalau dia menelepon polisi bagaimana?" tanya Renji sambil memakan penganan ringan rasa jagung bakar. Ruang persiapan yang sedang mereka pakai ini sebenernya bebas rokok, tapi sepertinya kesadaran mereka kurang.

"Mana mungkin!" sergah Grimmjow. Asap rokok melayang-layang di atas kepalanya.

"Betul," Shuuhei mengamini. Rona merah di ujung batang hidungnya menandakan bahwa Shuuhei sempat minum di suatu tempat.

"Berdoa saja demikian," ucap Ulquiorra sambil menyetem gitarnya.

"Mau taruhan tidak?" ajak Shuuhei.

"Apa? Ichigo menelepon polisi atau tidak?" tanya Grimmjow.

"Bukan."

"Ichigo bawa makanan atau tidak?" Renji menyahut.

"Bukan."

"Lantas?"

"Kira-kira berapa jam Ichigo kemari? Hei, dia sedang senang-senang kan?" Shuuhei mengedipkan matanya.

"Oh..." Tampaknya Renji mulai mengerti.

"Dua jam! Ichigo datang dua jam lagi! Kancing bajunya tidak lengkap! Nih!" Grimmjow langsung melempar Shuuhei dengan 2 lembar uang sepuluh ribuan.

"Tiga jam! Dengan bekas lipstik di lehernya!" Renji juga memasang taruhannya.

"Satu setengah jam, dengan bekas tamparan!" Shuuhei mengeluarkan uangnya.

"Oi! Ulqui! Mana uangmu?" tagih Shuuhei dan Grimmjow.

"Uang apa?" Ulquiorra melepaskan headphone dari telinganya.

"Taruhan! Berapa jam Ichigo tiba!"

"Ohh..."

"Kau bertaruh berapa?"

"Ichigo kurang dari lima menit lagi datang!" Ulquiorra melempar dompetnya ke pangkuan Shuuhei.

"WOOO!"

"Berani sekali kau!"

"Jangan salahkan kami ya!"

"..."

"HOI! Katanya Grimm berkelahi ya?" teriak Ichigo. Panjang umur.

"!"

"Berengsek!"

"Bayar! Bayar!" Ulquiorra menagih rekan-rekannya yang kalah.

"Sialan kau!"

"Ulqui! Jangan ambil semuanya..." rengek Renji memohon. Sayangnya, permohonannya tidak dikabulkan.

"..." Shuuhei memberikan uangnya dengan wajah masam sementara Ulquiorra tersenyum lebar.

"Kenapa kau cepat sekali hah?!" Grimmjow melempar bantalan sofa ke arah Ichigo yang baru saja menampakkan batang hidungnya.

"Ada apa sih?" tanya Ichigo tanpa dosa.

"Makasih sobat, aku untung besar. Nih seperempatnya!" Ulquiorra memasukkan uang ke dalam kantong baju Ichigo.

"Ha?" Ichigo benar-benar tidak mengerti, begitu pula dengan Chiaki yang digendong di punggungnya.

"Ichigo, kenapa Chiaki-chan bersamamu?" tanya Ulquiorra begitu menyadari bahwa Ichigo tidak datang sendirian.

...

Mereka pindah ruangan. Sesuai janji dengan Rukia, Ichigo menjauhkan asap rokok dari Chiaki. Anggota yang lain menghormati permintaannya. Mereka juga sangat jarang bertemu dengan Chiaki. Si Kecil sibuk menggambar di atas selembar kertas bersama Renji. Ichigo memperhatikan mereka berdua dengan wajah tenteram.

"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Chiaki-chan, kau bisa dibunuh mantan istrimu," komentar Shuuhei.

"Mungkin tidak hanya sampai dibunuh, kau bisa dimutilasi," tambah Ulquiorra.

"Makanya! Jangan keluarkan kebiasaan kita di depan Chiaki! Dia masih dalam tahap perkembangan otak," pinta Ichigo.

"Tumben otakmu waras. Kau tidak salah makan, kan?" komentar Grimmjow.

"Kugou-san?" Ulquiorra memperhatikan bagaimana Renji bercanda dengan Chiaki.

"Sepertinya dia kaget."

"Harusnya tidak kau bawa anakmu kemari," saran Shuuhei.

"Hei, bukannya kalian yang menipuku? Tadinya aku ingin mengajak Chiaki ke taman bermain!"

"Maaf deh," kata Grimmjow. Ya, dia lah yang merencanakan tipuan tadi.

"Kalau begitu, kenapa datang? Kesempatan bersama Chiaki-chan jarang ada, kan?" Ulquiorra memperhatikan gerak-gerik Chiaki. Di kepalanya sudah melayang-layang potongan lirik. Jari-jarinya mengetuk-ketuk, sebuah melodi baru.

"Kupikir memang terjadi sesuatu."

"Bodoh."

Shuuhei memperhatikan bagaimana Chiaki bermain dengan Renji. Benar-benar tidak jelas siapa yang bocah dan siapa yang orang dewasa di antara mereka. Yang satu memainkan boneka Chappy, sedangkan yang satu lagi bertindak sebagai pembela kebenaran dengan figur pasukan ultra. Benar-benar pertempuran yang sengit.

"Kalau melihat Chiaki-chan, kita benar-benar merasa tua ya?" Rasa sepi menjalari Shuuhei. Sejak tunangannya meninggal, ia belum memulai hubungan dengan wanita lain.

"Apanya? Dia saja yang punya anak terlalu cepat!"

"Bagaimana dengan Nel?" tanya Ulquiorra.

"Putus."

"Lalu?

"Dia pergi sambil menangis."

"Kau ini memang musuh wanita."

"Dia terima kauputuskan?" tanya Shuuhei.

"Tidak."

"Kenapa kauputuskan? Dia seksi sesuai seleramu kan?" tanya Grimmjow.

"Tidak penting. Yang ingin aku ketahui adalah kenapa kalian memanggilku? Bukannya kalian sepakat berlibur ke Bermuda?"

"Kami batal berangkat. Si Ulqui dapat ilham lagu baru dan kebelet merampungkannya. Kau tahu? Dia berteriak-teriak di pesawat minta diturunkan!" jawab si frontman.

"Hei! Yang minta turun cuma aku! Kenapa kalian juga ikut turun?"

"Ckk!"

"Ilham ya? Aku juga dapat waktu ke kantornya Ishida." Ichigo menyerahkan kopelannya.

.

.

.

"Besok kau libur kan? Tolonglah... Ya?"

"Kalian berdua saja yang pergi. Biasanya kau minta bantuan Tessai-san kan? "

"Chiaki bilang tidak mau. Ayolah Rukia, aku juga bingung..."

"... Oke. Kita bertemu di sana saja."

"Terimakasih kau memang ba-"

Lagi-lagi Rukia segera menutup pembicaraan. Malam hari tanpa Chiaki begitu sepi dan tempat tidur menjadi lebih luas. Rukia merasa kosong. Si Ibu memeluk boneka putrinya dan memaksa matanya untuk beristirahat.

.

.

Chiaki masih merengek pada ayahnya agar mau naik komidi putar sekali lagi. Sebenarnya Ichigo mau menuruti pemintaan malaikat kecilnya, tapi tatapan maut mantan istrinya begitu menusuk. Dengan terpaksa Ichigo membawa Chiaki menjauhi arena komidi putar meski diprotes oleh yang bersangkutan. Selayaknya anak berumur lima tahun lainnya, Chiaki menangis. Rukia segera menggendong putrinya, ia tahu Ichigo lemah terhadap air mata.

Cukup lama putrinya menangis. Ichigo melirik kursi penumpang di sebelahnya, Chiaki yang tertidur di pangkuan mantan istrinya. Terlihat olehnya Rukia yang membelai rambut putrinya dan mendekapnya agar nyaman.

Tidak ada percakapan antara mereka. Ichigo sendiri gugup. Ini pertama kalinya mereka bertiga menaiki mobilnya, dan pergi ke taman hiburan bersama. Sesuai perjanjian, Ichigo biasanya tidak bertemu Rukia jika sedang bersama putrinya. Ishidalah yang biasanya menjadi perantara mereka berdua. Tapi sekarang mereka berdua yang melanggarnya. Ichigo bertanya-tanya, apakah seperti ini rasanya berpergian bersama keluarga pada umumnya. Ia, Chiaki, dan Rukia. Sudah lama sekali ia tidak pergi bersama Rukia. Ichigo merasa gugup seperti pelajar sekolah yang akan pergi kencan untuk pertama kalinya. Memalukan.

Rukia sendiri merasa lelah mengikuti putrinya yang sepertinya hari ini kelebihan energi. Dalam hatiya, ia merutuki Ichigo yang memilih taman hiburan di luar kotanya. Tapi ia tidak dapat memungkiri bahwa ia senang melihat luapan kegembiraan Chiaki. Sambil mendekap putrinya, Rukia memperhatikan jalan raya. Perjalanan yang sangat jauh. Perlahan-lahan kelopak matanya terasa berat dan turun.

...

Ichigo ragu-ragu untuk membangunkan Rukia saat mobil yang dikendarainya sudah berada di basement apartemen Rukia. Ada rasa takut, sungkan, dan tidak tega mengusik tidur wanita di sebelahnya. Sambil menunggu Rukia terbangun, Ichigo mencoba mengaduk-aduk dan menyelami memorinya. Ia mencoba mengingat-ingat bagaimana caranya dulu ketika membangunkan Rukia tanpa menerima amukan dari wanita itu. Apakah dengan mengguncang bahunya, atau menampar pelan pipinya. Ichigo benar-benar tidak ingat.

"..."

"... Kenapa tidak bilang kalau sudah sampai?" tanya Rukia, membuyarkan lamunan Ichigo.

"Aku sedang mencoba mengingat cara membangunkanmu."

"Bodoh," ujar Rukia sambil melepaskan sabuk pengaman. Ichigo mengambilkan tas mantan istrinya dan ransel Chiaki di jok belakang, serta memastikan tidak ada barang yang tertinggal.

"Tidak perlu kuantar sampai di depan pintu?" tanya Ichigo. Tangannya merogoh-rogoh hendak berusaha mengambil sepatu Chiaki yang terjatuh.

"Tidak perlu."

"Baiklah. Ini," Ichigo menyerahkan tas dan ransel itu pada Rukia.

"..."

"..."

Setelah sekian lama, sepasang mata mereka bertemu dan saling memandang dalam jarak dekat. De javukah? Keduanya terdiam memandangi pantulan diri mereka di jendela hati yang terbuka di depan mereka. Tanpa perintah, tubuh Ichigo bergerak sendiri, mendekatkan wajahnya dengan wajah wanita di depannya. Tidak ada yang bersuara, mereka seperti berada di dimensi lain di mana waktu mengalir lambat.

"..."

"..."

"Ngghh..." Chiaki terbangun.

"-Terimakasih tumpangannya, selamat malam." Rukia buru-buru bergegas meninggalkan Ichigo dan membawa Chiaki. Dari kaca spion, Ichigo melihat Rukia yang menggandeng Chiaki.

"Haahhh..."

'Apa yang baru saja mau kulakukan tadi?!'

Ichigo mengacak rambutnya dan merasa terpuruk. Sebelah sepatu milik Chiaki tertinggal, tidak sempat dibawa oleh Rukia. Tampaknya ia akan menghubungi Ishida dalam waktu dekat.

.

.

.

.

"…"

"…"

"K-kau bohong kan?" tanya Ichigo.

"..."

Rukia tidak berkata apa-apa, hanya menyerahkan surat keterangan dari dokter pada kekasihnya. Rukia menunduk, tidak berani melihat reaksi Ichigo ketika membaca surat keterangan itu. Ia berusaha untuk tidak menangis di depannnya.

Pemuda itu mematung seolah rohnya telah tercabut. Ichigo tidak dapat berekspresi ketika selesai membaca surat keterangan itu. Diantara semua kabar buruk yang pernah menghampirinya, tidak ada yang lebih mengejutkan daripada ini. Seonggok janin kini menghuni rahim Rukia dan tumbuh di dalamnya, calon manusia baru.

.

.

Bersambung...

Maap lama heheheheehe... tadinya pengen buat adegan ichi-nel yang lagi emosi tapi ga jadi. Ishida yang jadi pengacara Ichigo. Tenang, tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka kecuali hubungan sahabat dan kerja. Shuei? Dari nama Shueisha, perusahaan yang menaungi Shonen Jump. Wkwkwk... mungkin ada yang udah nebak dari mana asalnya nama majalah Weekly Jumper Boy tempat rukia kerja. Yup! Weekly Shonen Jump, kalo Margo sih, dari majalah Margaret *tapi uki lupa apa Margaret juga keluaran Shueisha*... alasan uki melesetinnya, karena BOSAN banget apa-apa pasti namax "Karakura bla-bla-bla" atau "Seiretei bla-bla-bla" uki bener2 lagi bosan dengan dua nama itu. Uki juga ga jadi nampilin kelakuan liar anggota band yang lain, soalnya ada Chiaki. Kekerasan verbal juga ga boleh jadi yah... Dalam pikiran uki, Rukia tinggal di Katsushika-ku yang agak pinggiran, kalo ichi sih, uki belum mutusin di mana, sama ma mobilx.

Yang mau memberi komentar atau saran silakan Read and Review!