KaiRei Fanfiction

Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)

Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!

No flame please m(_ _)m

Enjoy =3

Chapter 7

Rei duduk termenung di atap sekolah sambil mengunyah makan siangnya dengan tidak berselera. Kemarin Takao memberitahu kalau Naomi-san dan kedua saudaranya sudah dinyatakan bersalah dan akan dipenjara, tapi belum ada kepastian berapa lama. Bagi Rei pribadi semua itu sudah selesai saat dia sudah mengetahui kebenaran. Jadi dia sudah tidak peduli lagi bagaimana nasib ketiganya. Satu-satunya hal yang disesali olehnya hanyalah dia mengungkap kasus itu terlalu cepat padahal dia belum dibayar sepeser pun! Tapi sekarang dia terpaksa pasrah, karena mau bagaimanapun juga dia tidak akan mendapat bayarannya. Sekarang dia memilih untuk lebih fokus pada kasus hilangnya Ryoushi Yamada.

Berdasarkan keterangan dari Hijiri-san, sang manajer, Yamada-san tidak mempunyai musuh ataupun orang yang dendam padanya. Berarti memang kemungkinan terbesarnya, Yamada-san telah diculik oleh fans fanatiknya. Masalahnya, jumlah fans Yamada-san luar biasa sangat banyak. Walaupun Rei sudah bisa menghapus hampir setengah dari seluruh daftar yang diberikan Hijiri-san, sayang jumlah yang tersisa masih sangat sangat banyak. Dan ternyata data tersebut hanya mencakup fans dari lima kota besar saja. Benar-benar membuat kepala pusing tujuh keliling!

Rei tidak akan kaget kalau ternyata fans fanatik yang telah menculik Yamada-san berada dari kota kecil di antah berantah. Mengingat kelakuan para fans fanatik yang pernah dia lihat, mereka tidak akan segan-segan untuk memenuhi obsesi mereka. Apapun caranya.

Mau tidak mau, Rei merasa sedikit kasihan pada Yamada-san. Hidupnya pasti jadi tidak tenang setelah dia menjadi selebriti.

Kembali lagi ke masalah daftar tadi, ternyata metode yang dia punya tidak bisa mengeleminasi sebagian besar fans yang mencurigakan. Satu-satunya cara adalah bertemu dan berbincang dengan para tersangka yang tersisa supaya dia bisa tahu sedikit banyak tentang karakter mereka sebelum memutuskan apakah mereka layak dicurigai atau tidak.

'... Oh! Bodohnya aku! Kenapa tidak terpikir dari dulu? Tentu saja ada cara lain bagaimana mendekati fans Yamada-san!' pekik Rei dalam hati.

Dia langsung memakan sisa roti yang ada di tangannya dan berlari menuju ruang komputer. Di sana, tidak seperti biasanya, Kenny tidak sendirian. Di sebelah meja yang biasa diduduki oleh Kenny duduk seorang anak perempuan yang sepertinya sedang berusaha memperhatikan penjelasan Kenny.

"Hai Chief! Wah wah, tumben kau ditemani seseorang," kata Rei sambil duduk ditempatnya yang biasa.

Kenny hanya tersenyum mendengar komentar Rei. "Kalian pasti belum saling kenal. Rei ini Dizy tetanggaku, Dizy ini Rei orang paling pintar di sekolah ini."

Dizy menatapnya kagum.

"Chief! Sudah kubilang hentikan itu! Jangan percaya padanya," kata Rei menambahkan pada Dizy. "Apa kau murid sekolah ini? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu. Apa kau anak baru?"

"Aku bukan anak baru... tapi aku memang baru masuk lagi hari ini," jawab Dizy dengan suara sedikit parau.

"Hmm... hikikomori?" tebak Rei.

"Rei?" tegur Kenny.

"Maaf, maaf, jangan marah begitu aku 'kan cuma menebak," kata Rei sambil mengangkat kedua tangannya, tanda dia tidak ingin ribut.

"Tidak apa-apa Kenny... Kau benar Rei-san, dulu, aku memang seorang hikikomori," kata Dizy jujur. "Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau akan kaget kalau tahu berapa banyak hikikomori di sekolah ini," kata Rei. "Dan kurasa kau sudah memutuskan hal yang tepat untuk masuk sekolah lagi," ujar Rei sambil menyalakan komputer.

"Aku disadarkan oleh seseorang." Dizy berkata malu-malu sambil mencuri pandang ke arah Kenny yang sudah sibuk kembali dengan komputernya.

Rei memperhatikan keduanya kemudian sambil menyeringai lebar. Dia berkata, "kalian akan menjadi pasangan yang serasi."

Wajah Dizy langsung memerah, sementara Kenny hanya memandangnya bingung. Rei menggelengkan kepalanya. Kalau dia terus mengganggu Dizy, waktu istirahatnya akan habis. Maka dia pun segera mengalihkan fokus pada layar komputer dihadapannya.

=Beberapa saat kemudian=

"Arghh aku tidak mengerti!" teriak Rei sebal.

"Apa yang tidak kau mengerti?"

"Aku sedang mencoba menjadi seorang fans," kata Rei menjelaskan. "Tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan."

"Untuk apa?" tanya Dizy.

Rei berpikir sejenak apakah dia dapat mempercayai Dizy atau tidak. Tapi sepertinya dia gadis yang baik dan tampaknya Kenny juga percaya padanya. Kalau Kenny mempercayainya maka gadis itu pasti gadis yang baik dan tidak akan membocorkan rahasianya. Jadi, dia pun memutuskan untuk menceritakan kasus hilangnya Yamada-san pada Dizy.

Setelah bercerita dengan singkat, Rei memberi tahu keduanya tentang rencana yang baru saja terpikir tadi. "Nah, jadi untuk menghemat waktu aku akan berpura-pura menjadi fans sambil menganalisa sifat mereka. Sejauh mana tingkat kefanatikan mereka. Siapa tahu jumlah tersangka bisa lebih diperkecil. Tapi ternyata berpura-pura menjadi fans itu tidak mudah."

Kenny terdiam, memikirkan perkataan Rei. Kemudian, dia terlihat ingin berbicara, namun sebelum dia bisa menyatakan apapun, Dizy mendahuluinya. "Kalau itu masalahnya, aku bisa membantumu... Kalau kau mau," tawar Dizy malu-malu.

"Benarkah? Apa kau yakin?" tanya Rei ragu. Apa mungkin seorang hikikomori yang hanya memiliki sedikit pengalaman sosial bisa berpura-pura menjadi seorang fans fanatik? Jangan-jangan Dizy tidak tahu siapa itu Yamada-san.

"Rei-san... Kau pasti berpikir aku tidak tahu siapa itu Ryoushi Yamada. Tapi percayalah Rei-san aku tidak menghabiskan waktuku sebagai hikikomori hanya dengan tidur dan makan saja. Aku cukup tahu apa yang sedang terjadi disekitarku."

Rei terdiam, sedikit kaget, Dizy bisa membaca pikirannya. Dia jadi malu sudah meremehkan Dizy.

"Maafkan aku," kata Rei.

"Tidak apa aku sudah biasa," kata Dizy ringan.

Setelah itu, Dizy menunjukkan kemampuannya bersosialisasinya yang luar biasa di dunia maya. Selama seminggu berikutnya Dizy membantu Rei menganalisa para fans Yamada-san. Jumlahnya sudah berkurang banyak. Rei bersumpah dalam hati tidak akan meremehkan siapa pun lagi tanpa alasan yang jelas.

Rei selalu melaporkan perkembangan kasusnya pada Hijiri-san. Dan setelah menganalisa situasinya, Hijiri-san entah bagaimana dapat mengulur waktu konser menjadi sebulan lagi. Tapi, dia bilang bila dalam jangka waktu sebulan Yamada-san tidak dapat ditemukan maka semuanya tamat.


Berkat Dizy, Rei akhirnya bisa memutuskan siapa yang berhak dicurigai. Awalnya dia mencurigai lima orang. Tapi diantara kelima orang ini, ada satu orang yang paling potensial dimata Rei. Namanya thunder_pegasus (1). Datanya tidak ada dalam daftar fans yang diberikan oleh Hijiri-san, berarti dia tidak termasuk dalam kelompok fans resmi (2). Seperti biasa Kenny langsung melacak dari mana thunder_pegasus mengakses situs fans Yamada-san, seperti biasa juga dia berhasil.

Karena itulah sekarang dia berjongkok sendirian di sebuah gang kecil yang gelap, mengawasi sebuah rumah. Persis seperti seorang stalker yang sedang mengintai mangsanya.

Kali ini Max dan Takao tidak ikut. Max sedang membantu ayahnya menjalankan toko mainan (3). Rei selalu tidak enak pada ayah Max setiap kali dia 'menculik' Max. Ditambah lagi sekarang ibunya baru saja pulang setelah satu tahun bertugas di Amerika. Rei semakin tidak enak mengajaknya pergi. Sementara, Takao masih mengikuti perlombaan kendo karena dia lolos ke tahap selanjutnya dari perlombaan yang dulu dia ikuti.

Rei sudah mengawasi rumah thunder_pegasus selama tiga hari. Selama tiga hari itulah, Rei hanya melihat seorang gadis berambut orange panjang yang sebaya dengannya keluar masuk dari rumah itu. Karena progesnya tidak maju-maju juga, maka hari ini, dia berencana mengintip ke dalam.

Jantungnya berdebar kencang. Ini pertama kalinya dia akan menyusup ke rumah orang walaupun hanya sebatas halaman rumah saja. Biasanya dia akan mengetuk pintu rumah dan berpura-pura bertanya alamat atau apapun. Tapi, kali ini akan berbeda karena setelah dia mengawasi selama tiga hari, dia tahu cara seperti itu tidak akan berhasil. Gadis itu bahkan tidak membukakan pintu untuk seorang pengantar barang!

Rei menunggu sampai gadis yang diduga thunder_pegasus pergi. Jantungnya berdebar semakin kencang, perutnya melilit. Setengah jam kemudian, gadis itu keluar dari rumah. Rei menelan ludah, sebentar lagi. Waktunya hanya sedikit, paling lama 10 menit. Dia menunggu gadis itu berbelok di tikungan, lalu tanpa membuang waktu dia bergegas menuju rumah sasarannya. Dia membuka pagar perlahan dan memasuki pekarangan rumah. Rei mengelilingi seluruh pekarangan rumah itu tapi semua jendela tertutup rapat, tidak ada celah untuk mengintip ke dalam. Dia mencoba membuka semua pintu dan jendela tapi semua terkunci.

Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar sesuatu, seperti suara seseorang berjalan hilir mudik. Rei menempelkan telinganya ke salah satu jendela, berusaha mendengarkan dari mana suara itu berasal. Dia terus menganalisa darimana suara itu datang.

'Hmm sepertinya suara itu berasal dari sini,' kata Rei sambil mendekat ke salah satu jendela di sisi kiri rumah. Sama seperti yang lain jendela itu pun tertutup rapat. Rei terus mendekat sampai-sampai hidungnya hampir menyentuh kaca jendela. Dia berharap tirai itu terbuka, walaupun hanya sebatas celah sempit, sehingga dia bisa melihat siapa lagi penghuni rumah ini. Tiba-tiba saja, tirai yang menutupi jendela didepannya terbuka dan dari dalam terlihat sepasang mata yang menatapnya.

"Huwaa!" Rei berteriak kaget. Tanpa sadar dia berlari menjauh dari rumah itu.

'Apa itu tadi?' pikirnya.

Adrenalin masih mengalir deras dalam tubuhnya, membuat Rei terus berlari entah berapa lama. Dia berhenti saat kakinya tidak sanggup lagi membawanya. Terengah-engah dia menghempaskan dirinya di bangku sebuah halte bus. Rei duduk sambil mengingat kejadian tadi, kenapa dia bisa sekaget itu? Pasti karena dia terus merasa tegang. Bodoh, bodoh sekali dia telah membiarkan dirinya lengah sehingga melepaskan kesempatan begitu saja. Padahal siapa tahu dia bisa mengelabui orang tadi untuk masuk ke dalam rumah yang dia awasi.

''Sial! Bodoh, bodoh, kenapa aku harus lari?'

Rei terus mencaci dirinya karena tidak dapat bersikap tenang. Kemudian dia sadar dia tidak tahu sedang berada dimana. Dia memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada yang dia kenal, baik orang ataupun tempat.

'Haaah.. Hari ini benar-benar hari sial untukku.'

Dia menghela napas panjang, bagaimana caranya dia akan pulang, dia tidak tahu. Kemudian Rei memutuskan untuk naik bus pertama yang dilihatnya. Dia berencana akan bertanya pada penumpang lain di bus yang akan dia tumpangi nanti.

Pikirannya terpotong saat dia melihat ada bus yang datang. Rei berdiri menunggu bus itu tiba di halte. Saat itulah, dia melihat seseorang yang nampak tidak asing sedang duduk di kafe yang terletak di depan halte bus. Seorang pemuda bermata merah.

'Siapa ya? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya,' gumamnya dalam hati.

Tapi dia tidak punya waktu banyak untuk lebih memperhatikan pemuda itu karena busnya sudah tiba.


Keesokan harinya, sekali lagi Rei berdiri di gang kecil itu mengawasi rumah thunder_pegasus. Hari ini, thunder_pegasus belum keluar sama sekali.

'Apa mungkin dia sedang tidak di rumah?'

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Rei tidak sadar ada seseorang mengendap-endap dibelakangnya sampai rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menjalari punggungnya.

"Aku tidak akan membiarkanmu merebut Ryou-sama," bisik seseorang dibelakangnya.

Lalu semuanya gelap.


'Hmm hari ini pun dia masih di situ. Aku penasaran kenapa dia terus ada disitu selama dua hari ini,' pikir seorang pemuda bermata merah.

Dia melihat ke seberang jalan, ke bangku halte bus tempat seorang pemuda yang sebaya dengannya duduk. Yang membuatnya mencolok adalah rambut hitamnya yang luar biasa panjang dan pakaiannya yang tidak biasa, seperti pakaian orang Cina. Pemuda berambut panjang itu duduk dengan tangan menopang kepala. Sepertinya dia sedang berpikir keras. Terkadang dia berusaha menyapa orang yang sedang ada di halte tapi entah kenapa semua orang mengabaikannya. Aneh.

Pemuda itu keluar dari kafe tempatnya biasa minum kopi dan pulang ke rumah. Malam harinya, saat baru pulang dari rumah sepupunya, tanpa sengaja dia berjalan melewati halte yang sudah dua hari ini dia amati. Dan saat melirik ke bangku halte, benar saja, pemuda yang dia amati masih duduk di situ. Pandangan mereka berdua bertemu selama satu detik. Hanya satu detik tapi itu membuat si 'pemuda halte' gembira.

"Kau bisa melihatku?" serunya.

"Tentu saja! Semua orang juga bisa."

Pemuda halte itu menggelengkan kepalanya. "Aku Rei. Siapa namamu?"

"Untuk apa aku memberitahukan namaku padamu," kata bermata sambil berbalik pergi.

"Hei tunggu! Jangan tinggalkan aku!" kata pemuda (halte) itu, melayang mengejarnya.

Si pemuda mata merah berhenti dan menatap pemuda yang sekarang melayang didepannya. Dia mengerjapkan mata dan menggosoknya.

"Jangan kaget seperti itu. Aku memang hantu... Aku juga kaget lho waktu tahu aku sudah menjadi hantu."

Kalau dilihat dengan seksama tubuhnya memang agak transparan, dia bisa melihat lampu jalan didepan lewat badan 'pemuda halte' itu.

"Aku pasti sudah gila!" gumamnya dan langsung berlari berusaha kabur.

"Hei tunggu!"

Dia terengah-engah dan dengan tergesa membuka pintu flatnya. Dan menghela napas lega. Tapi...

"Waah flat yang bagus sekali, Kai."

"Huwaaa!" teriaknya keget. "Kenapa kau masih mengikutiku? Dan bagaimana kau tahu namaku?"

"Karena hanya kau yang bisa melihatku. Dan tentu saja aku tahu namamu, lihat semua nama yang tertera pada piala dan trofi itu, memangnya aku bodoh sampai tidak menyadari hal seremeh itu?"

Kai diam saja. Dia masih berpikir hantu ini hanya imajinasinya saja.

'Mungkin karena aku kurang tidur,' pikirnya.

Kai berjalan ke kamarnya bersiap untuk tidur.

"Kau mau kemana?"

"Tidur."

=Keesokan harinya=

Kai membuka matanya perlahan. Kemarin dia bermimpi aneh sekali, dia bermimpi bertemu dengan hantu seorang pemuda bernama Rei. Hantu itu terus mengikutinya sampai rumah...

"Kai kau sudah bangun?" tanya seseorang dari sampingnya.

Kai diam saja.

"Kau dengar aku? Hari ini kau mau kemana? Mau ke sekolah? Sekolahmu dimana? Oia tadi ada yang datang lalu..."

"Arghh diam! Diam! Berisik!" Kai berteriak kesal. "Kenapa kau masih di sini? Apa maumu?"

"Aku ingin kau membantuku mencari seseorang," katanya sambil melayang ke depan Kai yang masih terlentang di tempat tidur.

"Kalau aku tidak mau?"

"Aku akan menghantuimu selamanya."

Kai mengehela napas frustasi, sepertinya dia tidak punya pilihan lain.


"Waaah luas sekali sekolahmu," kata Rei tercengang menatap bangunan sekolah Kai. "Boleh aku berkeliling?"

"Terserah kau saja asal jangan menggangguku," kata Kai masam.

Rei melayang pergi, Kai menghela napas lega. "Akhirnya dia pergi juga."

"Siapa yang pergi?" tanya seseorang pemuda berambut merah dari arah belakang.

"Bukan urusanmu Tala," kata Kai tanpa perlu melihat siapa yang berbicara.

"Humph kenapa kau tidak pernah menjawab pertanyaanku?" kata Tala sebal.

Kai tidak memperdulikannya dan terus berjalan ke kelas.

"Kai, kakek bilang akan menemuimu besok!" seru Tala.

Kai langsung berhenti. "Apa? Kenapa dia mau menemuiku?"

"Aku tidak tahu, dia tidak bilang mau apa."

"Hn," dengan itu Kai pun melanjutkan perjalanan ke kelasnya. Di belakangnya Tala menghela napas. Dia berpikir mungkin dia juga harus datang besok ke apartemen Kai untuk mencegah pertengkaran yang pasti terjadi antara kakek dan sepupunya.

Sementara Kai dan Tala berjalan menuju kelas masing-masing, Rei asyik berkeliling sekolah. Sebenarnya, dia kehilangan ingatannya ketika masih hidup dulu. Dia sudah berusaha mengingat tentang masa lalunya namun tidak berhasil, yang dia ingat adalah namanya sendiri dan perasaan kalau dia harus menemukan seseorang. Jadi, dia merasa agak senang berkeliling sekolah Kai dan membayangkan bagaimana kehidupannya dulu. Setelah berkeliling, Rei jadi merasa agak sedih dan iri terhadap mereka yang masih hidup. Banyak yang membuang waktu mereka di sekolah dengan hal tidak berguna, padahal kalau sudah menjadi hantu sepertinya mereka pasti menyesal sudah membuang waktu seperti itu.

'Apa dulu aku juga begitu ya?' tanyanya dalam hati saat melihat tiga orang murid yang bolos di atap sekolah.

"Hei apa kalian merasa dingin?" tanya salah seorang yang paling dekat dengan Rei sambil menggosok kedua telapak tangannya.

"Bodoh! Sebentar lagi musim panas tiba mana mungkin dingin!" kata seorang pemuda berambut biru.

"Kane benar. Kau ini selalu berkhayal yang tidak-tidak, Goki!" kali ini pemuda berambut pirang menimpali.

"Tapi..." kata pemuda bernama Goki itu memulai.

"Jim, ayo bagikan kartunya(4)," Kane memotong cepat dan segera saja si pemuda berambut pirang membagikan kartu.

"Kalian ini selalu saja tidak percaya padaku," gerutu Goki kesal.

Rei melihat ketiganya bermain dengan serius. Rasanya dia pernah bermain kartu semacam itu. Rei melihat kartu di tangan Goki, kartunya lumayan bagus, dia punya dua kartu +2. Saat Kane mengeluarkan +2, Goki hendak mengeluarkan kedua kartunya.

"Hei! Jangan keluarkan keduanya bodoh!" kata Rei gemas yang dari tadi melihat permainan serampangan Goki.

Tubuh ketiga pemuda itu menegang dan mereka melihat kearah Rei dengan wajah pucat.

"HANTUUUUU!" teriak mereka sambil berlari dan saling berebut keluar dari pintu yang menuju ke bawah.

Rei melongo memperhatikan ketiganya. 'Kenapa sih mereka?' kemudian dia melihat tangannya dan menyeringai. Tangannya terlihat lebih solid dibandingkan kemarin. Dia mencoba mengambil kartu yang berserakan di bawah.

"Wah Kai pasti kaget kalau aku mengajaknya main kartu nanti malam," katanya masih menyeringai sambil menatap kartu ditangannya.


(1) Fufufufu kalian pasti udah ngira deh siapa thunder_pegasus ini. Kalau ga tahu, aku kasih clue buat kalian. Cluenya: thunder pegasus wkwkwk :p

(2) Tentang fans resmi, maaf kalo aku salah m(_ _)m soalnya waktu baca komik ada yang semacem gitu.

(3) Aku lupa apa kerjaan ayahnya Max, yang aku inget dulu dia punya toko peralatan beybalde gitu.. bener ga sih? Jadi anggap aja toko mainan. Oia ibunya Max itu ilmuwan yang kerja di suatu perusahaan besar, terus jadi wakil perusahaan itu buat cabang di Amerika untuk sementara.

(4) Eits jangan pikir yang negatif dulu mereka bukan main remi, poker, apalagi gapleh.. Mereka lagi main UNO. Ketebak ga?


Fyuuuh setelah sekian lama kahirnya ni fic di update juga. Semoga kalian masih betah ya baca fic aku heheheh

Seperti biasa makasih buat semua review kalian :D

Terus buat master kucinggila a.k.a faye calderon makasih editannya dan seperti biasa juga aku bandel ga pake semua saran yang kamu kasih hihihihi peace ah ^^v

Segitu dulu aja deh :) jangan lupa review ya, aku kangen sama review kalian soalnya heheheh :3

Ciao