KaiRei Fanfiction

Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)

Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!

No flame please m(_ _)m

Summary: I'm not good with this thing, just read it will you?

Thanks to each of you who still stick with my fic :D

Enjoy =3

Chapter 5

Hari itu untuk pertama kalinya Rei membolos sekolah. Segera setelah menyaksikan berita mengenai kematian Naomi-san, Rei langsung pergi ke kediaman keluarga Ogawa. Di jalan dia menghubungi Keiko-san tentang berita itu juga menyuruhnya agar tidak panik dan tetap tenang. Sesampainya di kediaman Ogawa-san, Rei langsung ditabrak oleh Keiko-san yang histeris.

"Rei-san! Ini... ini... tidak mungkin! Tidak mungkin Nee-chan!" isaknya. "Oh! Ini pasti mimpi! Mimpi yang sangat buruk!"

"Keiko, tenanglah! Belum pasti kalau Naomi yang ada di berita itu adalah Naomi yang kita tahu," kata seorang lelaki yang muncul dari dalam rumah.

"Tapi Kin-niichan bagaimana kalau... kalau.." Keiko-san tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.

"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja," katanya menenangkan. Lalu pria itu berpaling kepada Rei, "kau pasti Rei, Keiko sudah menceritakan tentang dirimu. Ayo lebih baik kita masuk dulu."

Pria itu membalikkan badan dan membimbing Keiko-san yang masih terisak masuk kembali ke dalam rumah. Rei mengikutinya. Di dalam Rei dipersilakan duduk sementara pria itu pergi mengambilkan minuman untuk mereka bertiga setelah mendudukkan adiknya di sebuah sofa.

"Anda pasti saudara tertua Keiko-san?" tanya Rei segera setelah pria itu meletakkan gelas-gelas berisi teh hangat.

"Benar. Maaf tadi aku belum memperkenalkan diri. Namaku Kintaro Ogawa, tapi panggil saja aku Kintaro," jawabnya.

Rei bingung harus memulai percakapan darimana karena biasanya disaat seperti inilah Max yang maju ke depan. Tapi, untungnya Kintaro-san yang memulai percakapan.

"Aku berencana pergi ke lokasi dimana mereka menemukan Naomi untuk memastikan apakah benar itu dia atau bukan... Apa kau mau ikut dengan kami?"

"Tentu saja saya akan ikut! Sebenarnya rencana saya setelah ini pun memang pergi ke sana," jawab Rei.

Tidak sampai 5 menit kemudian mereka sudah di dalam mobil Kintaro-san dan melesat ke lokasi ditemukannya jenazah Naomi-san. Sepanjang perjalanan, Rei bertanya tentang kehidupan pribadi Naomi-san tapi sayangnya deskripsi yang diberikan Kintaro-san tidak selengkap apa yang diberitahukan oleh Keiko-san. Sepertinya Naomi-san tidak banyak menceritakan kehidupan pribadinya pada kakak laki-lakinya. Tapi, sebaliknya Kintaro-san tahu banyak soal kegiatan akademik dan prestasi Naomi-san.

Berdasarkan cerita Kintaro-san, Naomi-san memang anak yang cerdas sejak kecil. Selain itu, yang membuatnya semakin menonjol adalah kemauannya untuk bekerja keras. Tidak hanya prestasi akademik tapi Naomi-san juga menyukai seni bermain peran. Dan katanya dua tahun yang lalu klub drama universitasnya memenangkan perlombaan tingkat nasional berkat aktingnya yang luar biasa. Namunsetelah memenangkan perlombaan itu, Naomi-san berhenti dari klub drama karena dia memutuskan untuk lebih fokus pada karir akademiknya. Ia ingin lebih berkonsentrasi meraih posisi asisten profesor.

"Saat itu dia begitu bersemangat! Tapi ada satu hal yang membuatnya ragu-ragu untuk mendapatkan posisi itu," kata Kintaro-san dengan nada kesal.

"Apa itu?" tanya Rei.

"Hal yang membuatnya ragu-ragu adalah saingannya. Kau tahu siapa saingannya? Dia adalah Midori, sahabatnya sendiri! Dia bahkan sempat berpikir untuk mengundurkan diri. Akibat keragu-raguannya itu dia gagal menjadi asisten profesor dan selama itu dia menjadi sangat pendiam tapi tidak lama kemudian profesornya memutuskan untuk menjadikan Naomi sebagai asistennya karena dari segi mana pun Naomi itu jauh lebih hebat dari Midori. Kurasa, profesornya menyadari kesalahannya itu. Untunglah dia cepat sadar! Rugi sekali kalau dia membuang bakat Naomi sia-sia!" Keitaro-san bercerita dengan berapi-api.

"Tapi Kin-niichan, Naomi-neechan merasa sedih dan bersalah karena setelah itu Midori-chan tidak dapat melanjutkan risetnya. Akibat posisinya sebagai asisten profesor dicabut, riset yang sedang dikerjakannya diberikan pada Nee-chan dan entah kenapa profesornya tidak membiarkan profesor lain memberikan riset pada Midori-chan, padahal kondisinya saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan riset mandiri. Sehingga akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari universitas," kata Keiko-san dari bangku penumpang.

"Ah itu sih salahnya sendiri! Pasti dia melakukan sesuatu yang tidak pantas. Aku pernah dengar dari adik temanku kalau pernah ada kasus jual-beli soal ujian oleh salah seorang asisten profesor. Itu pasti Midori!" balas Kintaro-san panas.

"Jangan berbicara hal yang buruk tentang Midori-chan, bagaimana pun dia adalah teman baik Naomi-neechan!" tegur Keiko-san.

"Ck, dasar perempuan!"

"Kalau boleh tahu siapa nama profesornya Naomi-san?" tanya Rei segera untuk mengalihkan pokok pembicaraan karena dia melihat Keiko-san sudah mengerutkan wajahnya dan bersiap untuk membalas perkataan kakaknya.

"Hmm.. kalau tidak salah namanya Nakasu Sanai. Dia itu profesor terkenal, makanya banyak yang ingin menjadi asistennya," kata Kintaro-san.

"Wah kalau begitu pasti banyak yang iri pada Naomi-san ya?"

"Tidak!" sanggah Keitaro-san cepat, "walaupun Naomi punya banyak prestasi dia tidak pernah punya musuh. Iya kan Keiko? Oh! Mungkin kecuali Midori! Dia itu pasti menaruh dendam terhadap Naomi!"

"Nii-chan! Sudah kubilang hentikan menjelek-jelekkan Midori-chan! Tapi, memang Nee-chan tidak punya musuh."

Setelah itu, Rei tidak banyak berbicara lagi karena sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan kedua saudara itu membicarakan sesuatu tentang masalah keluarga mereka dan sesuatu tentang asuransi. Tanpa terasa mereka sudah sampai. Tempat tujuan mereka adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan. Begitu tiba, mereka langsung pergi ke kantor kepala desa dan menjelaskan maksud kedatangan mereka. Kepala desa mengantarkan mereka ke klinik desa, rupanya jenazah Naomi-san sudah dipindahkan ke sana.

Begitu pintu ruangan dimana jenazah Naomi-san berada dibuka, Keiko-san langsung menghambur ke dalam diikuti Keitaro-san yang berjalan tergesa-gesa. Ketika melihat jenazah yang terbaring di situ, Keiko-san berusaha untuk tidak pingsan, sementara itu Kintaro-san hanya memalingkan wajahnya. Keduanya terlihat sangat shock.

"Sebaiknya kau tidak usah melihatnya, kondisinya sangat buruk," kata kepala desa pada Rei. Wajahnya mengernyit teringat kembali bagaimana rupa jenazah itu.

"... Saya perlu, harus, melihatnya. Saya masih berharap saya bisa membuktikan kalau jenazah ini bukanlah orang yang saya cari," kata Rei.

Kepala desa hanya mengangkat bahunya, yang penting dia sudah mengingatkannya. Rei menghela napas dalam-dalam, menyiapkan hatinya untuk apapun yang akan dihadapinya nanti.

Rei menyadari bahwa kesiapan hati seperti apapun yang dimilikinya sekarang jelas sama sekali tidak membantu. Melihat jenazah yang kondisinya sudah tidak dapat dikenali lagi bukanlah pemandangan indah. Rei merasa perutnya sedikit mual (untunglah dia tidak sarapan tadi) dan berusaha untuk tidak berlari keluar ruangan itu.

"Ini... ini.. memang Naomi," kata Kintaro-san dengan susah payah.

"Bukan! Ini bukan Naomi-neechan!" Keiko membantah, wajahnya sangat pucat.

"... Keiko akuilah. Ini memang Naomi. Lihatlah dia memakai jam tangan yang kau berikan untuk ulang tahunnya."

"Bukan! Pasti..bukan!" Sekarang air mata mulai membanjiri wajah Keiko-san dan dia mulai menangis tanpa suara, seluruh tubuhnya gemetaran.

Melihat Keiko-san yang mulai histeris, kepala desa menawarkan dirinya untuk mengantarnya keluar dari ruangan itu. Begitu mereka pergi Kintaro-san berbalik menghadap Rei dan mengatakan dengan yakin kalau itu memang Naomi-san. Wajahnya sangat pucat dan dia terlihat berusaha keras menahan emosinya.

"Kintaro-san ayo kita keluar," ajak Rei dengan lembut.

Dia hanya mengangguk. Mereka berdua duduk di bangku ruang tunggu klinik.

"Ini tidak mungkin.. Ini pasti cuma mimpi! Tidak mungkin! Naomi... Tidak mungkin," bisik Kintaro-san terus menerus.


Rei duduk di atap sekolah sambil melamun. Pikirannya masih dipenuhi dengan kasus Naomi Ogawa. Berdasarkan keterangan Kintaro-san dan Keiko-san (yang akhirnya bisa menguasai diri lagi) jenazah itu memang Naomi-san dan setelah itu mereka berdua mengurus proses pemakaman Naomi-san. Pihak berwajib menyimpulkan bahwa penyebab kematiannya adalah kecelakaan. Tapi, Rei merasa ada sesuatu yang salah, namun tidak tahu letak kesalahannya dimana. Satu-satunya yang bisa membuktikan hal itu hanya perasaan mengganjal dihatinya. Entah kenapa perasaannya tidak enak.

Rei sudah menceritakan perasaan tidak enaknya kepada Takao dan Max, tapi keduanya tidak menanggapi dengan serius. Takao bilang mungkin itu hanya perasaan bersalah karena tidak dapat menemukan Naomi-san dalam keadaan hidup. Max bilang tidak perlu dipikirkan yang penting masalahnya sudah selesai. Anak itu kemudian mengingatkan Rei kalau dia masih punya satu permohonan lagi untuk mencari orang hilang dan harusnya dia memfokuskan dirinya pada kasus selanjutnya.

Rei menghela napas kemudian bangkit dan berjalan menuju ruang komputer. Seperti biasa, disana hanya ada Kenny.

"Hai Chief," sapa Rei.

"Rei! Sudah lama kau tidak datang. Aku sedikit kesepian di sini," balas Kenny hangat.

"Kukira kau sudah mau turun ke kantin, Chief?"

"Aku sudah mencobanya sekali tapi suasana di sana terlalu ribut. Membuatku sakit kepala."

"Chief," Rei ragu sebentar, "...aku mau minta tolong."

Kenny mengangkat alisnya keheranan karena sebelumnya Rei tidak pernah meminta pertolongannya.

"Tentu saja aku akan membantumu selama aku bisa. Itu gunanya teman 'kan?" kata Kenny sambil menyeringai.

Rei tersenyum lega dan mengutarakan permohonannya.


Sore harinya, bel akhir sekolah berbunyi nyaring tapi suara yang menyambutnya terdengar lebih nyaring lagi. Rei berjalan lemas keluar sekolah, kepalanya sakit karena terlalu banyak memikirkan kematian Naomi-san, tapi hari ini dia sudah menetapkan hatinya untuk pergi menemui kliennya yang kedua. Kali ini dia hanya sendirian karena Max masih menunggui Midori-san bersama Ninomiya-san, sementara itu Takao sedang mengikuti kejuaraan Kendo di luar kota. Ternyata dia adalah juara kendo tingkat daerah. Rei merasa kekhawatirannya dulu terhadap keselamatan temannya itu jadi terbuang sia-sia.

Setengah jam kemudian, Rei sudah sampai di depan apartemen kliennya. Dia menekan bel sekali. Dari dalam terdengar suara langkah terburu-buru.

"Ya?" tanya seorang pria yang membukakan pintu.

"Apakah anda Hijiri-san?" tanya Rei.

"Ya benar. Ada perlu apa denganku?"

"Saya Rei Kon. Anda meminta bantuan saya untuk mecari.."

"Ah! Tentu saja! Ayo ayo masuk!" potong pria itu sambil mempersilakan Rei masuk.

Saat Rei masuk ke dalam, dia merasa ada sesuatu yang ganjil dengan apartemen itu tapi tidak tahu apa.

'Mungkin aku sudah kehilangan kemampuan deduksi-ku,' pikir Rei murung.

Pria itu pergi ke dapur setelah mempersilakan Rei duduk dan kembali dengan segelas minuman. Dia segera menceritakan masalahnya setelah menyuguhkan minuman untuk Rei.

Singkatnya, orang yang hilang kali ini adalah sepupunya yang bernama Ryouta Yamada. Mereka berdua bekerja di sebuah stasiun televisi. Kira-kira seminggu yang lalu, Yamada-san keluar membeli makanan seperti biasa. Namun karena ia tak kembali juga setelah tiga jam, barulah Hijiri-san pergi mencarinya. Tapi, Yamada-san tidak dapat ditemukan di manapun.

"Apakah anda sudah melaporkannya pada pihak kepolisian?"

"Tentu saja! Aku kan m..." dia langsung terdiam, "ehem maksudku tentu saja aku langsung menghubungi polisi saat itu juga! Tapi sampai sekarang mereka belum menemukan jejak Ryou sedikit pun!"

Rei memicingkan matanya, dia merasa kliennya ini menyembunyikan sesuatu darinya. Namun untuk saat ini dia akan membiarkannya dulu. Sebelum Rei bisa berkata apapun lagi, Hijiri-san melanjutkan lagi.

"Oh ya, selain meminta bantuanmu aku juga sudah meminta bantuan pada beberapa detektif swasta. Dan mengenai bayarannya aku akan membayarmu setengahnya dimuka dan sisanya akan kuberikan kalau kau berhasil menemukan Ryou."

"Anda tidak menyebutkannya saat meminta saya mencari sepupu Anda," kata Rei. Dia mulai tidak menyukai kliennya ini.

Hijiri-san hanya mengangkat bahu. "Kalau kau tidak mau menerima tawaranku, silahkan pergi sekarang. Lagipula kamu 'kan hanya salah satu dari mereka yang kuminta untuk mecari Ryou!"

Rei menghela napas. "Tenanglah Hijiri-san. Saya akan menerima kasus ini," kata Rei singkat. Walaupun sikap kliennya membuatnya kesal tapi bayarannya (walaupun hanya setengahnya saja) tidak sedikit jadi dia terpaksa harus bersabar sebentar lagi.

Setelah membicarakan masalah bayaran dan sedikit informasi lagi tentang Yamada-san, Rei pun pulang. Di jalan, Rei baru menyadari kalau badannya bertambah lemas dibandingkan saat dia keluar sekolah tadi dan kepalanya sangat sakit. Kemudian saat berbelok dia bertubrukan dengan seseorang membuatnya limbung, untunglah orang itu menangkapnya disaat yang tepat kalau tidak dia pasti sudah jatuh terjembap.

"Ah! Maafkan saya!" kata Rei terbata-bata. Seketika napasnya tertahan saat melihat orang yang ditubruknya. Orang yang ditubruknya adalah seorang pemuda tampan seumuran dirinya. Warna rambutnya tidak biasa karena terdiri dari dua warna, bagian depan rambutnya berwarna keabuan dan belakangnya berwarna biru tua. Dan yang paling membuat Rei tertegun adalah matanya yang berwarna merah memandangnya dengan tajam.

"Kau tidak punya mata?" sembur pemuda itu.

Kata-katanya yang kasar menyadarkan Rei. Segera saja dia melepaskan diri dari pemuda itu. "Maafkan aku! Aku benar-benar sedang tidak memperhatikan jalan."

"Hn," hanya dengan itu, pemuda itu pun mulai beranjak pergi, tapi Rei masih bisa mendengarnya berkata, "lebih baik kau pergi ke dokter."

Rei melihat punggung pemuda itu yang dengan cepat tidak terlihat lagi ditelan kerumunan manusia yang berseliweran di jalan.

Malam harinya Rei terkena demam dan langsung teringat perkataan pemuda yang ditabraknya di jalan tadi.


"Rei sebaiknya kau tidak usah masuk," kata Mao khawatir.

"Aku baik-baik saja, Mao," kata Rei berusaha meyakinkan sepupunya.

"Istirahat sehari tidak akan membunuhmu Rei," kata Lee.

"Aku baik-baik saja," kata Rei keras kepala.

Setelah mendapat banyak nasehat dan sebungkus obat flu dari Lee serta satu kotak makan siang dari Mao, Rei pun akhirnya diizinkan untuk pergi ke sekolah.

Sebenarnya Rei juga tidak ingin masuk sekolah hari ini, tapi dia ingin membicarakan sesuatu dengan Kenny dan Max tentang kasus Naomi-san. Ya! Dia masih penasaran dengan kasus Naomi-san. Hati kecilnya mengatakan kalau kasus Naomi-san bukan hanya kecelakaan saja.

Setelah 4 jam yang terasa menyiksa akhirnya bel istirahat berdering. Tanpa membuang waktu, Rei langsung mencari Max.

"Max!" panggil Rei.

"Rei-chan!" balas Max sambil tersenyum lebar. "Rei-chan, apa kau baik-baik saja? Wajahmu merah sekali. Apa kau sakit? Kau sebaiknya istirahat! Kenapa kau masih disini? Ayo kita ke ruang kesehatan!" seperti dugaannya Max langsung mencecarnya dan menyeretnya ke ruang kesehatan.

"Max, aku baik-baik saja. Aku akan pergi ke ruang kesehatan setelah ini tapi sebelumnya ayo ikut aku dulu," bujuk Rei.

"Hah? Kemana?"

Kali ini giliran Rei menyeretnya ke ruang komputer. Begitu membuka pintu ruang komputer, Rei langsung disambut oleh Kenny seperti biasa.

"Rei! Aku sudah mendapat informasi yang kau inginkan... Apa kau baik-baik saja Rei?"

"Aku baik-baik saja Chief. Bisakah kau ceritakan apa yang kau dapatkan?"

Kenny memberikan beberapa lembar kertas pada Rei. Max mengintipnya dari belakang bahu Rei.

"Rei-chan! Kau masih saja mengurusi kasus itu? Bukannya semuanya sudah selesai?" tanya Max.

"Belum Max. Aku yakin masih ada sesuatu dibelakang kematian Naomi-san."

"Chieeef~ bantu aku meyakinkan Rei-chan untuk berhenti bekerja sia-sia," Max memohon pada Kenny.

Kenny hanya tertawa kecil melihat kelakuan Max yang selalu saja seperti anak kecil. "Max, Rei itu keras kepala. Kalau kau menyuruhnya untuk berhenti dia justru tidak akan mau berhenti."

Rei mendengus mendengar komentar Kenny. "Kalau begitu sebaiknya kalian berdua membantu teman kalian yang keras kepala ini supaya dia bisa beristirahat secepatnya," katanya. Membuat Kenny tertawa dan Max, entah kenapa, merengut.

"Pertama Kenny. Kalau bisa maukah kau mencari segala sesuatu tentang informasi pribadi Naomi Ogawa?" tanya Rei. "Bukan cuma berita-berita tentang prestasinya saja tapi soal sepele seperti gosip yang ada disekitarnya."

"Tentu," sahut Kenny. Dia mulai bekerja. Jari-jarinya bergerak lincah diatas keyboard.

"Max, apakah Midori-san sudah sadar?" Rei mengalihkan pandangannya pada Max.

"Belum," katanya murung.

"Maukah kau langsung memberitahuku kalau Midori-san sudah sadar?"

"Ah itu sih tidak perlu kau suruh pun pasti sudah kulakkan."

Rei tersenyum mendengar pernyataan Max kemudian dia melanjutkan sambil menunjukkan foto seseorang, "satu lagi, apa kau tahu orang ini?"

"Oh! Itu kan Ryoushi Yamada!"

"Hah? Siapa?" taya Rei bingung.

"Dia penyanyi yang sedang naik daun," kata Kenny memberi masukan.

Mata Max bersinar-sinar. "Rei-chan, apakah dia..."

Sebelum Max menyelesaikan perkataannya, Rei mengangguk.

"Wah sayang sekali aku tidak bisa menemanimu Rei-chan. Aku masih harus menunggui Midori-san," kata Max kecewa.

"Lebih baik kau menunggui Midori-san sekarang karena kalau kau menemaniku pun kau tidak akan bisa bertemu dengan Yamada-san. Dia sudah menghilang sejak seminggu yang lalu," Rei menjelaskan pada Max.

Kemudian, dia menghubungi Takao dan memintanya kembali ke asrama Naomi-san segera setelah pertandingannya selesai.

Setelah itu, Max dan Kenny berhasil memaksa Rei unguk beristirahat di ruang kesehatan. Sayang, otaknya tidak bisa beristirahat. Dia berencana akan menemui Hijiri-san sekali lagi tapi tentu saja bukan hari ini karena dia merasa kepalanya seperti mau pecah.


Huwaaa maaf ternyata kasus Naomi belum bisa selese di chapter ini *A* ada sedikit perubahan di plot ceritanya -_-;

Terus aku juga ga mau ngasih clue gimana akhirnya heheh I'm sorry for my selfishness ^^; but I guarantee you that in the next chapter you will find the truth about Naomi's case so bear with me here 'kay?

Makasih buat review dari Ghisa-chan ma Laila Sakatori 24 seperti biasa :D tunggu chapy selanjutnya ya buat tahu jawaban kalian bener atau ga hahay (peace ah ^^v)

Makasih juga buat editor aku sang kucinggila, semoga ga jadi gila setelah ngebenerin tanda baca ma kalimat-kalimat aneh di fic ini hahahahah ;) maaf kalau ga semua masukan kamu aku pake heuu -_-;

Buat Kai Shadowchrive Noisseggra (masih ngikutin fic ini kan?): tuh udah muncul looh :3 (bisa nebak ga?) aku kasih di chapter ini jaga-jaga kalau di chapy selanjutnya ga bisa dimunculin :)