KaiRei Fanfiction

Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)

Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!

No flame please m(_ _)m

Thanks for all the reviewers :D

Enjoy =3

Chapter 6

Akibat flu yang dideritanya, Rei tidak masuk sekolah selama tiga hari. Walaupun merasa tersiksa karena tidak dapat pergi kemana pun, Rei merasa terhibur karena ketiga temannya selalu datang menjenguk. Dari hanya sekedar mengobrol, memberikan salinan catatan sekolah hari itu, sampai memberikan semua informasi tentang Naomi-san yang dimintanya.

Semua informasi tentang Naomi-san sudah ada ditangannya, sekarang bahkan sampai ke detail terkecil. Kemampuan hacking Kenny dan kemampuan bergosip Takao memang tidak ada duanya.

Sekarang Rei sedang ada di atap sekolah, seperti biasa masih memikirkan tentang kematian Naomi-san.

'Apa yang dilakukan Naomi-san di desa itu? Padahal seharusnya saat itu dia berada di kota lain untuk menyelesaikan risetnya. Apakah dia dipaksa datang kesana? Kalau iya, kenapa? Oleh siapa? Lalu menghilang kemana kekasihnya? Apa dia yang memaksanya pergi ke desa itu untuk membunuhnya? Lalu kabur begitu saja? Apa motifnya? Atau memang seperti yang sudah diberitakan, kalau penyebab kematiannya hanya kecelakaan biasa?'

Semua pertanyaan itu membuat kepala Rei pening.

'Aku harus mengikuti nasihat Max untuk berhenti memikirkan kasus Naomi-san. Setidaknya aku akan beristirahat dulu sampai kepalaku bisa digunakan dengan benar tanpa perlu memakan obat sakit kepala,' pikir Rei pahit.

Jadi, untuk mengalihkan perhatiannya dari kasus Naomi-san, sepulang sekolah Rei langsung pergi ke flat (1) kliennya yang kedua. Ada masalah yang harus segera dibicarakan dengan Hijiri-san.

Rei membunyikan bel. Dan seperti sebelumnya, dari dalam terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

"Ya?" Hijiri-san membukakan pintu. Wajahnya lebih kusut daripada saat pertemuan terakhir mereka. "Kau rupanya! Hmm siapa namamu? Aku lupa. Tunggu sebentar.. Ah ya aku ingat! Rei Kon kan? Masuklah. Apa kau sudah menemukan Ryou?" tanyanya sambil mengajak Rei masuk dan menyuruhnya duduk di salah satu sofa di ruang keluarga.

"Saya belum menemukan Yamada-san," kata Rei tenang.

"Lalu untuk apa kau kesini? Bukankah uang mukanya sudah kukirim ke rekeningmu?" bentak Hijiri-san.

"Saya datang ke sini untuk meluruskan beberapa hal dengan anda Hijiri-san... Anda boleh menyebut saya amatir dibandingkan dengan dektektif swasta lainnya tapi tolong hargai saya. Saya berharap anda bisa bersikap terbuka pada saya. Bagaimana saya akan menemukan sepupu anda kalau anda terus menyembunyikan sesuatu dari saya?" kata Rei yang masih menjaga suaranya tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa kesalnya pada sikap tertutup Hijiri-san.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," kata Hijiri-san kebingungan. Atau pura-pura bingung? Entahlah Rei tidak yakin. Tapi sebentar lagi dia akan tahu kebenarannya.

"Ah, anda masih belum mau jujur? Baiklah, bagaimana kalau dimulai dengan foto yang anda berikan ini?" tanya Rei sambil menunjukkan foto Yamada-san.

"Memangnya apa yang salah dengan foto itu?"

"Saya punya seorang teman, Hijiri-san. Dia bisa mengenali orang dengan cepat walaupun penampilannya berubah drastis. Dan saat saya menunjukkan foto ini, apakah anda tahu nama siapa yang dia sebutkan?"

Hijiri-san terdiam, sekarang Rei bisa melihat ekspresi wajahnya mulai berubah menjadi panik. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Seperti sedang memikirkan alasan.

"Dia, Hijiri-san, mengatakan pada saya kalau orang yang ada difoto ini adalah Ryoushi Yamada. Anda pasti tahu kan? Penyanyi yang akhir-akhir ini sedang naik daun."

"... Memang banyak orang yang bilang kalau Ryou mirip dengan artis itu," kata Hijiri-san setelah diam sesaat.

Rei menghela napas. "Sudahlah hentikan kebohongan anda itu! Ryoushi Yamada dan Ryouta Yamada adalah orang yang sama kan?"

Hijiri-san menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Rupanya anda masih tidak mau jujur ya? Sayangnya bukan hanya foto itu bukti yang saya punya. Dulu saat pertama kali datang kesini, saya merasa ada yang aneh dengan tempat ini tapi saat itu saya tidak tahu apa. Sekarang saya sudah mengerti... Suasana flat ini tidak hidup. Apa artinya? Artinya, flat ini hanya digunakan sebagai kedok. Kedok anda untuk merekrut orang yang akan mencari Yamada-san. Saya berani bertaruh hanya ruangan ini yang diberi perabotan lengkap."

Mendengar penjelasan Rei, wajah Hijiri-san menjadi pucat.

"Saya tidak tahu kenapa anda menyembunyikan masalah ini. Menurut saya pribadi, masalah ini sangat sederhana. Yamada-san pasti diculik oleh salah satu fans fanatiknya. Daripada membayar banyak detektif swasta bukankah lebih mudah kalau anda menghubungi polisi untuk.."

Kata-kata Rei dipotong oleh Hijiri-san. "Mana mungkin aku menghubungi polisi? Kalau aku menghubungi polisi, maka pihak media akan segera tahu. Sebentar lagi akan ada konser dan kalau pihak media tahu Ryou menghilang, bisa jadi bencana! Bencana!" kata Hijiri-san yang tiba-tiba berdiri kemudian berjalan mondar-mandir sambil menjambaki rambutnya. "Sekarang aku masih bisa menjauhkan hidung para wartawan itu dari masalah ini. Tapi, tentu saja, tidak akan bertahan lama. Pasti cepat atau lambat mereka akan segera tahu. Bencana! Ini bencana! Sebagai manajer dan sebagai sepupunya, aku sudah gagal menjalankan tugasku." Hijiri-san terus saja berbicara dengan cepat. Dan dari nada suaranya sebentar lagi bisa saja dia akan menghantam perabotan disekitarnya karena stress yang bertumpuk.

"Hijiri-san! Saya mohon, tenanglah!" kata Rei sambil memaksa Hijiri-san untuk duduk kembali.

"Bagaimana ini? Bagaimana kalau Ryou celaka?" tanyanya pelan.

"Dia baik-baik saja Hijiri-san," kata Rei menenangkan. "Saya pasti akan menemukannya. Percayalah!" kata Rei meyakinkan.

Hijiri-san mengangkat kepalanya.

"Benarkah? Kau akan menemukannya?"

Rei mengangguk.

"Terima kasih... Maafkan aku tidak memberitahumu hal yang sesungguhnya dari awal. Sebagai manajernya aku tidak ingin ada skandal yang menyebar akibat hilangnya Ryou. Terutama sebelum konser seperti saat ini, karena akan berpengaruh terhadap popularitasnya. Belum lagi, reaksi para fans gila Ryou..pasti akan membuatku ikut gila juga." Selama menumpahkan kerisauannya, Hijiri-san terlihat 5 tahun lebih tua. Sepertinya dia benar-benar tertekan.

"Apa Yamada-san mempunyai fansclub resmi? Kalau ada, boleh saya minta daftarnya?"

Hijiri-san bangkit lalu masuk ke dalam sebuah kamar. Tak lama kemudian dia kembali dan membawa laptopnya. Sambil membuka laptop, yang diletakannya di atas meja, dia bertanya, "Apa kau yakin mau menelusuri semuanya? Jumlah mereka ratusan lho!" Dari nada suaranya jelas dia tidak percaya.

"Saya punya metode, Hijiri-san. Oh ya, akan lebih baik kalau ada data diri lengkap dari setiap fans."

"Hmm tentu tentu saja ada. Akan kuberikan untukmu semua datanya."

Sambil menunggu data fans yang sedang di-burn di sebuah cd, mereka berdua mengobrol.

"Kau benar Kon-san, memang hanya ruangan ini yang berperabotan lengkap. Bagaimana kau bisa tahu? Padahal aku sudah berhati-hati sekali."

"Panggil saja Rei. Saya tahu karena tidak ada suara TV," kata Rei singkat.

"Suara TV? Hanya itu?"

Rei mengangkat bahu. "Karena di rumah saya ada seorang pria yang tidak bisa hidup tanpa menonton TV. Dalam suasana apapun – sedih, senang, kecewa, marah – dia tidak pernah tidak menonton TV! Lagipula kalau saya jadi Anda, hijiri-san, saya akan terus memantau berita di TV setiap saat siapa tahu ada berita yang berkaitan dengan keberadaan Yamada-san."

"Bagaimana kalau aku memantaunya lewat radio?"

"Maaf, tapi saya juga tidak mendengar suara radio di sini. Jangan bilang juga kalau anda menunggu kabar dari para detektif yang anda sewa. Kalau saya ada di posisi anda, saya tidak akan tahan menunggu kabar dari mereka. Saya akan menyalakan TV, radio, membeli koran, atau apapun untuk memantau semua berita yang ada, dengan harapan akan ada kabar tentang Yamada-san. Anda tidak melakukan itu semua di sini karena anda pasti melakukannya di tempat lain yaitu di kantor anda. Di sana saya yakin banyak orang yang memantau setiap berita dari yang besar sampai yang paling kecil dan dianggap tidak penting."

"Bagaimana..." kata Hijiri-san sambil memandangnya dengan heran.

"Selain itu juga, saat saya pertama datang kesini lampu ruangan ini yang menyala sedangkan lampu ruang keluarga anda dimatikan. Lihat bukankah sekarang juga begitu?" tanya Rei sambil menunjuk ke arah ruang keluarga. "Berarti selama ini anda menunggu di ruangan ini 'kan? Mmm lalu tidak ada bau masakan padahal seharusnya sudah masuk jam makan malam. Walaupun tentu saja, hal ini tidak bisa menjadi bukti kuat.

"Lalu yang paling krusial adalah ketika teman saya memberitahukan kalau orang yang ada di foto itu adalah Ryoushi Yamada. Saya percaya kemampuannya dalam hal mengenali orang. Dia tidak pernah salah selama ini jadi pasti kali ini pun kemungkinan besar dia benar. Ditambah sikap anda yang mencurigakan. Yaaah, pokoknya semuanya cocok dan kesimpulannya seperti yang sudah anda tahu," jelas Rei sambil menghitung dengan jarinya berapa bukti yang dia punya.

Sekarang Hijiri-san memandangnya kagum. "Luar biasa! Padahal para detektif itu tak ada yang sadar!"

Rei mengangkat bahu lagi, tidak tahu bagaimana harus menjawab pujian itu.


"Rei-chan! Rei-chan!" teriakan Max sudah bisa didengar sebelum dia masuk kedalam kelas Rei.

"Ada apa Max? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?"

"Midori-san sudah sadar!"

"Apa? Ayo kita pergi sekarang!" kata Rei meraih tasnya.

"Hei, Rei! Kau mau pergi kemana?" tanya Robert, ketua kelasnya.

"Aku harus menjenguk seseorang," jawab Rei sambil lalu.

Sesampainya di rumah sakit mereka langsung disambut oleh Keitaro-san yang tersenyum lebar.

"Sekarang dokter sedang memeriksanya," katanya berseri-seri.

Max tidak berkata apapun tapi dia langsung memeluk Ninomiya-san. Sepertinya Ninomiya-san sudah terbiasa dengan kebiasaan Max karena dia hanya menepuk kepalanya tanpa menunjukkan rasa kaget sedikit pun.

"Saya ikut gembira, Ninomiya-san," kata Rei sambil tersenyum lebar.

Ninomiya-san mengangguk senang dan menggiring keduanya sampai ruang tunggu di luar ruang periksa dan menunggu Midori-san keluar. Setengah jam kemudian, Midori-san diantar keluar oleh seorang perawat. Ninomiya-san langsung mengambil alih pegangan kursi roda istrinya dari perawat itu. Perawat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, geli melihat tingkah suami pasiennya ini.

Mereka berlima berjalan menuju kamar Midori-san. Tak ada seorang pun yang berbicara maupun berusaha memulai percakapan. Sesampainya di kamar Midori-san, perawat itu langsung mengambil alih kendali. Memberikan banyak instruksi dan petunjuk sesuai arahan dokter yang biasa dilakukan oleh perawat-perawat baik lainnya.

Saat perawat itu sudah pergi, Midori-san angkat bicara. "Kau pasti Max?" katanya sambil menatap Max. Max mengangguk malu-malu. "Kemarilah," katanya kemudian dia memeluk Max dengan hangat. "Terima kasih sudah menemani suamiku selama aku tidak sadar."

Max menggelengkan kepalanya, tidak bisa menjawab pernyataan itu, suaranya tercekat manahan tangis bahagia jadi dia hanya memeluk Midori-san lebih erat. Max benar-benar lega Midori-san sudah sadar.

"Dan kau pasti Rei?" tanya Midori-san. Lalu tanpa menunggu jawaban Rei dia meneruskan, "aku tahu semua tentang Naomi Ogawa. Tapi, aku tidak bisa menceritakannya langsung padamu. Maafkan aku."

Rei menghela napas. "Tidak apa Midori-san... Sebenarnya, Naomi-san sudah meninggal sekarang."

"Apa?" seru Midori-san kaget. "Itu tidak mungkin! Orang keras kepala seperti dirinya tidak akan mati begitu saja!"

"Saya setuju dengan anda, Midori-san. Saya pun berpikir memang ada yang ganjil, tapi saya belum bisa mendapatkan bukti kuat apakah hipotesa saya benar," kata Rei.

Midori-san melambaikan tangannya ke arah Keitaro-san agar dia mendekat lalu membisikkan sesuatu padanya.

"Apa kau yakin?" tanya Keitaro-san. Midori-san mengangguk.

"Baiklah. Rei, ayo ikut denganku. Max, maukah kau menunggui Midori sebentar?"

"Kau bisa mengandalkanku Keitaro-san," kata Max sambil tersenyum.

Rupanya Keitaro-san mengajak Rei kerumahnya.

"Ayo ke sini," Keitaro-san mengajaknya ke gudang yang penuh dengan berbagai macam barang. Setelah membongkar sedikit, Keitaro-san menemukan apa yang dicarinya.

"Nah ini dia!" katanya sambil menyerahkan sekardus buku. "Ini adalah buku harian Midori selama masa kuliahnya. Tadinya sudah mau dibakar lho! Karena buku-buku itu hanya menyebabkan kesedihan pada Midoriku."

"Terima kasih, Keitaro-san. Sampaikan pada Midori-san kalau saya pasti akan mengungkapkan kebenaran," kata Rei.

"Aku pasti akan menyampaikannya pada Midori."


Setibanya di rumah, Rei mengunci diri dikamarnya. Dia membaca seluruh buku harian Midori-san. Sesekali dia membuat catatan. Tak terasa hari sudah malam dan Mao sudah berteriak menyuruhnya makan saat dia baru saja selesai membuat catatan terakhir dibukunya sendiri.

"Apa kau baik-baik saja Rei? Wajahmu pucat. Apa kau sakit lagi?" tanya Lee saat Rei duduk dihadapannya di meja makan.

"Tidak Lee. Aku baik-baik saja. Hanya saja aku baru menemukan kenyataan yang sulit dipercaya," jawab Rei. Pikirannya masih sibuk dengan kenyataan yang baru saja ditemukannya. "Sekarang semuanya sudah ada pada tempatnya," katanya pelan.

Lee hanya memandangnya dengan heran.


Keesokan harinya, dia memberi tahu Max dan Kenny kebenaran kasus Naomi-san.

"Tidak mungkin?" kata Kenny kaget.

"Jahat sekali! Padahal Midori-san..." Max menggelengkan kepalanya sedih, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Aku tahu memang sulit dipercaya tapi... semuanya cocok," kata Rei. "Aku akan memberi tahu Takao dan kau..." kata Rei sambil menunjuk Max.

"Aku memberi tahu Midori-san," kata Max segera.

"Bagus! Anak pintar," kata Rei tersenyum lebar.

"Chief kau mau ikut?"

"Tidak, terima kasih. Aku hanya senang membantumu itu saja. Hal-hal dramatis tidak cocok denganku."

"Hahaha memang itulah Kenny yang aku kenal," kata Rei sambil menyeringai. "Terima kasih Chief. Kalau bukan karena informasi yang kau dapat, aku tidak akan pernah bisa mengungkap kebenaran kasus ini," kata Rei dengan sepenuh hati.

Mendengar pujian Rei, wajah Kenny memerah. "Ah.. mmm.. tidak masalah," katanya gelagapan.

Sorenya, Rei datang ke rumah Takao. Untunglah, anak itu juga sudah pulang, kalau tidak Rei terpaksa menemani Kinomiya-san yang selalu tampak hyper.

"Apa? Kau serius?" tanya Takao kaget.

Rei mengangguk serius.

"Kurasa kita harus memanggil polisi. Kalau hanya seperti itu, apa yang bisa kita lakukan untuk menghukum mereka?"

"Masalahnya apakah polisi akan mempercayai kata-kataku?"

"Tenang saja. Aku tahu siapa yang bisa dimintai tolong," kata Takao. "Kakek kenal kepala inspektur kepolisian (2), namanya Tuan Dickenson (3). Dia pasti mau membantu"

"Hmm kalau dia memang mau membantu akan bagus sekali. Beri tahu aku kalau kau sudah menghubungi Tuan Dickenson. Kalau beliau setuju, aku akan mengumpulkan semua orang yang terkait untuk datang hari Sabtu. Dan panggung terakhir kita adalah kediaman Ogawa-san," kata Rei menutup percakapan.


Hari sabtu akhirnya tiba. Tuan Dickenson sudah setuju untuk membantu. Rei sudah menghubungi semua orang yang terlibat. Para pemain sudah lengkap terkumpul dan tirai panggung sebentar lagi akan diangkat.


Di ruang tamu rumah keluarga Ogawa sudah duduk lima orang. Mereka adalah Rei, Takao, Tuan Dickenson, Keiko-san, dan Kintaro-san.

"Rei ada perlu apa kau mengumpulkan kami disini? Dan siapa orang yang datang bersamamu itu?" tanya Kintaro-san.

"Ah ya, aku lupa. Kalian 'kan belum pernah bertemu dengan mereka berdua. Kintaro-san, Keiko-san, ini Takao dan Tuan Dickenson. Takao, Tuan Dickenson, ini adalah klienku, Kintaro-san dan Keiko-san. Aku akan mengatakan keperluanku kalau ibu anda sudah ada di sini karena kehadirannya memegang kunci kebenaran."

"Kebenaran? Kebenaran apa?" tanya Keiko-san.

"Kebenaran tentang kematian Naomi-san," jawab Rei singkat.

Tidak lama kemudian, ibu Keiko-san datang.

"Selamat siang Ogawa-san," sapa Rei sopan.

"Huh," Ogawa-san hanya mendengus.

"Baiklah. Karena semua orang sudah berkumpul di sini. Saya akan menjelaskan apa maksud kedatangan saya ke sini."

"Buang-buang waktu saja!" potong Ogawa-san.

"Ibu!" tegur Keiko-san.

Rei hanya tersenyum. "Saya tidak akan memakan waktu lama Ogawa-san."

"Seperti yang kita semua tahu penyebab kematian Naomi-san adalah kecelakaan. Aku, Keiko-san, dan Kintaro-san sudah melihat sendiri jenazah Naomi-san."

"Lalu apa masalahnya?" tanya Ogawa-san ketus.

"Pertanyaan yang bagus sekali, Ogawa-san. Apa masalahnya? Masalahnya adalah apakah benar itu jenazah Naomi-san?" Rei bertanya balik, kemudian meneruskan. "Saya merasa sedikit terganggu dengan detail kecil yang aneh pada jenazah itu. Awalnya saya juga tidak menyadarinya, tapi saat saya melihat lagi foto-foto Naomi-san, akhirnya saya sadar diamana letak keganjilan itu. Disini saya membawakan foto Naomi-san dan foto jenazah yang kulihat." Rei menunjukkan dua foto berukuran 4R. "Apa kalian menyadari ada hal yang aneh?" Rei mengedarkan foto itu.

Semua orang memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Sedangkan Rei memperhatikan perubahan ekspresi yang terjadi saat masing-masing orang saat mengamati foto-foto itu. Ketika tidak ada yang menjawab, Rei meneruskan.

"Keanehan yang aku sadari adalah jam tangan. Pada foto pertama, Naomi-san memakai jam tangannya di tangan kiri sedangkan pada foto kedua jam tangan dipakai di sebelah kanan. Dan karena keanehan inilah aku tidak merasa tenang dan menganggap kasus ini belum selesai."

"Tapi Rei-san, itu bukan masalah besar," kata Keiko-san.

"Aku juga tidak akan menganggapnya masalah besar kalau saja aku tidak menemukan informasi selanjutnya. Pada hari kejadian, Naomi-san seharusnya berada di kota lain karena harus menyelesaikan risetnya. Tapi kenapa jenazahnya malah ditemukan di tempat lain? Mulai saat itulah aku yakin bahwa peristiwa itu bukan hanya kecelakaan tapi pembunuhan!"

Ketiga Ogawa terkesiap mendengar penjelasan Rei. Kintaro-san menegakkan tubuhnya, Keiko-san meremas-remas tangannya sedangkan ibu mereka berusaha menutupi rasa kagetnya dan tetap berusaha terlihat tidak peduli.

"Lalu muncullah pertanyaan lain yang mengganggu: Apa yang dilakukan Naomi-san di desa itu? Apakah dia dipaksa datang kesana? Kalau iya, kenapa? Oleh siapa? Apakah oleh kekasihnya? Apakah karena sudah membunuh Naomi-san kemudian dia kabur? Tapi apa motifnya? Lalu satu pertanyaan yang timbul belakangan yaitu tentang kecelakaan Midori-san. Siapa yang mencelakai Midori-san? Apa alasannya?"

"Kurasa apa yang terjadi dengan Midori, tidak ada hubungannya dengan kematian adikku," kata Kintaro tajam.

"Justru sebaliknya, Kintaro-san," kata Rei tenang. "Akan saya jelaskan perkara ini awal hingga akhir. Bila saya melakukan kesalahan siapa pun boleh mengoreksi saya."

"Penyebab kasus ini dimulai kurang lebih dua tahun yang lalu pada saat Naomi-san dan Midori-san memperebutkan posisi asisten profesor," kata Rei memulai. "Waktu itu, Profesor Sanai memutuskan untuk mengangkat Midori-san. Akibat dari keputusan itu dalam pikiran Naomi-san, yang seumur hidupnya belum pernah gagal, timbul niat jahat. Naomi-san berencana menjatuhkan nama baik Midori-san dengan menyebarkan gosip bahwa Midori-san membocorkan soal ujian. Pemeriksaan pun dilakukan di kamar Midori-san. Hasilnya adalah ditemukannya kertas-kertas ujian kosong. Dan Midori-san terbukti bersalah. Padahal tentu saja kertas ujian itu diletakkan di situ oleh Naomi-san. Akibat skandal itu, Profesor memecatnya dan memberikan riset yang sedang dikerjakannya pada Naomi-san, begitu juga dengan posisi asisten profesor. Sayangnya, Naomi-san tidak tahu kalau profesor Sanai mem-black list Midori-san sehingga tidak ada yang mau membantu riset mandirinya. Dan seperti yang kalian ketahui karena sudah putus asa, Midori-san pun mengundurkan diri dari universitas.

"Tapi sebelum keluar, dia menyelidiki siapa pelaku yang sudah menjebaknya. Awalnya dia tidak menyadari bahwa orang yang menjebaknya adalah Naomi-san. Ketika dia mengetahui bahwa Naomi-san lah orang yang sudah menjebaknya, Midori-san marah besar. Dia berusaha memberi tahu kenyataannya pada profesor Sanai. Namun, beliau tidak mau mendengarkan penjelasannya. Midori-san pun keluar tanpa bisa membersihkan nama baiknya. Saat itu, Naomi-san mungkin merasa bersalah tapi juga lega karena tidak ada lagi yang mengetahui rahasianya.

"Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan Midori-san saat itu. Marah, sedih, dan kecewa. Tidak ada yang mau mendengarnya. Kemudian dia teringat, kalau tetangga kamar sebelah di asramanya adalah mahasiswi baru. Tentu saja sebagai orang baru di kampus, mahasiswi itu dianggap tidak tahu tentang berita pengunduran diri Midori-san jadi pasti tetangganya itu mau mendengarkan ceritanya. Dengan pikiran yang sudah tidak karuan lagi, Midori-san pun menceritakan semuanya pada tetangganya itu sebelum dia pergi dari asrama. Nama tetangganya adalah Rizuki Honda yang juga menghilang pada saat yang hampir bersamaan dengan menghilangnya Naomi-san.

"Satu setengah tahun kemudian, karena tidak terjadi apapun, Naomi-san benar-benar sudah merasa dirinya aman. Tapi, suatu hari Rizuki Honda menemuinya. Gadis itu memberitahu kalau dia mengetahui perbuatan Naomi-san langsung dari Midori-san dan entah bagaimana mungkin dia juga menemukan bukti yang memperkuat perkataannya. Sehingga, dia berhasil mengancam Naomi-san dan memerasnya.

"Naomi-san menceritakan hal ini pada kakak dan adiknya, tapi waktu itu mereka bertiga tidak menemukan pemecahan masalahnya. Bila masalah ini terkuak, maka seluruh reputasi yang dibangun Naomi-san saat ini akan hancur seketika. Naomi-san juga kemungkinan besar menceritakan masalah ini pada kekasihnya, Shingo Manabe.

"Karena tidak tahu harus berbuat apa, maka Naomi-san mau tidak mau terus memberikan apapun yang diminta oleh Honda-san. Kemudian beberapa minggu lalu, Honda-san menyuruhnya datang ke suatu desa. Naomi-san pun terpaksa datang padahal dia seharusnya melakukan riset di kota lain. Menurut dugaanku, Honda-san menyuruhnya untuk menyelesaikan riset milik Honda-san. Saat itulah kesabaran Naomi-san habis dan kemudian tidak sengaja membunuh Honda-san.

"Naomi-san tentu saja kaget, tapi dia berhasil menguasai diri dan menyembunyikan mayat Honda-san di dalam hutan. Dia kemudian, seperti biasa, memberi tahu kejadian tersebut pada tiga orang terdekatnya: Kintaro-san, Keiko-san, dan Manabe-san. Manabe-san menyuruhnya menyerahkan diri tapi naomi-san terlalu takut untuk itu. Lalu ada seseorang yang menyarankan ide yang gila. Bagaimana kalau palsukan saja kematian Honda-san sebagai kematian Naomi-san? Dengan begitu, Naomi-san akan bebas dari tuduhan dan uang asuransinya akan cair. Saya tebak orang itu adalah Kintaro-san."

Kintaro-san melotot ke arah Rei tapi mendapat tatapan memperingatkan dari ibu dan adiknya agar dia tidak bertindak bodoh. Rei tidak peduli dengan tatapan marah Kinatro-san, dia terus melanjutkan penjelasannya.

"Tanpa pikir panjang mereka pun melaksanakan ide itu. Rencananya, mereka harus menemukan mayat 'Naomi-san' pada waktu yang tepat dan harus membawa orang lain sebagai saksi yang menguatkan kesaksian mereka. Dan saksi yang terpilih adalah aku. Sesuai rencana, setelah jenazah Honda-san tidak dapat dikenali lagi, mereka mengeluarkannya ke tempat yang dapat dilihat dan ditemukan oleh penduduk desa di sekitar situ. Dengan begitu, maka sempurnalah 'kematian' Naomi-san. Tapi sayang sekali mereka melakukan kesalahan saat mendandani jenazah itu. Karena terburu-buru mereka tidak sadar telah memasang jam tangan pada tangan yang salah."

"Ini gila! Kau pasti hanya mengarang semua itu!" teriak Kintaro-san sambil menggebrak meja. Wajahnya merah karena marah.

"Saya mempunyai bukti, Kintaro-san. Sangat banyak," kata Rei datar. "Tapi, biarkanlah saya menyelesaikan cerita versi saya sedikit lagi."

"Aku tidak perlu mendengar kebohonganmu lagi?" Kintaro-san bersiap keluar dari ruangan itu.

"Anda tidak boleh keluar dari sisni," Tuan Dickenson menahan bahunya.

"Siapa kau? Kenapa aku harus mendengarkanmu?" Kintaro-san menepiskan tangan Tuan Dickenson.

Tuan Disckenson mengeluarkan lencananya. "Anak buah saya sudah berjaga di pintu depan. Kalau Anda berbuat macam-macam, mereka tidak akan tinggal diam."

Kintaro-san terlihat sangat kesal, matanya melotot dan napasnya memburu. Tapi Tuan Dickenson nampak tidak terpengaruh. Setelah keheningan yang menegangkan, Kintaro-san pun duduk kembali dengan terpaksa.

"Lanjutkan," kata Tuan Dickenson pada Rei.

"Terima kasih, Tuan," kata Rei tersenyum lega. "Sebelum memanggilku, mereka sadar masih ada dua orang lagi yang tahu dan terkait dengan kematian Honda-san. Kedua orang itu adalah Manabe-san dan Midori-san. Mereka sadar kalau kedua orang ini tahu terlalu banyak. Manabe-san harus disingkirkan karena Naomi-san sudah menceritakan segalanya pada Manabe-san. Sedangkan, Midori-san harus disingkirkan karena Naomi-san tahu kebiasaan Midori-san menulis buku harian, yang sudah pasti didalamnya dia menceritakan semuanya termasuk dia sudah menceritakan perbuatan Naomi-san pada Honda-san. Mereka ketakutan kalau sewaktu-waktu akan ada orang yang dapat melihat keterkaitan antara 'kematian' Naomi-san dengan Honda-san. Oleh karena itu, mereka mencelakai Midori-san dan menyekap Manabe-san."

"Rei-san ceritamu sungguh... imaginatif!" seru Keiko-san dari tempat duduknya dan tertawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan.

"Saya juga berpikir seperti itu, Keiko-san. Kalau saja, ada satu bukti yang berkata sebaliknya. Tapi sayang tidak ada," kata Rei. "Bagaimana kalau kita tanya tokoh utama kita saja? Cerita versi Naomi-san tentunya akan lebih lengkap bila dibandingkan hipotesaku ini."

"Apa-apaan kau ini, Rei-san? Mana mungkin kita bertanya pada Nee-chan, dia 'kan sudah meninggal! Jangan konyol!"

"Menurut anda bagaimana Naomi-san?" tanya Rei mengabaikan Keiko-san.

Tidak ada yang menyahutnya.

"Ah coba kita ganti pertanyaannya. Menurut anda bagaimana, Ogawa-san?"

Kintaro-san langsung berdiri dan berseru marah. "Apa maksudmu?"

"Saya sudah menyelidiki keluarga kalian. Ibu kalian saat ini ada di rumah sakit jiwa karena ayah kalian berselingkuh. Jadi siapa orang yang mengaku sebagai ibu kalian ini?"

"Kurang ajar!" Kintaro-san menerjang.

Dia berniat menyerang Rei, tapi dengan sigap Takao berhasil mematahkan serangannya. Takao memiting Kintaro-san di lantai dan menahan lengannya di belakang punggung.

"Yang memberi petunjuk tentang hal ini adalah Anda sendiri, Kintaro-san. Setelah saya selidiki kembali, ternyata dua tahun yang lalu Naomi-san memainkan peran sebagai seorang nenek dan akibat aktingnya, klub dramanya berhasil memenangkan kejuaraan nasional. Naomi-san berhasil memainkan peran nenek-nenek dengan gemilang maka peran sebagai ibu rumah tangga pemarah tentunya bukan hal yang sulit!"

Kintaro-san memberontak di lantai tapi Takao menahannya sehingga dia tidak bisa bergerak.

"Saya akan memanggil seseorang yang bisa mengenali Naomi-san dengan segera," kata Rei dan dia menghubungi seseorang.

Tidak lama kemudian, masuklah Max, Midori-san, dan Keitaro-san. Mata Midori-san menyapu ruangan dan tatapannya terpaku pada Ogawa-san.

"Bagaimana Midori-san?"

"Memang dia orangnya. Aku tidak mungkin salah," kata Midori-san yakin.

"Terima kasih, Midori-san," kata Rei tersenyum padanya. "Midori-san adalah orang yang bertanggung jawab terhadap tata rias klub drama universitas X dan orang yang mengajari Naomi-san tentang make-up," jelas Rei.

Ogawa-san dan Midori-san saling bertatapan.

"Kali ini kau benar-benar kelewatan?" kata Midori-san tiba-tiba.

Ogawa-san hanya diam saja.

"Aku juga bisa memanggil Manabe-san sekarang juga. Aku bertaruh dia disekap di suatu ruangan di rumah ini."

Tubuh Ogawa-san menegang.

"Sudah, cukup!" katanya tajam. "Seperti sudah kuduga, mengundang orang lain ke dalam permainan ini adalah langkah yang bodoh! Tapi mereka berdua tetap keras kepala dan mengundangmu."

"Jadi itulah mengapa anda berusaha mengusirku sejak awal," kata Rei.

Naomi-san mengangguk. "Aku kaget kau bisa menebak sampai sejauh ini. Rupanya aku memang tidak mungkin bisa lari dari dosaku untuk selamanya," katanya sambil tersenyum pahit.

"Kenapa kau membunuh Rizuki-chan? Gadis itu tidak bersalah," kata Midori-san.

"Tidak bersalah katamu? Dia sudah membuat hidupku seperti di neraka. Dan yang terakhir itu benar-benar membuatku muak! Dia menyuruhku menyelesaikan risetnya sedangkan dia hanya bersenang-senang!"

"Tapi kalau hanya itu kau tidak perlu sampai membunuhnya 'kan? Pikirkanlah bagaimana perasaan keluarganya!" kata Midori-san suaranya bergetar.

"Bukan hanya itu. Dia...dia tahu rahasiaku yang lain. 'Kalau orang ini mati aku bisa tenang,' aku selalu berpikir seperti itu setiap dia memerasku. Rasa marahku sudah tidak terbendung lagi dan tanpa sadar aku meraih batangan besi yang ada didekatku. Detik berikutnya dia sudah terkapar tak bernyawa," kata Naomi-san, wajahnya tidak berekspresi sama sekali. "Dan yang lucunya lagi aku tidak merasa sedih atau menyesal. Saat melihat ekspresi wajah Honda saat itu aku malah lega, bahkan aku merasa sedikit gembira! Lucu 'kan?" Sekarang Naomi-san tertawa suaranya terdengar melengking.

"Kau gila!" kata Midori-san sedih.

Setelah itu, ketiga Ogawa itu digiring oleh polisi. Kasus ini akan diusut lebih jauh oleh pihak kepolisian agar dapat disidangkan.

Manabe-san ditemukan di kamar kosong yang ada di lantai dua. Tak ada luka ditubuhnya tapi jelas dia masih paranoid akibat serangan mental yang diterimanya. Dia mengaku kalau Naomi-san pernah mengancam untuk membunuhnya. Manabe-san pun dibawa oleh polisi untuk dimintai keterangan.


Beberapa jam kemudian Rei, Max, Takao, Midori-san, dan Keitaro-san berkumpul di rumah Takao.

"Terima kasih sudah mau datang Midori-san," kata Rei membungkukkan badannya.

"Tidak perlu berterima kasih, Rei-kun. Aku senang masalah ini bisa selesai dengan baik... Aku merasa bersalah. Mungkin semua ini adalah salahku karena menceritakan perbuatan Naomi pada Rizuki-chan ," tambahnya sambil mengerutkan keningnya. Melihat itu, suaminya mengelus penggungnya, berusaha membuatnya tenang.

"Memang semua ini seperti permainan nasib yang kejam. Menurut informasi yang ada ditanganku, sifat Honda-san memang lemah dan pengecut. Sejak dulu selalu menjadi sasaran penganiayaan. Mungkin saat dia bisa mempermainkan Naomi-san, untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana rasanya menjadi pihak yang kuat. Oleh karena itu, dia berbuat kelewatan. Kurasa, ini semua memang karma Naomi-san yang selalu menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya," Rei mengemukakan pendapatnya.

"Mungkin... Tapi tetap saja..." Midori-san menggelengkan kepalanya.

"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana menghadapi masa depan, Midori-san. Masa lalu tidak akan pernah terulang jadi tidak ada artinya berandai-andai," kata Takao.

"Yaaah mungkin kau benar... Hmm rupanya kau sudah menjadi lebih bijaksana selama aku tidak sadar ya, Tacchan?" kata Midori-san menggoda Takao.

"Sudah kubilang jangan panggil aku Tacchan! Dan aku memang selalu bijaksana hanya saja kalian yang tidak pernah sadar!" kata Takao kesal.

Mereka tertawa mendengar komentar Takao. Topik pembicaraan berganti ke topik yang lebih ringan dan tanpa terasa hari sudah beranjak sore. Rei dan Max pun berpamitan pulang.

"Aku penasaran sebenarnya rahasia apa lagi yang diketahui oleh Honda-san tentang Naomi-san?"

"Sebenarnya..." kata Rei ragu.

"Apa? Apa, Rei-chan? Kumohon beri tahu aku!" rengek Max sambil menarik-narik lengan Rei.

"Sebenarnya, Naomi-san itu berselingkuh dengan profesornya," kata Rei dengan tidak enak.

"Apa?" katanya kaget.

Rei mengangkat bahunya. Sebenarnya dia tidak merasa perlu untuk memberitahu hal ini tapi melihat wajah Max yang membuat iba dia tidak pernah merasa punya pilihan lain kecuali menurutinya.

"Benar-benar mengejutkan! Tapi...aku senang semuanya sudah selesai," kata Max kemudian.

"Hmm," hanya itu jawaban Rei.

"Tapi tidak ada waktu untuk bersantai kan?"

"Ya kau benar. Sudah ada satu kasus lagi yang menunggu," kata Rei.

Mereka terus berjalan diantara kerumunan manusia. Langit di atas kepala mereka mulai gelap menandakan hari ini akan segera berakhir.


(1) Maaf ternyata aku salah ngerti selama ini gimana isi apartemen, setelah dikasih wejangan sama master kucinggila maka dari sini dan seterusnya, mari kita ganti tempat tinggal hijiri-san dari apartemen jadi flat ^^v oia, bu guru kucinggila semoga udah sesuai ya bayangan flat aku dengan flat kamu :3

(2) Aku ga begitu ngerti pangkat dikepolisian. Tapi anggap aja kepala inspektur itu jabatan yang berpengaruh yaa ^^v

(3) Karena aku lupa siapa nama sebenernya dan di fic yang selama ini aku baca dia disebut dengan '' maka jadilah disini Tuan Dickenson. Ga jadi Dickenson-san, soalnya berasa ga sreg heheheh :3


Fuiihh akhirnya chap 6 selesai walaupun jadinya panjang banget, pertama kalinya ngarang sebanyak ini hahahahah (*kaget sendiri ^^;). Sebenernya versi aslinya lebih panjang lagi O_o tapi terpaksa banyak yang dipotong. Bahkan tadinya mau di bikin bersambung ke chapter selanjutnya tapi ga jadi soalnya aku udah terlanjur janji mau selesein naomi di chapy ini dan aku udah mulai bosen sama naomi hehhehheh :p

Maaf ya kalau ending kasus naomi kurang sesuai dengan harapan kalian terus juga kurang gmanaaaa gituuu m(_ _)m menurut pendapat aku pribadi, masih ada yang kurang pas dengan pemecahan masalahnya...

Ternyata bikin pemecahan kasus itu ga gampang ya T3T apalagi kalo bikinnya jam 3 subuh -_-; (alesan :P) maafkanlah diriku yang masih juga ga jago nulis padahal udah sering dipaksa nulis oleh para guru dijaman sekolahan dulu (tugas maksudnya!).

Oia, akhirnya kalian bisa nebak ga solusinya kaya gitu? Hohohohoho

Buat chapter selanjutnya sampe fic ini tamat betulan Kai bakal muncul terus lhooo~~ terus mungkin ceritanya bakal jauh beda dengan kasus yang pertama (mungkin lho ya mungkin).

Oia WARNING dari aku buat chapy-chapy selanjutnya: di chapy-chapy selanjutnya unsur-unsur BLnya (sekali lagi) mungkin bakal lebih kerasa (inget lhoo pairing di fic ini KaixRei dan liat warning di atas) jadi aku saranin kalau ga suka BL mending ga usah baca chapy-chapy selanjutnya daripada ntar nge-flame aku belakangan +_+ (*sok-sokan ngancam padahal Cuma takut di flame heheheheh :p)

Of course it's up to you but don't tell me I'm not warned you before!

Haaahh curhatannya jadi panjang juga dehh,, maklumlah ini update terakhir sebelum berkutat lagi dengan buku-buku teks yang segede babon (tapi sebenernya ga pernah dibaca wkwkwk) dan kuliah yang bikin ngantuk *A*

Udahan dulu deh buat sekarang.. Dadah :3