KaiRei Fanfiction
Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are other beyblade character. But I DO have the other characters in this fic :)
Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!
Summary: I'm not good with this thing, just read it will you?
This chapter is dedicated for Laila Sakatori 24 and Kai Shadowchrive Noisseggra who give me motivation to continue this fic =3
Sooo without further ado let's begin,, and enjoy =)
Chapter 3
Rei dan Max duduk dibawah pohon rindang di taman bermain di dekat asrama Ogawa setelah keduanya mencari informasi di asrama Ogawa. Sekarang keduanya saling membandingkan informasi yang telah mereka dapatkan.
"Apa yang sudah kau dapat Max?"
"Tidak banyak," kata Max sambil membuka-buka notenya, "menurut info yang kudapat, secara garis besar: Ogawa-san adalah orang yang pintar, bahkan menurut beberapa orang bisa disebut sebagai jenius, tapi dia tidak punya banyak teman dekat karena sifatnya yang tertutup dan kurang bersahabat. Dia hanya punya lima teman dekat, tapi yang sekarang masih tinggal di asrama hanya tinggal berdua. Tapi keduanya sekarang tidak berada di tempat karena sedang mengerjakan proyek diluar kota dan baru pulang bulan depan. Jadi, kesimpulannya tidak banyak yang bisa aku gali tentang kehidupannya selama di asrama. Lalu, berdasarkan kesaksian beberapa orang, Ogawa-san terakhir terlihat di asrama adalah sepuluh hari yang lalu. Hanya itu info yang kudapat Rei-chan, bagaimana denganmu?"
Rei merengutkan dahinya, "tidak jauh berbeda dengan yang kau dapat. Tapi, kalau pun kita menunggu kedua orang temannya yang sedang pergi itu mereka tidak akan bisa memberitahu kita apa pun."
"Apa maksudmu?"
"Karena keduanya juga tidak banyak tahu kehidupan pribadi Ogawa-san. Hanya ada satu orang yang tahu tapi dia sudah tidak tinggal lagi di asrama."
"Berarti salah satu dari ketiga orang yang sudah pindah dari asrama kan? Yang berarti juga kita harus menanyai mereka satu persatu."
"Tidak perlu. Aku sudah tahu siapa dan dimana dia tinggal sekarang tapi dia bukan salah satu dari ketiga orang yang sudah keluar dari asrama, dia adalah sahabat keenam Ogawa-san. Sayangnya, sahabat keenam Ogawa-san ini tidak akan mudah kita tanyai karena hubungannya dengan Ogawa-san tidak baik."
"Sial! Kenapa aku tidak pernah mendapat informasi yang menarik sepertimu Rei-chaaan?" rengek Max setelah mendengar potongan info Rei.
Rei tersenyum kecil melihat tingkah laku Max, "tenang Max aku selalu mengajakmu ikut bukan hanya untuk mencari informasi. Kau punya tugas yang lebih penting dari itu"
"Benarkah? Benarkah itu Rei-chan?" tanya Max dengan mata yang bersinar – sinar, gembira karena Rei mengakui kemampuannya untuk sesuatu yang lebih penting.
"Tentu saja. Aku tidak akan mengajakmu kalau kau tidak punya kemampuan"
"Kalau begitu serahkan saja padaku...apapun itu" katanya menambahkan dengan tidak yakin, "jadi, apa yang harus kulakukan?"
"Kau akan tahu jika saatnya sudah tiba nanti" jawab Rei penuh rahasia. Max ingin memaksanya tapi dia tahu Rei tidak akan pernah memberitahunya apa. Jadi, untuk sementara ini Max menyerah, toh pada akhirnya dia akan tahu juga, bila saatnya tiba.
==Keesokan harinya==
Ting Tong Ting Tong Ting Tong
Rei membunyikan bel sebuah rumah tapi tidak ada yang menjawab atau membukakan pintu. Maka dia pun mencoba sekali lagi. Tapi, sayangnya tetap tidak berhasil.
'Apa benar ini rumahnya?' tanyanya pada diri sendiri.
"Apa kalian ingin bertemu dengan Ninomiya-san?" tanya seorang kakek di sebelah rumah.
"Ya. Apa Ninomiya-san ada di rumah?"
"Ah.. Kalian datang di saat yang tidak tepat saat ini Ninomiya-san ada di rumah sakit"
"Rumah sakit?"
Kakek itu mengangguk, "istrinya kecelakaan tiga hari yang lalu"
"Apa kakek tahu di rumah sakit mana istri Ninomiya-san dirawat?"
"Tentu saja aku tahu karena cucuku yang mengantarnya ke rumah sakit. Kalau kalian mau akan kusuruh cucuku mengantar kalian"
"Yaay terima kasih" seru Max gembira.
Kakek itu tertawa keras melihat reaksi Max, "hahahahahah anak yang ceria sekali. Ayo ayo kalian masuk dulu" katanya mengajak mereka masuk ke dalam.
"Duduklah dulu. Kalian mau minum apa?"
"Ah tidak perlu repot – repot" kata Rei menolak dengan sopan.
"Apa kalian mau soda? Anak muda sekarang entah kenapa seneng banget minum soda" kata kakek itu seolah tidak mendengar penolakan Rei dan menyuguhkan sebotol soda.
"Terima kasih kek" kata Max ceria (dia memang selalu ceria).
"Tolong jangan panggil aku kakek. Aku kan jadi terlihat tua banget"
"Hahahah tapi anda kan memang sudah tua" kata Max lagi dengan ringan.
"Maafkan dia mm.."
"Takashi Kinomiya"(1)
"Maafkan dia Kinomiya-san. Hari ini dia terlalu banyak makan coklat dia jadi agak hyper"
"Hahahahahah tidak apa-apa tidak apa-apa, aku suka anak yang seperti ini mengingatkan pada cucuku" lagi-lagi kakek itu tertawa keras, "astaga! Aku lupa kalian kan kesini bukan untuk bertamu," lau tiba-tiba dia berteriak, "TAKAO!"
"Uhuk uhuk" Max tersedak soda yang sedang diminumnya.
"Oh maaf aku mengagetkanmu ya?" kata kakek itu menyeringai malu.
"Aku uhuk uhuk tidak apa-apa uhuk" kata Max masih terbatuk, Rei menepuk-nepuk punggungnya.
"Argh kemana anak itu? Kalian tunggu sebentar disini ya, aku akan menyeret anak itu kesini" setelah mengatakan itu Kinomiya-san pun melesat pergi. Dan setelah beberapa saat terdengar teriakan dan suara berdebum lalu sunyi kemudian suara langkah kaki.
"Ini cucuku Takao. Takao antarkan mereka berdua ke rumah sakit tempat istri Ninomiya-san dirawat" kata Kinomiya-san.
"Tapi kek..."
"Ayo cepat jangan membantah kakek"
"..." Takao tidak membalas perkataan kakeknya secara verbal hanya menatapnya sambil cemberut.
"Kalau kau tidak mau, aku akan memberitahu ayahmu kalau kau..."
"Ugh baiklah baiklah akan kuantar mereka"
"Nah itu baru cucuku" kata Kinomiya-san sambil menepuk pungung Takao sekuat tenaga.
"Kakek! Sakit tahu!" kata takao sambil mengernyit kesakitan.
Mereka bertiga pun kemudian berangkat ke rumah sakit tempat stri Ninomiya-san dirawat.
"Maaf kami jadi merepotkan" kata Max.
"Ah sudahlah tidak apa-apa, bukan salah kalian. Kakekku memang selalu seperti itu, selalu ingin menolong orang sekalipun itu orang asing. Kalian bukan yang pertama. Kemarin rumah kami hampir kecurian kalau aku saja aku tidak mengawasi orang yang dibawanya entah dari mana" racau Takao, "aku jadi ingat, saat kejadian istri Ninomiya-san pun kakek adalah orang yang paling ribut ingin menangkap pelakunya padahal suaminya masih bisa bersikap tenang. Dia selalu ingin mengurusi masalah orang lain"
"Tapi menurutku kakekmu orang yang baik dan ramah"
"Hmph terlalu baik dan ramah" katanya sambil menekankan kata 'terlalu'.
"Kinomiya-san, sebenarnya apa yang terjadi dengan istri Ninomiya-san?" tanya Rei sebelum Takao melanjutkan racauannya tentang kakeknya lagi.
"Tidak usah formal begitu, panggil saja aku Takao"
"Kalau begitu panggil aku Rei"
"Aku Max" kata Max tanpa diminta.
"Jadi apa kau tahu apa yang terjadi?"
"Tentu saja! Aku melihatnya saat motor itu menabrak istri Ninomiya-san!"
"Menabrak? Maksudmu tabrak lari?"
"Begitulah karena saat itu jalanan di sekitar rumah kami sedang sepi dan istri Ninomiya-san selalu berjalan dengan hati-hati" Takao berhenti sebentar, "menurutku akhir-akhir ini dia agak aneh"
"Aneh?"
Takao menganggukkan kepalanya "Setiap aku bertemu dengannya di jalan, dia pasti sedang berjalan dengan waspada, melihat kanan kiri seakan-akan akan ada yang mengikutinya... dan kalau kusapa dia akan terlonjak kaget. Bukannya itu aneh?"
"Apa dia sudah seperti itu sejak dulu?"
"Hmm tidak dan aku tidak tahu pasti sejak kapan dia mulai begitu karena aku baru pulang sebulan yang lalu. Dan saat aku pulang Midori-san sudah seperti itu" melihat Rei yang kebingungan dia menjelaskan kalau Midori itu nama istri Ninomiya-san.
"Apa kakekmu sadar?" tanya Max sambil menelengkan kepalanya.
Takao menggelengkan kepalanya,"tidak, kakek malah menertawakanku... Aku tahu ini bukan urusanku tapi kalian ini siapa sebenarnya? Dan jangan bilang kalian saudara jauh dari mereka berdua karena yang aku tahu keluarga keduanya tidak mungkin datang mengunjungi mereka" sekarang Takao memandang mereka dengan curiga.
Max menatap Rei, tidak yakin harus menjawab apa. Setelah diam sejenak, Rei memutuskan untuk berkata jujur, karena berbohong di saat seperti ini hanya akan membawa kebuntuan pada kasusnya. Jadi dia pun menceritakan dengan singkat kalau dia sedang mencari orang hilang dan membutuhkan bantuan Midori-san.
"Hmm aku yakin Midori-san akan membantu kalian begitu dia sadar"
"Kuharap begitu" kata Rei dengan sepenuh hati. Karena bila Midori-san tidak mau membantunya dia tidak tahu harus memulai dari mana lagi.
"Pasti! Pasti mau bantu karena Midori-san adalah wanita yang ringan tangan, makanya dia cocok dengan kakek"
Tak terasa mereka pun sampai di rumah sakit tempat Midori-san dirawat.
"Ayo kita masuk" kata Takao.
Rei menganggukkan kepalanya, hatinya sedikit berdebar, berharap Midori-san bisa memberinya sepotong informasi yang bisa membantunya menyelesaikan puzzle misteri ini.
(1) Ini bukan nama asli kakeknya si Takao, soalnya aku ga tahu siapa nama aslinya dan terlalu males buat nyari hahah ^^v (kalau ada yang tahu boleh dong kasih aku heheheh)
Fyuuuh akhirnya chap 3 selese juga setelah nonton bloody Monday sama liar game ditambah baca kindaichi non stop buat nyari inspirasi (yang ternyata ga banyak ngebantu huhu :s)
Jadiii kaya yang udah disebutin tadi diatas, chap3 ini spesial dipersembahkan buat Laila Sakatori 24 n Kai Shadowchrive Noisseggra. Berkat PM mereka berdua aku jadi termotivasi lagi buat nerusin fic ini padahal sebelumnya udah mentok banget dan ga tahu mau diterusin atau ga heum -_-;
Semoga buat yang udah nunggu lanjutan fic ini, ga kecewa pas baca chap3 ini. Jangan bosen baca fic aku ya =D
Kai Shadowchrive Noisseggra: Kai mungkin mulai muncul di chap 6 :)
