Doctor Kim and Captain Jeon

Cast: Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo

Other Cast: Find By Your Self

Author: Gyupire

Genre: Romance, Action, Medical

Rate: T

Warning: EYD tidak sesuai, Typo dimana-mana

Chapter 2

~000000000000~

Wonwoo pulang ke apartemen tepat pukul sebelas malam. Tubuhnya sangat lelah, belum lagi punggungnya yang tadi dihantam oleh mafia sialan itu. Namun rasa lelahnya mencuat begitu saja ketika kekasih tampannya membuka pintu apartemen mereka dan menyambutnya dengan senyuman hangat. Mingyu merentangkan kedua tangannya, yang manis langsung mengerti dan menghambur kepelukan pria bergigi taring itu.

"Gyu…" Rengek Wonwoo manja.

"hmm?" Gumam Mingyu yang masih setia memeluk kekasihnya itu.

"Aku lelah, gendong aku ya."

Mingyu mau tidak mau terkekeh melihat kelakuan manja pemuda manis itu. Hei Wonwoo itu termasuk atasan yang sangat disegani di kepolisian. Ia adalah orang yang cukup berwibawa dan juga dingin. Namun entah kenapa jika di hadapan Mingyu maka Wonwoo akan berubah menjadi anak usia lima tahun yang menggemaskan.

Mingyu menggendong Wonwoo ala koala. Kaki jenjangnya ia gunakan untuk menutup pintu. Beruntung pintu tersebut bisa terkunci dengan otomatis. Wonwoo membenamkan wajahnya di ceruk leher Mingyu sambil memejamkan matanya. Sesampainya di kamar Mingyu membaringkan Wonwoo perlahan di ranjang mereka. Namun kegiatan Mingyu berhenti ketika Wonwoo merintih tepat saat punggungnya menyentuh kasur.

"Wonwoo, kau terluka lagi?" Ucap Mingyu khawatir.

Wonwoo merutuki dirinya yang kelepasan. Ia pasti akan sangat membuat Mingyu khawatir. Belum sempat Wonwoo membuka mulutnya, Mingyu sudah bergerak lebih dulu mendudukkan Wonwoo dan menyingkap kaos bagian belakang Wonwoo. Mingyu terdiam membuat Wonwoo semakin takut. Punggung Wonwoo yang tadinya memerah sekarang sudah berganti warna menjadi biru.

"Aku akan mengambilkan obat." Ucap Mingyu dingin.

"Mingyu aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil." Ucap Wonwoo sambil menahan tangan Mingyu.

"Aku akan tetap mengobatinya, Wonwoo." Mingyu langsung melesat menuju dapur dan mengambil kompres hangat dan obat oles.

Beberapa menit kemudian Mingyu kembali ke kamar. Ia memerintahkan Wonwoo untuk melepaskan bajunya lalu tengkurap. Wonwoo hanya menurut, ia tidak ingin membuat Mingyu tambah khawatir. Mingyu mulai mengobati kekasih manisnya itu dengan telaten. Ia mengompres dengan gerakan yang lembut agar Wonwoo tidak kesakitan. Meski Wonwoo berkata kalau lukanya tidak sakit sama sekali, Mingyu tau Wonwoo berbohong dan hanya tidak ingin ia khawatir.

Setelah selesai mengoleskan obat pada luka lebam Wonwoo, Mingyu langsung kembali memakaikan baju kekasihnya itu kemudian membereskan peralatannya dan hendak keluar kamar. Namun tangan kurus itu menahannya.

"Tetaplah disini."

"Aku akan membereskan ini terlebih dahulu."

"Mingyu…"

"Istirahatlah, kau pasti lelah." Ucap Mingyu sambil tersenyum.

"Mingyu.."

Mingyu mengelus pipi mulus Wonwoo dengan lembut sambil tersenyum. Perlahan ia melangkahkan kakinya. Pria manis yang sedang terbaring itu langsung bergerak cepat dan memeluk tubuh lelaki tinggi itu dari belakang.

"Mingyu, berhentilah menyalahkan diri sendiri." Wonwoo paham betul jika saat ini Mingyu pasti sangat khawatir sampai menyalahkan dirinya sendiri. Mingyu selalu merasa bahwa ia gagal menjaga Wonwoo jika pemuda itu pulang dalam keadaan terluka.

"Kau tau Wonwoo, aku-"

"Kau selalu menjagaku Gyu, ini semua kelalaianku. Sungguh berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kau yang terbaik, aku mohon berhentilah menyalahkan dirimu, Mingyu." Wonwoo kembali mengeratkan pelukannya seolah mencoba meyakinkan Mingyu.

Mingyu membalikkan tubuhnya, ia membalas pelukan kekasihnya itu tidak kalah eratnya. Ia selalu merasa bersalah saat Wonwoo terluka. Ia merasa gagal menjadi pelindung bagi Wonwoo.

"Aku khawatir Wonwoo."

"Maafkan aku."

Tubuh Wonwoo terangkat, Mingyu menggendongnya dan kembali membaringkannya di ranjang. namun kali ini Mingyu ikut berbaring di sampingnya. Lengan kekar itu kembali membawa Wonwoo untuk bersandar di dadanya. Wonwoo dengan senang hati menurut patuh.

"Jadi, siapa yang berani memukul kekasih manisku ini?" Ucap Mingyu memecahkan keheningan.

"Salah satu anggota mafia yang tadi kami tangkap." Ucap Wonwoo.

"Besok aku akan ke kantor polisi."

"eh, memangnya ada apa?"

"Aku ingin menghajar lelaki yang berani memukul kekasihku." Wonwoo yang mendengarnya sontak tertawa.

"Tapi Gyu, tubuhnya sangat kekar." Canda Wonwoo.

"Kalau begitu apa aku suntik mati saja ya?"

Wonwoo kembali tertawa, selain karena candaan Mingyu wajah kekasihnya itu juga terlihat sangat menggemaskan. Meski selama ini Mingyu selalu bilang kalau Wonwoo itu manis, Wonwoo justru menganggap Mingyu yang lebih manis. Kekasihnya itu terlihat tampan dan imut disaat yang bersamaan. Lihatlah wajah polosnya yang juga sukses membuat Wonwoo jatuh cinta.

"Gyu, besok aku libur."

"Benarkah?"

"Emm, besok kau tidak ada jadwal operasi kan? Kita pergi kencan saja ya." Ucap Wonwoo sambil memasang wajah berbinarnya.

"Kencan? Bagaimana ya.." Jawab Mingyu pura-pura berpikir. Kemudian mereka saling menatap lalu sama-sama terkekeh.

"Kita piknik ke sungai Han saja ya, aku sudah lama tidak piknik bersamamu."

"Baiklah Wonu-ku. Besok pagi aku akan memasak."

Wonwoo mengangguk antusias. Kemudian mereka sama-sama memejamkan mata. Keduanya sudah tidak sabar untuk pergi berkencan besok pagi.

.

.

.

Matahari mulai bergerak naik. Sinarnya memasuki satu persatu cela di setiap sudut kamar. Membuat pemuda manis yang masih setia di dalam selimut merasa terusik. Perlahan ia mengerang lalu membuka matanya. Ia mulai meraba-raba sisi lain dari kasurnya dan tidak mendapati sosok yang ia cintai disana.

Perlahan pemuda manis itu berjalan ke arah kamar mandi. Membasuh mukanya dan menggosok gigi. Dirasa wajahnya sudah segar ia melangkahkan kakinya menuju dapur, ia tau pasti Mingyu ada di sana. Dari jauh wangi masakan Mingyu sudah tercium. Membuat Wonwoo tersenyum. Dilihatnya sosok lelaki tinggi yang sibuk menggoreng sesuatu. Wonwoo mendaratkan kedua tangannya di pinggang yang lebih tinggi.

"Sudah bangun?"

"hmm." Gumam Wonwoo, ia sibuk menyandarkan kepalanya di punggung tegap Mingyu dan mencium aroma maskulin kekasih tan nya itu.

Mingyu membalik badannya. Ia memeluk kekasih manisnya itu kemudian mendaratkan kecupan ringan di kening, mata, pipi, dagu dan terakhir mendarat pada bibir merah milik Wonwoo. Sudah rutinitas Mingyu memberikan morning kissnya.

"Aku akan melanjutkan ini, Wonwooku tunggu di meja makan saja ya." Ucap Mingyu sambil mengusak surai Wonwoo. Wonwoo hanya mengangguk kemudian melakukan perintah Mingyu.

Mingyu kembali sibuk menyiapkan sarapan untuknya dan juga untuk Wonwoo. Selain itu ia juga menyiapkan makanan untuk mereka piknik nantinya. Di meja makan Wonwoo hanya sibuk memandang pergerakan kekasihnya. Matanya tidak lepas dari sosok pria yang sudah beberapa tahun ini menjadi kekasihnya. Wonwoo tersenyum sendiri, ia bahkan tidak sadar jika Mingyu memanggilnya dari tadi.

"Pagi-pagi jangan suka melamun, nanti ayam tetangga pada mati." Canda Mingyu. Wonwoo hanya mencebik kesal.

Mingyu membawa satu persatu sarapan ke meja makan. Ada roti isi telur dan beberapa sayur yang menjadi favorite Wonwoo dan dua gelas susu. Mereka memulai sarapan pagi mereka diiringi canda tawa.

Setelah acara menghabiskan makanan tadi Mingyu menyuruh Wonwoo untuk mandi terlebih dahulu sedangkan ia menyiapkan perlengkapan piknik dan menyusunnya di mobil. Setelah persiapan sudah cukup, Mingyu kembali ke kamar dan menyiapkan pakaian untuk Wonwoo. Ia memilih Sweater abu-abu, celana jeans biru dan sneakers yang senada dengan warna sewater untuk dikenakan Wonwoo.

Mingyu selalu berusaha menjadi kekasih yang baik untuk Wonwoo. Meski ia termasuk ke dalam salah satu kategori kekasih yang tidak peka, ia tetap ingin mencoba melakukan apa yang ia bisa untuk kebahagiaan Wonwoo. Pintu kamar mandi terbuka , gantian Mingyu yang masuk ke kamar mandi, sedangkan Wonwoo berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian Mingyu selesai membersihkan diri. Kekasihnya sudah tidak ada di kamar, mungkin sudah menunggu di ruang tv. Ia tersenyum mendapati Wonwoo ternyata juga sudah menyiapkan pakaian untuknya. Setelah berganti pakaian Mingyu memasukkan sebuah benda ke dalam sakunya. Ia melangkah ke luar dan benar saja kekasih manisnya sudah menunggunya sambil menikmati siaran di tv.

Mingyu memeluk leher Wonwoo dari belakang membuat pemuda manis itu sedikit terkejut. Menyadari itu adalah Mingyu, Wonwoo langsung menoleh dan mengecup singkat bibir Mingyu.

"Wonu, kita berangkat sekarang."

Mingyu sangat suka memanjakan Wonwoo. Ia bahkan menggendong Wonwoo menuju mobil. Wonwoo yang digendong tentu saja merasa senang. Kekasih tampannya itu selalu tau bagaimana cara membuat pipinya merona. Perlakuan Mingyu memang terkesan sederhana, tetapi tetap saja mampu membuat kedua pipinya berubah warna menjadi merah muda.

Mingyu mendudukkan Wonwoo kemudian memasangkan tali pengaman. Mingyu berjalan dan kemudian duduk di kursi pengemudi. Ia mulai melajukan mobilnya perlahan. Mereka berangkat tepat pukul sepuluh pagi.

.

.

.

Setelah menempuh perjalan selama satu jam mereka tiba di tepi sungai Han. Wonwoo langsung berlari antusias. Sedangkan Mingyu mulai menurunkan barang-barang. Ia terkekeh menatap Wonwoo yang lagi-lagi bertingkah menggemaskan. Mingyu membentangkan tikar di bawah pohon yang cukup rindang.

Di sepanjang tepi sungai Han tampak ramai karena hari ini memang hari libur. Kebanyakan para keluarga juga memilih piknik. Ada juga para remaja bersama pasangan masing-masing yang ikut menikmati pemandangan sungai Han. Ada yang bergandengan tangan, ada yang berpelukan ada juga yang saling merangkul. Dan semua itu tidak luput dari pandangan mata Wonwoo.

Kemudian ia menoleh ke belakang dan mendapati Mingyu menatapnya dari kejauhan. Mingyu sudah duduk dengan manisnya di tikar. Pemuda itu juga sudah mengeluarkan bekal yang tadi ia siapkan si apartemen. Wonwoo kembali berlari menuju Mingyu.

"Kau hobi sekali berlari ya?"

"Gyu.. aku ingin bersepeda."

"Baiklah, kau tunggu di sini ya, aku akan menyewa sepeda dulu." Wonwoo mengangguk.

Tidak lama kemudian Mingyu kembali dengan satu buah sepeda. Wonwoo sebal karena Mingyu hanya menyewa satu.

"Gyu kenapa hanya satu?" Rengek Wonwoo.

"Naiklah, aku akan memboncengmu."

"Tapi sepedanya tidak ada boncengannya Gyu."

"Kau bisa duduk disini." Jawab Mingyu sambil menunjuk bagian depannya. Wonwoo tentu saja tidak menolak. Ia langsung duduk di bagian depan. Mereka berdua berkeliling di tepian sungai Han. Bahkan terkadang Mingyu melepaskan pegangan tangannya yang sebelah kiri dan memeluk leher Wonwoo. Orang-orang yang ada di sana hanya bisa memandang iri atas kelakuan dua pemuda yang sangat manis itu.

Setelah lelah mereka berdua kembali duduk di tikar. Mingyu mulai menyiapkan makanan karena memang hari sudah siang dan pasti kekasihnya itu sudah lapar.

Wonwoo mengambil makanan dan menyuapkannya kepada Mingyu. Mingyu menerimanya dengan senang hati. Wonwoo terkekeh melihat Mingyu yang sepertinya sudah kelaparan. Setelah selesai makan, Wonwoo membantu Mingyu membereskan perlengkapan mereka dan memasukkannya kembali ke keranjang.

Mereka berdua kembali menikmati pemandangan sungai Han. Wonwoo menoleh menatap Mingyu yang terlihat fokus. Ia kemudian mengelus lembut pipi Mingyu membuat Mingyu sedikit kage lalu menoleh.

"Gyu ayo tidur di sini." Ucap Wonwoo sambil menunjuk pahanya.

Mingyu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Wonwoo. Wonwoo mengelus surai Mingyu penuh sayang. Meski sudah cukup lama berpacaran, mereka jarang sekali punya waktu untuk sekedar berkencan. Kesibukan selalu membuat kencan mereka harus tertunda. Mingyu mulai memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut yang Wonwoo berikan.

Wonwoo menunduk dan menatap wajah damai Mingyu. Sebenarnya Wonwoo ingin sekali Mingyu melamarnya. Namun entah kenapa Mingyu belum melakukannya. Wonwoo menjadi sedikit takut apakah Mingyu masih ragu padanya? Wonwoo lagi-lagi menepis semua pemikiran bodohnya itu.

Mingyu mulai membuka mata ketika senja sudah menyapa. Ia mendongak dan mendapati Wonwoo yang masih setia menatapnya. Mingyu bangkit dan baru sadar kalau hari sudah sore.

"Kenapa tidak membangunkanku? Kau pasti lelah duduk seperti itu?"

"Aku tidak lelah, aku suka saat memandang wajah damaimu."

"Bohong." Wonwoo terkekeh.

Waktu sudah semakin sore. Mingyu dan Wonwoo mulia beranjak. Mereka membereskan peralatan piknik dan memasukkannya ke mobil. Belum sempat Mingyu menghidupkan mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering.

"Halo?"

"Aku segera kesana." Mingyu menutup teleponnya.

"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Wonwoo.

"Panggilan mendadak, aku harus kembali ke rumah sakit."

"Bukankah seharusnya kau libur?" Ucap Wonwoo sedih.

"Ada pasien gawat, mereka tidak sanggup menanganinya. Wonwoo kau juga ikut ke rumah sakit ya?"

"Baiklah." Jawab Wonwoo.

Mingyu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Hari sudah semakin malam karena memang jarak yang lumayan jauh. Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam mereka tiba di rumah sakit. Mingyu masih sempat membukakan pintu untuk Wonwoo. Ia menarik tangan Wonwoo kemudian berlari dan langsung menuju ruangan Mingyu.

"Wonwoo-ya tunggu disini. Aku akan menangani pasiennya terlebih dahulu." Wonwoo hanya mengangguk. Ia menatap kepergian Mingyu dengan sedih. Padahal malam ini ia benar-benar ingin memeluk kekasihnya itu semalaman.

Sudah satu jam Wonwoo menunggu Mingyu. Ia mulai merasa bosan di dalam ruangan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dari Mingyu. Ia langsung mengangkat teleponnya.

"Wonwoo tolong aku."

"Mingyu? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Wonwoo khawatir.

"Wonwoo bisakah kau ke atap sekarang?"

Wonwoo langsung berlari menuju atap rumah sakit. Ia panik takut sesuatu terjadi terhadap Mingyu. Ia terus berlari, Wonwoo lebih memilih berlari melewati tangga.

"Mingyu!"

Mingyu sudah berada di depan pintu atap. Kemudian ia mendorong pintu tersebut. Namun ia sangat terkejut mendapati ternyata ada banyak orang di sana. Ada lebih dari sepuluh dokter dan sekitar dua puluh orang perawat disana. Mereka semua berjongkok sambil memegang bunga mawar putih. Disana juga terdapat hiasan lampu yang gemerlap. Sangat indah, namun Wonwoo kembali tersadar ketika tidak mendapati sosok Mingyu di sana.

"Mi-Mingyuku dimana?"

Tanpa Wonwoo sadari sosok yang ia cari tadi berjalan ke arahnya dari samping. Kemudian lelaki tinggi itu berlutut di hadapan Wonwoo. Wonwoo kaget mendapati Mingyu di depannya. Ia tidak mengerti sama sekali. Mingyu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Benda berbentuk persegi, perlahan Mingyu membukanya. Wonwoo terkesiap menyadari benda itu adalah sebuah cincin.

"Jeon Wonwoo, aku bukanlah orang yang bisa sepenuhnya menjagamu. Namun biarkan aku menjadi orang yang selalu berada di sisimu. Biarkan aku menjadi rumah tempatmu kembali, menjadi sandaran saat kau lelah dan menjadi alasanmu untuk bahagia. Jeon Wonwoo, menikahlah denganku dan jadikan tulang rusukku menjadi lengkap." Ucap Mingyu sambil tersenyum dengan tulus.

"Kapten Jeon, menikahlah dengan dokter Kim!" Ucap para dokter dan juga perawat yang ada di belakang mingyu serentak.

Wonwoo tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya mulai berkaca, ia begitu bahagia. Baru tadi ia berpikir bahwa mungkin saja Mingyu meragukannya namun kini pemuda itu berlutut melamarnya. Wonwoo langsung menghambur kepelukan Mingyu. Ia terisak, ia begitu bahagia. Mingyu membalas pelukan Wonwoo. Mencoba menenangkan kekasih manisnya itu.

Setelah tenang Wonwoo melepaskan pelukannya. Kemudian mengecup pelan bibir Mingyu. Mencoba menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemuda itu.

"Jadi apa jawabanmu tuan Jeon?" Ucap Mingyu.

"Tentu saja aku mau."

Wonwoo kembali menghambur kepelukan Mingyu. Sedangkan para dokter dan juga perawat yang diketuai Seokmin langsung bersorak. Wonwoo mengeratkan pelukannya. Ia benar-benar bahagia sekarang. Mingyu melepaskan pelukan mereka kemudian memasangkan cincin tadi di jari manis Wonwoo. Sangat pas dan juga cantik. Wonwoo tersenyum menatap tangannya yang kini sudah dihiasi sebuah cincin.

"Terima kasih sudah mau menerimaku. Aku mencintaimu kapten Jeon."

"Aku sangat-sangat mencintaimu dokter Kim."

TBC

Ada beberapa part yang mau aku jelasin di chap sebelumnya. Mingyu dan Wonwoo itu belum menikah ya apalagi tunangan. Jadi mereka itu masih pacaran aja. Mungkin ada kesalahan di chap sebelumnya. Terus untuk scene yang Wonwoo menangkap mafia dan Mingyu operasi itu terinspirasi dari scene di DOTS. Emang gak sengaja di bikin batas perpindahan tiap scene soalnya adegannya di saat yang bersamaan. Maaf juga ya kalo rada bingung.

Awalnya mau bikin FF ini oneshoot aja tapi gatau kenapa malah jadi chaptered. Karena FF ini terisnpirasi dari WonGyu day maka mau gak mau peggambarannya agak mirip DOTS juga cuma saya bikin berbeda kok.

Niatnya di chap ini bikin full romance yg fluff dan manis. Tapi gatau sih ngefeel atau enggak di kalian semua haha soalnya belum ada pengalaman dilamar orang. Maaf juga kalo ada typo karena saya gak baca ulang.

Jangan lupa di review ya biar saya semangat lanjutinnya.

Special thanks to-

an.2794, svtbae, meanie trash, InfntMyungsooRP, BYDSSTYN, tiannunna, Shmnlv, exodewi, equuleusblack, ara94, wonderella, svtvisual, zahra9697, Arlequeen Kim, daeMinJae, Rei Rina, Ketiiiliem, wonrepnuke, itsathenazi. Dan untuk yang sudah baca.

Palembang, 22 Mei 2016.

SALAM MEANIE!