Two Side
GOT7 fanfict [JJP a.k Bnior couple]
Romance, drama, etc.
Rated M [For Mature Content]
WARNING!
YAOI FANFICT, BOYS LOVE AREA
GA JELAS, TYPO EVERYWHERE, OOC-PENISTAAN KARAKTER
ADA PENDATANG BARU, AWAS GALAU *GA
TANPA BA BI BU BE BO LAGI
Here we go!
.
.
Meski pun Jaebum berhasil mengenakan seragam kerjanya, nyatanya tak mampu menarik niatnya untuk menampakkan wajah di kantor. Tidak pada gedung yang hampir 3 tahun ini selalu ia datangi setiap harinya untuk menunjukkan pembuktian pada keluarganya, maupun pada hyung yang sekaligus menjadi atasannya di kantor-Chansung. Yap, pria yang sejak pagi namanya terpampang dipaggilan masuk layar ponselnya. Sampai detik ini pun, Jaebum masih mendapati makian serta kutukan melalui pesan masuk dari hyung tersayangnya itu. Ingin sekali jaebum mengutuk Chansung, sekali saja-sungguh! atau biarkan pria itu kehilangan ponselnya , supaya Chansung tak bisa menggangu jaebum hanya untuk seharian ini. Jaebum terlau lelah dengan kejutan yang hampir membuat pria berusia seperapat abad itu kehilangan jantungnya. Nyaris kehilangan.
Rasanya Jaebum harus menenangkan diri disuatu tempat. Entah kemana, sekedar menghilangkan kepenatan. Kembali ke rumah orangtuanya bukan pilihan. Akan sangat merepotkan jika Jaebum mendapat introgasi dadakan karna tak menghadiri satu-satunya kesempatan untuk promosi jabatannya. Ouh, membayangkan wajah kedua orangtuanya sambil memasang ekspresi kekecewaan malah membuat Jaebum semakin kehilangan pikiran.
"Ouh yang benar saja! Ah sial! Kenapa otakku tak bisa memikirkan sesuatu!" Gerutunya sembari menjambak kasar rambut hitamnya. Menjadikannya kusut tak peraturan. Bagus, Jaebum membuat penampilannya terlihat seperti-seorang karyawan-yang baru saja-dipecat-dari-pekerjaannya-beberapa menit lalu. Menyedihkan.
Jaebum melihat waktu di layar ponselnya. Tak terasa sudah menjelang siang hari, dan ia sendiri belum punya tujuan. Haruskah ia mengisi pperut kosongnya terlebih dulu? Seingatnya ia tak sempat mengisi perutnya sepagian ini. Lagi pula porsi terakhir kotak serealnya telah habis dilahap jinyoung. "Ah, sepertinya aku harus belanja untuk makan malam" Desahnya. Mau tak mau Jaebum harus mengeluarkan uang lebih untuk menghidupi dua pria dalam satu rumah. Mengingat Jinyoung yang secara tak langsung menjadi tanggungannya mulai saat ini. Meski bukan keinginannya, tapi terdamparnya Jinyoung secara tiba-tiba di tempatnya menjadi bagian dari kesalahannya juga.
.
.
"Tidak, bukan kamu yang sebenarnya Jaebum-ssi-"
"-Tapi kamu, JB.. kau mencintaiku kan?"
Ucapan Jinyoung pagi tadi kembali terngiang, cepat Jaebum pun berfikir. Teringat jelas tatapan Jinyoung tadi pagi di netranya, lelaki itu begitu yakin bahwa JB tertarik padanya. Yang menjadi pertanyaan Jaebum adalah.. apa tujuan JB membawa Jinyoung ke hidupnya? ke rumahnya? Apakah semata karna JB ingin menguasainya atas cinta semata? Dan.. bagaimana bisa mereka berdua bertemu? Apa yang menyebabkan Jinyoung kehilangan ingatannya? Dan.. bla bla bla..
Terlalu banyak pertanyaan yang berputar. Semua tanda tanya itu butuh jawaban. Dan Jaebum pun yakin, hanya Jinyoung yang bisa membantunya menyelesaikan semua keanehan ini. Terlebih lagi, entah datang dari mana perasaan kuat yang mengatakan bahwa Jinyoung bisa menjadi menghubung antara dirinya dengan sosok lain yang mendiami tubuhnya itu. Jaebum harus membebaskan diri, sebelum ia semakin mati kendali karna JB yang memegang kuasa atas dirinya.
Tidak, itu tak boleh terjadi. Dan untuk memulai pertempuran dengan sesuatu didalam dirinya itu, yang harus Jaebum lakukan adalah-BRUK!
"Akhh!"
-Membersihkan kekacauan yang Jaebum timbulkan karna melamun disepanjang trotoar. Ia cepat tersadar karna ringisan spontan seseorang.
"Maaf, maafkan aku" Jaebum cepat membungkuk guna mengumpulkan beberapa benda milik lelaki berseragam sekolah menengah itu. Sepertinya seraam itu milik sekolah putra disekitar sini.
"Permen?" Jaebum heran dengan benda yang berserakan dari tempatnya itu. Permen? Untuk apa anak lelaki seumurannya membawa permen dan makanan manis sebanyak itu? Di hilangkannya cepat pikiran ingin tau itu. Ia harus segera membereskannya. Bagaimanapun juga, sebuah kelalaian hingga Jaebum menyebabkan seseorang terjatuh seperti lelaki didepannya ini.
"Maaf, apa kau baik-baik saja?" Jaebum merangkul lelaki kurus itu. Tubuhnya terbilang tinggi untuk ukuran pelajar, serta wajahnya terlihat asing, seperti bukan berasal dari Korea.
Lelaki itu kini berdiri seutuhnya, dengan seluruh permen yang akhirnya berhasil terkumpul kembali didalam paper bag yang ia bawa. "Aku baik, terimakasih" Ia pun tersenyum pada Jaebum dan membungkuk singkat.
"Tak perlu, bagaimana pun juga.. itu salahku menabrakmu" Jaebum mengibas kecil kedua tangannya. Seujujurnya Jaebum penasaran dengan makanan manis yang di bawanya sebanyak itu. "Ehm, boleh aku menanyakan sesuatu?"
Lelaki berseragam itu mengangguk pelan.
"Untuk apa kau membawa makanan manis sebanyak itu? Apa kau membawanya untuk kekasihmu? Apa kau hendak ke sekolah? Karna setauku, jam pelajaran sudah dimulai beberapa jam lalu"
"..."
Menyadari ia lebih seperti polisi yang mengintrogasi dari pada seorang yang bertanya, Jaebum pun berusaha memperbaiki ucapannya.
"Ah, maaf aku terlalu banyak bertanya. Abaikan saja pertanyaanku tadi. Kau boleh tak menjawabnya"
Lelaki berseragam itu mengibas tangannya, sungguh ia tak keberatan menjawab pertanyaan pria asing yang baru bertemu dengannya itu. "Tidak apa Tuan, kau bisa bertanya sesukamu, dan aku tak keberatan menjawabnya" Ia tertawa kecil. "Aku membawa ini untuk seseorang.. yang ku harap bisa bertemu dengannya dihari pertamaku belajar, hari ini" Lanjutnya dengan jelas.
Ahh, dugaan Jaebum hampir benar. Membawanya untuk seseorang? Apa untuk kekasihnya? Dan.. tunggu, bukankah sekolah itu khusus untuk pelajar putra seperti pemikiran jaebum sebelumnya? Apa anak ini.. seorang gay?
"Yhaa.. bagaimana bisa kau-" Jaebum terdengar frustasi dengan pemikirannya sendiri. Seharian itu kepalanya terisi banyak sekali pertanyaan seperti isi lembar soal ujian sejarah. Lelaki itu pun heran dengan sikap pria yang terbilang cukup tampan dihadapannya ini. 'Apa tuan ini penderita bipolar?' Batinnya.
"Tuan, apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau butuh secangkir kopi.. hm atau semacamnya. Sepertinya bagus untuk menenangkan pikiran. Apa kau mau?"
Seperti anak kecil ini paham benar keadaan Jaebum, dan ajakan darinya tak terdengar buruk. Jaebum memang membutuhkan secangkur kopi, tapi apa tak masalah pergi bersama seorang siswa di jam pelajaran seperti ini? Dan hari ini seharusnya menjadi penting, karna ia akan belajar disekolah baru untuk pertama kalinya! Terlebih, sepertinya dia seorang murid pertukaran. Jaebum sedikit kagum mendengar bahasa koreanya yang begitu fasih untuk takaran 'pelajar asing'.
"Ahh, tidak. Aku bisa membelinya sendiri seperjalanan pulang. Terimakasih, tapi-bukankah ini hari pertamamu belajar? Hey! Harusnya kau tak melewatkannya" Jaebum mengacak kecil puncak kepala bersurai kepirangan itu.
"Pft-tidak apa Tuan, aku bisa-"
"BAMBAM!"
Seruan seorang pria berasal dari balik punggung jaebum mengagetkan keduanya. Mendengar pria itu meneriakan sebuah nama, lelaki berseragam itu terhentak. Jaebum bisa menangkap kepanikan dari rautnya. 'apa dia guru dari sekolah barunya?'
"Kau melewatkan hari pertamamu" Pria yang meneriaki siswa itu kini berdiri diantara mereka. Tatapan dingin ia tujukan pada si pirang. Ketampanannya serta raut tak bersenyum itu membuat aura aneh seakan menguar dari sosoknya. Entah kenapa Jaebum seperti tak asing dengan aura dingin pria ini.
"M-maaf, aku mencari ini untuk mong-ie hyung.." lirihnya sembari menunjukkan paperbag yang ia bawa pada pria dingin itu.
Pria itu hanya mengangguk sekilas dan menatap Jaebum. Tanpa sepatah kata yang keluar, pria itu berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Lelaki yang dipanggil Bambam itu bergidik bahu. "Maafkan sikapnya Tuan, dia memang seperti itu" Kemudian Bambam berpamitan pada Jaebum untuk segera menyusul sosok yang mengabaikannya. "Aku harap kita bertemu lagi, Tuan. aku berhutang secangkir kopi padamu!" setelah berpamitan Bambam berlari kecil guna mengejar langkah pria tampan yang baru saja menjemputnya.
Meninggalkan Jaebum dengan tatapan herannya, masih mengarah pada kedua orang yang semakin menjauh. Ah-hari yang berat. Dirinya tak percaya bisa bertemu dengan orang unik seperti mereka dihari yang menakjubkan ini. Hingga dirinya hampir lupa mengisi perut kosongnya dan belanja beberapa keperluan untuknya dan Jinyoung.
Langit semakin gelap, seiring langkah jaebum menuju suatu tempat. Embusan angin yang sedikit mencurigakan serta bau basah khas hujan mulai terasa, pertanda guyuran itu semakin siap untuk mengguyur bumi tempatnya berpijak.
Keramaian pun semakin ramai, kala hujan datang. Tetesan air ramai itu membubarkan sederetan manusia yang memenuhi sekitaran jalan. Banyak pula yang berlarian menghindari hujan, dan ada pula yang mendiami pelataran toko terdekat supaya tak kebasahan.
Sama seperti beberapa orang yang memilih bermandikan air hujan, Jaebum tak lagi memperdulikan kondiri tubuhnya. Biarlah, toh ia tidak sedang membawa berkas penting atau semacamnya. Hanya ponsel dan dompet disaku belakangnya yang sudah dipastikan kedua benda itu tak akan bisa ia gunakan kelak. Keadaan tak mengizinkannya pergi ke supermarket terdekat, dan meninggalkan Jinyoung sendirian di tengah cuaca dingin seperti ini bukan lah pilihan. Jaebum memutuskan mengambil arah terdekat menuju rumah.
.
.
Menyegarkan tubuh dengan air hangat merupakan pilihan tepat ditengah cuaca dingin akibat hujan. Masih berkalungkan sehelai handuk disekitaran pinggulnya hingga menutupi paha, Jinyoung menelusuri lemari pakaian sederhana milik sang empunya rumah. Yang ia temukan hanya.. tumpukan kemeja, pakaian kerja, dan beberapa jas yang biasa Jaebum gunakan untuk menghadiri acara resmi. Hah-apakah pria ini tidak suka pakaian santai, atau-hidupnya terlalu membosankan? Jinyoung mendesah.. tak mungkin kan ia meminjam pakaian formal milik Jaebum untuk pergi tidur malam ini.
"Ah.. menyebalkan jika harus bertelanjang ria hingga pria itu kembali" Cepat berfikir, Jinyoung mengambil handuk bersih lainnya. Tak buruk menutupi bagian atas tubuhnya dengan handuk. Lagi-lagi Jinyoung harus menunggu, dan parahnya dengan keadaan hampir tak berbusana dengan layak.
"Nah.. begini lebih baik" Jinyoung memeluk erat dirinya. Masih dengan berbalutkan handuk, lelaki manis itu hendak melakukan sesuatu di dapur milik Jaebum, hingga suara bell apartement bergaya minimalis itu berbunyi memenuhi segala penjuru. Oh, apa Jaebum sudah kembali?
Cepat Jinyoung meraih pintu dan membukanya hingga seorang pria asing dengan cengiran lebarnya sambil membawa bungkusan ditangannya pun memenuhi penglihatan Jinyoung.
"Siapa?" kekecewaan sedikit tersirat, sebersit Jinyoung berharap bahwa itu Jaebum.
"Hai, aku tinggal dibalik pintu sebelah sana" Pria itu menunjuk pintu dibelakangnya. "Aku Junho"
Jinyoung merubah mimik wajahnya. "H-hai"
"Jaebum menelponku, dan dia memintaku membawakanmu beberapa baju untuk sementara. Dia.. sedang dalam perjalanan. Hujan diluar cukup deras, dan ku pikir itu menghambatnya. Pesan saja beberapa makanan, dan masukan kedalam tagihannya. Pesan saja yang mahal, anak itu terlalu gila bekerja, hingga tak punya waktu untuk menghabiskan uangnya hahaha" Junho terbahak karna ucapannya sendiri. Junho bahkan lupa untuk memberikan pakaian yang dibawanya pada Jinyoung. Melihat lelaki itu terpaku padanya yang sibuk menertawakan Jaebum membuat Junho kikuk. Ia berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.
"Ah.. begitu. Terimakasih Junho-ssi" Jinyoung menerima bungkusan dari Junho.
"Tak perlu sungkan, kau bisa menemuiku jika membutuhkan sesuatu. Aku senang bisa membantu saudara jauh dari tetanggaku yang satu itu. Kau perlu tau, Jaebum itu sudah seperti adikku. Dan aku harap kau bisa memperlakukanku seperti Jaebum kepadaku. Aku akan akan sangat senang untuk itu"
Seketika Jinyoung merasakan hangat dibagian hatinya. Entah kenapa meski tertimpa situasi mengerikan dan membingungkan seperti yang dialaminya, toh Jinyoung-atau siapapun namanya dimasa lalu, masih bisa dikelilingi oleh orang-orang baik. Junho maupun Jaebum, ia merasa bahwa mereka adalah penyelamatnya untuk hari pertamanya tinggal ditempat asing.
"Lebih baik kau segera masuk dan gunakan itu. Dasar bodoh, bagaimana bisa kau menginap di tempat saudaramu yang tak mengenal fashion itu tanpa membawa sehelai pakaian pun? Kau seperti buronan yang melarikan diri"
Jinyoung merunduk beberapa detik dan kembali mendongak menatap Junho. Oh bodoh, ia lupa masih mengenakan handuk untuk membalut tubuhnya. "E-eh, b-baiklah Junho-ssi, aku permisi dulu. Sekali lagi terimakasih untuk ini" Jinyoung baru saja hendak menutup pintu-
"Hyung-"
"Nee?"
Junho menyelesaikan kalimatnya sebelum kembali ke pintu apartement tempatnya tinggal. "Panggil saja aku hyung.. Junho hyung" Sosok dengan senyum khas nya itu benar-benar menghilang dibalik pintu dihadapan Jinyoung.
.
.
Tak terasa jam sudah menuju pukul 7 malam. Jinyoung kini telah berpakaian dengan layak, namun Jaebum tetap saja belum kembali. Pemuda manis itu sedikit khawatir, ah-mulai khawatir. Seingatnya Jaebum pergi tanpa membawa payung atau sekedar mengenakan jaket pun tidak. Malam semakin menunjukkan gelapnya, hujan pun tak kalah serta. Keduanya beradu membuat Seoul semakin larut dan cuaca dingin menusuk tulang pun merebak.
"Shh.. lapar" Rintihnya. Lambungnya kosong sejak terakhir kali ia memasukan sereal pagi ini. Haruskah Jinyoung memesan makanan seperti yang Junho sarankan? Terkesan kurang etis jika Jinyoung memesan makanan tanpa sang pemilik rumah. Tapi, saran itu terdengan lumayan ketimbang ia harus keluar rumah untuk sekedar mengganjal lapar. Uang tak punya barang se-won pun, lagi pula ia tak tau sandi kunci rumah ini. Tak lucu rasanhya ia terjebak diluar hingga Jaebum-yang entah kapan, kembali.
Lambungnya semakin menuntut untuk dimanjakan. Tak ingin membuat lambungnya sakit kelak, Jinyoung pergi mendapatkan sebotol air untuk mengisi kekosongan. Di bukanya lemari pendingin dan menemukan beberapa botol air mineral serta beberapa buah kaleng beer. Tanpa berfikir diraihnya cepat botol air mineral itu dan menenggaknya rakus.
Pip-pip-pip-pip ceklek
Pintu terdengar terbuka cepat setelah suara tombol-tombol yang ditekan cepat. Ah, Jaebum akhirnya datang. Jinyoung ingin segera menyambut kepulangan Jaebum, tapi setelah ia menenggak habis minumannya. Masih tersisa setengah botol ukuran sedang dan ia rasa jaebum tak begitu keberatan dengan sambutannya yang sedikit terlambat.
Kedua tangan itu menjulur dari celah pinggang Jinyoung. Jalinannya bertemu tepat di depan perut ratanya. Jinyoung tersentak, hampir saja menyemburkan apa yang baru ia teguk. Sihir apa yang tiba-tiba ia terima, hingga menoleh pada sang pemilik tangan pun rasanya Jinyoung tak sanggup.
Tengkuknya mendapati terpaan nafas hangat, hingga mendirikan kuduknya seketika. Pundak sebelah kirinya dihinggapi seseorang, dan tubuhnya tertarik kebelakang seiring tangan yang masih setia di perutnya itu mengambil alih.
"Aku kembali.." Terdengar dalam. Suara yang tak asing, meski baru semalaman ini menggaungi pendengaran Jinyoung.
"Aku pulang.."
Tak mendapat penolakan, ia mulai memainkan perannya sebagai dominan. Membawa deru nafasnya menyesap wangi yang ia rindukan, dan seakan candu entah sejak kapan ia pun mulai mengakuinya. Menjelah kulit putih itu lambat, menikmati sesuatu tak harus dengan nafsu yang memburu bukan? Sang dominan merasa tinggi merasakan pergerakan dari si manis dikungkungannya. Tanpa sadar jinyoung memperbolehkan sosok itu menikmati mainannya.
"Aku merindukanmu.."
Kini bibirnya mengecup ringan namun bertubi. Jinyoung pun sekuat tenaga menjaga kewarasannya meski ia tak sedikitpun melakukan perlawanan. Yang ia lakukan hanya diam, dan menerima perlakuan memabukkan yang semakin gencar JB berikan. Lagi-lagi tak memberikan perlawanan, JB semakin merasa diatas segalanya.
Jinyoung merasakan ceruk lehernya mulai basah lantaran jilatan dari organ lunak pria itu. Kemudian memekik spontan karna hisapan kuat pada kulit bagian sana.
"Haa-aah~"
Lenguhan yang terbebas itu semakin menyemangati JB mengerjai 'miliknya' itu. Tak ingin membuang waktu, tangan kekar itu mengangkat Jinyoung hingga kaki-kaki mungil itu mengatung dari lantai dapur tempat mereka-hampir, berbuat tak senonoh. Langkah besar ditempa JB, dengan Jinyoung yang hanya bisa pasrah digendongannya. Pria yang kepalang dilingkupi nafsu itu membanting Jinyoung ke atas kasur begitu saja sesampainya mereka di kamar tidur Jaebum, saksi bisu perbuatan mereka yang sepertinya akan terulang lagi malam ini, seperti malam sebelumnya.
Jinyoung yang terhempas dengan posisi telungkup pun memberanikan diri memutar tubuhnya. Kini kedua sejoli itu benar-benar berhadapan. Jinyoung menengadah ke arah 'pemiliknya', sedang sang penguasa menatapnya dengan api yang mampu membakar dinginnya malam.
JB merendahkan tubuhnya, meraih pipi mulus yang terasa dingin ditelapaknya itu lembut. Ibu jarinya bermain disana, menarik netra Jinyoung untuk berhadapan dengan miliknya. Begitu polos, tak tergambar sesuatu yang menakutkan disana. Jinyoung yakin ia mulai gila, ia berani mendekat, meraih bibir yang terkatup rapat itu untuk bercumbu dengannya. Saling membalas, melumat memanjakan pasangannya, hanya lumatan lembut nan singkat. Tautan itu terlepas saat dirasa cukup. Jarak keduanya kini sedekat nadi. Hingga Jinyoung pun bisa merasakan Nafas JB memburu diatas wajahnya.
To Be Continue
my note :
hai hai!
Terlambat lagi ya? Ngaret bgt updatenya ya? dan Cuma segini pula X(
Well, maafkan aku atas ke tidak teraturan dan ketidak jelasan soal ff ini, amupun beberapa judul buatanku yang sampai saat ini masih ada yg belum di update. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk itu.
Disini aku mau memberikan klarifikasi, yang mana sebenarnya aku cukup kaget dan bingung, dan cukup membuatku tak tenang dan nyaris membuat moodku untuk melanjutkan judul ini kandas. Aku tak bermaksud mengeluh, aku Cuma mau meberikan penjelasan, jadi ku minta pengertian kalian.
Untuk beberapa komen/? Atau review dari chapter 1, banyak yang menyebutkan alur disini mirip sama salah satu drama koriya/? Berjudul 'kill me heal me'. Dan ada beberapa yang men'cap ff ku ini mirip drama koreya itu. Baiklah, ini penjelasanku:
Sejujurnya aku memang suka nonton drama koriya/?, tapi aku gak update drama-drama terbaru di jamannya/? Maksudku, aku ga nonton drama yang lagi booming di waktu tertentu. Hanya tau beberapa judulnya, dan selebihnya aku gak tonton. Hanya beberapa yg bikin aku tertarik yang pasti aku cari untuk dinikmati. Memang saat 'kill me heal me' sangat heboh karna beberapa orang terdekatku mengikuti dramanya aku sempat tertarik. Cuma mendengar jajaran pemerannya, malah membuatku tak tertarik dengan drama itu. Aku tipikal orang yang pemilih, dalam menikmati sebuah film/drama tergantung dari pemeran utama dan alur tentunya.
Dan alasan aku tak-belum, mencantumkan disclaimer karna aku tak ingin menghancurkan kejutan di awal. Aku membuat prolog judul ini karna terinspirasi anime berjudul 'elfen lied'. Kalau aku cantumkan di awal, pastilah untuk yang tau animenya bisa menebak bagaimana alurnya. Memang aku berencana mencantumkan keterangan di chapter 3.
Dan yang selanjutnya, review entahlah aku cukup kecewa dengan jumlah reviewku yang sangat sangat tak berbanding dengan viewers. Seingatku selama hampir setahun kemarin tak update malah membuat reviewers ku bertambah. Ada apa teman? Ada yang salahkah denganku? Apa kalian marah karna aku 'menelantarkan' ceritaku disini? Apa lebih baik aku menghapus akunku di ffn ini? *lebay aku mulai berfikir untuk pindah lapak. Antara wordpress? Atau wattpad? Entahlah, wattpad terlalu rumit. Aku tak mau dibilang mengemis review, aku Cuma mau dihargai. Timbal balik yang selalu ku katakana, ingat? Dan semua itu tergantung kalian, guys. Ingin membuatku bertahan disini atau dengan terpaksa aku menghapus akun ffnku
Baiklah ku rasa cukup sampai disini bacotanku yang sangat tak penting ini. Semoga kalian tak sakit mata setelah membaca cuap cuapku XD
Review lagi ya kawan~
Ps : follow ig ku daeight_
