Bebas
Megane Uzumaki
NARUTO MASASHI KISHIMOTO
RATE : M (Language)
WARNING : FEMALE NARUTO,BAHASA KASAR, BASED ON TRUE STORY (NOT ALL), NO LEMON, GAJENESS, DE EL EL.
PAIR : SasuFemNaru & GaaFemNaru
NOTE : Anggap Itachi itu bukan kakak dari Sasuke (demi kepentingan cerita) dan Naruko itu adik dari Naruto yang masih berusia sepuluh tahun.
Kau mengurungku, tali yang kau ikatkan di leherku semakin kencang hingga membuatku sulit bernafas, kaki dan tanganku juga telah kau pasung dengan janji kosongmu, hatiku sudah lama kau curi dan tidak pernah kau kembalikan lagi. Ne, kalau kau tidak pernah mencintaiku bisa kau bebaskan aku sekarang, kalau kau memang tidak tertarik dengan perasaanku bisa kau lepaskan aku. Asal kau tahu, aku juga berhak bahagia.
This fict inspired by Young Pal /용 팔 이 (Korean Drama)
Don't like Don't Read
No flame please
.
.
.
.
.
Happy reading !
Chapter 7 : Malam Yang Panjang
Dikamar pasien nomor 257 itulah mereka berkumpul. Mulai dari Iruka, Gaara, Kushina, Naruko, Shikamaru, bahkan Sasuke tampak mengelilingi sipirang yang masih enggan membuka matanya. Mereka semua memandang khawatir dan penuh pengharapan pada si pirang yang mungkin saat ini masih bingung akan pilihan yang akan dibuatnya. Mereka hanya berharap agar Naruto memilih untuk kembali, itupun jika dia masih memiliki hak untuk memilih, begitulah pemikiran mereka saat ini. Gaara yang berdiri di samping Kushina tampak beberapa kali mengeratkan kepalan tangannya, sesekali dia menunduk pasrah lalu sebuah hembusan nafas berat terdengar darinya.
"Gaara-kun pulanglah dulu."
Gaara langsung menggeleng, dia tidak akan meninggalkan Naruto. Bagaimanapun dia masih merasa bersalah pada apa yang diterima Naruto sekarang. Dia menganggap ini adalah kesalahannya, dia yang tidak bisa menjaga gadis pirang itu dengan baik.
"Sumimasen, Boku wa Itachi desu."
Dari balik pintu terlihat seorang dokter tampan bersurai raven panjang diikat ponytail sedang tersenyum sambil membungkukkan badannya. Seluruh orang yang ada di kamar tersebut langsung membuat gesture agar dokter itu masuk kedalam. Sang dokter yang mengerti langsung masuk kedalam.
"Gomen, tapi boleh kalian tinggalkan pasien dulu. Dia harus beristirahat. Kami menyediakan kamar khusus untuk keluarga pasien VIP."
Ucap Itachi –nama dokter itu sambil tersenyum manis. Mereka yang ada di sana langsung mengangguk dan pergi meninggalkan kamar rawat Naruto, atau lebih tepatnya meninggalkan Naruto bersama dengan Itachi.
Setelah semua orang keluar, Itachi menundukkan kepalanya. Kedua tangannya menjadi peyangga tubuhnya saat dia merasa bahwa dia tidak kuat lagi untuk sekedar berdiri. Diliriknya kondisi Naruto yang masih asik memejamkan matanya. Diapun tersenyum tipis entah karena apa.
"Baka ! kimi !"
Itachi menujuk kearah Naruto yang masih dalam keadaan tidak sadar. Wajah tampannya berkabut karena khawatir, matanya berkaca-kaca, juga sorot matanya yang seakan mengatakan bahwa dia sedang sangat khawatir sekarang.
"Bisa kau berhenti membuatku khawatir ? Kau selalu melanggar apa yang aku larang ! kubilang jangan makan ramen tapi kau tetap pergi makan makanan berlemak itu dengan Iruka, kubilang untuk menjaga kesehatan tapi kau masih saja melakukan kebiasan burukmu, kubilang untuk berhati-hati tapi kau selalu saja ceroboh ! apa maumu sebenarnya ?"
Nafas Itachi berpacu, sungguh dia benci saat melihat Naruto dalam keadaan koma seperti ini. Perempuan yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu sekarang lagi-lagi membuatnya khawatir, tidakkah dia lelah dengan semua kekacauan yang dibuatnya selama ini. Itachi yang selama ini terkenal pendiam dan selalu tenang, bisa berbicara sepanjang itu, jika ada salah satu susternya yang mendengar ucapan Itachi pasti dia tidak akan percaya dan menganggap ini adalah mimpi. Tapi sayangnya tidak. Itachi benar-benar tidak bisa tenang dan berlaku seperti dia jika melihat Naruto dalam kondisi seperti ini. Berlebihan, anggap saja begitu.
"Saat kau bangun nanti, aku akan memarahimu. Aku akan menjitak kepalamu lebih keras dari biasanya."
Suara Itachi terdengar serak, mungkinkah dia menangis. Uso, apa besok tidak akan ada matahari terbit lagi, kenapa seorang Itachi bisa menangis seperti ini.
"Kau harus bangun, mereka mengkhawatirkanmu baka imoutu !"
Ucap Itachi sambil membelai surai pirang Naruto, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Naruto sendiri. Itachi tidak sadar jika ada seseorang yang sejak tadi mengintip apa yang dia lakukan dari sela-sela pintu kamar. Setelah Itachi keluar, seseorang itu masuk kedalam dan melangkah kearah Naruto dengan langkah pelan dan seakan ragu-ragu. Sesampainya dia disamping ranjang Naruto, dia menundukkan kepalanya, digenggamnya tangan Naruto dengan tangan besarnya.
"Gomen."
Tidak ada jawaban dari Naruto, hanya suara mesin pengukur detak jantung yang terdengar dari ruangan tersebut. Seseorang yang ternyata adalah Gaara itu lalu duduk disamping Naruto dengan masih memandang sosok Naruto dalam diam.
"Kau tahu, waktu mendengar kau kecelakaan aku sangat khawatir."
Gaara tertawa hambar, walaupun dia tertawa tapi air matanya mengalir dengan derasnya. Dia tidak lagi bisa berkata-kata, hanya menangis dalam diamnya. Sampai akhirnya dia tidak lagi mampu mengeluarkan air mata dan pergi meninggalkan Naruto tanpa mengatakan apapun. Sepertinya dia masih merasa bersalah atas apa yang dialami oleh Naruto.
"Hah."
Ah, ternyata ada satu orang lagi yang sedari tadi mengintip Gaara. Seseorang itu langsung bersembunyi saat tahu bahwa Gaara akan membuka pintu. Setelah Gaara pergi, barulah seseorang itu masuk kedalam dan duduk disamping ranjang Naruto, berbeda dengan Gaara, seseorang itu lebih memilih duduk di dekat jendela kaca yang menampilkan pemandangan Konoha di malam hari.
"Sekarang banyak orang yang mengkhawatirkanmu."
Gumam orang itu sambil memandang langit malam yang kebetulan sangat cerah hari ini. Sesekali dia menghirup udara panjang untuk memberikan asupan oksigen yang cukup untuk paru-parunya.
'Aku menyerah.'
Teringat dia akan wajah Naruto yang murung saat itu, dia bilang dia akan menyerah, Naruto yang selama ini pantang menyerah dalam berjuang, sekarang sudah sampai pada batasnya, hingga dia lebih memutuskan untuk menyerah. Tidak ada kesempatan lagi untuknya, tidak peduli dia akan melakukan apapun tetap tidak akan ada yang berubah. Karena gadis itu sudah menyerah, dia tidak akan ada lagi untuknya. Haruskah dia marah, tidak dia sama sekali tidak berhak untuk marah, dia sudah berbuat hal yang menyekiti hati perempuan itu, jadi wajar jika akhirnya perempuan itu menyerah. Tapi kenapa, kenapa saat dia sudah akan menerima gadis itu, tiba-tiba gadis itu mengatakan padanya bahwa dia menyerah. Marahkah dia, ya dia marah tapi lagi-lagi dia tidak berhak untuk marah, dia tidak berhak untuk marah dan meminta kesempatan pada gadis itu, karena kesempatannya sudah dia sia-siakan selama ini.
"Dulu kau bahkan hanya memiliki satu dua orang yang mau berteman denganmu."
Dia masih meracau sendiri tanpa memandang kearah Naruto, kedua onyxnya masih terpaku pada langit malam yang memandang prihatin kepadanya. Dia yang sudah kehilangan kesempatan terakhirnya. Dia yang putus asa, dan dia yang dengan bodohnya menyia-nyiakan kesempatan lebar yang ada di masa lalu.
"Aku tahu, kau pasti membenciku bukan ?"
Dia tersenyum pahit, dicengkramnya celana yang dikenakannya seerat mungkin. Dia hanya ingin melampiaskan rasa yang kini bercampur aduk di dalam hatinya. Rasa bersalah, rasa khawatir, rasa marah, juga rasa keputusasaan. Semua itu bercampur menjadi satu, hingga dia sendiri bingung dengan apa yang sedang dialaminya sekarang. Apa yang terjadi sekarang, dia benar-benar tidak tahu tentang itu.
'Yesterday. Kotoba ga tarinakute. Surechigatta to shitemo yamenaide. Motto wakaritai. Toki ni hitori ni naritakute. Tobi wo shitemo kokoro wa umaranai. Soshite taisetsu na hito ni kizukuyo. Itsumo itsumo sou umaku iku towa kagiranai mainichi. Tatekowaratte. Kimi ga kureta tatta hitokuro ga dorehodo ureshikattaka. Zutto zutto oboiteru.'
Dia tidak peduli saat hapenya berdering, entah menandakan itu panggilan masuk atau mungkin sebuah pesan. Dia sama sekali tidak memperdulikannya. Pikirannya kini melayang entah kemana, tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan sekarang. Bahkan dia sendiri mungkin tidak tahu apa yang ada di dalam otaknya sekarang. Semua ini terlalu menyakitkan untuknya, mungkin. Anggap saja begitu.
Sipirang tampaknya mulai terganggu, keningnya berkerut saat mendengar lagu yang berasal dari hape seseorang di dekat jendela. Keringat sebesar biji jagung menghiasi wajah manisnya, tangannya mengerat. Seakan dia sedang tersiksa entah karena apa. Tidak lama dia membuka kelopak matanya, menampilkan sepasang safir yang selama ini tersembunyi. Pandangannya kosong, tidak ada kehidupan di matanya. Seperti cangkang kosong yang tidak terisi. Terus begitu hingga akhirnya sebuah isakan kecil terdengar dari bibirnya, diikuti buliran air mata yang jatuh dari sepasang safir tanpa nyawanya. Isakan kecil yang semakin lama semakin mengeras, hingga dia tidak bisa lagi membendung perasaan yang selama ini dia pendam seorang diri, perasaan benci dan juga cinta yang menurutnya sangat konyol dan juga bodoh.
"Naruto, kau sudah sadar ?"
Seseorang itu berlari kearah Naruto, memandang khawatir pada sosok Naruto yang masih menangis dengan sangat kencang.
"Aku panggilkan dokter."
Baru saja dia akan pergi, sebuah tangan menahannya. Naruto ternyata, dia lihat gelengan Naruto. Dia akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal dan menemani Naruto menangis. Membiarkan gadis pirang itu meluapkan perasaan yang selama ini menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak mau mati."
Bisik Naruto dengan suara serak, dia terus menangis tersedu-sedu. Atau bahkan hingga dia kehabisan nafasnya, semakin lama nafasnya semakin pendek.
"Hiks hiks kumohon, aku ti-tidka mau mati."
"Naruto tenanglah."
Dia mulai khawatir, tangisan Naruto tidak juga mereda. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membawa Naruto kedalam pelukannya. Bukan pelukan erat, hanya pelukan yang dia harap akan mengurangi beban yang di pikul oleh Naruto sekarang. Anehnya, setelah dipeluk oleh seseorang itu Naruto akhirnya tenang, bahkan Naruto membalas pelukannya. Seseorang itu tersenyum tipis, dan tanpa sadar dia mulai mengeratkan pelukannya. Tanpa sadar Naruto kini sudah kembali menutup matanya, bukan karena koma hanya dia sedang menjelajah dunia mimpinya. Berharap akan menemukan sebuah mimpi dengan akhir yang indah, ya hanya dengan begitulah dia bisa menjalani hari esok.
Sedangkan seseorang itu kini juga tertidur disamping Naruto. Terlihat pulas sama dengan Naruto. Kedua tangan mereka bertaut satu sama lain. Apakah mungkin karena itu mereka bisa tidur sepulas ini. Entahlah siapa yang bisa menjawabnya. Hanya sebuah opini tanpa pembuktian.
Keesokan harinya. Sinar matahari menyelinap masuk dari sela-sela gorden kamar rawat inap dimana Naruto dirawat sekarang. Sinarnya membuat Naruto terusik, dia mengeram pelan lalu membuka kelopak matanya, tapi kemudian dia harus menyipit saat sinar yang terlalu terang tertangkap kedua retinanya. Setelah yakin bisa menyesuaikan diri dengan cahaya yang ada, barulah Naruto membuka kembali matanya. Dia ingin bangun, tapi sebuah tangan menahannya. Diliriknya seseorang yang sedang tertidur disampingnya. Kepalanya membelakanginya, hingga Naruto hanya bisa melihat surai ravennya yang bermodel pantat ayam. Tunggu, sepertinya Naruto tidak asing dengan model rambut itu, tapi siapa dia.
"Kimi wa dare ?"
Tanya Naruto sambil mengelus surai raven sosok tersebut. Naruto tidak tahu kenapa dadanya terasa sakit saat melihat seseorang yang ada di hadapannya sekarang. Siapa dia sebenarnya.
"Ohayou Naru –"
Ucapan Gaara terhenti saat melihat Naruto yang memandang kearah sosok yang tertidur disampinya, terlebih lagi Gaara melihat tangan Naruto yang bertaut dengan tangan seseorang yang dia kenal betul siapa dia. Mau tidak mau, rasa sesak itu menghampiri Gaara tanpa permisi.
"Eungh."
Seseorang itu melenguh, tidak lama dia membuka matanya. Menampilkan sepasang onyx gelap segelap malam. Dia meneliti dimana dia sekarang, onyxnya setia menelusuri tiap sudut kamar rawat Naruto sebelum akhirnya terhenti saat melihat Gaara yang berdiri di depan pintu dengan tangan terkepal. Sasuke, dialah seseorang bermata onyx itu.
"Sepertinya tadi malam adalah malam yang panjang."
Ucap Gaara berhasil mendapatkan perhatian dari Naruto yang masih penasaran siapa Sasuke sebenarnya.
"Gaara ?"
Gaara tersenyum tipis, dia membungkuk meminta maaf.
"Maaf kalau aku mengganggu, aku akan pergi."
Naruto mengggeleng, tidak ini tidak seperti yang Gaara bayangkan, dia bahkan tidak mengenal Sasuke.
"Gaara tunggu ! Gaara !"
Tapi terlambat, Gaara benar-benar tidak berbalik untuk menyahut panggilannya. Laki-laki itu tetap melangkah pergi meninggalkan Naruto dan Sasuke.
"Gaara hiks Gaara."
Lelehan air mata Naruto berhasil membuat Sasuke terdiam. Dia tidak tahu bahwa Naruto menyukai Gaara sampai seperti ini. Apa itu artinya dia memang sudah kehilangan kesempatannya. Tentu saja, memangnya siapa yang mau menunggu orang bodoh sepertinya.
"Naruto gomen."
Naruto menatap Sasuke dengan penuh amarah.
"Kau ! kenapa kau tidur disini ? kenapa kau memegang tanganku ?"
Sasuke tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hei, kemana perginya Sasuke yang angkuh dan dingin itu, sejak kapan Sasuke menjadi lemah seperti ini hanya karena seorang gadis bersurai pirang.
"Aku bahkan tidak tahu kau siapa !"
Kali ini Sasuke langsung mendongakkan kepalanya, dia terkejut? Tentu saja, siapa yang tidak terkejut saat tahu perempuan yang selama ini disukainya tidak ingat padanya.
"Kau " Sasuke mengambil nafas yang menurutnya semakin menipis "Tidak mengenalku ?" lanjut Sasuke dengan susah payah. Naruto mengangguk dengan polosnya.
Dunia seakan berakhir bagi Sasuke. Naruto benar-benar tidak mengingatnya, adakah hal yang lebih buruk dari ini.
Kadang, butuh sebuah rasa sakit untuk menjadi dewas. Jika tidak, kau akan tetap berada pada masa remaja seumur hidupmu.
TBC
