Pacar Sewaan

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll

Genre : Romance

Rated : T

Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain

Summary : Saat harus menunjukkan mereka beneran pacaran, Naruto memberikan Sasuke sebuah tindakan yang membuat direktur itu tercengang. "Lumayan," katanya.


Chapter 5


"Naruto, wanita ini adalah Haruno Sakura…" kembali Sasuke menjawab pertanyaan di benak Naruto.

.

.

"….Mantan pacarku,".

Mantan… pacar… Sasuke…? Wanita cantik ini?! Kita nggak salah meja?

"Halo, aku Haruno Sakura, yoroshiku," wanita itu tersenyum. Gemetar. Naruto menyambut tangan si wanita dengan gemetar layaknya dilanda gempa bumi sendirian. Rasanya Naruto ingin lompat dari sana sekarang juga!

"Kau baik-baik saja?" Sasuke bertanya dengan mimik cemas. Dengan senyum gugup Naruto mengangguk. Tenanglah Naruto! Profesional!

Seketika, Naruto mengingat sesuatu. Hal yang Sasuke sampaikan di pertemuan pertama mereka.

"Aku hanya ingin menunjukkan pada Ibu dan mantan pacarku kalau aku baik-baik saja,"

Mungkinkah, ini maksud Sasuke menyewanya? Tapi kok nggak bilang-bilang mau ketemu mantan pacarnya? Naruto kan belum siap lahir batin! Ajakan kencan malah berbuah ketemu mantan!

"Hee—jadi ini pacar baru mu?" Sakura menatap Naruto dengan penuh minat. Setelahnya, Sakura tersenyum dan berkata, "Imutnya!". Entah itu pujian atau ejekan, tapi Naruto tetap kesal mendengarnya walau itu keluar dari mulut seorang wanita cantik. "Kau pasti masih sekolah kan? SMA ya?" tebak Sakura. Yah memang sih—dia masih menuntut ilmu. Tapi jenjangnya keliru tuh.

"Maaf, saya sudah kuliah tingkat akhir," ralat Naruto dengan sopan. Ia menggaruk tengkuk akibat kegugupan luar binasa yang sudah merenggut sebagian kendali tubuhnya. "Oh begitu—maaf ya," Sakura tersenyum malu. Sementara Naruto hanya tersenyum maklum.

"Jadi—bagaimana ceritanya, bisa bertemu dengan Sasuke? Yah—dia itu kan sangat sibuk sampai tidak pernah memperhatikan yang namanya orang lain," Sakura melempar sindiran pada lawan bicara yang kini tengah diam dengan aura kesal. Naruto terpenjat dan berusaha mencari alternatif jawaban.

Kalau jawaban yang jujur kan : Ketemu di situs kencan online. Tapi, itu bukan jawaban benar! Pamor Sasuke pasti jatuh di depan wanita ini dengan jawaban seperti itu, Naruto sangat yakin! Makanya—dengan mata memohon layaknya anjing minta dipungut ia menatap si klien alias Sasuke.

TOLONG JAWAB ITU! TERSERAH MAU JUJUR, BOHONG, GAK PEDULI! Naruto berusaha telepati. Ia kehabisan kata-kata.

Sasuke cukup mengerti. Dan sejujurnya, tak perlu pakai ilmu telepati segala dan tatapan begituan, niatnya juga sudah mau bohong dari awal. "Restoran Ramen Ichiraku," asal bicara saja dia. Lihai sekali lidah Sasuke berkelit.

Naruto sedikit terkejut. Kenapa itu kedai harus diseret juga dalam kebohongan? Oh ramen kebanggaanku! Pemuda pirang itu mengutuk Sasuke membawa-bawa ramen pujaan.

Tapi, melihat reaksi Sakura yang sepertinya tidak begitu mencurigakan—maksudnya tidak bisa mengendus titik kebohongan, Naruto bisa sedikit lega. Untunglah cewek ini tidak tahu mengenai kedai itu. Iyalah, wanita seperti ini mana doyan ramen?

"Oh—Ramen Ichiraku Jalan Kumo ya?" celetuknya setelah diam beberapa saat. DIA TAHU! Batin Naruto berteriak ngeri. Perkiraannya meleset parah. "Kita sering kesana kan?" tanya Sakura pada Sasuke yang sedang menyesap kopi. Pria itu meletakkan kembali gelas kopinya.

"Ya," ia membalasnya singkat. "Tapi—kenapa aku tidak pernah melihat dia ya?" kembali Sakura bertanya. AKU JUGA NGGAK PERNAH LIHAT KALIAN! Naruto membatin nelangsa. Sakura menatap Naruto minta jawaban. Dan Naruto juga melirik Sasuke minta bantuan.

Yang apa yang Sasuke lakukan?

"Mana mungkin kau melihatnya? Di matamu kan hanya ada Itachi,". Sumpah, Naruto tidak menyangka kalau Sasuke akan menjawab demikian. Kalau diukur memakai tingkat kepedasan, itu mungkin level teratas. Lagi pula, siapa tokoh baru yang ia bawa-bawa? Itachi…? Siapa dia?

Seketika, suasana berganti tema. Dari ceria mendadak senyap tanpa suara. Naruto melirik Sakura yang diam saja. Sasuke juga tidak lagi bicara.

Tunggu dulu… Naruto sedang berpikir apa sebenarnya yang pernah terjadi diantara keduanya? Mengapa Sasuke bisa setenang telaga dalam menghadapi mantannya? Bukankah harusnya dia sudah depresi dan putus asa? Atau, mungkinkah Sasuke lebih dewasa dari usianya? Atau ia hanya memajang topeng 'aku baik-baik saja'?

Dan kalau memang pertanyaan yang terakhir itu benar adanya… Kenapa—kenapa direktur yang putus cinta itu menyewanya untuk menunjukkan pada Sakura, bahwa ia baik-baik saja?

"Lalu, bagaimana dengan pernikahanmu?" akhirnya suara Sasuke memecah keheningan meja itu. Ia mengarahkan pandangan ke Sakura. Sebelum menjawab, wanita itu menyesap teh miliknya. "Itachi bilang minggu depan," jawab Sakura.

"Kau harus datang ya, Sasuke! Kau juga—maaf, tadi siapa namamu?" wanita itu berbalik memandang Naruto. "Oh—Uzumaki Naruto," Naruto menjawab kaget karena mendadak ditanya. "Ah ya, Naruto. Kau harus datang ya, ke pernikahan ku dengan Itachi minggu depan!".

"Tidak janji," sahut Sasuke dingin. Naruto merasakan hawa dingin saat Sasuke mengucapkan dua kata itu. Sedikit banyak Naruto paham. Memangnya kau mau datang ke pernikahan mantan pacarmu? Naruto sendiri juga ogah.

"Hah? Tidak janji? Kau tidak mungkin tidak datang ke pernikahan kakakmu sendiri kan?" lanjut wanita itu. Kakak. Jadi—Itachi itu kakak-nya Sasuke? Naruto melirik kliennya. Ia bertanya, "Uchiha-san, kakakmu itu… Itachi-san?". Supaya Naruto tidak salah paham, lebih baik ia bertanya.

Perlu 3 detik supaya Sasuke mengangguk. Ia juga tak berucap sepatah kata pun untuk mempertegas kalimatnya. Naruto bingung.

"Ara? Mengapa memanggil Sasuke dengan nama keluarga? Kau kan pacar-nya," timpal Sakura tiba-tiba. Naruto menoleh horor. DIA INI…!

"Ah—aku… hanya malu hehe," Naruto mencari alasan. Itu jujur, sumpah. Memanggil klien sebagai 'pacar' dengan nama kecilnya itu (menurutnya) tidak sopan dan memalukan.

"Eh—tapi kau pacarnya kan?" lagi-lagi Sakura menekankan kata pacar. Lama-lama, Naruto eneg mendengar kata pacar. Sudah gumoh telinganya. "Atau jangan-jangan bukan?". Nah. Kalimat satu ini agak menyebalkan.

Oh Dewa. Sebegitu mudahkah hubungan palsu ini terbongkar di depan target yang ditujukan? Padahal sudah susah payah begadang, hingga bahkan ciuman! Masa' harus gagal di tengah jalan?

Lagi-lagi, Naruto menatap Sasuke minta bantuan. Menyusahkan. Tatapan Sasuke seolah berkata demikian. Dari dirinya terdengar helaan.

Lengan terangkat, merangkul Naruto untuk dekat padanya. Sasuke menaruh telapak tangannya diantara helaian rambut si pirang. Ia mengelusnya, membelainya, meremasnya.

"Naruto kekasihku," ia menegaskan. Menatap Sakura dengan mata tegas. Lalu gentian menatap Naruto. Sorot matanya berganti menjadi tenang. "Iya kan?" lagi-lagi, pria berstatus direktur itu berkata. Naruto tidak punya jawaban selain, "I-Iya, tentu saja. Uchiha-san kekasihku,".

Ia mengatakannya dengan hati ingin meledak. Ia menundukkan pandangan dari kedua orang yang semeja dengannya. Matanya melirik ke arah Sakura. Wanita itu masih menatapnya curiga. Baiklah Nona, agar kau percaya, lihat aku!

Berguru pada internet, Naruto akan melakukan langkah yang bisa membuat orang percaya kalau kau dan pasanganmu benar-benar pacaran. Lihatlah profesionalitasku ini!

CUP. Insiden itu tak berlangsung lebih dari 5 detik. Kecupan singkat Naruto berikan kepada Sasuke. Tepat di bibir—dan tanpa diminta. "Aku mencintainya,". Dan ditambah dengan tiga kalimat paling sakral bagi sihir. Membuat semua orang percaya bahwa itu memang benar. Bukan perasaan bohongan. Apalagi mainan.

Kalimat dan tindakan penegasan yang Naruto lakukan membuat Sasuke sedikit tercengang. Tapi Naruto malah kembali menundukkan pandangan. "Hei," tangan Sasuke mengangkat dagu pemuda yang menjadi pacar sewaannya itu. Perbuatannya membuat Naruto mau tak mau memandang Sasuke.

Naruto yakin betul kalau warna merah sudah jadi riasan pipi. Wajahnya panas bukan main.

"Lumayan," dengan senyum miring tipis bagai iblis Sasuke berkata. Entah senyum itu dibuat-buat sengaja—dengan maksud membuat Naruto terpesona. Atau memang reaksi alaminya? Tau deh.

"Nanti lagi ya," ternyata kata yang tadi masih ada lanjutannya. APA-APAAN SI HOMO INI? Naruto protes dalam hati. Tentu aja! Lagi? Ogah bener! "MESUM!" Naruto memekik kecil akibat perkataan Sasuke tadi. Tidak usah dijelaskan lagi mengapa Naruto berteriak demikian. Sasuke malah tertawa sambil mengelus puncak rambut Naruto.

Hei, jangan lupa. Masih ada satu orang lagi di meja. Mengapa seolah dunia milik berdua? Sedari tadi, Sakura merasa seolah ia sedang menonton pemutaran Drama CD Extra : Boys Love Collection perdana yang baru keluar dari agensinya. Apa ini? Mesra-mersaan di depannya segala?

Setelah Sakura berpikiran demikian, mendadak ada bunyi ponsel berdering. Punya Sasuke ternyata. "Maaf, tunggu sebentar," Sasuke mengangkat telepon agak jauh dari meja.

Tinggal Sakura dan Naruto yang duduk semeja. Tidak tahu harus mengangkat topik apa, Naruto hanya diam saja.

"Kau tahu," Sakura berusaha untuk membuka percakapan. Naruto mulai memperhatikan. "Aku dan Sasuke—sebenarnya… aku bukanlah mantan pacarnya,". Hah? Maksud wanita ini—apa? "Kami tidak pernah pacaran,". Setelah sekian menit yang terlewat untuk meladeni si wanita, ternyata dia bukanlah mantan pacarnya? Ini penipuan bukan sih?

"Aku dan Sasuke bersahabat sejak kecil. Begitu juga dengan Itachi," ia mulai bercerita. Naruto mendengarkan dengan jeli supaya tak ada yang terlewat. "Sejak dulu aku memang menyukai Itachi. Sebaliknya juga begitu. Aku tak menyangka kalau Sasuke akan bilang kalau ia menyukaiku,".

"Yah—tentu saja aku menepis perasaannya dengan rasa tidak enak. Kau paham kan?" tanyanya minta persetujuan. Naruto hanya mengangguk-angguk saja.

"Tapi untunglah ia mengerti. Walau aku sudah menolakya, kami tetap bersahabat seperti dulu. Tadi pagi ia menelpon ku. Katanya ia sudah mendapat pacar baru. Aku sih tidak menyangka kalau dia akan membawa orang seperti mu," ia tersenyum. Wanita ini… kenapa masih bisa tersenyum begitu? Naruto tertegun.

"Aku lega, Sasuke sudah bisa melupakanku. Aku selalu merasa bersalah tiap kali melihatnya murung,". "Tapi aku senang sekarang, ia sudah tersenyum saat bersamamu,". Entah mengapa, Naruto merasa ada yang aneh dengan hatinya. Terasa tergelitik, ingin menangis juga malu.

"Biarlah ia menganggapku mantan atau sahabat, atau apapun…" lagi, wanita itu menambahkan. Naruto tidak tahu harus memberi tanggapan apa. "Yang penting sekarang, aku titip Sasuke ya, Naruto?" kata wanita itu.

HEH? Aku… aku dititipi? Si om-om itu? Mata Naruto melirik Sasuke yang masih sibuk menelpon.

"Bilang pada Sasuke aku pamit duluan. Aku ada urusan. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, Naruto. Jaa," dan mendadak saja, senyuman itu hilang. Wanita itu keluar dari restoran. Dan Sasuke kembali ke meja tak lama kemudian.

"Mana Sakura?" tanya Sasuke bingung. "Dia pulang," jawab Naruto seadanya. Mendengar jawaban itu, Sasuke terdiam sejenak kemudian berdiri lagi. "U-Uchiha-san? Mau kemana?" tanya Naruto. Ia bingung karena ia diseret Sasuke juga.

Direktur itu menoleh. "Rumahmu,".


Bersambung...


Hufff... selesai juga bikin chapter 5!

Chapter ini mengalami banyak sekali perombakan karena Ao memikirkan cerita yang agak lain tapi tetap sederhana #nggakngerti? #lupakan

Nah, jadilah seperti ini. Ini mungkin juga belum bagus sih

Nyebelin ya? Bikin penasaran? Apa malah harus dibuang?

Yaudah, komen aja ya di review para pembaca! Ao selalu nunggu lo~~

Sankyuu

AkaiLoveAoi