Disclaimer : ya! saya! #duaghh
A/N : Dari judul ketara banget authornya nggak jago bikin judul. Ketiga kalinya bikin fic dengan judul yang sama -_-
Warning : AU, OC, semoga enggak OOC & typo. para chibi bertebaran :D
Hint PruNes atas rikues dariJust-Silence97
-Cute Little Brother & Sister-
Chapter II
Netherlands telah melangkahkan kakinya menuju mobil dan mengeluaran kunci dari kantung kemeja. Ia memutar lubang kunci mobilnya, namun sebelum sempat masuk ke dalam, wajah tersenyum itu tiba-tiba menyerang.
"Ned, nebeng lagi ya, hehe…" Spain memasang senyum maut yang hanya membuat Netherlands makin mengerutkan kening dan mengangkat sebelah alisnya. Menyadari tanda-tanda penolakan itu, Spain berbicara dengan bahasa isyarat. Artinya kira-kira 'nanti kuberi 3 foto lagi sebagai bonus'. Dan Netherlands pun mempersilahkan Spain dan Romano untuk masuk ke mobilnya tanpa banyak basa-basi. Entah kenapa pria ini tidak berpikir kenapa Spain punya begitu banyak foto Indonesia.
Koninkrijk Der Nederlanden/Netherlands (22 tahun)
Pekerjaan : Direktur muda perusahaan roti
Hobi : Indonesia (?)
Reino de España/Spain (24 tahun)
Pekerjaan : Pemilik perkebunan tomat terbesar
Hobi : menanam tomat, memetik tomat, makan tomat, membuat jus tomat, minum jus tomat, dan masih banyak lagi (bayangkan sendiri)
South Italy/Romano (6 tahun)
Hobi : tomat & pasta (harap maklum, anak-anak masih belum bisa membedakan hobi dan makanan favorit)
"Ma~ cheriee~ abang boleh ikut juga yaaaa…." France mencegah Netherlands masuk ke mobil dengan menahan salah satu pundaknya. Netherlands berjengit sedikit saat tahu pria metroseksual itu yang menyentuhnya.
République française/France (24 tahun)
Pekerjaan : Pemilik butik dengan ratusan cabang di seluruh dunia
Hobi : bugil di tengah kota, menyebar mawar dimana-mana.
"Naik mobilmu sendiri, France." ucap Netherlands sedikit ketus.
France memajukan sedikit bibirnya, "Mobil abang barusan masuk rumah sakit."
"Lalu bagaimana kau sampai disini, heh?"
"Abang nebeng mobil sport merah nona cantik yang kebetulan saja lewat." France mengedipkan sebelah mata dan mengangkat Ibu jarinya. Netherlands memutar bola matanya seolah berkata 'terserah deh', dan tanpa malu-malu, France menggiring Seychelles dan Canada masuk ke mobil.
République des Seychelles/Seychelles (7 tahun)
Hobi : ikan
Nama anak itu Canada, ya? (sepertinya 6 tahun)
Hobi : mungkin memelihara beruang
Netherlands hendak menutup pintu mobilnya saat…
"APA LAGI?" serunya galak pada Prussen yang berdiri di depan pintu mobilnya. Prussen tersenyum menyebalkan. Netherlands mengepalkan tinju di depan wajah Prussen yang menyuruh Germany masuk ke dalam mobil.
Königreichs Preußen/ Prussen (25 tahun)
Pekerjaan : dirahasiakan
Hobi : awesome (?)
Bundesrepublik Deutschland/Germany (9 tahun)
Hobi : menjaga kakak
Netherlands membuka kaca mobilnya dan berteriak keluar, "ADA LAGI YANG MAU NEBENG? KEBURU JAM KEBERANGKATAN LEWAT!" Pria besar ini sampai pada batas kesabarannya.
Namun sedetik kemudian, "ENGGAK!" Netherlands mengangkat tangannya dan menolak mentah-mentah bahkan sebelum China angkat bicara—padahal dia sudah membuka mulutnya.
"Kecuali kau maksudku, press dulu adik-adikmu jadi satu baru kau boleh ikut naik." China merengut dan melemparkan bakpau tepat di wajah Netherlands sebelum berbalik pada adik-adiknya. "Oom yang satu itu memang pelit, kita jalan kaki saja ya. Olahraga itu sehat aru!". Keempat adiknya mengangguk ragu.
China (29 tahun – meski tidak terlihat dari wajahnya)
Pekerjaan : apapun yang menghasilkan uang (saking banyaknya tidak bisa disebut satu-persatu)
Hobi : mengumpulkan barang-barang lucu, termasuk hewan dan manusia
Akhirnya Netherlands bisa menutup kaca jendela mobilnya dengan tenang, takkan ada lagi orang-orang yang mengganggu untuk ikut naik mobilnya, karena England, America dan Malaysia sudah pulang sedaritadi—berkat England yang tidak berhenti misuh-misuh melihat kemeja kotornya.
Gangguan dari luar memang sudah tidak ada, masalahnya kini mobilnya menampung 4 keluarga dan semuanya berisik—entah kenapa dia merasa senang melihat anak yang tidak diketahui identitasnya di bangku belakang karena ia duduk tenang tidak berbicara.
Selagi menstarter mobil, tiba-tiba kakinya disentuh sesuatu. Sesuatu itu memanjat kaki besarnya dan duduk di pangkuannya.
"Nesia?"
Republik Indonesia (8 tahun)
Hobi : tidur
"Di belakang tidak ada tempat." ujarnya polos.
Tidak, seharusnya masih cukup, pikir Netherlands. Iapun menengok kebelakang dan menemukan satu lagi sosok mungil tak diundang.
"Australia ikut?"
"Nggak boleh?" tanya Indonesia dengan mata berkaca-kaca. Netherlands hanya tersenyum kecut sambil mengacak-acak rambut adik angkatnya, "Boleh."
Lengkap sudah para pengganggu untuk hari ini. Pikir pria berambut tulip ini sambil menghela napas pelan.
Australia/Aussie (8 tahun)
Hobi : berpetualang
Perjalanan selama satu setengah jam hampir sampai pada akhirnya. Meski si pemilik mobil harus menahan emosi karena perjalanan tidak selalu lancar yang berarti macet dimana-mana. Meski Indonesia merengek ingin mencoba menginjak 3 pedal di bawah kakinya. Meski Indonesia bosan bermain pedal dan mulai terobsesi dengan tombol klakson. Meski Australia tak henti-hentinya bermain boomerang keramatnya—lupa bahwa ia sedang berada di kendaraan dengan ruang tertutup bernama mobil. Meski konser di dalam mobil tidak dapat ia hentikan saking banyaknya mulut yang berebut bicara. Meski Akhirnya tujuan perjalanan berubah—mampir ke rumah Netherlands sebelum pulang—gara-gara mulut ember Spain yang membocorkan kalau Netherlands baru saja merenovasi rumahnya. Dan meski-meski lain yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Tolong Tuhan, jangan Kau buat keadaan lebih parah daripada saat ini. Netherlands memperlambat laju mobilnya dan memasuki pekarangan saat suara itu terdengar, "HOII!"
Tolong Tuhan, semoga telingaku tuli sesaat tadi.
Aku mohon dengan sangat…
HAPUSKAN KENYATAAN BAHWA SI TOLOL DENMARK ITU YANG MELAMBAIKAN TANGAN KE ARAHKU DAN MEMANGGIL-MANGGIL NAMAKU DENGAN SENYUM BODOHNYA!
"Hooi! Nethere! Lama tak jumpa" Orang yang dimaksud ternyata tidak hilang dari pandangan, malah senyum empat jarinya berubah menjadi senyum lima jari.
Ini benar-benar mimpi buruk yang terjadi dalam seharian penuh, batinnya putus asa sembari menghela napas panjang.
Kongeriget Danmark/Denmark (22 tahun)
Pekerjaan : Direktur perusahaan tenaga kerja
Hobi : minum bir dan sejenisnya
Turun dari mobil, Denmark segera menghampiri sahabat lamanya dan menepuk-nepuk pundak Netherlands, "Wah, kau terlihat bahagia sekali hari ini, Nethe! Hahaha"
Tentu penulis tidak perlu berulang kali menulis untuk memperingatkan pembaca kalau seorang Denmark adalah pria yang sama sekali tidak dapat membaca situasi.
"Mau apa kau?" tanya Netherlands cepat.
Tadinya Denmark berpikir untuk berbasa-basi sedikit mencairkan suasana karena ia dan Netherlands sudah lama tidak bertemu. Tapi rupanya Netherlands ingin langsung ke pokok masalah. Maka Denmark langsung memperkenalkan kedua anak kecil yang sedari tadi memegang ujung jasnya.
"Kenalkan, Ini Norge dan Ice." Denmark tersenyum lagi. Ia menepuk bahu Norge dan Ice, bermaksud menyuruh mereka untuk ikut tersenyum. Tapi tampaknya mereka berdua sama sekali tidak berniat untuk tersenyum. Wajah mereka tetap datar tanpa ekspresi.
Kongeriket Norge/Norge (8 tahun)
Hobi : menjahili Denmark
Ísland/Iceland (5 tahun)
Hobi : merawat Puffin
"Itu bukan jawaban, Den." Netherlands memandang galak pada Denmark. Meski begitu, rupanya ia penasaran juga pada kedua anak kecil ini. Netherlands melirik sekilas pada dua anak tanpa ekspresi yang mengingatkannya pada salah satu adik China. Denmark punya anak? Tidak mungkin. Cewek bodoh mana yang mau sama orang macam Denmark.
"Jadi begini…" Netherlands tanpa sadar berdecak saat mendengar awal kalimat Denmark yang tampaknya akan berbuntut panjang itu.
"Norge dan Ice adik angkatku sejak tiga bulan yang lalu. Namun selama seminggu ini aku harus pergi ke suatu tempat, dan…"
"Tidak, terimakasih Den." Tolak Netherlands cepat.
"Tapi Neth, aku kan belum…"
"Kau mau titip mereka disini kan? Jawabanku, Tidak. Aku bukan baby sitter."
"Hei heii, menolak tanpa mendengar seluruh alasannya itu tidak baik lho, Netherlands…" France berbicara lembut sambil merangkul pundak Netherlands. "Lebih baik kita masuk, dan berbicara dengan tenang sambil bicara. Bagaimana?" Denmark mengangguk senang pada tawaran France.
Netherlands mengeram galak pada France yang lupa pada dirinya sebagai pemilik rumah.
"Buka pintunya dong, Nethe…" Oh, rupanya France tidak lupa.
Netherlands tidak bergeming. Mengajak tiga keluarga yang tadi menumpang mobilnya saja sudah malas, ditambah lagi si jabrik tolol ini.
Pesan dari Netherlands untuk penulis : tolong jangan pakai kata 'jabrik', entah kenapa aku ikut tersinggung.
Baiklah, kita kembali ke Tempat Kejadian Perkara. Sekarang France sedang…
"Oke..oke France, akan kubukakan pintunya. Berhenti menebar mawar di halamanku! Aku tidak mau bunga Tulipku tersayang tercemar."
Makhluk-makhluk menyebalkan sekarang duduk menyebar di rumahnya. France mulai mengacak-acak koleksi dvd nya. Spain membuka kulkasnya mencari sosok bulat berwarna merah yang pasti kalian tahu apa itu. Prussen menyalakan TV dan mengganti-ganti channelnya dengan ganas dan mengumpat betapa tidak awesomenya tayangan itu. Denmark mencari-cari bir di sekeliling ruangan. Adik-adik mereka asik berkejar-kejaran di dalam rumah, ditambah boomerang sial yang melayang kemana-mana—semoga tidak sampai memecahkan sesuatu. Dan Netherlands, dengan terpaksa membuatkan teh untuk makhluk-makhluk tidak tahu diri itu.
"Jadi, kenapa kau ingin menitipkan kedua adikmu disini?" Tanya Prussen yang akhirnya menyerah mencari tayangan TV yang bagus. Denmark menghela napas panjang, entah karena masalah itu atau karena ia tidak bisa menemukan bir sebotol pun.
Denmark kemudian bercerita bahwa ia ditugaskan untuk bekerja ke tempat yang lumayan jauh dari rumahnya sekarang dan dia tidak mungkin mengajak Norge dan Ice yang masih kecil. Satu-satunya teman yang juga memiliki adik angkat seperti dirinya adalah Netherlands. Oleh karena itu dia memutuskan untuk menitipkan Norge dan Ice disini. Namun meski telah menceritakan alasan seperti itu, Netherlands tetap menolak. Ia sendiri sudah terlalu sibuk mengurus roti-rotinya.
"Titipkan saja di tempat Switzerland, lagipula adik-adik kita memang dititipkan disana semua. Norge dan Ice tidak mungkin kesepian." saran Spain yang tumben bisa waras.
Yang lainnya menatap Spain dengan bola mata sedikit membesar. Oh, mereka tidak berpikir sampai kesana! Spain memang jenius, atau mereka yang terlalu bodoh?
"Tempat Switzerland?" tanya Denmark yang masih belum mengerti.
"Semacam tempat penitipan anak. Pemiliknya bernama Switzerland. Kami biasanya menitipkan para adik disana selama seminggu." jelas France.
"Tapi kau harus siap-siap, biayanya sangat mahal. Kesesesese…"
"Ah, soal biaya itu gampang!" Denmark akhirnya bisa tersenyum ceria lagi karena telah menemukan pemecahan untuk masalahnya.
'grrr grrr… kruyuk…'
"Bunyi apa itu?"
"Perutku yang awesome, ehehe. Boleh minta makan? " tanya Prussen tak tahu malu sembari menyeruput tehnya. Wajah Netherlands mendatar dan kedua matanya menyipit memandang Prussen. "Hanya ada roti."
"Adduuuhh, nggak ada yang lain? Aku yang awesome ini muak makan roti tidak awesome-mu."
"Apa katamu! Kan kau sendiri yang bilang roti buatanku enak waktu SMA dulu!"
"Itukan dulu…"
"Roti buatanku tidak pernah berubah!"
"Justru itu, membosankan."
Netherlands baru saja akan melempar lampu meja ke wajah Prussen saat Indonesia menahan kakinya.
"Sudahlah Netherlands, jangan ngamuk gitu." kata Indonesia. Netherlands serta merta menghentikan gerakannya. Ia kemudian berjongkok dan mensejajarkan pandangan matanya dengan Indonesia. "Boleh, aku akan berhenti jika kau mau memanggilku kakak." ucapnya menantang seraya menekan kepala Indonesia.
"Hah? Eng…enggak ah… yang kakak kan aku." Tawa Netherlands hampir meledak mendengar jawaban Indonesia. Meski adik angkat, harga dirinya tinggi sekali.
"Kau memang kakak Malaysia, tapi kau adikku sekarang, kan?" Netherlands meyakinkan Indonesia. Indonesia mengangguk sekali. Netherlands memang kakak angkatnya, ia mengakui itu. Tetapi hanya di dalam hati. Ia terlalu malu untuk mengucapkan kata 'kakak' karena biasanya dialah yang dipanggil kakak.
"Kak… Nethere…" ucapnya malu-malu. Oh tidak, pipi Indonesia mulai bersemu! Membuat laki-laki disekitarnya ingin sesegera mungkin memeluk anak ini, tak terkecuali Netherlands—salah! Maksudnya 'terutama Netherlands'.
"Bagaimana kalau aku yang masak?" tanya Indonesia pada Prussen.
Ia mengangguk ragu, masih terpesona karena kejadian tadi. "Dia bisa masak?" bisik Prussen pada Netherlands saat Indonesia menjauh menuju kulkas.
Netherlands tersenyum tipis dengan gaya sedikit meremehkan Prussen. Ia tahu bahwa temannya ini sedikit iri padanya. Sayang sekali Indonesia itu milikku, begitulah kira-kira yang ada di benak Netherlands.
"Nah! Sudah jadi!" Teriak Indonesia senang. Netherlands membantunya menghidangkan masakan yang telah dibuat oleh Indonesia di atas meja makan.
Prussen mendapat kehormatan untuk mencicipi pertama kali, karena yang lain tidak tahan mendengar suara konser di dalam perut si mata merah itu. Prussen menuang sedikit sayur ke dalam mangkuk berukuran kecil. Ia mengambil sendok dan mulai mencicipi.
Satu sendok…
Dua sendok…
Tiga…
Empat…Lima…Enam…
TujuhDelapanSembilanSepuluh
Ia tidak bisa berkomentar dan terus memakan sayur itu sampai mangkuknya bersih.
"Sayur apa ini, Nes? Rasanya SUNGGUH AWESOME!"
"Sayur asem." Jawab Indonesia singkat.
"SAYUR AWESOME? ! WOW! NAMA YANG BAGUS UNTUK MAKANAN YANG SANGAT AWESOME DAN TIDAK ADA DUANYA INI!" Teriak Prussen penuh semangat.
"Bruder… Nesia bilang sayur asem, bukan awesome."
"Dia bilang SAYUR AWESOME, West! Iya kan, Nesia?"
"Sayur asem." ulang Indonesia.
"Tuh kan! Awesome, west!" Prussen kembali meyakinkan adiknya. France dan Antonio menepuk pundak Germany pelan, tanda simpati sekaligus mengatakan 'percuma'.
Tiba-tiba Prussen bangkit dari duduknya, menghampiri Nesia dan menggenggam tangannya.
"Aku pinjam dia ya! Tukar sama West." Katanya tiba-tiba. Sungguh kakak tidak berperasaan.
Nesia yang kaget berusaha menepis tangan Prussen. Namun ia tidak sanggup karena sudah pasti Prussen lebih kuat daripada dirinya yang masih kecil. Entah atas dasar apa, Prussen menganggap Indonesia senang karena menggerak-gerakkan tangannya. Iapun segera memeluk Indonesia dan menggendongnya.
"Kesesese! Indonesia, kau pasti senang jadi adik orang awesome seperti aku. Daripada si rambut tu…"
'DUAGHH!'
"Pulang! Dan jangan kembali lagi." ucap Netherlands santai setelah menendang Prussen keluar dari rumahnya.
Setelah itu, hanya suara tertahan Germany yang sayup-sayup terdengar, "Bruder…".
See you in the next chapter...
Ih waw! akhirnya selesai juga XD lumayan panjang~ fiuhh~ endingnya tetep nggak awesome
dan chapter ini banyak dibahas kakak2nya yang bangkotan daripada adik2nya yang chibi dan minta dicubit, maaf. Para chibinya gantian dulu XD
oke! Rikues PruNes completed! maaf kalo kurang memuaskan.
Rikues umur para karakter juga completed, sekalian profilnya malah XD
Rikues Denmark-Norge-Ice dimunculin juga completed.
Yang rikues karakter lain, sabar ya. Sebisa mungkin saya keluarin semua, meski puyeng juga bikin pake karakter bejibun ;_;
review for anon :
Aiko zakuraLight : oke! rikuesnya ditampung dulu yaaa XD
Ayano ezakiya : hemm... sedikit banyak tetep ada hubungannya sama sejarah sih ^^ soal gender NesiaMalay terserah Imajinasi anda saja XD
thanks yang udah baca, riview, fave, dan rikues :D
seperti biasa, no flame, saran yang membangun selalu diterima dengan tangan terbuka ^^
