Spooky Dorm Final Chapter
Annyeonghaseyo Minna-san, apa kabar?
Kimmy datang menepati janji final chapter FF Spooky Dorm, terimakasih yang sebanyak-banyaknya buat semua readers yang sudah baca plus menghargai kerja kerasku (halah) dengan kasih review. Arigatougozaimatsu..
Untuk para readers ghaib, pesan kimmy ati-ati ya bacanya.. soalnya kan kalian sesama dan sejenis tuh, sama sosok di cerita ini.. hahahaha.. No, I'm Just kidding. I love you all..
Oke.. The last but not least. I ask you, please kindly to leave a review. This will be our last time to see each other in this spooky dorm story, so I could recognize you as my readers when I read your review. Thank You.
Twitter: KimsLovey
Enjoy Reading~
.
.
(FINAL CHAPTER)
.
"YUNHO! ! ! !"
.
Semua kalang kabut ketika melihat Yunho yang mendadak ambruk di depan pintu kamar Umma dan Appa Jung, seluruh tubuh namja tampan itu sangat dingin, terang saja ia terburu-buru menyusul dan mencari Jaejoongnya di halaman belakang, tanpa sempat memakai jaket ataupun alas kaki, di musim dingin bulan Desember yang walaupun salju sedang tidak turun tapi suhu udara tetap sangat rendah.
"Jae, ini keterlaluan." Umma Jung memperingati Jaejoong, teringat tentang cerita curhatan Jaejoong beberapa saat lalu. "Sudah waktunya untuk segera dihentikan."
Jaejoong hanya terdiam, ia lah sumber dari segalanya. Ia merasa semua ini memang kesalahan dirinya.
"Maafkan aku, Umma." Jaejoong menunduk, jemari mungilnya meremas-remas tangan kekasihnya yang terbaring di kasur, karena jatuh pingsan.
Ummanya menatap prihatin ke arah Jung Yunho yang tubuhnya berbalut beberapa selimut, sedangkan Appa Jung hanya diam tanpa mengeluarkan komentar sepatah katapun. Keheningan terasa sangat mencekam di dalam kamar itu.
"Aku akan membawa Yunho pulang, malam ini juga." Kata Jaejoong tiba-tiba.
"Jangan Jae, ini sudah hampir jam satu malam." Tolak Appanya.
"Tapi Appa, kami harus kembali ke Seoul. Apalagi Yunho sedang tidak sadarkan diri. Ini adalah waktu yang tepat." Jaejoong berkeras kepala.
Umma dan Appa Jung terlihat berpikir sejenak, "Baiklah, kalau itu maumu, sayang." Putus Umma Jung, "Tapi kami berdua akan ikut. Jadi kau ada yang menemani dan juga bisa bergantian dengan Appa menyetir mobil."
Jaejoong mengangguk. Appa Jung juga tampak setuju.
"Lagipula, Umma penasaran dengan akhir dari semua misteri ini, Jae." Sambung Ummanya, "Kau akan segera mengakhirinya kan?" tanya Umma Jung lagi.
"Iya, Umma. Aku akan segera mengakhiri semua ini. Aku hanya berharap Yunho akan bisa menerimanya." Jawab Jaejoong pelan sambil terus menatap Yunho penuh rasa was-was.
.
.
Malam itu juga, Jaejoong, Umma dan Appa Jung, beserta Yunho yang masih pingsan, bergegas kembali ke Seoul. Kembali ke Dorm mereka, dimana semua hal ini bermulai.
Appa Jung akhirnya memutuskan bahwa ia yang menyetir mobil, ia tidak bisa membiarkan Jaejoong dengan pikiran kalutnya, menyetir mobil, karena jelas akan berbahaya bagi keselamatan mereka semua.
Jaejoong duduk di belakang dengan kepala Yunho yang berada di pangkuannya, Yunhonya sangat pucat. Tampak gurat stress dan kelelahan di wajah tampan itu. Jaejoong semakin merasa bersalah, seharusnya sejak awal ia tidak keterlaluan dan melibatkan kekasih tampannya terlalu jauh ke dalam misteri ini.
Umma Jung melihat ketakutan yang terpancar jelas dari wajah cantik calon menantu kesayangannya, "Jangan terlalu cemas, Jae."
"Aku takut Yunho tidak bisa menerima akhir dari semua ini, Umma. Aku takut Yunho marah dan tidak bisa memaafkan aku, Umma." Jawab Jaejoong.
Umma Jung tersenyum, "Umma kenal Yunho, dia pasti akan memaafkanmu, dia tidak akan marah padamu. Kalaupun marah, itu pasti tidak akan lama, dia terlalu mencintaimu. Umma yakin itu."
Ucapan umma Jung benar-benar membuat Jaejoong tambah sedih, ia merundukkan kepalanya lalu mengusap matanya pelan, tidak ingin ketahuan bahwa ia sebetulnya sudah mulai menangis.
.
.
Pagi harinya, ketika Jung Yunho membuka mata, ia terkejut mendapati dirinya sudah kembali ke kamarnya di dorm, dia tidak mampu mengingat apapun, atau sebenarnya ia mampu tapi tidak mau mengingat apapun.
Kasur disebelahnya kosong, tidak ada kekasihnya disana, ia berdecak lalu mulai beranjak ke kamar mandi. Demi menghilangkan pusing di kepalanya, Jung Yunho berdiri di bawah shower dan membiarkan dirinya dihujani air dingin yang keluar dari shower tersebut, berharap air dingin itu mampu membawa luntur beban pikiran yang menggelayutinya belakangan ini.
Lama ia hanya diam, sampai terdengar ketukan dari arah pintu yang disusul dengan suara merdu namja cantiknya. "Yunnie, kau di dalam?"
"Ne." Yunho menjawab singkat.
"kalau sudah selesai mandi, segera ke ruang makan ya Bear, aku tunggu. Jangan lama-lama mandinya, nanti masuk angin." Kekasihnya berteriak bawel.
Tidak lama terdengar suara langkah kaki Jaejoong menjauh, kemudian pintu yang tertutup. Yunho menghembuskan nafas perlahan, lalu buru-buru berbilas. Ia tidak ingin membuat Boojaenya mengamuk, karena terlalu lama menunggu.
Jung Yunho sedang mencukur janggut tipis yang mulai tumbuh di sekitar dagunya dengan alat shaving ketika samar-samar ia mendengar derai tawa anak kecil dan seorang gadis dari arah luar kamar mandi. Ada siapa di kamarnya? Untuk memastikan pendengarannya, ia mematikan alat cukuran itu dan memasang telinga baik-baik. Eh? Kenapa suaranya tidak terdengar lagi?
"Jaeeee… Boojaeee…" panggil Yunho pada kekasih cantiknya.
"Kenapa Yun?" tanya Jaejoong yang langsung tergesa-gesa masuk ke kamar mandi, "kenapa berteriak-teriak?" tanyanya.
Grep..
Yunho menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, "Ada apa?" tanya Jaejoong pelan.
"Aku merindukanmu." Jawabnya.
"Aku selalu bersamamu, bagaimana bisa kau tetap merindukanku?" Jaejoong memukul pelan dada bidang Yunho,
"Apa aku sedang memeluk Jaejoong?" tanya Yunho
"Humm?" bingung Jaejoong.
"Aku tanya, apakah aku sedang memeluk Jaejoong, kekasihku?"
"Yunnie, apa matamu kurang lebar?"
Jung Yunho terkekeh, kemudian ia menciumi wajah namja cantiknya dengan sangat lembut. Jaejoong yang sangat menikmati perlakuan Yunho memejamkan matanya sambil tersenyum.
"Mau sampai kapan kau memelukku, beruang gendut? Nanti jatah sarapan kita bisa habis dimakan Changmin."
"Changmin? Dia sudah pulang?" tanya Yunho.
Jaejoong mengangguk.
"Yoochun dan Junsu juga?"
Jaejoong mengangguk lagi.
"Baiklah," akhirnya Yunho mengalah dan dengan enggan melepaskan pelukan possessive-nya.
.
Pukkk..
Tiba-tiba segumpal rambut hitam panjang jatuh di depan mereka, yang membuat Jaejoong berteriak reflex lalu memeluk Yunho yang juga terkejut bukan main,
.
"YUN.."
"Ssshh..Tenang." Yunho mengelus-ngelus punggung Jaejoong pelan menenangkan. Yunho memeluk tubuh mungil Jaejoong dan mendekapkan wajah cantik itu ke dadanya,
.
Sosok pucat itu menampakan dirinya, di hadapan Yunho. Ia menatap Yunho dengan tatapan kosong yang menerawang. Seorang perempuan dengan pakaian terusan putih penuh bercak darah dan rambut panjang hitam menjuntai itu kian mendekat ke arah Yunho dan Jaejoong. Yunho mendadak merasa tidak bernafas dengan benar.
Sosok mengerikan itu mengelus rambut jaejoong dan dengan sendu berkata, "Jangan menangis." Sambil memiringkan wajahnya.
Jaejoong berteriak histeris di pelukan Yunho, dengan sisa-sisa tenaga dan keberaniannya Yunho bertanya kepada makhluk itu, tajam. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin dia," jawab sosok itu sambil masih mengelus rambut Jaejoong.
Belum hilang ketakutan Yunho akan sosok perempuan di hadapannya, ia kembali dikejutkan dengan datangnya angin dari arah pintu kamarnya dan sosok anak kecil yang berlari-lari mengelilingi dirinya dan jaejoong yang sepertinya pingsan dipelukannya.
Anak kecil itu membawa sebuah kepala boneka usang yang terbuat dari sabut, sosok riang itu tidak kalah pucatnya dari perempuan mengerikan tadi, namun bila diperhatikan lebih jelas, anak kecil itu sedikit mirip dengan Kwanghi, anak bungsu dari noona tertua Jaejoong.
"Oppa, lepaskan saja Jaejoong Oppa." kata anak kecil itu.
"Apa maumu?" tanya Yunho mulai tidak sabaran. Ia makin mengeratkan pelukannya pada tubuh lemas kekasihnya.
"Aku ingin bermain dengannya, Oppa. Biarkan dia pergi bersamaku." Pinta sosok anak kecil itu memelas, sambil memukul-mukulkan kepala boneka yang dipegangnya ke bokong Jaejoong..
Yunho menggeleng-geleng, "Tidak akan pernah ku ijinkan." tegas Yunho.
.
.
"Lepaskan saja Jaejoong, Yunho." Tiba-tiba wanita peramal yang hoby berdandan gipsy itu datang dan berdiri tepat di depan mereka.
"Apa maksudmu? Kau seharusnya membantuku, bukan menyuruhku menyerahkan Jaejoong, demi nyawaku, aku tidak akan pernah melepaskan Jaejoong, aku tidak bisa membiarkan Jaejoong pergi dariku, aku tidak rela." Tanpa sadar Yunho berteriak.
Dalam pelukan Yunho, Jaejoong bergerak pelan, mencoba melepaskan dirinya, ia menatap wajah kekasihnya dan tersenyum,
Sosok anak kecil itu mengulurkan tangannya pada Jaejoong, "Oppa, mau ikut denganku, kan?" tanyanya lagi.
Jaejoong mengangguk, lalu menggengam tangan mungil itu.
"Jae…"
"…"
Yunho mengikuti kekasihnya dan sosok anak kecil itu keluar dari kamar mereka menuju balkon, tanpa sadar bahwa berpasang-pasang mata sedang mengamati mereka dan berkumpul di living room.
.
.
"HAPPY 10TH ANNIVERSARYTVXQ" teriak mereka semua berbarengan.
.
.
Loading please….
.
"Apa maksudnya semua ini?" teriak Yunho entah kepada siapa.
"Yunho Hyung, masih tidak mengerti juga? Ini semua hanya permainan, hanya sandiwara, untuk merayakan anniversary tvxq ke 10." Jelas Junsu dengan polosnya.
.
"Boojae.." desis Yunho pada kekasih cantiknya berbahaya.
Jaejoong hanya merunduk, tidak berani menatap Yunho, yang sedang bernafsu untuk melalapnya.
"BOOJAE.." bentak Yunho kali ini. "TATAP AKU.."
"Yun.. Mianhae.. Yun.." Jaejoong meremas-remas jemarinnya gelisah.
"K-KAU? Katakan bukan dirimu yang merencanakan ini?" meskipun tidak lagi berteriak tetap saja nada suara Yunho terdengar sangat menyeramkan.
"Maafkan aku Yun.. hiks.." Jaejoong mulai terisak-isak.
"Sudahlah, Yunho Hyung, Jaejoong Hyung hanya bermaksud memberimu kejutan." Bela Yoochun.
"Kalian mengetahuinya?" tanya Yunho.
Mereka semua mengangguk. Bahkan Appa dan Umma Jung yang berada ditengah-tengah mereka juga mengangguk.
Lalu pandangan Yunho beralih kepada dua sosok pucat yang berdiri membelakangi balkon, kedua sosok hantu jadi-jadian itu menatap Yunho takut.
"Kwanghi?" tebak Yunho pada sosok kecil.
Sosok hantu kecil itu mengangguk, ia mengusap lipstick peach di bibirnya dan membuang kepala boneka yang daritadi masih dipegangnya ke lantai.
"Lalu, kau?" tanya Yunho pada sosok perempuan yang satunya.
Sosok hantu perempuan itu membuka wig panjangnya dan,
"Ji Hyo noona?" kaget Yunho.
Kemudian sebelum dirinya diteriaki Yunho, wanita peramal yang selalu berdandan gipsy itu juga membuka wig dan menghapus lipstick hitam di bibirnya,
"K-Kau? Ahreum, T-ara?" Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya, tubuhnya bersandar pada dinding di belakangnya. "Kalian semua sekongkol untuk membantu ide gila Jaejoong?"
"Nde, maafkan kami Yunho Oppa. Kami hanya ingin membuat surprise untuk merayakan anniversary ke 10th tvxq." Jawab Ahreum.
Yunho memandangi para tersangka satu-persatu, ini benar-benar keterlaluan, ia hampir gila karena masalah demi masalah yang datang belakangan ini, tapi ternyata ini semua hanya tipuan?
.
"Shim Changmin, bisa kah kau berhenti merekam sekarang juga?" Yunho berkata geram.
Merasa terancam, Changmin menurunkan video recorder yang selalu dipegangnya kemana-mana, "Maaf Hyung, aku kebagian tugas merekam." Jawab Changmin ngeri.
Yunho terkekeh seperti orang stress, "Yatuhan, bahkan semua orang punya tugasnya masing-masing, Boojae?" sindirnya pada namja cantik yang dari tadi hanya merunduk.
"Apa tugasmu, Yoochun?" tanya Yunho dengan nada mengejek.
"Bermain Piano." Jawabnya nyaris seperti berbisik.
Yunho tersenyum sarkastik, "lalu, Umma dan Appa juga ikut berakting?"
Kedua orang tuanya mengangguk.
"Kau! Manager Hyung, kau juga ikut membantu ide tidak normal Jaejoong dengan mengcancel schedule-schedule TVXQ?" tanya Yunho kembali terpancing emosi.
Manager Hyung hanya terdiam, ia tahu ia salah, tapi siapa yang bisa menolak apabila seorang Kim Jaejoong sudah memohon?
"Yun, jangan salahkan mereka, ini semua rencanaku." Jaejoong berusaha bertanggung jawab.
"YA, MEMANG INI SEMUA SALAHMU!" teriak yunho.
"Maafkan aku, Yun. Hiks." Mohon Jaejoong.
"MAAF, KATAMU?" bentak Yunho pada kekasihnya yang wajahnya semakin memucat.
"Yun, aku benar-benar minta maaf." Pinta Jaejoong takut.
"AKU HAMPIR GILA KARENA RENCANAMU, KAU TAHU?!"
"Yunho, tidak perlu pake teriak." Nasehat Ummanya sambil merengkuh tubuh Jaejoong yang gemetaran.
"Aku mohon, maafkan aku, Yun. Hik.. aku hanya ingin membuat kejutan untukmu." Mohon Jaejoong sungguh-sungguh.
"Selamat Boojae, rencanamu berhasil." ejek Yunho kasar. "AKU SANGAT TERKEJUT!" bentaknya lagi.
"Yunho cukup!" Umma Jung memperingati Yunho yang terus meneriaki kekasihnya.
.
Syungg..
"Jaeee…"
"Jae Hyung.."
"Jaejoong Oppa."
Teriak sekumpulan orang itu kompak saat tubuh Jaejoong limbung.
.
"TIDAK USAH KAU TERUSKAN AKTINGMU JAE!" bentak Yunho masih dengan berteriak.
"Yunho Hyung, Jaejoong Hyung tidak sedang berakting." Junsu mencoba meredakan amarah sang leader.
"Yunho, kekasihmu betul-betul pingsan, pabo!" Song Ji Hyo ikut merasa kesal.
"Bawa saja dia ke kamar, aku sedang tidak ingin peduli." jawab Yunho, kali ini tanpa berteriak.
"Kau keterlaluan, Hyung." Protes Yoochun sambil berlalu membawa Hyung cantiknya yang pingsan ke kamar.
.
"Kenapa jadi aku yang keterlaluan?" tanya Yunho pada dirinya sendiri.
Kemudian, ia menahan lengan Junsu yang hendak beranjak ke kamar, "Su, ceritakan padaku, apa yang terjadi." Perintah Yunho tegas.
"Aku sih mau-mau saja, asal Hyung janji mau tidak berteriak-teriak seperti tarzan." Tawar Junsu.
"Hmm.." Yunho mengangguk, menepuk-nepuk sofa disebelahnya mengisyaratkan Junsu untuk duduk.
.
.
Flashback…
Japan, two weeks ago.
"Hyung, kau dengar? Para siswi-siswi asrama sedang mengossipkan hantu di toilet. Hiiiyyy.." Junsu meringis.
"Iya, aku dengar. Tapi aku tidak percaya dengan cerita-cerita semacam itu. Hal bodoh seperti itu tidak ada di dunia ini su-ie." Jawab Jaejoong sambil menepuk pantat bebek Junsu keras.
"Haaaah.. kau dan Yunho Hyung sama saja, Hyung."
"Maksudmu?" tanya Jaejoong.
"Yunho Hyung juga pernah bilang seperti itu pada Yoochun. Waktu Yoochun ketakutan setelah kita berlima menonton Paranormal Activity di Dorm." Jelas Junsu.
Tiba-tiba saja Jaejoong terdiam, ia terlihat berpikir keras, kemudian sebuah seringai jahil muncul di bibir cherrynya, "Su-ie, aku ada ide."
"Ide apa Hyung?" tanya Junsu curiga, melihat gelagat aneh Hyung cantiknya itu.
"Tapi kau harus membantuku." Ancam Jaejoong padahal ia belum menceritakan idenya.
"YAK Hyung, kau ini belum apa-apa sudah mengancam. Ceritakan dulu apa idemu. Belum tentu aku setuju." Protes Junsu.
"Aku ingin mengerjai Yunho, su-ie." Jaejoong mulai menceritakan ide jahil paling brilliant yang pernah muncul di otaknya, menurutnya.
"Memangnya Yunho Hyung ulang tahun? Kenapa aku tidak tahu?" Lemot Junsu mendadak kumat.
"Aishh.. Jinjja Su-ie, kelemotanmu sungguh membuatku sedih." Sindir Jaejoong. "Aku ingin mengetes seberapa sabar kekasih tampanku itu Su-ie." Sambil berkata demikian, Jaejoong sambil membayangkan kesuksesan idenya kelak.
"Mengetes? Memangnya kau butuh bukti apa lagi, Hyung? Yunho Hyung adalah 7 manusia sabar terlangka di dunia versi on the spot." Jawab Junsu.
"Bisa kau jelaskan maksudmu?" desis Jaejoong.
"Menurutku, stok sabar Yunho Hyung itu bisa diandaikan seluas samudera hindia dan setinggi pohon kelapa di pulau bora-bora. Buktinya Yunho Hyung sangat sabar mempunyai kekasih sepertimu." Jawab Junsu panjang lebar tanpa tahu bahaya besar yang sedang mengintai.
Asap mulai akan keluar dari ubun-ubunan Jaejoong, sesaat sebelum Junsu melanjutkan, "Yunho Hyung selalu sabar membawakan kopermu kemana-mana, ia juga sabar ketika kau marah-marah sehabis belanja karena kelamaan di jemput, lalu masih dengan sabarnya ia membukakan pintu mobil untukmu, memasangkan seatbeltmu, dan tetap sabar ketika kau bilang kartu kreditnya limit karena kau pakai belanja." Jelasnya telak.
Skak Mat.
Jaejoong terdiam, ia mengakui bahwa selama ini Yunho selalu ada untuknya, namja tampan itu tidak pernah membiarkannya berada dalam kesulitan sekecil apapun, Yunho juga selalu sabar menghadapi mood swing dan sifat keras kepalanya, sungguh Jaejoong jadi semakin mencintai Yunho,
'Tapi ide ini sangat brilliant, sayang kalau tidak dijalankan.' Rupanya sisi devil si namja cantik itu masih menguasai dirinya.
"Su-ie, kau mau tidak merayakan 10th anniversary DBSK dengan cara yang tidak biasa?" pancing Jaejoong.
"Tentu saja mau." Junsu dengan lugunya mulai terpancing.
"Kalau begitu kau harus membantuku, mengerjai Yunho." Tawar Jaejoong.
"Kenapa harus Yunho Hyung?" tanya Junsu lagi.
"Karena Yunho Leader kita." Bual si cantik.
"AH! Kau benar sekali Hyung." Dengan kepolosan tingkat cabe-cabean, Junsu menelan bulat bualan namja cantik nan licik itu. "Baiklah, aku akan membantumu."
.
"Kalian semua pokonya harus membantuku." Pinta Jaejoong pada ketiga dongsaeng dan managernya.
"Tapi, Hyung.."
"Tidak ada tapi-tapian Yoochun." Bantah Jaejoong.
"Idemu seperti anak SMA saja Hyung." Protes sang magnae.
"Oh, ayolah Minnie.. aku janji akan mentraktirmu makan sepuasnya kalau rencanaku berhasil."
"Benarkah?" Changmin mulai tertarik.
Jaejoong mengangguk-angguk semangat.
"Hyung, kau kan tahu sendiri, aku takut dengan hal-hal seperti ini." Tolak Yoochun kekeuh.
"Justru itu, kau tidak perlu berpura-pura, ketakutanmu akan memancarkan ekspresi natural. Yunho pasti akan percaya, Chunnie. Bantu aku ku mohon." Jaejoong menangkupkan kedua tangannya sambil menampilkan puppy eyes andalan dan bibir cherrynya yang dipoutkan imut.
"Yasudah, aku akan membantumu.. Dan hentikan tampang memelasmu itu." Kesal Yoochun tidak tahan.
Dan dimulailah rencana jahil Jaejoong..
.
.
"Begitulah awal mulanya, Hyung." Junsu mengakhiri ceritanya.
Yunho tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum, namun sebisa mungkin ia menutupinya dengan berdeham pelan dan masih memasang tampang dingin.
"Lalu, kenapa badan Jaejoong sering tiba-tiba dingin dan pucat?" tanya Yunho.
"Oh.. Jaejoong Hyung memegang batu es dan menggosokannya ke tangan, pipi, dan bagian-bagian yang kemungkinan besar akan kau sentuh." Jawab Junsu. "Kalau pucat, kulit jaejoong Hyung memang selalu pucatkan?"
Yunho menahan tawanya yang hampir pecah. "Lalu tentang mimisan?"
Junsu tersenyum, "Itu, Jaejoong Hyung membeli satu kantung darah di bank darah. Tapi pernah sekali ia juga mimisan betulan, sewaktu kalian berdua di kamar. Karena terlalu sering menggosok-gosokan batu es ke tubuhnya, dia jadi panas dalam, Hyung."
"Kejadian foto hantu di villa?" Yunho masih meneruskan kegiatan mengintrogasi Junsu.
"Aku secara sembunyi-sembunyi ikut ke Villa bersama kalian. Aku memang berdiri di belakang pohon kelapa, sengaja agar Changmin bisa memotoku dan aku juga yang berjalan malam-malam sewaktu kau keluar hendak ke kamar mandi." Jawab Ji Hyo, si tersangka.
Yunho mengeleng tidak habis pikir, bagaimana kekasihnnya bisa merencanakan ide jahilnya sesempurna ini.
"Lalu yang bermain piano di living room ketika itu?"
"Itu Yoochun, bukankah dia sudah bilang bahwa tugasnya bermain piano?"
Yunho terkekeh. "Pantas saja, permainan piano itu berhenti ketika aku dan Boojae ke luar."
"Tentu saja, Yoochun sudah kembali bersembunyi, pabo." Ji Hyo ikut terkekeh.
Kemudian Yunho menoleh ke arah Umma dan Appa Jung yang berdiri di dekatnya, "Umma dan Appa juga terlibat? Sungguh tidak bisa dipercaya." Yunho tersenyum.
"Ne, Jaejoong menceritakannya dengan terburu-buru lewat telefon saat kau tiba-tiba memutuskan mengajaknya ke rumah." Jawab Ummanya, "Dan sebenarnya kau tidak bermesra-mesraan dengan hantu, Yun. Rambut yang kau keringkan memang rambut Jaejoong. Hanya saja ketika kau keluar mencari Jaejoong, kekasihmu itu langsung menyusup ke kamar Umma dan membasahi kembali rambutnya lalu berpura-pura tertidur, kemudian selanjutnya giliran Appamu yang mengeluarkan bakat acting brilliant-nya dengan berpura-pura terkejut melihatmu mencari Jaejoong di taman.." Jelas Ummanya panjang.
Yunho mulai tertawa, mengingat seberapa panic dan takutnya ia saat berpikir bahwa yang ia keringkan adalah rambut hantu.
"Yun, sekarang kekasihmu benar-benar sakit. Dia terlalu banyak bermain dengan es batu, ia juga kelelahan berpikir tentang kelanjutan ide jahilnnya, dia hanya ingin memberimu kejutan. Jangan terlalu keras memarahinnya." Mohon Ummanya.
"Itu kan salahnya sendiri." Kekeh Jung Yunho.
"Oppa, maafkan Jaejoong Oppa, ne." Kwanghi tiba-tiba duduk di pangkuan Yunho.
"Kwanghi, kau tahu, kalau kau itu sangat menyebalkan?" Jung Yunho mencubiti keponakan Jaejoongnya dengan gemas.
"Tapi aku berhasil mengerjai Yunho Oppa, annia?" tanya Kwanghi polos.
"Nde, kau ternyata benar-benar berbakat acting."
.
"Yunho Hyung, Jae Hyung ingin bicara dengan mu." Celetuk Yoochun yang baru saja keluar dari kamar.
"Temuilah kekasihmu, Yun. Tapi jangan membentak-bentaknya seperti tadi." Perintah Ummanya.
Yunho mengangguk, "Baiklah." Ia beranjak berdiri memasuki kamarnya.
.
"Ayo, kita siapkan makanan dan kue-kue untuk acara perayaan anniversary kalian."
"Yeaaaay.. Makaaaannn! ! !"
"Changmiiiinnnnn.." semua berteriak kompak.
.
.
Sementara semua orang menyiapkan keperluan party, Yunho dan Jaejoong berada di kamar dalam kondisi tegang. Sebenarnya hanya Jaejoong saja yang merasa tegang, Yunho hanya sedikit ingin balas dendam pada kekasih cantiknya itu. Ia tetap memasang wajah marahnya dan menatap tajam Jaejoong yang menunduk takut.
"Yun…"
Yunho terdiam.
"Yun.. bicaralah." Jaejoong menarik-narik kaos Yunho, Yunho duduk di pinggir kasur sedangkan Jaejoong berada di atas kasur sambil bersandar di ranjang tempat tidur.
Yunho tersenyum. Ia mengangkat wajah Jaejoong dengan lembut.
"Maafkan Aku, Yun." Jaejoong memegangi tangan Yunho yang mengelus pipinya.
"Aku hanya tidak habis pikir, kau mempunyai ide sejahil ini, Boojae."
"Aku hanya ingin mengerjaimu, Bear." Jaejoong tertawa malu, ia tahu bahwa Yunho-nya sudah tidak marah.
"Ya, Ya, Kau sukses besar sayang."
"Tapi aku senang, ternyata kau sangat perhatian padaku, ne? kau takut kehilanganku kan Tuan Beruang?"
"Percaya diri sekali." Cibir Yunho.
Cupp… Jaejoong mencuri satu ciuman dari bibir kekasih tampannya yang sedang mengerucut.
"Kau sudah tidak marah kan, bear?" tanya Jaejoong memastikan.
"Hmm.. bagaimana menurutmu?" tanya Yunho balik.
"Pasti sudah tidak marah kan?." goda jaejoong.
"…"
"Yuuuunnn. Maafkan aku, ne..." manja Jaejoong kumat.
"Baiklah, tapi sekarang kau terima dulu hukumanmu." Yunho mengkelitiki perut namja cantik itu tanpa ampun.
"Yun.. Yunhhhh.. stoppp.. Yunhhhh..Ampuuunnn.. Yuuuunnn" Jaejoong berteriak-teriak.
.
.
.
"UWAH! ! ! Jaejoong Hyung kenapa?" Changmin mendadak bangkit dari kursinya mendengar Hyung cantik kesayangannya menjerit.
Sebelum Changmin berhasil pergi dari kursinya, Yoochun sudah menahan tangannya. "Biarkan saja, min. Itu bukan urusan kita, lanjutkan saja makanmu." Yoochun menyumpal mulut sang magnae dengan paha ayam goreng.
"HAHAHAHA.."
.
.
.
"HAPPY 10TH ANNIVERSARRY TVXQ"
.
.
.
PS (A FEW DAYS AGO):
"Hyung, kau yakin akan melanjutkan ini semua?"
"Sebentar lagi saja, ini sangat seru, Kau lihat, bukan hanya Yunho yang tertipu.." jawab Jaejoong terkekeh.
.
.
.
-THE END-
Hahahaha.. Mianhae, ne yeorobun.. Kimmy mau kabur aja sebelum disate masa..
Once again, HAPPY 10TH ANNIVERSARRY TVXQ! ! ! AKTF! ! !
