Disclaimer : Hidekazu Himaruya
A/N : Please, pretty please... enggak usah ribut soal pairing di review. Saya udah tulis dari pertama kalo ini NO PAIRING. Paling banter pun hanya sekedar hint enggak penting dan bukan mengarah ke romance. Bukannya saya enggak suka pairing AusHung, bukannya saya mau bikin PrusHung. Kejadian di chapter sebelumnya hanya mengalir secara natural. Bukannya bermaksud untuk bikin hint apalagi pairing. Maaf ya, untuk fanfic ini saya mau mengedepankan pure and cuteness aja. Sekali lagi, NO PAIRING. Tapi semua terserah ekspektasi anda masing-masing. Happy reading :)
Warning : AU, OC, semoga enggak OOC & typo. para chibi bertebaran :D overdose fluff and cuteness [kalo gak gagal]
-Cute Little Brother & Sister-
Chapter V
Kini, hampir dua puluh kepala yang berlalu lalang di rumah Switzerland. Bayangkan betapa stress nya seorang Swiss saat ini. Ia yang biasanya hanya sendiri saja, sekarang harus mengurus banyak bocah-bocah kecil. Tentu saja termasuk suara-suara memekakkan telinga yang ditimbulkan, barang-barang pecah yang kini tak terhitung lagi, mulut-mulut berisik yang meminta makan dan lain sebagainya. Untung saja Austria mau meminjamkan Hungary untuk sementara waktu, sehingga Switzerland mendapatkan sedikit waktu bersantai. Waktu super berharga inilah yang digunakannya untuk pergi refreshing, berjalan berdua saja dengan Liechtenstain. Tanpa pengganggu.
"Liech, kau mau cappucino?" tanyanya lembut.
Liechtenstain tersenyum senang, "boleh, kak?"
"Euh… tentu!" jawab Switzerland, "Tapi satu gelas saja ya…" lanjutnya berbisik.
Switzerland menghirup napas panjang, berusaha merasakan kesejukan udara yang akhirnya bisa ia rasakan. Pegunungan memang tempat yang sangat cocok untuk melepaskan kepenatan. Seluas mata memandang, ia hanya bisa menatap pepohonan dan bebatuan, sama sekali tidak ada orang. Membuatnya lega, dan sedikit tersenyum karena akhirnya bisa melepaskan diri dari jeratan bocah-bocah tak tau diri di rumahnya. Sepi itu memang menyenangkan.
"ya kan, Liech?"
"Eh?" Liechtenstain memandang heran pada kakaknya. Tanpa pertanyaan, tanpa mengucapkan kata-kata apapun, tiba-tiba kakaknya bertanya seperti itu. "Iya." Jawab Liechtenstain terhadap pertanyaan imajiner Switzerland.
"Nah, apa yang akan kita lakukan sekarang? Main ski?" Switzerland memberi jeda sejenak, berpikir bahwa ski bukan permainan yang murah, dan menjawab pertanyaan itu sendiri. "Ah… mungkin lebih asik jalan-jalan saja."
Liechtenstain menunduk, memain-mainkan ujung bajunya dan berkata dengan takut, "Aku… mau pulang."
Sekejap, Switzerland langsung menatap adiknya tak percaya.
Pulang? Mereka baru saja sampai! Ini liburan yang hanya bisa terjadi setahun sekali! Dan…. tahun ini…. TANPA ANAK-ANAK LAIN! Switzerland benar-benar tidak habis pikir.
"Kita harus pulang, kak! Kasian teman-teman yang lain. Kalau ada apa-apa—"
"Jangan khawatir Liech, ada Hungary. Aku yakin dia bisa mengatasi semuanya. Sekarang pikirkan saja bagaimana caranya menghabiskan liburan ini." Sang kakak pun menarik adiknya dan mulai berjalan. Liechtenstain mengangguk tidak yakin, namun tetap mengikuti kakaknya.
.:Cute lil bro & sis:.
Sementara itu di panti… err… di rumah Switzerland.
Hungary telah menyelesaikan semua tugasnya, membuatkan makan untuk semua anak-anak. Semuanya memakan dengan lahap—mengingat biasanya mereka hanya mendapatkan makanan dalam porsi ala restoran super mahal.
"Aku suka masakan bibi Hungary!" seru America memegangi perutnya yang kenyang.
"Kau hanya suka porsinya, dasar Idiot!"
Hungary menepuk punggung Romano, "Hei, jangan berkata kasar seperti itu, Romano."
"Tetapi masakan Hungary-san memang enak, kok."
"Terimakasih, Japan." Sahut Hungary tersenyum senang.
"Nah, acara makan sudah selesai. Apa yang sebaiknya kita lakukan selanjutnya… hmm…" Hungary memposisikan Ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu layaknya detektif. Canada berani bersumpah kalau ia melihat mata Hungary yang berkilat barusan, perasaannya jadi tidak enak seketika.
.:Cute lil bro & sis:.
"Lihat Italy, manis sekali kan. Hmm," Hungary membenarkan pita besar pada gaun yang dikenakan Italy. Wajahnya terlihat sangat bahagia, mereka berdua terlihat seperti kakak-beradik.
"Kalian juga harus pakai."
"TIDAK! Italy! Kau kan laki-laki! Masa mau saja disuruh pakai begituan!" teriak Romano frustasi karena harus berlari-lari menghindar dari Hungary yang ingin memakaikannya gaun seperti milik Italy.
"Vee~ tapi ini lucu."
"Kau sakit jiwa!"
"Italy benar, Romano. Ini memang lucu. Lihat, kalau kau juga memakainya, kalian akan benar-benar terlihat seperti anak kembar yang sempurna." Hungary melebarkan gaun itu dengan kedua tangan di hadapan Romano.
Romano bergidik, "TIDAK!"
Hungary menekuk wajahnya dan cemberut. "Bagaimana dengan kalian, Sey? Taiwan? Atau mungkin Japan?"
Japan terhenyak kaget, "A…a… tidak, terima kasih."
"Hei, hei!" Hungary merasakan ujung apronnya ditarik seseorang. Ia menoleh dan mendapati America yang sedang membawa kalender meja dan menunjukkan sesuatu padanya. "Besok Halloween! Bagaimana kalau kau ajarkan kami membuat kostum?"
"Waah! Itu baru ide bagus! Keren da ze! Halloween da ze!"
Hungary menyambar kalender meja itu dan tersenyum, "Baiklah! Kita akan sama-sama membuat kostum Halloween!"
"YEAYY!" teriak anak-anak bersamaan.
"Kita bikin kostum yang paling seraaam! Biar si Ned takut!" seru Indonesia bersemangat. Anak-anak yang lain menyetujuinya. Tanpa banyak musyawarah, kompetisi membuat kostum terseram pun digelar.
"Ah, iya. Besok kakak-kakak kalian akan datang menjemput, ya? Kita harus membuat kostum yang spektakuler untuk menakut-nakuti mereka!" Hungary mengepalkan tangannya keatas penuh semangat. Ia segera membagikan kertas untuk setiap anak, agar mereka dapat mendesain sendiri kostum yang mereka inginkan. Dengan begitu, akan mempermudah Hungary untuk membantu mereka menjahit kostumnya masing-masing.
Beberapa saat kemudian, suasana berubah hening. Semua anak asyik menggambar kostum yang menurut mereka menyeramkan. Hungary pun asyik memperhatikan desain-desain aneh yang mereka buat.
"Hei, Romano… kau membuat kostum tomat?"
"Memangnya kenapa?" Romano memandang sebal pada Hungary sambil terus menggoreskan crayon warna pada kertasnya.
"Kalau mau membuat kostum yang seram, harusnya kau menggantinya dengan labu."
"Aku tidak suka labu. Tidak enak."
Hungary mendesah, "Oke, terserah saja." dan meninggalkan Romano dengan hobinya. Ia beralih melihat karya yang lainnya.
"Hmm… bagus juga," celetuknya saat melihat kostum Norway yang serba hitam, ala penyihir. "Tapi… apa itu, Nor?" tunjuk Hungary pada sosok hijau besar di samping gambar Norway yang mengenakan kostum penyihir.
"Dia." Jawabnya singkat dengan gerakan kepala menunjuk ke sebelahnya.
"Dia… siapa?"
"Kau tidak lihat Troll-ku? Yang hijau besar ini." tunjuknya, kali ini menggunakan tangan.
"Ja..jangan mengkhayal, Nor." Kata Hungary sedikit takut. Benarkah Norway hanya sekedar berkhayal atau—
"Biarkan saja, kakak memang agak aneh." Iceland membantu menenangkan Hungary, tanpa menoleh.
Hugary hanya ber-ooh tanpa suara dan meninggalkan kakak-beradik yang tidak bisa mengubah mimik wajah itu dan berkeliling lagi.
"Kau menggambar apa, Russia?"
Russia menoleh, "Ooh…aku?"
"Aku menggambar, hmmm." Ia tersenyum, "Manusia serigala dengan banyak bulu, taring yang tajam, cakar yang kuat dan… ufu~"
"Dan sebuah pisau yang akan menyayat musuh-musuhnya tanpa ampun." Lanjut Belarus seraya memperlihatkan sebilah pisau.
"Bukaaann! Bukan pisau!"
"Kakak mau menikah denganku?" Belarus mengacungkan pisaunya.
"Jangan sembarangan mengganti topik! Huhuhu!"
Hungary pun mundur perlahan menjauhi kakak beradik mengerikan tersebut.
"Kau tidak menggambar kostum, Hong Kong?"
"taring." katanya dengan memperlihatkan taring mainan di giginya.
"Hanya taring? Kau mau jadi apa?"
"Vampir?"
"Tapi kostum vampirnya?"
"Vampir ras Mongoloid." Kata Hong Kong. Ia memakai topi berbentuk bundar yang sewarna dengan bajunya, dan menempelkan kertas dengan huruf Han di dahinya. Iapun melompat-lompat dengan tangan terjulur lurus setinggi bahu.
"Pait! Pait! Pait! Jangan mendekat Hong Kong!" seru Malaysia yang ketakutan melihat vampir ras Mongoloid itu. Terlebih wajah tanpa ekspresi Hong Kong yang mendukung aktingnya menjadi sangat meyakinkan.
"Hei, bikin kostum apa?" tanya Indonesia pada Australia.
"Aku bikin kostum Jason! Hero dan Inspirasi-nya para penjahat! Wahahaha!"
"Aku enggak tanya kamu, America. Shuuh~shuuh~"
"Hantu kepala buntung." America bergidik mendengar jawaban Australia.
"Wiih… pasti serem tuh! Aku mau buat Sundel bolong! Kita mirip!"
"Apanya yang mirip, Nes?"
"Bolong dan Buntung-nya, mirip, kan?" Australia sweatdrop dan memasang wajah 'iya-deh-terserah'.
Hungary menikmati semua ocehan anak-anak di tempat Switzerland itu. Ia heran mengapa Switzerland tidak tahan berada di antara mereka, padahal anak-anak ini begitu polos dan lucu. Sedetik kemudian, gerakan Hungary terhenti, ia menyadari bahwa sedari tadi ada seorang anak yang tidak ikut berpartisipasi.
"Kau tidak menggambar kostummu, Germany?"
Germany menoleh pada Hungary dengan malas. "Tidak. Aku, tidak mau."
"Kenapa?"
Germany tidak menjawab untuk beberapa saat. Ia melirik ke arah Indonesia dan Australia yang sedang menakut-nakuti America. Kemudian, "Aku malas."
.:Cute lil bro & sis:.
"Kak, beli ini ya? Untuk Taiwan."
"Ah! Ini juga… untuk yang lain."
"Kak Hungary pasti senang kalau diberi gelang ini, cantik."
"Li..liech…" mendadak Switzerland kehilangan kata-kata melihat adiknya yang tiba-tiba berubah menjadi bawel, dan banyak maunya.
"Ayo kak! Beli kue ini. Indonesia dan Malaysia pasti suka." Liechtenstain terus saja menarik kakaknya kesana kemari untuk membeli oleh-oleh yang diinginkannya.
"Tapi, Liech…"
"Masa kita pulang enggak bawa oleh-oleh? Teman-teman yang lain pasti ingin dibelikan sesuatu."
"Bukan begitu Liech, tapi…" Switzerland mengeluarkan dompetnya dan menghitung beberapa lembar kertas di dalamnya. Dahinya berkerut, uangnya tinggal sedikit.
"Biar aku yang bayar, kak." Seru Liechtenstain tiba-tiba, seakan mengerti apa yang ingin disampaikan kakaknya dengan hanya mengeluarkan dompet.
Switzerlan terkejut, "Kamu? Bayar pake ap—" bahkan sebelum Switzerland sembuh dari keterkejutan dan menyelesaikan pertanyaannya, Liechtenstain telah mengeluarkan dompet dan membayar semuanya.
Mulut Switzerland menganga lebar melihat lembaran-lembaran kertas bernilai tinggi di tangan mungil adiknya.
"Liech! Darimana kamu dapat uang sebanyak itu?"
"Dikasih."
"Siapa? Siapa yang berani memberimu uang? Jangan-jangan kamu diapa-apakan mereka! Jawab, Liech!" Switzerland berubah panik dan mencengkram erat kedua bahu adiknya.
"Kak France, Kak Spain, Kak England dan lain-lain…" jawab Liech polos.
Tangan Switzerland mengepal erat. 'Apa maksudnya orang-orang itu memberi Liech uang? Pasti mereka mau macam-macam! Pasti ada niat busuk di balik semua ini! Terutama France! Pasti! Awas saja mereka!'
Liechtenstain terdiam, ia mengingat kembali perkataan kakak-kakak yang senantiasa memberinya uang jajan.
"Kau pasti tidak pernah diberi uang jajan sama kakakmu, kan? Kasian sekali. Ini untukmu, belilah barang-barang yang kau inginkan, ya?"
Kini Liechtenstain mengerti mengapa setiap orang yang memberinya uang jajan selalu berwajah iba.
Ada apa dengan Germany? Apakah para kakak akan takut melihat adik-adik mereka dalam balutan kostum halloween?
See you in the next chapter...
-OMAKE-
Romano's Story
Spain memang beruntung memiliki seorang adik angkat yang lucu. Meski galak dan susah diatur, Romano adalah adik yang telah membuat hidupnya berwarna. Apalagi mereka berdua sama-sama pecinta tomat. Namun, Romano mempunyai satu kebiasaan buruk. Setiap pagi, ia selalu membangunkan Spain dengan melompat berkali-kali di atas tubuhnya sambil berteriak, "Sarapan! Sarapan! Sarapan! Mana sarapanku, Sialan!"
Setiap hari, Spain harus tahan dengan perlakuan Romano yang super kasar. Perutnya selalu terasa sakit setiap kali ia bangun. Ditambah lagi, harus sesegera mungkin menyiapkan sarapan untuk Romano.
Kebiasaan buruk memang seringkali susah dihilangkan. Sehingga, pagi hari saat pertama Romano dititipkan di tempat Switzerland, tanpa sadar ia berjalan menuju ke kamar Switzerland.
'BUGH!' Satu lompatan.
"Sarapa—" belum juga menyelesaikan kata-katanya secara sempurna, Romano sudah ditodong senapan laras panjang oleh Switzerland.
Tanpa banyak membantah, Romano kembali ke tempat tidurnya.
Dengan wajah pucat.
Switzerland menaruh kembali senapannya di bawah kasur sambil mengelus-elus perutnya yang sakit.
Di tempat yang berbeda,
'Apa Romano akan baik-baik saja ya?' batin Spain khawatir.
Omake nya enggak penting sangat! XD iseng aja mau bikin gitu.
A/N lagi :
1. Belum bisa nambah karakter baru karena mau ngebahas masalah Germany dulu. Setelah itu pasti Turkey, Egypt & Greece saya keluarin.
2. Yang kangen sama para bangkotan, chapter depan mereka muncul, sabar ya.
3. Bingung mau nulis 'vampir China', soalnya China kan kakaknya Hong Kong. Jadilah 'vampir ras Mongoloid'. Aseli maksa abis.
Seperti biasa, saran, kritik, pembenaran typo atau kejadian yang aneh dan enggak masuk akal diterima dalam bentuk review :)
