Pacar Sewaan
Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll
Genre : Romance
Rated : T
Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain
Summary : Sebenarnya, apa yang akan Sasuke lakukan di rumah Naruto? Hah, apa? Tidur bareng? Yang bener ah!
A/N : Ao hanya memperingatkan, ada adegan ambigu minta digampar. Serius deh. Kalau gitu, enjoy reading minna!
Chapter 6
Setelah bertemu dengan Sakura yang ternyata bukan mantan pacar Sasuke, keheningan benar-benar terjadi di mobil Sasuke. Di perjalanan menuju tempat dimana Naruto tinggal terasa panjang karena tak ada percakapan yang diangkat.
Karena tidak tahan dengan situasi seperti ini, Naruto bertanya, "Uchiha-san, bisakah kita mampir ke minimarket dulu?". "Untuk?" sahut Sasuke singkat. "Kita kan tadi belum makan. Aku lapar," jawab Naruto. Niatnya mau makan di restoran sambil kencan, malah ujung-ujungnya makan di rumah dengan makanan instan! Pakai acara ketemu (yang ternyata bukan) mantan pula!
Dengan mata melirik jendela, Naruto kembali bicara, "U-Uchiha-san juga pasti lapar kan?". Sasuke melirik lewat ekor matanya. Sudut bibirnya terangkat. "Itu sudah pasti,".
Mereka berhenti di salah satu minimarket yang Naruto beritahu. "Ini uangnya," Sasuke memberikan dua lembar 1000 yen. "Uchiha-san mau makan apa?" tanya Naruto sebelum turun dari mobil. "Paket bento—yang ada tomatnya," jawabnya aneh.
"Hah?". "Kalau tidak ada, samakan saja dengan punyamu," jawab Sasuke cepat. Karena tidak ingin berdebat lagi dengan si klien, Naruto menyegerakan diri untuk masuk dan belanja.
Ia langsung menuju ke rak bento 'tinggal pilih'. "Tomat ya…" ia melirik isi bento satu persatu. Di pikirannya melintas, mungkinkah Sasuke suka tomat?
"Totalnya jadi 1040 yen," ucap si kasir saat Naruto menyerahkan apa saja yang ia beli. Ia memberikan uang yang tadi Sasuke kasih. "Ini kembaliannya. Terima kasih,".
Naruto lekas masuk kembali ke mobil. "Maaf, punyamu tidak ada," ucap Naruto begitu duduk di jok mobil milik Sasuke. Ia kembali memakai sabuk pengaman. Sasuke kembali melajukan mobilnya. "Punyamu seperti apa?" tanyanya.
"Em—telur gulung, potongan sosis, jamur," jawabnya. Sasuke terkekeh. "Tidak sehat sama sekali," komentar Sasuke. "Jangan mentertawakanku! Aku tidak suka sayur!" balas Naruto tidak terima. Tapi Sasuke juga sepertinya tidak mau kalah, "Pantas saja kau tidak tinggi,".
HAH? "Maksudmu aku pendek, begitu?" Naruto merasa tersinggung. Hei, ini memang tinggi rata-rata anak kuliah kan? Dibandingkan dengan Gaara dan Kiba, ia masih lebih tinggi tau!
"Aku tidak bilang begitu," dengan santai Sasuke menjawab. Kekesalan Naruto sudah naik keujung ubun. "Kau kurang tinggi, itu yang aku bilang," ralat Sasuke. "Tidak usah dibicarakan lagi!" sela Naruto tidak suka. Ia langsung merengut, memajang mimik cemberut dengan bibir mengerucut.
"Marah?" masih di mobil, Sasuke bertanya. Naruto memilih diam. Keheningan berlanjut hingga mereka parkir di depan flat Naruto. "Masih betah lama-lama di mobil?" sindir Sasuke pada Naruto yang tak memiliki kesadaran diri untuk keluar dan segera masuk ke rumah. "Eh—apa?" rupanya ia hilang fokus.
Sasuke menghela nafas. "Sudah sampai, Tuan Putri," kembali ia menggunakan kalimat nada seksi, dan itu berhasil membuat Naruto ingin turun dengan segera.
HIH! "TUAN PUTRI NDAS MU!" kalimat berlogat salah satu suku di Indonesia mendadak keluar dari mulut Naruto. Kamu ganti kewarganegaraan ya? Pikir Sasuke bingung.
Oke, lupakanlah soal pergantian kewarganegaraan. Naruto segera keluar dari mobil. Tangannya menenteng kantung belanja dan ia membanting pintu mobil dengan keras. Sasuke menyusul masih dengan senyum menyebalkan karena berhasil membuat Naruto kesal. Bingung juga dengan hobi Sasuke satu ini. Membuat orang marah kok seneng?
Omong-omong, adegan klise barusan seperti pertengkaran pasutri baru nikah ya, kawan. By the way, pasutri itu pasangan suami istri. Itu singkatan, ngerti? Oke.
Naruto membuka kunci pintu flat-nya. "Tadaima," ia berucap pelan saat menaruh sepatu sebelum menginjakkan kaki di tempat dimana ia biasa tidur. "Ojamashimasu," terdengar suara kecil dari Sasuke saat mengikuti Naruto dari belakang.
Naruto meletakkan kantung berisi bento itu di dapurnya. Ia mencuci tangan, Sasuke pun melakukan hal yang sama. "Maaf ya, karena sendirian jadi aku tidak punya meja. Tidak keberatan, kan, makan di karpet?" tawar Naruto. Sasuke menggeleng. "Bukan masalah," jawabnya datar.
"Perabotanmu sedikit," komentar Sasuke saat melempar pandangan ke segala arah. Dapur, ranjang dan kamar mandi menjadi dalam satu ruangan. Ranjang dengan satu bantal dan satu selimut, meja belajar dengan satu kursi dan rak-rak berisi kertas juga diktat kuliah. Terdapat laptop di meja. Lemari baju dengan satu pintu. Benar-benar tinggal sendirian ya?
"Menghemat pengeluaran," jawabnya realistis. Naruto mengambil dua gelas dari rak piring. Ia menuangkan teh ke dalamnya dan kemudian memberikannya pada Sasuke. "Douzo—silakan," ujarnya sopan.
Naruto ikut duduk di karpet dan kemudian memberikan Sasuke paket bento miliknya. "Benar-benar tidak ada sayurnya?" lagi-lagi Sasuke berkata. Ia menatap isi bento-nya yang sama persis dengan lawan bicaranya itu. Telur gulung, potongan sosis model gurita, juga jamur tumis dan nasi hangat.
"Ini…" Naruto mengeluarkan sesuatu lagi dari kantung belanja itu. Bukan bento milik Naruto, bukan. "Hm?" Sasuke sedikit dibuat penasaran. Dua buah tomat terbungkus rapi dengan label minimarket disodorkan Naruto pada si klien.
"Aku pikir kau benar-benar menyukainya. Jadi—aku beli saja secara terpisah," Naruto memberikan penjelasan terkait tindakannya tadi. Nada malu-malu terdengar darinya. Ia bahkan mengalihkan wajah.
Sempat speechless, tapi Sasuke kemudian bicara, "Kau memang pengertian. Pacar yang baik," pujinya. Bibir Naruto mengulum menahan senyum.
Masih sedikit noda merah muda di pipinya, Naruto kemudian bangkit. "A-Aku akan mengambilkan mu pisau,". Mungkin untuk menjauhkan wajah memalukannya itu dari Sasuke yang suka mengerjai dirinya. Yah, hal seperti ini bisa saja dijadikan bahan godaan oleh si iblis itu kan?
Setelah Sasuke memotong tomat pemberian Naruto dengan pisau, mereka mulai makan dengan hikmat. Yah—mencoba menikmati malam minggu dengan cara berbeda. Makan bento berdua dengan si dia, di kamarnya pula.
Hening terangkat saat mereka makan. Tapi, mata Naruto senantiasa memandangi pria itu. Entah apa yang membuatnya betah berlama-lama untuk melihat pria itu. "Tidak bosan memandangiku terus?" mendadak Sasuke bertanya.
Naruto yakin setengah mati kalau Sasuke tidak mengalihkan matanya dari nasi bento itu! "Siapa juga yang—!" Naruto tidak melanjutkan karena terlalu malu. Oho, kepergok ngeliatin om-om homo ya dek?
Sasuke terkekeh, "Kau lucu," katanya. Naruto menguncupkan bibir. "Terimakasih atas makanannya," kata Sasuke kemudian. Rupanya, ia sudah selesai makan. Melihat si klien sudah rapi, tentu saja Naruto buru-buru menghabiskannya. Dan tingkah buru-buru itu membuatnya tersedak.
"Uhuk-uhuk!" ia terbatuk saat merasakan ada serpihan makanan yang masuk ke tenggorok. "Pelan-pelan, bodoh," Sasuke berucap datar sambil menyerahkan segelas teh. Naruto meminumnya dengan segera. "Haaah…" ia bernafas lega ketika makanan itu lolos.
"Aku masih disini, kau tidak perlu buru-buru," katanya narsis. Naruto mendadak sebal dengan kelakuan Sasuke. Ia menyelesaikan makannya dan membuang bekas bento itu ke tempat sampah. Dicucinya gelas yang tadi dipakai untuk menuang teh, serta mencuci pisau bekas tomat.
"Hei, boleh aku menginap?" Sasuke bertanya. Dengan pose santai di karpet di memandang si pirang. Naruto menolehkan kepala. "Hah—me-menginap?" ia benar-benar tidak pernah kedatangan tamu sebelumnya. Apalagi sampai bermalam segala!
BRUGH. Belum menyatakan tanda setuju, Sasuke sudah menjatuhkan diri di ranjang Naruto satu-satunya. "He-Hei! Aku belum bilang boleh!" serunya tidak suka. Ia lekas mengelap tangannya yang basah dan menarik Sasuke untuk bangun.
"Sesekali jangan tidur sendirian," kalimat Sasuke barusan membuat Naruto ingin menaruh kakinya tepat di muka direktur itu. HIH, APA-APAAN DIA INI!
"Tidak boleh!" masih tarik-tarikan kemeja dengan Sasuke. Naruto berharap dia pulang setelah sukses membuatnya mencium pria itu. Ia ingin mimpi indah dan tidur dengan tenang malam ini! Kau bisa bayangkan tidur dengan pria seperti ini disampingmu? Naruto sama sekali tidak ingin membayangkan!
"Bahaya menyetir dalam keadaan ngantuk," Sasuke mencari-cari alasan. Masih juga tidak ingin beranjak dari kasur milik Naruto.
Pemuda pirang itu kini tengah adu batin antara otak dan suara hatinya.
Dengar ya! Kau bukanlah pemuda yang tega membiarkan pria mengantuk menyetir! Dia bisa kecelakaan! Kalau sudah begitu, kamu mau tanggung biaya rumah sakit? Kalau dia meninggal, mau tanggung jawab biaya pemakaman? Hah? Suara hati Naruto menceramahi pemuda itu dengan kalimat panjang lebar layaknya monolog sinetron.
Tapi, dia masih telihat baik-baik saja! Dia hanya mencari alasan tahu! Sudah usir saja! Kalau dia tidur di sini, kamu mau tidur dimana, Naruto? Kamu sudi seranjang sama dia? Pikiran rasional tidak mau kalah untuk melawan suara hati.
Heh, dia sudah baik hati bayarin kamu makan dan ngajak kencan lho! Lagian, dia ini klien kamu! Tega bikin dia sakit hati lagi? Titipan Sakura lho. Ingat! Suara hati memang banyak omong ya.
Pikiran rasional sudah malas untuk memberi balasan. Iya deh, iya! Iya, suara hati menang!
"Uugh—terserah," Naruto akhirnya melepas cengkraman di kemeja Sasuke tadi. Ia pergi kearah lemari. "Tapi Uchiha-san harus mandi," katanya, melempar handuk pada Sasuke. "Aku akan meminjamkan baju dan celana ganti,".
Dan pria itu tersenyum puas saat memasuki kamar mandi.
Dan Naruto guling-guling sendiri di karpet. "APA YANG AKU LAKUKAN?!" Ia berteriak, tapi sayang hanya dalam hati saja. Ia menutup wajah dengan kedua tangan saking malunya. Membiarkan iblis seperti itu menginap bukanlah hal yang baik! Ia bodoh, bodoh, bodoh!
Apakah ini bagian dari menjunjung profesionalitas? Entahlah ia tidak tahu!
Setahunya, setelah berguru pada internet… selama tidak ada rasa emosi dan mengutamakan kepentingan orang lain diatas kemauannya sendiri… itu adalah profesionalitas tinggi. Apa tindakan yang ia ambil ini benar?
Terlepas dari benar atau salah, setidaknya ini sudah terjadi dan tak bisa lagi diubah. Naruto menghela nafas, mencoba menghadapi realita dengan menjadi lebih dewasa. Lagipula, apa kata Sasuke juga ada benarnya. Menyetir dalam keadaan mengantuk itu bahaya. Lihat, ini sudah mau tengah malam.
Tak lama, Naruto bangkit kemudian mengambil baju di lemari untuk ganti Sasuke.
KREK, pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Sasuke dengan handuk melilit di pinggang. Bukan suatu kebetulan kan kalau letak lemari baju dan kamar mandi bersebelahan?
Walau Naruto ikut klub berenang yang notabene memperlihatkan seluruh bagian tubuh kecuali alat genital pria dan wanita, tapi melihat tubuh pria dewasa setelah numpang mandi di rumahnya adalah hal pertama baginya.
Ini memalukan! Tidak bisakah kau lihat kulit pucat itu basah, helaian rambut hitam yang menjuntai ke bawah, kaki kurus dan otot perut nyaris terbentuk?
"Suka dengan apa yang kau lihat?" kekeh Sasuke saat melihat reaksi Naruto yang berlebihan. Seperti gadis perawan saja, batin Sasuke geli. "A-Apa katamu?!" mendadak Naruto salah tingkah. Sumpah, kenapa dia jadi seperti perawan amatir begini sih?
"Kalau iri, akui saja," Sasuke benar-benar minta ditendang. "SEMBARANGAN!" Kesal melanda Naruto. Alhasil, pakaian yang tadinya ingin diserahkan baik-baik menjadi terlempar ke udara.
"Tuh, pakai!" Naruto lekas menyambar handuk lain dan menutup kamar mandi dengan keras. Bingung di dapati Sasuke. Tapi ia puas karena berhasil menjahili Naruto lagi.
Naruto dengan cepat melucuti bajunya dan ingin segera membasahi tubuh dengan air. Keran shower dinyalakannya dengan mode paling deras. "Haah…" sambil menahan tubuh di tembok, ia mengeluh.
Gara-gara si Uchiha itu, jantungnya berdebar keras sejak kemarin dan ia juga lebih sering marah-marah. Kalau begini terus, ia bisa cepat tua!
Naruto menyudahi acara mandi, dan keluar dengan celana pendek yang tadi ia bawa. Tentu saja ia tidak akan memakai selembar handuk untuk menutupi pinggang! Tidak di depan om-om homo sepertinya!
"Mandinya lama sekali," komentar Sasuke saat Naruto mengeringkan rambut. "Ayo cepat tidur," Sasuke sudah rebahan di kasur Naruto, dengan santai menepuk sisi kosong di sebelahnya—mengajak Naruto tidur bersamanya. Kok Naruto berasa yang numpang tidur sih?
Lekas ia menaruh handuk itu di kursi belajar, menghampiri Sasuke di tempat tidur miliknya. "Kenapa Uchiha-san tidak pulang saja sih?" Naruto mengeluhkan keputusan yang ia ambil sendiri. "Kau dan aku tidur sendirian. Jadi, mengapa tidak bersama saja?" balas Sasuke santai.
Naruto mengalah dan kemudian tidur di samping Sasuke. Dalam satu ranjang, satu bantal, dan satu selimut. UUGHH, INI MEMALUKAN! Ia masih menyesali keputusannya.
"Sudah lama aku tidak tidur dengan seseorang," sepertinya Sasuke hendak memberikan dongeng sebelum tidur. "Terakhir kali, bersama Itachi… saat aku masih SD," katanya.
Naruto penasaran. Ini mungkin momen yang pas untuk bertanya. "Itachi-san itu seperti apa orangnya?" tanyanya. Sasuke menoleh, memandang Naruto sebelum ia menjawab. Ia baru sadar kalau jarak ia dan si pirang itu hanya sebatas bahu yang sudah menempel.
"Dia—sempurna," jawab Sasuke singkat. Ia mengalihkan pandangan. Naruto pun makin penasaran.
"Selalu ranking teratas saat sekolah, pebisnis handal, baik hati, tampan…". Nada menggantung Sasuke membuat Naruto ingin tahu kelanjutannya.
"Dan yang paling penting… ia memenangkan hati Sakura,". Ah… inilah yang membuat pria muda ini patah hati. Dilihat bagaimanapun juga, Sasuke itu manusia. Dia masih punya yang namanya perasaan.
"Aku selalu kalah darinya, sejak dulu. Makanya lebih baik menyerah saja," ia mengakhiri kisah pengantar tidur malam itu. Naruto merenung, terdiam mendengar penuturan Sasuke.
Di dalam selimut, mendadak Naruto merubah posisi. Sasuke tidak menduga kalau ia akan mendapat perlakuan seperti ini. "Ada apa, Naruto?" tanya Sasuke. Bagaimana tidak kaget, ia mendadak direngkuh oleh si pirang itu. Dia tidak bicara. Hanya mempererat pelukannya ke leher si Uchiha.
"Kau mencoba menghiburku?" tebak Sasuke asal. Kemudian ia balas mendekap. Di dalam selimut, ia menarik si pirang untuk lebih dekat lagi.
Naruto mengubur wajah di depan dada Sasuke. Sementara Sasuke menenggelamkan kepala di helaian halus rambut Naruto.
Naruto tidak ambil pusing soal tindakannya ini. Ia hanya beranggapan… Sasuke pasti butuh perhatian. Sasuke pasti sangat kesakitan. Sasuke… tidak bisa didiamkan.
Menurut internet, pelukan adalah tindakan terbaik untuk melepas emosi bersama orang lain. Dengan begini, Naruto berharap Sasuke bisa sedikit lega.
"Aku senang, kau pengertian sekali," ujar Sasuke, sambil mengelus punggung Naruto pelan. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing, hingga mimpi datang menjemput mereka berdua.
Pagi telah datang, mengembalikan mimpi kepada kenyataan. Naruto bangun dari tidurnya, dan ia tidak begitu ingat telah mimpi apa semalam. Yang ia ingat—ia tidur dengan Sasuke—pria yang menjadi pacar sewaannya.
Eh, tunggu. Ia tidur bersama…? Kita tidak melakukan apapun kan?! Naruto membatin ngeri sambil meraba-raba tubuh. Untunglah pakaiannya masih lengkap dan melekat pada tempat yang seharusnya. Ia boleh bernafas lega.
Naruto menyibak selimut dan merapikannya. Ia bertanya-tanya, kemana Sasuke? Apa dia sudah pergi?
TRING TRING! Suara pesan masuk datang ke ponselnya.
Naruto menghampiri ponsel yang tergeletak di meja, dan kemudian membuka pesan yang masuk. U-Uchiha-san?
To : Naruto
Tadi aku pinjam lagi kamar mandimu. Pakaian semalam ada di kamar mandi. Lain kali, jangan bosan meminjamkan ranjang dan memberikan pelukan untukku.
Sasuke.
Kalau Naruto tidak sayang uang, ia akan membanting ponsel sekarang juga. Kalimat terakhir dari Sasuke tadi membuatnya ingin muntah tujuh ember. Duh, Dewa. Mengapa aku mengenal orang macam dia sih?
Naruto kembali memandang ponselnya. Oh, rupanya masih ada pesan tambahan.
P.S : Lihat meja belajarmu.
Berhasil ia dibuat penasaran, Naruto menghampiri meja belajarnya. Matanya menemukan amplop.
Uang kah? Batin Naruto bertanya-tanya.
Naruto membukanya dengan gerakan dramatis. Pelan-pelan… dan ia hanya menemukan dua lembar kertas. "Apa-apaan dia ini!" kesal sudah keburu membakar kepala.
Ia mengeluarkan kertas itu dan kemudian membacanya.
Aku akan melunasi setengahnya nanti, setelah aku membawamu pada ibuku.
Sasuke
Naruto kembali bingung. Apa maksudnya melunasi setengahnya?
Dilihatnya kertas yang satunya. Oh Dewa. I-Ini… baru pertama kalinya ia melihat ini!
"C-C-Ce-Ce-Ce-Cek…?" padahal hanya tiga huruf tapi menyebutkannya sulit sampai enam kali. I-Ini sungguhan? Tidak bohong kan? Jangan-jangan palsu? Tapi, sepertinya ini asli!
Lihat, tertulis nominal 50 ribu yen. Lengkap dengan cap nama Sasuke di bawahnya. Akhirnya, ia punya uang juga dewa! Walau baru setengah dari yang dijanjikan, Naruto sudah senang setengah hidup.
Ia sudah memikirkan banyak hal setelah mencairkan ini nanti. Melunasi utang kas klub berenang, membeli bahan makanan, juga membeli buku-buku untuk kuliah, atau bayar tempat tinggal.
TRING TRING! Kembali ada pesan masuk, dan pengirimnya juga sama seperti tadi.
To : Naruto
Oh ya, aku menagih apa yang kemarin aku ucapkan. Rasanya masih sama, lumayan.
Tunggu dulu… apa ini? Menagih apa yang kemarin ia ucapkan? Memangnya Sasuke mengatakan apa? Kilas balik berputar cepat di kepala Naruto, mengingat ucapan apa yang Sasuke maksud.
CUP. "Aku mencintainya,". "Hei,". "Lumayan,". "Nanti lagi ya,". Oh, masa'…. Jangan bilang…
Dengan kesadaran dibawah standar, ia lekas menutup bibir dengan wajah memerah malu.
"UCHIHA MESUM!" Ia pundung di karpet sambil memegang ponsel erat-erat.
Bersambung...
Halo halo halo para pembaca!
Ao kembali dengan Pacar Sewaan yang ternyata sudah mencapai chap 6! Ao sama sekali tak menyangka! *nangis terharu*
Ini sudah panjang lho! Nyampe 2k words! Aduh, Ao senang sekali *nangis lagi*
Gimana-gimana? Kalau dirasa melenceng dari karakter seharusnya, Ao minta maaf karena Ao juga merasa ini dua tokoh OOC bingits.
Tapi, sampaikan di reviewnya aja yaa, pembaca! Ao selalu nunggu lho~
Sankyuu
AkaiLoveAoi
