KaiRei Fanfiction
Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT beyblade is NOT mine either. But I DO have the other characters in this fic :)
Pairing : KaiRei, slightly ReiMax (one sided)
Genre: friendship/Crime
Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!
Summary: I'm not good with this thing, just read it will you? ^^v
Chapter 2
Tiga hari kemudian, Rei menerima dua email baru dari kedua pemohon. Kasus pertama, korban adalah seorang mahasiswi yang telah hilang selama seminggu. Korban bernama Ogawa Naomi memiliki rambut hitam sebahu, memakai kacamata, dan seorang mahasiswi universitas X yang cukup terkenal. Korban kasus kedua adala seorang lelaki berusia 25 tahun. Saat melihat foto korban, Rei merasa pernah melihatnya di sutau tempat tapi dia tidak ingat dimana. Korban hilang dua hari yang lalu, terakhir terlihat saat korban hendak membeli sesuatu di minimarket dekat apartemen yang bersangkutan. Melihat sedikitnya info yang dia dapat dari kedua pemohon maka dia memutuskan akan mengunjungi keduanya.
'Hmm sebaiknya mana yang harus kukunjungi terlebih dahulu? Kurasa sebaiknya kasus pertama lagi pula tempatnya tidak jauh'
Sabtu berikutnya, Rei mengunjungi rumah korban pertama ditemani oleh Max. Mereka membunyikan bel dan tidak lama kemudian pintu rumah dibuka, menampilkan seorang wanita tengah baya berwajah menyenangkan.
"selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Selamat siang nyonya. Apakah anda Ogawa-san?" tanya Rei sambil tersenyum (senyum bisnisnya yang terbaik).
"Ah ya benar itu saya" jawab wanita itu senyuman yang sedari terpasang di wajahnya nampak memudar dan digantikan wajah curiga.
"Perkenalkan nama saya Rei Kon dan ini asisten saya Max Tate. Kami dari agen serba bisa yang anda hubungi beberapa hari yang lalu"
"Agen serba bisa? Saya tidak ingat pernah menghubungi agen seperti itu" jawabnya ketus agaknya kesabarannya pun sudah ikut pergi bersama senyumannya tadi.
"Ah. Anda menghubungi melalui blog kami, anda meminta bantuan unttuk mencari putri anda yang sudah menghilang sejak seminggu yang lalu."
"... Maaf saya tidak pernah merasa menghubungi agen seperti itu. Pasti kau telah salah orang!"
"Tung.." pintu dibanting sebelum Rei menyelesaikan perkataannya.
"Bagaimana ini Rei-chan? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Max memandang masam ke arah pintu.
"... Ayo kita pergi ke lokasi kasus kedua kalau begitu".
Saat berbalik hendak pergi, mereka melihat seorang perempuan berumur sekitar 19 tahun di depan pagar. Tampaknya dia baru saja pulang bekerja dan akan masuk ke dalam rumah.
"Apakah kaian dari agen serba bisa?" tanyanya hati – hati.
Rei hanya mengangguk, seketika saja wajah perempuan itu menjadi cerah.
"Aku Keiko Ogawa. Aku sudah menunggu kalian! Ayo masuk!" serunya sambil membuka pintu rumah.
Rei dan Max pun masuk. Mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu.
"Bukankah kita beruntung Rei-chan? Untung saja kita bertemu dengan klien kita yang sebenarnya"
"Ya kau benar. Dengan begini aku juga bisa mendapat bayaranku"
"Kau ini, pasti saja memikirkan uang" kata Max
"Tentu saja karena di dunia ini tidak ada yang gratis dan semuanya butuh uang"
"Tapi kau juga mengejar kepuasan saat memecahkan pekerjaan yang diberikan padamu kan?"
"Yaaah itu juga"
Max tersenyum mendengar jawaban temannya dan merasakan keinginan yang tiba – tiba untuk memeluk Rei. Tapi dia mengurungkan niatnya karena klien mereka datang bersama dengan wanita separuh baya tadi.
"Perkenalkan ini ibuku"
"Sudah kubilang kita tidak butuh mereka! Kakakmu akan pulang kalau dia mau pulang!"
"Maafkan beliau. Kalian masih mau menerima kasus kami bukan?"
"Kami?" salak si wanita paruh baya "aku tidak akan pernah membayar detektif gadungan ini!" dengusnya.
"Ibu! Sampai kapan ibu akan bersikap seperti ini? Kakak sudah menghilang selama seminggu dan tidak bisa dihubungi! Apakah ibu tidak khawatir?"
"Aku lebih mengkhawatirkan keadaan keuangan keluarga ini! Tiga anak! Bayangkan! Berapa uang yang harus aku keluarkan untuk kalian semua! Kalau kakakmu menghilang bersama kekasihnya yang brengsek itu, aku justru lebih bahagia! Bukankah akan berkurang satu kepala untuk diberi makan? Hah! Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu! Akhirnya aku bisa memakai uangku untuk sedikit bersenang – senang"
Rei dan Max saling bertatapan kaget, mereka tidak pernah melihat seorang ibu yang seperti ini. 'Apakah dia ibu tirinya?' tanya Max dalam hati. 'Dari perkataannya sepertinya dia lebih senang putrinya mati' pikir Rei dalam hati. Sementara mereka berdua masih terkaget – kaget, Keiko-san terlihat berkaca-kaca.
"B.. Bagaim.. bagaimana ibu bisa mengucapkan perkataan seperti itu? Naomi-neechan juga anak ibu!" isaknya.
"Huh! Anak bodoh, kalau kau yang menghilang memangnya kakakmu peduli? Kalau kau yang menghilang atau kakak laki – lakimu yang menghilang, sikapku tidak akan berubah... Atau mungkin sekarang pun kau sebenarnya senang kan, kakak mu menghilang? Jatah uang bulananmu mungkin akan bertambah"
Keiko-san sudah tidak bisa berkata – kata lagi, tangisnya pecah mendengar komentar ibunya. Max langsung mengusap – ngusap punggung Keiko-san berusaha menenangkannya. Rei merasa beruntung dia membawa Max hari ini, dia tidak pernah dapat bertindak spontan seperti Max.
"Ck.. Berhentilah menangis! Tidak usah sok berduka!"
Tangis Keiko-san semakin kencang, Max memeluknya.
"Maaf nyonya, apakah anda bisa meninggalkan kami sebentar?" pinta Max dingin.
Ogawa-san hanya mendengus dan beranjak keluar dari ruang tamu, sebelum keluar dia berkata "aku tidak akan pernah membayar kalian sepeser pun!"
Setelah kepergiannya, suasana menjadi hening terlalu hening hingga membuat Max tidak nyaman, yang terdengar hanyalah tangisan Keiko-san. Max melihat ke arah Rei dengan pandangan memohon, tangannya masih mengusap punggung Keiko-san.
"Ogawa -san tidak apa – apa, ibu anda sudah pergi" kata Rei sambil berlutut didepan Keiko-san "kami pasti akan menemukan kakak anda"
Keiko mengangkat kepalanya, matanya bengkak dan basah oleh air mata, "aku.. p.. panggil.. hik.. hik.. panggil saja aku Keiko" katanya sambil berusaha menenangkan diri.
"Baiklah, Keiko-san, sekarang bisakah kau ceritakan tentang kakakmu? Kapan dia mulai menghilang? Penampilannya seperti apa saat dia menghilang? Apakah ada orang yang dendam padanya? Atau yang lainnya, bahkan cerita kecil yang menurut anda tidak penting pun tidak apa – apa, tolong ceritakan pada kami" kata Rei lembut.
Keiko mengangguk, setelah mengatur napasnya dia mulai bercerita, "Kakakku, lebih tepatnya, kakak perempuanku bernama Naomi Ogawa. Sejak kecil dia sudah berbeda dari kami, aku dan kakak lelakiku, dia selalu menjadi yang terpintar di antara kami, selalu mendapat apa yang dia inginkan. Dia sering membodohi aku dan Kin-niichan untuk mendapat apa yang dia mau, dan dia selalu berhasil, tapi kami tidak pernah marah padanya. Entah kenapa saat kami akan marah dia selalu saja behasil merebut hati kami kembali. Dia selalu menjadi yang terbaik diantara kami, bahkan saat itu ibu sangat menyayanginya, mungkin karena uang hadiah dari perlombaan yang dia ikuti. Naomi-neechan tidak pernah megalami kesulitan apapun di sekolah. Kemudian, setelah lulus SMU dia diterima di universitas X, Naomi-neechan ingin meneruskan sekolah, dia selalu bermimpi bersekolah di universitas X. Aku dan Kin-niichan tentu saja setuju, ayah juga setuju, tapi ibu tidak setuju. Ibu ingin kakak bekerja, karena kuliah hanya menghabiskan uang. Mereka bertengkar selama dua minggu tapi entah bagaimana Naomi-neechan berhasil meyakinkan ibu. Akhirnya, 3 tahun yang lalu kakak pergi ke universitas X dan jarang pulang."
"Apakah ada jadwal khusus kapan dia pulang?" tanya Max
Keiko mengangguk, "ya, Naomi-neechan biasanya pulang saat liburan semester, diluar itu kakak jarang pulang... Mungkin juga karena ibu melarangnya karena hanya membuang ongkos. Setahun setelah dia kuliah, akhirnya kakak menceritakan padaku kenapa dia bisa memaksa ibu untuk membiarkannya kuliah. Dia bilang, ibu hanya perlu membiayai kuliahnya satu tahun saja sisanya dia akan mencari beasiswa dan pada akhirnya ibu hanya perlu memberinya uang makan, sama saja kalau kakak ada di rumah. Dia juga bilang akan mencari tempat tinggal yang murah dan ayah lah yang akan membayarnya. Itulah kenapa ibu setuju membiarkan kakak sekolah. Tapi sampai akhir tahun dia belum mendapatkan beasiswa untuk biaya studinya. Setelah berunding dengan Kin-niichan, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMU, Kin-niichan juga berjanji akan menyisihkan sebagian pendapatannya untuk membantu biaya kuliah Naomi-neechan.
"Kemudian satu tahun kemudian, Naomi-neechan mengabariku kalau dia sudah mendapat beasiswa. Tentu saja aku dan Kin-niichan senang tapi kesenangan kami tidak lama karena dua bulan kemudian kakak bertemu seorang lelaki brengsek. Kakak bilang, dia adalah teman kerja part-timenya, dia pernah membawa lelaki itu kesini. Awalnya aku senang kakak menemukan seseorang untuk dicintai tapi beberapa bulan setelah mereka berpacaran, kakak mulai sering meminjam uang padaku dan pada Kin-niichan. Aku tidak pernah curiga kalau ternyata semua itu ada hubungannya dengan pacarnya, aku mengira dia membutuhkan banyak uang untuk penelitiannya.
"Kemudian aku mendengar dari tetangga kami yang anaknya juga bersekolah di universitas X kalau penelitian kakak tidak membutuhkan uang sama sekali karena dia ikut proyek profesornya. Karena khawatir, aku datang diam – diam ke asramanya. Saat itulah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kakak sedang memberi uang pada pacarnya. Kakak kaget melihatku ada disana dan malamnya dia memberi tahukan semuanya padaku. Pacarnya sedang membutuhkan uang untuk membangun usaha. Aku sebenarnya tidak percaya tapi aku juga tidak mau menekan kakak jadi kubiarkan saja dulu.
"Lalu dua bulan yang lalu, saat terakhir dia pulang, aku melihat lebam di bahu sebelah kirinya. Saat kutanyakan itu karena dia jatuh dari tangga asramanya. Tapi aku tahu dia berbohong karena di bagian tubuh lainnya pun ada lebam. Mau tidak mau aku langsung curiga ini pasti ulah pacarnya. Karena tidak tahan, aku bertanya apakah lebam – lebamnya itu karena dipukul oleh pacarnya? Kalau iya maka aku akan menghajar pacarnya saat itu juga, aku tidak peduli walaupun harus mencarinya ke ujung dunia. Tapi kakak malah menamparku dan bilang untuk mengurus urusanku sendiri. Kami berdua kaget, karena kakak tidak pernah memukulku.
"Aku tahu kakak pasti menyesal, dia tidak keluar dari kamarnya selama dua hari, masa – masa seperti itu dia selalu menyebutnya sebagai 'masa penataan hati', dulu sekali saat dia putus dengan pacarnya yang pertama juga seperti itu. Di hari ketiga, dia mengetuk pintu kamarku dan menceritakan semuanya. Dia mengaku dia memang sering dimintai uang dan dipukul oleh pacarnya. 'putuskan saja dia' kataku waktu itu tapi kakak tidak bisa melakukan itu karena dia sangat mencintai pacarnya. Itulah terakhir kali kami bertemu dan kabar terakhir darinya adalah dia sedang mempunyai masalah dengan sahabatnya."
"Apa sampai terakhir dia masih berhubungan dengan kekasihnya?" tanya Rei
Keiko mengangguk, "kakak benar – benar mencintainya, aku tidak mengerti kenapa. Kin-niichan pun tidak bisa membujuknya untuk putus. Bahkan saat ibu marah besar ketika tahu kakak sering diperas, Naomi-neechan tetap tidak peduli."
"Apakah kau tahu alamat asramanya?" Keiko pun memberikan sebuah alamat.
"Ayo kita pergi Max. Keiko-san aku akan memberikan kabar secepatnya"
Setelah memastikan Keiko baik – baik saja mereka berdua pun pergi dari rumah keluarga Ogawa.
"Rei-chan apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Max
"Ayo kita pergi ke asrama Naomi-san"
