Ternyata Kiba memiliki memori sendiri tentang pembantaian klan Uchiha. Dia akhirnya menceritakannya kepada Sasuke Uchiha. Bagaimana kisahnya?
'Hana Inuzuka, ternyata adalah teman dekat Itachi Uchiha. Apa yang terjadi dengannya di hari pembantaian klan Uchiha? Oke, kita baca yuk?
Itachi-Hana
...
"Kiba-kun." Seseorang memanggil namaku. Seorang gadis berambut coklat dengan tanda di kedua pipinya baru saja masuk ke kamarku. Ia tersenyum.
Aku masih memeluk lututku, aku takut.
Hana Inuzuka mendekat ke ranjang adiknya. Duduk di sebelah adiknya, dan memeluknya dengan lembut.
"Kiba-kun marah pada kakak?" tanya Hana pada adiknya.
Kiba masih terdiam.
"Kau tidak mau melihat kakak lagi Kiba-kun?" tanya Kakaknya lagi dengan nada sedih.
Kiba segera memeluk kakaknya. Mana mungkin ia tidak ingin melihat kakaknya tersayang lagi.
"Aku takut, aku merasa kakak akan pergi jauh." Kata Kiba sambil mengeratkan pelukan.
Hana hanya terdiam, mendengar perkataan adiknya. "Berjanjilah kau akan jadi anak baik Kiba..." kata kakaknya tiba-tiba.
"Kenapa kak?"
"Berjanjilah sayang."
"Ya, aku berjanji kak."kata Kiba.
Hana memandangi wajah adiknya lama dengan mata berkaca-kaca. Dia mencium dahi adiknya.
Hana kemudian melepas pelukannya, kemudian ia bergegas menuju pintu dan keluar. Ketika dia akan menutup pintu, ia menatap adiknya yang kebingungan dan berkata, "Aku sangat mencintaimu Kiba, jangan pernah menangis karena kakak sayang.".
...
Aku berlari menuju kuil sekaligus kediaman tetua Inuzuka. Kakakku pasti berada di sana. Bukankah ayah menyuruhnya ke sana? Pasti ia ke sana.
Dadaku berdebar seiring langkah kakiku yang semakin cepat. Aku merasakan firasat buruk tentang hari ini. Pasti ada yang salah saat ini. Kalau tidak, tidak mungkin ayah mengurung diri di ruang rapat hingga malam begini. Kalau tidak, mengapa aku mendengar suara tangisan ibu yang begitu memilukan sepanjang sore hingga detik ini.
Pasti akan ada sesuatu yang terjadi, pasti ada sesuatu yang salah.
Langkah kaki kecilku tak mampu memuaskan hasratku untuk segera mencapai tempat itu. Aku mulai lelah, namun aku terus memaksakan diri berlari. Sebentar lagi, sebentar lagi.
Aku sudah hampir mencapai gerbang kuil ketika melihat seseorang yang aku kenali keluar dari sana. Itu kakakku, meski malam ini terasa lebih gelap, aku tahu itu kakakku. Rambut kecoklatan dan bola mata kelam itu memang milik kakakku.
Aku baru saja akan berteriak memanggilnya kalau saja aku tidak melihat sesuatu yang mengejutkanku. Tubuh kakakku dipenuhi luka, padahal tadi ia baik-baik saja, tidak ada luka satupun di kulitnya. Jantungku semakin berdebar. Ada apa sebenarnya?
Oh tidak...apa ia benar-benar kakakku? Tatto segitiga di pipinya kini sudah menghilang, beganti luka sayatan yang mengerikan.
Aku bergidik ngeri. Apa yang terjadi? Ada apa? Ada apa dengan kakakku?
Ia masih berdiri membelakangi gerbang itu. Wajahnya terlihat letih. Ia tertatih-tatih berjalan kembali sambil meneteskan air mata sambil bergumam "Maafkan aku..."
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi anehnya kakiku terus melangkah mengikuti kakakku.
Kami terus berjalan melewati kompleks Inuzuka yang terlihat sangat sepi. Aku sebenarnya takut, tapi ku paksakan untuk tetap mengikuti kakakku. Entah keberanian darimana aku terus saja mengikutinya.
Setelah berjalan cukup lama, kami sampai di suatu rumah dengan lambang kipas di pintunya. Setahuku ini kompleks klan. Tapi aku tidak yakin klan apa itu. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi entahlah dimana.
Kami terus menyusuri komplek itu. Disini begitu dingin dan sepi. Dapat ku lihat seluruh lampu rumah kompleks itu padam. Sedangkan lampu jalan yang tidak seberapa itu menyala, sama saja dengan kompleks inuzuka. Kompleks ini terasa sangat aneh...
Akhirnya langkah kaki kakakku berhenti, aku segera bersembunyi di tikungan dan mengintip apa yang terjadi.
Di arah berlawanan dari kakakku, dapat ku lihat orang yang ku kenali sedang mengangkat tubuh seorang anak laki-laki berwajah pucat dengan rambut kebiruan yang lepek karena keringat.
Sementara itu pemuda yang memang usianya sebaya kakakku itu menatap kakakku dengan wajah datar. Aku tak tahu bagaimana ekspresi kakakku ketika berhadapan dengan pemuda berambut hitam itu, tapi...aku tahu aku takut, aku tahu ini berbahaya. Kakiku bergetar menahan berat tubuhku.
Tidak...ini sangat mengerikan...
Mata merah itu...Uchiha...
To be continue
Horeee...bisa update lho.
Tumben banget ada waktu. Hihi...sibuk banget semester ini!
By the way, aku sama sekali ga tau cerita asli itachi. Jadi aku buat ini berdasarkan khayalan aja. Habis kan sedih banget Itachi pas adegan ini. Sebenernya juga fic ini udah aku tulis maret kemarin dan entah kenapa aku lupa publishnya gara2 keasikan baca sasusaku. Hehe...
Himenohana,
27 April 2014
