Pacar Sewaan
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll
Genre : Romance
Rated : T
Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain
Summary : Kepergok punya pacar, Naruto mendapat kejutan yang sangat membuat berdebar. Bisnis pacar sewaan memang sangat di luar nalar.
Chapter 3
"Jadi… kau punya pacar?" Gaara bertanya setelah keduanya hening untuk beberapa saat—setelah Sasuke melaju pergi. Naruto memajang mimik bingung. Bukan tidak ingin jujur, ia malu kalau harus bilang yang sebenarnya pada Gaara.
Sudah pacar sewaan, sama pria pula! Naruto malu setengah mati. Sangat ingin ia menutup mulut mengenai hal ini dari siapapun.
Tapi, tatapan Gaara seolah tidak bisa membuatnya bohong. Mungkin lebih baik ia buka-bukaan pada Gaara. Toh, Gaara sudah ia kenal sejak Naruto gabung dengan klub berenang. Naruto rasa ia bisa percaya pada kawan satu klub-nya tersebut.
"Aku akan menceritakannya. Setelah klub selesai," Naruto akhirnya menjawab. Sebenarnya Gaara ingin jawaban dari Naruto saat itu juga. Tapi, berhubung Naruto akan menceritakan 'versi lengkap' padanya nanti, Gaara jauh lebih senang—walau ia penasaran setengah hidup.
Sesuai dengan janji, sehabis mandi Naruto bercerita. Duduk di pinggir kolam renang berdampingan dengan Gaara, dengan hati-hati Naruto bicara. Dan setelah sekian lama…
"Oh, jadi karena kau sedang kesulitan uang?" Gaara akhirnya bisa menangkap kesimpulan perihal pria yang tadi mengantar Naruto. Hatinya lega mendengar penuturan Naruto. Anggukan datang dari Naruto sebagai balasan.
"Kiba yang memberiku ide. Aku iseng mencoba, dan yah… akhirnya pria itu yang menyewaku," jawab Naruto. Gaara menatap Naruto sejenak. "Tapi… apa Naruto suka padanya?" tanya Gaara lagi. Naruto menoleh cepat. "Ha—ah? Su-suka? Maksudmu dengan Uchiha-san?" Naruto berusaha mengkonfirmasi.
Gaara mengangguk. Dengan cepat Naruto menggeleng. "Te-Tentu tidak! Dalam kontrak—rasa suka itu dilarang,". Kemudian Gaara terhenyak. Dan lalu Naruto tersentak.
Bisa-bisanya kau mengingat isi kontrak bodoh itu, Naruto!
"Begitukah…?" suara Gaara terdengar begitu dekat di telinga Naruto. Pemuda pirang itu baru sadar kalau mata Gaara hanya berjarak sejengkal dari matanya. So close.
Lidah kelu, mulut membisu. Badan Naruto mendadak kaku. Gaara mendekat tanpa ragu. Bibir mereka hendak beradu.
Disaat bibir tengah ingin menyatu, Gaara merasa kalau ia malah mencium buku. Hah…? Buku…?
Sontak saja, Gaara tersadar dan kemudian menengadah. Ia bisa melihat, di belakangnya berdiri sosok pria yang sama seperti yang ia lihat tadi sore—saat Naruto diantar dengan mobil.
"Jangan sentuh apa yang menjadi milik orang lain," terdengar suara dingin darinya. Tatapannya tajam. Buku setebal novel ada di tangan kirinya.
Naruto kaget melihat Sasuke—orang yang menyewanya jadi pacar, memergokinya di kolam bersama Gaara. Bagaimana bisa Sasuke ada di sini?
Gaara berdiri dari duduknya. Inikah yang bernama Uchiha Sasuke? Pacar sewaan Naruto?
"Kau siapa?" Gaara bertanya dengan nada tak kalah dingin. Atmosfer berubah kearah buruk.
Entah mengapa Naruto merasa kalau situasi ini berbahaya. Ia harus menyeret salah satunya pergi. Yang mana yang harus ia bawa? Kawannya, Gaara? Atau kliennya, Uchiha itu?
"Sudah jelas bukan?" Sasuke memberi jeda pada kalimatnya. "Pemuda ini milikku. Menjauh darinya," lanjut Sasuke dengan nada angkuh.
Dipikir aku barang?! Jerit Naruto dalam hati. Ia benar-benar tidak menyangka Sasuke akan berkata demikian.
"Milikmu?" tanya Gaara dengan nada meremehkan. "Buktikan," tantang Gaara. Sadar akan kalimat Gaara yang terkesan ambigu, Naruto menatapnya ngeri.
"Apa maksu—" Naruto hendak protes tapi Sasuke menyelanya. Bibir Sasuke membungkam mulutnya yang hendak bicara. Setengah sadar Naruto berusaha memahami, sebenarnya… apa yang telah terjadi.
Tangan Sasuke naik ke pipi Naruto lalu turun ke dagu. Dipegangnya dagu itu, dan ia memiringkan kepalanya sendiri. Cukup lama sebelum Sasuke mengakiri apa yang telah ia mulai.
"Sudah mengerti kau bocah?" tatapan Sasuke benar-benar sudah mengintimidasi Gaara. Tangannya merengkuh Naruto yang lemas karena insiden mendadak dari Sasuke.
Mata tenang Gaara mendadak tersirat amarah. Kian berkobar saat Sasuke menyeret Naruto pergi dari hadapannya.
"Cih, menyebalkan," umpatan Gaara terdengar jelas di kolam renang yang telah kosong.
Walau Sasuke sudah menyeret Naruto ke mobil, pemuda pirang itu sama sekali belum sadar.
Dicium… Dicium…. Dicium… Uchiha-san…. Dicium, Uchi—HAH?
"HAH?!" mendadak teriakan menggelar dalam mobil. Naruto baru kembali ke dunia nyata sesaat setelah ia berpikir bahwa ia berada dalam fantasi paling buruk sepanjang masa. Dicium om-om homo.
"Berisik," suara Sasuke membuat Naruto kaget. "U—Uchiha-san?". Jangan-jangan… jangan bilang… masa'…
Yang tadi bukan mimpi?! "Kalau kau masih berpikir kalau ini adalah mimpi, awas saja," Sasuke berkata seolah ia paham benar apa yang ada di benak Naruto kini.
Seketika pucat pasi-lah wajah Naruto. "Ke-Kenapa—kau me…menci—" Naruto tak sanggup untuk melanjutkan. Ini terlalu memalukan. Oh, mama papa yang ada di kampung halaman, tolong ampuni anak mu yang telah menjalani hubungan pacar sewaan. Demi uang dan makanan, Naruto sampai harus rela ciuman. Dengan pria yang berstatus direktur perusahaan.
"Tidak usah meributkan ciuman. Kau itu harus professional," dengan nada tenang Sasuke menjawab. Ia menyalakan mobil, lalu meninggalkan kampus.
Ah ya. Benar juga apa yang Sasuke katakan. Ia bekerja untuk ini. Hubungan pacar ini ada karena Naruto butuh uang dan Sasuke butuh jasanya. Ia harus bersikap seperti seorang pro, bukan amatiran kampung yang masih perawan. Sasuke telah membayarnya mahal untuk ini.
"Maaf—aku hanya… kaget," Naruto memang sungguh terkejut. Takkan menyangka kalau Sasuke akan menciumnya di depan kawannya itu. Kalau boleh jujur, itu ciuman pertamanya—dengan seorang laki-laki.
Hening melanda dan canggung begitu terasa. Hingga akhirnya Sasuke berhenti tepat di depan tempat dimana Naruto tinggal. Flat-nya.
Naruto keluar, ia berdiri di depan pintu kemudi milik Sasuke.
"Arigatou, Uchiha-san," Naruto menunduk memberi hormat, menyampaikan terima kasih pada Sasuke. "Bisakah kau berhenti memanggilku begitu?" Sasuke membalas dengan kalimat protes.
Alis Naruto terangkat satu, tanda ia tidak paham dengan ucapan Sasuke. "Eng—lalu, kau ingin dipanggil apa?" tanya Naruto kemudian. "Kalau kau seorang pro, kau akan mengerti bagaimana harusnya kau memanggil kekasihmu. Jaa," Sasuke menyelesaikan kalimatnya, menutup jendela dan melaju pergi. Nadanya terdengar kesal.
Bingung melanda Naruto seketika. "Ih, dasar om-om!" rutuk Naruto setelah mobil itu menghilang di belokan.
Naru, umurnya masih 25, dan dia bukan om-om. Sasuke tuh tampan!
Eh-Eh-Eh! Pikiran dari mana itu?! Hei, jangan bilang Naruto mulai berpikir kalau Sasuke itu menarik? Ah sudahlah!
"Seorang pro, katanya?" teringat kalau Sasuke menyebut kalau professional adalah orang yang benar ahli dan niat dalam mengerjakan pekerjaannya. "Lihat saja nanti, aku akan membuatmu membayar lebih!".
Malam itu, Naruto sibuk browsing.
Bagaimana yang disebut seorang pacar profesional?
Bersambung...
Halo halo minna! Saya sudah update dan kembali~
Senangnya bukan main saudara-saudara #inigakpenting
Oke, pokoknya jangan lupa komen, review, kritik and saran yaa.
Ao akan setia menunggu~
Sankyuu
AkaiLoveAoi
