KaiRei Fanfiction
Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)
Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!
No flame please m(_ _)m
Minna-san, ohisashiburi (is it right?)! I'm baaaaack :D
To Laila Sakatori: at last I finish this chapy hahahahah 3
Chapter 8
Sorenya di cafe tempat Kai biasa makan.
"Jadi... siapa sebenarnya orang yang ingin kau cari?" tanya Kai pelan sambil memakan makan malamnya, sepiring spagheti dan secangkir kopi.
"Aku tidak tahu," jawab Rei singkat.
"..."
"..."
"Kau serius?"
"100%. Kai, sebenarnya aku... aku kehilangan ingatan. Aku cuma ingat namaku dan kenyataan kalau aku harus mencari seseorang," jelas Rei.
Kai terdiam dan menyesap kopinya. "Kau bercanda kan?"
"Sudah kubilang aku serius, Kai!"
"Kalau begitu aku tidak bisa menolongmu."
"Tapi, tapi kau harus! Waktunya cuma sedikit!"
"Aku tidak peduli! Sana cari saja orang lain!" desis Kai berang, kesabarannya sudah habis.
"Kalau bisa aku sudah mencari orang lain!" teriak Rei frustasi.
"Lalu kenapa kau masih di sini? Bukannya tadi siang kau sudah membuat keributan dengan menampakkan dirimu hah?" kata Kai masih berdesis, walaupun sedang kesal setengah mati tapi dia tidak mau dianggap gila karena berbicara sendirian.
Rei mengerucutkan bibirnya, kesal. "Dengar Kai, itu tidak bisa bertahan lama, hanya sesaat. Coba lihat ini," kata Rei sambil mengangkat tangannya. Tangannya terlihat lebih transparan dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. "Tanganku jadi begini hanya karena aku memegang selembar kartu selama satu menit. Menurutmu apa yang terjadi kalau aku terus menampakkan diriku dalam waktu yang lama? Aku bisa mati?"
"... Kau sudah mati Rei."
Rei merasa ingin menjambaki rambutnya sendiri, frustasi dengan sikap Kai yang dingin. "Aku tahu aku sudah mati! Jadi kumohon tolonglah aku, kalau tidak aku tidak bisa pergi dengan tenang," kata Rei putus asa memohon pada Kai.
Kai menghela napas dalam. "Tapi kau tidak punya petunjuk apapun bahkan kau tidak tahu siapa yang kau cari. Bagaimana aku bisa menolongmu?"
"Pasti ada jalannya," kata Rei mantap.
"Pasti ada jalannya," Kai meniru perkataan Rei dengan sebal.
Rei tidak memperdulikannya karena sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang, mencuri perhatiannya dari layar TV di sudut cafe.
"Kai! Itu dia, itu orang yang kucari!" serunya bersemangat menunjuk ke arah TV.
Kai melihat ke arah TV. "...Itu 'kan Yamada Ryoushi. Kau yakin dia yang sedang kau cari?"
"Aku sangat yakin. Pasti orang itu."
"Kalau begitu cari saja dia di studio. Besok kau akan kuantar kesana," kata Kai sambil berdiri hendak membayar makanannya.
Rei mengikutinya keluar cafe. "Tapi Kai kurasa..."
"Tidak ada tapi," potong Kai sambil terus berjalan pulang.
Rei mengerutkan keningnya tanda tidak setuju namun dia tidak protes lebih jauh lagi.
Esoknya, Kai mengantar Rei ke stasiun TV X. Mereka berdua berkeliling dengan harapan dapat menemukan Yamada Ryoushi.
"Sudah dua jam kita berkeliling tapi kita belum menemukannya," keluh Rei.
"Jangan mengeluh, ini 'kan masalahmu!" tegur Kai.
"Kai dengarkan aku, kurasa Yamada-san tidak ada disini," kata Rei memulai, "kurasa dulu aku disuruh seseorang untuk mencarinya."
"Ayo kita tanya mereka," kata Kai sambil berjalan ke arah segerombol gadis. Dia tidak memperdulikan pendapat Rei.
"Permisi, apa kalian tahu dimana aku bisa bertemu dengan Yamada Ryoushi?" tanya Kai pada salah satu gadis.
Melihat Kai, wajah gadis itu langsung bersemu merah. "Mmm.. Kami... Kami sudah lama tidak bertemu dengan Ryou-sama," jawab gadis itu terbata-bata. "Kata manajernya, Ryou-sama sedang beristirahat di luar kota mempersiapkan konser musim panasnya."
"Hn," Kai berpikir sejenak. "Dimana aku bisa menemui manajernya?"
Gadis itu menyerahkan kartu nama sebuah agensi. "Biasanya, Hijiri-san ada di sana."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kai berbalik, dan pergi begitu saja.
"Hei Kai! Kau mau kemana?" tanya Rei buru-buru mengikuti langkah lebar Kai.
"Bukankan sudah jelas? Kita pergi ke kantor agensi ini," kata Kai sambil mengacungkan kartu nama yang baru saja diterimanya tadi.
"Kai, kau seharusnya berterima kasih pada gadis tadi..." kata Rei dari sebelah Kai.
Kai tidak menjawab. Dia terus berjalan.
"Itu namanya sopan santun..." Rei terus melanjutkan.
Kai pun terus melanjutkan niatnya untuk tidak menanggapi Rei.
"Lagipula kurasa gadis itu menyukaimu. Kau lihat tidak wajahnya? Merah sekali bahkan bisa mengalahkan warna matamu..." Rei terus berbicara.
Kai mulai mempercepat langkahnya tapi hal itu tidak menjadi masalah untuk Rei yang dapat melayang dan menembus orang-orang yang berjalan berdesakan disekitar mereka.
"Kurasa kalau kau tadi berterima kasih dia akan sangat bahagia. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun... Gadis malang..."
"Rei apa kau tidak bisa diam?" bisik Kai pelan.
Sayangnya, bisikan itu sama sekali tidak sampai ke kuping Rei karena dia masih melanjutkan monolognya.
"Haah tapi aku mengerti perasaan gadis itu, aku juga..." Rei tiba-tiba saja menutup mulutnya. Wajahnya sedikit merona walaupun tidak terlalu kentara karena pada dasarnya tubuhnya transparan.
"Apa yang kau katakan tadi?" selidik Kai. Sebenarnya dia sudah tidak mendengarkan Rei lagi tapi karena sekarang dia tiba-tiba berhenti, Kai jadi merasa sedikit penasaran.
"Hah? Tidak! Aku tidak bilang apapun," kata Rei mengelak.
Kai menyipitkan matanya dengan curiga. "Apa kau mengataiku?"
"Apa? Tidak Kai! Aku hanya sudah kehabisan bahan untuk bicara," kata Rei cepat. Dia bingung dari mana Kai mendapat ide kalau dia sedang mengatainya. "Lagipula kenapa aku harus mengataimu?" kata Rei menyuarakan pendapatnya.
"Hn," hanya itu jawab Kai.
Mereka terus berjalan dalam diam selama sisa perjalanan.
"Ah Kai! Kurasa ini bangunan yang kita cari," kata Rei sambil menunjuk sebuah bangunan merah berlantai enam.
Kai melihat kartu nama di tangannya dan mengangguk setuju. Mereka berdua pun masuk ke dalam.
"Bagaimana kita mencari Hijiri-san?" tanya Rei.
Kai mengangkat bahunya. "Pasti ada jalan," jawabnya singkat sambil menyeringai.
Rei mengerutkan keningnya. "Hei! Kau sedang mengejekku ya?"
Kai terus berjalan tapi Rei tetap di tempatnya, merajuk.
"Kalau kau masih berdiri di situ, aku akan meninggalkan tempat ini sekarang juga," ancam Kai.
"Tidak adil!" teriak Rei sebal.
"Dunia ini memang tidak adil Rei," jawab Kai muram.
Melihat penolongnya menjadi muram, Rei langsung menghampirinya. "Kai, apa kau baik-baik saja?"
"Hn.. Ayo kita cari Hijiri-san."
Rei masih penasaran tapi dia tahu Kai bukan jenis orang yang bisa dipaksa jadi dia hanya diam dan menurut. Kai berjalan ke arah sebuah koridor di sebelah kiri. Lalu berbelok ke kanan di belokan berikutnya kemudian menaiki tangga.
"Ehm, Kai. Apa kau tahu kita harus kemana?" tanya Rei. Dia merasa Kai hanya berjalan tanpa arah tujuan.
"Tentu saja tidak tahu," kata Kai santai. "Aku hanya ingin berjalan berkeliling gedung ini."
"Ini bukan saatnya kau berjalan-jalan dengan santai Kai! Kita harus menemukan manajer yang bernama Hijiri itu!"
"Hn."
Jawaban Kai yang selalu seperti itu membuat Rei kesal.
"Aku akan mencari Hijiri-san disana," kata Rei sambil menunjuk ke arah lain dari jalur Kai.
"Terserah."
"Hmmph," dengan itu, Rei pun berbalik dan melayang ke arah lain.
"Dasar hantu bodoh," gumam Kai. Dia menyeringai dan membaca kartu ditangannya lagi. Disitu sudah jelas terpampang, kalau agensi itu terletak di lantai 5. Dia menuju ke lift yang ada di dekat situ.
Ping! Pintu lift terbuka di lantai 5. Terdapat lima pintu di lantai itu, dan salah satunya memiliki sebuah pelat dengan simbol yang sama dengan yang terdapat di kartu nama yang ada di tangannya. Tanpa keraguan dia masuk ke dalam.
Ternyata ruangan itu menyatu dengan ruangan lainnya di sepanjang koridor. Mungkin ruangan di seberang kantor ini pun adalah bagian dari kantor agensi ini. Kemudian, seorang pria menghampirinya.
"Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanyanya sopan.
"Aku ingin bertemu dengan Hijiri-san," kata Kai langsung.
"Apa kau sudah membuat janji?"
"Belum, tapi ini menyangkut Yamada Ryoushi..."
"Shh! Ayo masuk! Kau akan kuantar ke ruangan Hijiri-san," kata pria itu memotong perkataan Kai dengan cepat dan menariknya masuk kemudian terburu-buru menutup pintu.
Pria itu mengetuk sebuah pintu. Dan dari dalam terdengar seseorang menyuruhnya masuk.
"Kau tunggu di sini!" katanya. Dan pria itu pun masuk ke dalam.
Tidak sampai satu menit kemudian, dia keluar lagi dan mempersilakan Kai masuk.
"Selamat sore," sapa seorang pria dari balik meja dengan ramah. "Silakan duduk."
"Tidak usah," kata Kai datar. "Aku hanya ingin bertanya dimana aku bisa menemukan Yamada Ryoushi."
Mata pria itu membulat kaget. "Apa?" tanyanya.
"Aku bilang: dimana aku bisa menemukan Yamada Ryoushi?" ulang Kai.
"Apa... jadi kau... tapi kami kira..." katanya tergagap. "Ah! Sial!" makinya kemudian saat otaknya dapat berfungsi kembali.
Kai hanya berdiri di tempatnya. Berharap pria ini tahu dimana Yamada Ryoushi berada agar dia bisa lepas dari hantu bernama Rei.
"Dia tidak ada di sini. Dia sedang berlibur ke luar kota."
"... Kau bohong."
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Sekarang pergilah!" keramahan Hijiri-san menguap habis.
"Aku akan pergi kalau kau sudah mengatakan dimana Yamada-san berada," kata Kai tidak bergeming.
"Sudah kubilang dia..."
"Seseorang menyuruhku mencarinya," potong Kai cepat. "Seseorang bernama Rei."
"Rei? Apa maksudmu pemuda berambut luar biasa panjang dan mata kuning keemasan?"
Kai mengangguk, mengkonfirmasi pernyataan Hijiri-san.
"Kau bertemu Rei? Dimana dia?"
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Tapi dia menyuruhku mencari Yamada-san."
"Ahh. Sepertinya dia juga tidak berhasil. Padahal aku berharap banyak darinya," kata Hijiri-san sambil menghembuskan napas berat, bahunya sedikit merosot. "...Apa Rei tidak memberitahumu apa yang terjadi?"
"Tidak," jawab Kai. 'Dia bahkan tidak ingat apapun,' tambahnya dalam hati.
Lagi-lagi Hijiri-san menghembuskan napas dengan berat. "Siapa namamu?"
"Kai. Kai Hiwatari."
"Baiklah. Kai, sebenarnya Ryou tidak ada di sini..."
"Aku sudah tahu itu," potong Kai dengan nada bosan.
"Jangan potong aku! Ryou sudah menghilang hampir sebulan yang lalu. Dan Rei adalah salah seorang yang kubayar tolong untuk mencari Ryou..."
"Apa? Kau serius?"
"Tentu saja! Untuk apa aku berbohong di saat seperti ini? Jadi, apa Rei sudah mendapat petunjuk lagi dimana Ryou mungkin berada?" tanya Hijiri-san penuh harap.
"Sudah kubilang dia tidak mengatakan apapun padaku."
"Padahal kuharap ada berita baru. Karena dia tiba-tiba saja menghilang seminggu yang lalu."
Kai hanya terdiam. Sekarang dia mengerti kenapa Rei bisa menjadi hantu gentayangan. Dan dalam hatinya dia merasa kasihan pada hantu itu. Mungkin dia dibunuh oleh seseorang saat mencari Yamada.
'Dasar hantu bodoh.'
"Apa petunjuk terakhir yang diberikan Rei?" tanya Kai sesaat kemudian.
"Dia hanya memberikan daftar beberapa nama orang yang dia curigai," kata Hijiri-san sambil mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya.
"Ini salinannya. Ambillah, mungkin berguna."
Kai mengambil kertas itu, didalamnya terdapat sekitar 20 nama tapi terdapat beberapa nama berhuruf tebal dan berwarna merah.
'Aku akan mempelajarinya lagi di rumah,' pikirnya.
Ahh maafkan kalau ceritanya kurang berkembang *A*
Oia, chapy ini belum diedit sama masterkucinggila jadiiiii kalau ada kata-kata yang agak cangggung atau kalimat yang aneh atau keadaan yang ga masuk akal,, harap maklum yaa m(_ _)m
jyaa~
