Title: Y (Why)

Author: Lee Suhae

Main Cast:

Lee Donghae

Kim Kibum

Tan Hangeng

And others,

Main Pair: Seme x Hae

Genre: Romance, sad, yaoi

Rated: M

Disclaimmer: Donghae is mine ^^

Summary: Rahasia apa yang disembunyikan Donghae didalam hidupnya? Bahkan, kenapa ia tega menyakiti orang-orang yang mencintainya?

Cinta?

Benarkah karna cintanya yang terluka?

[Chapter II]

Angin pagi begitu indah terasa. Birunya laut terlihat begitu indah dimata seorang namja manis yang kini duduk dibawah pohon kelapa. Dia tersenyum dengan lucunya kala melihat desiran ombak yang saling beradu memecah keheningan. Kadang ia menghilangkan tawanya saat ombak itu pergi, namun saat ombak itu kembali datang, senyum childish miliknya akan terlihat pula.

Seorang yang lain yang kini duduk jauh darinya. Duduk bersandar pada sebuah batu yang cukup besar disana. Dia tersenyum saat melihat namja yang berstatus kekasihnya itu tersenyum. Ternyata, pilihan tepat membawa sang namja manis ke tempat indah ini.

Laut.

Entah kenapa saat melihat laut, dirinya juga melihat sosok itu. Wajah yang mampu membuat hatinya teduh dan merasa redup.

Mata sosok itu yang bisa membuat hati dan matanya menjadi buta. Buta untuk tidak bisa melihat orang lain kecuali dirinya. Dan dia bersumpah, kalau dia akan melakukan hal apapun untuk bisa membuat sosok itu bahagia. Dan juga,

Bisa mencintainya.

Dia berdiri, lalu berjalan mendekati sosok itu yang saat ini tengah tersenyum tanpa mengubah pandangannya.

Menatap lurus kea rah laut yang seakan tengah menatapnya. Memberi makna padanya, kalau setiap masalah hidup akan bisa dilewatinya.

Dia duduk dibelakang sosok itu, lantas menarik sosok itu agar jatuh dalam pelukan hangatnya. Ia tersenyum sambil memberi kecupan-kecupan ringan ditengkuk leher dan pucuk kepala sosok itu secara bergantian.

"Bumiie gelii~" rengek namja manis itu saat ia merasakan teliganya seperti disengat oleh aliran listrik. Namun sedetik setelah itu, ia tersenyum tulus kala sang pelaku pemelukan mendekap dirinya erat.

"Sangat indah bukan?" tanyanya yang dianggukan oleh sang namja manis – Donghae. Donghae memejamkan matanya, mencoba meresapi hangatnya pelukan namja tampan tersebut dan juga semilir angin yang menerpa kulitnya.

Kibum nyatanya tersenyum, kala jemari lentik Donghae bermain ditangan kekarnya. Kibum berpikir, sepertinya Donghae sudah mulai mencintainya.

"Hae"

"Hm"

"Apa Bumiiee?" tanyanya karna Kibum tak melanjutkan ucapannya. Donghae membuka matanya, lalu melirik kea rah belakang. Ia menaikan satu alisnya, "Apa?" tanyanya lagi saat melihat Kibum tersenyum begitu manis ke arahnya. Hanya ke arahnya.

Donghae membalikkan tubuhnya, hingga mereka saling berhadapan.

Kibum mengelus pipi Donghae yang sedikit chubby, lalu ia kecup perlahan. Ia tersenyum setelahnya, "Kau tahu, aku semakin jatuh dalam hatimu dan aku" dia usap bibir tipis Donghae yang bewarna soft pink itu " Tak bisa untuk berhenti mencintaimu" ia kecup bibir Donghae dengan memberi lumatan halus yang membuahkan lenguhan dari bibir Donghae.

Donghae memejamkan matanya, memeluk erat leher Kibum. Dalam hati ia menangis. Menangis karena dia juga merasakan hal yang sama.

Ia mulai menaruh cinta pada hati Kibum, dan itu tidak boleh.

'Mianhae, Bumiie'

Desiran ombak mengalun indah. Hembusan angin ikut meramaikan suasana. Apa yang terjadi tadi malam, kini terulang kembali.

Dipasir putih itu, dibawah pohon kelapa yang sedikit redup. Sepasang kekasih mulai memadukan tubuh mereka. Saling bertaut dan tak ingin terlepas satu sama lain. Walau jauh didalam hati satu dari keduanya, ini adalah hal yang terindah yang dulu pernah ia rasakan. Namun disaat bersamaan, rasa sakit itu kembali terkoyak perih.

Hingga ia berjanji, ia tak akan pernah jatuh cinta dan mengubur perasaannya. Karna tak ia pungkiri bukan? Ia sudah jatuh hati pada namja tampan yang sangat kaya raya, Kim Kibum.

Donghae mengendarai mobil barunya yang dibelikan oleh Kibum dengan sedikit lebih santai. Tujuannya kali ini adalah sebuah Rumah Sakit Seoul yang dimana sang kekasih lain bekerja sebagai Dokter. Jangan tanya dimana Kibum, karena Kibum sangat sibuk mengurus perusahaan yang ia bangun sendiri. Lagipula, sudah dua hari ini Donghae dan Kibum tak saling bertemu. Terakhir mereka bertemu saat mereka bersama dan bercinta dihamparan pasir laut.

Donghae melangkahkan kakinya cukup riang menuju ruang kerja kekasihnya. Ia menebar senyum manisnya yang begitu indah saat melihat sang kekasih tengah duduk santai disofa ditemani beberapa berkas.

Brak~

Donghae melempar tas sekolahnya ke atas meja kerja Hangeng, membuat Hangeng mengangkat wajahnya. Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat sang pujaan hati berdiri dengan menyenderkan punggungnya didinding. Tatapan menggoda yang Donghae berikan membuat Hangeng tersenyum dan melangkah mendekatinya.

Hangeng menarik Donghae kedalam pelukannya. Lantas ia kecup bibir Donghae dengan memberi lumatan kecil, " kenapa kau tak langsung pulang baby?" tanyanya lembut sambil mengelus pipi Donghae.

Donghae menggeleng, "Kau tahu, saat aku berada di apartemen aku merasa sangat kesepian" ia melingkarkan tangannya pada leher Hangeng, "Lagipula ada yang ingin aku bicarakan denganmu" lanjutnya dengan nada yang setengah berbisik. Dan itu terdengar sangat sexy ditelinga Hangeng. Hangeng tidak munafik, bagaimanapun dia adalah sosok seme yang tidak tahan jika harus dihadapkan oleh namja manis seperti kekasihnya ini. Ingin rasanya ia meniduri namja bermarga Lee ini dan menyemburkan miliknya kedalam tubuh Donghaenya.

Namun itu tidak mungkin. Karena, selama mereka menjalin kasih, Donghae tidak mengizinkan Hangeng menyentuh dirinya lebih.

Karena menurut Donghae, tubuhnya hanya untuk seseorang yang benar-benar ia cintai dan yang mencintainya. Bukan menuntut nafsu semata. Dan Hangeng menghargai itu, setidaknya ia tahu kalau Donghae adalah namja yang baik hati, polos dan tidak royal untuk tubuhnya. Lagipula Hangeng tahu, Donghae masih belajar untuk mencintainya.

Lalu untuk apa ia menyerahkan tubuhnya untuk Kibum? Sepertinya ia memang jatuh cinta dengan Kibum.

Dan tahukah saat Donghae mengucapkan kata-kata itu, dia tertawa sangat keras didalam hati. Bukankah itu adalah omong kosong belaka?

"Apa yang ingin kau bicarakan" tanya Hangeng sambil mengusap punggung tangan Donghae yang berada diatas pahanya.

Kini mereka sedang duduk diatas sofa panjang bewarna biru. Keadaan cukup tenang, dan hembusan angin yang masuk dari celah-celah ventilasi menambah kesan damai diruangan itu.

Donghae menatap Hangeng dengan satu garis lurus. Dia berpikir sejenak, entah kenapa saat ia melihat Hangeng suatu getaran yang mengetuk hatinya sama sekali tidak ada dan berbeda saat ia menatap Kibum.

Donghae menghela nafasnya, dan setelahnya ia menundukkan kepalanya.

"Hey, kau kenapa baby?" tanya Hangeng sambil mengangkat dagu Donghae. Membawa mata Donghae yang begitu polos untuk menghadap ke arahnya.

"Ada apa?" tanya lagi sambil mengecup bibi Donghae. Sedangkan Donghae hanya diam. Karena memang dirinya tengah berupaya agar bisa mengeluarkan air mata untuk bisa menunjang misinya kali ini.

Beberapa detik berlalu, dan dia masih belum bisa mengeluarkan emosinya. Hingga suatu kenangan terburuk didalam hidupnya menyeruak masuk kedalam ingatnnya.

Ingatan dimana dia ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya.

Cinta pertamanya,

Orang pertama yang menyentuh tubuhnya.

Perlahan buliran air mata itu tumpah begitu saja. Membuat Hangeng harus mengusap air mata kepedihan itu, "Ada apa hm? Kau ada masalah?" tanyanya lagi yang dijawab gelengan kepala dari Donghae.

"Lalu?"

"Aku ingin kita putus"

"Huh?"

Donghae dengan mata yang terurai mencoba berbicara, "Tak bisa Hyung, tak bisa" ia menjauhkan tangan Hangeng yang berusaha menggapai tangannya.

"Maksudmu apa baby?"

"Aku tak bisa lagi untuk mencintaimu, aku lelah"

Hangeng menatap Donghae tak percaya, "Kau lelah? Denganku? Benar itu Lee Donghae?" sedikit geram terdengar dari nada bicara Hangeng. Dan ia pun meluapkannya dengan cara meremas pergelangan tangan Donghae yang membuat Donghae meringis kesakitan. Namun, Hangeng sama sekali tak berniat untuk melepaskannya, mungkin karena amarah telah merasukinya.

Pikirkan saja, tak sedikit yang ia keluarkan untuk memenuhi kebutuhan Donghae. Mulai dari pakaian, gadget, mobil, membelikan Donghae apartemen mewah dan memberikan cuma-cuma satu perusahaan yang ia kelola dengan atas nama Donghae.

Donghae terisak dalam, bukan karena remasan tangan Hangeng pada pergelangannya, melainkan hatinya yang kembali perih mengingat kisah cintanya yang berakhir memilukan.

"Mianhae Hyung, mianhae, hiks, asal kau tahu" dia menatap mata Hangeng yang begitu tajam menatapnya, "Aku lelah terhadap diriku sendiri, aku lelah karena aku tak bisa untuk lebih mencintaimu dari ini. Aku lelah, jika harus melihat dirimu susah demi aku Hyungiie, mianhae" Hangeng terharu mendengarnya, dan tanpa Donghae duga sebelumnya. Hangeng menarik dirinya kedalam pelukannya dan mendekapnya sangat erat.

Dalam hati, Donghae bersorak girang atas kemenangannya. Ternyata menaklukan seorang Tan Hangeng begitu mudah.

"Aku mengerti baby, aku mengerti. Maafkan jika tadi aku menyakitimu" Hangeng menarik dirinya lantas ia kecup kening Donghae cukup lama. Kecupan terakhir yang mungkin ia berikan kepada mantan kekasih yang hampir dua minggu ini dipacarinya.

Dua minggu dan Donghae sudah mendapatkan segalanya?

Donghae tersenyum, "Maafkan aku juga Hyungiie" ia kecup bibir Hangeng sekilas sebelum dirinya beranjak meninggalkan tempat itu.

Namun belum sempat itu terjadi, Hangeng menahan tangannya.

"Mungkin besok, aku akan pindah ke China. Aku menunggumu di airport" Donghae mengangguk, "Tungulah aku" ia pun tersenyum setelahnya dan berjalan menuju pintu.

Donghae melirik sekilas kea rah Hangeng yang termenung menatap dirinya. Dia tersenyum sinis, "Bodoh" ungkapnya.

"Bumiiee"

Donghae merengek untuk kesekian kalinya saat Kibum yang juga untuk kesekian kalinya, terus saja menyentuh bagian sensitive-nya.

"Ayolah sayang, sekali lagi"

"Tidak, aku lelah!"

"Lee Donghae"

"Kim Kibum"

Kibum harus berpasrah atas Donghaenya kali ini. Mungkin benar apa yang dikatakan Donghae. Kekasihnya itu sangat kelelahan. Lihatlah tubuh Donghae yang tergolek lemas disamping tubuhnya.

Kibum tersenyum lalu menarik tubuh Donghae kedalam pelukannya. Hingga posisi mereka, Kibum yang memeluk Donghae dari belakang.

Sekali lagi, Donghae teramat menyukai pelukan ini. Hangat dan seperti pelukan dari,

'Kau tidak boleh lemah Donghae, tak ada yang berbeda. Semua sama. Mencintaimu lalu mencampakkanmu. Lebih baik kau yang mencampakkan mereka terlebih dahulu'

"Tadi siang kau kemana sayang? Kenapa tidak pulang ke apartemenmu atau apartemen kita ini?" tanya Kibum sambil memejamkan matanya. Menghirup aroma vanilla yang segar dari rambut Donghaenya.

Donghae tersenyum seraya merebahkan kepalanya pada dada bidang Kibum, "Aku hanya berjalan-jalan sebentar, dan Bumiiee" Donghae merubah posisi tubuhnya hingga kini tubuh polos mereka saling berhadapan.

"Apa sayang?" tanya Kibum.

Donghae tersenyum, "Besok aku tidak masuk sekolah, aku harus menjemput Yunho Hyung di airport" ujarnya yang membuat Kibum tersenyum.

"Perlu ku temani?"

Donghae menggeleng cepat, "T-tidak usah Bumiie, aku bisa sendiri. Lagipula aku tahu, kau sangat sibuk" ia mengecup bibir Kibum setelah mengucapkan itu.

"Kau kekasih yang pengertian sayang" Kibum merengkuh tubuh Donghae dalam dekapannya. Tanpa sadar, Donghae tersenyum mendengarnya.

Perkataan yang sama yang dulu pernah ia dengar dari seseorang yang sangat ia cintai. Namun hingga saat ini, setahun berlalu ia sama sekali tak mengetahui dimana cintanya itu berada.

Namun satu yang ia tahu, cintanya itu telah meninggalkannya. Mencampakkan dia begitu saja, setelah Donghae memberi segala untuknya.

Donghae tersenyum sedih, "Gomawo" tanggapnya dan setelah itu ia tenggelam dalam mimpinya.

Kibum tersenyum melihat Donghae yang tertidur pulas didalam pelukannya. Ia kecup bibir tipis Donghae untuk yang entah ke berapa kalinya hari ini, "Aku sangat mencintaimu sayang, bahkan aku bernai bersumpah, aku tak akan pernah meninggalkanmu" ia pun tertidur dengan senyum yang terpatri diwajah tampannya.

Angin malam membuat mereka terlelap begitu damai. Namun, tak begitu damai untuk sosok Donghae yang tertidur dengan air mata yang berlinang dari sudut matanya. Sepertinya ia bermimpi tentang kisah cinta masa lalunya. Mimpi yang sudah lama tak singgah didalam tidurnya kini kembali datang.

Ada apa dengan dirimu sebenarnya Donghae?

Donghae tersenyum dan melambaikan tangannya saat melihat Hangeng tersenyum kepadanya. Dia berteriak, "Jaga dirimu baik-baik Hyungiie" yang dibalas Hangeng dengan tangan yang membuat tanda 'love'.

Donghae hanya diam melihatnya, walau senyum yang tidak tulus itu masih terlihat jelas diwajah manisnya.

Ia masih disana, sampai tubuh Hangeng benar-benar hilang dari pandangannya. Lalu, pandangannya jatuh pada sebuah kartu kredit, kunci apartemen, dan juga kunci mobil mewah milik Hangeng yang berada didalam genggamannya.

Ia tersenyum penuh kemenangan, "Dasar namja babbo, cih" ia berbalik dan membuang semuanya begitu saja. Tak lupa ia injak sebelum melangkahkan kaki menjauh dari tempat itu.

Ia melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya, namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.

"Yunho Hyung" gumamnya saat membaca nama yang tertera pada layar ponselnya.

"Yeoboseyo" sapa Donghae ramah.

''Kau dimana Hae?'' tanya Yunho dari seberang sana.

Donghae menggigit bibir bawahnya, "Aku, aku sedang berada dikelas, waeyo Hyung?" tanyanya balik dengan nada yang terdengar sedikit gugup. Bagaimanapun, Yunho sangat hafal jika dirinya sedang berbohong. Maka dari itu dirinya harus bisa menahan kegugupannya saat ini.

"Oh, selama Hyung tidak pulang ke apartemen, kau tidur dimana?" Donghae ingin sekali mematikan telepon dari Hyungnya. Saatnya yang paling memuakkan jika harus berhubungan dengan Hyung tercintanya.

Interogasi.

"Aku tidur di apartemen Hyung"

"Jeongmal?"

"Ne"

"Lalu, kenapa sama sekali tidak ada bahan makanan di kulkas adikku dan juga, kamarmu sama sekali tak pernah kau sentuh setelah aku pergi ?"

Donghae menghela nafas panjangnya, "Aku selalu makan diluar Hyung, kau kan tahu aku tidak bisa memasak. Jadi, menurutku jika aku mengisi bahan makanan dikulkas, itu akan percuma. Karena memang aku tidak menggunakannya. Lalu kamar tidur itu, aku membersihkannya setiap hari" elak Donghae sebisa mungkin.

"Kau tidak bisa berbohong dari Hyungmu ini Hae, kau tahu? Aku membelikanmu sebuah cup cake rasa vanilla sebelum hari keberangkatanku, dan itu sama sekali tak kau makan, mungkin sama sekali tak kau lihat. Bagaimana mungkin, jika kau tidur dikamarmu, kau tidak mengetahuinya"

"Itu, aku, ak-"

"Ku tunggu kau sekarang di apartemen, aku tahu kau tidak berada disekolah"

"Shiitt~"

Donghae mengumpat kesal mendengarnya. Ia mengetikkan beberapa kata untuk dikirimkan kepada Kibumnya. Kibumnya kah?

Setelah itu ia berbalik, namun sial. Mungkin karena ia tidak melihat ada atau mungkin matanya ditutupi rasa takut dan kegugupan. Akhirnya ia menubruk seseorang yang sedang berjalan, membuat seseorang itu terjatuh menindihi tubuhnya.

Kibum tersenyum saat membaca pesan yang dikirimkan Donghae untuknya," Kau memang manis sayang" ungkapnya.

From : My Donghae

Bumiie, aku mala mini tidak bisa bersamamu. Aku harus menyiapkan segala sesuatu untuk Yunho Hyung. Aku cinta Bumiie, :D

Kibum memejamkan matanya, meningat wajah manis Donghae yang selalu terbayang olehnya. Bukan hanya itu, namun juga desahan Donghae saat menyebutkan namanya, tubuh Donghae yang selalu menggoda bagian bawahnya, dan juga-

Kibum membuka matanya dengan cepat kala ponselnya berbunyi, ia mengira panggilan dari Donghae ternyata bukan.

"Yeoboseyo Hyung" sapanya.

"Uh, aku minta maaf" ujar Donghae sambil membungkukkan tubuhnya.

Namja yang ditubruknya tersenyum. Melihat tingkah Donghae yang begitu lucu dimatanya, "Tidak apa-apa, seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Tidak seharusnya aku membaca sambil berjalan" ujarnya sambil memperlihatkan buku itu kepada Donghae.

Donghae menatap buku tersebut dengan seringaian tipis, "Bisnis? Kau menyukai bisnis?" tanya Donghae, namja bertubuh lebih tinggi dari Donghae itu mengangguk.

"Bukan menyukainya, bahkan aku wajib mencintainya. Beginilah, seorang pecinta musik yang dipaksa untuk menjalankan bisnis dari Appanya" jawab namja itu dengan memberi Donghae senyum manisnya.

"Bisnis apa? Bukankah melakukan bisnis itu menyenangkan?" tanya Donghae lagi.

Namja itu mengedikkan bahunya, "Aku tidak tahu, aku baru pulang dari America dan sudah disuguhkan buku sial ini, hahah" tawa namja itu membuat Donghae tersenyum.

Donghae menatap namja itu yang masih tertawa.

Tampan, dan kaya.

"Memang bisnis apa yang harus kau jalankan?" tanya Donghae lagi, karena memang namja yang belum diketahui namanya itu tidak menjawab pertanyaan Donghae sebelumnya.

"Menjalankan beberapa anak perusahaan dalam bidang menyortir bahan-bahan baku dalam pembuatan Hardware, Software komputerdan sebagainya, hanya anak perusahaan dan membuatku hampri gila" ungkapnya lagi namun tidak tertawa, karena dia terpaku setelah melihat senyum Donghae yang begitu manis dimatanya.

"Kau manis"

"Huh?"

"Eh tidak" ujar namja itu, lalu mendudukan diri disamping Donghae karena dirinya sedari tadi berdiri.

Namja itu menatap Donghae, "Kita belum berkenalan, siapa namamu?" tanyanya, Donghae tersenyum dan menyambut uluran tangan namja itu, "Lee Donghae, kalau kau?" namja itu tersenyum dan mulai membuka mulutnya,

"Nama ku—"

.. TBC ..

Hhiiiiiee~ maafkan saya yang telah membuat para readers menunggu hingga lumutan, ^^v

Saya mengerjakan ini saat kondisi tubuh saya tidak memungkinkan, namun saya tetap memaksakannya karena ini sudah sangat lama untuk update-

Mian, kalau ada typo(s) yang masih bergelantungan dimana-mana. Mata saya berputar membca ulang ff ini :o

Yulika19343382: sudah lanjt saeng, maaf ya lama~

Xxx : apa aku mengenalmu xxx? Nih sudah lanjut #bow

Aniistiyani: aku tidak mnghilangkan sisi polos hae kok~ tenang aja :p

Auhaehae : ada donk, tapi next chap aja yah dibongkarnya . ttg siapa cinta pertama donghae yang make donghae being bad uke :p

Fishiie LophehaeUKE: Kihae? Pairingnya tak terduga, jadi tunggu aja yah ~~

SiHaeLuv: hooho, ini sudah lanjut, gomawo :D

Shetea'vhateamach: seratus buat anda #prookprookk

Hd93 : thnks for ur support , yah, tunggu aja, hilang satu muncul lagi yang lain~~

Cho Kyura : wahahah, kok gitu sih kyyuuraa~~~

Mind RnR please?