Disclaimer : Masashi kishimoto (Om Maskish, setelah lama wondergrave hibernasi, kali ini wonder mau pinjem Chara om maskish lagi yaa)
Genre : Drama/romance, Hurt/Comfort, Marriage Life
Pairing : SasuHina | slight GaaHina | slight SasuSaku | slight GaaSaku
Rated : T semi M (always wkwkwk)
Warning : AU, OOC, gaje, typo, dll
Wondergrave Proudly Present :
Miracle in Revenge
"Anda harus ekstra hati-hati mulai sekarang ya."
"Aku tak sabar menunggu kelahiran bayi ini, ino-san." Hinata memberi senyum cerahnya kepada dokter kandungannya, ino. Ino tersenyum juga melihat perut buncit Hinata.
"Aku juga, baiklah ini dokumen nya Hinata-san. Kalau ada apa-apa, telpon saya ya."
"Baik ino-san. Kalau begitu, saya permisi." Hinata beranjak dan memberi hormat seraya menunduk kepada ino. Ino pun juga, memberi hormat kepadanya.
Hinata berjalan meninggalkan ruangan ino dengan hati senang, senyum terus merekah dibibir merah jambunya. Ia melewati ruang inkubasi dan melihat bayi-bayi yang berada diruangan tersebut. Ia sungguh tak sabar, agar bayinya berada disana. Ia berdiri menghadap ruangan tersebut, dan kemudian matanya terpusat kepada bayi dengan rambut bewarna merah bata, sama persis seperti milik Gaara. Apakah ini ilusi? Pikirnya, apakah ini karena ia terlalu senang, sehingga anaknya sudah terbayang sangat nyata berada disana. Namun kemudian suara yang sangat ia kenal berdengung membuka percakapan kepada seseorang berambut raven tak jauh darinya. Kalau pandangannya tak salah, itu benar adalah Gaara. Hinata tersenyum namun kemudian seketika senyumnya pudar dan ia memutuskan untuk diam.
"Mengapa kau mempertahankan anakku?"
Sasuke melihat kearah suara bajingan yang sangat ia benci, ia sungguh membenci rambut merah dan segala kearogansian milik lelaki bernama Sabaku Gaara.
"Mengapa kau mengambil istriku? Tak cukup perusahaan saja? Mengapa kau mengambil istriku juga?"
"Cih… justru kau harus bersyukur, Sasuke Uchiha. Aku telah menyelamatkanmu dari kebahagiaan semu. Terimalah, dia tidak mencintaimu."
"Dasar kau bajingan busuk." Buku-buku tangan Sasuke telah memutih, giginya bergemelatuk menatap Gaara yang begitu arogan.
"Sekarang, kembalikan anakku, Sasuke."
"Tidak, sebelum kau kembalikan istriku."
"Mau aku paksa pun, dia pasti rela mati hanya demi aku Sasuke." Ketika Sasuke ingin memukul Gaara, gerakannya terinterupsi karena Gaara menahannya dan gentian Gaara lah yang malah memukul Sasuke hingga Sasuke tersungkur. Nafas Gaara menjadi berat menahan semua amarah yang ada didalam hatinya. Ketika Sasuke ingin bangun, Gaara menginjak lengan Sasuke. Untunglah lingkungan sekitar Gaara sedang sepi, jadi tidak aka nada saksi mata, kecuali…
Srakk…..
Suara dokumen jatuh yang membuat Gaara memandang menuju kearah tersebut, dan mata jade nya membelalak kaget ketika melihat siapa yang berdiri mematung disana.
"Hi-Hinata…"
Hinata berdiri dengan air mata bercucuran, tangannya bergetar, memandang Gaara dengan tatapan tidak percaya.
"Hi-Hinata, ini tidak benar." Gaara berusaha untuk mendekati Hinata.
"Jangan mendekat! A-aku, aku ingin mempercayai Gaara, ta-tapi…." Hinata melirik kearah ruang inkubasi, diliatnya bayi berambut merah bata yang sama seperti milik Gaara.
"Sepertinya, anak dariku saja tidak cukup." Hinata berbalik dan berlari, disusul Gaara yang mengejarnya, sedang Sasuke masih berusaha untuk bangkit.
"Hinata! Tunggu!" Hinata berlari tak tau arah, sehingga membuat beberapa pengunjung, suster maupun dokter bingung melihatnya berlari seperti orang gila dengan Gaara.
Hinata memencet tombol lift, namun lift tak kunjung datang. Hinata tak sanggup untuk menghadapi Gaara, karenanya ia memilih untuk memakai tangga darurat. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu darurat dan dengan tergesa-gesa juga ia menuruni tangga tersebut sehingga tak pelak, kakinya pun terpleset dan akhirnya ia berguling bebas disetiap anak tangga. Hinata menjerit. Untung saja, Hinata tidak berguling ke seluruh anak tangga hingga lantai dasar, tetapi 2 lantai saja sudah cukup untuk membuatnya berdarah, serta ketubannya pecah. Rasa nyeri menyerangnya, Hinata pun menjerit lebih keras. Gaara yang menyusulnya dari belakang pun tampak terkejut, Gaara melihat Hinata yang terlihat hancur dan putus asa, tangannya menggapai-gapai kearahnya.
"To-tolong, a-anakku!" ujar Hinata kemudian, sebelum kedua mata lavendernya terpejam.
©WONDERGRAVE-MIRACLE IN REVENGE©
Sasuke berjalan tertatih-tatih sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Gaara.
"Sasuke, kau terlalu memaksakan diri." Seseorang berambut pirang berusaha untuk merangkul Sasuke, namun kemudian Sasuke menepis tangan gadis tersebut.
"Biarkan aku sendiri, ino." Yamanaka ino, adalah dokter kandungan cerdas. Ia adalah teman Sasuke sekuliahan. Mereka ajaibnya bisa akrab, mereka berada dalam club yang sama saat kuliah. Mungkin karena saat itu Shikamaru berkata kepada Sasuke bahwa ia tertarik dengan ino. Makanya Sasuke mempertahankan ino. Tapi, pada akhirnya, inolah yang malah tertarik dengan Sasuke. Seperti biasa, Sasuke tak menghiraukan ino.
"Sasuke, apa yang akan kau lakukan dengan anak Gaara."
"Jangan sebut nama menjijikkan itu lagi didepanku."
"Baiklah, maaf." Mereka saling berdiam diri, berjalan menelusuri koridor rumah sakit yang lumayan sepi.
"Ngomong-ngomong, Sasuke, kalau kau mau aku bisa mengurus anak itu. Sekaligus menjadi istri barumu." Ino nyengir kuda, sedang Sasuke menoleh kearah ino dengan tatapan membunuh sehingga membuat ino kembali terdiam.
"Kau cukup menjadi temanku dan tidak mengkhianati kepercayaanku, ino." Ino kembali tersenyum lalu merangkul lengan Sasuke.
"Itu mudah. Tapi, apa sebenarnya motifmu? Mempertahankan anak itu."
"Aku hanya ingin Sakura kembali kesisiku, ino. Aku sangat jijik dengan bayi itu, aku tidak sanggup mengurusnya. Kau buang saja." Ino menganga, lalu kemudian menampar pipi Sasuke tepat ditempat yang sama dengan Gaara sehingga Sasuke pun menjerit dan menatap tidak percaya kearah ino.
"Yang bajingan itu kau Sasuke! Teganya kau membuang bayi tidak berdosa sepertinya."
"Siapa bilang aku akan membuangnya ino? Aku tidak sebajingan Gaara, seharusnya kau tarik kembali kata-katamu barusan. Aku hanya bercanda. Tenang saja, aku akan menitipkannya saja ke panti asuhan." Ino terdiam, lalu melipat kedua tangannya didada. Ia tersenyum puas sambil meninggalkan Sasuke yang masih tampak kesakitan.
⃝
Gaara menjambak rambutnya frustasi, ia benar-benar depresi saat ini. Seketika ponselnya pun berbunyi, Gaara melihat nama sekretarisnya di smartphone nya. Ia pun menghela nafas panjang.
"Ada apa kankuro?"
"Situasi sedang sangat gawat Gaara-san. Sebaiknya anda ke perusahaan sekarang."
"Ck, ada apa lagi? Aku tidak bisa sekarang."
"Ini sangat gawat Gaara-san. Sakura…. Sakura membuat ulah. Sebaiknya anda datang." Kankuro pun memberi penjelasan lebih terperinci kepada Gaara. Gaara berdecak kesal kemudian menutup smartphone nya. Ia melihat kearah ruang operasi, dan seorang suster keluar dari ruangan.
"Sus, kapan operasinya akan berakhir?"
"Sekitar dua jam lagi pak."
Gaara melihat arlojinya, kemudian segera berlari meninggalkan rumah sakit kandungan menuju kantornya.
Tanpa Gaara sadari ternyata Sakura berada disekitar ruang operasi. Ia pun berjalan pelan menyusuri koridor.
"Kau milikku, Gaara." Gumamnya kemudian. Beberapa selang menit kemudian, seorang suster keluar dari ruangan lagi.
"Maaf, apakah anda keluarga dari saudari Hinata?" Sakura menoleh, lalu kemudian mengangguk.
"Ada apa sus?"
"Kami ingin bertemu dengan suami dari Hinata-san, apakah anda mengetahui dimana dia?"
"Oh, tadi dia barusan pergi. Dia menitipkan Hinata kepadaku, tak apa sus, katakan saja."
"Keadaan tiba-tiba gawat. Sebenarnya kami bisa menyelamatkan Hinata dan anaknya, namun kemungkinannya sangat kecil kurang dari 50%. Mungkin akan lebih baik jika menyelamatkan salah satunya."
Sakura tersenyum licik. "Hmm… kalau begitu selamatkan salah satunya saja sus. Selamatkan lah Hinata nya."
"Baiklah." Ujar suster kemudian masuk menuju ruangan lagi. Sakura terkekeh kecil lalu kemudian segera pergi meninggalkan lingkungan ruang operasi dengan perasaan puas.
⃝
Sakura terkejut melihat Gaara yang ternyata menunggunya diruangannya.
"Kenapa kau mencampurkan urusan pribadi dengan perusahaan Sakura, kau tidak tau profesionalisme?"
"Bagiku, yang paling penting adalah dirimu Gaara. Aku sudah mengurus semuanya." Sakura melemparkan amplop coklat keatas sebuah meja yang berada didepan Gaara. Gaara menatap Sakura dengan tatapan bertanya, sedang Sakura hanya menunjuk ke amplop tersebut, seakan semua jawaban yang Gaara butuhkan ada di amplop tersebut. Dengan hati-hati Gaara meraih amplop tersebut dan membaca semua dokumen yang berada di amplop tersebut. Gaara begitu terkejut dan menatap Sakura tidak percaya.
"Kau suka pekerjaan ku, Gaara-kun? Menabjubkan bukan?"
"K-kau, bagaimana bisa?"
"Mudah saja. Kutebak kau tidak terlalu mengetahui prestasiku diantara kerja sama perusahaan Hyuuga dan Uchiha kan?" Sakura terkekeh, kemudian mendekati Gaara dan memeluknya dari belakang.
"Ceraikan Hinata…." Gumam Sakura dengan nada permintaan diantaranya. Gaara menghela nafas panjang, lalu kemudian berbalik kearah Sakura.
"Bagaimana bisa Sakura?"
"Mudah… tinggal tanda tangani surat cerai yang telah kusajikan." Gaara terlihat bimbang, yang kemudian Sakura mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Gaara singkat.
"Tiga dokumen tersebut. Sudah menjamin indahnya masa depan kita. Dokumen RUPS, dokumen ditutupnya divisi fashion tempat Sasuke bekerja, lalu dokumen perceraianmu dengan Hinata." Sakura tersenyum licik.
"Selamat Gaara, kau adalah CEO Uchiha corp. aku bangga padamu, sebagai calon istri." Lanjut Sakura kemudian, sedang Gaara masih menatap Sakura, kini jaminan kehidupannya sudah tercapai, mungkin benar kata Sakura, Sakura memang sangat cerdas. Setan dalam hati Gaara berbisik, ia mulai tergoda dengan Sakura, sungguh sudah lama ia tidak melihat Sakura begitu menawan. Sakura memang tidak membosankan, dan tentunya lebih berguna dari Hinata.
⃝
Sudah satu minggu sejak RUPS berlangsung, Gaara Sabaku sekarang telah resmi menjadi CEO Uchiha corp. tidak ada kecurigaan sedikitpun, karena memang Gaara lebih berprestasi dibanding Sasuke, walaupun Sasuke adalah penerus resmi keluarga Uchiha, tapi itu tidak menjanjikannya menjadi pewaris perusahaan Uchiha. Ia masih harus bersaing dengan Gaara.
Sasuke hanya bisa tersenyum miris mengetahui bahwa divisinya juga ditutup, semua buruh kecewa, divisinya mengalami kebangkrutan. Tentunya Shikamaru masih mendampingi temannya satu itu, apalagi sekarang Sasuke sedang sangat terpuruk.
Sasuke juga tidak kuat untuk menemui ibu dan kakaknya. Sasuke hanya bisa bersyukur karena ayahnya sudah meninggal. Ia tahu, mungkin ayahnya tidak akan tenang karena perusahaan Uchiha sudah berada ditangan Gaara Sabaku, bukan anaknya yang sekarang telah menjadi pecundang.
"Shika, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Jangan tanya aku Sasuke. Yang pastinya, aku akan mencari pekerjaan lain."
"Benarkah? Kenapa tidak tetap menjadi sekretarisku?"
"Kau saja tidak bisa menggajiku Sasuke. Kau tidak bekerja sekarang. Kau carilah pekerjaan lain juga."
"Aku masih bisa menggajimu shika. Sebenarnya, aku memiliki satu toko pakaian yang lumayan laku."
"Benarkah?"
Sasuke mengangguk mantap. "Pokoknya kau harus tetap menjadi sekretarisku shika. Walaupun gajimu nanti tak akan sebesar sebelumnya. Aku akan memberimu kebebasan untuk bekerja paruh waktu ditempat lain." Shikamaru tampak berpikir lalu kemudian menjentikkan jarinya dan berteriak setuju.
Lalu bagaimana dengan Hinata yang malang?
Hinata sudah pulang setelah 3 hari berada dirumah sakit, ia sudah berada diapartment Gaara sejak 3 hari kemudian. Berdiam diri, sendirian, dengan pikiran kosong, menunggu Gaara yang tak kunjung datang.
Apartment Gaara tampak sepi, tak ada lagi canda gurau yang biasanya menghiasi apartment tersebut. Hinata hanya duduk bertekuk lutut di sofa sambil melihat keluar jendela, melihat gedung-gedung bertingkat yang berada ditokyo.
Segala pikiran berkecamuk kemudian, bingung, mengapa Gaara membiarkannya hidup kalau ia tak kunjung datang seperti ini. Bukankah lebih baik jika janinnya saja yang hidup? Gaara kecil yang hidup….
Hinata menengadah, seraya mengeluarkan air matanya.
"Hiro… apa kau baik-baik saja diatas sana? Ibu merindukanmu." Sebenarnya ingin sekali Hinata mencari Gaara, namun ia masih percaya suatu saat Gaara akan datang ke apartment mereka lagi. Memberikan pelukan dan kecupan seperti biasa ketika pulang kerja. Kemudian mengupaskan buah untuk Hinata kembali.
Beberapa menit kemudian, smartphone Hinata berdering, Hinata dengan segera meraih smartphone nya dan ternyata bukan Gaara yang menelponnya, Hinata hanya menghela nafas panjang dan melempar smartphone nya.
Tiba-tiba, suara pintu apartment dibuka terdengar, Hinata dengan sigapnya menyambut siapa yang datang, dan ternyata itu adalah Gaara.
"Gaara-kun, akhirnya pulang!" girang Hinata yang kemudian Hinata buru-buru melihat kesekitar apartment yang agak berantakan. Gaara menatap Hinata datar.
"Ga-Gaara-kun, si-silahkan duduk dulu. Aku akan menyiapkan air panas dan juga makan malam. Jangan khawatir, aku akan membereskan apartmentnya nanti." Gaara hanya mengangguk patuh, lalu kemudian duduk di sofa. Hinata senang, karena Gaara sudah pulang. Ia kemudian dengan sigap ke dapur seraya menyiapkan makan malam.
"Gaara-kun, makan malam sudah selesai." Gaara beranjak dengan malas ke meja makan. Ia duduk tenang dengan Hinata yang duduk berhadapan dengannya, menunggunya untuk makan. Gaara mengambil satu suap nasi, lalu kemudian setelah mengunyahnya sebentar, Gaara melepeh makanan tersebut sehingga membuat Hinata tersentak dan segera menghampiri Gaara.
"Ga-Gaara-kun.. ke-kenapa?" Gaara menolak bantuan dari Hinata, ia menatap Hinata dingin sehingga membuat Hinata terdiam.
"Kau ingin membunuhku? Bukankah bahan makanan ini sudah busuk? Kau kira aku hewan, kau beri makanan sampah?"
Hinata terdiam lalu menunduk. "Go-gomen-ne…." ujarnya lembut.
Bell apartment berbunyi, Gaara terlihat kembali riang dan segera menuju kepintu apartment membukakan pintu. Hinata menatap kearah pintu apartment menampilkan sesosok wanita berambut pinky yang begitu ia benci.
Sakura dan Gaara berpelukan dan berciuman mesra didepan Hinata, sehingga membuat air mata tak tertahan kembali keluar dari mata lavender Hinata, sendok sayur yang ia pegang terjatuh hingga menginterupsi kegiatan mesra-mesraan Sakura dan Gaara.
"Apa y-yang k-kau lakukan disini, gadis jalang?" ujar Hinata kemudian sambil menarik tangan Gaara agar berada disisinya. Sakura menyeringai sambil melipat kedua tangannya didada, menatap Hinata dengan tatapan remeh.
Gaara melepas genggaman tangan Hinata sehingga membuat Hinata terkejut. Saat itu juga Gaara melepaskan cincin perkawinannya dengan Hinata dan melemparnya kelantai yang dingin. Tak lupa Gaara juga mengambil sebuah amplop yang Sakura bawa dan memberinya kepada Hinata.
"G-Gaara-kun, a-apa maksudnya ini?" Hinata dengan segera membuka isi amplop tersebut dan ia pun langsung sesak ketika melihat surat perceraian yang telah ditanda tangani oleh Gaara.
"G-Gaara-kun?" Hinata menatap Gaara tidak percaya, kemudian kearah Sakura yang tampak senang.
"Aku tidak butuh wanita yang egois sepertimu. Kau juga lemah dan tidak berguna."
"Ke-kenapa, a-apa hanya karena i-itu? Kalau seperti ini jadinya, kenapa kau tidak melenyapkanku saja Gaara? Hiro tidak punya salah, kenapa kau korbankan Sabaku Hiro, anakmu sendiri?"
"Ternyata kau lebih menyusahkan ya nyonya Hinata, seharusnya aku melenyapkanmu saja." Ujar Sakura sombong sambil merangkul lengan Gaara. Hinata menatap benci Sakura.
"Aku tidak bertanya denganmu PELACUR!"
Plakk… tamparan kuat yang mengakibatkan Hinata tersungkur dilantai yang dingin. Hinata memegang pipinya yang panas. Isakan mulai terdengar memenuhi apartment. Gaara dan Sakura menatap kearah Hinata jijik, yang lalu kemudian meninggalkan Hinata begitu saja. Gaara dan Sakura kini berada dimeja makan. Sakura menatap jijik kearah semua masakan yang telah dibuat Hinata.
"Gaara-kun, pastinya kau sangat menderita menikah dengan wanita itu kan? Kau tampak kurus. Aku akan memasakkanmu makanan yang paling enak sedunia."
Dentingan peralatan masak berbunyi, digantikan dengan dentingan sendok, hingga cekikikan antara Gaara dan Sakura berhenti serta lampu dimatikan, Hinata masih terduduk didepan pintu apartment. Ia menatap kosong apa yang ada didepannya. Masih sangat terasa tamparan keras yang diberi Gaara. Hinata merasa dirinya seperti sampah, dipermainkan oleh lelaki yang ia sukai, dipermainkan oleh iblis yang telah membunuh anaknya. Hinata beranjak sambil memegang amplop yang berisi surat cerai.
Hinata berjalan terseok-seok menuju pintu kamar Gaara, mendengar suara Gaara dan Sakura yang sepertinya sedang melakukan 'kegiatan' malam mereka, membuat hatinya semakin sakit. Diliriknya panci yang ia yakini adalah sup yang tadi baru dimasak Sakura untuk makan malam, ia dekati panci tersebut lalu dicicipinya. Air mata mengalir dipipinya. Isakan demi isakan kemudian kembali terdengar kemudian tergantikan dengan tangisan kuat yang akhirnya terlepas dari bibirnya yang sedari tadi tertahan. Kaki Hinata bergetar, tak kuat menopang tubuhnya, ia pun kemudian terperosot kelantai yang dingin. Mau sekeras apapun tangisan Hinata, tak dihiraukan sedikitpun oleh Sakura dan Gaara yang sedari tadi masih asyik dengan kegiatan mereka.
22.00
24.00
03.00
05.00
Hinata menangis tanpa mempedulikan betapa bengkaknya matanya, dan tanpa menyadari bahwa air matanya telah habis mengering.
06.00
Satu jam ia terdiam, menatap kosong kearah kamar Gaara. Siapapun yang melihat Hinata sekarang, pasti akan berlari ketakutan, karena ia persis seperti sadako.
07.00
Sakura keluar dari kamar Gaara dengan hanya memakai tank top dan sempie. Ia terkejut ketika menyadari Hinata masih duduk termenung dimeja makan sambil menatap kejam kearahnya, Sakura menjerit lalu kembali masuk kekamar Gaara.
08.00
Gaara dan Sakura keluar kamar bersama-sama, dengan pakaian kantor yang sudah lengkap.
"Kau ingin sarapan apa Gaara-kun? Bagaimana kalau kita sarapan direstaurantmu saja?"
"Boleh, dengan senang hati sayang."
Gaara dan Sakura tak memperdulikan Hinata. Hinata menatap dingin kearah mereka yang berlalu begitu saja.
"TUNGGU!" jerit Hinata dingin, sehingga menginterupsi Gaara dan Sakura. Mereka menatap malas kearah Hinata. Hinata kemudian mengambil panci sup dan juga dokumen surat cerai. Ia mendekati Gaara dan Sakura, kemudian menyiram Sakura dengan sup disusul dengan Gaara yang juga disiram oleh Hinata dengan sup.
"Kalian tidak berperikemanusiaan, kalian pikir aku apa? Binatang? Cih… kebalikan tuh… bukankah kalian yang binatang, tidak tau aturan!"
"Hentikan Hinata, seharusnya kau menerima perpisahan kita, cepat tanda tangani surat tersebut. Kalau kau memang tidak tahan dengan semua ini."
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu Gaara. Seharusnya aku yang menceraikanmu! Kau telah menginjak-injak harga diriku sebagai istri! Dan kau jalang, telah menginjak-injak harga diriku sebagai ibu! Surat cerai ini? Huh—tidak kutandatangani serta kutandatangani juga tidak akan berpengaruh. Aku yakin kalian akan tetap melakukan hal-hal menyedihkan seperti tadi malam. Kenapa tidak kalian anggap saja aku sudah mati. Benar, aku rasa aku memang sudah mati, kalian saja sudah tidak menganggapku tadi malam kan?" Hinata menggebu-gebu kemudian dengan ganasnya melempar panci sup kearah asal, lalu tak lupa Hinata merobek surat cerai yang berada ditangannya. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan Gaara dan Sakura yang tampak kesal namun mereka tetap tidak mempedulikan Hinata sedikitpun.
"Dia sangat menyedihkan. Lalu, bagaimana dengan surat cerainya Sakura?"
"Tenang saja Gaara. Kita anggap saja kalau dia sudah meninggal karena melahirkan anaknya. Ahh… anggap ibu dan anak tak bisa diselamatkan. Bagaimana?"
"Kau memang wanita tercerdas." Gaara mencubit dagu Sakura dan kemudian tersenyum riang, diikuti Sakura yang tertawa bebas.
Hinata berjalan kearah asal. Sekarang tampangnya tampak menyedihkan, bahkan orang-orang yang melihatnya dari tadi menganggap dia adalah pasien rumah sakit jiwa. Namun, Hinata sudah tidak peduli lagi, sekarang ia sudah tidak punya harga diri, dia adalah sampah, yang pantas dipandang buruk oleh masyarakat sekarang. Seakan menunjukkan bahwa dirinya adalah hasil dari orang yang begitu mudahnya mempercayai bajingan dengan kata-kata manisnya.
Dilewatinya begitu saja rumah sakit dimana ibunya dirawat, tak ada alasan untuknya datang kesana. Ia merasa jijik dengan dirinya, apalagi kalau sampai ibunya tau.
Dilewatinya juga restaurant pasta Blanc, ia menatap kosong ke restaurant tersebut. Restaurant itu bukan lagi miliknya, ia telah memberikan restaurant itu kepada Gaara sebagai hadiah pernikahan. Ia benar-benar wanita bodoh. Ia sangat membenci dirinya sendiri.
Dilewatinya juga rumah sakit kandungan, tempat dimana ia kehilangan anak semata wayangnya. Ia merasa tidak berguna dan hidup sia-sia.
Hinata memilih untuk duduk di tangga darurat rumah sakit kandungan. Ia duduk termenung mengingat kembali ketika ia terguling bebas disana, ingin sekali ia mengulangi perbuatannya. Ya… itu seperti ide yang bagus.
Hinata beranjak, menaiki anak tangga dengan pelan. Menghitung berapa jumlah anak tangga itu sambil menghitung berapa sakit yang ia rasakan, dan berapa kali ia telah dibodohi oleh Gaara dan Sakura. Terkadang ia terkekeh, nangis, marah, terdiam tanpa kata. Sampailah kini ia diujung anak tangga lantai 12. Lantai yang paling tinggi dirumah sakit kandungan ini.
Hinata tersenyum, ia membuka pintu darurat yang langsung menghubungkannya dengan atap rumah sakit. Hinata menghirup udara segar, sambil memandang jauh. Kemudian ia berbalik dan mempersiapkan mentalnya.
"Ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa mengurus ibu lagi." Gumamnya pelan, yang kemudian berdiri didepan tangga darurat.
"Hiro, ibu akan menyusulmu nak. Tunggu ibu." Hinata menutup kedua kelopak matanya, menyembunyikan lavendernya yang indah untuk terakhir kalinya dunia akan melihatnya.
Iapun mengurangi berat badannya dan badannya langsung terhuyung menuju tangga darurat. Tak ada rasa sakit, yang ada hanya…
"Jangan bunuh diri dirumah sakit gebetanku nona." Bisikan itu, membuat Hinata membuka kembali matanya, ia membelalak kaget melihat seseorang dengan tatapan lemas dan juga rambut nanas yang diikat kebelakang yang sedang memegangi pinggulnya, dan menahannya agar tak terjatuh kedasar tangga.
"Si-siapa kau? Jangan pedulikan aku." Hinata berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun lelaki itu tak mau, ia malah mengangkat Hinata dan menjauhkannya dari tangga menuju atap. Ia kunci pintu darurat dan berdiri didepan pintu darurat seraya tak mengizinkan Hinata mendekati tangga darurat.
"Aku memang tak peduli denganmu nona, tapi aku mempedulikan reputasi rumah sakit ini dan juga tentunya gebetanku yang bekerja disini." Hinata menatap tidak setuju kearah Shikamaru.
"Untuk apa kau melindungi orang yang belum pasti adalah milikmu?" lelaki itu menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Hinata.
"Mendokusai. Tampaknya kau dikhianati pacarmu ya? Kasihan sekali. Nona, aku yakin umurmu masih panjang, untuk apa tutup umur cepat-cepat? Kali aja, ntar nona akan bertemu lelaki yang lebih setia dari sebelumnya."
Hinata melengos. "Kau tidak tau apa-apa. Memang enak bicara saja."
"Aku tidak asal bicara. Nona harus berpikir positif. Aku yakin, nona takut mati, nona masih ingin hidup. Buktinya tadi nona menutup mata nona ketika ingin bunuh diri." Hinata terdiam, ya… memang benar. Sebenarnya dihatinya masih ada keinginan sedikit untuk hidup, Hinata kemudian memandang langit, wajah ibunya terbayang disana. Apa jadinya jika ia tidak ada disamping ibunya. Ibunya pasti akan sangat sedih, dan ia jamin, ibunya pasti akan dikirimkan ke panti jompo oleh pihak rumah sakit. Ia tidak ingin ibunya mati membusuk tanpa kabar anaknya dip anti jompo. Hinata ingin hidup, tapi ia ingin mati juga, ia sungguh bingung. Apa ia harus hidup seolah-olah mati.
Ahh… hidup, tapi tidak ingin terlibat oleh orang bajingan memang sulit, dimana-mana pasti ada orang bajingan. Kalau begitu, hidup dengan menutup hati untuk tidak akan percaya kepada orang-orang kecuali ibunya juga bagus. Hinata kembali menghirup udara segar dan melepaskannya seolah melepas semua masalahnya walaupun hatinya masih terasa sakit.
"Arigatou nee. Aku tidak akan bunuh diri disini." Ujar Hinata kemudian sambil membuka pintu darurat. Lelaki tersebut tiba-tiba menarik baju Hinata, sehingga membuat Hinata tersentak.
"Shikamaru…. Namaku nara Shikamaru." Hinata tersenyum kemudian melepaskan tangan pemuda itu dari bajunya.
"Arigatou Shikamaru-san." Setelahnya, Shikamaru terdiam sampai Hinata benar-benar tidak terlihat dari lantai 12. Shikamaru memegang puncak kepalanya dan memerasnya sebal.
"Arghhh… sungguh mendokusai!" jerit Shikamaru yang kemudian Shikamaru buru-buru berlari mengejar Hinata.
Beruntunglah Shikamaru karena Hinata masih berjalan lambat didepan rumah sakit kandungan. Shikamaru sungguh kasihan melihat nona menyedihkan itu, tatapan orang tampak mencemooh, namun Hinata tampak tak mempedulikannya. Lama Shikamaru terus mengikuti Hinata dari belakang tanpa disadari oleh Hinata. Hinata sekarang sedang menuju rumah sakit dimana ibunya dirawat.
Bukannya masuk, Hinata hanya terdiam didepan pintu kamar ibunya. Ia tampak sangat sedih melihat ibunya yang terlihat sedih menatap kearah jendela. Hinata kemudian memutuskan untuk pergi saja, entah kemana ia harus pergi dan tinggal, yang penting ia harus pergi menjauh terlebih dahulu sebelum ibunya menyadarinya, langkahnya terinterupsi ketika menyadari lelaki yang sama berada didepannya lagi.
"Aku belum tau namamu."
Hinata terdiam, lalu kembali berjalan begitu saja melewati Shikamaru. Shikamaru menahannya dengan memegang lengan Hinata.
"Kau tampak menyedihkan."
"Sudah kubilang, jangan pedulikan aku." Balas Hinata singkat dan padat, lalu kemudian menepis tangan Shikamaru. Shikamaru tak pantang menyerah, iapun melepaskan jaket yang ia pakai lalu memakaikannya ke Hinata sehingga membuat Hinata terdiam.
"Kau pengangguran? Butuh biaya rumah sakit? Pacarmu mengkhianatimu? Masalahmu pasti sangat berat. Kalau begitu, kau sangat beruntung, aku membuka lowongan kerja. Kau bisa menjadi pembantuku. Kau tau, rumahku sangat berantakan." Shikamaru memberikan kartu namanya kepada Hinata, namun Hinata tak menanggapinya, sehingga Shikamaru menyelipkan kartu namanya ke jaket yang ia beri ke Hinata, lalu Shikamaru pun segera lari meninggalkan Hinata yang masih tampak kebingungan.
—SKIP TIME—
1 TAHUN KEMUDIAN
Hinata memulai kehidupan barunya—sebagai seseorang yang biasa-biasa saja, dan berada di kasta yang lebih rendah dari sebelumnya. Ia hidup baik (menurut pendapatnya). Ia bekerja 20 jam setiap hari. Dan hari minggu ia manfaatkan untuk istirahat serta mengunjungi ibunya. Karena tak tahan kantuk, Hinata kadang juga ketiduran diemperan minimarket teman lamanya yang bernama Tenten. Tenten sampai kelabakan ketika melihat Hinata tertidur diminimarketnya. Sungguh memalukan, tapi kasihan sekali. Hinata terlalu memaksakan diri. Tapi ini semua demi terapi ibunya, benar-benar anak yang berbakti.
"Tenten, apa kau ada lowongan lagi?" Tenten menatap Hinata tidak percaya
"Kau gila? Mau kapan lagi kau istirahat?"
"Aku baru dipecat kemarin dari restaurant. Kau tau? Hanya karena aku memecahkan piring satu buah, dia langsung memecatku. Cih… menyebalkan.
"Jangan banyak alasan, aku tau kau ketiduran saat bekerja." Hinata nyengir kuda, karena berhasil dibuka kedoknya oleh Tenten.
"Ahh iya, kemarin aku mendapatkan info kalau di hotel Nijou akan diadakan pertunangan, mereka kekurangan pegawai untuk hari itu. Kurasa kau bisa melakukannya."
"Benarkah? Yess! Thanks Tenten." Hinata pun langsung meninggalkan Tenten untuk pergi ke hotel Nijou.
Hinata langsung saja bertemu manajer acara untuk melamar pekerjaan kosong itu. Dan syukurlah, sang manajer memberikannya. Hinata sangat senang. Ketika Hinata keluar dari ruangan manajer, Hinata melihat seseorang berambut raven yang tampak menyeramkan dengan baju anehnya. Mata onyx pemuda itu melirik Hinata, dan Hinata pun langsung menunduk ngeri. Ia mempercepat langkahnya, namun kemudian langkahnya terinterupsi ketika pundaknya dipegang.
"Kyaaaa!" Hinata berteriak dan langsung berlari, lelaki berambut raven itu langsung mengejarnya. Namun sayangnya lelaki itu tak bisa mengejar Hinata karena lari Hinata sangatlah kencang seperti memiliki kaki seribu. Lelaki berambut raven itu ngos-ngosan tidak karuan.
"Sial! Aku butuh sama pekerjaan ini… wanita itu! Aku harus mendapatkannya…." Lelaki berambut raven itu mengambil smartphone nya dan menelpon seseorang yang ia percayai.
"Hoy… Shikamaru!"
"Ck… ada apa Sasuke? Ingin aku melakukan hal yang membosankan lagi?"
"Tidak, kali ini menarik! Sangat menarik! Aku ingin kau mencari wanita berambut indigo dan memiliki mata lavender bernama Hinata."
Shikamaru yang berada diseberang telepon Sasuke terdiam, ia terkejut, dan langsung terduduk dari kursi malasnya. Shikamaru menoleh kearah pintu rumahnya, disana terdapat Hinata yang ternyata adalah pembantunya—masuk untuk memulai kerjaannya. "Selamat siang tuan." Ucapnya dan hanya ditanggapi senyum oleh Shikamaru. Shikamaru langsung beranjak dan menuju kamarnya, ia tempelkan kembali smartphone nya ke telinganya.
"Apa yang terjadi dengan wanita itu, Sasuke?"
"Kau tau, pertunangan antara Gaara dan Sakura. Aku harus menghancurkannya. Aku tidak rela mereka bahagia begitu saja. Kebetulan aku mempunyai akses masuk menjadi seorang pelayan, tapi pekerjaan itu baru saja diambil wanita yang bernama Hinata."
"Hahhh…. Mendokusai. Kau datanglah kerumahku Sasuke. Sekarang." Ucap Shikamaru kemudian menutup sambungan teleponnya. Sedang Sasuke langsung menurut dan menuju rumah Shikamaru.
⃝
Bell rumah Shikamaru berbunyi, langsung saja, sang pembantu rumah tangga—yakni Hinata membukakan pintunya.
"Selamat da—" sambutan Hinata terputus ketika melihat siapa lelaki yang telah datang dihadapannya. Ia sangat mengenali rambut raven dan mata onyx yang menyeramkan tersebut. Hinata langsung menutup pintunya ketakutan. Shikamaru yang melihat reaksi Hinata hanya terkekeh.
"Apakah dia semenyeramkan itu?"
"Ne?" Hinata menatap bingung Shikamaru, lalu kemudian terdengar ketukan-ketukan dari luar.
"Shika! Kau harus menjelaskannya kepadaku." Jerit Sasuke dari luar.
"A-apakah, p-psikopat itu temanmu?" tanya Hinata takut-takut, dan berhasil membuat Shikamaru tertawa terbahak-bahak.
⃝
Disinilah Hinata sekarang, di hotel Nijou sebagai pelayan bantuan sekaligus mata-mata dari lelaki menyeramkan yang Hinata ketahui namanya adalah Uchiha Sasuke. Hinata sangat tidak nyaman dengan kamera pengintai yang Sasuke pasangkan di apron depan Hinata. Tak lupa, Sasuke juga memasangkan talkie mini di dekat telinga Hinata yang tentunya tak aka nada orang yang tau.
"Pastikan kalau kau terus menyorot pasangan tunangannya ya, Hinata." Hinata menelan saliva yang tercekat ditenggorokannya, lalu kemudian bertindak seperti layaknya pelayan biasanya. Entah mengapa Hinata merasakan perasaan yang tidak enak. Tapi Hinata mencoba menepis semua perasaan tersebut. Hinata tersenyum setiap melihat dekorasi hotel yang begitu menabjubkan, ia jadi penasaran, pertunangan siapa ini.
"Para hadirin sekalian tamu undangan yang berbahagia, terima kasih telah meluangkan waktunya untuk menghadiri acara pertunangan yang sangat menabjubkan ini. Tentunya pertunangan ini akan sangat bagus untuk kedua insan dan juga tentunya antar kedua perusahaan besar ini bukan?"
Sang MC berhasil mengundang tawa para tamu undangan. Sepertinya acaranya telah dimulai. Hinata kini sibuk menuangkan air putih kepada para tamu.
"Heh.. Hinata, sekarang ambil meja depan saja, aku ingin melihatnya dengan jelas. Ok?" perintah dari Sasuke melalui talkie. Hinata menghela nafas dan mulai mendekati meja depan.
"Yak… pertama-tama marilah kita beri selamat kepada Hyuuga corp. dan Uchiha corp. atas pertunangannya."
DEG…. Waktu terasa berhenti disekeliling Hinata, mata Hinata membelalak. Tangannya mulai bergetar dan emosinya mulai naik. Hinata pun segera mundur beberapa langkah menjauhi panggung.
Gaara dan Sakura naik keatas panggung, disertai dengan tepukan para tamu undangan. Keduanya tampak bahagia dan serasi.
Hinata menatap mereka dari kejauhan, dengan kegiatannya yang tetap yakni menuangkan minum ke gelas tamu. Sedang talkie Sasuke, tidak ia pedulikan lagi.
Hinata menatap mereka dengan penuh kebencian. MC mulai menanyakan bagaimana mereka bertemu, dan apa yang membuat mereka tertarik satu sama lain. Menurut Hinata, jawaban dari Gaara dan Sakura adalah kebohongan terbesar sepanjang masa. Hinata sudah muak dengan kikikan kebahagiaan mereka.
Kini, saatnya keduanya memakaikan cincin masing-masing. Melihat adegan itu, membuat Hinata terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah saling memakaikan cincin, mereka berciuman, membuat hati Hinata tambah sakit.
"Kyaa…" jerit salah satu tamu undangan yang sedang dilayani Hinata, Hinata terkejut, ternyata ia kepenuhan mengisi gelas tamu tersebut sehingga airnya menumpahi gaun cantik milik tamu itu. Karena saking kerasnya jeritan sang tamu, mengundang perhatian para tamu lainnya untuk melihat kearah sumber suara, dan tentu tak terlewatkan Sakura dan Gaara juga.
"Ma…maaf… ny-nyonya a-aku t-ti—" omongan Hinata terputus oleh tamparan keras dari sang tamu. Hinata tersungkur. Sungguh memalukan.
"Heh! Pelayan! Kau tau tidak harga gaunku berapa? Cih, pasti tidak tau… baiklah akan aku beri tau. Gajimu saja mungkin tidak akan cukup untuk membayarnya! Dasar pengemis!" ucap nyonya tersebut kasar, lalu kemudian menendang Hinata sebelum berlalu ke ruang ganti. Para pelayan yang lain langsung membantu Hinata untuk bangun, sedang kan pak manajer penanggungjawab acara langsung berlari menyusul sang nyonya sombong.
Hinata masih memegangi pipinya yang panas. Ia kini telah beranjak, diliriknya Gaara dan Sakura yang tampak menahan tawa mereka. Bibir Hinata bergetar, Hinata yakin dia akan diberi penghargaan sebagai badut terlucu di pesta pertunangan mantan suaminya. Sakura kemudian tampak mendekati sang MC, ia membisikkan sesuatu. Sang MC mengangguk-angguk mengerti.
"Para tamu undangan sekalian. Mohon perhatiannya, sebaiknya jangan mencemooh wanita pelayan tersebut karena wanita itu adalah mak comblang Sakura dan Gaara. Tanpanya, Sakura dan Gaara tak akan bisa bertunangan seperti sekarang. Baiklah, kita beri tepuk tangan yang meriah untuknya." Ini bukan pertama kalinya Hinata dibodohi, air matanya berlinang, menatap Gaara dan Sakura dengan kebencian tentunya tak akan mengubah keadaan, karena itu ia pun berlari untuk keluar dari ballroom.
Hinata kini berada ditangga darurat hotel. Entah mengapa, kini tangga darurat adalah tempat favoritnya untuk menangis. Hinata menangis sekeras-kerasnya. Tanpa Hinata sadari, sepasang mata onyx telah mengawasinya dari tadi. Ya, Sasuke cepat-cepat menyusul Hinata ketika talkie nya tidak dipedulikan lagi oleh Hinata.
Sasuke merasakan pilu dan beban yang Hinata rasakan. Hingga tanpa ia sadari, air mata juga mengalir dari matanya. Dengan cepat Sasuke menghapus air matanya, ia harus kuat. Sebagai orang yang pernah dikhianati namun tak seberapa ia harus lebih kuat. Wanita inilah yang lebih menderita, ia kini mengerti. Mengerti dari semua tangisan wanita ini. Seakan tangisan itu bercerita kepada Sasuke.
Sasuke menunggu hingga Hinata berhenti menangis. Setelah berhenti menangis, Hinata pun terdiam seperti biasanya. Menatap arah depan dengan tatapan kosong. Lalu kemudian setelah puas bersedih, ia melihat arlojinya. Lalu mulai berjalan menuruni anak tangga satu demi satu. Sasuke yang berada dibelakangnya juga kemudian mengikuti Hinata pelan-pelan tanpa Hinata sadari.
Jam 07.00 malam adalah waktu Hinata untuk bekerja disebuah toko buku. Ia bekerja sebagai penjaga dibagian novel. Hinata sangat menyukai novel dari kecil. Membaca buku, merasakan banyak pelajaran, dan ia rasa bisa menjadi siapa saja ketika membaca novel. Sasuke memandang lama Hinata dari luar. Lalu kemudian memutuskan untuk masuk ke toko buku tersebut. Dihampirinya Hinata, namun Hinata masih menunduk.
"Selamat datang, apa ada yang bisa saya bantu?" ujarnya sambil tetap menunduk tanpa memandang Sasuke sedikitpun.
"Kalau aku jadi bossmu, kau akan segera kupecat dihari pertama. Oh tidak, aku akan segera menolakmu bekerja karena kau sangat menyedihkan." Suara Sasuke berhasil membuat Hinata mendongak, ia menatap Sasuke kosong dan muka datar.
"Anda ingin mencari buku apa pak? Buku yang popular sekarang lumayan sedikit, aku bisa merekomendasikan bapak novel yang bagus."
"Oh.. ya? Kalau begitu aku ingin novel yang berjudul Balas Dendam Seorang Istri." Sasuke mengatakannya dengan penuh penekanan. Hinata masih menatap Sasuke datar lalu kemudian berusaha mencari buku-buku novel tersebut. Sasuke benar-benar geram melihat tingkah Hinata. Ia pun kemudian menggenggam pergelangan Hinata dan menyeret Hinata.
"Pak! Aku pinjam Hinata nya sebentar!" jerit Sasuke sebelum benar-benar keluar dari toko buku.
"Lepaskan aku! Dasar psikopat!" teriak Hinata sambil berontak. Sasuke dengan geramnya semakin menggenggam tangan Hinata. Tak ada pilihan lain, Hinata pun menggigit tangan Sasuke, sehingga mau tak mau Sasuke melepaskannya.
"Apa maumu!" teriak Hinata "Aku tidak ada urusan lagi denganmu, dasar jelek! Psikopat!" setelah mengatakannya Hinata berbalik dan menuju ke toko bukunya kembali.
"Aku akan membantumu balas dendam Hinata, balas dendam terhadap Gaara dan Sakura."
Langkah Hinata terhenti seketika, ia pun menoleh kearah Sasuke yang tampak penuh percaya diri. "Bagaimana?" tambah Sasuke dengan muka penuh keyakinan bahwa Hinata akan menyetujuinya sedang Hinata masih menatap Sasuke dalam diam.
©MIRACLE IN REVENGE-WONDERGRAVE-TBC©
#NB : heluuuwww….. akhirnya updet juga ya… sebenarnya mau diupdet hari jum'at kemarin. Tapi karena sang author lagi kena 'pusing pala berbie' jadinya urung deh. Huaaa maaf banget ya para reader, updet nya telat tapi yang penting sekarang dah updet yak! Wkwkwkwkwk
Wonder mau kasih ucapan terima kasih sekali bagi para readers yang mendukung selesainya fict ini, sungguh! Wonder ga mau ngecewain kalian semua, karena itu wonder akan usaha membuat cerita yang seru…. mohon bantuannya #ojigi
Balasan review :
Kaihunyeollie : wkwkwk… bisa diambil tuh sarannya, okelah! :D
Ucihaii : ini…. Errr… ini adalah fict yang dibuat author bajingan #plak…. Huee….. jangan marah dong… nanti semua kembali pada tempatnya kok!
Hanao Himeka : hmm… entahlah, kasian ya hinata TT_TT author juga ampe nangis membuat fictnya hanao-san
mianaav_av : iya, emang agak rancu, yang sabar ya! Entar anaknya mengambil peran juga kok :D
Ichira Ryuu-Gaki : Oke sip reader sayang! Kita satukan hinasasu yaaaaa! :D aku juga ingin melihat hinata bahagia disamping sasuke
Ashura Darkname : okeee sip! Tunggulah hinata !
Rei Atsuko : iya, kasian banget yahh hinatanya…. TT_TT sakura emang kejam banget yaa…. Tentang sakura yang kayaknya takut, akan terjawab nanti ya author hanya bisa bilang kalau kejaidan 18 tahun lalu memang ada hubungannya. Tentang anak hinata mati ato enggak udah terjawab dichapter ini, dan betapa menderitanya hinata salam kenal juga rei-san, semoga ceritanya ga membosankan dan mengecewakan ya rei-san kalau ada masukan silahkan PM aja…. Dan silahkan review chapter ini lagii XXD
.777 : author juga ga kuat buat menyakiti hinata TT_TT
hinatahime : dah updet nihh!
Semanggi : iyaa.. sedih! Nahh ini nih, balas dendamnya takut ga yang kaya kalian harapkan… huweee TT_TT
Miss. M : sakura bashed itu apa? :O
chibi beary : semoga saja! Author juga benci saku and gaara hhee. Hiashi pastinya marah, tapi ga disebutkan secara implicit banget disini wkwkwkwk….. :D mama hinata stay di RS kok, menjalani perawatan.
Joy : dah updet!
Likechoco : wahh sykurlah hurtnya dpt iya, hinata wajib balas dendam, semoga dia mau kerjasama sama sasuke yaa…. Okelah, terima kasih sudah suka, semoga ga mengecewakan kedepannya ya keep read and review and author will keep update
uchihyuu nagisa un Login : makasih sarannya reader sayang :* okelah, akan aku spasi jauh jauh dehhh…. :D hmm… iya, aku terkesan buru-buru, ntar diperbaiki lagi deh hehe
Guest : udah updet, makasih ya
Huo : KYAAAAAAA….. OKELAH!
Maharani : asli! Tega banget, huft :/
kaori kamiya : beratkah? Hmm… sepertinya iya, harus ekstra hati hati menyelesaikannya… gaara memang jadi yang pertama sama hinata, tapi sasuke jadi yang terakhir baginya hehehehe
Okehhh! Makasih banget buat para reviewers, follower, likers, or silenters… -_-" semoga ga mengecewakan kedepannya yah ceritanya :D terima kasih dah mampir, silahkan mampir lagi yaaaa! :D
