I do not own the story!
copyright © 2015 Adagio by inkills (AFF)
translated by Xiao Wa (June 25, 2016)
Enjoy~
o
o
o
Setiap pagi, dia akan bangun kesiangan. Dan dia akan menggumamkan sebuah doa pendek, karena satu-satunya harapan baginya adalah pertolongan Tuhan. Sebuah kopi hangat merupakan sarapan sempurna untuknya dengan piring yang berisi muffin atau sepotong cheesecake yang akan memberikannya gula dosis besar dan tenaga. Dia akan berkeliling di kota dan mengatur agar mengunjungi pusat musik klasik terdekat dua kali setiap hari, ingin tahu jika seseorang memanggil untuk meminta seorang guru pribadi; mengetahui bahwa keluarga kaya akan menyediakan itu bagi anak mereka. Tapi seperti biasa;
Luhan meletakan kartu kecilnya di meja, dan wanita itu menatapnya dengan mata iba. Dia sudah mencari pekerjaan setiap hari bahkan hampir setiap jam. Memberikan kartunya pada orang-orang yang melihatnya dan melemparkannya masuk ke dalam saku mereka, atau tas jika mereka wanita. Kakinya menyeretnya ke bagian piano yang biasanya, entah menonton guru piano memainkan sebuah karya atau menjelaskan murid barunya sebuah pelajaran. Tagihan berjatuhan di atas kepalanya, dan persediaan makanan berkurang. Dia menjadi miskin, bahkan sebelum dia menyadarinya. Satu hari dia terbangun oleh bunyi teleponnya, dan dia mengerutkan dahi, karena ini masih terlalu pagi untuk seorang pengangguran sepertinya. Lengannya dijulurkan ke arah meja di sisi tempat tidurnya, dan menekan tombol speaker setelah menerimanya. "Halo?" Suaranya kental dengan kantuk, dan setelah dia mendengar wanita dari pusat musik klasik menyapanya kembali dia membelalakan matanya. "Kau harus datang ke kota sekarang juga, aku mempunyai kabar baik untukmu!"
Anak laki-laki itu hanya membutuhkan lima menit untuk mengambil pakaiannya dan tas punggunya serta merapikan rambutnya yang berantakan sekaligus. Kakinya lalu membawanya menuju pusat setelah menggosok giginya dengan cepat, saat wanita itu berseri-seri ketika akhirnya ia melihatnya datang. "Di sana kau, selamat pagi!" Wanita itu membuat tepukan lembut dengan tangannya sekali, memandangi anak laki-laki yang sekarang terengah dengan rambut emas yang berantakan di depannya. "Oh ya ampun, silakan duduk! Aku pasti sudah membuatmu terburu-buru," Luhan duduk, dan dia membawakannya segelas kopi, dan selembar kertas dengan sebuah alamat tertulis di sana. Dia berbisik, "Aku baru saja mendapatkan panggilan dari Mrs. Oh, ia meminta seorang yang sangat berbakat dan pianis ahli untuk berkerja padanya! Dan aku sudah memberikannya namamu!" Untuk sesaat, anak laki-laki itu bisa merasakan hatinya tenggelam, dalam kegemparan dan kegembiraan. Dia langsung berdiri dan hampir menjatuhkan gelasnya ke lantai, "Benarkah, sungguh?!" wanita itu menganggukan kepalanya, membuatnya duduk sekali lagi. "Ia akan berada di sana melihatmu memainkan sebuah lembaran di depannya, kau tidak bisa melewatkan kesempatan ini! Dan lagi pula, gaji bulanannya untukmu tidak akan sedikit." Kedua mata Luhan melebar, tidak bisa percaya bahwa dari pada mendapatkan perkerjaan yang dia inginkan, sebagai pengajar pribadi. Dia akan berkerja untuk sebuah keluarga yang sangat kaya, menjadi penghibur mereka. Dan Luhan tidak bisa meminta lebih.
Kira-kira, mendekati siang, dia menaiki taksi menuju mansion mereka, memakai setelan terbaik yang dia miliki dan menata rambutnya yang sekarang ini menutupi alis sempurnanya. Luhan keluar perlahan dari taksi dengan mulut ternganga atas betapa bagusnya mansion itu, dia merasa seperti kurcaci bahkan saat dia berdiri jauh dari pintu masuknya, mansion itu terlihat besar. Sangat besar.
"Si pianis?" Seorang pelayan bertanya, dan Luhan dengan cepat menganggukan kepalanya. "Silakan, lewat sini." Dia dibawa mendekat, dan semakin dekat ke pintu masuk yang besar sampai dia masuk ke dalam, pelayan itu terkekeh pelan karena mulutnya yang masih ternganga akan betapa hebatnya bangunan itu. Dia membawanya melewati lorong dan lainnya, dan terakhir berhenti selagi tangannya terjulur pada sebuah ruangan. Dia memberanikan diri melangkah dan masuk ke ruang teh, melihat seorang wanita duduk di salah satu sofa mengamati banyak kertas dengan memakai kacamata bacanya. Dia dengan cepat membungkuk, ketika dia mendapatkan perhatiannya. "Oh, kau pasti Luhan." Perutnya mengencang ketika dia tersenyum lembut padanya, menyambutnya di sebuah mansion besar yang dia tahu dia bahkan tidak sepatutnya bekerja di sana. Tetapi dia tersenyum kembali, membungkuk lagi beberapa kali. "Berapa usiamu?" tanyanya tiba-tiba, "Saya dua puluh tiga."
Wanita itu melengkungkan alis pada jawabannya, dan mengangkat kacamatanya yang melorot ke atas hidungnya sedikit. "Aku tidak mengira kau begitu muda," Dia tidak terlihat seperti tipe wanita yang jahat dan sombong, karena dia sangat kaya. Dan Luhan dalam hati berterima kasih pada Tuhan akan hal itu. "Mereka mengatakan bahwa kau adalah pianis yang mungkin aku inginkan, dan aku sangat tidak berharap pada kekecewaan." Anak laki-laki itu mendongak, menggenggam tas punggungnya erat dan menggigit bibir bawahnya. "Saya akan melakukan yang terbaik, Nyonya! Saya tidak akan mengecewakan Anda!"
Wanita itu membawanya ke sebuah ruangan yang enak dipandang, dengan satu grand piano di tengahnya. Itu adalah jenis yang mahal, dan dia tersentak, terduduk di bangku seraya wanita itu memerintahkannya memainkan sesuatu. "Apa pun yang pendek." Jemarinya gemetar di atas tuts piano, dia mengambil napas dalam untuk menenangkan diri. Dengan lembut dan sangat profesional, dia membuat nada indah dari tuts di bawah jemarinya. Dan dia melanjutkannya semenit penuh, sampai dia menyelesaikannya dengan senyuman dari bibirnya. Dia mendongak, bahkan sekarang tangannya lebih gemetar. "Sangat, sangat mengesankan." Dia bergumam, dan terlebih akan keberuntungannya dia membawanya kembali ke ruang teh, memberitahunya kapan untuk datang ke mansion dan kapan untuk pergi. Dia memberitahu tentang gaji bulanannya, dan Luhan tidak bisa percaya dia akan menerima uang sebanyak itu dalam sebulan, dia terkaget. "Apa itu tidak cukup untukmu?" Luhan dengan cepat menggelengkan kepalanya, tangannya yang bergetar memeluk tas punggungnya. "B-Bukan! Itu cukup! Hanya saja, saya sangat senang saya akan bekerja pada Anda, Nyonya." Menutupinya dengan baik, pada akhirnya dia membungkuk. "Bagus, kau akan mulai bekerja besok."
Luhan ditemani keluar dengan suara lembut yang mendaftarkan perintah untuknya, dan pikirannya tidak berhenti untuk mengulang sampai dia keluar dari taksi dan sampai di kota. Dia melompat kegirangan di dalam, dia akhirnya mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji bulanan yang baik. Dan juga untuk wanita di pusat yang mentraktirnya makan siang, sekarang memberitahunya banyak hal tentang keluarga Oh yang terkenal di antara keluarga kaya, dan bagaimana mereka mempunyai toko-toko yang dikenal dunia di bawah perusahaannya. Luhan berpikir bahwa doa bisunya di pagi hari benar-benar bekerja.
Pada pagi berikutnya Luhan mengambil beberapa detik untuk berpakaian bagus, dan seluruh paginya untuk mengulangi tugas di dalam kepalanya. Sampai kakinya menginjak ke mansion mewah itu sekali lagi hari kerjanya dimulai sekarang. Dia mendengar suara wanita itu dengan suaminya, suara pelan sepatu para pelayan yang berjalan kembali ke dapur dan suara detak jantungnya yang keras. Dia mengambil napas panjang, dan setelah dia meletakan lembarannya sendiri Liebestraum dari Franz Liszt untuk permulaan. Dengan sukses, melodi lembut dan nada halus dari permainannya mengisi dinding-dinding mansion. Nadanya keras, mereka tidak menyebalkan dan tajam melainkan mereka sangat mudah untuk disukai. Ini adalah salah satu kesukaannya, dan dia memainkannya dengan sepenuh hati seraya jemari-jemari pucatnya menekan dengan sempurna tuts di bawah mereka. Setelah memainkan bagian akhir dari lembarannya dia mengakhiri permainannya dengan sedikit senyuman kepuasan, dan ujung matanya menyadari sebuah sosok di pintu.
Dia dengan cepat melihat ke arah samping dan senyumannya menghilang sedikit, seorang pria tinggi berdiri di pintu menyilangkan lengannya dengan kesombongan di wajahnya dan menatapnya dengan matanya yang tajam yang hampir membuat lubang pada dirinya. "Mereka mempunyai seorang putra bernama Sehun, dan kau mungkin akan mengenalinya ketika bertemu dengannya." Suara wanita dari pusat terulang dalam pikirannya, dia bangun dengan cepat, membungkuk dalam dan berbisik lembut "Tuan." di bawah napasnya.
Lelaki itu masih menatapnya, bahkan tidak repot untuk memberitahu Luhan agar menegakkan dirinya tetapi Luhan tetap melakukannya. Dan matanya bertemu dengan tatapan dingin es yang menusuk menembusnya. "Jadi kau si pianis baru." Dia menyatakannya seperti sebuah fakta, dan Luhan membungkuk kecil, yang singkat. "Ya, saya, Tuan." Dia mendengar kekehan dingin, Luhan tiba-tiba mulai merasa gugup. "Kupikir kami berada di tempat yang terlalu tinggi untuk menawari seorang pemula," Oh, itu sangat menyakiti hatinya. Luhan tidak bisa melakukan apa pun selain menjaga pandangannya ke lantai, bibirnya terbuka sedikit untuk membela dirinya sendiri, melupakan tentang fakta bahwa dia bisa saja dipecat. "Saya memainkan piano dengan cara yang berbeda namun spesial, itulah yang para guru katakan. Dan saya, Tuan, memainkannya dengan seluruh hati saya dan meletakan jiwa saya pada tuts-tuts ini, satu-satunya tujuan saya adalah untuk menyenangkan telinga Anda."
"Berapa umurmu?" Dia hampir menyela dan Luhan mengangkat kepalanya untuk menatap matanya, mereka masih menusuk, mereka masih sangat dingin kepadanya. Dan sekali lagi dia menundukan kepalanya dengan hormat. "Dua puluh tiga."
"Hanya lebih tua dariku dua tahun? Ini menggelikan!" Dia pergi dengan kekehan lain, dan ketakutan Luhan menjadi nyata, ketakutannya akan dibuang dari pekerjaannya dan tidak dihargai oleh orang kaya yang sombong.
Dia menghabiskan pagi itu di mansion, mengenal lebih para pelayan yang ternyata baik menyambutnya di mansion. Mereka menawarinya secangkir teh manis hangat, dan beberapa biskuit kecil dan mereka adalah biskuit terbaik yang pernah dia makan dalam hidupnya. Ada seorang pelayan bernama Kyungsoo, yang ternyata mendengar sebagian dari pembicaraannya di ruang piano. Dan Luhan sangat berterima kasih atas sarannya untuk tidak memasukan perkataan tuan muda ke dalam hati, "Karena nyonya yang memerintah di mansion, hanya dia yang bisa menyewa orang yang bekerja di sini dan memecat mereka."
"Bagaimana dengan tuan?"
"Dia lebih sering sibuk sepanjang waktu, tapi kau bisa melihatnya dengan nyonya di ruang teh sesekali." Jeongmin menjawab, dan Luhan pelan-pelan mengambil isapan terakhir tehnya sebelum meletakan cangkirnya di meja. "Nyonya memanggilmu di ruang makan." Seorang pelayan muncul dari dapur, dan Luhan cepat-cepat berdiri setelah meminta permisi. Dia membenarkan rambutnya, pakaiannya sebelum melangkah masuk ke ruang makan yang indah. "Oh, ini dia," Wanita itu memberikan senyuman tulus, seraya dia meluruskan badannya. Dan ketika Luhan melihat dari balik poninya dia melihat seorang anak laki-laki yang sama duduk di sebelah orang tuanya di meja makan yang panjang, memberikannya ekspresi yang sama di wajahnya yang tak berekspresi. "Ini Luhan, pianis kita, dia muda tapi sangat berbakat, dia masih dua puluh tiga." Ia sangat baik, dan Luhan berterima kasih. Dia membungkuk, membalas senyumannya lembut. "Sebuah kehormatan untuk bekerja di sini." Dia adalah orang yang pemalu, dan kelembutan membuatnya lebih malu. Sekarang dia berdiri di depan pemilik dari perusahan terkenal dan kaya. "Kau sangat baik!" pujinya. Ia tersenyum lebih, dan sekarang menjulurkan lengannya ke pundak suaminya, ia memberikan pijatan lembut. "Mainkan kami sesuatu yang tenang, suamiku akan menyukainya untuk makan malam."
Dengan sebuah hormat, dia pergi dan menuju ke ruang piano. Dia mengambil lembaran nocturnes dan meletakannya di rak piano, ujung jemarinya ditempatkan pada akor tertentu, sebelum dia memulai lembut dan semua romansa pada karya Chopin mengisi dinding-dinding mansion. Hampir tidak mungkin untuk percaya akan ketenangannya, dan hasrat Luhan untuk bermain piano ditambah di atasnya. Selama menit-menit yang panjang, dan seraya para pelayan mulai memasuki ruangan satu per satu dan menontonnya memainkan tuts-tuts yang mati-matian membuat melodi lembut untuk waktu yang lama, Luhan memainkannya tanpa celah dan membawa mereka hidup. Dan sampai bulan bersinar terang di langit dia memejamkan matanya.
Luhan mulai menyukai pekerjaannya di mansion, dan menghabiskan waktunya dengan para pelayan yang sangat baik. Gaji pertamanya membuatnya melompat selama satu setengah jam di apartemen kecilnya, itu memberikannya pakaian yang bagus yang mulai dia pakai di bulan berikutnya. Rupanya dia mulai menghindari makanan kaleng dan fokus pada makanan segar yang sekarang bisa dia beli dengan uang. Dan kolon bagus yang setidaknya beraroma enak di sebelah orang-orang di mansion.
Sekali lagi, di pagi yang baru, jari-jarinya menempatkan diri pada tuts-tuts yang sudah dia kenali, memainkan karya dari Mozart yang cocok di pagi hari yang segar. Dia menyukai setiap menit yang dia habiskan untuk bekerja, dan makanan kecil yang lezat yang diberikan oleh pelayan padanya. Pada akhir bagian dia mendongak hanya untuk bertemu dengan putera yang sama berdiri sekali lagi di pintu, sekarang dia sudah menyelesaikan makan siangnya, dan Luhan menyelesaikan lagu indahnya. "Mana perbedaan yang kau katakan padaku? Itu hampir sama seperti orang lain memainkan piano." Luhan tidak pernah diberitahu dia masih dasar, dan keinginannya tidak pernah kenal batas permainan tuts yang bisa membuat surga yang berbeda. Dia perlahan bangkit, membungkuk penuh hormat dan otaknya berpikir. Jadi kau menantangku?. Dia meluruskan badan sambil tersenyum, sebuah seringai bersembunyi saat matanya bersinar menatap kembali pada tatapan milik tuan muda. "Saya akan menunjukannya kepada Anda."
o
o
o
