KaiRei Fanfiction

Disclaimer: I love Kai and Rei but unfortunately they are NOT mine TT_TT neither are the other beyblade characters. But I DO have the other characters in this fic :)

Warning! This story may contain slightly BL elements. Don't like don't read!

No flame please m(_ _)m

Enjoy :D

Chapter 11

Kai menyusuri koridor supermarket yang menyediakan bahan makanan.

"Hantu bodoh, beri aku alasan kenapa aku harus menurutimu berbelanja seperti ini," gerutu Kai.

"Karena aku bosan melihatmu makan spaghetti setiap hari," jawab Rei sambil mengamati barisan daging sapi.

"Apa yang salah dengan spaghetti? Lagipula aku juga makan makanan lainnya," kata Kai membela diri.

"Tidak ada yang salah dengan spaghetti, hanya saja apa kau tidak bosan? Setiap malam kau makan itu?"

Kai ingin menjawab 'tidak' tapi Rei memotongnya.

"Kai beli yang ini," kata Rei sambil menunjuk daging has.

Kai hanya bisa menghela napas dan menuruti keinginan Rei.


Kai membuka kunci flatnya.

"Okaeri Kai," sambut Rei sambil tersenyum lebar.

"Tadaima."

Nampaknya sekarang menyambut Kai pulang sudah menjadi kebiasaan baru Rei. Sebenarnya, bukan hanya pulang tapi ketika akan pergi Rei juga akan mengantarnya dengan 'Itterasshai'. Padahal setelah itu dia mengikutinya ke sekolah. Awalnya Kai merasa canggung tapi sekarang dia sudah terbiasa.

Kai meletakkan barang belanjaannya di konter dapur.

"Apa yang harus kulakukan dengan semua bahan makanan ini hah?" tanya Kai kesal.

"Tentu saja dimasak 'kan?"

"Siapa?"

"Kau."

"... Kau bercanda 'kan?"

"Kenapa kau pikir aku bercanda?"

"Aku tidak pernah memasak sekali pun!"

"Lalu?"

"... Aku tidak tahu bagaimana caranya," bisik Kai pelan sampai Rei hampir tidak mendengarnya.

"Tenang saja, aku akan membantumu," kata Rei memberi semangat.

"Apa yang membuatmu yakin kalau kau ingat cara memasak?"

"Satu lagi pertanyaan bagus darimu," kata Rei menyindir. "Aku juga tidak mengerti bagaimana tapi aku yakinaku bisa memasak!"

Kai memandangnya tidak yakin beberapa saat lalu menghela napas panjang.

"Baiklah. Aku tahu kau tidak akan membiarkanku makan spaghetti dengan tenang. Jadi, ayo kita selesaikan ini dengan cepat."

"Yaay!"

"Tapi!"

"Tapi apa?"

"Tapi kalau masakan kali ini gagal. Aku tidak akan pernah memasak lagi! Mengerti?"

"Ya, ya, aku mengerti. Tapi aku yakin kita akan berhasil," kata Rei sambil tersenyum kecil.

Kai membalikkan tubuhnya kemudian berdehem. "Jadi, apa yang pertama harus kulakukan?"


"Bagaimana? Sukses 'kan?" tanya Rei penasaran.

"Hmm aku tidak yakin," jawab Kai sambil memasang ekspresi ragu-ragu.

"Kai!"

"Baiklah, baiklah. Sukses! Sukses besar! Puas?" kata Kai kesal. "Tapi apa yang harus kulakukan dengan kare sebanyak ini? Aku tidak mungkin menghabiskan semuanya," kata Kai sambil melihat isi panci.

"Tenang saja, kau bisa menghangatkannya untuk dimakan besok dan besoknya dan besoknya dan be..."

"Rei hentikan!"

"Heheh maaf Kai."

"Hei hantu bodoh, apa kau menyuruhku berhenti makan spaghetti setiap hari supaya aku bisa makan kare setiap hari?" gerutu Kai.

"Apa kau bisa berhenti memanggilku hantu bodoh?" kata Rei kesal. "Dan aku tidak menyuruhmu memakan nasi kare setiap hari. Aku juga tidak menyangka akhirnya kita malah membuat kare sebanyak ini," kata Rei sambi menunjuk sepanci besar kare yang masih dipandangi Kai.

"Tsk! Itulah kenapa kau kusebut hantu bodoh!"

Rei mengerucutkan bibirnya lalu dia menemukan ide cemerlang. "Aku tahu Kai!"

"Apalagi sekarang?!"

"Kita undang saja sepupu dan kakekmu."

Mendengar saran Rei, Kai tersedak kare yang sedang diicipnya. "Uhuk.. uhuk... Kau.. Apa kau.. uhuk.. gila?!"

"Hah?"

"Aku tidak akan pernah mengundang Tala dan kakek kesini!" Kai menyalak.

"Kenapa tidak?" tanya Rei bingung.

"Pokoknya tidak!"

"Tapi..."

"Kau tidak mengerti Rei. Bertemu dengan salah satu dari mereka saja sudah membuatku pusing. Apalagi harus bertemu dengan keduanya sekaligus. Di sini. Hanya kami bertiga. Tidak. Tidak. Tidak," kata Kai ngeri.

"Reaksimu berlebihan," ujar Rei.

"Kau berkata seperti itu karena kau tidak mengerti," ujar Kai.

"Aku memang tidak mengerti... Aku bahkan tidak ingat bagaimana rasanya mempunyai keluarga..."

"Rei, aku.."

"Kau beruntung Kai masih mempunyai keluarga meskipun kau membenci mereka tapi kau tahu kau tidak sendirian di dunia ini..."

"Rei berhenti meracau!"

"Kau seharusnya.."

"Baiklah aku menyerah!" seru Kai kesal.

"Apa kau akan mengundang mereka?" tanya Rei penuh harap.

"Untuk sekarang aku hanya bisa mentolerir salah satu dari mereka," kata Kai jujur.

"Baiklah," kata Rei menyerah. "Jadi siapa yang akan kau undang kalau begitu?"


"Tidak tahu kau bisa memasak, Kai."

"Apa makanan ini bisa dimakan?"

"Tenang saja Tal, aku membawa obat ini. Kau tahu, persiapan kalau kita keracunan makanan," kata Bryan sambil menunjukkan botol berwarna coklat.

"Persiapanmu hebat, seperti biasa," puji Tala.

"Apa kalian bisa berhenti berbicara?" tanya Kai kesal dari meja makan.

"Kai, jangan marah. Biarkan saja mereka," kata Rei berusaha menenangkan.

"Jangan marah. Dia bercanda ini bukan obat untuk keracunan makanan, ini obat untuk diare," kata Tala terkekeh sambil membaca label yang tertera pada botol coklat yang dibawa oleh Bryan.

"Ya. Jangan marah karena Aku yakin kalau kau bisa memasak," kata Bryan sambil menekankan kata 'yakin'.

Kai berdecak melihat kelakuan sepupu dan temannya itu. 'Sudah kukira akan begini jadinya.'

"Kalau kalian tidak mau makan, pulang sana," kata Kai kesal.

"Aw Kai, seperti biasa kau bukan tuan rumah yang baik," kata Tala sambil mengambil seporsi kare untuk dirinya sendiri dan untuk Bryan.

"Dan seperti biasa juga kalian bukan tamu yang baik," kata Kai masam.

Tala dan Bryan terkekeh mendengar komentar Kai. Menggoda Kai selalu menyenangkan.

"Kalau begitu sekarang kami akan menjadi tamu yang baik dan akan memakan kare buatanmu tanpa berkomentar apapun lagi soal rasanya apalagi sakit perut yang harus kami rasakan setelah makan masakanmu ini," kata Tala ringan.

"Itadakimasu," Bryan memotong makian apapun yang akan dilontarkan Kai pada Tala.

"Itadakimaaasuu~," Tala mengikuti contoh Bryan.

Kai menghela napas panjang dia merasa ini bukanlah kali terakhir Tala dan Bryan mengganggu makan malamnya.


Perkiraan Kai sama sekali tidak meleset, dua hari berturut-turut Tala dan Bryan datang lagi untuk makan malam di rumahnya. Di lain sisi, kedatangan mereka justru membuat Rei senang dan dia sudah merencanakan menu makan malam selanjutnya.

"Kenapa kalian belum pulang?" tanya Kai saat dia mendapati kalau sepupu dan sahabatnya masih belum pergi dari rumahnya. Dia tahu itu pertanyaan bodoh karena hanya akan menbuatnya semakin kesal tapi dia tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Apa kau tidak bisa lihat? Aku sedang bermain shogi," kata Tala serius sambil memandangi layar laptop miliknya. Sementara Bryan tidak menjawab, dia hanya duduk-duduk di sofa mencari acara TV yang menarik.

"Memangnya kau tidak bisa bermain shogi di rumahmu?" tanya Kai kesal.

"Tapi di rumah aku sendirian, membosankan," gumam Tala. "Sial! Orang ini menghinaku!" gerutu Tala.

"Apa dia hebat?" tanya Bryan yang tiba-tiba saja tertarik setelah mendengar gerutuan Tala.

"Lumayan. Tapi sebentar lagi aku akan menghajarnya," kata Tala serius.

"Beri tahu aku kalau kau kalah. Aku akan menantangnya," sahut Bryan kembali melayangkan pandangannya ke layar TV.

Tala tidak berkomentar lebih jauh lagi. Sekarang, dia benar-benar memusatkan perhatian pada lawannya.

Kai menghela napas panjang. Terserah kalau mereka belum mau pergi dari rumahnya, dia sudah menyerah. Kai kemudian duduk di seberang Tala di meja makan. Dia membuka laptopnya sendiri untuk melanjutkan penyelidikannya tentang thunder_pegasus. Tapi setelah dua jam dia sama sekali tidak bisa menemukan sesuatu yang penting tentang thunder_pegasus.

"Aah, kau kalah," ujar Rei kecewa. "Sayang sekali, padahal kau hampir menang... Kurasa langkah terakhirmu terlalu terburu-buru."

Kai mendongakkan kepalanya. Dia melihat Rei 'duduk' di sebelah Tala sambil menggelengkan kepalanya. Tanpa aba-aba, Rei menepuk kepala Tala dan sebagai reaksinya Tala langsung bergidik. Kai terkekeh melihat ekspresi kaget Tala.

"Apa kau sedang menertawaiku?" tanya Tala galak.

Kai tidak ingin membuat Tala marah walaupun tidak mau mengakuinya tapi Tala menyeramkan kalau marah dan dia bisa terus marah selama berminggu-minggu.

"Aku tidak tertawa," kata Kai berusaha membuat ekspresi wajahnya sedatar mungkin. "Tala, apa kau kalah?" tanya Kai agak keras dengan nada mengejek. Dia berdoa supaya Bryan terpancing.

Tidak sampai tiga detik kemudian Bryan sudah ada di samping Tala. Dia mengamati papan catur yang terpampang di layar laptop Tala.

"Awas!" ujar Bryan sambil menggeser Tala.

"Waaah~" seru Rei kaget karena bangku yang digunakannya untuk 'duduk' ditarik begitu saja oleh Bryan.

"Hei! Aku bisa jatuh!" seru Tala kesal. Bryan tidak mendengarkannya, dia sudah mulai bermain.

Kai buru-buru menundukkan kepalanya kembali di tengah kerusuhan itu agar Tala lupa padanya tapi sayang usahanya tidak berhasil.

"Hei Kai, kau sedang apa?" tanya Tala yang sekarang tidak punya sesuatu untuk dikerjakan. Sepertinya dia sudah lupa kalau tadi dia sedang marah. Kai tidak pernah bisa menebak perubahan emosi Tala.

"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Rei ikut-ikutan. "Ahh! Thunder_pegasus!" seru Rei.

"Hee~ apa ini? Aku tidak menyangka ini~" kata Tala senang.

"Apa ada perkembangan terbaru, Kai?" tanya Rei penuh harap.

"Aku tidak tahu kalau kau ternyata fanboy Ryoushi Yamada," kata Tala.

"Apa kau sudah tahu siapa dia? Dimana dia tinggal?"

"Atau kau hanya berusaha mendekati seseorang? Apakah orang ini? Thunder_pegasus?"

"Kai," kata Tala dan Rei berbarengan.

"Akhhh! Diam! Berhenti bertanya di waktu yang sama. Kalian berisik!" seru Kai. Dia lalu menutup laptopnya dengan kesal lalu pergi ke kamarnya begitu saja.

"Pemarah," gumam Rei.

"Kenapa anak itu? Lagipula kenapa dia bilang 'kalian'? Bryan 'kan tidak sedang mengganggunya," tanya Tala kebingungan pada dirinya sendiri.

Tala kemudian melirik laptop Kai dan senyum jahil tersungging di bibirnya.

"Yaah~ kalau Kai tidak mau memberitahuku, aku akan mencarinya sendiri," ujar Tala.


"Kaaaii!" teriak Rei sambil menembus pintu kamar Kai.

Kai mengernyitkan wajahnya. Dia mungkin sudah terbiasa pada Rei yang tidak pernah menghiraukan hukum alam tembok dan pintu sebagai benda padat tapi dia tidak akan pernah bisa terbiasa saat Rei mengganggu privasinya.

"Mau apa kau hantu bodoh?" tanya Kai kesal.

"Dia.. Sepupumu.. Tala!" kata Rei sambil menunjuk-nunjuk ke arah pintu.

Kai hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Dia menemukan dimana Thunder_pegasus tinggal!"

Kai langsung berlari keluar dari ruangannya. Dia segera berlari menghampiri Tala.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kai.

"Oh, Kai! Lihat aku menemukan alamat gadis yang sedang kau stalking," ujar Tala penuh kemenangan.

"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Kai.

Tala kemudian menjelaskan berbagai hal teknis bagaimana cara melacak seseorang (1), Kai hanya separuh mendengarkan. Dia tidak pernah tahu Tala bisa melakukan hal secanggih ini.

"Aku tidak sedang men-stalking orang ini," kata Kai.

Kai melirik sekilas ke arah Rei. Rei menganggukkan kepalanya.

"Tapi... dia tahu sesuatu tentang hilangnya Ryoushi Yamada," kata Kai sambil menatap Tala lurus-lurus.

Tala tidak mengatakan apapun untuk beberapa saat.

"... Kai, kau sudah berubah... Aku tidak tahu kau begitu menyukai Ryoushi Yamada?!" seru Tala.

=tsuzuku=


(1) Maaf ga bisa dijelasin gimana orz karena pengarang juga ga tahu detailnya tapi pernah baca di suatu novel, ada yang bisa kaya gitu ^^v


Aah maaf digantung lagi dan maaf juga untuk akhir gaje itu orz

Yah tapi se-engga-nya berhasil update fic ini sebelum tutup tahun~ Yaaay~ \^o^/

Happy new year 2014~