KaiRei Fanfiction
Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)
Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!
No flame please m(_ _)m
Please enjoy your read :D
Chapter 9
"Kai! Kau pergi kemana saja?" Rei langsung menghampiri Kai saat dia melihatnya keluar dari lift. Saat itu Rei menunggu di lantai 1.
"Tentu saja aku pergi menemui Hijiri-san," kata Kai dengan wajah datar.
"Kau berhasil menemukannya?" tanya Rei kaget.
Kai mengangguk. "Ceritanya nanti saja. Ayo kita pulang."
Mereka berdua berjalan keluar dari gedung itu.
Rei sangat penasaran bagaimana Kai bisa menemukan Hijiri-san tapi dia tahu Kai tidak akan membuka mulutnya di dalam kereta seperti sekarang. Oleh karena itu, dia menunggu sampai mereka turun dari kereta. Kemudian saat mereka memasuki jalan yang cukup sepi di daerah sekitar tempat tinggal Kai, Rei langsung membuka mulutnya untuk bertanya tapi Kai memotongnya.
"Aku tahu Hijiri-san ada dimana dari kartu nama yang kudapat dari gadis di stasiun TV itu."
"Apa? Lalu kenapa kau tidak mengajakku?"
"Aku hanya bosan kau ikuti terus," kata Kai sambil mengangkat bahunya.
"Kai! Itu tidak bisa menjadi alasan kau tidak mengajakku..."
"Aku mengajakmu atau tidak, itu tidak akan mengubah apapun Rei," potong Kai lagi.
"Kita tidak akan pernah tahu Kai! Bagaimana kalau ternyata aku bisa mengingat sesuatu kalau aku bertemu dengan Hijiri-san?"
"Aku yakin kau pasti ingat sesuatu Rei," dengus Kai sinis.
Rei menggertakkan giginya, "Kau..."
Kali ini pun perkataannya tidak selesai karena saat itu tiba-tiba Kai berlari menuju flatnya sambil memaki. Rei yang masih tidak mengerti apa yang terjadi hanya melongo di jalan, menatap Kai yang sudah berbelok masuk ke dalam kompleks flatnya. Rei melayangkan pandangannya ke atas, kearah flat Kai berada. Dari luar terlihat lampu didalam sudah dinyalakan.
'Apa ada pencuri yang masuk? Tapi kenapa pencuri harus repot-repot menyalakan lampu?' tanya Rei dalam hati. Dengan hati yang cemas, Rei langsung melayang ke arah flat Kai di lantai enam.
Saat Rei sampai di atas, Kai ternyata sudah berada di dalam. Dan sepertinya, dia sedang bertengkar dengan seseorang karena suaranya keras terdengar hingga ke pintu depan.
"Mau apa kau datang kesini?" katanya pada seseorang dengan murka.
Rei yang sudah berdiri tepat dibelakangnya, menengok dari balik bahu Kai untuk melihat dia berbicara dengan siapa. Ternyata Kai berbicara dengan seorang pria tua. Pria tua yang mirip dengan Kai (1).
"Kau cucuku Kai! Selain itu saat ini aku adalah walimu jadi aku bebas menemuimu kapan pun aku mau," jawab pria tua itu.
"Kau menjadi waliku karena kau membunuh ayahku!" bentak Kai.
"Sudah kukatakan itu hanya kecelakaan," tukas pria tua itu dengan jengkel.
"Aku sudah muak dengan semua alasan yang kau berikan! Pergi dari sini!" kata Kai sekarang suaranya sudah meningkat beberapa oktaf.
"Kai! Tidak perlu berteriak seperti itu! Aku hanya ingin menawarimu..."
"Aku tidak butuh uangmu! Pergi!"
Rei hanya melongo melihat kedua orang itu bertengkar hebat. Kesimpulan yang didapatnya dari pertengkaran itu adalah bahwa mereka adalah sepasang kakek dan cucu yang memiliki hubungan tidak begitu baik... atau lebih tepatnya sangat buruk mengingat sekarang makian yang dilontarkan Kai pada kakeknya sangat "kreatif". Dan kata-kata yang keluar dari mulut sang kakek juga tidak kalah "berwarna". Rei tidak habis pikir darimana mereka mendapatkan kosa kata semacam itu.
Saat suasana semakin panas, tiba-tiba saja pria tua itu mengayunkan tongkat yang sedari tadi dibawanya ke arah Kai.
"Kai awas!" teriak Rei sambil melemparkan tubuhnya ke depan Kai.
Mata pria tua itu melebar, tongkatnya terhenti hanya beberapa senti dari wajah Rei yang menutup matanya rapat-rapat.
"Apa ini?" tanya orang tua itu.
Kai tidak menjawab, sama kagetnya dengan sang kakek.
Pria itu menurunkan tongkatnya dan dengan wajah pucat membalikkan tubuhnya.
"Aku akan datang lagi nanti."
Terdengar suara pintu dibanting. Rei membuka matanya perlahan dan melihat pria tua itu sudah pergi. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat Kai yang masih tercengang.
"Kai, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Kai tidak menjawab, matanya berkedip satu-dua kali. Lalu dia berkata, "Apa.. apa yang kau lakukan tadi? Kenapa kau melakukan itu?"
"Hah?"
"Apa yang kau lakukan tadi Rei? Kenapa kau melindungiku? Aku tidak butuh dilindungi! Aku bukan orang lemah!" kata Kai suaranya semakin tinggi.
"Maafkan aku Kai, aku hanya bergerak berdasarkan refleksku saja... Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir," kata Rei.
Kai mendudukkan dirinya di kursi yang tadi ditempati oleh kakeknya, kemudian dia membenamkan wajah di kedua telapak tangannya. Rei tidak sampai hati mengganggunya, saat ini Kai terlihat sangat rapuh, berbeda dengan Kai yang selama dua hari ini diketahuinya. Kai yang dia tahu adalah seorang pemuda sinis dan menyebalkan.
'Tidak kusangka aku akan melihat Kai terlihat begitu lemah dan sengsara seperti ini,' pikir Rei sambil memperhatikan Kai yang masih berusaha mengendalikan emosinya.
Tidak lama kemudian, Kai mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah Rei.
"Jangan sekali-kali lagi bertindak seperti tadi!" semburnya.
"Maafkan aku," jawab Rei pelan.
"Maaf saja tidak cukup Rei. Aku tidak mau ada orang yang mati lagi gara-gara aku," kata Kai muram.
"Aku baik-baik saja Kai. Lagipula kau sendiri 'kan yang bilang kalau aku sudah mati? Jadi aku tidak akan mati untuk kedua kalinya," kata Rei berusaha bercanda untuk mencairkan suasana.
Kai memandangnya dengan aneh kemudian berdiri dan masuk ke kamar tidurnya. "Aku mau tidur."
Kali ini Rei tidak mengikutinya, dia mengerti kalau Kai sekarang membutuhkan waktu untuk sendirian.
Keesokan harinya, Kai keluar kamar dengan wajah pucat, matanya merah, dan disekeliling matanya terdapat lingkaran hitam. Jelas sudah kalau dia tidak tidur semalaman. Rei langsung duduk tegak di tempat duduknya, di sofa di depan TV. Rei membuka mulut untuk mengucapkan selamat pagi tapi sebelum dia mengucapkan sepatah kata pun Kai duduk disebelahnya dan melemparkan beberapa lembar kertas ke atas meja di hadapan mereka.
"Ini yang diberikan Hijiri-san kemarin," katanya singkat.
"Apa itu?" tanya Rei sambil melirik ingin tahu ke arah kertas-kertas itu.
Kai mengerutkan dahinya. "Dia bilang kau yang memberikan kertas-kertas ini padanya."
"Aku? Kenapa? Bagaimana bisa?" tanya Rei bingung.
"Mana kutahu. Kusarankan lebih baik kau menggali ingatanmu mulai sekarang kalau kau ingin cepat menemukan Yamada-san."
"Aku mengerti. Aku selalu, selalu, berusaha menggali ingatanku. Kau harus tahu itu tapi..." Rei tidak menyelesaikan perkataannya.
"Hn," kata Kai seperti biasa. Kemudian dia menjejerkan kertas-kertas itu dihadapan Rei. "Coba lihat dan perhatikan. Apakah kau bisa mengingat sesuatu?"
Rei memperhatikan sejenak tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Rasanya ada yang kurang disini," katanya lebih pada dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan nama-nama yang bercetak tebal dan berwarna merah itu?"
"Aku tidak tahu Kai," kata Rei lemah.
"Hhh. Kalau begitu ayo kita makan dulu," kata Kai sambil berdiri.
Rei melirik jam dinding, sudah pukul delapan kurang lima belas. "Kau tidak sekolah?"
"Sekarang aku sedang tidak berniat untuk sekolah," kata Kai sambil membuka pintu. Dia tidak ingin pergi karena Tala pasti akan terus menempel berusaha menghiburnya. Selalu saja begitu setiap kali setelah kakeknya datang berkunjung.
Mereka berjalan dalam diam. Rei sesekali melirik ke arah Kai.
"Kenapa kau?" tanya Kai sebal.
"Kai aku tahu ini bukan urusanku dan aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan kakekmu tapi..."
"Cukup Rei!" potong Kai tajam.
Rei tetap melanjutkan. "Tapi dia kakekmu Kai. Seharusnya kau lebih menghormatinya, kau tidak berhak memakinya seperti kemarin."
"Dia tidak pantas untuk dihormati," kata Kai dingin.
"Sudah kubilang aku tidak tahu apa masalahmu tapi cobalah beri dia kesempatan. Kurasa dia menyayangimu," kata Rei.
"Mustahil! Tahu apa kau?"
"Tentu saja aku tahu! Aku tahu dari matanya, sebelum kau memakinya tentu saja."
"Kau tidak mengenalnya Rei," kata Kai. Dia mulai jengkel dengan semua pembicaraan ini.
"Aku memang tidak kenal tapi menurutku dia hanya sulit mengungkapkan perasannya dengan jujur."
"Hentikan Rei. Aku tidak mau membahas kejadian kemarin!"
"... Baiklah," kata Rei enggan. "Tapi biarkan aku memberimu satu nasihat. Percayalah padanya dan berilah dia kesempatan walau hanya sekali untuk menjadi seorang kakek. Berilah kesempatan padanya untuk menebus rasa bersalahnya."
Lagi-lagi Kai menatapnya aneh tapi dia tidak berkomentar apa pun.
Sore hari tiba dengan cepat. Kai dan Rei duduk di meja makan Kai. Mereka berdua sudah duduk berjam-jam disitu semenjak pulang dari cafe tempat Kai biasa makan, memandangi sekian banyak nama yang sepertinya tidak memiliki makna apapun di kepala Rei.
Jam menunjukkan angka empat ketika Kai berdiri merenggangkan badannya yang kaku karena duduk terlalu lama. Dia sudah tidak mau mengingat lagi kunjungan kakeknya dan perbuatan yang dilakukan kakeknya pada orang tuanya. Ya! Memang betul sejak berjam-jam yang lalu Kai hanya memandang kosong pada kertas-kertas yang berjejer dihadapnnya, dalam kepalanya dia sedang memikirkan hal lain.
'Ini gara-gara nasihat konyol Rei,' pikir Kai kesal.
Kai berjalan ke ruang duduk.
"Kau mau kemana?" tanya Rei dari tempat duduknya. Matanya masih memandangi nama-nama fans Yamada Ryoushi.
Kai tidak menjawab dia terus berjalan. Sesampainya di ruang tengah dia duduk berselonjor di sofa dan menyalakan TV. Rei melayang menghampirinya.
"Kau seharusnya menemaniku disana!" katanya sambil menunjuk ke arah dapur.
"Kalau kau tidak mengerti apa arti nama-nama itu apalagi aku," kata Kai sambil menelusuri setiap stasiun TV mencari acara yang menarik.
Mendengar jawaban Kai, Rei mengerucutkan bibirnya. "Terima kasih atas dorongannya," sindir Rei kesal.
Kai hanya mengangkat bahu tidak peduli. Dia kemudian berhenti di salah satu saluran TV. Rei, yang sebenarnya juga sudah bosan, ikut menonton.
"Tinju pegasus!" seru salah satu tokoh anime (2) yang sedang mereka tonton.
'Pegasus...' ulang Rei dalam hati. Sepertinya kata itu memiliki arti tertentu dalam kasus ini.
Rei melayang kembali ke dapur. Dia menelusuri kembali daftar nama yang sudah berjam-jam dia pelototi.
"Aha!" pekiknya girang. "Kai! Kai! Aku menemukannya!" teriaknya kegirangan.
Tapi tidak ada jawaban apapun dari Kai.
"Hei Kai, kubilang aku menemukannya," kata Rei sambil melayang kembali ke ruang duduk.
Tetap tidak ada jawaban.
"Kaaai~ jangan pura-pura tidak mendengarku!" kata Rei sambil mengerucutkan bibirnya. "Kai!" seru Rei. "Ah! Ternyata dia tidur," kata Rei sambil menutup mulutnya.
"Kau pasti lelah karena semalaman tidak tidur. Tidurlah yang nyenyak," kata Rei sambil menjulurkan tangannya, dia kemudian mengusap rambut Kai.
(1) aku tahu sebenernya Voltaire ga mirip dengan Kai tapi kita asumsikan aja mirip yaa ^^v
(2) tau 'kan anime apaan?
Hai minna, I'm back :3 setelah sekian lama akhirnya baru bisa update lagi, walaupun hasilnya kurang memuaskan huhuhu
Oia, chapy kali ini juga ga di edit jadi kalau ada typo atau kalimat aneh atau kejadian ga masuk akal tolong bilang yaa...
Sekian dulu deh... Jyaa nee~
