Pacar Sewaan

Cast : Naruto U, Sasuke U, Kiba I, Gaara, dll

Genre : Romance

Rated : T

Warning : BL/YAOI, OOC, maksa, typo, abal, tidak jelas, pasaran banget, dan lain-lain

Summary : Yah, kencan pertama bolehlah tidak berhasil. Yang kedua? Jangan sampai hasilnya nihil!


Chapter 7


Dengan kecepatan sedang, Sasuke melajukan mobilnya di Minggu pagi yang tenang. Jalan sepi membuatnya merasa bebas untuk berkendara, tapi ia tetap waspada dengan rambu di sekitarnya.

Sejenak ia menyadari sesuatu. Setelah numpang tidur di tempat Naruto, ia sedikit merasa—lebih baik?

Senyum aneh tersungging di bibirnya. Ia sebenarnya tidak begitu percaya kata dunia maya. Tapi setelah mengalaminya sendiri, ternyata—mencari tambatan hati baru memang obat tercepat untuk sakit hati.

Ah—ia punya ide bagus untuk hari ini. Bermaksud melaksanakan niatnya itu, ia menepi sebentar dan mengeluarkan telepon genggam yang ia miliki.


Setelah paginya diobrak-abrik oleh kliennya sendiri yang tidak lain dan tidak bukan adalah pria bermarga Uchiha dan bernama Sasuke, Naruto tidak bisa berpikir dengan benar seperti sedia kala.

Pria itu sukses membuat mood-nya berputar kearah yang salah. Malu, sebal, sedih, penasaran, ingin meledak. Ia bahkan tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya yang abstrak kali ini.

Ia menghela nafas saat selesai meminum teh sisa semalam. Tidak, bukan pusing karena tidak punya makanan untuk sarapan. Tapi—

KENAPA SEKARANG MENELPON SIH? Nama Sasuke malah muncul di layar ponsel miliknya. Pria di seberang sana tidak mengerti kalau grafik emosinya sedang naik turun layaknya kontur pegunungan Himalaya di Tibet sana!

Karena terganggu dengan dering telepon yang seolah berteriak 'ANGKAT KAMPRET GUE CAPEK NYANYI MELULU!', akhirnya dengan sangat terpaksa Naruto menekan tombol hijau, yang berarti menerima panggilan itu.

"Mengapa lama sekali mengangkatnya?" suara Uchiha Sasuke—pria yang sudah numpang tidur semalam itu terdengar dari sana. Sedikit kesal terselip di nada bicaranya.

Naruto ragu ingin menjawab. Ia menarik nafas terlebih dahulu. "Ng—gomen, Uchiha-san. Aku—baru bangun tidur," ia berbohong untuk kalimat tadi. Yah—secara fakta ia sudah bangun lebih dari 20 menit yang lalu.

Terdengar Sasuke menghembuskan nafas pelan, "Hari ini kau tidak ada kuliah kan?" tanyanya. Naruto mengangkat satu alisnya. Tentu saja semua orang libur di hari Minggu, Pak Direktur Yang Terhormat!

"Ya, tidak ada," tapi Naruto tetap saja menjawabnya. "Kalau begitu, kita makan siang di luar,".

Kita?

Heh, tunggu. Apa ini bisa disebut ajakan kencan? Tidak, bukan sama sekali! Ini perintah untuk kencan—tepatnya.

"Makan siang?" Naruto mengkonfirmasi dengan nada tidak yakin. Setelah semua yang telah ia lakukan kepada anak kuliahan ini, yakinkah Naruto akan setuju dengan ajakannya? Lagi pula, kemarin kan su—

"Aku tidak menerima penolakan. Aku akan menjemputmu jam 12," ia benar-benar memberi perintah. Sungguh, ajakan kencan ini sama sekali tidak memenuhi asas romantisme!

"Jangan terlambat," peringat Sasuke lagi—sebagai bumbu pemanis di telepon itu. Naruto bahkan tak sempat menyela perkataan pria tersebut. Baru ingin bicara, tapi nada sambung sudah berbunyi 'TUT TUT TUT'.

Tanda percakapan sudah bubar. "TEME!" umpat Naruto tak tahan.


Pada dasarnya, Naruto bukan tipe yang mudah menuruti orang yang 'baru' baginya. Tapi, berhubung pria itu alias Sasuke adalah 'pelanggan-nya', maka mau tidak mau ia harus professional.

Ia mandi, lalu memilih baju yang kiranya tidak membuat dirinya malu seperti kemarin—kemeja dan jeans kucel. Tidak lagi.

Tapi yah, berhubung ia anak perantauan yang uangnya saja susah untuk mengisi perut, pakaiannya juga tidak jauh dari yang dulu-dulu.

Kaus oblong jingga dengan jeans hitam yang masih sedikit lebih bagus dibanding yang kemarin menjadi pilihannya. Merasa terlalu polos, Naruto menambahkan jaket ber -hoodie yang sudah menemaninya menahan dingin dan menerobos hujan selama setahun ini.

Pukul 11.55, ia mengunci flat nya kemudian turun untuk menunggu Sasuke di depan. Yah, ia mengerti kalau ini jam-jam matahari sedang di puncaknya. Yang tidak ia mengerti, mengapa Sasuke memilih waktu seperti ini? Panas sekali wahai Dewa!

Untunglah Dewa masih cukup sayang padanya sehingga mendatangkan Sasuke tidak lama setelah ia berdiri di depan flat-nya. "Kau benar-benar tidak sabaran," bukannya mempersilakan Naruto untuk masuk, pria itu hanya membuka jendela dan malah menggodanya.

Wajah Naruto tak terdefinisi lagi ekspresinya. Dan itu membuat Sasuke terkekeh. "Haruskah aku keluar dari mobil dan membukakan pintu untukmu, Tuan Putri?". Tolong jangan ulangi drama yang ada di cerita sebelumnya itu! Tidak terima kasih!

Geram, Naruto langsung membuka pintu mobil yang nyatanya memang tidak dikunci. Naruto bernafas lega karena pendingin udara membuat keringatnya menguap seketika. Ia lantas memasang sabuk pengaman.

"Tidak usah cemberut begitu," Sasuke membuka pembicaraan saat mobil mulai melaju. "Kau tidak suka?" tanya Sasuke lagi. Naruto memang kesal, tapi ia berusaha menanggapi, "Ini bukan kencan sama sekali," balasnya. Sasuke terkekeh. Naruto membuang muka ke jendela. Mencoba menikmati pemandangan yang ada.

Menyadari bahwa Sasuke telah menghentikan mobilnya, Naruto memperhatikan lingkungan sekitarnya. Heh… kok terasa tidak asing ya?

Sebelum Naruto meneliti lebih lanjut, Sasuke sudah turun dan Naruto pun mengikuti. Lha… ini kan?

KEDAI PAMAN TEUCHI?! Ampun, mau makan siang di warung ramen saja harus pakai baju seperti ini? Dan lagi, untuk apa naik mobil ke sana kalau Naruto biasa menempuh tempat kerja sambilannya itu dengan jalan kaki?

"Oh—Naruto! Kau datang untuk membantu?" tak lama setelah masuk, pemilik kedai alias Paman Teuchi menyahut senang. Naruto tersenyum, "Maaf paman, aku kemari sebagai pelanggan," jawabnya.

Sasuke mengambil kursi, "Ramen lengkap satu porsi," ia berkata pada si pelayan perempuan, Ayame yang merupakan cucu—atau anak? dari si pemilik kedai. "Kau mau apa Naruto?" tanya Sasuke kemudian. Naruto menoleh, "Kau yang traktir kan?" tanya si pirang memastikan.

Sasuke menghela nafas, "Kau itu bodoh ya?" balas Sasuke sengit. Naruto terkekeh. "Ramen jumbo paman! Tambahkan 'naruto' yang banyak!" suara nyaris melengking terdengar dari Naruto. Yang namanya menyebut belahan jiwa—maksudnya ramen, memang tidak pernah setengah-setengah untuk Naruto.

"OK!" paman Terauchi membalas santai. Tangan tuanya dengan lihai meracik mie itu menjadi seporsi ramen yang menggugah selera. Apalagi milik Naruto. Dengan mangkuk besar, kuah merah dan mie yang begitu banyak. Jangan lupakan 'naruto' yang nyaris menggunung dalam satu mangkuk.

"Itadakkimasu!" tanpa ba-bi-bu lagi, Naruto mengambil sumpit dan menyeruput mie itu tanpa ampun begitu mie itu sampai di hadapannya. Sasuke yang menjadi penonton perdana itu sedikit takjub, tapi ia juga merasa geli. Lucu, katanya dalam hati.

Dengan tenang Sasuke memakan ramennya. Bisa jatuh pamornya bila tersedak oleh untaian mie seperti itu.

"Paman, tambah lagi!" Naruto sudah minta mangkuk kedua sedang Sasuke saja belum mencapai setengah porsi. "Oke!" tentu saja pemilik kedai itu dengan senang hati melayani pekerjanya yang sekarang sedang menjadi pelanggannya.

Saat mangkuk kedunya datang, Sasuke sudah menyelesaikan tiga perempatnya. "Apa kau tidak kekenyangan?" tanya Sasuke yang sedikit menyeringit melihat mangkuk Naruto.

"Aku berjanji ini mangkuk terakhir!" ia berkata sambil nyengir kuda. Naruto makan dengan khidmat. Sasuke hanya geleng kepala. Ia sudah selesai dengan makanannya. Kini ia hanya sibuk memandangi 'pacar'-nya.

"Mmm! Ramen Teuchi memang paling enak!" Naruto berujar setelah menghabiskan dua mangkuk jumbo itu. Dengan menggunakan punggung tangan, Naruto mengelap sisa kuah ramen di bibirnya.

"Sudah kenyang?" Sasuke bertanya. Naruto mengangguk dengan semangat. Ia merasa bahan bakarnya sudah terisi penuh. Segera setelah Sasuke membayar, mereka kembali ke mobil dan melaju lagi.

"Huh, kau tidak mengantarku pulang?" Naruto bertanya bingung. Ternyata, mobil ini tidak mengarah ke flat-nya. Sasuke masih diam saat Naruto bertanya. Rautnya masih setenang kemarin—malam dimana mereka bertemu Sakura.

"Uchiha-san?" ia kembali bicara tapi Sasuke masih juga bisu. Naruto curi pandang kearah jalanan yang sama sekali tidak ia kenal. Dan semakin jauh dari rumahnya.

Tunggu—bolehkah ia menduga ini adalah percobaan penculikan? DEWA, AKU DICULIK! Batin Naruto sudah teriak ketakutan.

"U-Uchiha-san…? Kita mau kemana? Berhenti—hentikan mobilnya!" Naruto berteriak panik. Ia takut Sasuke membawanya ke tempat asing.

Bagaimana kalau ia dikurung di ruang gelap? Jangan-jangan Sasuke ingin minta tebusan pada orang tuanya di kampung sana? Atau, apa Sasuke mau berbuat yang 'iya-iya' padanya? Demi Dewa yang mendiami Gunung Fuji! Naruto takkan pernah merelakan kesuciannya begitu saja!

"Berisik," Sasuke masih melajukan mobilnya, tidak menggubris teriakan Naruto. "Kau pikir aku mau menculikmu? Jangan bodoh," lanjutnya.

HAH? Dia cenayang bukan sih? Naruto membatin bingung karena dugaan Naruto berhasil dibaca dengan tepat oleh si Direktur itu.

"Lalu—kita mau kemana?!" saat ia bertanya mau kemana kita, Sasuke kan tidak menjawab. Jangan salahkan dirinya kalau mendadak berbagai prasangka muncul di otaknya begitu.

"Mall," jawab Sasuke benar-benar singkat. Naruto mengangkat alis, "Hah? Untuk apa kita kesana?" ia bertanya sengit. Pikirnya, mall hanya tempat untuk menghabiskan uang bukan? Yah—walau ia kelewat sadar jika orang yang menyetir saat ini memang salah satu orang berduit. Tapi, tidak ada salahnya berhemat kan?

"Kencan," lagi, hanya satu kata yang menjadi jawaban atas pertanyaan Naruto. Kencan katanya? Apa dia pikir mereka adalah pasangan SMA yang sedang dimabuk cinta? Tapi setelah dipikir, Naruto sama sekali belum pernah memasuki gedung bernama mall itu.

Uangnya bisa habis kalau kesana. Pilihan keduanya, air liurnya yang habis karena hanya bisa memandangi barang dari balik kaca tanpa bisa membelinya.

"Kalau begitu, ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Sasuke kemudian. Mungkin Naruto punya referensi tempat yang lebih baik dari mall. "Tidak ada. Kita kesana saja," ia akhirnya setuju.

Mall Konoha. Lumayan megah—dan yang pasti dingin. Banyak toko baju, perhiasan, jam tangan, elektronik, restoran, dan masih banyak macamnya karena Naruto tidak yakin bisa menyebutnya satu-satu.

"Silakan," mendadak, ada seseorang yang menyerahkan brosur pada Naruto saat sedang memutari lantai dasar.

Kami sedang promo lho! Hanya dengan 1000 yen, kalian bisa bermain sepuasnya di sini! Diskon ini hanya berlangsung hari ini~ Apa yang kalian tunggu?Ayo main!

Kurang lebih itulah isi dari brosur tersebut. "Wah, Uchiha-san! Lihat, ini—Konoha Game Center!" ia menunjuk-nunjuk brosur yang ternyata dari gerai arcade di dalam mall itu dengan wajah senang.

Sasuke memandangi brosur di tangan si pirang tanpa minat sama sekali. Ia tahu apa itu arcade, ia pernah kesana satu kali saat SMA. Tapi, ia sama sekali tidak tahu cara menikmatnya.

"Uchiha-san, ayo kita kesana…" ia mulai mencari-cari eskalator—atau lift karena tempat itu ada di lantai paling atas. "Tidak mau," Sasuke menolek dengan tegas.

Tentu saja Naruto kecewa berat. "Kenapa? Kiba bilang di tempat ini banyak permainan yang bagus!" serunya tidak terima. "Kita ke tempat lain saja," kata Sasuke lagi.

Ia menarik Naruto untuk pergi. Tapi Naruto melepaskan tangan Sasuke. "Tidak mau! Aku mau kesana!" rajuknya seperti anak-anak. Ia benar-benar ingin kesana.

Dan Sasuke seperti ibu-ibu. "Tidak,". "Uchiha-san!". "Tidak boleh,". "Kumohon,". Sasuke menggeleng.

"Ayolah, Uchiha-san~" ia sampai memohon-mohon seperti anak anjing. Ia menarik-narik sweater Sasuke. Tapi Sasuke tetap teguh pada pendiriannya. "Aku tidak mau," jawabnya tegas. Emosi Naruto sudah memuncak. Alisnya mengkerut sebal.

Melihat ini, Sasuke berpikir dalam diam. Seketika matanya melirik orang-orang yang lewat. Tidak sedikit yang memperhatikan dirinya juga pemuda itu.

Ia akhirnya mengalah. "Terserahlah," ujarnya.

Yes, Naruto menang! Lumayan, traktiran game gratis!


"Yatta, aku menang lagi!" sorak Naruto bahagia saat ia menang 4 kali berturut-turut dalam lomba balap mobil. "Lihat, siapa yang berkuasa disini?" Naruto berujar sombong dengan nada menjengkelkan. Sasuke menggeram kesal.

"Jangan senang dulu kau, pirang. Kita bertarung la—". "WOI GANTIAN KAMVRET!" pengunjung lain sudah menyalak-nyalak pada mereka yang sudah memonopoli mesin game itu sejak tadi. Jangan salahkan siapa-siapa. Uchiha itu selalu minta tanding ulang!

Dari pada terkena amuk massa, Naruto dan Sasuke lebih memilih melipir mencari permainan lain yang bisa dijadikan pertandingan seperti tadi.

"Uchiha-san, ayo kita main ini!" ia menunjuk mesin permainan yang berukuran sedikit besar. "Hah?" Sasuke hendak menolak, tapi Naruto sudah menyeretnya untuk duduk.

Yap, permainan ini bertema tembak-tembakan. Kalian duduk di ruangan kecil yang diibaratkan seperti kapal. Tirai dan kaca gelap menutup ruangan itu.

Hanya layar yang terlihat jelas. Keduanya menekan tombol 'mulai'.

Introduksi muncul. Terdapat dialog awal permainan. Kemudian tokoh-tokoh itu berteriak, melihat monster-monster—dan dari sanalah tugas si pemain, menembak para monster yang mendekat.

"Tembak!" Naruto dengan penuh penjiwaan layaknya pemburu menembaki buruannya dengan membabi buta. Ia sangat bersemangat. Dan Sasuke juga tidak mau kalah.

Hingga pada akhirnya…

Congratulations! You are win!

"YATTA!" tanpa sadar, keduanya bersorak dan ber-tos ria sampai-sampai berdiri di ruangan tersebut.

"Sasuke! Kau hebat!" ujar Naruto dengan cengir bahagia karena berhasil menang dari permainan yang terkenal sulit itu. Ia memandang Sasuke kagum.

Sasuke ikut tersenyum—walau tipis. "Tentu saja," ucapnya. Eh—tunggu.

Apa Sasuke baru saja mendengar nama—Sasuke?

"Sasuke, kenapa?" Naruto melirik Sasuke yang mendadak terpaku setelah kemenangan mereka. Lagi, Sasuke mendengarnya.

CHU. Bukan jawaban yang Naruto dapat, malah ciuman yang mendarat. Sasarannya kali ini bukanlah bibir. Tapi kening, setelah direktur itu menyibak poni pirangnya dengan cepat.

Naruto menahan nafas saat Sasuke melakukannya, begitu cepat dan bagaikan kilat. Hanya sekilas, tapi rasanya begitu membekas.

"Akhirnya, kau mengerti bagaimana seharusnya memanggil pelangganmu," ujarnya. Ia mengalihkan wajah, membelakangi Naruto dan lalu keluar segera setelah melakukan hal tadi.

Masih di dalam mesin game itu, Naruto memegang keningnya. Wajahnya panas. Ia masih bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi padanya.

Bagaimana beraninya si Uchiha itu menciumnya, dan bagaimana bisa ia memanggil pria itu dengan nama kecilnya. Dengan 'Sasuke'.

Bukan hanya si pirang yang tengah bertanya-tanya. Kenapa perlu aku menciumnya? Sasuke menggeleng tak mengerti.

Ia tidak tahu kalau warna merah muda sedang menjalar pelan di pipi pucatnya.

Walau memang sudah niatnya untuk mencari tambatan hati baru, tapi... ia tidak tahu kalau efeknya akan sedemikian dahsyat.


Bersambung...


HALO KALIAN SEMUA YANG ADA DISANA DAN DISINI! #apasih #gaje #capsjebol

Ehehe Ao kembali dengan serial mengenai Sasuke dan Naruto! OTP kesayangan kita! *teriak histeris*

Oke-oke, gimana ini minna-san?

Apa lumayan? Makin gak jelas? Garing ya humornya? OOC banget?

Duh, maaf ya... Ao juga merasa nggak sreg sih, tapi! Ao sudah memikirkan ini dengan matang-matang! Dan beginilah hasilnya!

Maafkan Ao yang lambat sekali dalam hal peng-update-an, karena Ao baru saja sembuh dari Virus WB alias Writers Block.

Jangan lupa review minna-san! Ao selalu menunggu~

Sankyuu

AkaiLoveAoi