Pacar Sewaan
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll
Genre : Romance
Rated : T
Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain
Summary : Disaat kaki bagaikan agar-agar dan hati dengan keras berdebar, Sasuke mengajaknya ketemu mantan pacar. Pria homo ini benar-benar minta digampar.
Chapter 4
Hening. Hening. Hening.
Kamar yang Naruto pakai untuk numpang makan, mandi dan tidur itu begitu damai. Tapi, keadaan kamar itu sangat berbanding terbalik dengan si empunya kamar, Naruto Uzumaki sang pemuda pirang bermata biru.
Pikirannya kalut, sedari tadi ekspresinya banyak berubah, hatinya begitu berdebar sampai rasanya ia mau mati dan batinnya terus teriak sana-sini.
Sudah dibilang, ia mencari tahu soal 'pacar profesional' demi kerjaan yang sekarang sedang ia jalani. Dan ia sama sekali tidak tahu kalau ternyata, yang namanya professional itu… berbahaya sekali.
"AAAGH! AKU TIDAK KUAT!" Akhirnya Naruto berteriak kencang saking frustasinya. Ia sudah mencapai batas kekuatannya. Ia menyerah.
Naruto menutup laptop dengan kasar—entah sudah mati atau belum. Ia membanting earphone-nya ke meja, kemudian bangkit dari kursi dan mengubur diri dalam selimut di ranjang seolah ingin mengasingkan diri dari dunia. Si pirang itu berusaha tidur dan berharap bermimpi indah. Ia menutup mata kuat-kuat.
Tapi tetap saja, isi kepalanya sama sekali tak bisa terpejam malam itu.
Adegan dimana klien-nya—Sasuke menciumnya lagi-lagi terlintas seolah baru terjadi sedetik yang lalu. "Pemuda ini milikku. Menjauh darinya,". Kalimat Sasuke terngiang di telinga berulang kali layaknya kaset rusak.
Naruto merasakan pipinya panas dan tubuhnya merinding. "Memalukan sekali…" tidak kuat lagi Naruto berpikir—ia menutup wajah dengan tangan. Malu ia pada dunia.
Juga puluhan baris tulisan di blog dan website yang ia telusuri lewat internet—mengenai bagaimana menjadi seorang pacar professional. Terbayang menjadi potongan gambar yang terus tertayang di kepala. Rasanya Naruto sama sekali tidak bisa begitu. Itu terlalu memalukan.
Oh Dewa… haruskah anakmu ini melakukan hal-hal tersebut demi 100 ribu yen?
Hari itu, Sabtu pagi di kediaman Sasuke. Diketahui bahwa pria 25 tahun ini adalah direktur, bukan begitu?
Wajar, bila hari Sabtu begini ia masih bekerja guna memeriksa perbuatan para anak buahnya.
Sasuke duduk di kursi makan dengan beberapa map menumpuk di depannya. Ditemani secangkir kopi hangat, ia membuka lembaran-lembaran itu sambil membacanya dengan serius.
Konsentrasinya buyar seketika saat Sasuke mendengar ada nada dering dari ponselnya. Siapa yang berani mengusik Sabtu pagi-nya?
Hm… Naruto? Sengaja ia mendiamkan—bermaksud untuk mengerjai.
PIK. "Ya?" tapi ujung-ujungnya. Sasuke mengangkatnya juga.
"…, Ha-Halo?" suara seberang tampak takut dan ragu. Sasuke tahu dengan pasti, ini memang Naruto.
"Ada apa menelpon pagi-pagi?" Sasuke bertanya to the point.
"Ohayou gozaimasu," kata Naruto lagi. Sasuke sedikit bingung mendengar kalimat Naruto. Tapi ia kemudian terkekeh.
"Ohayou, Naruto," balas Sasuke senang. Lumayan dapat hiburan pagi-pagi. Dari sang 'pacar' pula.
Naruto hening sejenak, kemudian kembali berkata, "Uchiha-san… apa… kita bisa keluar hari ini?".
Suara Naruto terdengar malu-malu. Namun Sasuke menganggap itu sangatlah lucu.
"Keluar? Maksudmu kencan?" goda Sasuke sambil tersenyum miring.
"Eng—ya… begitulah…" jawab Naruto kemudian.
"Maaf. Pagi ini aku harus kerja," Sasuke seolah bersikap seperti menolak ajakan Naruto. Ia menanti apa yang akan Naruto katakan—walau ia sebenarnya sudah menduga sendiri dalam hatinya.
"Bagaimana kalau malamnya?" ternyata dugaan Sasuke benar. Naruto pasti tetap ingin mengajaknya kencan hari itu.
"Kau mau kemana?". "Terserah Uchiha-san…".
Sejenak Sasuke berpikir kemana harus ia membawa pacarnya itu untuk kencan.
"Pukul 7, aku tunggu di depan flat-mu. Pakai baju yang bagus," akhirnya Sasuke memberi jawaban.
"Baiklah… kalau begitu—sampai ketemu…". Naruto memutus sambungannya. Sasuke meletakkan kembali ponselnya sambil tersenyum puas.
Ya ampun, Dewa.
Aku menelponnya. Aku mengucapkan selamat pagi. Aku mengajaknya kencan. Aku bilang 'sampai ketemu..'. Aku… Aku…
"AKU PASTI SUDAH GILA!" Naruto kembali berteriak sambil membanting bantal. Setelah semalaman tidak bisa tidur karena terhantui peristiwa di kolam renang, pagi-paginya entah dapat angin dari mana, ia mengajak Sasuke kencan pada Sabtu malam.
Apa dia sudah hilang akal? Tapi apa boleh buat. Nanti 100 ribu yen miliknya hilang.
Oke, langkah setahap menuju pacar pro sudah ia lewati. Bahkan Naruto sudah mengajaknya kencan. Itu merupakan tindakan berani, Naruto!
"Oh—ini memalukan…" Naruto pundung di ranjang merutuki tindakannya yang bagaikan—menggali lubang kubur sendiri. Baiklah, tenanglah Naruto. Kau pasti bisa melalui ini! Ganbatte kudasai ne!
Oh iya… walau pun ia sudah bisa mengucap selamat pagi dan mengajak Sasuke kencan…
Ada tahap pertama sebagai pacar professional yang belum berhasil ia lalui.
Memanggil nama sang kekasih dengan nama kecilnya. Dengan 'Sasuke'.
Pukul 7 malam hari Sabtu. Dengan mobil miliknya, Sasuke menjemput Naruto di tempat ia tinggal. Seperti dugaannya, Naruto terlambat. Sasuke memilih menunggu di luar mobil. Berusaha sabar, tapi 10 menit Naruto tidak kunjung muncul.
"Dasar bocah…" Sasuke mulai kesal dan kemudian mengambil ponsel. Ingin jarinya menekan tombol telepon warna hijau, tapi Naruto mendadak terlihat keluar dari flat-nya dengan kemeja lengan panjang digulung juga celana jenas. Tas selempang tersampir di bahu kanan. Sasuke batal menelpon.
"Maaf—tadi aku mandi terlalu lama," cengir minta maaf terukir di bibir si pirang. Kekesalan Sasuke mendadak menguap ke udara. Tercetus niat di hati untuk menggoda si pirang sejenak. Hei, ia juga butuh hiburan setelah menunggu 10 menit kan? Bayaran kecil-kecilan pun tidak masalah.
Dari posisi bersender di pintu mobil, Sasuke berdiri tegap dan kemudian mencondongkan badan ke arah Naruto. Menunduk, mendekati wajah si pemuda bermata biru. Kejadian itu begitu cepat sampai Naruto tidak bisa menghindar.
Sasuke berhenti di perpotongan leher lawan bicaranya. Ia menghirup nafas, meresapi aroma sabun yang menguar dari sana. Seperti wangi bunga musim panas—atau jeruk yang segar? Sasuke seketika buta akan rasa.
"Hmm—aku bisa duga itu. Kau wangi," ujar Sasuke—entah sengaja atau tidak membuat suaranya seseksi mungkin di telinga Naruto yang hanya berjarak 2 centi dari bibirnya.
Bulu kuduk Naruto terangkat dan Naruto refleks menjauh. Geli, malu, panas. Sensasinya sangat aneh, dengan nafas Sasuke di lehernya yang terasa begitu dekat.
"U-Uchiha-san!" Naruto memegangi leher. Ia malu sekali. Sungguh malu! Yang di depannya ini adalah om-om homo!
Walau om-om homo tapi dia ganteng, Naruto. Ini ceritanya suara hati Naruto yang paling dalam.
PERSETAN DENGAN GANTENG! Ini isi pikiran rasionalnya.
Lho dia memang tampan tau! Ini suara hati si penulis.
UUUGHHH! Kalau ini? Naruto sama sekali tak bisa kembali berpikir! Otaknya buntu.
Mendadak Sasuke tersenyum kecil. "Kau payah sekali," ujar Sasuke di luar dugaan. Tentu saja Naruto bingung. "Hah? Maksudnya?".
"Berusaha menjadi pro, padahal kau masih bocah," jawab Sasuke. "Mengajakku kencan? Kau hebat juga," puji Sasuke dengan nada sarkastik namun di dalam hati ia memang memuji Naruto.
Mendengar penuturan Sasuke, Naruto merengut. Apa tindakannya salah? Tidak sesuai dengan keinginan kliennya itu?
"Uchiha-san tidak suka?" Naruto akan mengubur diri kalau Sasuke bilang iya. Ia sudah mempermalukan dirinya di depan Dewa, dan sekarang di depan Sasuke. Malunya dobel. Lebih baik ia pindah ke dimensi lain kalau begitu!
Curi-curi pandang kearah Sasuke, Naruto menangkap pandangan yang sulit ia mengerti.
Sasuke menggeleng. "Aku suka," kalimat Sasuke seolah membuat waktu berjalan lambat. Dengan nada ringan dan seulas senyum tipis Sasuke berkata.
Aneh. Ini sungguh aneh.
Mengapa Naruto harus berdebar mendengar kalimat tadi? Mengapa kakinya mendadak lemas seperti jeli? Mengapa… mengapa ia tak bisa mengalihkan pandangan walau hanya sekali?
"Hoi," suara Sasuke mengubah segala fantasi Naruto. Kembali ke realita nyata.
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kita makan saja. Aku lapar," jawab Sasuke kemudian. Naruto—masih tanpa bicara, masuk ke mobil. Tak lama, mobil melaju menuju tempat yang Naruto tak tahu.
Mobil Sasuke tiba di sebuah gedung. Sasuke segera masuk ke basement untuk mencari parkir.
Naruto entah harus bersyukur atau apa sekarang. Tapi—makan di atas gedung berlantai lebih dari 20? Bukankah itu namanya cari mati?
"U-Uchiha-san, untuk apa kita kemari?" Naruto bertanya karena ia ragu tempat dimana mereka akan makan. "Aku sudah bilang padamu tadi," jawab Sasuke. Ia telah selesai memarkir mobil. Kemudian keluar dan disusul Naruto.
"Makan di sini? Bagaimana kalau di tem—" bicaranya di sela oleh jari Sasuke. Telunjuk pucat milik pria 25 tahun itu menempel di bibir Naruto. "Tempatnya terserah padaku kan?" Sasuke seolah punya segudang alasan untuk memaksa Naruto. Dan Naruto pasrah saja saat Sasuke menggandengnya ke lift.
"Uchiha-san…" Naruto memanggilnya saat di lift. Sasuke menoleh dan memajang mimik Ya?. "Sepertinya—baju ku kurang pantas kalau hanya seperti ini," ia memandangi kemeja kasual dan jeans biru yang nyaris belel karena ia pakai juga untuk kuliah. Ia membandingkan dengan Sasuke yang memakai kemeja formal dan celana kerja abu-abu—dengan jas namun tidak dipakainya.
"Tak akan ada yang peduli dengan bajumu. Tidak usah khawatir," jawab Sasuke sambil mengelus puncak kepala Naruto. Sejenak Naruto merasa tenang tapi kemudian kembali gusar.
Hening begitu terasa di lift. Waktu juga berjalan lama. Wajar saja, ternyata mereka naik ke puncak gedung.
Sampai pada akhirnya, mereka sampai di lantai—entah berapa. Naruto keluar dan bernafas lega. Berlama-lama di kotak itu dan parahnya lagi—hanya berdua dengan Sasuke, sedikit membuatnya berdebar.
Hei, apa kalian merasa di sini terlalu banyak kata berdebar? Aduh maaf ya.
Sesuai dengan dugaan Naruto, tempat makan itu memang luar biasa. Di puncak gedung, beratapkan langit dan bertabur bintang. Lampu taman terkesan redup dan memberi kesan romantis. Hanya ada sedikit orang di sana dan itu memberi sedikit privasi.
Pemandangan yang tersuguh juga tak main-main. Gedung yang menjulang, kelap-kelip lampu mobil dan warna warni lampu jalanan.
Naruto tertawa dalam hati. Tidak menyangka Sasuke akan mengajaknya ke tempat seperti ini.
Sasuke sudah memesan tempat tadi pagi. Ia menyuruh Naruto untuk mengikutinya. Ke ujung gedung yang merupakan spot terbaik.
Sasuke duduk di salah satu kursi yang di depannya ada seorang wanita. Naruto ikut duduk di samping Sasuke karena ingin memberikan privasi lebih pada si wanita.
Eh tunggu. Tunggu, tunggu, tunggu dulu! Wa—Wanita kau bilang?
"Kau terlambat Sasuke. Ini sudah jam setengah 8. Membiarkan wanita menunggu bukanlah hal yang baik," ujar wanita berbalut gaun merah marun itu.
Siapa wanita cantik ini? Dan mengapa Sasuke duduk satu meja dengannya?
"Biar saja," Sasuke menanggapi dingin. Ia memanggil pelayan, memesankan minum untuk dirinya dan Naruto. 2 kopi beda jenis.
Naruto bisa melihat kalau mata wanita itu terus melirik-nya. Dari atas. Sampai bawah. Ke atas lagi. Naruto merasa sedang ditelanjangi.
"Jadi—mana pacar barumu?" wanita itu bertanya setelah mengalihkan pandangan dari Naruto. Sasuke masih diam. "Kau bilang padaku kalau kau akan bawa pacarmu. Mengapa malah membawa rekanmu?" ia kembali bertanya dengan mimik penasaran.
Naruto terpenjat. Pacar katanya? Gawat!
Sasuke melipat tangannya di meja. "Dia bukan temanku," tuturnya pelan. Ia menatap wanita itu lekat. Terlihat jelas kalau wanita itu keheranan akan jawaban Sasuke.
Naruto memperhatikan dengan intens. "Naruto adalah kekasihku," Sasuke melanjutkan kalimatnya yang tadi belum selesai.
Satu detik… dua detik… tiga detik keheningan terjadi di meja itu.
Sasuke diam. Wanita itu melotot. Naruto, kalau bisa sih terjun bebas aja.
"Oh ya..." dengan nada menggantung Sasuke menoleh pada Naruto sambil menunjuk wanita itu.
"Naruto, wanita ini adalah Haruno Sakura…" kembali Sasuke menjawab pertanyaan di benak Naruto.
.
.
"….Mantan pacarku,".
Bersambung...
Halo halo semuanyaaaa!
Gimana gimana? Greget? Bikin kesel? Sangat aneh dan ancur banget?
Pokoknya ntar komen aja di review ya mas-mas dan mbak-mbak!
Makasih sudah baca~
AkaiLoveAoi
