Bebas

Megane Uzumaki

NARUTO MASASHI KISHIMOTO

RATE : M (Language)

WARNING : FEMALE NARUTO,BAHASA KASAR, BASED ON TRUE STORY (NOT ALL), NO LEMON, GAJENESS, DE EL EL.

PAIR : SasuFemNaru & GaaFemNaru

NOTE : Anggap Itachi itu bukan kakak dari Sasuke (demi kepentingan cerita) dan Naruko itu adik dari Naruto yang masih berusia sepuluh tahun.

Kau mengurungku, tali yang kau ikatkan di leherku semakin kencang hingga membuatku sulit bernafas, kaki dan tanganku juga telah kau pasung dengan janji kosongmu, hatiku sudah lama kau curi dan tidak pernah kau kembalikan lagi. Ne, kalau kau tidak pernah mencintaiku bisa kau bebaskan aku sekarang, kalau kau memang tidak tertarik dengan perasaanku bisa kau lepaskan aku. Asal kau tahu, aku juga berhak bahagia.

This fict inspired by Young Pal /용 팔 이 (Korean Drama)

Don't like Don't Read

No flame please

.

.

.

.

.

Happy reading !

CHAPTER 5 : Ingatan Yang Hilang

Bau antiseptic menusuk indra penciuman, bau darah dan juga bau keputus asaan berbaur menjadi satu, melihat mereka disini sekarang seperti terdapat dua pintu yang berlainan, pintu untuk kembali menemui hari esok dan pintu untuk meninggalkan apa yang telah dia miliki. Tidak ada yang tahu, pintu mana yang akan dibukanya, apakah pintu yang membawanya kembali pada hari esok tapi dengan resiko dia akan bertemu dengan ingatan yang dia kubur bersama dengan pintu tersebut, atau mungkin dia akan lebih memilih pintu yang akan membawanya pergi ke dunia yang berbeda dari tempatnya berada sekarang. Entah pintu mana yang dia pilih, keduanya adalah pilihan yang sulit, masing-masing dari pintu tersebut memiliki resiko yang tidak bisa dianggap sepele.

"Naruto !"

Panggil Iruka tanpa henti dibalik pintu IGD, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang teramat sangat, kedua tangannya terkepal erat menahan emosi yang terasa sudah diambang batas. Apa salah Naruto, Naruto selama ini tidak pernah membalas apa yang mereka lakukan padanya, Naruto selalu mengatakan bahwa jika dia melakukan hal yang serupa maka Naruto tidaklah ada bedanya dengan mereka, Naruto akan berubah menjadi tikus pengerat jika dia ikut membalas apa yang tikus-tikus itu lakukan padanya. Karena itulah dia memilih diam, dan berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Tapi ini sudah keterlaluan, mereka bukan hanya membuat rem mobil Naruto tidak berfungsi tapi mereka juga menyambungkan pedal gas dengan pedal rem sehingga mobil Naruto tidak dapat berhenti dan semakin melaju dengan kencang, apa mereka pikir nyawa Naruto itu adalah sebuah mainan sehingga mereka melakukan semua ini.

"Gomen hiks gomenasai Naruto."

Racau Iruka sambil mengacak surai kecoklatannya, membuat beberapa anak rambutnya mencuat keluar, tampilannya benar-benar kacau sekarang, kemeja yang tidak terkancing sempurna, noda darah yang tertempel di kemeja, wajah kusut, mata memerah dan juga bengkak. Iruka berani bertaruh, kali ini dia benar-benar tidak akan memaafkan siapa saja yang telah membuat Naruto dilarikan ke rumah sakit lagi seperti sekarang. Iruka akan menangkap mereka sampai keujung duniapun dia akan tetap mengejar mereka.

"Hosh Umino-san maaf kami baru mendapat kabar. Bagaimana keadaannya ?"

Shikamaru masih mencoba mengatur nafasnya, berlari dari parkiran rumah sakit ke ruang IGD tidak bisa dikatakan ringan.

"Apapun yang terjadi tangkap mereka, hidup atau mati aku sama sekali tidak peduli."

Desis Iruka tajam, tangannya terkepal erat, sangat erat hingga buku jarinya memutih. Shikamaru mengangguk, dia tidak menyangka bahwa mereka benar-benar ingin menghabisi nyawa presiden mereka sendiri. Tapi dia tidak bisa bertindak tanpa berpikir, bukannya menangkap justru dia yang akan tertangkap. Dia harus melakukan penyelidikan sebersih mungkin, tanpa jejak yang tertinggal.

"Shikamaru aku sudah memeriksa mobil korban."

Sasuke datang sambil menyerahkan berkas hasil penyelidikannya kepada Shikamaru. Shikamaru mengangguk lalu membaca laporan penyelidikan yang diberikan Sasuke. Onyxnya secara teliti membaca tiap baris yang ada di kertas tersebut, semakin lama dahinya semakin mengerut tanda bahwa dia menemukan keganjilan dari laporan yang sedang di bacanya.

"Apa kau bisa menjamin keakuratan dari laporan ini ?"

Tanya Shikamaru tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas yang kini menjadi prioritasnya.

"Tentu. Kau meragukanku ?"

Shikamaru menggeleng tanda tidak setuju dengan perkataan Sasuke. Hanya saja laporan ini sedikit aneh menurut Shikamaru, seperti bukan hanya nyawa yang mereka incar ada hal lain yang ingin mereka dapatkan. Tapi apa, Shikamaru masih mencoba menyusun puzzle yang mungkin saja memiliki pemecahan tersendiri. Tidak lama kedua onyx Shikamaru membola, dia langsung menghampiri Iruka lalu memintanya untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan dia ajukan, Iruka yang sebenarnya tidak tahu apa maksud dari Shikamaru hanya mengangguk kaku.

"Jadi, bisa kau katakan apa yang terjadi sebelum dia masuk kedunia bisnis ?"

Iruka mengerutkan keningnya, kenapa si kepala nanas ini membahas masalah sepele itu sekarang. Apa hubungannya dengan kehidupan Naruto sebelumnya dengan kecelakaan yang terjadi sekarang.

"Aku tidak mengerti maksudmu. Apa hubungannya dengan kecelakaan yang dialami Naruto sekarang ?"

Shikamaru menghela nafas berat, dia lalu mengeluarkan sebuah catatan kecil dari saku jaketnya dan menuliskan sesuatu.

"Kau tahu apa ini ?"

Iruka mengalihkan pandangannya pada tulisan Shikamaru yang disodorkan padanya. 'Memory' begitulah yang dituliskan oleh Shikamaru, Iruka semakin mengerutkan keningnya. Apa maksud dari detektif nanas ini sebenarnya. Iruka menggeleng tanpa suara. Shikamaru kembali menghela nafas, dia tidak tahu bahwa hal sesimpel ini saja dia tidak tahu.

"Memory kita bisa dimanipulasi. Baik itu dengan obat-obatan, pengalaman buruk, atau oleh diri kita sendiri."

Iruka mengangguk mendengar penjelasan Shikamaru, walaupun dia masih tidak mengerti akan kemana arah pembicaraan mereka nantinya.

"Dia sudah memanipulasi memorynya sendiri, kemungkinan itu karena pengalaman buruk yang pernah mengganggu kehidupannya. Jadi dia menyimpan memory itu dan membuatnya seolah-olah memory itu tidak pernah terjadi."

Iruka membulatkan matanya, terkejut dengan ucapan Shikamaru. Darimana dia tahu tentang hal ini.

"Darimana kau tahu ?"

Shikamaru tersenyum licik, hal sejelas ini bagaimana caranya dia tidak bisa mengetahuinya.

"Sasuke, katakan benda apa yang kau lihat di mobil korban dan juga kondisi pintu mobil."

Ucap Shikamaru tanpa memandang kearah Sasuke.

"Di spion mobil terdapat kertas yang bertuliskan 'Mati atau Gila' di jok belakang kami juga menemukan sebuah pisau yang berlumuran darah, tapi dari hasil laboratorium darah tersebut bukan darah korban. Kondisi pintu mobil sekarang dalam keadaan rusak, kemungkinan bukan karena kecelakaan tapi pintu itu memang sengaja dirusak sejak awal, dan ternyata kabel untuk pedal rem dipindahkan ke pintu, jadi jika pintu dibuka maka mobil akan berhenti."

Senyuman licik Shikamaru semakin lebar, dia menjentikkan tangan kanannya.

"Bingo ! kau tahu apa artinya itu ?"

Iruka menggeleng. Kenapa Shikamaru tidak langsung saja menjelaskan keadaanya padanya, dia terlalu bertele-tele.

"Cepat katakan apa yang kau ketahui !"

Bentak Iruka geram.

"Jangan terburu-buru. Baiklah biar aku jelaskan. Sejak awal yang mereka incar bukan nyawa dari korban tapi kondisi kejiwaannya, kenapa aku bisa mengatakan seperti itu, alasannya jelas ada pada kondisi pintu mobil. Jika mereka memang mengincar nyawa korban maka mereka tidak akan susah-susah untuk merusak pintu mobil. Sejak awal mereka sudah memberikan pilihan kepada korban."

Iruka mulai mengangguk tanda mengerti.

"Dan pilihannya itu adalah Mati atau Gila ?"

Shikamaru mengangguk puas, ternyata Iruka sudah mulai mengerti arah pembicaraannya.

"Kalau dia memilih mati maka dia tidak akan membuka pintu dan terus menginjak pedal rem sampai akhirnya mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan dan nyawanya melayang."

Iruka mengangguk. Ya, dan saat itu dia lebih memilih untuk mati.

"Lalu jika dia memilih gila ? kenapa dia lebih memilih mati, apa yang dia pikirkan sebenarnya ?"

Shikamaru tersenyum puas. Kasus kali ini benar-benar berhasil menyita perhatiannya. Mereka sangat terampil untuk menyusun rencana sedemikian rupa.

"Kalau dia memilih gila maka dia bisa menghentikan mobilnya dengan membuka pintu mobil, tapi setelah itu dia kemungkinan akan menoleh kebelakang dan saat itu dia akan melihat sebuah pisau berlumuran darah yang sudah ada di mobilnya. Hal ini mungkin akan membuatnya tertekan, apa kau ingat saat aku bertanya tentang memory ?"

Iruka lagi-lagi hanya bisa mengangguk.

"Alasan kenapa dia lebih memilih mati dari pada gila itu kemungkinan karena dia tidak ingin ingatan yang sudah dia hilangkan kembali lagi, tapi itu hanya tebakanku saja. Sebenarnya ada hal yang lebih menakutkan daripada kematian, itu adalah ingatan. Jadi kemungkinan, pisau berlumuran darah yang ada di jok belakang mobil itu adalah kunci dari ingatan korban yang sudah dia hilangkan. Jika dia memilih gila maka dia harus mengingat pengalaman buruk yang pernah menimpanya dan kemungkinan besar hal itu akan berpengaruh pada kondisi kejiwaannya, karena itulah mereka menyebutnya gila. Karena memang hasil akhir dari proses ini adalah kelainan mental."

Iruka tercekat, sekarang dia mengerti. Alasan kenapa Naruto lebih memilih mati adalah karena ingatan buruk yang pernah menimpanya. Naruto memang tidak pernah menceritakan secara gamblang tentang hal ini, tapi Iruka tahu bahwa Naruto memang sengaja mengunci ingatan tersebut dan tidak akan pernah mau membukanya kembali.

"Jadi intinya korban bukan takut pada gangguan mental tapi pada ingatan yang sudah dia kunci sebelumnya ? karena itulah dia lebih memilih mati ?"

Shikamaru mengangguk. Ya, karena itulah dia sudah menyinggung masalah memory sejak awal.

"Naruto ! hosh hosh Iruka-san dimana Naruto ? b-bagaimana keadaannya ? apa yang terjadi sebenarnya ?"

Tiba-tiba seorang laki-laki bersurai merah datang dengan peluh membasahi wajahnya, nafasnya juga berpacu dengan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang.

"Gomen Gaara-san aku tidak bisa melindungi Naruto."

Tanpa disadari oleh Gaara dan Iruka, Sasuke tampaknya cukup terkejut saat melihat Gaara atau mungkin karena ucapan Gaara. Yang jelas, Sasuke sekarang tampak terkejut. Wajahnya berubah pucat dan raut kekhawatirannya mulai tergambar jelas di wajah tampannya.

"Iie, aku yang salah. Harusnya aku tidak memintanya datang, harusnya aku yang menjemputnya. Harusnya a –"

Ucapan Gaara terpotong saat tiba-tiba Sasuke mencengkram kedua bahu Gaara dengan erat. Mata Sasuke berkilat marah. Gaara sendiri cukup terkejut saat melihat Sasuke yang sekarang sedang dalam posisi mengancam dirinya.

"K-kau ? kenapa kau ada disini ?"

Tanya Gaara tidak percaya.

"Itu tidak penting. Sekarang cepat jawab, apa benar Naruto yang berada di ruangan itu sekarang ?"

Gaara tidak langsung menjawab, matanya berubah sayu. Dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Sasuke di kedua lengannya.

"CEPAT JAWAB !"

Bentak Sasuke emosi. Shikamaru langsung menarik Sasuke agar menjauhi Gaara, ini rumah sakit tidak seharusnya Sasuke terpancing emosinya di tempat umum seperti ini.

"Lepaskan aku brings*k !"

Sasuke mencoba untuk berontak, tapi sayang tenaga Shikamaru lebih kuat darinya. Hingga akhirnya Sasuke hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya.

"Ya, Naruto yang berada di dalam."

Jawab Gaara dengan suara lirih. Jawaban Gaara tersebut berhasil membuat air mata Sasuke turun begitu saja. Tidak lama dia memandang Shikamaru dengan pandangan menusuk.

"Kau !"

Desis Sasuke sambil menunjuk muka Shikamaru.

"Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau dia itu Naruto ? apa kau sengaja ?"

Shikamaru menghela nafas, bukankah salahnya sendiri yang tidak bertanya. Kenapa jadi Shikamaru yang disalahkan sekarang.

"Kau sendiri yang tidak bertanya."

Sasuke mengacak surai ravennya. Meruntuki kebodohannya sendiri yang sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan itu adalah Naruto, perempuan yang menjeratnya selama ini, perempuan yang sudah memilih dunianya sendiri.

"ARGH SIAL !"

Perempuan itu unik, mereka selalu ingin dimengerti tapi mereka jarang mau mengerti apa yang laki-laki rasakan. Sedangkan laki-laki itu sulit ditebak, kadang saat mereka bisa menjadi baik tapi terkadang bisa menjadi buruk, selalu berubah hingga membuat perempuan lelah dengan sikapnya. Karna itulah mereka saling melengkapi.

TBC

PREVIEW NEXT CHAPTER : Pilihan Yang Sulit

"Aku tidak mau mati !"

"Onegai !"

"Kembalilah, kau tidak boleh mati sekarang."

"Kau tidak sendiri, saat kau sadar kau bisa membagi bebanmu pada mereka."

"Kau memilih pilihan yang tepat."

"Dia sudah menunggumu disana. Cepatlah, waktumu tidak banyak."

"Kembalilah, kami menunggumu."