Spooky Dorm 3

Annyeonghaseyo.. I am back~

Mianhae ne, tadinya kimmy pikir chapter ini final, ternyata tunda dulu yah, belum sempet ngeberesin ending. Aku lagi sedikit sibuk sama tugas-tugas. Jadi ditunggu finalnya di chapter depan ya, yang semoga gak makan waktu lama. Sabar nde.. sekali lagi Mianhae.

Terimakasih untuk para readers spooky dorm tercinta,

RianieYJ, Nee-chan Cassiebigeast, aoi ao, haruko2277, Cliviwu, Bigeast girl, Jenny, LoveYunjae, , NaeAizawa, jongwookie, RedsXiah, noaiy, nickeYJcassie, jaena, lee minji elf, ifa. , nunoel31, mita changmin, youngwoonrici, 3kjj, 6002nope, hanasukie, Clein cassie, YJYJheart, duvypanha, Octavia Jung, Elzha luv Changminnie, LoveJJonly, SWAGoneJae, shiro20, PhantoMiRotiC, kyu kyu, xena Hwang, miss jelek, kimJi- Yeon, dan para guest.

.

.

Last Chap..

"Baby.."

"Yunnie, kenapa menangis?" tanya kekasihnya pelan.

Namja tampan itu tidak mampu menjawab pertanyaan kekasihnya, ia hanya memeluk Jaejoong erat, sambil menelusupkan wajahnya di leher Jaejoong dan terisak-isak disana. Jaejoong tersenyum, ia memang tidak suka melihat Yunho menangis, tapi mendapati Yunho menangisi dirinya dan berubah menjadi cengeng karena takut ditinggal dirinya membuat dia tersenyum.

'Maafkan aku, Yun.'

.

.

(NEW CHAPTER)

Yunho dan Jaejoong masih berpelukan, Yunho enggan melepaskan Jaejoong, ia takut ia kehilangan Boojaenya saat ia melepaskan pelukannya. Tanpa mereka berdua sadari, ada sosok bayangan dan sepasang mata yang masih merekam dan menatapi adegan haru antara Yunho dan Jaejoong, seraut wajah dengan ekspresi datar namun menyimpan misteri. Kemudian sosok itu menghilang begitu saja.

.

.

Keesokan harinya Yoochun, Junsu, dan Changmin pagi-pagi sekali sudah meninggalkan dorm, menuju bandara. Mereka bertiga diminta oleh manager Hyung untuk mengisi sebuah acara on air di Jeolando, karena jadwal DBSK yang berubah drastis sejak kejadian yang dialami Jaejoong, jadwal mereka banyak sekali yang di cancel, beberapa pihak penyelenggara ada yang menerima dengan lapang dada, tapi ada juga yang tetep ngotot meminta setidaknya perwakilan member DBSK untuk datang demi kepentingan acara mereka.

Maka tinggalah pasangan Yunho dan Jaejoong di dorm, ketika matahari masih sayu-sayu bersinar, Yunho bangun dan beranjak dari kamar ke dapur untuk membuatkan kekasihnya segelas susu hangat. Namun ia terkejut bukan main melihat bercak noda basah di sofa putih ruang tengah dorm mereka, bercak itu tampak sangat tidak biasa. Jika diperhatikan dengan seksama, bercak noda tersebut seperti bekas basah yang membentuk bayangan seorang perempuan yang tidur terlentang. Siapa yang membasahkan sofa putih itu?

.

DEGH! ! !

.

Dengan tergesa Yunho pergi meninggalkan keanehan itu dan melanjutkan niatnya membuat susu hangat untuk Boojaenya, berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya, apa yang harus ia lakukan, keadaan ini membuat kepalanya serasa ingin pecah, logikanya terus mengatakan tidak ada hal-hal mustahil dan bodoh di dunia ini, tapi belakangan ini ia bahkan sering melihat hal-hal tersebut dengan mata kepalanya sendiri, haruskan ia mulai percaya dengan hal-hal ghaib, haruskah ia dan Boojaenya pindah ke tempat lain, atau mereka semua pindah gedung dorm, atau haruskah ia dan Boojaenya menyelesaikan sampai tuntas permainan ini?

Jung Yunho tidak menemukan solusi mana yang terbaik untuk kondisi Jaejoongnya. Ia terus mengaduk-ngaduk susu itu sambil melamun,

Greeeepppp…

Sebuah tangan kurus mungil melingkari tubuh kekarnya dari belakang,

"Boojae…"

"Hmmm.." kekasih cantiknya itu menyurukkan wajah ke punggungnya dan makin mengeratkan pelukannya.

"Kenapa keluar kamar?" tanya Yunho lembut

"Karena Yunnie lama." Jawabnya.

"Maaf, tadi airnya belum panas." Jung Yunho menyodorkan segelas susu hangat vanilla itu agar segera diminum kekasihnya.

"Terimakasih." Kim Jaejoong meminum susu buatan Yunho dengan cepat sekali seakan-akan dirinya sangat haus.

Yunho menyentuh halus kepala Boojaenya dan merapikan rambut kekasihnya yang sedikit aut-autan.

"Masitta!" puji Jaejoong.

"Kau belepotan sekali sih sayang." Kemudian dengan bibirnya sendiri, Jung Yuunho menjilati pinggiran bibir cheery namja cantiknya dengan sangat gentle. "Aku mencintaimu." Bisiknya.

Jaejoong menganggukan kepala imut dan memeluk beruang gendut kesayangannya. Dengan jahilnya tubuh mungil itu diangkat dan diputar-putar,

"Aaaa.. Yunnieee.. stop.." Jaejoong mengeratkan pegangannya di leher Yunho karena takut terjatuh.

"Kenapa?" goda Yunho.

"Aku takut jatuh." Jaejoong mempoutkan bibirnya.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh." Kemudian sekali lagi mereka berdua berciuman mesra.

.

"Yun, ada siapa di ruang tamu?" tanya Jaejoong tiba-tiba.

"Ma-Maksudmu?"

"Itu.." tunjuk Jaejoong ke arah sofa putih di ruang tamu.

"Tidak ada siapa-siapa, Boojae." Suara Yunho mulai terdengar panik.

Ia menarik lengan kekasihnya dan membawanya ke ruang tamu tempat sofa putih itu berada..

"Lihat, tidak ada siapa-siapakan?" tanya Yunho.

"Tapi tadi ada." Jawab kekasihnya pelan. "Tadi ada perempuan yang duduk di sofa ini, ia merunduk, wajahnya tidak terlihat karena tetutup rambut, ia memakai terusan putih dan seperti sedang bernyanyi sendu."

"Kau hanya salah liat, sayang. Disini hanya ada kita."

Jaejoong memiringkan wajahnya berpikir. "Baiklah."

"Humm.. Ayo kembali ke kamar, aku ada urusan dengan mu." Goda Yunho.

"Urusan apa maksudmu, beruang genduttt?" jawab Jaejoong sambil jemarinya bergerak mengusap dagu Yunho yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus..

"Urusan rinduku padamu." Yunho meraih jari-jemari itu lalu menciuminya lembut lalu memanggul kekasihnya dipundak seperti kuli sedang mengangkut karung beras..

"KYAAAAAA~" Jaejoong berteriak tepat di telinga Yunho sambil memukul-mukul punggul Yunho, karena Yunho memanggulnya terbalik.

.

.

Jung Yunho membanting asal tubuh kekasihnya ke kasur, dengan seringaian nakal ia mulai merangkak dan mengunci namja cantik itu agar berada di bawahnya. Dengan senyuman yang sangat indah Jaejoong menyambut Yunho yang sudah berada di atas tubuhnya.

Kemudian tanpa ragu Yunho mulai menciumi seluruh wajah Jaejoong, dari mulai kening, mata, hidung, pipi lalu turun ke bibir cherry lembut itu, ciuman Yunho semakin liar dan tangannya sudah tidak bisa lagi dikendalikan, ia mulai membuka satu per satu kancing piyama yang masih dikenakan Jaejoong,

Tiba-tiba..

Siiinnngggggg…

"Hentikan." Jaejoong mencekal tangan Yunho kasar, suaranya berubah dingin. Dengan tatapan tajam, mata doe eyes itu melotot menatap mata musang Yunho.

Cengkraman tangan Jaejoong sangat kuat, bahkan kukunya seperti akan merobek kulit tangan Yunho. Jaejoong tidak pernah seperti ini sebelumnya, tidak.. tidak pernah.

"Sayang? Kenapa?" Yunho mencoba melepaskan cengkraman kasar Jaejoong.

Merasakan sentuhan tangan Yunho, Jaejoong kembali berontak. "PERGIIIIII! ! ! ! !"

"JANGAN SENTUH AKU! ! KU MOHON! ! HENTIKAN! ! !" Jaejoong berteriak histeris, ia melepas cengkaraman tangannya di tangan Yunho dan balik menjambaki rambut sendiri dengan sangat kasar,

"Boojae.."

"PERGIIII! ! !"

"BOOJAE, INI AKU! !" Yunho yang sangat kelabakan menghadapi Jaejoong, mencoba menahan tangan Jaejoong yang terus menjambaki rambutnya. "Boojae hentikan, kau menyakiti dirimu." Dengan sekuat tenaga Yunho mencekal pergerakan Jaejoong, namun entah kekuatan apa yang sedang merasuki kekasihnya. Ia bahkan tidak mampu menghentikan Jaejoong.

Yunho mencoba menarik tangan Jaejoong agar tidak lagi menyakiti dirinya, ia memeluk tubuh gemetaran Jaejoong dengan sangat erat. Ia merasakan nafas jaejoong yang putus-putus di dadanya. Jaejoong semakin membenamkan wajahnya di dada Yunho. Sepertinya ia sudah kembali menyadari siapa yang tengah memeluknya.

"Sayang.. Tenang...Ini aku, aku Yunniemu.." Yunho mengusap-ngusap punggung kekasihnya dan menciumi rambut Jaejoong.

Lamat-lamat terdengar lantunan nada piano yang sedang dimainkan oleh seseorang dari living room, tubuh Jaejoong dipelukan Yunho menegang. Jemarinya meremas erat baju Yunho, Yunho merasakan betul bulu kuduknya merinding.

Sebuah lagu indah yang sangat menyayat, lantunan nada piano yang sedang dimainkan itu melantunkan nada –nada yang begitu sedih. Siapa yang kini sedang bermain piano, tidak ada siapapun di dorm selain mereka berdua.

Jaejoong menangis di pelukan Yunho, tubuhnya melemas dan matanya terpejam, ia seperti menghayati permainan piano aneh itu.

"Boojae.. Kau mendengarnya? Ada yang sedang bermain piano, Jae."

Jaejoong mengangguk pelan,

"Biarkan saja Yun, biarkan dia bermain dan menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya." Jawab kekasihnya sambil tetap terpejam. Tubuh lemasnya berada sepenuhnya dalam rengkuhan Yunho.

"Dia..?" Tanya Yunho tertahan.

"Yun, dia sangat kesepian. Dia ketakutan, Yun. Dia ingin aku menemaninya."

"Tidak. Tidak. Sayang, buka matamu. Tatap aku." Pinta Yunho memohon.

Perlahan mata bulat besar itu terbuka sebentar, lalu terpejam lagi, "Yun… Bawa aku ke living room."

"Tidak."

"Yun, kumohon."

"Tidak Boojae."

"Yun, tolong bawa aku ke living room. Aku tidak akan kemana-mana, hanya ingin ke living room saja."

"Kau janji?" tegas Yunho

Jaejoong mengangguk.

Yunho menggendong Jaejoong bridal style ke living room tempat dimana grand piano itu berada, Yunho duduk di sofa hitam di seberangnya dan memangku Jaejoong di pangkuannya, suara piano itu sudah berhenti.

.

"Dia menatapku, Yun!"

Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi, apa yang sebenarnya dilihat kekasihnya, sungguh Yunho tidak melihat apapun. Tidak ada siapapun disana kecuali mereka berdua.

"Jangan balik menatapnya. Sayang. Kumohon. Tolong dengarkan aku kali ini."

Jaejoong mengangguk pelan. Yunho semakin memeluknya erat.

"…"

Pikiran Yunho menjadi sangat kalut, belum pernah ia merasa setakut ini, karena selama ini kekasih cantiknya itu selalu berada di sampingnya, sekarang ia betul-betul takut kehilangan Boojae-nya, semenjak kejadian-kejadian yang beberapa kali hampir memisahkan ia dan Boojaenya, Yunho semakin paham, ia tidak bisa hidup tanpa seorang Jaejoong berada di sampingnya.

"Boojae, bagaimana kalau selama Yoochun, Junsu dan Changmin tidak disini, kita menginap di rumah Umma saja di Gwangju?" tawar Yunho, dalam benaknya mungkin Jaejoong bisa aman jika berada di Gwangju, di rumah keluarga Jung.

Jaejoong terlihat berpikir. Kemudian ia kembali mengangguk pelan. "Aku rindu Umma Jung." Lalu ia menyurukkan kepalanya di leher Yunho.

"Kita langsung berangkat siang ini ya." Kata Yunho. 'lebih cepat kita pergi dari dorm akan lebih baik.'

Tidak ingatkah Yunho kejadian beberapa hari lalu di Villa? Bahwa sejauh apapun kalian pergi, semua permainan ini akan terus mengikuti kalian. Bukan tempat yang sedang diincar tapi seseorang..

.

.

Tiga jam menyetir Seoul-Gwangju tidak membuat Yunho merasa lelah, ia melepas seatbeltnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah bangku penumpang, namja cantiknya tertidur selama perjalanan, Yunho mencium kening Jaejoong pelan, "Bangun Boo, kita sudah sampai." Bisik Yunho. Ia mengelus-ngelus wajah mulus tanpa cacat milik kekasih cantiknya, lalu mengelus pelan bibir penuh favoritenya, baru saja hendak mencicipi cherry kesukaannya, pemiliknya terbangun dan menjitak kening Yunho kasar.

"Tuan Jung, bisa tidak kau membangunkan aku dengan cara yang wajar?" Jaejoong mempoutkan bibirnya berlagak marah.

"Aku sudah membangunkanmu sejak tadi My sleeping princess, tapi kau tidak akan terbangun sebelum dicium pangeran tampan." Goda Yunho.

Jaejoong terkikik, dengan cepat ia menyambar bibir hati yang masih bergumam itu.

.

Tukkk.. Tuuukk.. Tuuukkk….

Jendela mobil mereka diketuk Umma Jung yang melotot sambil berkacak pinggang.

"Menggangu kami saja Umma." Gerutu Yunho pada Ummanya setelah turun dari mobil yang dihadiahi death glare andalan Umma Jung.

Sedangkan Jaejoong? Ia bahkan sudah dirangkul penuh sayang oleh Ummanya.

"Sebenarnya yang anak Umma itu aku atau Jaejoong?" tanya Yunho. Meskipun dalam hatinya ia sangat senang melihat hubungan umma dan kekasihnya sangat dekat.

"Kalau keajaiban itu bisa terjadi, aku pasti akan memasukkanmu lagi ke dalam perutku dan menukarnya dengan Jaejoong." Jawab Ummanya yang disambut derai tawa Jaejoong.

"Umma, kau kejam." Bela Jaejoong sambil tetap tertawa.

"Hahaha.. biarkan saja." Jawab Umma Jung. "Angkat semua barang kalian dan cepat masuk, Umma sudah memasak makanan special untuk kalian."

Kemudian Ummanya menarik tangan Jaejoong agar mengikutinya masuk ke dalam.

"Ya.. Ya.. Boojae-ah. Bantu aku.."

"Umma melarangku Yunnie.." tolak Jaejoong sambil mehrong.

"Kalau begitu, aku buang saja ya boneka-boneka mu?" ancam Yunho sambil mengangkat ekor Changchang dan telinga panjang Bubu.

"KAU MAU MEMBUANG ANAK KITA YUN?" Jaejoong berteriak dramatis.

"AISH.. JINJJAAA.." gerutu namja tampan itu gemas sekaligus kesal.

Kali ini giliran Umma Jung yang tertawa meriah, jujur saja ia teringat sosok suaminya yang juga bernasib sama seperti putranya, yaitu sering dibully istri.

.

.

"Umma dengar kau sakit Jae?" tanya Ummanya disela-sela acara makan besar mereka.

"Aku baik-baik saja, Umma." Jawab Jaejoong.

Yunho melirik ke arah Jaejoong dan tersenyum kecil, 'benar, Jaejoongnya memang sedang baik-baik saja.'

"Umma betul-betul khawatir. Kau terlihat semakin kurus dan wajahmu juga pucat."

"Umma, tenang saja. Aku tidak apa-apa." Jaejoong berusaha meyakinkan calon mertuanya itu.

"Syukurlah kalau benar tidak apa-apa, sayang.. Banyak-banyak istirahat dan makan teratur." Nasehat Umma Jung.

"Ne," Jaejoong mengangguk.

"Tapi benar, kau sehat?" Umma Jung terlihat masih tidak percaya.

"Iya, Umma. Aku sehat, hanya sering merasa cepat lelah." Jawab jaejoong lagi.

"Apa ini ada kontribusinya dengan kegiatan malammu dan Yunho? Apa Yunho yang membuatmu kelelahan? Apa dia selalu membuatmu bekerja keras tiap malam?" tanya Umma Jung melantur. "Yeobo, kau kenapa harus menurunkan sifat mesummu pada Yunho sih?" tanya Umma jung makin melantur. Sontak pertanyaan itu membuat Appa Jung tersedak udang yang sedang ia kunyah.

"Uhuk.. Uhuk.."

Yunho yang duduk bersebelahan dengan Appanya, menepuk punggung kepala keluarga Jung itu dengan penuh rasa prihatin.

"Sepertinya bukan Appa yang menurunkan sifat itu padaku, tapi Umma." Cicit Yunho di telinga sang Appa, takut Ummanya mendengar. Lihat sendiri pertanyaan yang diajukan Umma Jung? Apa pertanyaan itu tidak mesum?

"Umma, jangan bicara seperti itu." Jawab Jaejoongnya sambil cengar-cengir menutupi mulutnya dengan tangannya, ciri khas seorang Kim Jaejoong jika sedang blushing.

'Demi Tuhan Boojae, ini bukan saatnya kau berblushing' Yunho mengirimkan sinyal-sinyal iritasi melihat kekasihnya yang tertular virus Ummanya.

"Yun, sepertinya kekasihmu malu, apa yang ditanyakan Ummamu itu semua tepat dan benar?" tanya Appa Jung ikut berbisik.

'Yatuhan, aku butuh tong sampah sekarang juga untuk menaruh mukaku sebentar. Kenapa Boojae malah membuat Umma dan Appa berpikiran yang tidak-tidak padaku. Aish..'

"Tentu saja tidak, Appa." Jawab Yunho juga sambil berbisik.

"Tidak benar?" bisik Appanya lagi.

Yunho mengangguk.

"Hah.. sayang sekali. Padahal kekasihmu itu sangat sexy dan cantik." Lanjut apanya lagi masih sambil berbisik.

'Tahan, Yunho. Tarik nafas… Keluarkan.. Jangan biarkan dirimu jadi Malin Kundang dengan membunuh Appamu sendiri.' Batin Yunho bergejolak.

.

"EHEMM.."

Suara dehaman sadis yang berasal dari nyonya rumah itu kontan menghentikan kegiatan mari-berbisik diantara anak dan Appa itu. Keduanya terlihat mengkeret dan menampilkan senyuman aneh.

Jaejoong sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, dengan sebelah tangan yang tetap menutupi mulutnya, dan tangan yang satunya memukul-mukul meja makan, ia tertawa penuh kegembiraan. Lucu sekali baginya, eoh?

Walaupun hasrat membunuh pada Appanya masih bergejolak, namun melihat tawa kekasih cantiknya, tak urung membuat Yunho ikut tertawa juga. Sungguh suasana makan malam yang sangat hangat bagi Yunho.

.

.

Setelah makan malam selesai, Umma Jung menyuruh Yunho dan Jaejoong agar segera beristirahat, kini mereka berdua berada di kamar Yunho, kamar Yunho sangat rapi dan di dominasi dengan warna putih, tapi jangan heran kalau di dinding kamarnya lebih banyak terpajang foto Jaejoong, Yunho memang sengaja memajang banyak sekali foto kekasih cantiknya itu di kamar.

"Jae, kau masih lama mandinya?" tanya Yunho pada Boojaenya yang sedang mandi, ia melongokkan kepalanya sedikit bermaksud mengintip.

"Sebentar lagi." Jawab si korban yang tidak tahu bahwa ia sedang diintip.

Yunho terkikik.

"Kalau begitu aku keluar sebentar membuatkanmu susu, ne?"

"Oke." Jawab Jaejoong sambil serius menggosok-gosokan busa sabun di tubuh telanjangnya yang tengah menjadi santapan mata Yunho.

.

"Sini, aku bantu mengeringkan rambutmu." Kata Yunho begitu ia kembali ke kamar dengan segelas susu hangat dan melihat Jaejooongnya sudah selesai mandi.

Namja cantik itu duduk di depan meja rias dengan cermin besar di depannya, menatap Yunho dan tersenyum melalui cermin itu, wajah kekasihnya sangat pucat, sepertinya Jaejoong kedinginan karena terlalu lama mandi. Kemudian dengan cekatan tangan kanan Yunho mulai menyisir rambut blonde kekasihnya, sambil tangan kirinya menggerak-gerakan hair dryer, sepintas Yunho terlihat seperti hair stylist professional.

"Sedikit di pijat, Bear." Pinta kekasihnya manja.

"Baik, nyonya." Goda Yunho.

Setelah rambut Jaejoong kering, Yunho menciuminya tanpa henti, "Rambutmu harum sekali, Boojae. Seperti wangi bebungaan, Kenapa kalau aku yang pakai, rambutku tidak seharum ini, padahal samponya sama." Bingung Yunho.

Jaejoong terkekeh, ia sekarang sudah berpindah duduk. Si cantik ini duduk dengan nyaman di pangkuan namja tampannya sambil mengendus-ngendus wangi maskulin yang menguar dari tubuh Yunho.

.

.

Sraak … sraaaak…

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang di seret-seret di halaman belakang, dimana jendela kamar Yunho mengarah. Jaejoong hendak berdiri dari pangkuan hangat Yunho dan menghampiri suara itu, namun Yunho menahan tangan Jaejoong kuat-kuat.

"Boo, Mau kemana?"

"Aku ingin melihatnya Yun, aku seperti mendengar namaku di panggil, mungkin itu gadis kecil yang sering memintaku menemaninya bermain, Yun."

"Jangan, Sayang."

"Aku harus, Yun.. Aku janji hanya sebentar, aku akan menyuruhnya pulang." Jawab Jaejoong keras kepala.

"Tapi.."

"Aku janji. Kau tunggu disini. Dia tidak suka dilihat orang lain." Mohon Jaejoong.

Yunho mengangguk, mungkin ia harus membiarkan Jaejoongnya menemui sosok itu, lagipula Jaejoong berjanji hanya akan menemuinya untuk menyuruh sosok itu pulang.

.

Yunho mulai gelisah, Jaejoongnya belum kembali. Ia memutuskan untuk menyusul dan mencari kekasihnya ke halaman, tergesa-gesa ia keluar dan memanggil-manggil nama kekasihnya,

Jaejoong tidak ada di halaman,

Tidak ada siapapun,

Yunho tetap mencari ke kasihnya ke seluruh halaman belakang rumah keluarga Jung, yang memang lebih luas dari pada halaman depannya.

"Boo.." desah Yunho putus asa. Ia tidak kunjung menemukan Jaejoong dimanapun dan ia mulai kedinginan.

"Boo, kau dimana?" Yunho terduduk di rerumputan halamannya, lututnya lemas, udara di luar sangat dingin, dan ia tidak mampu menemukan kekasihnya.

.

"Jung Yunho, kau sedang apa disini?" tanya Appa Jung yang tiba-tiba menghampiri Yunho, ia baru saja keluar dari ruang kerja pribadinya, setelah lembur mempelajari proposal salah satu kontrak baru yang tidak sempat dibacanya di kantor, ketika melihat pintu taman belakang terbuka dan anaknya terduduk putus asa disana.

"A- A- ku mencari Jaejoong Appa." Jawab Yunho gemetaran.

"Jaejoong?" tanya Appanya heran.

Yunho mengangguk dan mendongak melihat ke wajah Appanya yang berdiri di depannya.

"Kenapa mencari jaejoong? Kekasihmu itu tidur di kamar Umma sejak setelah makan malam tadi." Jawab Appa Jung.

DEGH..

Jantung Yunho mencelos. Tidak.. Tidak mungkin.

Setelah makan malam tadi Jaejoong ada bersamanya.

Jaejoong mandi di kamarnya, Yunho yang mengeringkan rambut dan ia juga menciumi puncak kepala namja cantik kekasihnya itu, kekasih cantiknya itu duduk persis di pangkuannya sebelum suara langkah kaki misterius itu terdengar, lalu …

Lalu..

Siapa yang sebenarnya berada bersamanya di kamar?

Atau siapa yang kini tengah berada bersama Ummanya?

Dimana sebenarnya Jaejoong berada? Dimana kekasihnya?

Yunho menggeleng-geleng, ia berlari ke arah kamar Umma dan Appanya,

Tanpa sadar Yunho membuka pintu kamar itu secara kasar, sehingga pintu itu menjeblak terbuka dan menimbulkan suara berdebum yang lumayan keras.

"Yunho? Ada apa?" tanya Ummanya kaget.

Disebelah Ummanya, ada kekasihnya yang sedang mengucek-ngucek matanya pelan. Nampaknya ia ikut terbangun karena kaget juga.

Jaejoong ?

.

"Jae?" tanya Yunho pada sosok Jaejoong.

"Ada apa Yun?" tanya balik kekasihnya itu.

"Kau disini?"

"Ne, tadi kau lama sekali membuat susunya, jadi ketika aku selesai mandi, aku ke kamar Umma, tadinya berniat curhat, tapi ternyata ketiduran. Rambutku saja belum sempat aku keringkan." Jawabnya.

Ya yunho bisa melihatnya, rambut Jaejoong masih basah.

.

DEGH…

Yunho merasakan kepalanya pusing seperti dihantam palu, ia memaksakan otaknya untuk bekerja keras menemukan alasan-alasan yang mungkin logis, tapi tetap saja semuanya tidak masuk akal,

Bila Jaejoong bersama Ummanya sejak tadi, lalu siapa yang ada bersama dirinya?

Bila rambut Jaejoong masih basah, lalu rambut siapa yang ia keringkan?

Rambut yang sungguh harum. Rambut yang bahkan sangat harum. Harum.. bebungaan.

.

.

Semua kejadian-kejadian aneh itu berputar-putar di kepala Yunho, kemudian mendadak semua gelap.

"YUNHOOOOOOO ! ! !"

.

.

-TO BE CONTINUE-