Wahooo~~ Shiranui Jackson Desu (Za King of Pop author Auuuuu~~~) (Wkwkwkwk)
Terima kasih untuk semua reader dan author yang telah membaca cerita saya yang gaje, ooc, etc.
Akhirnya malah telat nge update lagi (TTATT)
Saa, Review Time desu~~
-Fuyukaze Mahou-san:
Uhmmm, bagaimana mengatakannya? Tapi Yes! Disini Len-kun memang hidupnya rada sengsara (bukannya saya dendam sih), soalnya Len-kun punya daya tarik khusus yang membuat saya jadi gatal mem-bully si Len tehee~~ (Sorry Len XP). Kalau soal Miku sudah saya marahi untuk tidak membuat S*X Joke lagi. Dan untuk menjamin hal tersebut saya sudah minta Luka untuk mengurusnya (Semoga aja sih :) terima kasih sudah mereview dan supportnya :D
-Shinseina Hana-san:
Chessuto~~ Terima kasih sudah mereview dan nge-support cerita saya X3 silahkan lanjutkan membaca kelanjutan fic gaje saya ini, semoga bisa menggetarkan kotak tertawa anda~~ welcome to the party~~ XD
-Kurotori Rei-san:
Nishishihi Niatnya saya mau bikin Rin jadi anak polos tapi gak jadi XD tehee~~ Fufufu ini baru permulaan Luka masih bisa lebih jago masak lagi lho (asal gak pake uang saya aja = = ) selamat membaca chapter baru~~
-Tasya Marvell-san:
Yeyyy~~ Disini Miku memang sengaja dibuat gitu tehee~~ Jadi begitu, sebenernya ide 'Jackson' itu iseng aja (kebetulan lagi denger lagu MJ pas nulis fic) Wahahaha entah kenapa saya jadi ketagihan, terima kasih sudah review dan mensupport fic ini ya~~ silahkan baca chapter baru ini :D
"Bagi yang ingin mencurahkan isi hatinya, silahkan review ke fic saya, nge flame juga gak masalah terutama mungkin ada Typo(asal jangan kepedesan ya :) Dan yang menyukai fic saya boleh kok di follow dan di Fav~~ Tehee silahkan baca Chapter ini dengan tenang".
Ehhhh...Mik-... ... ... Len-kun! bisa bacakan disclamer dan summary chapter sebelumnya?
Miku: Ei! Kenapa bukan aku yang bacakan!?
Karena kalau kau yang bacakan nanti malah jadi berantakan...
Miku: Mehhh... Dasar penulis amatir tidak tahu arti kata seni.
Maaf aku tidak dengar apa-apa~~ Lalalalala~~ Lululululu~~
Miku: Orang ini...
Len: Baiklah akan saya bacakan. Eheemm...
Disclamer: Vocaloid is a masterpiece created by Yamaha and Crypton.
Previously on Daily Lives of Meguri-
Oke Cukup langsung lanjut ke cerita utamanya, semuanya siap-siap~~
Tu-
Kau juga Len cepatlah, kamu dan Rin muncul pertama kan?
TUNGGU DULU! ! AKU BAHKAN BELUM SELESAI BACA JUDUL CERITANYA!?
Ehh masa? Aku nggak dengar, lupakan saja dan bersiap sana!
SHIRANUI-SAN-
Eiiittt.
BISA-
Stop!
JELAS-
Oppss.
KAN-
Ssssstthhh.
APA-
Lalalalala~
Lupakan saja... (Orang ini ternyata gak berguna, respekku jadi hilang)
-Backstage-
Setelah Len pergi, Author kita langsung pergi ke sudut backstage dan disitu sudah ada Rin yang duduk dengan santainya sambil mengupil disana.
Shiranui: Aku sudah melakukan yang kau suruh. (kata sang author dengan wajah pucat)
Rin: Begitu? Ya sudah pergi sana! (katanya sambil memakan upil tangkapannya)
Shiranui: Tunggu kau belum melepas kalung bom dileherku ini! Ka-Kau sudah ja-janji kan? (menunjukkan kalung bergembok yang menyala merah)
Rin: Ohh aku lupa, ini kuncinya (memberikan sebuah kunci pada author setelah itu author pergi dari hadapan Rin dengan cepat)
Rin: Wahh sayang sekali~~ Padahal aku lagi ingin hiasan kepala di dinding rumah~ Ufufu mungkin lain kali saja.
.
.
.
Shiranui: Bisa-bisanya aku dijahili tokoh fiksi... sebaiknya harus jaga emosi, bisa-bisa dia ngambek dan minta keluar cerita, yahh mustahil sihh. soalnya aku kan author disini... TUNGGU SAJA RINNNNNN! Khu Khu Khu Khu WAHAHAHAHAHAHAHAHA.
"Lalu Author dan Rin merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan satu sama lain dengan Len sebagai pionnya, dan itu mimpi yang barusan kualami" kata Miku pada Luka dengan wajah riang.
"Apa itu wajah yang orang perlihatkan saat bermimpi seperti itu? Kenapa juga selalu mimpi yang aneh sihh yang keluar? Pertama mimpi mesum kedua mimpi bertema horror, apa kau menonton film aneh semalam?" tanya Luka.
"Uhmmm, kalau tidak salah aku nonton film berjudul 'Barbie the Explorer' " kata Miku.
"Hentikan... Mana ada film seperti itu, sebaiknya kita langsung ke cerita utama" jawab Luka sambil mengusap jidatnya.
"EHhhh!? Padahal aku mau cerita lanjutan serunya mimpiku semalam, pada akhirnya Albert Einstein lulus ujian dan jadi Raja Bajak Laut lho" sambung Miku.
"HAHH!? APA HUBUNGANNYA CERITA HORROR BARUSAN DENGAN ORANG TERPINTAR DI DUNIA MENJADI RAJA BAJAK LAUT!? KURASA YANG SALAH BUKAN APA YANG KAU TONTON TAPI APA YANG KAU MAKAN!?" teriak Luka frustasi.
"Kalau tidak salah sih semalam aku makan ikan buntal sama belut" jawab Miku.
"IKAN BUNTAL!? BAGAIMANA BISA KAU MASIH HIDUP!? KALAU BELUT SIHH AKU MASIH BISA MENGERTI"
"Ahh yang kumakan belut listrik segar lho"
"SIAPA YANG TANYA HAHH!?"
Wa Wa Wa Wa
Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa
Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa Wa
"Uhmm Shiranui-san mau sampai kapan mereka berdebat seperti itu?" tanya Len ke sang author.
"... ... Kita mulai saja langsung"
"Summer", 9 Augustus 2014, 12:03 p.m.
Normal POV
Sudah beberapa menit sejak Len dan Rin berada pada situasi yang terbilang sangat genting (Walaupun mungkin Len sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini sihh) Dan di beberapa menit terakhir orang misterius yang menancap-nancapkan pisau dapur itu sudah tidak melakukannya lagi.
VRRROOOMMMMM! ! ! VRRROOOMMMMM! ! !
"Tchhh payah! Kenapa malah berhenti!? Aku kan mau ngajak Death Match Oi Len, aku ingin kau membuka pintunya" kata Rin pada adik laki-lakinya yang berada di belakang sofa.
"Nggak! Kenapa juga aku harus menuruti permintaanmu?" jawab Len dengan tegas.
Mendengar hal ini Rin langsung mengarahkan pandangannya kearah Len sambil melebarkan pupil matanya ke bentuk yang tidak biasa dan menggeritkan giginya.
"Karena kalau kau tidak buka kan, kaulah yang akan menjadi santapan pertamaku" katanya.
"Baik, kenapa tidak bilang daritadi" jawab Len yang wajahnya sudah dipenuhi keringat.
'Kalau dipikir-pikir kemungkinan aku ditusuk setelah membuka pintu ini besar juga, tapi mungkin itu lebih baik daripada dimutilasi psikopat di sebelahku ini.
Setelah itu Len dengan sisa keberaniannya telah berada di depan pintu dan tangannya perlahan-lahan memutar ganggang pintu tersebut. Dan akhirnya membuka pintu tersebut, Len yang mengira kalau dirinya akan ditusuk malah mendapati dirinya melihat seorang gadis imut berambut hijau dan memakai google di atas kepalanya sedang melihat-lihat pisau dapur di tangannya, dan dengan reflek Len memanggil nama gadis itu dengan nama-
"Gumi-san!?" kata Len dengan keras dan heran.
Mendengar hal ini Rin langsung mendorong Len untuk melihat apa yang dilihat adiknya itu benar.
"Ohh Len! Rin! Ternyata kalian juga diundang oleh Luka ya? Aku harap aku tidak terlambat karena aku baru saja pulang dari kerja paruh di Wc'Donald, hmm? Kenapa dengan wajah kalian? Daripada itu aku mau protes pada Luka dan Miku! Kenapa mereka merusak pintu apartemen mereka sampai seperti ini? Bisa bahaya kalau yang punya apartemen tahu kan?" kata Gumi panjang lebar pada si kembar.
"Gumi-san... Jadi bukan kau yang memainkan pisau itu?" tanya Len dengan suara yang masih bergetar.
"Hmm? Aku kan baru saja sampai, jadi ini bukan pisau kalian?" kata Gumi sambil mengangkat kedua bahunya.
"Tchh... Hilang sudah death matchku setelah sekian lama" kata Rin yang kemudian memasukkan ChainSawnya ke dalam bajunya (Jangan tanya kenapa bisa muat).
Setelah mereka bertiga masuk bersama ke dalam apartemen, Len mulai menjelaskan satu persatu situasi yang si kembar itu hadapi, Gumi kemudian menarik napas dan tersenyum sambil mengacungkan jempol nya dan berkata:
"Jangan khawatir, berpikirlah positif, mungkin saja ada nelayan yang ingin mengasah pisaunya demi ketajaman pisaunya untuk memotong ikan" kata Gumi dengan wajah riang.
"Gumi-san, mana ada nelayan yang jauh-jauh datang kesini hanya untuk mengasah pisau dapurnya di pintu apartemen orang lain" jawab Len menyangkal teori Gumi.
Melihat hal ini Gumi kembali merenung dan kembali menyumbangkan teorinya.
"Kalau begitu mungkin saja ada seorang pahlawan tampan yang hendak mencabut pedang saktinya di pintu ini untuk mengalahkan Raja Setan dan komplotan-komplotannya?" kata Gumi lagi dengan wajah riangnya lagi.
"GUMI-SAN!, INI BUKAN GAME RPG TAHU!? Dan bukan pedang tapi pisau" teriak Len.
"Ahhh aku tahu-"
"STOP! AKU MENGERTI! AKU MENGERTI! JADI TOLONG BERHENTI!"
Dan situasi pun kembali terkendali... (sepertinya).
"Ohhh!? Gumi-san sudah datang?"
Dan tiba-tiba saja Luka kembali ke ruang tamu dengan beberapa kotak camilan di tangannya.
"Ahh Luka-sensei, selamat siang" sapa Gumi ke Luka.
"Hei~ berhentilah memanggilku sensei~ aku ini kan hanya dokter mata" kata Luka yang tersipu-sipu malu.
"Jangan begitu Luka-nee, Gumi yakin pasti sensei sudah menyelamatkan mata banyak orang kan? Itu merupakan sebuah pekerjaan yang sangat mulia lho" kata Rin mendukung Gumi.
"Untuk kali ini saja aku sependapat denganmu Nee-chan" Angguk Len.
Dan mereka bertiga akhirnya menghabiskan sisa waktu mereka membicarakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Luka, sementara Luka yang mendengarkan ketiga temannya itu hanya bisa tersenyum dan berpikir betapa bahagianya mereka berteman dengan mereka, sementara itu Miku yang saat ini masih di dapur sempat mendengar pembicaraan mereka, dan berbeda dengan Luka, Miku hanya bisa diam dan mengeluarkan keringat di wajahnya dengan jumlah yang mungkin bisa membanjiri perumahan sambil berbisik pelan.
"Enak sekali mereka bisa bicara begitu, kalau mereka mengetahui sisi gelap Luka dan jumlah pasien yang sekarang berada di kantong mayat... Mungkin merekalah korban selanjutnya" bisik Miku.
~5 minutes later~
"Ehemm aku yakin kita para tetangga sudah berkumpul disini, jadi mari kita mulai saya pesta makan yang meriah ini, aku harap kalian tidak keberatan karena ini masih jam kerja dan masih jam sekolah" kata Luka dengan pose membungkuk.
Setelah itu Luka memandang Gumi dan mereka berdua mengangguk bersama-sama, Gumi kemudian berdiri dan mengambil sebuah mikrofon dari sakunya.
"Jadi kita semua sudah berkumpul disini sebagai tetangga yang baik satu sama lain SETUJU!" teriak Gumi kearah teman-temannya.
"Anu aku kurang-"
"AHHH~~ Kau ini bicara apa Len? Tentu saja kita semua ini tetangga yang akrab satu sama lain, dan kita ini saudara kembar terhebat di dunia ya kan? Len-kun?" kata Rin dengan nada akhir yang 'gelap' dan seperti memberi sinyal 'Bicara macam-macam kubunuh kau"
"Ahh hahaha tentu sa-saja Onee-chan" kasihan Len.
"Kalau begitu ayo kita makan-makan! !"
"Jadi memang langsung ke to the point ya Gumi?" kata Miku yang sudah kembali dari dapur.
"Entah mengapa aku melupakan seseorang~ tapi biarlah ayo kita pesta!" pikir Miku saat melihat teman-temannya itu.
Dengan meriah akhirnya mereka mengadakan pesta makan-makan tersebut. Mulai dari Len yang ditelanjangi karena kalah main suit sampai Miku yang memperlihatkan koleksi buku-buku nistanya (Tentunya langsung disita oleh Luka) dan hal ini berlanjut sampai larut malam. Namun dibalik semua itu mereka sebenarnya melupakan sesuatu yang amat sangat penting. Disaat mereka asyik berpesta, terlihat seorang perempuan berambut perak, bermata merah dengan pakaian piyama yang meminum satu botol sake yang sudah disediakan Luka di pojok ruangan.
"Miku? Apa kau melihat botol sakenya? Tadi kutaruh di meja kan?" tanya Luka ke gadis berambut twintail.
"Ehh? Kukira Luka-chan yang memindahkan?" kata Miku yang malah memutar balikkan pertanyaannya.
Perempuan berambut perak yang menyadari hal tersebut langsung pergi kearah pintu rusak tersebut bersama dengan botol sake yang dibawanya dan kemudian meninggalkan ruangan tersebut tanpa diketahui tentunya.
"Hahh~~ tidak kusangka mereka masih belum menyadari kehadiranku, kejam sekali padahal sebelum si kembar datang aku sudah duluan tiba" kata perempuan itu.
Gluk Gluk Gluk
"Ahhh~~ Luka pintar juga soal memilih sake, kurasa sudah saatnya aku kerja"
Setelah meneguk beberapa liter botol sake tersebut, perempuan berambut perak itu kemudian menjentikkan jarinya dan seketika piyama yang dia kenakan berubah menjadi sebuah gaun malam bewarna abu-abu berkilau yang terlihat cukup minim karena memperlihatkan lekukan buah dadanya dan juga paha mulusnya.
"Nikmati pestanya ya teman-teman" katanya sambil melambaikan tangannya ke belakang.
Setelah itu perempuan berambut perak itu langsung meloncat dari apartemen tersebut menuju sebuah tiang listrik dan kemudian melakukan sprint dari atap rumah ke atap rumah. Saat berada di atap rumah, perempuan berambut perak itu menjatuhkan beberapa kartu kecil di setiap rumah tersebut yang bertuliskan:
"Anda Lapar?"
"Anda Haus?"
"Anda Kesal?"
atau
"Anda sedang Mencret dan Diare parah?"
"Tenang saja"
"Itu Bukan Urusan Saya!"
"Kecuali"
"Anda bersedih?"
"Merasa Dunia sudah berakhir?"
"Dan merasa patah hati?"
"Tenang saja"
"Itu juga bukan urusan saya"
"Karena yang menjadi urusan saya hanyalah kelanjutan manga dan anime setiap minggunya"
"Sekian"
WARNING:
Orang yang membaca kartu ini akan saya datangi dan saya berikan pizza secara gratis.
GRATIS! ! !
Hanya dengan menunggu selama 7 hari setelah membaca kartu ini saya akan diam-diam memasukkan pizza tersebut ke dalam menu makanan anda.
KELEBIHAN:
Dengan memakan pizza tersebut tubuh dan wajah anda akan berubah warna menjadi hijau seperti tokoh superhero bernama H#lk secara kurang lebih 1 menit,
dan juga anda akan memiliki kekuatan tambahan yaitu menyemburkan busa dari mulut anda,
dan dapat menyembuhkan pegal-pegal dan linu plus penyakit bawaan secar ajaib,
serta membuat tidur anda semakin nyenyak.
KEKURANGAN:
-Tidak Ada-
Pesan-pesan berikut ini disampaikan oleh
"Yowane Haku"
Semoga hidup anda tentram di dunia sana.
XD
"Dasar maniak" senyum seorang laki-laki yang secara tidak sengaja menemukan kartu tersebut.
~Back to Luka apartement~
"Hei~~ Luka-chan! Apa kau mengambil tempura dan sushiku!?" tanya Miku pada si dokter berambut merah muda.
"Tidak..." jawab Luka sedikit dingin.
"Begitu? ya sudahlah ehh- Luka mau kemana"
"Pergi ke luar sebentar"
Setelah keluar dari ruangan Luka melihat ke atap apartemennya seakan mencari sesuatu dan kemudian memanjat atap tersebut hanya untuk menemukan seorang laki-laki yang dengan santainya menyantap sebuah tempura sambil mendengarkan musik lewat earphone nya, yapp itu adalah sang author.
Plakk!
"Jadi memang kau ya?" kata Luka setelah melempar sandal miliknya tepat ke kepala sang author.
"Ouww! Ohh Luka? Sedang apa disini?"
"Itu kata-kataku brengsek!"
"Aku? Hanya sedang menikmati bulan"
"Jangan berkata seperti itu, nanti kau malah menjadi serigala jejadian lho"
"Daripada itu kembalikan semua makanan dan botol sake yang kau ambil"
"Sayang sekali tapi kalau makanan sudah kuhabiskan, kalau sake, Haku yang ambil tadi"
Sang author kemudian melemparkan piring-piring yang tadinya dipakai untuk tempat makanan kearah Luka dan si rambut pink berhasil menangkapnya dengan cepat tentunya.
"Aku tidak percaya kata-katamu, mana sakenya"
"Hei aku ini masih dibawah umur lho, selain itu aku ini sangat benci dengan yang namanya alkohol"
"Begitu? Ngomong-ngomong Haku itu siapa?"
"Dia tetanggamu..."
"Ehh!? Aku tidak ingat! !
"Kau ini bodoh ya?" (Kurasa aku terlalu membuat Haku transparan di cerita ini)
"Daripada itu, bagaimana kalau kau masuk dan ikut kedalam pesta?"
"Itu tidak perlu, karena yang namanya author selalu bekerja dibalik layar"
"Kau berkata begitu tapi kau sendiri malah menampakkan identitasmu..."
Setelah itu Luka berjalan mendekat kearah author dan mengarahkan tangan kirinya yang sudah dikepalkan kearah author.
"Kalau begitu jangan terlambat update, karena aku juga kerepotan menunggu chapter selanjutnya"
"Sebisaku ya~~" kata author dengan menempelkan kepalan tangan kanannya kearah Luka.
~To Be Continue~
.
.
.
.
.
.
.
"Ohh ya Luka, aku lupa bilang, besok kau mulai kerja di klinik ya~~"
"EHHHH!? KUKIRA AKU MASIH BISA BERSANTAI BEBERAPA CHAPTER KEDEPAN!?"
"Aku berubah pikiran karena itu terlalu lama, sampai jumpa 5 hari depan ya~~"
"Tunggu!? Yang benar 5 hari atau besok!?"
"5 hari di duniaku, sementara 1 hari di duniamu, bye-bye~~"
"TUNGGU OI! KEMARI KAU AUTHOR SIALAN! ! !"
Chapter 2 part 2 Selesai! ! ! Akhirnya makan waktu 5 hari juga, wahh saya lumayan capek, ternyata 3 hari gak mungkin karena, laptop sering di 'BOOKING'
Jadi ya terima kasih sudah membaca kelanjutan fic saya ini tolong berikan support jika menurut reader menarik dengan fav atau follow, see ya next time XD
EXTRA:
-Luka Apartement-
"AUTHOR!? AKU MAU PROTES" teriak Len pada Author.
"Apa?"
"Kenapa kau menakut-nakuti kami dengan menjadi seperti psikopat seperti itu!? Kau juga tidak perlu bawa pisau kan!?"
"Benar! ! Gara-gara kau aku malah tidak jadi mencincangmu kan!?" teriak Rin.
"Kalau dipikir-pikir juga kau harus ganti rugi! Ini kan pintu kami!" kali ini Rin yang berteriak sementara author hanya diam saja.
"Tunggu kalian semua! Ini bukan salah Author! Tapi pahlawan tampan yang-"
"BERISIK! !" bentak semua orang di ruang tersebut pada Gumi.
"Yang bisa kukatakan adalah 'itu bukan aku' " jawab author mencoba menenangkan situasi.
"Bohong banget! Terus kata-kata ancaman di Extra chapter sebelumnya itu apa!?"
"Itu... Tentu saja... hanya akting~~"
PRANGGG! !
Kepala Author dihantam piring oleh Luka.
(Author is down)
"Hahh, kalau memang apa yang dikatakannya benar, berarti mungkin ada seorang pembunuh bayaran yang mengincar kita!?" kata Len yang menjadi panik.
"Jangan khawatir, mau psikopat atau apa saja, akan kucincang semuanya" kata Rin sambil memegang garpu dan pisau di kedua tangannya.
"Ahh benar juga dia ini kan juga spesies langka" kata semua orang minus author.
