Bebas
Megane Uzumaki
NARUTO MASASHI KISHIMOTO
RATE : M (Language)
WARNING : FEMALE NARUTO,BAHASA KASAR, BASED ON TRUE STORY (NOT ALL), NO LEMON, GAJENESS, DE EL EL.
PAIR : SasuFemNaru & GaaFemNaru
NOTE : Anggap Itachi itu bukan kakak dari Sasuke (demi kepentingan cerita) dan Naruko itu adik dari Naruto yang masih berusia sepuluh tahun.
Kau mengurungku, tali yang kau ikatkan di leherku semakin kencang hingga membuatku sulit bernafas, kaki dan tanganku juga telah kau pasung dengan janji kosongmu, hatiku sudah lama kau curi dan tidak pernah kau kembalikan lagi. Ne, kalau kau tidak pernah mencintaiku bisa kau bebaskan aku sekarang, kalau kau memang tidak tertarik dengan perasaanku bisa kau lepaskan aku. Asal kau tahu, aku juga berhak bahagia.
This fict inspired by Young Pal /용 팔 이 (Korean Drama)
Don't like Don't Read
No flame please
.
.
.
.
.
Happy reading !
CHAPTER 6 : Pilihan Yang Sulit
Naruto POV.
Gelap, dimana aku sekarang. Kenapa sangat gelap, kumohon seseorang lakukan sesuatu, disini terlalu gelap. Tidak adakah cahaya yang bisa membantuku melihat kondisiku sekarang. Aku tidak bisa melakukan apapun, aku tetap meringkuk disini, di dalam kegelapan, kepeluk erat kedua kakiku yang tertekuk, kepalaku bersembunyi dibalik lipatan kedua tanganku. Meringkuk seperti orang yang tidak berguna, begitulah kondisiku sekarang. Aku ketakutan, tentu saja. Sejak kecil aku tidak menyukai kegelapan, aku tidak pernah menyukai kegelapan. Tapi lihat aku sekarang, di kurung di sebuah tampat tanpa penerangan apapun, kumohon seseorang selamatkan aku.
"Tatsukette."
Tubuhku menegang saat aku mendengar sebuah suara bergema, sepertinya aku mengenal suara tersebut, tapi dimana dan kapan aku pernah mendengar suara itu.
"Aku tidak mau mati !"
Suara itu tetap bergema seakan tempatku berada sekarang adalah sebuah goa yang mampu memantulkan bunyi, tapi aku tidak bergerak dari posisi meringkukku, jujur aku terlalu takut untuk bisa melihat apa yang terjadi sekarang. Pengecut.
"Onegai !"
Tubuhku bergetar saat suara itu memekik nyaring. Perasaan apa ini, aku seakan mengerti rasa takut yang sedang pemilik suara itu alami. Dengan perlahan aku mengangkat kepalaku, mencoba melihat kondisi tempatku berada. Kedua safirku membola saat aku melihat seorang perempuan yang sangat mirip denganku mengulurkan tangannya padaku.
"Kembalilah, kau tidak boleh mati sekarang."
Aku menggeleng, tidak aku memang tidak mau mati sekarang. Tapi jika aku hidup, aku akan terjebak lagi pada memory yang sudah susah payah aku hilangkan.
"Percaya padaku."
Aku tetap menggeleng, tanpa sadar aku bergerak mundur dari sosok itu. Aku ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku, seakan aku pita suaraku tidak lagi berfungsi. Tapi aku tetap saja berteriak walaupun aku tahu itu percuma.
"Ini kesempatan terakhirmu, kalau kau tidak menyambut uluran tangaku. Kau akan tinggal di kegelapan ini selamanya."
Badanku bergetar hebat, kujambaki surai pirangku frustasi. Kenapa aku harus ada di situasi seperti ini. Aku terus saja berteriak tanpa suara, sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak akan bisa memilih antara dua pilihan sulit ini, jika aku memilih ikut dengannya maka aku akan hidup dengan memory mengerikan itu, tapi jika aku tidak ikut bersama dengannya maka aku akan tinggal di kegelapan ini selamanya. Kenapa harus memory buruk itu kembali lagi, perlukan aku mengambil bagian otakku yang menyimpan memory tersebut agar tidak meninggalkan jejak. Sial. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang.
"Kau tidak sendiri, saat kau sadar kau bisa membagi bebanmu pada mereka."
Tiba-tiba kulihat Kaa-san, Iruka, Naruko, dan Gaara sedang menatap cemas aku yang sedang terbaring di tempat tidur dengan peralatan medis yang menompang kehidupanku. Air mataku semakin deras mengalir, aku hanya tidak ingin mereka mencemaskanku. Aku ingin mengatasi masalahku seorang diri, tanpa melukai siapapun walaupun itu artinya aku harus melukai diriku sendiri.
"Kau akan menyakiti mereka jika kau memilih tetap tinggal disini."
Kutatap sosok itu dengan mata sembab karena tangisanku yang seakan tidak bisa berhenti. Sosok itu tersenyum lembut lalu memelukku dengan erat, seakan dia ingin aku membagi bebanku padanya. Tanpa bisa kutahan aku langsung menangis sekencang mungkin, melampiaskan rasa frustasi dan juga keputus asaanku. Aku tidak mau mati sekarang. Begitulah jeritku saat ini.
"Kau memilih pilihan yang tepat."
Setelahnya sebuah cahaya menyilaukan melingkupiku, membuatku harus menutup mataku untuk menghindari cahaya berlebihan yang masuk ke retina mataku.
Saat aku membuka mata, aku sudah tidak lagi berada di dalam kegelapan. Sekarang aku berada disebuah taman yang menurutku sangat indah, aku juga bisa melihat danau dengan banyak bunga eceng gondok yang mengambang diatasnya. Safirku meneliti tempat dimana aku berada sekarang. Dimana aku sekarang.
"Temukan seseorang yang bisa membawamu kembali."
Aku menoleh saat aku mendengar suara sosok itu berada di belakangku, ternyata benar dia sekarang sudah berdiri di belakangku, dia tersenyum hangat lalu menunjuk sebuah bukit yang tidak jauh dari tempat aku berdiri sekarang.
"Dia sudah menunggumu disana. Cepatlah, waktumu tidak banyak."
Aku langsung berlari kearah bukit tersebut, aneh biasanya aku tidak akan kuat jika aku melakukan pekerjaan yang berat seperti berlari. Tapi walaupun aku berlari sekarang tetap tidak terjadi apapun, tubuhku terasa ringan dan juga tenang. Aku suka dengan suasana ini.
Disana aku melihat seorang laki-laki bersurai merah yang berdiri membelakangiku, mataku menyipit saat disaat yang bersamaan aku melihat sebuah cahaya yang berada di hadapannya. Dia menoleh kearahku, lalu tersenyum lembut. Tangannya terulur kearahku, mengajakku untuk ikut bersama dengannya. Aku ikut tersenyum lalu berjalan mendekatinya, aku tahu siapa dia. Gaara. Seseorang yang selama ini selalu ada saat aku tidak memiliki pegangan. Siapa sangka dia juga yang akan membawaku kembali sekarang.
Saat aku sudah menyambut uluran tangannya dia berbalik dan kembali tersenyum kepadaku. Mau tidak mau aku ikut tersenyum bersama dengannya. Namun tiba-tiba dia berjongkok di hadapanku, tentu aku bingung dengan apa yang dia lakukan.
"Naiklah."
Suaranya terdengar berat seperti sebuah melodi. Entah kenapa aku menyukai suaranya sekarang. Seingatku suara Gaara tidak seberat ini sebelumnya.
Diapun menggendongku, dia terus berjalan kedepan sampai akhirnya kami berdiri disebuah cahaya yang menyilaukan. Dia menurunkanku dan memegang kedua pundakku. Matanya memancarkan ketenangan yang selama ini aku cari. Lama kami berpandangan hingga akhirnya dia mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat, secara spontan aku menutup mataku sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Dia menciumku, dengan sangat lembut tanpa ada nafsu disana, seakan dia ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kembalilah, kami menunggumu."
Kau tahu hal yang paling aku takutkan. Yaitu saat aku terbangun dan aku sadar bahwa aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintai 'dia'.
TBC
