KaiRei Fanfiction
Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)
Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!
Summary: I'm not good with this thing, just read it will you?
Enjoy =3
Chapter 4
Takao mengantar mereka dengan langkah yang mantap. Masuk ke dalam lift dan menekan tombol 3. Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saat pintu lift terbuka, Takao melanjutkan tugasnya sebagai pemandu. Setelah berbelok kanan sekali dia berhenti di depan sebuah kamar.
"Ini dia kamarnya, ayo kita masuk. Untunglah sekarang masih jam besuk," katanya sedikit berbisik seolah tidak ingin mengganggu pasien disekitar situ.
Tidak ada yang istimewa dengan kamar tempat Midori-san dirawat. Kamar bercat krem muda dengan pemandangan yang mengarah ke taman rumah sakit yang asri seolah berharap dengan pemandangan asri para pasien akan segera sembuh. Kamar yang terdiri dari 3 tempat tidur itu hanya terisi oleh dua pasien. Di tempat tidur pertama yang terdekat dengan pintu terdapat seorang pria tua yang sedang membaca buku dan satu lagi adalah tempat tidur yang paling dekat dengan jendela. Di samping tempat tidur itu duduk seorang pria dengan bahu terkulai. Rei, Max, dan Takao melangkah ke arah pria itu.
"Keitaro-san," seru Takao sambil menepuk pundak pria itu, yang langsung terlonjak kaget saat bahunya ditepuk, tidak aneh juga karena posisinya yang membelakangi pintu sehingga dia tidak akan tahu apakah ada orang yang masuk atau keluar.
"Ah rupanya kau Takao-kun! Kau mengagetkanku!" katanya sambil mengusap dadanya tanda dia memang kaget setengah mati.
"Hahahah maaf, aku tidak bermaksud mengagetkan," kata Takao sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "bagaimana kondisi Midori-san?"
"Belum ada perubahan," katanya sedih.
"... Mmm kalau tidak mengganggu boleh kita bicara sebentar?" pinta Takao.
Ninomiya-san dan Rei mengikutinya keluar ruangan sementara Max tetap di dalam berbincang dengan pria tua yang juga sedang dirawat disitu. Diluar Takao menceritakan secara garis besar kasus hilangnya Naomi Ogawa.
"Ah ya Midori pernah menceritakannya tapi kurasa walaupun hubungan mereka tidak baik istriku pasti akan membantu kalian. Aku juga sangat ingin membantu kalian tapi sekarang aku tidak bisa pergi sampai Midori sadar," katanya berusaha tersenyum namun usahanya gagal karena matanya terlihat kosong.
"Saya mengerti dengan keadaan Anda, Ninomiya-san," kata Rei, "saya juga tidak ingin memaksa. Anda bisa menghubungi saya kalau Midori-san sudah sadar atau kapan pun saat Anda sudah siap."
Rei pun memberitahukan nomornya agar Ninomiya-san bisa menghubunginya kapan saja.
"Max ayo kita pergi," kata Rei dari ambang pintu, "Ninomiya-san, semoga istri Anda cepat sembuh," tambahnya sebelum pergi.
"Ah ya terima kasih, semoga Naomi Ogawa juga cepat ditemukan ya," katanya.
Mereka bertiga pun pergi dari rumah sakit.
"Nah Rei, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Takao.
"Kurasa ada baiknya mengunjungi kekasih Ogawa-san siapa tahu dia tahu sesuatu yang bisa memberi kita petunjuk walaupun menurut cerita Keiko-san sifatnya agak... sulit," kata Rei berusaha menemukan kata yang tepat tanpa mengatakan hal yang terlalu buruk tentang kekasih Ogawa-san.
"Rei-chan," potong Max tiba-tiba, "aku tidak bisa ikut denganmu."
"Apa ini ada hubungannya dengan Ninomiya-san?" tanya Rei.
Max mengangguk. "Tapi aku belum bisa mengatakan alasannya Rei-chan... Maafkan aku."
"Tidak perlu minta maaf, Max. Jaga saja Ninomiya-san sepertinya saat ini dia memang sedang membutuhkan dukungan," kata Rei teringat ekspresi Ninomiya-san yang hampa.
"Kalau begitu aku akan membantumu untuk menggantikan Max," kata Takao.
"Tidak perlu, kau sudah sangat membantu dengan mempertemukan kami dengan Ninomiya-san," kata Rei.
"Ah jangan sungkan begitu! Kita kan teman," seru Takao sambil tersenyum lebar.
Rei menghela napas, apa yang sebaiknya dia lakukan? Dia tidak ingin melibatkan Takao dalam kasus ini tapi sekarang sangat sulit untuk menolaknya karena dinilai dari sifatnya dia tidak akan mendengarkan perkataan orang lain dan melakukan apa saja sesuai dengan kehendak hatinya. Tapi dari pengalamannya selama ini Rei tahu banyak hal berbahaya yang menunggu di luar sana saat menghadapi kasus seperti ini. Bagaimana kalau nanti Takao harus menghadapi bahaya karena harus membantunya dalam kasus ini? Apa yang akan dia katakan pada keluarganya kalau kecelakaan menimpa Takao saat menyelesaikan kasus ini? Walaupun dari luar Max seperti bocah hiperaktif dan manja tapi sebenarnya Max menguasai aikido (1) jadi Rei bisa tenang karena tahu dia bisa menjaga dirinya sendiri. Nah, bagaimana dengan Takao?
Rei menatap mata Takao beberapa saat, menilai dirinya.
"Aku akan memberitahumu satu hal, Takao. Menangani kasus seperti ini tidak semudah yang kau bayangkan. Kita akan menemui banyak kebuntuan dan kalau kau menjalaninya dengan setengah hati maka kau akan cepat bosan dan meninggalkan kasus ini di tengah jalan. Belum lagi bahaya yang selalu muncul tiba-tiba... Aku bukannya tidak mempercayaimu tapi.."
"Rei dengarkan aku!" potong Takao, "aku membantumu demi Midori-san dan Keitaro-san bukan cuma untuk bermain-main! Lagipula kita kan sudah menjadi teman dan aku tidak suka melihat temanku dalam masalah dan tidak melakukan apapun untuk membantunya."
Rei terdiam mendengar ucapan Takao.
"Setuju atau tidak, aku akan tetap membantumu!" katanya keras kepala.
"Kau tahu? Kau tidak berhak mengatai kakekmu terlalu baik dan selalu mencampuri urusan orang karena kau sendiri juga seperti itu," kata Rei menyerah.
"Hmph aku TIDAK mirip kakek! Aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini!" kata Takao keras kepala.
Rei tertawa kecil melihat kekeraskepalaan Takao, "jangan marah, itu kan kenyataannya. Jam berapa sekolahmu selesai besok?"
"... Sekitar jam 4," kata Takao masih dengan wajah cemberut.
"Baiklah besok jam setengah lima kita bertemu di depan stasiun."
"Tapi sekarang masih jam 2 siang. Masih ada waktu untuk berkeliling mencari informasi!" seru Takao.
"Kurasa dia benar Rei-chan. Ini masih siang, pasti kita masih sempat mendatangi tempat tinggal kekasih Naomi-san sebelum malam," kata Max mendukung Takao.
"Kenapa kalian tiba-tiba bersemangat seperti itu?"
"Aku memang selalu bersemangat!" kata Takao dan Max bersamaan.
Mereka bertiga bertatapan dan tertawa bersama-sama.
"Astaga! Bagaimana kalian melakukan itu? Seperti di buku komik saja!"
"Hahahahahah aku juga tidak tahu Rei-chan,"
Takao tidak memberikan respons apa pun dia masih sibuk tertawa.
'Kurasa membiarkan Takao ikut bukan keputusan yang salah' pikir Rei.
Rei dan Takao berdiri di depan pintu sebuah apartemen kumuh. Max tidak bersama mereka karena dia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit untuk menemani Ninomiya-san.
"Apa benar ini tempatnya?" tanya Takao ragu. "Sepertinya tempat ini sudah tidak ditinggali untuk waktu yang cukup lama."
Rei melihat catatan di bukunya memeriksa apakah alamat yang mereka tuju sudah benar.
"Tapi, aku hanya mendapatkan alamat ini. Atau mungkin dia sudah pindah?"
Takao mengintip ke dalam lewat jendela. "Hmm kurasa memang sudah lama tidak ada orang. Ada banyak koran menumpuk di depan pintu."
"Kita tanya saja tetangganya," kata Rei, "mungkin saja dia belum pindah kalaupun pindah siapa tahu ada yang tahu dia pindah kemana."
Rei mengetuk pintu tetangga kekasih Ogawa-san. Seorang pemuda berkulit hitam membuka pintu.
"Ya?" katanya singkat.
"Maaf mengganggu, saya hanya mau bertanya apakah Shingo Manabe masih tinggal disini?"
"Michael!" teriak pemuda itu ke belakang bahunya dan menoleh kembali kepada Rei, "maaf ya, ini apartemen temanku. Jadi, aku tidak terlalu tahu tentang tetangganya."
"Ada apa Eddy?" tanya seorang pemuda berambut merah muncul dari dalam apartemen.
"Orang ini bertanya, apa tetanggamu masih tinggal disini?"
"Manabe-san," kata Takao mencoba memperjelas.
"Ooh, kurasa begitu... Tapi, aku belum melihat si Shingo semenjak dua minggu yang lalu. Memangnya ada perlu apa kalian dengannya?"
"Ah kami hanya disuruh menyampaikan pesan oleh sepupuku," kata Rei lancar, "maaf sudah mengganggu."
Mereka pun pergi dari apartemen tersebut dengan tangan hampa.
Karena tidak dapat bertemu dengan Manabe-san, Rei memutuskan untuk kembali menggali informasi diasrama Ogawa-san. Dan sekarang sekali lagi Rei duduk di bawah pohon rindang tempat dulu dia berbagi informasi dengan Max, hanya saja sekarang yang duduk disebelahnya bukan Max tapi Takao.
"Wah kurasa asrama itu terkena kutukan?" kata Takao ngeri begitu mereka duduk.
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak tahu? Ada satu orang lagi yang menghilang, namanya Rizuki Honda. Aku melihatnya di papan pengumuman, padahal Naomi Ogawa saja belum ditemukan!"
"Mungkin. Mungkin saja memang terkena kutukan," kata Rei serius.
"Kalau aku jadi mereka aku akan menyelidiki apakah ada pihak yang sengaja mengutuk asarama itu," kata Takao bersemangat.
"Ah sudahlah walaupun asrama itu terkena kutukan, yang terpenting sekarang kita harus menemukan Naomi Ogawa," kata Rei.
'Baik hidup atau mati,' tambahnya tidak senang, tentu saja hanya dalam hati.
"Kurasa kau benar," Takao setuju.
Mereka tidak menemukan informasi tambahan yang berguna. Takao malah mendapatkan lebih banyak informasi tentang Rizuki Honda. Sepertinya, kasus hilangnya Naomi Ogawa bukan lagi menjadi berita hangat di kalangan para penghuni asrama.
"Sepertinya kita mulai buntu, Rei," kata Takao bersandar ke pohon.
"... Kau masih belum menyerah kan Takao?" tanya Rei menyeringai.
"Hmmph aku tidak pernah berhenti ditengah jalan!"
"Baiklah ayo kita pergi," kata Rei sambil berdiri.
"Kemana kita sekarang?"
"Rumah Ogawa-san," jawab Rei singkat.
Setibanya di rumah Ogawa-san, mereka berdua disambut oleh Keiko-san. Dan tanpa membuang waktu, Rei meminta izin untuk memeriksa kamar Naomi-san.
"Ini kamar Naomi-neechan," kata Keiko-san sambil membukakan pintu salah satu kamar di lantai dua.
Rei dan Takao memeriksa kamar itu dengan seksama. Sementara Keiko-san hanya duduk di kursi meja belajar memerhatikan mereka berdua bekerja.
"Ah apa ini?" tanya Takao sambil memperlihatkan selembar kertas.
Rei memeriksanya dengan seksama, "sepertinya kertas ujian kosong."
"Boleh kulihat?" tanya Keiko-san.
Rei menyerahkan kertas itu yang kemudian diperiksa oleh Keiko-san dengan teliti.
"Ehm sepertinya ini draft kertas ujian. Naomi-neechan selalu diminta bantuan oleh profesornya untuk membuat soal ujian."
Tiba-tiba terdengar suara berdebam.
"Suara apa itu?" tanya Rei sedangkan Takao langsung berdiri sambil memasang wajah waspada.
"... Kurasa itu ibu. Tadi pagi dia sedang membongkar loteng mungkin mencari barang untuk diloak. Biar kulihat dulu," kata Keiko-san.
"Mengagetkan saja," kata Takao.
Mereka terus mencari tapi tidak menemukan apapun selain setumpuk kertas ujian kosong seperti yang telah mereka temukan sebelumnya.
"Apa kalian sudah menemukan sesuatu?" tanya Keiko-san sepuluh menit kemudian.
Rei memperhatikannya wajahnya merah dan napasnya memburu.
"Apa kau baik-baik saja, Keiko-san?" tanya Rei khawatir.
"Ah ya, aku hanya disuruh mengangkat kardus yang sangat berat tadi," katanya, "jadi? Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk?"
"Maafkan kami Keiko-san," kata Rei murung, "tapi kami akan terus mencari kakakmu sampai dapat."
"Terima kasih, Rei," kata Keiko-san tersenyum penuh harap.
Setelah berjanji akan menemukan kakaknya, Rei dan takao pun meninggalkan rumah keluarga Ogawa.
Keesokan harinya, saat Rei baru saja bangun dari tidurnya, ponselnya berdering.
"Ya ini Rei. Ada apa Takao?"
"Rei apa kau sudah melihat berita pagi ini?"
"Belum. Memangnya kenapa?" tanya Rei yang langsung bergegas keluar kamar dan menyalakan TV.
Mao yang sedang menyiapkan makan pagi di dapur memandangnya dengan aneh. Sedangkan Lee hanya menyeringai seperti biasa.
Rei tidak percaya dengan apa yang disiarkan di acara tersebut.
"Ini tidak mungkin!" serunya.
"Tapi ini kenyataan, Rei!" kata Takao. "Aku masih belum bisa percaya. Naomi Ogawa sudah meninggal!"
Dan kasus Naomi Ogawa pun ditutup.
(Ga deng bo'ong heheheh :p belom tamat kok untuk kasus ini masih ada satu chapter lagi. Ada yang bisa nebak gimana akhirnya?)
(1) Gomen demi kepentingan plot mari kita asumsikan si Max jago aikido yaa =3
Wuiih akhirnya chapy 4 selese juga =3 ini pertama kalinya aku bikin chapy yang sepanjang ini makasih buat semua yang udah dan masih ngikutin terus cerita ini (terutama ghisa-chan ma Laila Sakatori 24 :D) review dari kalian yang ngasih aku semangat untuk terus nulis cerita ini ;)
Makasih juga untuk editor (cieeee) aku, mari kita sebut saja dengan sebutan kucinggila, yang udah mau baca, ngebenerin tanda baca ma nambahin kalimat supaya fic ini lebih enak dibaca :) semoga kamu berjaya ya dengan novel kamu (ayo tamatin jangan bersambung mulu heheheh :3)
Terus atas masukan dari sang kucinggila juga maka (dung dung dung) fic ini naik ratingnya jadi T huwooo.. Abis katanya masa ada konten BLnya masuk ke K+ hahahah jadilah sekarang fic ini migrasi ke T rated..
Oia seriusan nih, menurut kalian akhir kasus ini kaya gimana? *think like agatha christie, that way you may find the answer :D
