Chapter 4

My Hated Fiancé

Don't like Don't read

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC

Rated : T

Genre : Drama, hurt , romance

Pairing ; MinaKushi x MinaOC

Summary : Kushina sudah ditunangkan dengan Minato, tapi sayangnya Minato menyukai gadis lain. Akankah Kushina mendapatkan hati Minato? Ataukah Kushina akan merelakan Minato direbut oleh gadis lain, walaupun hatinya tersakiti?

.

.

.

Happy Reading...

Di sepanjang perjalanan ke rumah Kushina, Minato dan Kushina saling terdiam karena tidak tahu apa yang akan dibicarakan. Akhirnya Kushina pun membuat perjanjian dengan Minato mengenai apa yang akan terjadi sesudah mereka menikah nanti.

"Oh ya, Minato. Aku ingin membuat perjanjian sebelum kita menikah nanti," ucap Kushina serius.

"Memangnya kau ingin membuat perjanjian apa?" tanya Minato, ucapannya sedingin es. Ia bahkan tidak melirik ke arah Kushina ketika menyatakan hal tersebut.

Kushina menghela napasnya dan menjawab pertanyaan Minato, "Setelah kita menikah nanti, kau boleh menikahi Minami-san secara diam-diam. Namun hubunganmu dengan Minami-san tidak boleh diketahui oleh kedua orang tua kita," jelas Kushina. Ketika Minato mulai memberikan perhatian penuh padanya, Kushina melanjutkan, "dan hingga saat itu tiba, kau tidak diperbolehkan untuk menyentuhku selama satu tahun, dimulai dari hari pernikahan kita. Lalu setelah satu tahun tersebut berlalu, kau akan kuceraikan dengan alasan pribadi. Bagaimana, setuju?" ujar Kushina dengan tatapan penuh ekspektasi.

"Hm, baiklah. Aku setuju dengan perjanjianmu itu, namun pada saat pernikahan kita nanti, kata 'saling mencintai' harus dihilangkan dari sumpah kita. Setuju?" ucap Minato balik, seringai licik mulai terbentuk di wajahnya.

Kushina mengangkat satu alisnya sambil memikirkan usul Minato, "Boleh saja. Tidak ada kata 'saling mencintai' diantara kita itu bagus. Namun kita tetap harus bersandiwara didepan orang tua kita, agar tidak ada yang mengetahui bahwa kita hanya berpura-pura saja. Kau mengerti bukan?" tanya Kushina menyeringai.

"Oke," ujar Minato, ia menyanggupi seluruh kondisi tersebut.

.

.

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa mereka sudah sampai di rumah Kushina. Kushina pun tersenyum lebar karena merasa puas dengan perjanjian yang telah ia buat. Pada saat masa perjanjian diantara mereka selesai, ia akan memilih pasangan hidupnya untuk kedua kalinya, namun tanpa ada paksaan dari kedua orang tuanya.

Sambil bersenang ria, Kushina pun membuka pintu rumahnya.

Ceklek

"Tadaima, Kaa-san," ucap Kushina kepada ibunya, Uzumaki Mito.

"Okaeri, Kushina," ujar Mito balik.

"Oh ya, Kaa-san. Hari Minggu nanti di sekolahku, ada acara Prom Night. Yah, semacam pesta dansa gitu. Apa aku boleh berbelanja baju bersama Mikoto nanti?" tanya Kushina.

"Uhm, kenapa harus bersama Mikoto? Bagaimana kalau kau pergi bersama Minato saja?" tanya Mito, "Lagipula, dia 'kan tunanganmu."

"Aku tidak ingin pergi bersama Minato!" ujar Kushina kesal, namun ia langsung menyadari kesalahannya dan segera menutupinya. "Eh maksudku, aku ingin membuat kejutan untuk Minato, jadi aku ingin ditemani oleh Mikoto untuk menemukan dress yang tepat, Kaa-san," di akhir kalimat Kushina menggunakan nada memohon, ia berharap ibunya percaya dengan kebohongan tersebut.

Karena menurut Mito alasan Kushina cukup logis, yaitu membuat kejutan untuk tunangannya – Minato – ia pun menyetujuinya. Yah, walaupun alasan Kushina tersebut tidak benar sepenuhnya.

"Hh, baiklah Kushina, terserah kau saja," Mito menghela napas panjang. "Dan satu lagi, jangan pernah pulang malam. Kau mengerti bukan?" ancam Mito sambil mengeluarkan aura yang tidak mengenakkan bagi Kushina.

"E-eh? I-iya Kaa-san. Aku janji kok, gak bakal pulang malam-malam. Kalau begitu, aku ke kamarku dulu ya Kaa-san. Karena masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan hari ini," ujar Kushina ketakutan dan tanpa ba bi bu lagi, ia langsung lari ke kamarnya dengan cepat.

"Huhh, dasar anak jaman sekarang," gumam Mito kepada diri sendiri sambil menghela napas.

Skip time

.

.

.

Sesudah Kushina mandi sore, ia pun langsung ke dapur untuk melihat apa yang dimasak oleh ibunya. Selama ini ibunya selalu memasak masakan yang tidak disukainya, jadi mau tidak mau Kushina selalu hanya makan sedikit.

"Kaa-san hari ini masak apa? Apa ada tomat, bayam, atau paprika?" tanya Kushina sambil melihat masakan ibunya.

"Hari ini ibu masak banyak karena ada yang akan bertamu ke rumah kita dan aku membuat makanan kesukaanmu," ujar Mito yang mengadukkan masakannya agar tidak gosong sambil tersenyum kepada Kushina.

Kushina pun heran dengan senyuman ibunya yang menurutnya mencurigakan itu, karena penasaran ia pun bertanya lagi kepada ibunya, "Haahh? Memangnya siapa akan yang datang Kaa-san?"

"Yang akan datang adalah tunanganmu Kushina, ayah dan ibu sudah memutuskan untuk membuat Minato pindah ke rumah kita agar kalian bisa mengenal satu sama lain," jelas Mito. Ia tidak menyadari wajah anak perempuannya yang semakin pucat seiring dengan perkataannya tersebut.

"APAA! TIIDAAAKK-TTEBANE!" teriak Kushina dengan sangat kencang sehingga membuat ibunya menutup telinga.

"Memangnya ada apa, Kushina? Minato adalah tunanganmu, dan kau harus perbaiki sikapmu! Jangan seperti ini! Setelah ini ibu akan mengajarkanmu sikap yang baik dan jangan membantah!" ucap Mito tegas terhadap tingakah laku anaknya itu.

"Yahh, baiklah Kaa-san," ucap Kushina pasrah terhadap keputusan ayah dan ibunya itu sambil menghela nafas panjang.

-(^_^)-

.

.

.

"Bukan seperti itu cara jalan yang benar, Kushina!" ujar Mito, "Kau harus merapatkan kakimu dan berjalan mulai dari kaki kanan," jelas Mito yang sudah mulai frustasi karena harus mengulangi penjelasannya berkali-kali kepada Kushina.

"Haahh, Kaa-san. Ini susah sekali tahu! Memang apa bedanya jalan menggunakan kaki kiri dengan jalan menggunakan kaki kanan? 'Kan sama saja jalannya," gerutu Kushina kesal karena lelah mengikuti arahan dari ibunya.

"Itu beda Kushina! Kau harus mengikuti arahan dari ibumu ini, karena sebentar lagi kau akan menjadi istrinya. Sebagai seorang istri, kau harus berperilaku baik dan dapat menjadi seperti yang Minato inginkan! Kau mengerti 'kan ?" tanya Mito.

Kushina mengerutkan keningnya, ia merasa dirinya sudah menjadi yang seperti Minato inginkan, yaitu tidak pernah mendekati Minato dan menjauh darinya. Namun karena ia sudah merasa lelah mendengar ibunya berbicara, ia pun langsung mengiyakan saja.

"Hn, iya Kaa-san," gerutu Kushina dengan nada yang hampir menyamai trademark klan Uchiha.

Setelah beberapa jam mengikuti gerakan cara berjalan yang baik, Kushina pun segera diminta oleh ibunya untuk mempelajari sifat seorang laki-laki dan juga tata cara berbicara yang baik dan benar untuk seorang wanita. Namun Kushina hanya berjalan pergi meninggalkan ibunya dengan tertatih-tatih.

Mito yang melihat hal ini berseru, "Eh? Kau mau kemana Kushina? Latihannya belum selesai, ibu masih memiliki banyak hal yang ingin disampaikan kepadamu," ucap Mito.

"Hhh, ada apalagi, Kaa-san? Aku sudah lelah," ujar Kushina dengan lesu, matanya merah dan berkantung.

"Aku akan menjelaskan sesuatu agar kamu dapat memahami sifat laki-laki dan aku juga akan mengajarkan kamu tata cara berbicara yang baik," ucap Mito serius.

"Hahh? Untuk apa Kaa-san?" ujar Kushina bingung, namun ia menunjukkan ketertarikan terhadap topik tersebut.

"Tentu saja agar kamu bisa memahami perasaan laki-laki, seperti Minato dan ayahmu, dan juga agar kamu dapat mengontrol nada bicaramu Kushina," ujar Mito sambil menyeringai.

"Hn, ya sudah coba Kaa-san jelaskan padaku," ucap Kushina yang (lagi-lagi) pasrah.

"Baiklah. Laki-laki itu sebenarnya juga bisa menangis jika ia kehilangan seseorang yang ia cintai, lalu kalau laki-laki lagi kesal kau harus bisa menghiburnya, dan terkadang kau harus bisa menjaga kedekatanmu dengan laki-laki lain agar suamimu tidak cemburu, lalu jangan pernah mementingkan kepentingan dirimu sendiri, dan oleh karena itu kau harus bisa mendapatkan cinta dari Minato walaupun terkadang itu sakit dan membutuhkan pengorbanan. Dan sebenarnya-," Mito berhenti untuk menarik nafas.

"-ibu juga dijodohkan oleh kakekmu. Dan dulu ibu pernah berusaha mendapatkan cinta ayahmu walaupun terkadang hal tersebut menyakitkan," jelas Mito, matanya sedikit menerawang seperti sedang memikirkan masa lalu.

Kushina terkejut dengan perkataan ibunya tersebut; ia merasa bahwa kejadian yang ia alami hampir mirip seperti kejadian yang dialami oleh ibunya. Kushina pun bertanya lagi "Haahh? Coba ceritakan bagaimana cara ibu mendapatkan hatinya ayah! Aku penasaran-ttebane!" tanya Kushina bersemangat.

"Eh? Nanti dulu, aku masih belum melatihmu untuk mengatur nada bicaramu. Setelah ini nanti ibu ceritakan ya," janji Mito sambil mengelus kepala Kushina dengan lembut.

"Hh, baiklah. Tapi janji ya bu, kau akan menceritakannya padaku!" ujar Kushina sambil menyodorkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji.

Karena mendengar nada kecewa Kushina, Mito pun berkata "Hm, baiklah. Aku janji akan menceritakannya kepadamu. Ayo, sekarang kita latih mengatur nadamu berbicara," ucap Mito sambil tersenyum.

"YEYY! Ayo kita latihan-ttebane! Biar ibu bisa cepat menceritakannya kepadaku!" ucap Kushina semangat sambil menyengir.

'Sudah lama Kushina tidak tersenyum seperti itu, seperti sebelum ia mendengar tentang pertunangnnya itu,' batin Mito terasa seperti teriris ketika melihat Kushina tersenyum seperti dulu.

-(^_^)-

Setelah beberapa lama melatih nada bicara Kushina yang menurut Mito agak tidak lembut itu, akhirnya sesi latihan berakhir. Tiba juga saatnya untuk Mito memenuhi janjinya kepada Kushina.

"Nah, latihannya sudah selesaikan, Kaa-san? Ayo, ceritakan padaku tentang perjalanan cintamu!" ujar Kushina semangat.

"Iya iya. Jadi, dulu pada saat aku seusiamu aku juga membantah perintah kakekmu untuk dijodohkan, karena ayahmu dulu sudah punya orang yang di-," ucapan Mito terputus karena mendengar suara klakson mobil.

Akhirnya Mito pun sadar bahwa ada yang sudah dilupakanya, "Ya ampun, ibu sampai lupa. Klakson mobil tersebut menunjukkan bahwa Minato sudah datang. Nah, sekarang kau berganti pakaian ya," ujar Mito sambil mencari baju yang bagus untuk Kushina.

"Eh? Tapikan ibu belum selesai berceritanya! Hh, Kaa-san tidak menepati janji lagi deh," ucap Kushina kecewa sambil menghela nafasnya.

"Apa boleh buat Kushina. Tunanganmu sudah datang, nanti aku akan meneruskan ceritanya lain waktu. Sekarang kamu pakai baju ini, dan ibu akan mendandani kamu hingga cantik." ucap Mito sambil menyodorkan baju yang akan dipakai oleh Kushina.

'Aduh, kenapa aku harus MEMAKAI MAKE UP! Aku 'kan benci berdandan!' gerutu Kushina dalam hati.

.

.

.

.

Minato pun turun dari mobil sambil mengintip kesana kemari untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Ia berpikir bahwa akan berbahaya jika ada sampai yang melihatnya sedang berada di rumah Kushina dengan pakaian rapi, karena mereka pasti akan curiga. Dan Minami pun pasti akan mengintrogasinya ketika di sekolah nanti.

'Haduh, semoga saja tidak ada yang mengikutiku! Bahaya banget kalau ada yang mengikuti, bisa-bisa aku dan si tomat itu bakal jadi perbincangan, dan kalau Minami sampai tahu…pasti dia akan mengintrogasiku seperti layaknya di kantor polisi.' batin Minato bergidik memikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya.

'Haahh, semoga saja hal tersebut tidak terjadi.' batin Minato sambil menyingkirkan pikiran negatifnya itu.

Karena terlalu lama melamun, Minato pun sampai lupa kalau ada pagar di depan rumah Kushina. Akhirnya ia pun menabrak pagar yang kemudian disertai dengan teriakannya yang lantang.

BRUUKK

"ADDUUUHH, ITTAIII!" teriak Minato dengan lantang.

"Hei, Minato. Kenapa kamu bisa jatuh? Lain kali hati-hati kalau berjalan, jangan suka melamun," ujar ayah Minato, Namikaze Jiraiya.

"Ah, maaf Tou-san. Tadi aku sedang memikirkan sesuatu, hehehe," ujar Minato sambil tertawa hambar.

Kushina yang melihat Minato dari jendelanya pun hampir tertawa terbahak-bahak, tapi karena ia mengingat ajaran ibunya tadi, ia pun hanya tertawa kecil melihat Minato seperti itu.

"Hihihi, baru kali ini aku melihat Minato jatuh tidak elit seperti itu. Dasar sok keren-ttebane!" ujar Kushina sambil menyeringai.

.

.

.

Minato dan kedua orang tuanya pun duduk di ruang makan sambil menunggu Kushina yang masih didandani oleh ibunya. Setelah selesai didandani, dengan berhati-hati Kushina pun menuruni tangga karena ini kali pertamanya dalam mamakai sepatu berhak tinggi. Minato yang melihat penampilan Kushina merasa terpukau dengan kecantikannya.

Kushina memakai baju berwarna merah muda pucat dengan motif bunga menghiasinya. Tidak lupa juga ia dilapisi oleh polesan make up yang sangat natural untuk dilihat. Rambut merah yang selalu digerai itu telah disanggul sedemikian rupa menjadi elegant updo. Kushina juga mengenakan sepatu berwarna hijau daun dengan hak setinggi tujuh sentimeter yang membuatnya menjadi tinggi seperti model.

"Wow... Kau cantik sekali, Kushi-chan," ucap Minato tanpa sadar sehingga membuat Kushina terkaget dengan perkataan Minato tadi.

Kushina juga heran dengan Minato yang tiba-tiba memanggil namanya dengan suffix –chan. Karena tidak yakin dengan perkataan Minato, Kushina pun berusaha mencari kebohongan lewat tatapan mata Minato, tapi ia tidak dapat menemukan kebohongan tersebut dari tatapan Minato.

"Oh, terima kasih atas pujiannya," ujar Kushina dengan melemparkan senyuman yang agak dipaksakan pada Minato.

Akibat perkataannya tadi, Minato menjadi sadar akan kecantikan Kushina. Namun ia hanya tertunduk dan segera berusaha bersikap seperti biasanya di depan orang tuanya, ia tahu Kushina mengatakan 'terima kasih' hanya sekedar sandiwara saja.

'Uhh, aku ini kenapa? Masa aku memanggil Kushina dengan suffix -chan!? Memang sih aku dan dia memiliki perjanjian, tapi entah kenapa rasanya aku sedikit merasa tidak enak ketika bersandiwara seperti ini.' Batin Minato miris ketika mengingat perjanjiannya dengan Kushina tadi pagi.

Sepanjang makan malam bersama keluarga Minato, Kushina merasa bosan akan suasana serius yang menyelimuti acara makan malam tersebut. Daritadi Kushina hanya mendengarkan tentang perusahaan, pendidikan yang akan diraih Minato nanti, dan selebihnya tentang hubungan pertunangan Minato dan Kushina.

Karena Minato tidak terlalu pandai berbohong, ia menjadi gugup dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh kedua orang tuanya dan orang tua Kushina. Minato pun bingung dengan perasaannya sendiri, entah kenapa setiap ia melihat wajah Kushina, hatinya selalu berdetak kencang. Ia juga merasa aneh pada dirinya sendiri setiap kali memandang wajah Kushina.

Ketika Kushina selesai makan, ia segera pamit dari ruang makan karena sudah hampir mati kebosanan. Minato yang penasaran dengan keadaan Kushina langsung mengikuti Kushina dari belakang secara diam-diam.

.

.

.

Setelah 10 menit mengikuti Kushina dari belakang secara diam-diam, sampailah Minato di taman belakang yang sangat indah, sejuk dan tentram walaupun di malam hari. Kushina sedang duduk sambil bersender di pohon dan memandangi bulan purnama yang cerah di malam itu. Ia menghela nafas sambil mengingat kapan ia terakhir kali berada di taman itu.

"Hahh, sudah berapa lama aku tidak pernah kesini? Rasanya lega banget melepas semua kepenatan di luar sini. Memikirkan pertunangan, perlakuan 'durian busuk' kepadaku dan semua ancamannya membuat kepalaku hampir meledak! Semua ini sangat merepotkan!" ujar Kushina dengan kencang tanpa menyadari bahwa seseorang mengikutinya.

Seseorang tersebut menjadi sedikit kesal akibat mendengar Kushina menyebutnya 'durian busuk', namun ketika ia mendengar perkataan Kushina tentang perlakuan dirinya terhadap Kushina, ia merasa sedikit bersalah juga. Lagipula pertunangan tersebut bukan kesalahan Kushina .

Karena Minato benci dengan suasana sepi di taman itu, Minato pun secara pelan-pelan mendekati Kushina. Sambil berjalan kearah Kushina, Minato memikirkan topik yang tepat untuk dibicarakan bersama Kushina.

Minato terlalu memikirkan topik yang akan ia bicarakan, sehingga tanpa sadar ia pun menyenggol Kushina dan terjatuh dengan tidak elitnya-lagi-. Kushina yang kaget akan kehadiran Minato yang mendadak itu pun langsung teriak dan memukul Minato hingga babak belur.

"KKKYAAAAA! ADA SETANN-TTEBANEEE!" teriak Kushina sambil memukuli Minato.

Karena tidak sempat menghindar dari pukulan Kushina, muka Minato yang tadinya masih utuh akhirnya menjadi berwarna biru kehijauan di area sekitar mata dan ada benjol di kepalanya.

"ADUHH! ITAAIIIII!" teriak Minato kesakitan yang diakibatkan oleh pukulan Kushina.

Mendengar erangan kesakitan tersebut membuat Kushina menyadari bahwa ia baru saja memukul Minato. Kushina langsung berkeringat dingin memikirkan yang akan terjadi kepada dirinya selanjutnya sehingga ia pun dengan segera meminta maaf pada Minato, "Gomenasai, aku tidak tahu kalau Namikaze-san ada disini. Sebentar dulu, akan aku ambilkan kotak P3K untuk mengobati luka Namikaze-san," ujar Kushina seraya berlari meninggalkan Minato di taman itu untuk mengambil kotak P3K.

"Ugghh, sakitt tahu! Cepat ambilkan kotaknya !" ucap Minato kesal sambil memegang kepalanya yang benjol itu.

Minato agak kesal karena Kushina memukulnya sampai seperti ini. Ia mulai merencanakan sesuatu yang jahat untuk Kushina, namun segera memberhentikan rencana tersebut karena ia merasa sudah bersikap cukup keterlaluan pada Kushina.

Akhirnya Kushina pun datang sambil membawa kotak P3K. Ia langsung mendekati Minato dan mengobati lukanya itu. Kushina yang merasa sangat bersalah langsung meminta maaf kepada Minato sambil membungukkan badannya dan segera meninggalkan Minato sendirian di taman itu.

"Eh, Kushina! Tunggu! Kau mau kemana?" tanya Minato yang masih duduk sambil bersender pada pohon dengan lembut.

Kushina tidak tahu harus menjawab apa; ini pertama kalinya ia mendengar Minato berbicara lembut kepadanya, "E-eto, aku ingin meninggalkanmu sendirian disini. Kamu tidak suka kalau aku dekat-dekat denganmu, bukan ?" tanya Kushina balik.

Minato yang heran dengan Kushina – ini pertama kalinya ia melihat Kushina malu-malu didepannya – itu pun langsung menjawabnya, "Tapi 'kan hari ini aku tinggal di rumahmu, jadi aku tidak tahu seluk beluk rumahmu ini." ucap Minato dengan wajahnya yang polos.

'KAWAIII-TTEBANE! Pantas saja Minami suka pada Minato.' batin Kushina yang miris ketika mengingat Minami.

"..-Shina ?"

"..-Na ?"

Kushina tidak merespon pertanyaan Minato, sehingga mau tidak mau Minato harus sedikit berteriak.

"KUSHINAA!" ucap Minato dengan lantang.

Lamunan Kushina yang agak aneh itu langsung buyar karena mendengar Minato berteriak di dekat telingannya, "AHH, YAYAYA!" ucap Kushina yang mengiyakan pertanyaaan Minato tanpa sadar.

Minato yang mendengar jawaban setuju dari Kushina langsung berseru, "WAHH! Teimakasih ya, Kushina!" ujar Minato senang sambil mendekati Kushina.

"E-ehhh? Tunggu dul-" sebelum perkataan Kushina selesai, Minato memeluk Kushina.

DEGG

BLUUSSHH

'Rasanya aneh kalau Minato seperti ini. Entah kenapa aku ingin selalu berada didekatnya, seperti tidak mau kehilangannya.' batin Kushina dengan wajah memerah dan masih berada dipelukannya Minato.

1 menit

1 menit 30 detik

2 menit

'EEHHH? KENAPA AKU MASIH ADA DIPELUKKANNYA!? AKU LUPA TENTANG SANDIWARA ITUU!' teriak Kushina dalam hati.

Kushina yang menyadari tentang sandiwara itu pun langsung melepas pelukan Minato dan berlari kencang meninggalkan Minato dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.

Minato yang bingung dengan sikap Kushina tadi langsung memikirkan apa yang telah diperbuatnya pada Kushina, 'Loh kenapa Kushina pergi? Memangnya apa yang aku perbuat kepadanya?'

'Oh, iya! Aku lupa kalau aku sedang bersandiwara dengannya! Kenapa aku malah jadi berbaik hati saat dia memukul aku ya? Pokoknya besok aku harus membalasnya disekolah nanti!' batin Minato yang ingat akan perjanjiannya dan mulai merencanakan sesuatu yang menurutnya menyenangkan sambil menyeringai senang.

.

Kushina yang sedih sekaligus bingung pun lari ke arah kamarnya tanpa melihat ke depan. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Dia tahu kalau Minato mencintai Minami, bukan dirinya. Tapi kalau memikirkan perkataan ibunya lagi, mau tidak mau ia harus mencintai Minato dan mengorbankan perasaannya tersakiti selama setahun dan bercerai dengannya tanpa ada kata 'cinta' diantara mereka.

Sambil berlari ia pun menabrak seseorang hingga jatuh dengan keras dan terluka di bagian lututnya. Darahnya pun mengucur dengan derasnya sehingga membuat ia meringis kesakitan. Karena kesal dengan orang yang sudah menabraknya, ia pun mendongakkan kepalanya keatas.

"HEEIII! KAU INI PUNYA MATA GAK SIHH! LIHAT-LIHAT DONG KALAU SEDANG BERJALAN!" teriak Kushina kepada orang yang telah menabraknya.

"Hn. Makanya kalau lari pakai mata! Salah kau sendiri lari-lari gak jelas meninggalkan seorang Namikaze yang terhormat ini sendirian di taman." ucap Minato dingin sambil menyombongkan dirinya sendiri.

Kushina yang sadar kalau yang ditabraknya adalah Minato pun langsung melanjutkan larinya menuju kamarnya tanpa menghiraukan luka yang ada di lututnya itu. Ia menyeka air mata yang masih mengalir di pipinya tersebut dengan cepat.

"Ugghhh, terserah apa katamu! Aku benci kamu seumur hidupku!" ucap Kushina tanpa sadar sambil melanjutkan larinya.

Hening

.

.

Minato pun terdiam di sana sambil mencerna kata-kata Kushina kepadanya, ternyata semua perlakuan baik Kushina kepadanya hanya paksaan sandiwaranya. Ia akhirnya bingung apakah harus mencintai tunangannya atau pacar rahasianya, Minami.

Ada perasaan bersalah pada hati kecilnya, ia selalu menyakiti Kushina secara fisik maupun batin. Ia pun langsung pergi kearah kamarnya sambil membereskan barang-barangnya, karena mulai sekarang ia harus tinggal di rumah Kushina tanpa sepengetahuan Minami.

.

.

.

Kushina yang sudah sampai di kamar tidurnya pun langsung membersihkan badannya serta mengobati lukanya. Ia pun mempersiapkan alat tulisnya untuk esok harinya, setelah itu Kushina pun mengirim pesan pada Mikoto, sahabatnya, mengenai apa yang terjadi. Mulai dari saat ia sampai di rumah hingga mengenai perasaan yang dialaminya.

Mikoto heran dengan penjelasan Kushina mengenai sikap Minato yang tiba-tiba berubah dalam sekejap itu, karena tidak dapat mempercayai apa yang telah dikatakan oleh Kushina. Mikoto pun langsung ingin membuktikan pada Kushina bahwa apa yang dikatakan Kushina tidak sepenuhnya benar.

Kesal karena Mikoto tidak mempercayai perkataannya tersebut, Kushina yang tidak ingin kalah dengan Mikoto membanting telepon genggamnya yang tidak bersalah. Ia bertekad akan membuktikan kebenaran dari perkataannya itu.

'Awas saja! Akan kubuktikan kalau Minato agak berubah ketika di sekolah-ttebane!' pikir Kushina berapi-api.

Akhirnya Kushina pun kelelahan dan tertidur hingga pagi dengan pulas, tanpa ada yang menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikannya dari jauh.

.

.

.

.

.

T.B.C

A/N : apakah di chapter ini masih ada –sangat- banyak kekurangan? XD maaf ya jika setiap review aku tidak bisa gunakan dengan baik M(_ _)M mau tidak mau harus pakai beta read! XD mulai sekarang balas reviewnya di PM ya bagi yang log in Xp! Dan aku sangat berterimakasih bagi review dan untuk beta reader-in fic abalku ini! Dan sekarang akan ku usahakan setiap meng-update fic aku memakai beta reader dan mencoba belajar. Bisa dikatakan ch 4 ini aku memakai beta read, dan sesudahnya akan ku coba di ch 5 tanpa memakai beta read, dan ch 6 memakai beta read, ch 7 tanpa memakai beta read, begitu pun seterusnya! Jadi mohon maaf ya jika untuk chapter depan parah *dibakar massaa!* #KKKAABBOOORRR!

MIND

TO

REVIEW ?

XD