Disclaimer : Masashi kishimoto (Om Maskish, setelah lama wondergrave hibernasi, kali ini wonder mau pinjem Chara om maskish lagi yaa)

Genre : Drama/romance, Hurt/Comfort, Marriage Life

Pairing : SasuHina | slight GaaHina | slight SasuSaku | slight GaaSaku

Rated : T semi M (always wkwkwk)

Warning : AU, OOC, gaje, typo, dll

Wondergrave Proudly Present :

Miracle in Revenge

"Aku tau ini sangat berat bagimu. Tapi tawaran itu, tak akan pernah aku lupakan Hinata, kapanpun kau siap, aku akan melakukannya." Hinata terdiam, berbalik menatap onyx kelam Sasuke, terdapat kesungguhan disana. Hinata menghapus air matanya dan kemudian beranjak.

"Aku siap sekarang." Tegas Hinata, sehingga membuat seringaian terparkir diwajah rupawan Sasuke, Sasuke pun beranjak dari duduknya.

"Tapi kita tetap harus membuat kontrak." Ucap Sasuke, sehingga membuat Hinata bingung.

"Kontrak?" seringaian Sasuke pun mulai melebar.

©WONDERGRAVE-MIRACLE IN REVENGE©

"Ya, kontrak. Tentu saja kita butuh peraturan Hinata. Hidup itu tidak bisa seenaknya." Hinata mengangguk-angguk membenarkan apa yang dikatakan Sasuke, lalu ia pun menatap Sasuke penuh kesungguhan. Mengerti akan tatapan Hinata, Sasuke pun segera mengambil laptop mini miliknya.

"A-apakah akan su-sulit?"

"Tidak sesulit yang kau pikirkan."

"Baiklah, cepat katakan."

Sasuke memprint sebuah dokumen dan menyodorkannya kepada Hinata, Hinata pun menerimanya dan langsung membacanya.

"Kau harus menghormatiku selaku bossmu! Dilarang mengangkat kepalamu dengan sombong didepanku, karena akulah tuan mu. Kau harus menuruti semua keinginanku tanpa terkecuali. Lalu, untuk semua pekerjaanmu yang tidak penting itu, sebaiknya kau berhenti. Karena kau sudah dianggap tiada oleh mereka. Mulai sekarang, 24 jam kau tinggal bersamaku dan bekerja dirumahku."

Hinata melongo menatap Sasuke tidak percaya, "T-tunggu! La-lalu, aku akan mendapat apa? Me-mengapa kau seenaknya menentukan semua ini! Tidak bisa! Aku merasa dirugikan!"

"Ck, sudahlah kau nurut saja. Kau tau, balas dendam ini akan berjalan lancar ditanganku. Kita akan menangkap 2 ikan dalam satu tali pancing. Percayalah padaku." Hinata menatap sinis Sasuke, sedang Sasuke masih saja menyodorkan dokumen nya dan juga memberi sebuah stempel perjanjian kepada Hinata.

"Tenang, aku tidak akan mengusik urusan pribadimu selain tentang Gaara. Oh iya, aku juga akan memberimu hari libur juga." Hinata masih menatap Sasuke, Sasuke menghela nafas panjang.

"Apa lagi? Kau butuh kompensasi?" Hinata menggelengkan lemah kepalanya, lalu menatap ragu kearah dokumen dan mulai menempel stempel disana.

"Baiklah, sekarang berdiri!" Sasuke langsung saja mengambil cambuk dan menghentakkannya disamping Hinata sehingga membuat Hinata tersentak lalu berdiri tegap. Sasuke mengelilingi Hinata dan menatapnya dari atas hingga kebawah. Hinata agak bergidik namun apa boleh buat.

"Hal pertama yang harus kita lakukan adalah, Penampilan. Setiap laki-laki pasti melihat wanita dari penampilan untuk pertama kalinya, tanpa terkecuali, terutama lelaki sejenis Gaara. Ck..ck…ck…." Sasuke meremas lengan Hinata sehingga membuat Hinata merinding dan langsung saja menyingkir.

"A-apa yang kau lakukan!" Sasuke menatap Hinata datar, lalu menggelengkan kepalanya. "Siapa yang memerintahkanmu untuk bergerak? Cepat berdiri!"

Hinata kembali berdiri tegap layaknya latihan tentara. "Rentangkan tanganmu" Sasuke hanya bisa memijit kepalanya melihat lemak tertimbun yang ada dibadan Hinata, walaupun tidak banyak namun tetap saja menyusahkan.

"Kau ini makan apa saja?"

"A-apakah badanku tidak ideal? Aku rasa badanku bagus-bagus saja, dan Gaara menyukainya."

"Pembohong besar. Dia hanya ingin uangmu bodoh! Kau tidak tau sebagus apa badan Sakura." Ucap Sasuke sambil tersenyum mesum, Hinata melirik Sasuke dari sudut matanya.

"Sakura itu….. bagai malaikat sempurna….."

"Cih….." Sasuke menatap Hinata tajam begitu mendengar decihan kecil yang berhasil lolos dari mulut Hinata. "Se-seleramu payah!" Sasuke mengayun-ayunkan cambuknya sehingga membuat Hinata terdiam dan menunduk.

"Sepertinya kita butuh perubahan yang sangat banyak. Sekadar membuat Gaara linglung. Hmm…. Mungkin butuh sedot lemak dan latihan berat untukmu. Kemudian rambutmu, kita akan menambahkan serum agar rambut kumalmu itu panjang." Sasuke menarik kuncir dango Hinata sehingga rambut Hinata pun terurai, Sasuke menutup hidungnya. "Kapan terakhir kali kau keramas bodoh!" Hinata hanya bisa memasang raut pasrah dengan mulutnya yang sudah di pout kan nya dari tadi. "Ck…ck…ck….menyedihkan sekali. Hmm…. Tak butuh waktu lama. Ayo kita berangkat."

Sasuke melenggang pergi diikuti Hinata dibelakangnya. Kini mereka sedang menuju ketempat yang Sasuke tuju. Sasuke tak memberi klu kepada Hinata. Hinata terdiam melihat jalanan luar, konoha terlihat seperti biasanya, dengan keramaian orang-orang yang berlalu lalang pulang kerja.

Mobil Sasuke memasuki sebuah area parkir yang cukup ramai, dan kemudian Sasuke langsung mengambil parkir yang tak jauh dari pintu masuk.

"Keluar lah." Hinata menurut dan kembali mengikuti Sasuke seperti anak ayam yang mengikuti induknya.

Beberapa suster yang melewati mereka tampak tersenyum kearah Sasuke. Hinata masih bingung, mengapa Sasuke mengajak ia ketempat seperti ini, apakah mereka akan ber-make-up ditempat seperti ini?

Tibalah mereka didepan sebuah pintu putih yang Hinata tau ruangan itu milik seseorang yang bernama 'Hyuuga Neji', tertulis jelas dipapan kayu yang terpatri didepan pintu ruangan tersebut. Sasuke mengetuk pintu beberapa kali, sehingga akhirnya munculah seseorang bermata amethyst dan juga memiliki surai panjang bewarna cokelat. Hinata mengernyitkan dahinya, lelaki itu tampak tak asing baginya.

"Hai, mantan kakak ipar." Neji menatap datar Sasuke yang tersenyum dan menyapanya. "Apa maumu Sasuke?"

"Sedot lemak. Ayolah, inikah caramu menyambut adik iparmu?" neji menghela nafas panjang, lalu mengalihkan pandangannya dari Sasuke ke gadis yang berada disamping Sasuke, tidak lain adalah Hinata. Neji tertegun melihat Hinata, lama ia memandang Hinata sampai akhirnya Sasuke kembali menegur neji.

"Hey…. Aku ingin sedot lemak." Neji mengangguk pelan, lalu langsung mempersilahkan Sasuke masuk ke ruangannya diikuti Hinata.

"Jadikan badan wanita ini terideal sekota konoha."

Hyuuga neji sudah sangat ahli dalam menyedot lemak, ia adalah dokter kecantikan dan juga pakar diet disebuah rumah sakit kecantikan beken di konoha. Saking lamanya proses ini, Sasuke sampai ketiduran. Ya…tentu memakan waktu lama karena bukan secara instan saja Hinata melakukan program diet. Keringat demi keringat bercucuran membentuk tubuhnya yang baru dan yang lebih indah dari sebelumnya. Sembari menunggu diet Hinata, Sasuke menyiapkan hal-hal lainnya untuk rencana balas dendam mereka. Ia akan membuat identitas baru untuk Hinata.

Hinata sedang menekuni treadmill milik neji ketika neji melihatnya dari meja kerjanya yang tak jauh dari ruangan dimana Hinata berada. Dinding ruangan neji terbuat dari kaca, sehingga ia bisa mengontrol pasiennya dengan mudah dengan begitu mereka tidak akan malas malasan. Memang tidak semua pasien yang terlihat, namun jika ingin diet nya benar benar 5 hari calorie off atau 3 hari calorie off maka siap siaplah dihajar oleh neji habis habisan. Lama neji menatap Hinata kemudian ia menarik gagang laci meja, ia mengambil sebuah pas foto. Terlihat neji yang tampak masih berumur 8 tahun dan disampingnya seorang wanita berambut indigo dengan pipi chubby sedang memeluk lengannya.

"Hinata….." gumam neji. Entah mengapa ia merasakan aura Hinata dari gadis bernama Hinata yang dibawa Sasuke. Neji mengerutkan dahinya. "Kalau dia Hinata adikku, jadi yang dirumah sakit siapa?" neji menggeleng-gelengkan kepalanya. Neji mungkin terlalu serakah karena dirinya sangat ingin kalau Hinata adalah adiknnya yang sudah hilang selama 18 tahun lamanya, tidak… ia tidak serakah sama sekali. Karena itu haknya. Neji meletakkan foto tersebut ke tempatnya kembali, yakni di dalam laci.

Setelahnya, ia berjalan mendekati ruangan dimana Hinata sedang melakukan exercise. Tak lupa neji membawa air minum dan juga handuk. Ia tatap pundak Hinata yang terekspos, dan saat itulah neji kembali mematung.

Menyadari kehadiran seseorang, Hinata langsung menghentikan kegiatannya. "Ah, Hyuuga-san." Neji tersadar dan langsung tersenyum kepada Hinata. Ia sodorkan minum yang ia bawa serta handuk.

"Kau sudah bekerja keras, Hinata-san." Hinata menerima handuk yang diberi neji dan langsung memakainya. "Ini semua juga berkat hyuuga-san."

"Tanda lahirmu bagus." Puji neji sambil menunjuk tanda lahir yang berada dipundak Hinata. Hinata mengikuti arah pandangan neji.

"Oh… arigatou. A-aku tidak tau kalau aku punya tanda lahir, hehehe."

"Benarkah?" mendengar pertanyaan neji, Hinata hanya bisa menggeleng. Ia sama sekali tidak tau namanya, apalagi marganya.

"Go-gomen, hyuuga-san. Aku pernah mengalami kecelakaan, dan aku tidak ingat apapun. Ehehehe" dan neji pun yakin, kalau gadis yang ada dihadapannya ini adalah Hinata adiknya.

"Oy Hinata!" Sasuke tiba-tiba muncul, baik neji maupun Hinata melihat kearahnya. Sasuke membawa sebuah paperbag, dan ternyata ia tidak datang sendiri, melainkan disampingnya telah berdiri sekelompok penata rias yang entah muncul dari mana.

"U…Uchiha-san…." Hinata bergumam. "Ayo pergi sekarang." Sasuke memerintahkannya, namun Hinata tak kunjung menyambut Sasuke, sehingga Sasuke turun tangan untuk menyeretnya. Mereka meninggalkan neji yang dari tadi masih menatap Hinata.

"Arigatou mantan kakak ipar! Aku akan mengundangmu makan malam dilain waktu." Ucap Sasuke sambil menutup pintu ruangan neji.

Heels hitam menghiasi setiap langkah yang ia buat, kaki jenjangnya tampak menggoda. Setelan dress selutut nya yang bewarna ungu juga memperjelas kecantikannya, belum lagi dress tersebut menampakkan sebagian lekuk tubuhnya yang benar-benar seperti dewi. Leher jenjangnya terekspos, kulitnya seputih susu dengan tidak adanya setitik nodapun membuat lelaki ingin menyentuhnya. Sejak pintu restaurant itu terbuka, suasana menjadi riuh akibat gadis cantik berambut indigo ini masuk. Semua mata menuju kearahnya. Bulu matanya begitu lentik dan mata lavender nya begitu besar layaknya boneka.

"Anda ingin memesan apa nona?" tanya seorang pelayan lelaki dengan wajahnya yang sudah memerah dan perasaan yang gugup.

Sang gadis memberi senyuman mautnya, sehingga kini membuat bukan hanya sang pelayan namun semua lelaki yang berada di restaurant itu ingin pingsan ditempat. "Aku ingin menu paling special hari ini." Sang pelayan mengangguk cepat lalu langsung berlari ke dapur untuk menyiapkan pesanan tersebut sebelum sang gadis kelaparan dan mati (?).

Sembari sang gadis menunggu, ia menebarkan pesonanya, sambil menunggu sasarannya hari ini. yah…. Tak sembarangan ia datang hari ini, ia memiliki misi.

Pandangannya berhenti disebuah pintu ruangan yang bertuliskan 'CEO'. Terlihat tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Sontak gadis itu mengeluarkan seringaian. Ia teringat kata-kata seseorang yang me-Mandori-nya. 'kau tak perlu bertemu, kau hanya datang dan membuat keributan sederhana' lamunan sang gadis berhenti ketika sang pelayan datang untuk memberikannya pesanan yang ia butuhkan.

"Selamat menikmati nona, ada lagi yang bisa saya bantu?" gadis itu tersenyum sambil berkata terima kasih, lalu ia menggeleng lemah kepada sang pelayan. Pelayan itu pun berlalu menjauhi pelanggannya yang sangat cantik, namun kemudian langkahnya terhenti, membuatnya tersenyum lebar dan segera kembali menghampiri pelanggan nya.

"Bisa kau mendekat sebentar?" sang gadis tampak membisikkan sesuatu kepada pelayan tersebut yang kemudian membuat lelaki itu tersenyum dan berterima kasih. Sedang semua lelaki merasa iri kepada pelayan itu.

"Siapa namamu?"

"Utakata desu"

"Matta ne…. Uta-kun" pelayan itu mengejang ketika suffix 'kun' ditambahkan setelah nama kecilnya. Dasar gadis nakal.

Ketika merasa tak ada lagi yang pelanggan nya butuhkan, pelayan bernama Utakata itu pun berlalu. Kini sang gadis menikmati spaghetti pesanannya dengan sangat nikmat dan lahap. Sehingga membuat orang-orang melongo melihatnya yang makan begitu menggoda. Beberapa dari mereka segera memanggil pelayan dan kemudian menunjuk kearah satu-satu nya pelanggan cantik yang berada di restaurant itu, untuk memastikan mereka memesan Spaghetti yang sama persis gadis itu pesan. Hal ini mengakibatkan penjualan di pasta blanc meningkat hari ini. gadis itu tersenyum seperti memberi sinyal kepada seseorang yang berada di bangku sudut dengan topi coklat dan hoodie bulu bewarna senada.

Seketika lelaki itu memberi isyarat untuk bangkit, sang gadis pun mengangguk dan segera beranjak dengan lemah gemulai menuju kasir.

"Saya sudah selesai, berapa totalnya?" tanya gadis tersebut, sang kasir tersenyum manis "Kami akan memberi diskon kepada anda nona, karena berkat anda kami bisa pulang lebih awal hari ini."

"Benarkah?" gadis itu pura-pura terkejut, padahal hatinya tertawa keras karena misinya hampir berhasil. Gadis itu merogoh dompetnya dan kemudian memberikan kartu Black Card kepada kasir itu. Ketika sang kasir sedang menggesekkan kartu kredit unlimited tersebut, sang gadis tiba-tiba berakting layaknya orang yang pusing. "Auhh…. Sepertinya kepalaku sakit sekali." Sang kasir tampak khawatir. "A-ada apa nona?"

"Aku dari tadi pagi tidak memakan apapun, aku hanya memakan spaghetti yang berasal dari restaurantmu….." lirih gadis itu, sang kasir langsung bingung.

"Apa kau memberiku keju?"

"Eh?"

"Aku alergi keju" tutur gadis itu yang hanya kebohongan belaka. Kasir itu berbisik kepada partnernya yang tak jauh darinya, yang kemudian pesan itu pun sampai kepada kepala manajer. Kepala manajer dari restaurant pasta blanc adalah seorang lelaki muda. Manajer yang sedari tadi berada diruangannya keluar dan ia kaget melihat kecantikan dari pelanggannya.

"Ada yang bisa saya bantu, nona…"

"Aku Hanabi." Sebut gadis itu sambil sedikit mengerang. "Apa kau akan bertanggung jawab?"

Sang manajer sedikit mendeham, yang kemudian ia celingak celinguk berusaha mencari tempat yang mungkin bisa dijadikan untuk istirahat. Satu-satunya tempat yang bisa ia pakai mungkin ruangannya atau ruangan bos nya. Namun tak mungkin ia meletakkannya diruang boss nya. Lalu tak mungkin juga ia mempersilahkan ruangannya, karena ruangannya begitu kotor dan sempit. Memang tak sekotor itu, namun tetap saja akan membuat gadis cantik bak dewi ini tidak nyaman. Mungkin ia bisa bernegoisasi kepada boss nya nanti. Lagipula, penjualan hari ini naik akibat dari gadis yang sangat menggoda ini.

"Baiklah, ikuti saya nona Hanabi." Gadis itu tersenyum kemenangan tentunya didalam hatinya, yang kemudian ia mengikuti manajer tersebut keruangan CEO.

Tak ada siapapun disini, hanya ruangan kosong yang rapi dengan meja kerja, lemari, dan sofa yang nyaman.

"Anda bisa menenangkan diri anda disini terlebih dahulu, nona Hanabi." Hanabi—sang empunya berterima kasih dan kemudian duduk di satu sofa. Ketika ia duduk, dressnya pun tersingkap sehingga menampilkan pahanya yang putih dan mulus. Manajer itu mematung melihat pemandangan tersebut, namun erangan Hanabi kemudian membuatnya terkaget.

"Apa anda bisa meninggalkanku sendiri? Kau membuatku tidak nyaman."

"A-ahh… ma-maafkan saya nona, saya tidak bermaksud kurang ajar." Dan kemudian manajer itu pun langsung melenggang pergi sebelum ia benar-benar tak bisa menahan birahinya lagi.

Seketika manajer itu pergi, Hanabi mengibaskan rambutnya lalu kemudian merapikan dressnya. "Cih… mata keranjang." Cibirnya, lalu kemudian mengeluarkan smartphone, berusaha menghubungi seseorang, namun semuanya terinterupsi ketika menyadari pintu ruangan terbuka. Hanabi kaget dan kemudian menghembuskan nafas lega ketika seseorang yang ia kenal yang masuk.

"Kau mengagetkanku."

Lelaki itu membuka topi dan jacket nya sehingga menampakkan wajahnya yang rupawan. "Aktingmu jelek sekali Hinata!"

"Hei tuan Uchiha, aku berusaha semampuku, kau tak tau betapa jantungannya tadi aku. Ini pertama kalinya bagiku menjadi pusat perhatian." Uchiha rupawan itu terkekeh yang kemudian cepat-cepat meluruskan misi mereka. "Nah sekarang bagian klimaksnya, lepaskan antinganmu."

"Aku tau." Hanabi a.k.a Hinata pun melepaskan antingnya, setelah itu menyangkutkannya di sofa di tempat yang strategis. "Kau membawa parfum mu kan?" Hinata mengangguk semangat lalu mengeluarkan parfum beraroma lavendernya. Uchiha tampan itu merebut parfum tersebut lalu langsung menyemprotkannya banyak-banyak di sofa. "Apa parfum ini tahan lama?" tanya Hinata polos. Sasuke memukul pelan kepala Hinata. "Tentu saja bodoh, ini beda dengan parfum lamamu, yang ini lebih tahan lama, lebih mahal, lebih elegan." Jawab Sasuke dengan sombong. Sasuke mengeluarkan sebuah post it lalu memerintahkan Hinata untuk menuliskan sebuah pesan dan menempelkannya di meja.

"Apa ini akan berhasil?" tanya Hinata kemudian.

"Tentu saja, karena ada aku, semuanya akan berjalan dengan lancar." Hinata menatap Sasuke tidak setuju. "Kau belum tau bagaimana hebatnya Sasuke Uchiha, khukhukhukhu… aku pasti akan mendapatkan kembali Sakura-ku."

"Cih… apa bagusnya permen karet itu." Sasuke menjitak Hinata kembali. "Diam, tak kusangka kau lebih cerewet."

"Memang siapa yang berhasil membuatku seperti ini?" pandangan Hinata menjadi lebih serius, membuat Sasuke agak bergidik, tunggu? Uchiha bergidik? Oh my god. Sasuke kembali memasang wajah stoic nya. "Baiklah, sekarang kita menunggu hasilnya dirumah shikamaru."

"Eh? Rumah shikamaru-kun?"

Sasuke agak menunduk lalu kembali memasang topinya. "Rumahku sudah kujual."

"Eh? JUAL?" Hinata kaget

"Hn"

"Ke-kenapa?"

"Tenang saja, bukan karenamu, Baka. Ayo pergi, sebelum Gaara datang." Hinata hanya menuruti Sasuke, namun kepalanya masih memikirkan rumah Sasuke yang dijual secara tiba-tiba.

"Gaara-kun, kau tidak boleh melakukannya disini." Sakura mendorong Gaara pelan ketika menyadari bahwa Gaara sudah menegang dan nafasnya semakin memburu. Mereka tak seharusnya melakukan 'itu' di kantor. "Sakuraa… ayo kita pulang sekarang."

"Tidak Gaara-kun, aku masih punya rapat sore nanti. Kau pulanglah duluan, tunggu aku di apartment." Gaara mendesis, lalu kemudian mundur sambil merapikan blazer Sakura.

"Sok sibuk. Apa kau pikir kau yang paling sibuk? Cih… aku juga memiliki segudang pekerjaan." Sakura terkekeh pelan.

"Aku tau, Sabaku. Hihihi…. Apa kau akan ke restaurant?"

"Tentu, aku akan mengambil sejumlah dokumen disana, dan memeriksa penjualan."

"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan nanti malam."

"Uhm…" Sakura tersenyum sambil melihat kepergian Gaara dari ruangannya. Ia sangat menyukai lelaki itu, dan sekarang ia sudah memilikinya, tak sia-sia semua rencana yang ia lakukan.

Gaara memarkirkan mobilnya di perkarangan Restaurant Blanc. Ia sempat kaget karena restaurant nya agak temaram dan sepi. Papan special menu pun tak lagi dipajang. Melihat hal tak beres itu ia langsung jalan cepat menuju restaurantnya.

"Uta, kemana para pegawai?" tanya Gaara begitu melihat uta yang ada di pintu masuk. Uta tersenyum. "Sudah pulang, Gaara-sama. tinggal aku, chef, dan manajer."

"Siapa yang mengizinkan mereka pulang? Bukankah restaurant tutup jam 9 malam. Sudah kubilang kepada kalian semua bukan?" nada bicara Gaara meninggi sehingga membuat uta agak takut. Tiba-tiba manajer datang.

"Maafkan kami Gaara-sama, tapi menu special sudah habis, anda sudah pernah mengatakan kepada kami, jika menu special habis maka apapun yang terjadi kami boleh menutup restaurant lebih cepat."

"Ahh.. benarkah? Suatu kejutan bagiku." Manajer dan uta saling tatap.

"Iya… ini untuk pertama kalinya Gaara-sama, menu special ludes."

"Kau bisa menjelaskan selebihnya?"

"Ya, tentu Gaara-sama."

Gaara dan pak manajer kemudian menuju sebuah meja. "Kami juga tidak menyangka, hari seperti ini akan terjadi, Gaara-sama. kita kedatangan tamu special tadi siang. Dia memesan menu special dan semua orang langsung memesannya juga."

"Cih…. Apa hebatnya tamu itu?"

"Kau belum melihatnya, dia sangat cantik seperti dewi. Aku belum pernah melihat gadis sesempurna itu, Gaara-sama." Gaara mengernyitkan dahinya, 'Mana ada wanita yang bisa menandingi Sakura dalam hidupnya. Ahh… kasihan si manajer, melajang dan belum pernah merasakan cinta'

"Terserah kau saja." Setelah mengatakan hal tersebut, Gaara beranjak menuju ruangannya. Ketika ia membuka pintu ruangannya, wangi lavender memenuhi indera penciumannya. Dahinya mengernyit, mengetahui tidak ada siapa-siapa yang berani masuk keruangannya. Ia kemudian langsung berlari menuju meja kerjanya, memeriksa lacinya dan mengobrak-abrik dokumen yang ia ingat letakkan disana, dan tak ada yang hilang. Ia pun menghembuskan nafas lega dan panjang. Ketakutan yang melandanya membuat kakinya melemas, ia pun segera duduk di sofa, menyenderkan kepalanya. Wangi lavender yang emmenuhi ruangannya, tanpa terasa membuatnya nyaman dan rileks.

"Lavender…" lirih Gaara. Tiba-tiba Gaara merasakan sesuatu mengganggu tangannya, ia angkat tangannya dan menemukan benda berkilau. Ia lihat sebuah anting berlian asli. Ia kaget untuk yang kesekian kalinya. "Pu-punya siapa?"

Keterlaluan…..

Gaara dengan cepat membuka pintu ruangannya, ia memanggil uta dan manajer untuk meminta penjelasan lebih jauh. Menyadari tak ada respon dari mereka, Gaara memutuskan untuk pergi ke dapur, dimana mereka tampak bising disana.

"Ada apa ini?"

"Gaa-Gaara-sama, sepertinya dompet uta hilang." Jelas manajer

"Hah?" Gaara kebingungan.

"Aku tidak pernah menaruk nya di sembarang tempat, aku selalu menaruknya di celana ku… pasti ada yang mengambilnya." Uta tampak berpikir, yang kemudian manajer juga membantu berpikir.

Mereka berdua saling tatap, sedang Gaara masih bingung.

"Jangan-jangan….

"Ahahahahahhahahahaha…" Hinata tertawa kencang sambil melempar dompet asing di meja.

"Kau bahagia?" sindiran dari shikamaru, ia tak menyangka Hinata tertawa terbahak-bahak, apalagi untuk kejahatan yang ia lakukan.

"Menyenangkan bukan?" Sasuke menyusul sambil membawa segelas air dan duduk di sofa dengan nyaman. Shikamaru menatap Sasuke kesal. "Kau mengajarinya hal yang tidak benar."

"Sekarang aku tidak heran, banyak copet yang cantik. Uchiha-san, apa yang akan kita lakukan dengan dompet itu?" tanya Hinata penasaran sehingga membuat Sasuke menyeringai. "Tentu memanfaatkannya, otakmu benar-benar tumpul."

"Kau tidak lebih pintar dariku Sasuke." Bela shikamaru. "Jangan macam-macam dengan maid-ku atau uang sewamu akan kunaikkan." Ancam shikamaru, membuat Sasuke menelan saliva yang tercekat ditenggorokannya.

"Apa rumahnya benar-benar dijual?" tanya Hinata yang sedari siang masih penasaran dengan rumah Sasuke. Shikamaru mengangguk-angguk. "Dia bahkan meminjam uang kepadaku juga, Hinata…."

"Wahhh…." Hinata melihat Sasuke kaget, sedang Sasuke memandang datar Hinata juga shikamaru.

"Diamlah, kalian tidak tau apa-apa." Dan Sasuke langsung beranjak meninggalkan Hinata dan shikamaru yang terdiam.

"Apa yang terjadi dengan Uchiha-sama?" tanya Hinata masih penasaran. "Apa…. Jangan-jangan karena biaya diet ku?" shikamaru yang semula melihat pintu kamar Sasuke kini menoleh kearah Hinata dan ia kaget karena muka Hinata begitu dekat dengannya, sontak ia mundur sedikit, merasa jantungnya berdegup kencang. Hinata melihat shikamaru aneh. "Kau kenapa? Shikamaru-san?"

"Jangan lakukan itu lagi." Shikamaru beranjak meninggalkan Hinata menuju balkon. "Arghhh…. Kenapa begitu panas." Ucap shikamaru sambil berlalu sehingga membuat Hinata mengernyit aneh.

"Ada apa dengan mereka? Huh….." Hinata mempoutkan bibirnya, ia kemudian melirik jam dan ia kaget. "Astaga! Ini saatnya ngemil malam." Dan ia pun meninggalkan ruang tengah.

Shikamaru masih merasakan udara malam di balkon, ia menenangkan jantungnya yang masih berdetak cepat. "Argghhhh…. Apa yang terjadi padaku?" tiba-tiba ia terbayang wajah Hinata yang begitu dekat di ruang tamu tadi. Karya kakak ipar Sasuke dan Sasuke memang benar-benar luar biasa. Begitu kurang ajar membuat seseorang lebih cantik. Ya… bagi shikamaru, Hinata memang sudah cantik dahulu, tapi sekarang….. shikamaru tidak percaya, jantungnya sepertinya akan rusak. Shikamaru menghembuskan nafas panjang, yang kemudian merogoh sakunya, berusaha mendapatkan smartphone nya. Wajahnya kini menjadi kusut, melihat tak ada balasan SMS dari seseorang yang ia tunggu. Ino Yamanaka. Shikamaru kadang heran, mengapa wanita itu tidak pernah peduli padanya, sekalipun ino tau Sasuke sudah menikah, ia masih mengejar Sasuke.

"Shikamaru-san…. Belum tidur?" shikamaru menoleh, mendapatkan Hinata sedang berdiri di bibir pintu.

"Ah…. Hinata….." Hinata mendekati shikamaru, sambil memeluk dirinya sendiri, shikamaru menebak, pasti Hinata kedinginan, dengan badan sekurus itu. Dia bodoh, tak memiliki persiapan. "Apa yang terjadi shikamaru-san? Kau tidak bisa tidur?"

"Hm…" shikamaru menjawab seadanya sambil memandangi Hinata yang ada disampingnya. "Lalu apa yang kau lakukan disini, Hinata?"

"Aku sedang menunggu maskerku dingin."

"Benarkah?"

Mereka terdiam selama beberapa menit.

"Apa kau serius?" tiba-tiba shikamaru membuka suaranya kembali

"Apanya?"

"Kau ingin membalaskan dendammu dengan Gaara?" mata Hinata kembali melirih, membuat shikamaru kaget, dia seperti kembali ke Hinata lama, tapi kemudian tatapan mata itu kembali kuat.

"Apa hanya dia saja yang berhak menyakitiku? Apa kau menganggap ini salah shikamaru-kun?" dan shikamaru kembali terkejut mendengar suffix 'kun' dinamanya yang benar-benar sudah lama ia inginkan dari Hinata. Hinata kini memandang tepat ke mata shikamaru, shikamaru terdiam. "Aku tidak mau orang sepertinya terus mengatur hidup orang lemah. Dia tidak tau orang itu mengerikan. Dia tidak boleh merasakan kesenangan sebelum kesakitan ia rasakan terlebih dahulu. Orang yang tak tau malu."

"Kau menangis…"

DEG….. Hinata terdiam, ia menggigit bibir bawahnya.

"Jika begitu menyakitkan, berhentilah. Tidak ada yang memaksamu, Hinata." Setelah mengatakan hal tersebut, shikamaru melepas cardigan woll yang ia pakai dan memasangkannya dipundak Hinata yang tampak bergetar. "Menangislah ketika kau ingin menangis Hinata, dan tersenyumlah ketika kau ingin tersenyum. Kau bisa melakukan segala hal tanpa khawatir orang lain akan terluka. Sudah saatnya bagimu untuk egois. Ahh iya, jika kemana-mana, jangan lupa membawa cardiganmu. Kau tak sama seperti yang dulu." Dan shikamaru pun berlalu meninggalkan Hinata yang masih terisak.

Seketika tangisan Hinata semakin keras.

"Oy….." Hinata mengabaikan semua yang ada disekitarnya.

"Oy….. Oy! Kau berani mengabaikanku." Hinata merasa lengannya ditarik, ia terpaksa melihat seseorang menyeramkan didepannya. Sasuke Uchiha.

"Kau akan beraksi besok, jangan sampai Panda tercipta. Dan ini maskermu, aku sudah menyiapkannya." Sasuke menyodorkan Hinata maskernya. Hinata masih menatap Sasuke heran sambil terisak.

"Me-mengapa kau membantuku?" tanya Hinata takut-takut. Sasuke menatapnya tajam.

"Kau yang memintanya kan?"

"Kapan? Bukankah kau yang menawariku."

"Tidak…. Matamu yang memintaku, dan tangisanmu yang membujukku." Hinata terdiam, Sasuke mengambil sapu tangan dingin di tepian baskom masker lalu kemudian mengusap muka Hinata. "Kau tau, ketika acara pertunangan Sakura dan Gaara. Aku melihat matamu, aku mendengar tangisanmu, dari semua itu, aku mengerti dirimu. Kau bercerita kepadaku malam itu." Hinata masih terdiam tanpa kata.

"Mungkin, kau tampak pecundang dari luar, tapi…. Aku tau, kau tidak sepecundang yang mereka tau. Mereka tidak tau, pengabaian mereka adalah kekuatan yang besar bagi seseorang yang diabaikan." Sasuke tersenyum tipis. "30 menit lagi, basuhlah dengan air panas. Setelahnya, kau bisa tidur. Oyasumi" Sasuke pun berlalu, meninggalkan Hinata yang masih mematung.

Gaara merasakan dirinya sekarat, wangi parfum lavender itu masih menggangu penciumannya. Ia mengeram frustasi yang kemudian ia melirik anting berlian yang masih bertengger manisnya di mejanya. Dan juga ia menemukan sebuah post it bertuliskan 'Terima kasih' di mejanya.

Suara riuh yang berasala dari luar ruangannya membuatnya kaget dan penasaran, dengan segera Gaara pun berlari keluar.

Nihil…..

Ia tampak kecewa. Tunggu? Apa-apaan kecewa? Gaara membenci dirinya sendiri, apa yang ia harapkan? Ayolah…. Gaara, kau sudah pernah mengkhianati seseorang, tak mungkin ia akan mengkhianati untuk yang kedua kalinya bukan? Iya… benar sekali. Tak mungkin dan tak ingin. Gaara menghembuskan nafas panjang seraya membuang semua pikiran aneh yang mengusiknya dan semua rasa penasarannya. Ketika ia ingin membuang anting berlian yang ada di genggamannya, tampak kembali keriuhan terdengar. Gaara menoleh dan saat itu juga rasanya Gaara ingin mati di tempatnya berdiri.

"Selamat datang kembali Hanabi-san." Gadis bak dewi itu kembali membuat keriuhan restaurantnya. Semua lelaki kembali terpikat. Uta mendekati Hanabi, dan kemudian menyodorkannya menu tapi kemudian Hanabi menolaknya. Ia malah tersenyum kearah Uta dan mengambil sesuatu dari Tas mini nya.

"Gomen ne Uta-kun, aku tak sempat mengembalikannya." Uta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ahh tidak apa-apa Hanabi-san. Terima kasih."

"Kalau begitu aku pamit." Hanabi memberi salam kepada uta, dan uta membalasnya juga.

"Tunggu!" suara itu bukanlah suara uta, melainkan suara…

"Gaara-sama….." uta menunduk hormat kepada Gaara, kemudian langsung meninggalkan Gaara dengan Hanabi.

"Tidak sopan kalau hanya datang seperti ini…" ujar Gaara dengan penuh wibawa kepada Hanabi. Hanabi tersenyum kaku. "Siapa….Anda?" Hanabi tampak berpikir

"Aku pemilik restaurant Pasta Blanc, Sabaku Gaara…." Gaara menyodorkan tangannya kearah Hanabi dan tersenyum hangat.

Hanabi menatap lama jemari panjang Gaara, lalu kemudian kini tersenyum lebih tepatnya menyeringai kepada Gaara.

You're Trapped Baby….. karena sekali kau melakukan kesalahan, kau akan terbiasa untuk melakukan kesalahan yang sama kedua kalinya.

©Wondergrave-MIRACLE IN REVENGE-TBC©

#NB : ALOOO…. APA KABAR? Ngahahaha….. syukurlah, chapter 5 jadi, setelah lama mandek. Duhh…. Maafkan saya ya para readers, dah lama kagak apdet-apdet dan malah buat penpic baru. Yah gpp lah ya.. daripada tak tersalurkan, ngehe…. Wonder akan berusaha menyelesaikan penpic ini dan penpic lain yang hiatus. Mohon kesabarannya, karena wonder bukan hanya mengerjakan ini saja, wonder banyak tugas juga yang harus dikerjakan.. hehehe…

Btw chapter ini belum greget banget balas dendamnya, ini masih awal bagi Hinata untuk bertransformasi. Gaara kelihatan benar-benar murahan ya? Hehe, gomen ne Gaara kun…..

Doain wonder agar cepat memunculkan ide untuk menyelesaikan penpic kesayangan kalian

Salam wonder grave~~~~~~~

Thank you very much

REVIEW yaa! Biar WONDER SEMANGAT!

CINTA KALIAN SEMUA!

Maafkan wonder tidak membalas review kalian satu persatu kali ini… hehehe…

But

ARIGATOU untuk tetap review dan setia menunggu