Spooky Dorm
Ohayo, Minnaaaa.. Apa kareba? Lah.. lah.. jadi orang Makasar.. hahaha..
Kimmy cantik datang lagi.. (ditimpukin readers)..
Ini Spooky dorm part dua yah, entah makin serem atau makin gak jelas, semoga bisa dinikmati aja lah.. jangan lupa review ya, kalau sempet.. Gomawo..
.
.
.
Before….
Jaejoong bergumam tidak jelas lagi dalam tidurnya, membuat Yunho semakin dan semakin resah. Dalam suasana kamar yang gelap gulita, ia mengecup dahi dan pipi Jaejoong, dan membisikkan kata-kata penenang sambil mengelus rambut halus kekasihnya.
"Eunggghh.."
"Tenanglah, Baby."
Jung Yunho sama sekali tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun, sejak tadi ia hanya memandangi Jaejoong yang tidak berhenti meracaukan sesuatu,
"Yunn..."
"Ya sayang..."
"Yunniee.." dengan mata yang masih terpejam Jaejoong terus bergumam.
"Ada apa, Boojae?"
Mata Jaejoong membuka perlahan-lahan. Ia menatap Yunho dengan mata sembab dan suara seraknya, ia berkata,
"Aku sudah tidak kuat, Yun."
"Shhh.. Jangan bicara ngawur. Istirahatlah. Aku disini, sayang. Aku disini." Jung Yunho, seorang namja yang pantang baginya untuk menangis, kini akhirnya meneteskan air mata. Ia benar-benar merasa sudah tidak tahan, ia menggengam erat jemari Jaejoong dan menciuminya. Tangan kekasihnya sangat dingin.
Sekelibat bayangan seperti anak kecil itu menampakan diri di cermin, Yunho melihatnya. Ya. Yunho melihatnya!
"Aku sudah tidak kuat, Yun.." kalimat terakhir Jaejoong lagi sebelum akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.
"BOOJAEEEEEE! ! !"
.
.
.
Detik itu juga Yunho langsung meminta tolong membernya untuk menelepon dokter, dia tidak bisa terus menerus menuruti perkataan wanita paranormal itu yang selalu melarangnya untuk menghubungi dokter, persetan dengan semua omongannya, Yunho sudah tidak tahan melihat kekasihnya terus kesakitan dan bahkan hampir menyerah.
Suasana dorm DBSK sangat tegang, terlihat kecemasan dan wajah khawatir dari seluruh penghuninya yang tidak bisa lagi disembunyikan, tidak lama dokter yang tadi dihubungi oleh Yoochun untuk memeriksa Jaejoong pun datang, tampangnya terlihat mengantuk, semoga saja dia bisa memeriksa jaejoong dengan benar, harap Yunho. Lalu dokter dengan tampang ngantuk itu meminta agar semua keluar dari ruangan supaya ia bisa lebih berkonsentrasi memeriksa keadaan Jaejoong.
Mungkin ini adalah lima belas menit yang paling lama dalam hidup Yunho ketika ia harus menunggu dokter itu keluar dan memberitahu apa hasil pemeriksaan terhadap kondisi kekasih cantiknya.
"Dia sehat."
Satu kalimat singkat yang sungguh membingungkan.
"Hanya kelelahan dan sedikit stress yang membuat kondisi tubuhnya drop. Coba ajak dia jalan-jalan, refreshing, supaya tidak stress." Sarannya. "Tidak usah khawatir, tadi aku sudah memberinya suntikan vitamin dan kurasa besok pagi kondisinya bisa sedikit membaik dan kembali segar bugar." Jawab dokter itu enteng.
Junsu yang otaknya lambat saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter itu, apalagi Yunho. Jelas-jelas kekasihnya tadi jatuh pingsan dipelukannya dalam keadaan sangat lemas, tapi dokter itu bilang Jaejoongnya baik-baik saja.
"Jidat-Hyung, kau menghubungi dokter apa sih barusan? Aneh sekali." Protes Changmin pada Yoochun.
.
.
Keesokan paginya Yunho memutuskan untuk mengajak Jaejoong jalan-jalan melepas penat, siapa tahu benar yang dikatakan dokter semalam bahwa Jaejoong butuh refreshing. Untungnya Manager-Hyung mereka sangat baik dan pengertian, ia memberikan mereka cuti satu minggu, atau setidaknya sampai keadaan jaejoong membaik, lalu mereka berlima pergi ke sebuah villa indah di dekat pantai tertutup di sebelah utara seoul atas rekomendasi manager-Hyung juga. Pantai yang jarang dikunjungi orang, Karena letaknya yang diujung.
Mereka berangkat setelah makan siang dengan Van DBSK tanpa supir. Yoochun, Junsu dan Changmin bergantian menyetir. Sedangkan Yunho hanya duduk dibelakang bersama jaejoong yang menyandarkan kepalanya di pundak Yunho dengan sangat nyaman.
Setibanya di villa tersebut, hari sudah beranjak gelap.
Villa bercat putih itu sangat indah, besar, dan terlihat kokoh, seorang penjaga villa bertubuh agak gemuk dan berwajah bundar menghampiri mereka, "Selamat datang, di White Villa." Sambutnya, "Mari ikut saya."
Kelimanya mengikuti si pria wajah bundar itu masuk ke dalam, Jaejoong mengamati villa itu lamat-lamat dan sekeliling halaman yang ditumbuhi Acanthus ilicifolius atau Sea Holly, semak besar yang merambat , dengan tinggi yang bahkan mencapat 1,5 meter, dengan mahkota bunga yang merekah indah namun berduri tajam-tajam. Ia menghela nafas pelan, Yunho yang melihatnya hanya merangkul bahu mungil kekasihnya dan membawanya masuk ke dalam mengikuti yang lain yang sudah terlebih dulu masuk.
Keadaan di dalam villa jauh lebih indah, lampu-lampu Kristal mewah menjuntai , sebuah grand piano di sudut ruangan dan jendela besar yang menghadap langsung ke bibir pantai. Ruangan ini tidak besar, namun hangat. Puas dengan ruang depan, kelimanya mulai beranjak ke ruang tengah.
Berbeda dengan ruang depan, ruang tengah villa tersebut sedikit bernuansa klasik. Dengan penerangan yang kurang begitu terang, hanya dibantu lampu-lampu antic kecil, dan kamin (perapian). Sofa empuk berwarna merah maroon dan karpet tebal berwarna serupa. Suasana di ruangan ini agak sedikit membuat bulu kuduk merinding, terutama dengan adanya sebuah lukisan wajah abstrak yang cukup mengerikan tergantung di dinding ruang tengah itu dan sebuah jam kuno dengan lonceng yang terlihat tua.
Setelah itu si penjaga villa mulai beranjak untuk menunjukkan kepada mereka dapur kecil dan ruang makan villa, sungguh dapur dan ruang makan yang sangat mewah. Saat semua orang sibuk mengagumi keindahan interior dapur dan ruang makan, Jaejoong justru masih terfokus pada lukisan aneh di ruang tengah, menyadari bahwa kekasihnya masih tertingal di ruang tengah , Yunho kembali menghampiri namja cantik itu. "Kau baik-baik saja, sayang?" tanyanya lembut.
Jaejoong mengangguk dan berjalan dengan di rangkul Yunho ke tempat yang lainnya berada.
Terakhir, penjaga villa itu menunjukkan kamar-kamar tidur mereka, karena di villa tersebut terdapat banyak sekali kamar, maka Junsu, Yoochun dan Changmin memilih tidur sendiri-sendiri, mereka bahkan sedikit bertengkar, memperebutkan kamar dengan view menghadap keselatan, karena view tersebut menyajikan pemandangan pantai lepas dan haluan tempat perahu-perahu kecil ditambatkan.
Akhirnya dengan bijaksana Yunho memutuskan bahwa kamar itu akan ditempatinya dengan Boojaenya. Bijaksana sekali, bukan?
Dengan berat hati Yoochun memilih kamar disamping kiri kamar tadi, dengan view hampir serupa, namun haluan perahu-perahu kecil itu tidak terlihat dari kamarnya. Lalu Changmin memilih kamar di samping kanan kamar Yunho dan Jaejoong, dengan view haluan perahu-perahu dan hamparan semak-semak. Dan Junsu, dari awal dia tidak ikut berebut kamar, karena ia sudah menemukan kamar dengan view menghadap pohon-pohon kelapa, sungguh hanya Junsu yang menganggap pemandangan itu menarik. Setelah menaruh koper dan stuff mereka di kamar masing-masing, semuanya kembali berkumpul di ruang tengah untuk mendiskusikan rencana untuk besok.
.
Tiba-tiba …
HIHIHIHIHIHIHAHAHAHA….
Seluruh penghuni yang ada di ruang tengah villa itu langsung melonjak kaget karena suara tawa itu, bahkan keripik kentang ditangan changmin berhamburan ke wajahnya sendiri saking kagetnya.
"YAAAAKKK.. Chunnie, Lepaskan! !" Teriak Junsu yang dipeluk Yoochun sampai nyaris mati kehabisan nafas.
.
HIHIHIHIHAHAHA..
Suara itu terdengar semakin kencang, Hyung penjaga villa itu langsung terdiam, ia terlihat berpikir serius.
"Tenang dulu.. tenang dulu.. " Ia meraba sesuatu di dalam kantong celananya dan ternyata benar, suara tawa mengerikan itu berasal dari telfon genggamnya.
"Mianhae, itu suara ringtone handphoneku." Sebuah senyum bodoh tampak di wajah bundarnya.
Tanpa sadar jaejoong menghela nafas lelahnya dengan sedikit kencang dan melepaskan dirinya dari pelukan Yunho.
Penjaga villa bernama Kang Ho Dong itu membaca pesan singkat di handphonenya dan mengangguk kecil, "Ini istriku, aku harus segera pulang. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku, aku tinggal hanya 5 menit dari sini. Semoga kalian semua menikmati liburan kalian di villa ini." Katanya sambil mohon pamit.
.
Setelah penjaga villa itu pulang, tinggallah mereka berlima di ruang tamu villa tersebut, Junsu, Changmin dan Yoochun mulai ribut berebut peta dan buku panduan wisata yang tadi diberikan oleh penjaga villa-hyung pada mereka, ketiga namja itu sibuk membulat-bulati tempat yang akan mereka kunjungi besok.
"Yunnie,.." rengek Jaejoong pada kekasih tampannya, ia duduk bersandar di dada bidang Yunho.
"Iya, sayang?"
"Dadaku sakit lagi." Mata besar indah itu mulai berkaca-kaca.
Oh.. tidak lagi.
"Aku usap-usap pelan ya, jangan menangis, nanti tambah sesak." Yunho mulai mengusap-ngusap lembut dada kekasihnya, dikecupinya rambut halus Jaejoong.
Usapan lembut dan penuh kasih sayang yang diberikan Yunho, membuat Jaejoong mengantuk dan akhirnya tertidur di pelukan hangat kekasihnya itu.
"Suie, Chunnie, Minnie, coba pelankan suara kalian." Titah Yunho, walaupun panggilan yang ditujukan pada ketiga namja itu sangat manis, perintah itu lebih tepatnya disebut sebuah ancaman, karena Yunho melakukannya sambil menatap ketiganya tajam.
"Baik, Hyung." Jawab anak-anak itu kompak.
.
Teenggg.. Tenggg.. Tenggg.. Teenggg.. Tengggg..
Teenggg.. Tenggg.. Tenggg.. Teenggg.. Tengggg.. Tengggg..
.
Jam kuno tua itu berdentang sebelas kali, suasana berubah suram, wajah semangat Yoochun berubah pias, Junsu berhenti mengoceh dengan suaranya yang seperti lumba-lumba, dan Changmin menelan keripik kentang terakhirnya dengat seidikit seret.
"Ah.. lebih baik kita tidur saja yuk." Ajak Yoochun.
"Yeay! ! Ayo tidur, supaya besok bisa bangun pagi-pagi sekali." Riang Junsu.
"Sudah tidak sabar menyapa saudaramu di lautan, ne Hyung?" ejek Changmin.
"Changmin, Jangan mulai." Desis Yunho berbahaya.
Junsu nyengir menang. Changmin merenggut, dan Yoochun mulai beranjak ke lantai atas, ke kamarnya. Lalu dengan perlahan Yunho mengangkat tubuh ringan kekasih cantiknya menuju kamar mereka.
"Selamat tidur, cantik." Yunho mengecup singkat bibir cherry yang selalu terlihat seperti permen dimatanya itu.
.
Yunho beranjak dari kasur tempat ia membaringkan kekasihnya dan menuju ke kamar mandi di luar kamar, karena tidak ada kamar mandi di kamarnya, tiba-tiba ia seperti melihat seseorang berbaju putih berjalan di lantai bawah, tidak terlalu jelas, tapi seperti sosok seorang perempuan yang berjalan merunduk dengan rambut yang menjuntai, merasa itu hanya halusinasinya saja, Yunho kembali meneruskan niatnya ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Yunho terus mencoba menepis apa yang baru saja dilihatnya, sungguh dia tidak pernah mau percaya dengan hal-hal mistis yang baginya hanya untuk memakut-nakuti orang bodoh. Dan dia bukan orang bodoh, setidaknya itulah yang ia percayai selama ini.
Setelah selesai membersihkan diri, ia kembali ke kamarnya dan Boojaenya, sebuah senyum terulas dibibirnya saat ia melihat kekasiihnya tidur tenang. Sepertinya Jaejoong tidak akan bergumam tidak jelas lagi malam ini, harap Yunho.
Yunho menelusup masuk ke dalam selimut tebal dan memeluk kekasihnya erat, ia lagi-lagi mengendus wangi tubuh kekasihnya yang selalu menjadi candunya 24 jam dan mulai memejamkan mata.
.
.
Pagi hari datang dengan cepat, malam itu Yunho akhirnya bisa sedikit beristirahat dengan baik, semalaman Jaejoongnya tidur sangat tenang, tidak mengigau, tidak menangis, tidak mengeluh dadanya sakit, tidak juga mimisan. Kesembuhan Jaejoong adalah anugerah bagi Yunho.
Dengan kaos V-neck putihnya, Jaejoong terlihat sangat bersinar, dengan senyum indah dia menertawai Junsu yang berlari-lari menuju pantai dengan sangat riang, seperti pemenang lotre, Changmin yang sibuk dengan kameranya dan berlagak layaknya photographer professional, dan Yoochun dengan kacamata sok coolnya dan cara jalan yang menujukkan ciri khas playboynya.
Yunho? Jangan ditanya, tidak ada yang lebih membahagiakan lagi untuknya selain melihat kekasihnya tertawa bahagia seperti itu. Ia membawa Jaejoong ke dalam rangkulan posesivenya lalu mereka berdua saling menatap penuh cinta dan tersenyum.
.
.
Hampir seharian mereka bermain di pantai berwarna biru itu, mereka terus bersenda gurau tanpa sadar bahwa hari sudah mulai beranjak gelap. Mereka kembali ke villa dengan baju mereka yang basah, entah sudah berapa kali baju mereka kering dan basah, lalu kembali kering dan kembali basah. Dengan tangan yang saling bertautan Yunho dan Jaejoong berjalan santai menuju villa mereka, dan masih dengan saling berantem Junsu dan Changmin berkejar-kejaran dari pantai sampai ke villa.
Setelah sampai di villa dan berganti baju dengan piyama, mereka berkumpul di ruang tengah sambil meminum teh vanilla hangat dan cookies, Yoochun dan Junsu duduk berdempet-dempetan, dengan Changmin yang berada di tengah-tengah mereka.
"Dolphin Hyung, jari gendutmu menghalangi mataku, aish.." protes Changmin.
"Tapi aku juga mau lihat foto-fotonya." Kekeuh Junsu.
"Ya tapi jangan dipegang layarnya juga, Hyung."
Jaejoong terkikik melihat kelakuan dongsaeng-dongsaengnya, "Apa kalian tidak lelah bertengkar terus seharian?" tanya namja cantik itu.
"Itu tanda cinta mereka Hyung, Lumba-lumba dan pohon kelapa." Jawab Yoochun.
.
"Foto ini aneh sekali." Kata Changmin tiba-tiba.
"Ada apa, min? apanya yang aneh" tanya Yoochun.
"Seperti ada bayangan seseorang berdiri di belakang Jae-Hyung." Jawab Junsu yang juga memperhatikan foto tersebut.
"Coba lihat?" Pinta Yunho yang sedari tadi hanya menjadi penonton, tak pelak ia penasaran juga soal foto yang menurut Changmin aneh itu.
Degh.. Bayangan itu seperti yang kulihat semalam, batin Yunho.
"Hapus, foto itu Min." Pinta Yunho.
"Sebentar, aku belum lihat." Sahut Jaejoong.
"Tidak perlu, sayang. Hanya foto blur dengan pencahayaan yang aneh." Tolak Yunho, sambil melirik ke arah Changmin, berharap Changmin mengerti dengan maksudnya.
"Ya, Jae-Hyung. Foto ini blur,dan sedikit silau." Tambah Changmin.
Jaejoong mempoutkan bibirnya, masih dengan tangan yang menggapai-gapai, mencoba merebut kamera yang dipegang Changmin.
"Boojae, kubilang tidak perlu dilihat." Titah Yunho tegas. "Lebih baik kau buatkan aku teh lagi, Tea pot nya sudah kosong tuh." Tunjuk Yunho, mencoba mengalihkan perhatian kekasihnya.
"Hmm.. Baiklah." Jaejoong berdiri dan membawa teko beling itu ke dapur, mengisinya lagi dengan teh vanilla kesukaannya.
Selagi Jaejoong tidak ada disana, Yunho langsung mengintrogasi Changmin, "Apa adalagi foto yang aneh?"
"Ini, Hyung. Satu lagi. Disini bahkan jelas, seperti sosok seorang perempuan berdiri tepat di belakang Jae-Hyung." Tunjuk Changmin.
"Hapus foto-foto yang aneh, jangan biarkan Jaejoong sampai melihatnya." Perintah Yunho.
Ketiganya mengangguk, Yoochun mulai mengkerut, dia bahkan tidak melihat foto yang dimaksud tapi dia sudah ketakutan seperti itu.
.
"YUNNNIEEEEEEEEEE."
Praaaaaaaaaanggggggggg…
.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Jaejoong yang disusul dengan suara pecahan beling yang jatuh dari arah dapur. Dengan tergesa-gesa Yunho menghampiri kekasihnya yang terduduk lemas di lantai dapur, dengan tangan yang memegang pecahan beling besar yang hendak diarahkan ke nadinya.
"Boojae, buang.. buang benda itu." Bujuk Yunho.
Jaejoong menoleh, wajahnya pucat, benar-benar pucat, tangannya mengenggam erat pecahan beling itu sampai mengelurakan darah segar yang berbau amis.
.
"SAYAAANGGGG! ! !"
Dengan cepat Yunho menangkap tubuh Jaejoong yang meluruh dan hampir saja semua pecahan kaca itu merobek kulit mulusnya kalau saja Yunho tidak menangkapnya.
Tuhan, apa lagi ini.
"Yun, aku mau pulang." Pinta Jaejoong dengan suara yang sangat lemah.
"Ya, kita pulang ya." Nafas Yunho memburu.
"Aku mau pulang."
"Iya, sayang, kita pulang." Jwab Yunho lagi.
"Aku mau pulang… ke jepang…" jawab Jaejoong sebelum akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri.
Ketiga namja tersisa mengkerutkan kening mereka, Pulang? Ke Jepang? Apa maksud Hyung cantik mereka?
.
.
Dengan sangat bingung malam itu Yunho mengambil keputusan untuk tetap tinggal di villa, hari sudah malam, perjalanan menuju Seoul bukan perjalanan yang pendek, ia menghubungi Hyung berwajah bundar si penjaga villa, yang langsung datang dengan istrinya ke villa mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya si penjaga Villa.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Yunho lesu.
"Hmm.. Ini aku membawakan Minyak urut untuk nona cantik ini, Diusap-usapkan saja, supaya badannya hangat." Kata istri si penjaga villa.
"Dia namja, Chagiya." Jelas suaminya.
"Benarkah? Yatuhan. Maaf. Aku tidak tahu, habisnya dia sangat cantik." Jawab si istri malu.
Hening sejenak, Jung Yunho mengusapkan minyak urut itu ke tubuh kekasihnya yang terasa dingin. Ia memijat-minjat pelan lengan dan kaki kekasihnya, lalu mengusap lembut telapak tangan kekasihnya yang tadi sempat di perban Junsu.
"Ho Dong Hyung, apa di Villa ini pernah terjadi hal-hal mistis?" tanya Junsu pada penjaga villa berwajah bundar itu.
"Kejadian Mistis?" ia berpaling menatap istrinya. Lalu menggeleng. "Tidak pernah ada."
Junsu mengetuk-ngetukan jarinya seakan-akan ia sedang berpikir keras.
"Apa di villa ini ada hantu?" tanya Junsu lagi kali ini lebih detail.
"Ahahaha.. Tidak ada yang seperti itu, disini." Jawab si istri sambil sedikit tertawa. "Ya kecuali kalian membawanya dari rumah." Jawabnya sambil bercanda.
Membawanya dari rumah? Dari Dorm?
"Ho dong Hyung, bisa tidak kau dan istrimu menginap saja disini malam ini? Sepertinya besok pagi-pagi sekali kami akan kembali ke Seoul. " Pinta Yunho.
Kang Ho Dong dan istrinya berpandangan lalu mengangguk kecil.
Hhah.. setidaknya ada orang lain selain mereka di Villa mala mini, pikir Yunho lega.
Malam ini, Yoochun, Changmin dan Jusu tidur satu kamar, di kamar Junsu atas paksaan Junsu tentunya, Kang Ho Dong dan Istrinya menempati kamar yang tadinya di tempat Changmin, lalu Jung Yunho dan Boojaenya tetap dikamar mereka, kekasihnya entah tertidur atau entah belum sadarkan diri, wajahnya sangat pucat dan seluruh badannya dingin. Yunho menghela nafas frustasi, tidak bisakah dia tenang sebentar?
.
.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka memutuskan untuk pulang ke Seoul, memotong liburan mereka yang seharusnya tiga hari itu. Jaejoong masih belum sadar, ia bahkan dibopong oleh Yunho masuk ke van, tubuhnya sangat lemas dan dingin, sepanjang perjalanan keheningan terus menyelimuti suasana di dalam Van, Yunho yang mencoba menahan dirinya untuk berteriak frustasi, hanya mampu mencium-ciumi puncak kepala kekasihnya yang ia sandarkan di bahunya.
Sesampainya di Seoul, hari sudah hampir malam, manager-Hyung mereka sudah berada di dalam dorm, bersama seorang dokter. Menurut Manager mereka, dokter yang terlihat sedikit tua namun sangat berwibawa itu adalah yang paling professional yang sengaja ia datangkan atas permintaan Yunho saat ia menerima telefon dari Yunho tadi pagi tentang berita kepulangan mendadak mereka dan kondisi jaejoong yang memburuk.
Setelah hampir setengah jam memeriksa Jaejoong dengan sangat teliti dan detail, dokter itu keluar dan menghampiri kelima orang yang duduk di ruang tamu dorm itu,
"Secara fisik, tidak ada yang salah dengan kondisinya, jantungnya baik, tekanan darah dan denyut nadinya juga normal, yang membuat saya tidak mengerti adalah suhu tubuhnya yang rendah dan hilangnya kesadaran diri pasien. Saya betul-betul minta maaf, karena tidak punya penjelasan untuk itu. Apa kalian pernah mencoba untuk memanggil Shaman untuk memeriksa kondisinya? Sepertinya sakitnya Kim Jaejoong bukan suatu penyakit yang bisa ditangani dokter." Dokter itu terlihat serius.
Oh Damn.. Yunho tidak mau percaya hal-hal bodoh seperti itu, ia justru meminta manager mereka memanggil dokter yang terkenal paling professional itu, untuk membuktikan bahwa hal seperti itu tidak ada, malah dokter tersebut menyarankan agar ia memanggil seorang Shaman.
Akhirnya setelah dokter itu pamit, tidak lama manager mereka pun pamit, ia sedikit kerepotan mengurus ulang jadwal DBSK karena kejadian ini. Yunho memahami apa yang di alami oleh manager mereka, ia mencoba untuk tidak menambah lagi bebannya, lalu Yunho memutuskan untuk menghubungi wanita paranormal yang beberapa waktu lalu menangani kekasihnya. Ia menyerah akan kelogisan dan akal sehatnya, mungkin memang ia harus percaya dengan hal yang selama ini ia anggap bodoh itu.
.
Wanita gipsy itu datang langsung ke dorm mereka , hari sudah menjelang tengah malam, raut wajahnya tampak kusut, tergesa-gesa ia menghambur masuk ke kamar Jaejoong dan Yunho, lalu memegang telapak tangan Jaejoong. Kim Jaejoong sampai saat ini masih belum juga sadar, inilah yang membuat Yunho kalang kabut.
Yoochun menempel terus pada Junsu, sementara Changmin yang memiliki gengsi agak tinggi memilih berlagak berani dengan terus memasukkan kripik kentang ke dalam mulutnya yang lebar sebagai alibi tangannya yang gemetaran.
"Yunho, apa kekasihmu ini pernah menceritakan sesuatu padamu tentang apa yang sering ia lihat?" wanita peramal itu beralih menatap Yunho, yang berdiri di pojok dengan wajah sedikit pias.
"Dia sering bilang, dia mendegar suara tangisan dari balkon dorm, suara seorang perempuan, lalu dia juga bilang dia melihat sosok gadis kecil yang berlarian di kamar kami, lalu menghilang di cermin besar ini." Jawabnya sambil menunjuk cermin yang dimaksud. "Ia bilang gadis kecil itu pernah meminta untuk ditemani bermain di tengah malam, lalu kekasihku juga bilang anak kecil itu ingin agar ia menjadi temannya. Lalu kemarin saat di villa, sebenarnya aku …." Jeda sejenak.
"Aku apa, Yunho?" desak si paranormal.
"Aku seperti melihat sosok seorang perempuan berpakaian putih dan berambut hitam menjuntai yang sangat panjang, aku kira itu hanya halusinasiku, kemudian saat melihat foto-foto yang ada di kamera Changmin, sosok yang kulihat itu tercetak jelas disana, berdiri di belakang kekasihku."
Semuanya menatap Yunho tidak percaya. Kemudian Yunho menambahkan, "kemarin sesaat sebelum jatuh pingsan, jaejoong bilang, ia ingin pulang.. pulang.. ke jepang.."
.
Peramal itu tampak berpikir keras, kemudian ia bertanya kembali, "Yunho, sewaktu kalian di Jepang, apa yang kalian lakukan? Apa kalian pergi ke tempat-tempat tertentu?" tanya wanita gipsy itu lagi.
Yunho berpikir sejenak, "Di Jepang? Hmm.. Kami melakukan promo album, fanmeeting, photoshoot, lalu sempat juga mengunjungi sebuah asrama putri sebagai tamu kejutan salah satu program reality show." Jelas Jung Yunho.
"Asrama putri?" ulang wanita bertampang sedikit mengerikan itu.
"Ya."
"Lalu, apa yang Jaejoong lakukan disana?" tanyanya lagi.
"Aku tidak ingat." Jawab Yunho.
Kemudian wanita itu memejamkan matanya, tangannya meremas kuat jemari Jaejoong, "Jaejoong melakukan sesuatu di asrama itu." Sahutnya sambil terpejam. "sesuatu yang tidak seharusnya Jaejoong lakukan." Ia membuka matanya perlahan.
"Sepertinya, aku ingat sesuatu." Sahut Junsu tiba-tiba.
Semua mata langsung mengarah pada namja imut tersebut.
"Waktu aku dan Jae-Hyung mau ke toilet, aku tidak sengaja mendengarkan para siswi asrama itu bercerita tentang penampakan sosok anak kecil di toilet asrama mereka, katanya anak kecil itu sering muncul di bilik ketiga pada toilet di lantai tiga. Katanya siapapun yang berani membuka pintu toilet itu akan melihat sosok gadis kecil yang mengenakan rok merah dan membawa sebuah sapu tangan yang juga berwarna merah. Dan sering terdengar suara tangisan dari dalam bilik toilet itu." Ia berhenti sejenak. Dengan wajah polosnya ia menatap seluruh penghuni disana, yang menahan napas selama mendengar ceritanya.
"Apa perlu aku lanjutkan?" tanyanya.
"Ya, tentu saja." Jawab si paranormal.
"Lalu aku dan Jae-Hyung tetap pergi ke toilet. Dan Jae-Hyung bilang, ia ingin mencoba masuk ke toilet bilik ketiga untuk membuktikan omong kosong siswi-siswi tukang gossip itu. Tapi aku tidak tahu, apa Jae-Hyung betul-betul masuk ke bilik toilet ketiga itu atau tidak, karena aku saat itu sangat kebelet." Meskipun akhir cerita Junsu agak mengecewakan, nampaknya wanita gipsy itu mulai menemukan titik terang tentang hal yang dialami Jaejoong.
Wanita paranormal bertampang kusut itu menghela nafas panjang, ia menatap serius kepada Yunho, "Yunho, aku butuh bantuanmu."
"Apa? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Yunho lirih.
"Bujuklah kekasihmu agar ia mau kembali."
"Maksudmu?"
"Seperti yang diceritakan Junsu tadi, sepertinya Jaejoong memang masuk ke bilik ketiga toilet di lantai tiga asrama putri itu, arwah penghuni toilet itu menganggap kedatangannya sebagai teman baru, ia mengikuti Jaejoong, kemanapun Jaejoong pergi, kemanapun, bahkan ke villa kemarin." Jelasnya. Wanita peramal itu menghela nafas lalu menambahkan, "Sosok arwah tersesat itu berpura-pura polos dan kesepian, lalu meminta Jaejoong untuk menjadi temannya, padahal arwah itu jahat, dia bahkan sangat kuat, aku tidak mampu menembus dinding kasat mata yang ia ciptakan untuk mulai memisahkan dunia Jaejoong dari kalian."
"Tapi bagaimana mungkin, Junsu Hyung bilang arwah penghuni toilet itu kan anak kecil, mana mungkin bisa sangat kuat?" tanya Changmin menyuarakan pikirannya.
"Arwah sialan itu menyamar, sosok aslinya tidak seperti yang ia perlihatkan pada jaejoong atau pada siswi-siswi di asrama itu."
"Sosok aslinya seperti apa?" tanya Yoochun si baby penakut.
"Yakin kalian mau mendengarnya?"
"ANIIIAA.." jawab Yoochun, sedangkan Changmin dan Junsu mengangguk serempak..
Paranormal yang sebetulnya cantik kalau tidak berdandan seram itu tersenyum, "Sosok aslinya adalah seperti apa yang di lihat Yunho. Dan kau, Yunho, bujuk kekasihmu untuk kembali. Jangan biarkan ia ikut dan pergi bersama dengan arwah tersesat itu."
.
Ia bangkit berdiri melepas genggaman tangannya pada jemari Jaejoong, dan meminta agar ketiga namja tersisa mengikutinya keluar dari kamar.
Yunho beranjak mendekati tempat tidur dimana namja cantiknya terbaring tenang menutup matanya, meskipun Jaejoong terlihat damai dan indah, Yunho lebih suka melihatnya berceloteh, ngambek, atau bahkan menangis kesal karena digoda terus oleh dirinya. Yunho duduk di pinggir ranjang, dan mengusap lembut poni halus Jaejoong, sebelah tangannya menggenggam jemari dingin kekasihnya, di remasnya pelan, ia berusaha keras untuk menahan tangisnya, Jaejoongnya tidak suka melihat dirinya menangis.
"Hey, Cantik, Lihat aku. Aku ada disini melihatmu, aku disini menunggumu bangun. Sayang, kembalilah. Jangan seperti ini, bagaimana aku sanggup…hidup tanpa dirimu?" Yunho menghela nafasnya berat. Air mata yang susah payah ia tahan akhirnya mengalir juga. "Jangan ikut dengan anak kecil itu, jangan pernah pergi dariku. Jika kau pergi, aku tidak tau harus bagaimana menjalani hari-hari dalam hidupku, karena kau…adalah hidupku… Kim Jaejoong."
.
Tanpa Yunho sadari ada sepasang mata yang mentapainya intens, dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Aku membutuhkanmu, Baby. Disini, disisiku. Kembalilah, aku menunggumu." Yunho meraih boneka gajah besar yang tergeletak di samping bantal kekasihnya, "Lihat, Changchang menunggumu. Hey, Induk dari segala gajah, cepat bangun, kasian nih anak-anakmu." Yunho menyentuhkan tangan Jaejoong ke boneka-boneka yang memenuhi tempat tidur mereka. Jaejoong selalu bilang bahwa boneka-boneka gajah, beruang, dan hellokitty itu adalah anaknya dan Yunho.
Jung Yunho mendekatkan bibirnya ke bibir kissable Jaejoong, menempelkannya lama dan mulai mengulumnya lembut. Disesapnya bibir pucat itu, rasa asin yang berasal dari air matanya tidak mampu mengalahkan manis bibir kekasihnya.
Yunho tersentak, sedikit kaget saat Jaejoong mulai membalas ciumannya. Dirasakannya bibir cherry itu bergerak pelan menyesap bibir hatinya, mata doe bulat itu mulai terbuka, memancarkan keindahan yang luar biasa bagi Yunho. Tidak ada mata seindah milik kekasihnya didunia ini.
.
"Baby.."
"Yunnie, kenapa menangis?" tanya kekasihnya pelan.
Namja tampan itu tidak mampu menjawab pertanyaan kekasihnya, ia hanya memeluk Jaejoong erat, sambil menelusupkan wajahnya di leher Jaejoong dan terisak-isak disana. Jaejoong tersenyum, ia memang tidak suka melihat Yunho menangis, tapi mendapati Yunho menangisi dirinya dan berubah menjadi cengeng karena takut ditinggal dirinya membuat dia tersenyum.
.
'Maafkan aku, Yun.'
.
.
.
-To be Continue-
Yihayyyyy~ To be continue lagi.. hahahaha..
Yuk pindah ke kolom review. Lemes kalo kaga ada yang ngereview.. hueeee.. T^T
Byeee~ sampai jumpa di chap depan, chapter terakhir. Muach..
