Disclaimer : Hidekazu Himaruya

A/N : Update super kilat, wahahaha~ draftnya udah panjang dari kapan tau soalnya, sekalian diketik ajalah, keburu males.

Warning : AU, OC, semoga enggak OOC & typo. para chibi bertebaran :D overdose fluff and cuteness [kalo gak gagal] genre super lengkap untuk chapter ini, dari humor, family, fluff sampe angst campur aduk [dan sekali lagi saya berdoa semoga angst nya enggak rusak]


-Cute Little Brother & Sister-

Chapter VI


Liechtenstain berjalan dengan perasaan riang gembira, ia menggenggam erat kantung kertas besar di depan dadanya. Kantung itu penuh berisi oleh-oleh untuk teman-temannya, yang tentu saja dibeli dengan uang tabungan sendiri. Ia memang sangat senang pergi liburan bersama sang kakak, Switzerland, namun ia lebih menantikan wajah bahagia teman-temannya ketika diberi oleh-oleh tersebut. Saking senangnya, Liech kecil bersenandung sepanjang perjalanan pulang. Berbeda 180 derajat, Swiss justru berubah muram. Paman berumur 19 tahun ini harus kembali ke rutinitas semula, kembali mendengar ocehan anak-anak seperti biasanya.

Setibanya dirumah, kakak beradik ini sama-sama tertegun. Switzerland menahan amarahnya melihat seisi rumah yang berantakan. Potongan kain, kertas, krayon dimana-mana. Anak-anak berlarian kesana kemari dan—

"Aww!" teriak Switzerland karena menginjak jarum yang masih tersangkut pada kain.

Liechtenstain sama sekali tidak memperdulikan jeritan tersebut dan melepaskan genggaman tangan dari kakaknya. Ia terpana melihat teman-temannya berbalut kostum yang unik. Ia sama sekali belum pernah melihat kostum-kostum menyeramkan sekaligus lucu seperti itu seumur hidupnya. Liechtenstain sama sekali tidak bisa membedakan kostum yang sudah jadi ataupun yang masih berantakan dan setengah jadi. Ia segera berlari menghampiri kawan-kawannya dan mendekat pada Hungary yang sibuk membenarkan jahitan pada kostum tomat Romano.

"Aku juga mau pakai kostum…"

Hungary menoleh dan mendapati Liechtenstain yang tersenyum malu-malu. Kedua pipinya berwarna merah lembut, efek cuaca dingin di luar. Wanita berambut caramel itu melepaskan topi hangat yang dikenakan Liechtenstain dan membersihkan salju yang menempel. "Boleh saja, kau mau bikin kostum apa?" tanya Hungary dengan senyum.

Liechtenstain diam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku mau jadi si Kerudung Merah !"

Mendadak kemarahan Switzerland hilang bagai asap melihat adiknya yang begitu bahagia dan antusias, apalagi membayangkan Liechtenstain memakai kostum Kerudung Merah. Adik kecilnya yang manis, dalam balutan kostum berwarna merah dengan pipi semerah apel ranum, bibir yang mungil serta senyuman yang menghanyutkan. Dalam mimpi pun ia tak berani. Sedetik kemudian, Switzerland langsung kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa, sebelum yang lain menyadari kalau wajahnya berubah panas dan memerah karena khayalannya sendiri.

Kemudian, Hungary beserta anak-anak lain melanjutkan kegiatan mereka. Sampai akhirnya semua kostum selesai—termasuk Germany yang akhirnya mau ikut membuat kostum karena didesak oleh yang lainnya—dan anak-anak tertidur pulas, tidak sabar menanti hari esok untuk bertemu dengan kakak masing-masing.

.:Cute lil Bro & Sis:.

[Halo, Ned?]

Netherlands diam saja mendengar suara yang sangat dikenalnya di ujung sana.

[Ned, kau disitu?]

[Cari tumpangan lain saja, Spain.]

[Ahahahaha! Aku menelpon bukan mau nebeng, kok.]

[Hhh… lalu apa?]

[Aku ada urusan penting besok dan sepertinya benar-benar tidak bisa ditunda. Romano—]

[Tidak.]

[Ayolaaah…]

[Tidak, Spain.]

[Sehariii saja…]

[Tidak, minta tolong yang lain saja.]

Brak. Klik. Tut. Tut. Tut—

'Tok tok tok'

"Masuk."

"Maaf, Pak Netherlands. Barusan ada klien penting yang meminta jadwal pertemuan dipercepat jadi besok."

.:Cute lil Bro & Sis:.

Spain menghela napas panjang, kepada siapa lagi ia harus minta tolong? Handphone Prussen tidak bisa dihubungi, France bilang kalau ia harus menghadiri pameran mode di Paris besok, dan tentu saja ia tidak mau mengambil resiko untuk menitipkan Romano di rumah England. Bisa-bisa romano jadi berandal karena kosa kata kasarnya makin berkembang. Di rumah China? Mungkin sudah penuh sesak dengan adanya 4 anak kecil.

Dalam keputusasaan, akhirnya ia menelepon ke kediaman Switzerland.

.:Cute lil Bro & Sis:.

"Apa maksudmu kau tidak bisa datang besok? Heh!" Switzerland menirukan derap langkah kuda menggunakan jari-jarinya.

"Adikmu yang paling banyak tau! Sudah lima anak yang tidak mungkin pulang minggu ini, dan kau mau menambah masalah dengan menitipkan keempat adikmu lagi? Di hari libur?" Memikirkan Norway, Iceland, Russia, Belarus serta Italy yang tidak mungkin pulang untuk sementara waktu saja sudah membuat Switzerland terganggu, apalagi ditambah 4 anak.

"Usahakan untuk membatalkan urusanmu besok. Kalau tidak, biaya hari libur dua kali lipat dari pada hari biasa."

'Trek'

'KRIIINGGG!' baru saja Switzerland meletakkan gagang telepon, telepon kembali bordering. Ia menutup telinganya kesal.

"Halo? Kenapa, Spain?"

.:Cute lil Bro & Sis:.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sore itu, anak-anak sudah selesai membersihkan diri serta memakai kostumnya masing-masing. Mereka menunggu di ruang keluarga sambil bercanda. Hungary ikut menemani mereka dan mengusulkan satu permainan.

"Hei, mau main TRUTH OR DARE?"

Hungary menjelaskan aturan mainnya dan mereka semua mulai bermain.

"Yeayy! Taiwan kenaaa! Truth? Or Dare?" teriak America bersemangat.

"Emh… truth?"

"Sebutkan kejadian memalukan kakakmu!" seru Malaysia sebelum yang lain selesai memutuskan pertanyaan yang bagus.

Taiwan tampak berpikir sebentar. Japan berusaha mencegah Taiwan untuk bicara yang tidak-tidak, menurutnya menyebar aib orang lain—apalagi kakaknya sendiri—itu bukan hal yang baik.

"Kakak…"

Semua anak menunggu jawaban dari Taiwan.

"Kurasa kakak menikah dengan alien." Bisik Taiwan

"EEEEEEEEHHH?" Entah kenapa justru Japan yang paling kaget mendengar pernyataan tersebut.

Korea dan Hong Kong mengangguk paham, "Maksudmu Shinatty?" Taiwan mengangguk.

"Enggak seru! Itu kan bukan rahasia lagi, da ze!"

Kali ini Japan memandang kaget pada Korea, "EEEEHHHHHHHHHHHHHH?" Kenyataan bahwa dirinya sendiri yang tidak mengetahui hal itu justru lebih mengejutkannya.

Permainan dilanjutkan, dan kali ini Malaysia yang kena.

"TRUTH!" teriak Malaysia sebelum ditanya.

"Ceritain pengalaman paling memalukan—"

"England diam-diam suka pake baju peri di kamarnya. Bahkan tanpa malu, dia meniru gerakan Sailor Moon."

"Yang mau kutanya itu pengalaman memalukanmu—" Sebenarnya Indonesia ingin menanyakan pengalaman memalukan Malaysia, namun…

"Tiap malam England mencabut alisnya. Tapi sayang tiap pagi selalu tumbuh lagi, bahkan lebih tebal daripada sebelumnya." Malaysia menambahkan.

"Ahh! Iggy juga ikut perawatan alis intensif di salon! Dia diam-diam saja tapi Hero selalu tau apa saja! Wahahaha!" Anak-anak yang lain juga ikut tertawa mendengar pernyataan itu. Hungary tertawa garing mendengar ocehan anak-anak polos yang dengan enteng membuka aib kakaknya sendiri.

"Aku jadi ingat waktu Kak France mengajak main Truth or Dare juga, Tapi kita main pakai taruhan." sahut Seychelles tiba-tiba.

Hungary menatap Seychelles heran, "Kau, punya uang untuk taruhan?"

Seychelles menggeleng. "Taruhannya tidak pakai uang. Yang kalah harus lepas satu benda yang lagi dipakai."

"Wah! Itu namanya sekuhara![1]" teriak Japan marah.

"Sekuhara itu apa vee?"

"Sekuhara itu…" Japan tidak melanjutkan karena tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya. Yang jelas, "Sekuhara itu tidak baik!"

"Lalu? Apa Sey dan Ca…Ca… kau maksudku," tunjuk Hungary ke seorang anak berkacamata yang sedang memeluk boneka beruang. "akhirnya kalah? Dan…eumm…telanjang?"

Seychelles kembali menggeleng. "Aku cuma lepas satu pita, dan anak ini cuma lepas sebelah kaus kaki. Malah kak France yang telanjang. "

"Hahaha! Biar tau rasa dia! Senjata makan tuan!" racau Indonesia.

Iceland menoleh, "Apa itu senjata makan tuan?"

"Maksudnya, kemakan omongannya sendiri, gitu."

"Hah?" kali ini Seychelles yang bingung.

"Iya… kan Kak France yang nantangin kalian, tapi dia yang kalah sampai akhirnya harus telanjang, kan?" Indonesia menjelaskan panjang lebar.

"Dia seneng kok."

"Eh?"

Hallo… Indonesia, kamu lupa ya kalau France itu sakit jiwa?

Permainan berlangsung lama. Semua anak telah mendapatkan hukuman. Norway pasrah ketika mukanya dicoret-coret menggunakan krayon warna, mulutnya yang berbentuk datar dan lurus berubah seakan-akan sedang tersenyum lebar. Russia harus tahan ketika tubuhnya dibungkus dengan kain putih dengan ikatan di ujung kepala dan kesana-kemari dengan melompat-lompat. Australia terpaksa mengaku kalau cinta pertamanya adalah Indonesia—sayangnya yang bersangkutan salah paham karena mengira Australia menawarinya bakso, bukannya sedang menyatakan cinta.

Bulan sudah mulai tampak, anak-anak pun sudah mulai mengantuk. Tak tampak satupun orang dewasa yang datang menjemput mereka. Germany membantu Hungary mengangkat anak-anak yang sudah tertidur ke kasurnya masing-masing sebelum akhirnya Hungary menyuruh Germany untuk tidur juga.

Setelah memastikan semua anak sudah tidur, Hungary mematikan lampu kamar dan berjalan menuju kamar Switzerland. Ia mengetuk pintu kamar, mendengar jawaban pelan dan segera memasuki ruangan itu.

"Kakak-kakak mereka tidak datang hari ini?"

.:Cute lil Bro & Sis:.

Germany turun dari kasur dan menuju ke kamar mandi. Ia masih kepikiran mengapa kakak serta yang lainnya tidak datang hari ini. Apa mereka semua lupa kalau seharusnya mereka menjemput dia dan yang lain? Apa Switzerland tidak memberi tahu pada mereka?

Ketika selesai dan hendak kembali ke kamarnya, Germany mendengar suara percakapan dari kamar Switzerland. Penasaran, ia pun menghampiri pintu yang sedikit terbuka itu dan mengintip ke dalam.

"Mereka bilang ada urusan yang tidak bisa ditunda."

"Semuanya?"

"Kira-kira begitu."

"Apa mereka tidak tau kalau anak-anak sudah menunggu? Mereka sudah membuat kostum Halloween seharian! Mereka berniat memberikan surprise! Kenapa para kakak sialan itu tidak ada yang datang?"

"Percuma kau marah-marah padaku. Aku juga tidak menginginkan hal ini." Switzerland mengurut keningnya. "Tiba-tiba semua menelepon kalau mereka ada urusan penting dan mendadak. Tapi…"

"Tapi apa?"

"Ada satu orang yang tidak memberi kabar, kupikir dia akan tetap datang hari ini."

"Siapa?" tanya Hungary tidak sabar.

"Kakaknya Germany, Prussen."

Baik Hungary atau Germany, keduanya kaget bukan main. Germany langsung lari ke kamarnya dan tidak ingin mendengar apapun lagi.

"Prus…sen? Si albino bermata merah itu?"

"... Darimana kau tau?"

Hungary mengepalkan tangannya kuat-kuat. 'Ternyata…si sialan itu kakaknya Germany. Dan berani-beraninya dia menelantarkan anak semanis itu, tanpa kabar apapun. Tak taukah dia kalau Germany sedang bermasalah?'

Hungary memang belum lama kenal semua anak di tempat itu, namun nalurinya mengatakan bahwa Germany memang memiliki masalah yang disembunyikan. Germany merupakan anak yang introvert[2], sehingga cukup sulit rasanya meminta dia menceritakan apa yang ia rasakan.

.:Cute lil Bro & Sis:.

Germany menubrukkan diri ke kasur dan memendam wajahnya dengan bantal. Tenggorokannya serasa menyempit, dadanya sesak seakan-akan kehabisan suplai oksigen, napasnya mulai tak teratur. Daerah di sekitar hidung dan kedua matanya terasa panas, ia pun tak tahan lagi dan mulai terisak. Ia sedapat mungkin menahan isak tangisnya yang semakin menjadi karena tak ingin membangunkan anak-anak yang lain.

Kenyataan bahwa kakaknya tidak menjemput, bahkan tidak memberi kabar sedikitpun membuatnya terpukul. Ia merasa tak diinginkan.

Sebenarnya, hatinya cukup terpukul ketika sang kakak menginginkan Indonesia menjadi adiknya. Germany tidak tahu keinginan kakaknya itu hanya sekedar candaan atau benar-benar serius. Meski begitu, hal tersebut membuatnya merasa tersingkir dan tidak diinginkan sebagai seorang adik. Ia merasa iri pada anak-anak lain yang hanya menjadi adik angkat tetapi mendapatkan kasih sayang yang berlebih dari kakak angkatnya. Sedangkan dirinya yang merupakan adik kandung Prussen justru tidak mendapatkan perhatian cukup. Malah seringkali ia yang harus mengurus kakaknya yang serba sembarangan itu. Perasaan tidak dibutuhkan membuat dadanya semakin sesak dan napasnya semakin tertahan. Ia tak bisa merasakan lagi nikmatnya udara karena hidungnya mulai tersumbat cairan, pandangannya memburam karena air mata. Pelan tapi pasti, isakannya semakin keras.

.:Cute lil Bro & Sis:.

Liechtenstain terbangun karena mendengar suara isakan pelan. Ia menyingkap selimutnya dan mendekati asal suara itu. Sekilas, Liech mengira Germany tidur dengan posisi telungkup, namun ia yakin suara isakan itu berasal dari Germany. Liechtenstain semakin yakin karena melihat kedua bahu Germany yang naik turun perlahan tak beraturan. Liech pun menepun pundak Germany.

Germany menoleh dengan cepat, ia tidak menyangka suara isakannya telah membangunkan seseorang. Iapun berusaha menghapus bekas airmatanya dengan cepat.

"Kenapa?"

Anak lelaki berambut pirang pendek itu menggeleng cepat, "Tidak… tidak ada apa-apa. Maaf sudah membangunkanmu."

Liechtenstain diam sejenak dan bertanya lagi, "Kenapa?"

Germany membuang muka dan mendapati Italy disampingnya, menatapnya dengan bingung. Tampaknya, Italy ikut terbangun karena mendengar percakapan tengah malam tersebut.

"Germany kenapa, vee?"

Tidak tahan karena ditodong pertanyaan dari dua arah, Germany akhirnya buka mulut. Meski tidak secara lengkap, ia menceritakan kegelisahan yang menyangkut kakaknya dan Indonesia, serta info bahwa kakaknya sama sekali tidak memberi kabar.

Tanpa aba-aba, Liechtenstain berlari ke kasur Indonesia dan mencubit kedua pipi anak itu keras-keras.

"ADAOOOWW!"

Dan Indonesia langsung terbangun seketika. "LIECH! NGAPAIN SIH CUBIT-CUBIT?"

Teriakan Indonesia yang cukup 'cempreng' sontak membuat anak-anak lain ikut terbangun dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Indonesia terus menodong Liechtenstain untuk meminta penjelasan atas tindakannya barusan. Namun Liech acuh dan tak mengeluarkan sepatah katapun, membuat Indonesia makin menjadi. Yang lain menyalahkan Indonesia dan suara cemprengnya karena membangunkan mereka semua. Germany memberikan isyarat terimakasih dengan gerak bibir tanpa suara pada Liechtenstain.

Kumpulan anak yang terbangun tiba-tiba itu sekarang berkumpul di tengah, membentuk lingkaran tidak beraturan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan tengah malam buta, tidak bisa kembali tidur karena tidak lagi mengantuk.

Romano mencengkram kostum tomatnya kuat-kuat, "Spain sialan enggak datang. Dasar sialan."

Mendengar perkataan Romano, anak-anak lain mengiyakan. Kostum Halloween yang mereka buat dengan susah-payah menjadi sia-sia. Suasana di sekeliling mereka tiba-tiba berubah sedih. Meski seringkali mereka menjelek-jelekkan kakak sendiri, mereka tahu bahwa kakaknya begitu baik sampai mau mengadopsi dan merawat mereka selama ini. Walaupun tidak dapat disampaikan dengan kata-kata secara jelas, mereka sayang pada kakak atau kakak angkat mereka.

Namun, apa bagi para kakak itu pekerjaan lebih penting daripada mereka?

Atau mungkin para kakak telah bosan merawat mereka sehingga akan terus dititipkan disini?

Russia mencengkram erat syal hangat yang ditumpuk diatas kostum serigalanya. Dengan merasakan lembutnya syal rajutan itu, Russia langsung teringat dengan kakaknya. Pasti sekarang kakaknya sedang berusaha keras mencari uang agar mereka bertiga bisa tinggal bersama lagi. Russia sama sekali tidak bisa menyalahkan kakaknya, ia hanya bisa tersenyum dan bersabar. Belarus mendekat dan bersender di bahu kakak lelakinya itu. Russia tidak beranjak, toh Belarus tidak sedang membawa pisau.

"Kakak sayang sama Kak Ukraine?" tanyanya.

"Um…" Russia mengangguk mantap.

"Kalau padaku?"

Russia melirik Belarus yang sedang menatapnya tajam. Meskipun takut, ia menjawab, "ten..tentu saja."

"Kalau begitu, kalu sudah besar nanti kita menikah, ya!"

Kali ini Russia sama sekali tidak berani membuka mulutnya lagi.

"Kakaaaaak, huhuhuhu…." Taiwan tiba-tiba menangis. Japan berusaha menenangkan adiknya, namun kebingungan. Sedangkan Hong Kong menepuk kepala Taiwan lembut.

Dan Korea, "Hei Taiwan, gimana kalau aku saja yang jadi pengganti aniki, da ze!" memiliki niat baik untuk menghibur, namun sayangnya tidak mendapat sambutan yang baik. Kepalanya benjol terkena lemparan balok mainan.

Seychelles dan Canada memeluk bonekanya masing-masing. France memberikan kedua boneka tersebut sebagai hadiah, dan ternyata berguna untuk saat-saat seperti ini, sebagai pengusir kesepian. Australia mencoba meredakan tangis keras America yang terbawa suasana karena teman-temannya yang lain.

Indonesia dan Malaysia saling senggol, tak mau mengakui kalau mereka juga merindukan kakak angkatnya masing-masing.

"Ngaku aja, kamu kangen Ned-mu itu kan?"

"Heh! Kamu itu yang enggak bisa lupa sama si alis tebal, iya kan?"

Norway dan Iceland berpandang-pandangan. Mereka tidak terlalu merasa kehilangan karena ditinggal oleh Denmark selama beberapa waktu. Hanya saja rasanya ada yang berbeda karena biasanya Denmark selalu berisik dan berlaku bodoh di samping mereka, kini Norway dan Iceland harus terbiasa tanpa ocehan kakaknya sepanjang hari. Rasanya sepi juga.

Italy dan Liechtenstain memang tidak merasakan langsung kesedihan teman-temannya. Dimana ada Liechtenstain, disana selalu ada Switzerland—kakak lelakinya yang selalu setia menjaga sang adik. Italy tidak pernah merasa kesepian karena Hungary selalu mengajaknya bermain. Akan tetapi, mereka tetap berempati dengan keadaan teman-temannya saat ini dan berusaha memberikan semangat.

"Sudah! Jangan sedih terus! Kakak angkat sialan itu melupakan kita! Kita juga harus lupain mereka!" Romano angkat bicara.

"Setuju, da ze!" dipelopori Korea, anak-anak lain mulai menyatakan persetujuannya.

Mulai besok, tidak ada lagi yang namanya KAKAK!

See you in the next chapter...

[1] Sekuhara :Istilah Jepang, singkatan dari sexual harrasment ato pelecehan seksual.

[2] Introvert : Sifat seseorang yang tertutup, biasanya pendiam.

Ini pertama kalinya saya nangis waktu nulis bagian angst nya Germany, semoga enggak jadi angst-rusak. Dan entah kenapa saya ikutan kesel sama para bangkotan disini. WOI! ADEKNYA DIURUSIN DONG ITUU! JANGAN SIBUK KERJA MULUU!

Sebelum author banyak bacot dan menggalau, komen, saran dan kritik nya dipersilahkan :3

makasih buat yang selalu setia membaca, apalagi yang selalu setia review #peluksatu2