Bebas

Megane Uzumaki

NARUTO MASASHI KISHIMOTO

RATE : M (Language)

WARNING : FEMALE NARUTO,BAHASA KASAR, BASED ON TRUE STORY (NOT ALL), NO LEMON, GAJENESS, DE EL EL.

PAIR : SasuFemNaru & GaaFemNaru

NOTE : Anggap Itachi itu bukan kakak dari Sasuke (demi kepentingan cerita) dan Naruko itu adik dari Naruto yang masih berusia sepuluh tahun.

Kau mengurungku, tali yang kau ikatkan di leherku semakin kencang hingga membuatku sulit bernafas, kaki dan tanganku juga telah kau pasung dengan janji kosongmu, hatiku sudah lama kau curi dan tidak pernah kau kembalikan lagi. Ne, kalau kau tidak pernah mencintaiku bisa kau bebaskan aku sekarang, kalau kau memang tidak tertarik dengan perasaanku bisa kau lepaskan aku. Asal kau tahu, aku juga berhak bahagia.

This fict inspired by Young Pal /용 팔 이 (Korean Drama)

Don't like Don't Read

No flame please

.

.

.

.

.

Happy reading !

Chapter 8 : Dua Laki-laki Dari Masa Lalu

Dikamar itu Naruto meringkuk seorang diri, lagi-lagi dia memeluk kedua lipatan lututnya sambil menenggelamkan kepalanya diantara lipatan tersebut. Tidak ada suara yang terdengar darinya, tenang tapi menghanyutkan. Tidak ada gumaman ataupun gemeretak gigi yang biasa terdengar saat Naruto dalam posisi seperti ini. Hanya ketenangan. Tapi justru disitulah kekhawatiran itu muncul. Semakin diam Naruto, semakin banyak pertanyaan kenapa Naruto sebenarnya berputar di kepala orang yang menyayanginya. Karena mereka tahu, saat Naruto terdiam, itu pertanda bahwa si pirang sedang menyembunyikan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Saat itu terjadi tidak ada yang bisa membuat Naruto bicara. Ya, mereka hanya bisa mengkhawatirkan Naruto saja, tidak ada yang bisa membantunya. Karena begitulah Naruto menjalani siklus kehidupannya. Tidak ingin membuat orang khawatir, tapi secara tidak langsung dia sudah membuat orang khawatir terlalu berlebihan akibat kelakuannya. Seperti sekarang, entah apa yang ada di pikiran Naruto sekarang, dia kembali mengurung dirinya dalam kebisuan, tanpa pegangan, dia membiarkan dirinya terhisap semakin dalam hingga dia kesulitan untuk menemukan jalan pulang, dia tersesat, tapi dia tetap tidak mengatakan apapun, seakan dia yakin bahwa dia bisa menemukan jalan pulang dengan dirinya sendiri, tanpa perlu bantuan tali penunjuk arah. Dia berpikir bisa melakukan sesuatu seorang diri, bukan karena dia tidak percaya pada bantuan yang datang padanya, tapi lebih tepatnya dia tidak mau menggantungkan kehidupannya pada orang lain. Kenangan buruknya dalam bersosialisasi di masa lalu tampaknya ikut memberikan dampak pada kehidupannya sekarang.

"Naruto, berhenti bersembunyi."

Itachi. Ya, selama ini memang hanya Itachi yang dengan berani mendatangi tempat dimana Naruto akan mengurung diirnya. Laki-laki tampan itu selalu mengulurkan tangannya pada Naruto, dia tidak ingin Naruto terus tinggal di dalam masa lalunya. Karena itulah dia datang untuk mengingatkan Naruto bahwa masa lalu itu tidak akan terulang lagi, agar Naruto mau terus melangkah maju tanpa menoleh lagi kepada masa lalu kelamnya.

"Hiks…hiks…"

Akhirnya terdengar suara isakan dari Naruto, Itachi tersenyum bahagia saat mendengarnya. Ini adalah pertanda bahwa Naruto sudah menerima uluran tanganya. Memang selama ini Naruto bersikap seakan tidak membutuhkan siapapun, tapi kenyataannya Naruto terus berharap akan ada orang yang memberikan uluran tangannya kepada Naruto. Itachi lalu mengelus surai pirang Naruto yang tergerai bebas, membuat isakan Naruto semakin lama semakin kencang terdengar.

"Teruslah menangis, jangan dipendam. Kau tidak harus berpura-pura lagi sekarang."

Hibur Itachi. Naruto mengangguk, tanpa dia sadari, kini Naruto sudah dalam posisi memeluk Itachi, gadis pirang itu menangis sekencang mungkin, terus menangis seakan hari ini adalah kesempatan terakhirnya ujntuk menangis dan juga merupakan kesempatan terakhirnya untuk melepaskan bebannjya seperti sekarang. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah, karena memang Naruto tidak yakin akan kembali menangis di depan orang lain lagi, jika bukan hari ini Naruto tidak tahu kapan kesemapatan ini akan menghampirinya kembali.

"Sudah merasa baikan ?"

Tanya Itachi saat Naruto sudah selesai menangis dan telah melepaskan pelukannya, hanya tersisa segukan kecil yang merupakan efek dari tangisannya.

"Uhm, arigatou Itachi-nii."

Balas Naruto dengan suara serak, Itachi tersenyum lega melihat wajah Naruto yang jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya, ternyata memang datang menghampiri Naruto adalah keputusan yang tepat untuknya.

"Kau boleh bercerita kalau memang kau mau bercerita."

Naruto tersenyum kecil. Kedua safirnya menerawang jauh apa yang sudah dia alami selama ini, haruskah dia membagi sedikit saja bebannya pada laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai aniki sendiri untuknya. Haruskah dia lakukan itu. Sepertinya itu bukanlah keputusan yang buruk.

"Aku sudah membuat Gaara salah paham."

Itachi lalu duduk disamping Naruto, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir mungil Naruto. Dalam hati Itachi senang saat Naruto akhirnya mau membagi kisah bersamanya.

"Gaara-san bukan orang yang mudah marah bukan ? jelaskan saja padanya, dia pasti mengerti."

Komentar Itachi ditanggapi posistif oleh Naruto.

"Tapi –"

Ucapan Naruto menggantung diudara. Membuat Itachi mengerutkan keningnya karena bingung dan juga penasaran. Tapi Itachi memilih untuk diam dan tidak bertanya lebih lanjut, biarlah Naruto menyiapkan dirinya dulu untuk melanjutkan ceritanya. Bersabar, ya hanya bersabarlah yang bisa Itachi lakukan sekarang.

"Aku bukan hanya merasa bersalah karena hal itu, entahlah aku juga tidak yakin, tapi sepertinya ada kesalahan lain yang pernah aku perbuat."

Itachi mengerutkan keningnya, apa maksudnya dengan kesalahan lain.

"Kesalahan lain seperti apa ?"

Naruto menggeleng lemah.

"Entahlah, aku tidak tahu."

Itachi menggengga tangan Naruto dengan erat, seakan memberikan kekuatan pada Naruto agar tetap bertahan untuk menghadapi semua masalah yang menghampirinya.

"Jangan dipaksakan. Lebih baik kau berbicara baik-baik pada Gaara. Akan kupanggilkan dia kalau kau setuju."

Naruto tampak berpikir, apakah dia menyetujui atau tidak. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk menyetujui apa yang disarankan oleh Itachi.

"Baiklah, tunggulah disini. Aku tidak akan lama."

Disini Itachi sekarang, mencari dimana gerangan Gaara berada. Setiap sudut rumah sakit dia telusuri untuk menemukan si laki-laki bersurai merah itu. Lama mencari, akhirnya Itachi berhasil menemukan Gaara yang ternyata sedang membaca buku di taman rumah sakit. Tanpa membuang waktu, Itachi langsung menghampirinya dan duduk disamping Gaara.

"Gaara-san desu ka ?"

Gaara yang sedari tadi masih terfokus pada buku yang dibacaya menoleh saat mendegar namanya dipanggil.

"Ha'I dare desu ka ?"

Balas Gaara sambil meneliti penampilan Itachi yang menurutnya tidak asing, akhirnya dia mengangguk pelan lalu tersenyum ramah pada Itachi.

"Kini wa Itachi-sensei desu ka ?"

Itachi mengangguk, selama ini memang kedekatan Itachi dan Naruto tidak ada yang mengetahui kecuali dia, Naruto dan juga Iruka. Wajar jika Gaara, ataupun kedua orang tua Naruto tidak mengenalnya.

"Ne, Gaara-san boleh aku bertanya sesuatu ?"

Gaara bergumam tidak jelas, tapi terdapat gesture iya yang ditangkap Itachi.

"Apa sebenarnya hubunganmu dengan Naruto dan Sasuke-san ?"

Gaara diam. Dicengkramnya erat buku yang sedari tadi tidak lagi menjadi prioritas utamanya, setidaknya setelah Itachi duduk disampingnya dan mengajaknya berbicara.

"Entahlah, itu semua masa lalu."

Itachi mengangguk, dalam hati dia berpikir. Pasti ada kejadian buruk diantara mereka bertiga.

"Kau tahu, Naruto sekarang sedang menyalahkan dirinya sendiri."

Gaara mengangguk tanpa berniat untuk menjawab. Kenapa seakan waktu mempermainakn mereka kembali. Saat dia pikir semua akan berjalan baik mulai dari saat itu, tapi ternyata bayangan buruk masa lalu itu masib setia menempel pada kehidupan mreka. Tidak peduli cara apapun masa lalu kelam itu akan tetap datang tanpa diundang.

"Dia bilang bahwa dia sudah membuatmu salah paham. Dia bahkan tidak mengenal laki-laki pantat ayam itu. "

Gaara tersenyum miris, haruskah dia senang mengetahuinya. Tidak, dia tahu tidak akan lama lagi Naruto akan teringat dengan kejadian itu.

"Dia mengenalnya, bahkan mungkin sangat mengenalnya."

Itachi mengerutkan keningnya, dia tidak salah mendengar kan. Hey Naruto saja tidak mengenalnya, tapi kenapa Gaara bisa mengatakan bahwa Naruto mengenal laki-laki itu. Ada apa ini sebenarnya.

"Apa maksudmu ?"

Gaara berdiri, hendak meninggalkan Itachi sendiri. Tapi belum ada lima langkah, tangan besar Itachi menahan kepergiannya.

"Temuilah Naruto, dia sangat merasa bersalah. Kumohon."

Gaara mengangguk. Memang itu tujuannya sekarang, walaupun dia tahu bahwa sebentar lagi waktu tidak akan berpihak padanya, tapi setidaknya dia harus memastikan Naruto dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Ya, hanya itulah yang bisa dia lakukan sekarang.

"Aku memang mau menemuinya."

Itachi tersenyum mendengarnya. Walaupun dia tidak tahu apa yang sudah terjadi diantar mereka bertiga, tapi setidaknya dia harus memastikan bahwa Naruto akan baik-baik saja sekarang. Tuinggu sepertinya kata-kata itu de javu. Entah ini kebetulan atau tidak, siapa yang tahu.

"Ajaklah dia jalan-jalan di taman rumah sakit."

Teriak Itachi saat Gaara sudah lumayan jauh darinya. Gaara yang masih mendengar ucapan Itachi hanya mengangkat tangannya, membuat geture 'ok' atas permintaan Itachi padanya.

Sekarang Gaara sudah berada di depan pintu ruang rawat Naruto. Dia memandang pinti yang bertengger nama Naruto itu dengan pandangan kosong. Dia masih bingung dengan semua ini, kenapa begitu susahnya untuk bisa bersama dengan si pirang, selalu saja ada masalah yang menghampiri mereka. Dia pikir setelah dua tahun ini semua berjalan lancer, tidak aka nada nama 'dia' lagi yang membayangi kehidupan Gaara dan Naruto. Tapi lihat keadaan sekarang, mereka kembali berputar di lingkaran yang tidak memiliki ujung. Terus terjebak di lingkaran yang sama tanpa perlawanan apapun. Menyedihkan.

"Naruto, ini aku Gaara."

Ucap Gaara akhirnya. Diketuknya pintu itu pelan, takut mengganggu istirahat Naruto di dalam.

"Masuklah."

Terdengar suara sahutan Naruto dari dalam. Gaara lalu membuka pintu itu dan berjalan menghampiri Naruto. Saat sudah berada disamping Naruto Gaara lalu duduk disampingnya, memgang tangan Naruto yang tertancap selang infuse. Dipandanginya wajah pucat Naruto yang terlihat lelah. Beban seperti apa lagi yang dia tanggung sekarang.

"Kau mau jalan-jalan ?"

Tanya Gaara lembut, diusapnya surai pirang Naruto penuh kasih sayang. Seakan takuyt, jika dia berlaku kasar maka Naruto akan terluka.

Uhm, boleh kah ?"

Sahut Naruto semangat. Senyuman lebar yang sudah lama tidak dilihat Gaara kini bisa dia lihat lagi. Gaara mengangguk pasti, lalu diambilnya kursi roda yang berada di pojok ruangan. Ddiangkatnya tubuh Naruto untuk dia dudukkan di kursi roda tersebut.

"Ne, Gaara."

Panggil Naruto dengan nada lirih.

"Hm ?"

Sahut Gaara sambil mulai mendorong kursi roda Naruto.

"Gomen, kemaren aku juga tidak tahu kenapa si pantat ayam itu bisa tidur disampingku. Aku bahkan tidak mengenalnya."

Gaara tersenyum hambar. Haruskah dia menceritakan kebenarannya. Tidak, biarkan saja Naruto seperti ini, jika dia menceritakan kebenarannya, ada kemungkinan Naruto akan histeris seperti dulu. Tidak, dia tidak akan membiarkan Naruto mengalami hal buruk itu lagi.

"Aku tahu, sudahlah aku juga tidak akan mengungkitnya lagi."

Naruto tersenyum bahagia mendengarnya. Tapi 3entahlah, Naruto merasa ada satu kesalahan lagi yang dia perbuat. Tapi sayang dia bahkan tidak mengingat kesalahan tersebut.

"Ne, Gaara."

Panggil Naruto lagi.

"Hm ?"

Sahut Gaara masih sama cueknya seperti tadi.

"Apa ada kesalahan lain yang aku perbuat ?"

Gaara menghentikan langkah kakinya. Tunggu, jangan bilang Naruto sudah mengingat semuanya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

"Apa maksdumu ?"

Naruto mencoba menerawang sesuatu yang tidak dia ingat. Sesuatu yang entah kenapa seperti sebuah kkotak Pandora yang terlarang untuknya. Sesuatu yang dia ingin tahu, tapi dia sendiri juga takut untuk mengetahuinya.

"Entahlah, aku hanya berpikir. Mungkin ada salah satu ingatanku yang masih tidak dapat kubuka. Dan itu ada hubungannya dengan kesalhanku dimasa lalu. Apa kau tahu apa itu Gaara ?"

Gaara terkejut. Tapi dia mencoba untuk tetap tenang, dia mulai melanjutkn lagi langkah kakinya dan akhirnya mereka sampai di taman rumah sakit, Gaara berjalan kearah depan Naruto, membiarkan Naruto melihat punggungv lebarnya.

"Jangan mencoba untuk mengingat papaun yang ada di masa lalu."

Ucap Gaara dengan suara bergetar. Sesakit itukah masa lalu Naruto bagi Gaara. Begitulah pemikiran Naruto saat ini. dia menjadi merasa bersalah pada laki-laki panda itu.

"Kumohon, jangan mencoba untuk mengingat apapun. Anggap saja semua baik-baik saja. Kumohon."

Pinta Gaara kini dengan bahu bergetar. Naruto terdiam melihatnya. Jujur dia tidak suka melihat gaar menjadi lemah seperti ini. biasanya dia hanya melihat sisi cuek Gaara yang selalu membuatnya merengut kesal. Tapi sosok Gaara yang selemah ini tidak pernah terbayangkan oleh Naruto.

Naruto lalu mencoba berdiri dari kursi rodanya, tangannya bergetar saat menahan beban tubuhnya. Tapi Naruto tidak menyerah, dia terus memaksakan dirinya untuk berjalan menghampiri Gaara yang ada di depannya. Langakhnya sangat kecil dan juga tertaih, kakinya bergetar hebat karena masih dalam tahap pemulihan. Air matanya mengalir deras dari kedua saifr berkabutnya. Menahan sakit di kakinya juga sakit dihatinya yang semakin menjadi.

'bruk'

Akhirnya dia berhasil. Naruto berhasil menggapai tubuh Gaara dan memeluknya dari belakang. Gaara terkejut, sejak kapan Naruto berjalan kearahnya, tunggu bagaimana dengan kakinya. Gaara hampir memutar bailk tubuhnya tapi gelengan Naruto menghentikan niatannya.

"Tunggu sebentar lagi. Biarkan saja seperti ini."

Ucap Naruto dengan suara serak. Gaara hanya diam dan membalas pelukan Naruto dnegan mengelus tangan Naruto yang melingkar di kedua sisi tubuhnya. Dia sungguh tidak bermaksud begini, dia hanya ingin meyakinkan Naruto bahwa semua akan baik-baik saja.

"Gomen Gaara. Gomen."

Racau Naruto terus menerus. Gaara menggeleng.

"Iie, kau tidak salah. Jadi berhenti meminta maaf."

ucap Gaara sambiln memutar bailk tubuhnya sambil menahan tubuh Naruto agar tidak terjatuh. Akhirnya sekarang mereka berhadapan. Ruby bertemu dengan safir. Lama mereka berpandangan hingga akhirnya keduanya tersenyum bahagia. Mereka tahu bahwa keadaan tidka sedang dalam keadaan yang baik-baik saja sekarang. Tapi mereka yakin, bahwa tidak ada untungnya untuk mengakui keadaan ini. mereka harus percaya bahwa bisa saja keadaan berbalik mendukung mereka. Ya, hanya itulah yang dapat mereka lakukan sekarang.

TBC

Balesan review :

chapter 7:

Aiko Vallery : Tehee ini udah lanjut. Makasih udah mau review :D salam kenal yak

Kyutiesung : wkwkwk tapi sayangnya di cerita ini Itachi bukan abangnya si Sasuke. Hehe, pengen author juga sama Itachi aja sih lebih dewasa haha tapi- #abaikan Oya makasih ya udah review Salam kenal

guestny guest : huahahaha iya biar aja si Sasu kena karma ! #emosi hehe sorry nih guestny guest jangan panggil Gaa-chan dong, soalnyya di kehidupan nyata itu nama panggilan author hehehe #plak Oya makasih udah review. Salam kenal

chapter 6 :

Aiko Vallery : ini udah lanjutt #telat

chapter 5 :

Rey D'Nightmare : Iya nasib Naru emang entah kenapa selalu ngenes deh kayaknya #KhusunyaDiCeritaAuthorGajeIni hehe makasih ya udah mau review. Salam kenal

Aiko Vallery : ini udah lanjut kok #telat

chapter 4 :

guestny guest : Ah makasih ya udah di do'ain, hehe tapi akhir-akhir ini kesehatan Author masih stabil kok, kecuali dua minggu yang lalu #curhat

yuki akibaru : ini udah lanjut #ditentangKarenaTelat

hannacemong : hehe perasaan udah panjang deh #ngeles makasih ya udah review, ntar kalau mood author bagus author panjangin deh di chap selanjutnya. Makasih udah review, salam kenal

chapter 3 :

Aiko Vallery : ini udah lanjut kok #telatBanget

chapter 2 :

Rei D'Nightmare : Yupi Gaara itu cowoknya Naru. Interaksi SasuNaru mungkin agak jarang sih, paling pas flashback deh diceritain apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka bertiga #azek

Chapter 1 :

Aiko Vallery : Thanks udah review dan nungguin cerita Author sedeng ini #KePDan

Terimakasih yang udah mau review cerita gaje ini. Bagi yang silent reader juga makasih udah nyempetin baca walaupun habis baca menghilang tanpa jejak #digampar haha makasih juga yang udah follow ataupun fav. Hontou ni arigatou gozaimasu ! #nunduk