Blackdaeight Present
Two Side
GOT7 fanfict [JJP a.k Bnior couple]
Romance, Drama
Rated M [For Mature Content]
WARNING !
YAOI FANFICT, BOYS LOVE AREA
GA JELAS, TYPO ALWEYS EVERYWHERE, OOC-PENISTAAN KARAKTER
GA SUKA YA JANGAN BACA AMPE ABIS YA *GA
Two Side
Here we go!
.
.
Park jinyoung-atau siapapun nama yang diberikan oleh pria yang mondar mandir tak karuan dihadapannya ini, masih tak bergeming. sembari asik menikmati sarapan seadanya, kedua mata Jinyoung masih setia mengawasi pria di hadapannya. Meski cuma semangkuk sereal coklat dan segelas susu, namun menu di pagi pertamanya berada ditempat asing tak patut Jinyoung lewatkan. Lapar! Lambungnya terasa perih, tubuhnya pun pegal. Tenaganya terkuras habis sampai ke titik penghabisan. Jinyoung terus menyendok serealnya ke mulut, sembari sesekali bergumam tak jelas mencibir pria-yang sekali lagi, masih setia melakukan kegiatan yang dilakukannya sejak 15 menit lalu.
"Jadi,, sebenarnya siapa yang kehilangan ingatannya? Dasar pria aneh" Cibirnya. Jaebum yang merasa tersindir oleh cibiran bocah asing itu pun mendadak berhenti.
"ya! Ya! Ya! Apa katamu barusan? Hilang ingatan? Haish-ya! Harusnya aku yang berhak mencibirmu. Bagaimana bisa kau-disini, tanpa busana dan.. pakaianku! Arg!" Jaebum mengoceh sembari menjambak kecil rambut hitamnya. Oh betapa naas dan berantakannya rambut pria itu sekarang. Berlainan dengan keadaan Jaebum yang-sungguh, kondisinya lebih mengerikan dibanding keadaan seorang pasien rumah sakit jiwa, Jinyoung dengan santai menyuap sesendok sereal terakhir dari mangkuk sarapannya. Tak mendapati susu yang menjadi teman makan paginya, Jinyoung bangkit menuju lemari es dan membuka pintunya dengan perlahan. Wajahnya berbinar begitu menemukan sebotol susu segar terakhir diantara botol beer. 'Dasar pria kesepian' piker Jinyoung polos. Isi lemari pendingin pria emosional itu begitu mengenaskan, hampir sama dengan kondisinya pagi ini.
"Hey, kau tak bisa seenaknya mengambil isi lemari pendingin seseorang" Jaebum menutup kasar pintu lemari pendingin yang tak tertutup rapat oleh Jinyoung.
"Aku cuma butuh makanan. Berusaha mengingat dan perbuatanmu semalam sungguh sangat menguras tenagaku" Suara Jinyoung melemah. Diletakkannya kembali botol susu itu ke meja kecil tempatnya menghabiskan sarapan. Jinyoung pun meraih kembali kursinya. Sesekali terdengar ringisan kesakitan saat bokongnya bersentuhan dengan dudukan kursi. Oh apa yang telah pria gila itu lakukan, selain membuatnya larut dalam kenikmatan nampaknya juga membuatnya tersiksa pada akhirnya. Jinyoung hanya bisa berharap semoga kesadaran pria didepannya itu terus ada bersama dirinya. Lelaki manis itu tak mau tersiksa untuk kesekian kalinya karna sosok lain dari pria itu.
Sosok lain..
Jinyoung bergidik ngeri. Bagaimana bisa pria setampan jaebum ini memiliki sisi mengerikan seperti yang sosok itu akui bernama JB?
Merasa ocehannya semakin tak berguna, dan tak membantu menyelesaikan masalahnya, Jaebum menyerah. Ia mengambil tempat dihadapan lelaki manis itu, Jaebum terdiam. Mencoba memasang wajah bersahabat dan seramah mungkin, berharap Jinyoung dihadapannya ini bisa mengingat sesuatu yang dapat membantunya keluar dari kegilaan. Atau membantu keduanya kembali kekehidupan normal mereka. Jaebum hanya bisa berharap.
"jadi.. Jin-young?" sapa Jaebum dengan keraguan. Jinyoung yang sebelumnya menunguk dalam pun mulai menaruh perhatian pada jaebum.
Aapa kau marah padaku?"
Batin Jaebum mencelos. Tatapan Jinyoung yang begitu polos menunjukkan berbagai macam perasaan dari dalam lelaki kecil itu. Jaebum sontak menutup kedua matanya dalam. 'Oh sial, sial, sial!' umpatnya. Setan terkutuk macam apa yang mendiami dirinya hingga dengan tega menodai lelaki malang tak bersalah seperti Jinyoung? Di buangnya nafas kasar, Jaebum menyeka wajah dengan kedua tangannya. Mencoba tenang menghadapi keadaan.
"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya.. haah-entahlah, aku hanya marah karna tak mengerti keadaan ini. Semuanya begitu tiba-tiba! Aku masih merasa kehidupan normalku hingga semua gelap dan terjadi begitu saja"
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Jinyoung masih sibuk memandangi ujung kemeja kebesaran milik Jaebum yang dikenakannya. Sedang Jaebum tengah berfikir keras berusaha mengisi kepalanya dengan ingatan yang entah kemana saat dirinya.. bukan lagi dirinya.
"sejujurnya.." Jinyoung mulai buka suara. "Aku.. memang tak bisa mengingat apapun. Aku merasa akan tumbuh menjadi orang yang berbeda dari diriku dimasa lalu. Tapi, sejak aku kehilangan ingatanku.." Jinyoung menjeda sejenak kalimatnya, dan itu semakin menarik minat Jaebum untuk memperhatikannya.
"Tapi aku merasa-ah tidak, aku yakin sekali dengan apa yang kulihat"
"Yang kau lihat?" Jaebum semakin penasaran dengan kalimay Jinyoung yang terdengar berputar-putar.
Jinyoung menutup mata. Menarik nafas dalam sebelum ia benar-benar mengutarakan apa yang diyakininya.
"Aku.. kau, jatuh cinta padaku"
"A-apa?" Terkejut mendengar pernyataan lelaki kecil itu, Jaebum memijat pelan pelipisnya yang mendadak berdenyut. Ah, gila! Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada seorang laki-laki. Ingat, Jaebum bukan seorang gay!
"Bagaimana bisa kau-"
"Tidak, bukan kau yang sebenarnya Jaebum-ssi" Jinyoung bangkit dan mengitari meja yang menjadi pembatas antara dirinya dan Jaebum. Jaebum memutar tubuhnya begitu Jinyoung sampai dihadapannya. Tatapan Jinyoung berganti menjadi bara api yang entah kenapa Jaebum sendiri pun enggan mematikannya. Jinyoung menangkap kedua pipi Jaebum di tangan lembutnya. Kedua pandang netra mereka kini bertemu. Keduanya menyelami dalam dan gelapnya tatapan masing-masing. Lelaki manis itu semakin memperkecil jarak diantara keduanya. Jaebum seperti tersihir, begitu takjub dengan iris kelam itu hingga tak bergutik sedikit pun.
"Tapi kamu, JB..-"
"-Kau.. mencintaiku kan?"
.
.
.
TO BE CONTINUE !
My Note :
Haft -_- ga tau diri banget ngetik Cuma segini banyak X( myane readers-nim, sebenarnya chapter ini udah ku bikin panjuang, Cuma aku takut malah terlalu banyak dan membuat kalian bosan/krik. Jadi kuputuskan *lagi-lagi, memotong adegannya sampai disini.. chapter depan berpotensi *ekhem X3
Ripiiuuwwwwww dari kalian selalu kubaca, meski belum ku balas hingga dekit ini tapi tenang, riview kalian sangat berpengaruh untuk kelanjutan setiap epep buatanku :' review kalian lah yang membuatku selalu ingin kembali menulis ff lagi.
Jadi, bisakah aku melihat review dari lagian lagi?
